uzegan

Dapur Rumah Panggung Khas Melayu

07:56 14
Dapur Rumah Panggung Khas Melayu
Dapur Rumah Panggung Khas Melayu
Untuk pertama kalinya, saya dan kakak sangat jauh dari rumah dan Orangtua. 

Sebelumnya, kami diantar lebih awal ke rumah sepupu yang akan mengadakan pesta pernikahan, karena semua anggota keluarga beserta ibu yang sedang hamil besar baru bisa menyusul kesana dua hari kemudian.

Rumah sepupu terletak di sebuah dusun yang juga adalah kampung halaman dimana Ayah dan Ibu dilahirkan. Disana, rata-rata tempat tinggalnya berbentuk rumah panggung khas orang melayu. Sebelum hari pernikahan digelar, biasanya para sesepuh, sanak keluarga dan tetangga sekitar turut bahu membahu membantu memasak hidangan pesta di bawah rumah. 

Lalu malamnya, semua makanan dibawa ke atas agar lokasi bawah rumah yang sebelumnya menjadi dapur kotor bisa segera dirapikan, dan bisa dimanfaatkan sebagai tempat tambahan untuk menjamu para tamu undangan. Untuk selanjutnya, semua hidangan yang telah selesai dimasak bisa langsung dihangatkan di dapur atas.

Sebelum subuh, beberapa orang sudah bangun lebih awal untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya dan kakak juga ikut terbangun. Setelah berbenah kami langsung ke dapur melihat Uwak mengurus hidangan yang nantinya akan disajikan, sambil menikmati sarapan bersama. 

Agar porsi makanan untuk pesta pernikahan tidak terganggu sebelum acara, Uwak akan menambah beberapa masakan lagi untuk konsumsi sanak keluarga yang menginap atau saudara yang datang dari jauh, termasuk juga para tetangga yang ikut membantu demi kelancaran acara nantinya.

Saat itu, acara pernikahan sepupu dilaksanakan di hari dan bulan baik, yakni selepas lebaran dengan kondisi dapur Uwak yang penuh dengan hasil panen, sebagai hasil jerih payah dari bertani dan berkebun yang merupakan mata pencaharian utama mereka.

Niatnya disain illustrasi ini dibikin cerita fiksinya, tapi berhubung gambar bertema kitchen yang akhirnya masuk kategori disain (canva) terfavorit ini adalah recreate memori masa kecil (cerita base on true story yang dituangkan lewat media visual) dan karena udah lama banget saya gak ngefiksi, jadi keterangan gambar (caption di IG) ini kayaknya lebih cocok dituangkan melalui sudut pandang seorang anak aja, yak. πŸ˜‚

Karena sekarang saya jarang ngeblog dan membalas komentar, apalagi blog walking dan meninggalkan komentar di blognya temen-temen, (Si kakak lagi mid test dan ngerjain satu ulangan dari pagi ampe sore kagak kelar-kelar kalo gak diawasi)😭Jadi saya butuh lebih banyak mood booster agar kepala saya tidak terus-terusan berasep πŸ˜…πŸ˜‚contohnya seperti dengan mengotak-ngatik gambar di atas. Dan ternyata hasilnya lumayan untuk membenahi lagi otak yang sudah terlanjur berantakan. πŸ˜‚

Note : Semoga tulisannya gak patah-patah pas dibaca yah. πŸ˜…

***

Berhubung caption di IG hanya dibatasi maksimal 2200 karakter. Maka cerita versi nyantai lengkapnya saya tambahkan disini. 😁

Dari segi karakter, di gambar ada empat orang yang sedang duduk bersama :

#1. Jilbab merah muda mewakili Uwak : 
Uwak adalah anak kedua dari lima bersaudara, dan yang paling bontot adalah Ibu saya.

#2. Jilbab putih mewakili Saya : 
Saya lebih besar dari Kakak meski hanya selisih satu tahun.

#3. Jilbab ungu tentu saja mewakili Kakak : 
Kesehatannya memang agak berbeda dari anak-anak kebanyakan, karena dia memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah dari saya.

#4. Jilbab kuning mewakili Sepupu : 
Si Calon Penganten adalah anak nomor dua dari empat bersaudara.

Jadi ceritanya jarak usia Uwak dan Ibu saya itu sangat jauh, karena Ibu saya usianya hanya selisih beberapa tahun dari usia anak Uwak yang pertama. Dan itu juga akhirnya merentet ke usia kami dengan sepupu-sepupu yang lain.

Dari segi latar, kita melihat ada pintu coklat seperti pintu utama sebuah rumah. Pintu itu tidak berfungsi sebagai pintu keluar. Itu adalah jendela sebesar pintu yang dipasangi pagar kayu. Jadi gak bakal ada tangga diluar. Kecuali emang ada yang lagi ngapel dan bawa tangga sendiri dari rumah.πŸ˜‚ 

Lalu ruangan sebelah, dimana di gambar kita ngeliat ada sedikit peralatan mandi dan gantungan baju. Kalo ada yang menganggap itu kamar tidur atau kamar mandi, hmm.. bukan. Itu adalah teras belakang yang lantainya terbuat dari bilah-bilah bambu. 

Sebenarnya semua kegiatan cuci mencuci di lakukan di sungai, namun karena jalan setapak menuju kesana agak terjal dan menurun serta tidak adanya fasilitas penerangan di malam hari (meskipun lokasi sungai tepat di belakang rumah), maka ruangan sebelah dijadikan tempat area basah termasuk untuk cuci piring, wese darurat untuk anak-anak atau tempat sementara untuk menjemur baju. 

***

Terakhir, saya ingin ngucapin terima kasih banyak atas perhatian dan support dari Mba Eno melalui kiriman-kirimannya. Demi seorang teman yang udah sangat hectic dan ngedrop dengan kondisi yang entah kapan berakhirnya ini. Saya terharu hingga berkali-kali 😒 Dan karena tulisan Mba Eno kemaren tentang musim gugur telah menginspirasi saya hingga terciptalah disain illustrasi diatas. Glad to know U Mba, Peluk dari jauh πŸ€—. Lavv u.. 😊

Orangtua atau Orang lain?

13:38 8
Orangtua atau Orang lain?

Apa yang terjadi ketika hati dan pikiran kita lebih dekat dengan orang lain ketimbang dengan Orangtua sendiri? 

Hmm...
Saya teringat kembali dengan seorang teman kuliah begitu membaca komentar Mba Roma tentang caption gambar ini di IG, yang menyarankan untuk ke kotanya, Lampung jika pandemi ini telah berakhir. 

