uzegan

Pada Sebuah Kepenatan

23:14 20
Pada Sebuah Kepenatan
Time Travel
*Backsound :
Ost. 5 Centimeters Per Second


Tampaknya orang-orang sudah teramat sangat penat dengan semua keadaan ini, tak terkecuali saya.

Dari mereka yang sekedar memposting foto bandara, cafe, gunung, pantai, sekolah, kampung halaman dan sejenisnya. Adalah rindu yang terus tertahan karena pandemi yang masih saja tak berkesudahan.

Kegemukan yang belakangan menjadi trend bukanlah wujud keinginan, melainkan hasil pe-luapan, bentuk dari sebuah kepenatan. Pun Si pemilih (picky eater) yang tak lagi bergaji, turut menanggalkan keegosentrisan demi hadirnya sesuap nasi.

Siapa sangka, gawai yang pernah digaungkan bisa berdampak buruk pada anak namun paling disenangi, ternyata menjadi bagian paling erat dalam hidupnya. Yakni bagian yang pada akhirnya tetap tidak luput dari rengkuhan rasa penat.

Hingga cinta yang biasanya jauh, lalu mendekat dan melahirkan bayi-bayi pandemi. Atau yang biasanya dekat lalu menjauh karena pertikaian atau kehilangan, entah itu pada pasangan, pekerjaan, harta benda, hingga kepada Tuhan.

Sesuatu yang jauh mendekat dan yang dekat akhirnya menjauh.

Sesuatu yang dulu tak diacuhkan, kini menjadi yang paling dicari.

Sesuatu yang dulu terasa berharga, sekarang tidak lagi berarti.

Ketika semua hal dilakukan secara daring, ketika semua tlah terbiasa, maka tibalah kita di titik jenuh. Titik dimana sebuah kepenatan menjadi terasa luar biasa. Kita terjebak, terhimpit dan tersudut tepat di depan tabir dunia nyata yang belum juga kunjung meluruh. Kita menjadi emosi, stress, depresi, bahkan melakukan kekerasan hingga berujung pada kematian.

Bukan main.

Semuanya tidak serta merta terjadi begitu saja. Kekecewaan-kekecewaan yang bersumber dari masalah yang belum dianggap pantas memenuhi pikiran, membuat abai Si Empunya jiwa. Kekecewaan itu tertanam di alam bawah sadar lalu kemudian menjelma menjadi bibit-bibit kepenatan. Bibit yang telah tumbuh jauh sebelum datangnya wabah. Bibit yang akhirnya bertunas menjadi lecutan emosi dan juga percikan amarah.

Kini bibit itu semakin membesar, dan dengan mudahnya menyala karena tersulut api pandemi yang tengah membara. Hingga begitu cepatnya membumihanguskan sekerat kesabaran.

Maka berbahagialah jika dianugerahi banyak pilihan, bisa menikmati hal-hal yang baik dan memiliki kemudahan untuk menjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun jika kita tidak memiliki keistimewaan itu, apa boleh buat. Kepenatan kali ini benar-benar terasa amat sangat berat dan teramat sulit untuk ditempuh. Dan semoga, kita diberi kekuatan dan kemudahan agar rasa penat ini bisa segera berlalu.