Lampung adalah kota yang memiliki pantai terdekat dari kota tempat dimana saya tinggal sekarang. Dibutuhkan waktu setidaknya 10 jam untuk menempuh perjalanan ke sana. Tapi karena sudah dibangun jalan tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayu Agung sepanjang 189 km, maka jarak tempuhnya sekarang sudah bisa dipersingkat menjadi 4 jam perjalanan saja. Bahkan jarak dari tempat adik saya ke Palembang yang biasanya memakan waktu 1 jam  bisa dipersingkat menjadi 15 menit saja sejak diresmikannya Jalan tol Palembang - Pemulutan tahun 2017 lalu.

Meski sudah sangat dipermudahkan dalam urusan jarak, namun untuk bepergian seperti sekarang-sekarang ini saya juga butuh kenekatan yang berlimpah serta materi dan waktu yang cukup banyak untuk diri sendiri, agar impian melihat pantai ini dapat bisa segera terwujud.

Saya menargetkan Lampung sebagai destinasi wisata laut pertama sebenarnya bukan semata-mata karena ingin melihat langsung pantai dan laut saja. Tapi karena diharapkan bisa bersilahturahmi lagi dengan seorang teman dekat yang bekerja dan menikah di sana sejak 12 tahun lalu. Dan juga karena saya kehilangan kontak beberapa tahun setelah kepindahannya, Henpon saya hilang bersama uang, KTP, SIM dan juga henpon adik saya yang akan diservis, di dalam pouch yang dulu pernah jatuh di jalan. 

Saya sempat mencari-cari nomer henpon barunya ke temen-temen tapi gak ada yang punya, dan sayangnya dulu dia memang pernah bilang tidak berminat sama sekali untuk memiliki akun social media. Alhasil, sampe sekarang saya belum bisa menemukan kontaknya. 

Sikapnya yang ramah dan sering menyapa duluan membuat kami lebih akrab hingga kemudian menjadi lebih dekat lagi karena ternyata saya suka dengan Ibunya. Kalo Ibunya baik biasanya nurun ke anak-anaknya, begitu prinsip yang dulu saya pegang. Ibunya enak diajak ngobrol dan selalu nyambung kalo diajakin ngomong apa aja. Bisa tuker pikiran, kadang bisa jadi sahabat bagi anak-anaknya dari yang abege hingga yang udah dewasa. 

Teman saya termasuk orang yang tidak berkecukupan karena tempat tinggalnya masih menumpang  serta tidak lagi memiliki penopang utama dalam keluarga. Ayahnya meninggal waktu temen saya masih SMA dan meninggalkan 4 orang anak, yakni temen saya yang adalah anak pertama dan adik-adiknya yang waktu itu juga masih kecil-kecil. 

Dulu saya sering banget main ke rumahnya. Walo sebenernya yang terjadi temen saya yang sibuk di dapur, dan saya malah duet sama ibunya di ruang tamu. Saya nyanyi, dan ibunya main gitar.  πŸ˜‚ 

Kalo kamu seorang penggemar drakor, tau dengan Kim Yoo Jung? yang jadi First Lead Female di serial drama Backstreet Rookie. Nah begitulah sedikit banyak gambaran raut wajah temen saya, hanya saja sekarang pasti udah agak beda karena selisih usia. Pas dulu waktu pertama kali ngeliatnya sebagai First Lead Female remaja di drama saeguk The Moon That Embraces The Sun tahun 2012 lalu. Saya sampe pangling. Apa temen saya sekarang udah alih profesi yak, hahaha.. sampe-sampe gak bisa dihubungin lagi. Dulu banyak banget cowok-cowok yang ngejer temen saya inih (beberapa temen cowok saya juga) dan jadi murid kesayangan dosen karena gak hanya cantik tapi juga ramah, pintar dan rajin belajar termasuk juga pintar masak dan pintar menjahit. Sangat menginpirasi dan patut dijadikan panutan bukan. 

Dulu saya sempat menentukan seseorang bisa jadi temen deket itu salah satu alasannya adalah karena saya kagum dengan Ibunya, ayahnya atau neneknya, dan itu juga salah satu alasan terpenting kenapa akhirnya saya bisa menikah dengan pak suami. πŸ˜‚πŸ˜

Meski tidak dipungkiri saya juga dengan senang hati berteman dekat dengan beberapa teman lain, walo tetap saja kebanyakan ortunya ternyata single parent. Ada yang ikut ibunya, ada yang ikut ayahnya, juga ada yang ikut nenek-kakeknya atau memang karena salah satunya telah tiada. Pernah terbersit harapan untuk memiliki single parent saja, biar sama seperti mereka, barangkali hidup kami akan terasa lebih baik. Siapa tau hidup akan jadi lebih aman, nyaman, damai, dan tidak perlu was-was setiap kali akan pulang ke rumah. Dengan begitu, setidaknya kami juga bisa ikut merasakan bagaimana memiliki rumah seperti mereka yang sering menggaungkan baiti jannati, home sweet home, atau rumahku adalah syurgaku.

Tapi seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya usia dan semakin beratnya perjalanan hidup. Akhirnya kami mulai memahami atau sebenarnya "harus" memahami kenapa ayah begini kenapa ibu begitu, agar suatu hari nanti bisa jauh lebih mengerti dan memaklumi pasangan dalam mengarungi kehidupan pernikahan. Kami merasa harus segera bertindak dengan mencoba menciptakan situasi (meski secara bergerilya) agar tidak terjadi perang urat syaraf setiap kali mereka memulai komunikasi.

Meskipun pada akhirnya kami hanya dianggap sebagai bocah tak berpengalaman, dan minim ilmu. Pengertian yang kami sampaikan terasa janggal untuk diterima karena berasal dari ucapan seorang anak yang baru belajar seumur jagung, ke Orangtua yang merasa jauh lebih lama dan lebih paham menghadapi pahit getirnya hidup. 

Dulu kami berharap mereka mau belajar menempatkan komunikasi di waktu dan kondisi yang tepat. Itu saja sudah cukup. Bukan karena sudah merasa pintar, sudah jadi anak sekolahan atau karena berpendidikan lebih tinggi.

Kalo dihitung-hitung, beberapa keputusan penting dalam hidup saya sebenarnya lebih banyak saya bicarakan ke Ibu teman ketimbang dengan Ibu sendiri. Bukan karena saya tidak percaya dengan Orangtua. Tapi sepertinya memang karena cara pandang dan cara berpikir saya saat itu masih polos dan terbatas. Dulu saya menganggap untuk apa curhat ke Ibu, beliau sendiri sudah terlalu berat menanggung masalah di rumah dan jika harus ditambah lagi dengan masalah yang saya hadapi, rasanya gak tega untuk menambahkan beban lagi dipundaknya. Lagipula karena sejak kecil saya memang sudah terbiasa menyediakan telinga untuk semua keluh kesah Ibu, hingga membuat saya berpikir tidak ada lagi kesempatan dan ruang yang cukup di benaknya untuk saya berbagi keluh kesah.

Jadi setiap kali ada masalah, dan Ibu akhirnya tau, beliau akan bilang. "Makanya kalo ada apa-apa tuh dibicarakan dulu ke Orangtua, biar jadinya gak kayak gini." Padahal, saya sebenarnya sudah mempertimbangkan dengan matang hanya saja saya mendiskusikannya dengan Ibu yang lain. Dan itu adalah sebuah jawaban yang tidak mungkin saya lontarkan, karena saya tau pasti hanya akan menyakiti hatinya.

Hingga saya menikah dan punya anak, barulah saya bisa memandang lebih dalam dari dua sisi. Meskipun saya meyakinkan diri bahwa apa yang dulu pernah saya jalani adalah pilihan terbaik yang bisa saya lakukan, alih-alih merasa sedih karena menyadari betapa menyakitkan kalo anak sendiri malah lebih mempercayakan isi hatinya ke orang lain ketimbang dengan Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan segala pengorbanan,  segenap jiwa dan raga.

Segarang-garangnya saya sebagai Ibu, yang kadang sering naik darah kalo ngeliat ada yang salah dengan kelakuan anak (bertolak belakang dengan watak Ibu saya yang jauh lebih sabar menghadapi delapan orang anak), saya masih sangat berharap anak saya punya seorang Ibu yang bisa berinteraksi dengan baik dalam berkomunikasi dua arah dengan anak-anaknya, walau saya tau itu sangat sulit apalagi dengan kondisi punya banyak anak. Tidak apa-apa jika anak mempercayakan masalahnya untuk diselesaikan bersama orang lain. Siapa tau dengan begitu bisa menemukan solusi yang lebih baik. 

Meskipun saat ini saya harus melewati masa-masa sulit membesarkan anak. tapi beginilah hidup, waktu berjalan terus. Tidak akan ada yang sama. Semua tumbuh mengikuti waktu. Suatu hari gak akan ada lagi suara tawa bayi, suara anak-anak yang baru belajar bicara, anak-anak yang gelendotan karena ingin diperhatikan lebih atau anak-anak yang rewel minta ini dan itu. Suatu hari kita akan merindukan wajah-wajah lucu nan menggemaskan dan tangan-tangan mungil yang tidak akan pernah bisa kita peluk dan sentuh lagi. Suatu kerinduan yang dipastikan tak akan pernah kita dapati lagi kecuali hanya melalui sebatas foto, kenangan di waktu kecil.

Alergi & Adegan Garuk Menggaruk

16:17 5
Alergi & Adegan Garuk Menggaruk
Gatal-gatal karena alergi dingin

Ketika baru pindah ke rumah mertua, pagi-pagi saya dibuat kaget waktu ngeliat seorang bocah gendut keluar dari kamar mandi. Dengan mengenakan handuk kecil yang hanya menutupi bagian bawah tubuh tambunnya, si bocah melesat menuju tiang paling menonjol di sudut tembok ruang tamu. 

Seolah tak peduli keadaan sekitar, si bocah tiba-tiba menyandarkan punggungnya ke arah sisi tiang dinding yang menyudut ke arah luar. Bak seorang penari striptis, dia mulai menggeser-geserkan tubuhnya ke atas, lalu turun, kadang ke kiri kadang ke kanan. Awalnya pelan, namun lama-lama semakin cepat. πŸ˜‚

Kelakuan si bocah yang juga adalah keponakan suami ini saya perhatikan seringkali terjadi ketika musim penghujan tiba. Dimana hawa dingin, selalu menelusup menusuk kulit ketika pagi hampir menjelang. Khususnya ketika si bocah memulai kegiatan di awal pagi dengan mandi sebelum subuh. 

Belakangan akhirnya saya ketahui ternyata suami pun pernah juga bertingkah seperti itu. Yang tambah bikin geleng-geleng kepala waktu si tengah baru berusia sekitar 3 tahun. Ternyata bukan hanya alergi dingin yang menurun dari bapaknya tapi juga kelakuannya, persis banget tingkahnya kayak suami dan si keponakan. Saya jadi suka greget sendiri setiap kali ngeliat tingkah mereka-mereka inih. πŸ˜‚ 

Kalo kalian yang punya alergi dengan udara dingin pasti taukan gimana rasanya, gatal gatal yang tiba-tiba menyerang akibat kedinginan sehabis mandi, sampe kebingungan pengen ngegaruk punggung tapi tangan sendiri malah gak nyampe. πŸ˜‚ 

Berhubung suami sudah tau cara memberdayakan istrinya, jadi beberapa kali pernahlah tangan saya tiba-tiba dijadikan penggaruk saat keadaan lagi darurat satu, penggaruknya (si tiang) gak bisa di deketin kalo lagi ada orang lain di ruang tamu. πŸ˜… 

Dan ketika sisir terlihat menjadi benda penggaruk alternatif paling mudah di raih, akhirnya kebiasaan garuk menggaruk di tembok ini berganti-ganti, kadang sisir kadang dinding. 

Begitu sisir udah gak efektif, entah karena tajam, terlalu kecil atau gak bisa ditemukan karena gak dikembalikan ke tempat semula,  akhirnya si pengidap alergi dingin ini memutuskan membeli alat penggaruk yang sudah dipatenkan fungsinya, yakni miniatur tangan plastik dengan gagang yang lumayan panjang mirip sikat yang biasa dipake untuk mandi. 

Walau pada akhirnya, keberadaan si penggaruk tetap tidak bisa dimaksimalkan fungsinya karena hanya jadi bahan rebutan si tengah kalo pak suami lagi garuk-garuk (masih berbahaya kalo di pegang anak balita). Dan ujung-ujungnya, ntuh penggaruk jadi patah-mematah karena beralih fungsi dan berakhir menjadi mainan anak-anak.

Hingga pada suatu hari  pak suami memutuskan untuk ke dokter spesialis (akhirnya). Karena kemaren itu, entah mandi pagi atau sore, alerginya terus menerus kambuh. 

Sepulang dari sana, ternyata dokter hanya meresepkan salep racikan untuk obat luar (ada satu bagian di punggungnya yang menghitam karena keseringan digaruk) dan obat yang diminum untuk mengurangi reaksi alerginya. Yang berarti kalo pas lagi kambuh kita harus minum obat seumur hidup. Karena alerginya ini gak bisa disembuhkan tapi masih bisa dihindari dan dicegah.

Jadi kalo pas suami libur kerja, dia memilih untuk mandi agak siangan dikit, jadi airnya gak terlalu dingin, walau kadang masih kambuh juga alerginya. Jadi suami seringkali menyiasati dengan mandi air hangat, alerginya lumayan berkurang dan juga punggungnya langsung diolesin salep setiap habis mandi (pas cuaca dingin). 

Berhubung kulit si tengah lebih sensitif, sering garuk-garuk leher kalo lagi keringetan karena dia juga alergi dengan udara panas. Jadi mandinya juga agak siangan dikit karena dia hanya di rumah gak kemana-mana. Selain itu dia olweis standby di depan kipas angin untuk mengantisipasi jika udara terlalu panas biar gak terserang gatal-gatal.

Lain kakak, lain adik. Meskipun alergi dingin keponakan sama seperti alergi sepupunya, yakni si tengah. Namun adiknya si keponakan yang usianya hanya selisih satu tahun dengan si tengah ternyata memiliki alergi yang berbeda. Sejak lahir dia alergi dengan sufor atau susu sapi beserta turunannya seperti mentega, keju, yoghurt dan sejenisnya. Selain itu dia juga alergi putih telur, kacang dan juga makanan laut. 

Jadi sekalinya dia salah makan, atau sedikit aja makan sesuatu yang mengandung bahan pemicu alergi. Badannya langsung gatal-gatal, dan luka-luka seluruh tubuh saking seringnya digaruk. Alhasil, dia harus selalu memakai pakaian yang menyatu dari leher sampe kaki dengan bahan agak tebal agar dia tidak gampang melukai dirinya sendiri. 

Karena terhalang pakaian yang membuat sesi garuk-menggaruknya tidak tuntas dan ketika garukan biasa tidak lagi memuaskan, akhirnya dia terpikir dengan ide menggaruk versi baru. Ketika gatal mulai menyerang biasanya dia akan rebahan diatas benda-benda atau karpet yang kasar, kadang dibagian tikar bambu dengan salur kecil-kecil yang sudah mulai rusak, setelah itu dia meliuk-liuk kesana kemari macam ulat bulu agar sekujur tubuhnya bisa tergaruk dengan lebih memuaskan. πŸ˜…

Jika alerginya semakin parah dia akan menangis terus-terusan hingga terserang batuk, biasanya asmanya langsung kambuh dan harus segera dibawah ke rumah sakit. 

Mungkin karena sudah lebih mengerti yang mana yang boleh dan tidak boleh di makan, di usianya yang sudah menginjak tahun keenam alerginya sudah mulai jarang kambuh. Yah setidaknya kecemasan ibunya sudah mulai banyak berkurang. Begitu juga dengan pak suami, si tengah dan si bocah gendut (yang gak gendut lagi karena sekarang udah jadi mahasiswa), sepertinya belum ada lagi adegan garuk menggaruk di musim kemarau kali ini. Semoga saja ketika musim penghujan tiba gak ada lagi alergi-alergi yang kambuh, yah. πŸ˜…

Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

14:13 37
Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Belakangan ini saya merasa seperti diteror terus-terusan, dirongrong hingga membuat kepala saya seringkali migrain karena kurang tidur dan stress yang berkepanjangan akibat kekecewaan dari rumah dan tekanan dari sekolah Si Kakak. Ibarat sepotong dendeng yang ditekan dari atas, tapi yang ini alasnya malah memberikan perlawanan (bergerak keatas) karena menolak ditekan dengan mendorong balik agar tidak ikut tehenyak ke bawah bersama si dendeng. Dari situ jelas sekali, pada akhirnya si dendeng lah yang akan menjadi hancur atau gepeng karena ditekan dari dua sisi. Yang setiap saat bisa saja menjadi dendeng balado jika terus-terusan dicampur dengan berkilo-kilo ulekan cabe keriting. (Ngenes banget analoginya yah) πŸ˜‚

Sejak tahun ajaran baru dimulai dan diberlakukannya pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Saya akhirnya menjadi bagian dari golongan Orangtua murid yang gagal membuat anaknya mau belajar dengan baik dan efektif selama di rumah.

Sebelumnya saya memang merasa lega. Karena tidak perlu lagi harus tiap hari menyiapkan seragam sekolah, uang jajan dan ongkos ojek serta tidak perlu kocar kacir karena selalu berkejaran dengan waktu demi menyiapkan makan siang sebelum Si Kakak berangkat ke sekolah. 

Dulu, saya heran kenapa Ortu teman-teman Si Kakak banyak yang mengajukan keluhan melalui WAG sekolah, anaknya tidak mau menurutlah, jadi malas belajar, kerjanya main game dan nonton aja di rumah. Namun setelah dimulainya tahun ajaran baru, kegiatan Si Kakak yang tidak ada belajarnya saat libur lebaran dan kenaikan kelas telah menjadi kebiasaan baru yang membuat saya makin uring-uringan. Segala cara sudah saya lakukan agar Si Kakak mau belajar dan mengerjakan tugas serta hapalan-hapalan seabrek dari sekolah, baik itu latihan di buku, maupun materi melalui video. Yang awalnya saya lakukan dengan cara lembut dan mengayomi, tapi ternyata Si Kakak malah nyantai dan seringkali pura-pura gak denger. Mentang-mentang gak berangkat ke sekolah, dikiranya sekarang emang masih libur jadi ngapain juga musti belajar.

Saya pikir karena Si Kakak memang butuh diawasi, maka dengan konsekuensi dua orang adiknya juga ikut nimbrung dan menganggu, saya tetap menemaninya belajar dan tetep disambi beres-beres kerjaan rumah. Begitu saya bantuin bikin tugas, eh Si Kakak malah ketagihan. Dikit-dikit nanya, dikit-dikit ngomong gak tau, karena malas membaca materi dan ngerasa bisa langsung dapet jawaban dari emaknya. Jadi kalo ada yang praktis ngapain lagi harus baca-baca, mungkin begitu pikirnya. Meski ujung-ujungnya Si Kakak bukannya belajar, tapi konsentrasinya malah terpecah, ngalor ngidul lalu tiba-tiba main atau nonton seperti adik-adiknya.

Karena kesel, akhirnya saya mengingatkan Si Kakak dengan nada mengancam, dan ternyata masih juga gak mempan. Dari hari ke hari keadaan semakin rumit, tugasnya terus menerus bertumpuk karena tidak pernah dikerjakan. Sementara saya harus terus berusaha memantau dan mencatat soal serta mencatat materi yang tidak ada di buku pelajaran. Sekaligus menonton video agar tidak ada yang terlewat dan nantinya bisa saya berikan penjelasan ulang ke Si Kakak. Kenapa Si Kakak gak langsung ngeliat dari henpon? Karena Si Kakak bukannya ngeliat tugas di WA tapi malah bongkar-bongkar isi henpon emaknya dan lagi henpon biasanya langsung dikasih ke adeknya biar gak menganggu Kakaknya belajar. Dan bersama keriweuhan itu saya masih harus berkubang dengan segala urusan rumah yang tak pernah ada habisnya. Kalo tidak, tau sendirilah semua kerjaan rumah bisa keteteran dan tertunda lagi sampai besok dan besoknya lagi. Menumpuk dan berakhir dengan menyengsarakan diri sendiri jika tidak ada yang membantu.

Ditambah lagi dengan ramenya Ortu yang ngejawab di WAG sekolah yang bikin saya jadi semakin kewalahan. Karena begitu satu tugas diberikan, Ortu yang ngucapin terima kasih itu bisa nyampe berapa gerbong kereta panjangnya, seharian notif WA isinya ucapan terimakasiiiiiih melulu atau kalo ada yang lagi diselametin atau ada yang lagi sakit, jadinya panjaaaaang banget list anggota WAG yang ngucapin atau ngedoain. Bikin saya jadi senewen sendiri.

Apalagi daftar panjang update-an murid yang sudah mengumpulkan tugas serta jawaban-jawaban murid saat ngelist absensi dan daftar hadir di WAG. Udah macam ular naga panjangnya, bukan kepalang. Bayangkan kalo gak buka WAG Sekolah sehari saja karena gak punya kuota, semoga henponnya gak ngehang pas lagi buka notif, yak. Atau mungkin malah seperti saya yang sering gagal bikin video hapalan Si Kakak untuk dikirim ke sekolah karena memory henpon yang selalu tiba-tiba kepenuhan.

Begitu juga ketika saya ngecek tugas mana saja yang sudah dikerjakan Si Kakak, ternyata hasilnya mengecewakan sodara-sodara. Paling hanya satu soal yang selesai. Sisanya? Zonk, gak ada yang dikerjakan sama sekali, karena saya juga yang memang tidak selalu bisa menemaninya belajar. 

Akhirnya setiap kali melihat WAG, stress saya makin ngepull, karena selalu mendapat pemberitahuan daftar nama-nama murid yang sudah mengumpulkan tugas, dan cuman Si Kakak yang namanya tidak pernah terconteng. 

Mengingat kelas Si Kakak adalah kelas unggulan dimana rata-rata muridnya rajin belajar. Si Kakak bisa bergabung di kelas itu karena usianya paling tua dari teman-teman seangkatannya. Si Kakak masuk SD pas di usia 7 tahun kurang tiga bulan, yang mana teman-temannya banyak yang lebih muda satu tahun tapi rajin dan pintar-pintar. 

Alasan itu makin membuat saya ngedrop di titik terendah, dan bikin otak saya jadi kacau balau. Hingga berapa kali saya akting nangis biar Si Kakak nurut dan hasilnya ternyata gagal juga, sampai ketika emosi sudah meninggi barulah Si Kakak patuh, tapi sayangnya cuma satu hari. Besoknya ketika emosi saya meledak lagi. Si Kakak mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu menangis. Dan itu yang sebenernya bikin saya kesel, karena yang seharusnya nangis itu saya bukan dia.

Hingga suatu hari saya mencari-cari kesempatan bagaimana caranya agar keluar dari WAG sekolah, saya sudah tidak sanggup lagi membaca kiriman-kiriman tugas dan segala macam pemberitahuan yang mengakibatkan saya menderita kecemasan yang lumayan akut. Saya dan suami sudah pasrah, biarlah Si Kakak tahun ini berhenti sekolah dulu, mengulang kelas tahun depan tidak masalah, dan jika pandemi ini belum berakhir, setidaknya adik-adiknya sudah lebih mengerti untuk tidak mengganggu kakaknya belajar (harapannya). 

Saya sadar kalo metode belajar seperti sekarang sangat tidak efektif untuk Si Kakak dan mungkin untuk sebagian besar anak-anak lain juga. Walau faktor yang mendominasi kelakuannya Si Kakak emang karena menurun dari emaknya. Yang waktu kecil dulu, memang malas belajar teori atau hapalan tapi lebih nangkep dan lebih tertarik kalo belajarnya dengan cara praktek bersama teman-teman sekelas. Dan juga karena atmosfer rumah yang memang sangat tidak kondusif untuk bisa belajar dengan tenang seperti di sekolah.

Pada suatu kesempatan, akhirnya saya keluar juga dari WAG sekolah dengan memanfaatkan situasi percakapan yang sedang memanas di grup. Namun tak dinyana, para Ortu siswa/i malah balik bersimpati dan meminta saya jangan keluar dari grup agar tidak ketinggalan informasi, sampe di telpon berkali-kali dan tidak saya angkat. Hingga akhirnya rencana keluar dari sana gagal total karena admin memasukkan saya kembali ke dalam grup. Dan suami saja yang berhasil keluar dengan mulus dari WAG sekolah Si Kakak.

Sejak saat itu saya mulai sering keluar rumah untuk menenangkan pikiran dan menjauhkan diri dari gadget. Selama berkeliling di lingkungan sekitar rumah, saya melihat beberapa anak tetangga yang sedang belajar di teras rumah di temani Ibu, Kakak atau Neneknya setiap pagi. Mereka nurut, semuanya belajar dengan khusyuk karena tidak ada yang menganggu, kalopun bersama adiknya tapi adiknya yah kalem aja.

Saya nyadar kalo ngeliat rumput (anak) tetangga lebih hijau (rajin) justru malah bikin stress karena secara otomatis saya langsung membandingkan dengan anak sendiri. Karena itu, akhirnya saya bertanya ke para Ortunya, bagaimana cara agar anaknya mau belajar tanpa harus diawali drama bak cerita ibu tiri. 

Tapi jawaban yang saya dapatkan ternyata yah gak jauh beda seperti saya, sesekali mereka juga menampakkan taringnya ke anak kalo udah kelewatan. Tapi bedanya, si anak masih punya keinginan untuk belajar, tidak ada yang mengganggu atau ada yang bantu menemani selain Ibunya. Dan hal itu semakin membuat saya merasa, bahwa kondisi mereka jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang saya alami.

Mendapati kenyataan seperti itu, saya semakin down karena merasa gagal menjadi Orangtua. Karena mau gak mau saya juga harus mengurus adik-adiknya disaat Si Kakak paling membutuhkan perhatian dan bantuan saya.

Hingga di suatu sore, saya ke warung sendirian di dekat lapangan gang sebelah, anak-anak saya titip ke Pak Suami (siapa tau pikiran saya kembali jernih dengan me time sambilan seperti itu). Disana saya ngeliat dua orang kakak beradik, satu kelas 2 SD dan kakaknya kelas 1 SMP. Mereka sedang mengasuh adiknya yang masih bayi. Dua bersaudara ini saya kenal sebagai anak yang rajin dan selalu nurut sama Orangtua karena sering ngeliat mereka membantu ibunya berjualan makanan di depan rumah.

Saat itu ibunya lagi membersihkan selokan disamping rumah. Saya langsung mendekat dan tanpa babibu, saya langsung tanya, cara apa yang bisa bikin anaknya mau nurut khususnya waktu ngerjain tugas dari sekolah. 

Dari perbincangan sore itu, sarannya saya simpan dan ingat baik-baik agar sepulang dari sana bisa langsung diterapkan di rumah. 

Tips dari tetangga ini langsung saya praktekkan dan alhamdulillah, Si Kakak akhirnya bikin tugas juga. Caranya gimana? Dengan menyita semua barang kesukaannya dan kemudian membujuknya. Kalo semua tugas sudah selesai saya akan kabulkan keinginannya nonton youtube di henpon dan beberapa keinginannya yang lain.

Sayangnya (masih harus disayangkan) tugas dari sekolah seolah tak ada hentinya, pagi siang malam, ada saja pemberitahuan, tak mengenal waktu. Barulah ingin bernafas sudah datang tugas baru, hapalan baru. Dan saya sudah kehabisan cara ngebujuk Si Kakak agar mau mengerjakan semua tugas dari sekolah. Karena Dia sekalipun gak mau berinisiatif untuk mengerjakan tugas sekolahnya kalo gak saya ingatkan terus-terusan.

Yang pada akhirnya, tetep aja balik ke selera asal, Si Kakak kembali malas malasan lagi dan dengan nyantainya bilang iya setiap kali saya minta mengerjakan tugas, tapi gak pernah dikerjakan. Dia hanya menangis karena katanya capek terlalu banyak tugas dan hapalan yang harus diselesaikan. Dan saya juga sudah kelelahan.

Puncaknya, ketika waktu me time saya yang cuma sedikit itu telah habis dan terenggut secara paksa demi kelancaran proses belajar mengajar jarak jauh ini. Saya rasanya ingin memberontak dan keluar dari tekanan yang datang terus menerus serta rongrongan yang telah menelan kebebasan saya untuk merawat otak dan hati, agar kewarasan saya tidak terlanjur menyimpang kesana kemari.  

Ditengah kekalutan itu, saya teringat dengan adik saya. Dia adalah seorang guru SD tapi sayangnya dia tinggal di kota lain. Meskipun ketiga adik saya kesemuanya adalah tenaga pengajar tapi saya merasa sungkan untuk curhat ke adik-adik yang lain. Kenapa? Karena mereka juga memiliki kendala dan kesulitan serta merasakan beratnya ketika harus mengajar secara daring sedangkan gaji yang didapat tidak seberapa, dan kebetulan Adik saya yang mengajar anak SD hanya yang tinggal di luar kota.

Setelah saya menelpon dan mencurahkan semua unek-unek seorang wali murid ke Adik saya dan mendengarkan wejangannya, dari situ saya baru bisa memahami kenapa guru-guru seolah tega sekali memberikan tugas secara bertubi-tubi ke siswa/i nya. 

Alasannya? Karena mereka juga mendapat tekanan dari atas dan beberapa alasan lain yang tidak bisa disebutkan. Tapi walau begitu, tetap ada toleransi serta kebijakan untuk murid-murid yang tidak bisa menyesuaikan diri untuk belajar jarak jauh seperti sekarang serta murid yang tidak mampu dan terkendala kuota atau yang tidak memiliki gadget. Sayangnyaaa, sayangnya lagi itu untuk sekolah negeri. Beda dengan sekolah Si Kakak, meskipun sekolah gratis dan hanya diwajibkan membayar infaq tapi dia belajar di sekolah swasta yang notabene semua kebijakannya tergantung dari yayasan atau sekolah masing-masing.

Lalu sekarang Si Kakak gimana? tetep aja masih susah kalo disuruh belajar. Dan karena itu saya memutuskan sharing dengan Wali kelas Si Kakak (meskipun keliatannya susah sekali diganggu setiap kali saya datang untuk menyetor tugas Si Kakak ke sekolah). Kata Wali kelasnya, Gak papa, tunggu sampai Si Kakak mau. Wali kelasnya meminta dengan sangat agar Si Kakak tidak dimarahi. Tapi sayangnya saya udah terlanjur marah-marah duluan dan sebagai Orangtua yang baru belajar hal itu sangat saya sesalkan. 

Besoknya, Wali kelasnya langsung ngomong ke Kakak di WA, agar mau mengerjakan tugas-tugas dengan ngasih kata-kata semangat, yang bikin Si Kakak akhirnya mau mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Meskipun masih sering pake sistem kebut semalem (SKS), semua tugas dikerjakan sehari sebelum menyetor tugas ke sekolah, yang dilakukan seminggu sekali. Setidaknya Si Kakak sudah mau ngerjain tugas sekolahnya, sudah ada nilai yang diberikan karena sudah mau belajar. Dan saya juga tidak perlu berharap yang muluk-muluk karena membandingkan Si Kakak dengan anak-anak yang lain, karena kesabaran saya sebagai Orangtua benar-benar sangat di uji di masa-masa ini.

Saya semakin menyadari bahwa anak lebih suka ngedengerin dan nurut apa kata orang lain ketimbang emaknya sendiri. Karena emang emaknya yang suka ngomel-ngomel, sometimes mengaum kayak singa karena suka khilaf dan hilang kesabaran saking kewalahan dengan semua kerjaan yang ada di rumah. 

Sebagai anak yang hobinya nonton dan bermain. Si Kakak ternyata lama-lama jenuh juga dengan semua aktifitasnya di rumah. Karena itu, sekarang Dia menggantinya dengan hobi baru, yakni sering menawarkan diri untuk ngebantuin emaknya di dapur Ketimbang BIKIN TUGAS dari sekolah. 

Antara pengen seneng tapi kok yah miris. 

Sejak Si Kakak mulai mau bikin tugas, televisi, henpon dan komputer butut emaknya memang telah di berdayakan dan diprioritaskan semua untuk hiburan adek-adeknya dan tugas sekolah Si Kakak.

Hingga membuat Si Kakak berinisiatif untuk mandiin adek-adeknya setiap pagi. Si Kakak bilang, biar ibu bisa ngetik pake komputer, biar gak stress dan gak marah-marah terus. Biar kerjaan Ibunya di rumah tidak penuh drama dan suara tangisan adik-adiknya. Karena setiap menit setiap detik ada aja yang rewel, mo minta dicebokin lah, yang mo minta makan lah, yang mo minta minum, yang mo minta ganti channel tv, yang mo minta gendong lah, yang mo minta bikinin susu, yang berantem lah, manjat-manjat lemari, yang berebut makanan, berebut mainan lah, sampe yang bikin rumah banjir, dan berbagai macem tingkah pola adek-adeknya. Yang kadang bikin Si Kakak kasian sama emaknya, karena selalu kerempongan nyelesain kerjaan dapur yang seabrek-abrek, blum lagi karena selalu gagal pengen ngeblog tengah malem karena adek-adeknya juga pada ikutan begadang. 

Walo saya tau sebenernya mereka sedang memanfaatkan kesempatan karena pengen maen aer di kamar mandi. Keliatan dari tagihan air yang terus membengkak beberapa bulan ini, saking seringnya maen air pake selang di kamar mandi. Dan kadang malah bikin was-was kalo denger adek-adeknya suka jejeritan di kamar mandi, diiringi suara tertawa jahil dari kakaknya. Tapi yah sudahlah, skali-skali inih. πŸ˜‚


Bagaimana dengan kabar kalian, temen-temen? Waktu saya baca-baca timeline di pesbuk, ternyata banyak juga emak-emak yang nasibnya seperti saya, yak. πŸ˜… 

Menggunting & Digunting

01:10 13
Menggunting & Digunting

Sewaktu kecil, telinga saya pernah tergunting dan sedikit robek ketika rambut saya dipotong oleh bapak. Lukanya lumayan ringan, tapi bekasnya masih tetap ada hingga sekarang.

Dulu sewaktu saya dan kakak mau masuk SD, Bapak memotong ujung rambut saya hingga sejajar dibawah kuping, biar lebih ringkas dan kelihatan selalu rapi saat pengambilan gambar untuk pas foto di sekolah. 

Contoh konkretnya mungkin bisa dengan membayangkan rambut seorang Yuni Sarah terbingkai di wajah seorang anak kelas satu sekolah dasar. Dimana foto yang akhirnya tertempel di lembar biodata raport itu justru lebih menggambarkan potret seorang anak laki-laki, memakai anting-anting dan memiliki nama lengkap seorang perempuan dengan jenis kelamin yang juga adalah perempuan. πŸ˜…πŸ˜‚

Sejak kejadian itu, seingat saya bapak tidak pernah lagi menggunting rambut kami. Tapi sebagai ganti, Ibu yang kemudian menyempatkan diri merapikan rambut anak-anaknya meski berada di tengah keriweuhan antara mencari nafkah, mengurus rumah serta mengasuh adik-adik yang masih unyil kunyil.

Setelah kami mulai besar, kadang-kadang saya yang menggantikan Ibu untuk menggunting rambut Kakak dan adik-adik. Karena ke salon itu sudah pasti harus mengeluarkan duit, apalagi kalo harus merapikan rambut untuk banyak kepala. Bisa membuat rambut mereka terlihat rapi dengan menggunakan teknik sederhana aja udah syukur sebenere. Kecuali anaknya yang memang ga bisa diem hingga butuh seorang tukang gunting specialis khusus untuk anak-anak. 

Biasanya, model rambut yang saya jadikan contoh itu gak jauh-jauh dari gaya rambut dora atau potongan rambutnya demimor. Sesekali saya juga mencontoh potongan rambut bergaya bob sebagai alternatif jika contoh model potongan rambut lain mulai membosankan, dimana bagian kiri kanan bawah telinga tidak perlu dipotong hanya dirapikan sedikit tapi tetap lebih panjang dari bagian belakang. Biar keliatan sedikit lebih kekinian. πŸ˜…

Berhubung saya terbiasa motong rambut saudara-saudara yang kesemuanya adalah perempuan, (ada satu laki-laki, tapi baru lahir ketika saya udah keburu masuk kerja jadi gak masuk itungan) πŸ˜‚ jadi, begitu rambut si tengah udah mulai gondrong diusianya yang ke dua tahun, saya langsung kagok karena gak tau gimana cara nyukur rambut anak cowok sesuai dengan kaidah yang dibenarkan. 

Karena itu, saya langsung melipir ke gugel, dan cuci mata lewat yutup hingga kemudian menemukan akunnya Jason Makki, seorang Hairstylist dan Senior Barber dari USA yang sekarang berdomisili di Dubai. Saya tuh sampe kagum ngeliat transformasi rambut cowok-cowok berambut singa, gimbal, berombak, keriting, ubanan bahkan pelanggan yang mengalami kebotakan atau mereka yang berambut panjang dan jenggot megar bisa disulapnya jadi keren setelah di cukur hingga di makeover sama belio. Dimana sebagian prosesnya dilakukan cuma dengan mengandalkan alat cukur dan sisir doang. (ya iyalaah πŸ™„ emang perkakas wajibnya tukang cukur itu ya begitu ituh, gak mungkin juga nyukurnya pake panci sama sutil, yak) πŸ˜‚

Setelah nonton beberapa videonya, keinginan saya untuk beli alat cukur listrik untuk Suami dan Si tengah semakin menggebu-gebu, walo pada kenyataannya tetap tidak pernah sekalipun ada transaksi pembelian alat cukur listrik yang terklik "Beli" di keranjang belanja toko online (gak jadi keratjoenan)πŸ˜‚karena pada akhirnya saya lebih memilih untuk mengganti wajan teflon lama yang sudah baret-baret dengan wajan yang baru, biar penggunaan minyak saat melakukan kegiatan goreng-menggoreng atau tumis-menumis bisa lebih irit setiap harinya. πŸ˜‚

Kendatipun akhirnya dalam jangka waktu setahun (ikut arisan) sempat menyisihkan duit lagi buat beli alat cukur listrik, tapi tetep aja gagal karena udah keduluan tergiur beli gunting rambut seharga lima ribu perak di warung depan rumah. πŸ˜…πŸ˜‚

Dulu saya emang pernah menyempatkan diri nyari alat cukur listrik yang bagus tapi harganya harus yang didiskon abis-abisan di onlineshop (maklumlah emak-emak), biar gak perlu repot-repot lagi merapikan rambut dua orang pejantan di rumahπŸ˜‚ jadi gak perlu ke tukang cukur dan gak capek mikirin pengeluaran yang bertambah karena masih bisa dilakukan sendiri di rumah asalkaaaan? sudah mahir.  🀭

Sayangnya, sampe sekarang ilmu perguntingan saya masih berada di level paling bawah dan sama sekali belum pernah motong rambut cowok, Motong rambut cewek pun hanya dipraktekin setahun sekali setiap menjelang lebaran atau tahun ajaran baru sajah (jam terbangnya dikit euy). Dan lagi, berdasarkan info-info yang saya dapatkan dari gugel dan yutup, untuk memangkas rambut cowok rata-rata memang lebih baik memakai alat cukur listrik, apalagi buat pemula seperti saya, karena gak cukup hanya dengan menggunakan gunting kalo kepengen hasilnya gak pitak-pitak. Kecuali kalo emang pengen gundul, bisa pake cukuran manual, itupun rambut yang panjang musti dipendekkin dulu pake gunting baru ntuh rambut bisa dicukur habis sampe plontos.

Dulu waktu pertama kali saya nyukur rambut Si tengah, hasilnya sampe ada pitak dua πŸ˜‚ karena cuma pake gunting doang. Padahal, kalo mau dibikin plontos mah gampang beud, langsung libas aja pake cukuran manual, yang penting endingnya kan kinclong, gak perlu was was kalo rambutnya jadi pitak atau kependekan. Maka itu, mencukur dengan alat cukur listrik adalah pilihan terbaik. Karena bisa lebih rapi dan merata ditiap helainya.πŸ˜‚

Beberapa hari kemaren, rambut saya banyak yang rontok. Dan saya baru ingat biasanya itu adalah pertanda stress dan ujung-ujung rambut yang sudah lama banget gak dipangkas. Berhubung salon khusus cewek (salon muslimah) masih jarang disini, kalopun ada yah mahal sih (banget untuk kantong saya karena pengennya sepaket sama perawatan). Kalo dulu biasanya saya langganan gunting rambut sama tetangga samping rumah dengan tarif only tujuh ribu perak sajah, tapi sayang sekali orangnya sudah lama pindah dan jarak rumahnya lumayan jauh. Kalo ke tempat lain, ribet karena gak ada yang jagain anak-anak. Maka akhirnya saya putuskan untuk menggunting rambut saya sendiri (lagi).

Pernah sekali, saya coba-coba gunting rambut di tempat khusus cewek (salon biasa). Dan saat itu udah malem, sepi gak ada orang sama sekali. Jadi saya pikir udah amanlah, toh gak bakal ada pelanggan lagi yang dateng. Karena posisi kursi saya gak keliatan juga dari luar, saya jadi nyantai dooong, buka jilbab, dan duduk segala posisi. 

Eh tapi pas lagi ditengah-tengah, tiba-tiba ada seorang pelanggan dateng pengen gunting rambut juga. Si pelanggan ini dateng bersama si pacar dan mereka langsung nyelonong aja masuk ke dalam. Si Mba yang lagi semangat-semangatnya memangkas rambut, sama sekali gak menyadari kalo saya udah salting di tengah pose mematung saat dihujani potongan-potongan rambut yang berhamburan kemana-mana, nemplok di pinggir mata, masuk lubang hidung, nempel dimulut dan gak bisa lepas meski ditiup-ditiup karena udah menempel kena iler di mulut. Mana saya narok jilbabnya jauh lagi. 

Gak ngomong binguuung.., mo ngomong ntar si cowok malah denger, ngasih kode ke Mba nya (biar  bisa nutupin saya pake badannya) malah gak konek, masak saya langsung berdiri trus pake jilbab saat itu juga? Yang ada malah semakin menarik perhatian, itu mah. πŸ˜‚πŸ˜…

Akhirnya, saya cuma bisa berdoa kalo si cowok gak menyempatkan diri untuk ngeliat atau gak menyadari ada saya disitu (sempet-sempetnya halu jadi jinny oh jinny yang bisa ngilang saat itu juga, tapi gagal).πŸ˜‚

Yang paling saya ingat itu waktu jaman-jaman drama meteor garden. Karena dulu rambut saya sudah panjang tapi masih dengan model gaya rambut segi.  Ibu saya ngomong, "potongan rambut orang-orang di drama itu bagus-bagus yah, gayanya anak-anak jaman sekarang." Tapi sayangnya Ibu saya itu gak menyebutkan dengan spesifik artis mana yang beliau jadikan contoh model untuk rambut saya. Saya berharap banget rambut saya mirip Si Shanchai, atau Si first lead female (karakter utama cewek), dulu saya belum ngeh kalo rambutnya itu ternyata di rebonding makanya gak amburadul dan langsung rapi lagi setiap kali dia dilemparin barang  atau pas dikejer sama temen-temennya. Dipikiran anak abegeh saat itu, ntuh rambut artis jadi bagus dan lurus banget karena cuma di gunting doang dan karena rambutnya emang udah lurus dari sononya. Tapi dikasih polesan gel biar rambut halusnya gak mencuat kemana-mana.πŸ˜…

Selama proses pemotongan rambut. Saya sering mengajukan protes, rambut saya dipotong kependekan karena Ibu gak pake ngomong-ngomong lagi langsung maen potong aje. Dan lagi karena kaca yang dipake buat nyalon sama Ibu waktu itu adalah kaca seukuran dompet, yakni bagian kecil dari pecahan kaca besar yang sudah pecah. Jadi saya gak begitu menyadari, sebelum ngaca langsung di lemari kamar.

Karena merasa model rambutnya gak begitu mecing dengan wajah, akhirnya ntuh rambut saya modif sendiri. Ibu bilang "kenapa di rombak potongan rambutnya? Udah bagus kayak begitu, gak usah diubah-ubah lagi." Rambut saya di bikin mirip kayak rambut Taomingse temen-temen. 😭 (Si First lead MALE)

Setelah beberapa bagian saya rapikan lagi dengan seksama, seenggaknya saya berharap rambut saya bisa lebih mirip dengan si Dido, penyanyi cewek yang model rambut pendeknya emang lagi booming saat itu, ketimbang mirip Taomingse yekan. (silahkan gugling yang penasaran sama Dido) πŸ˜‚πŸ˜.

Besoknya, ketika saya ketemu temen-temen di kelas. Banyak yang iseng nyeletuk, rambut baru ni ye.., wow, ato Rin, mirip Wacelei! (Si second lead MALE). πŸ˜ͺ 

Dan begitulah salah satu contoh obsesi terselubungnya Ortu yang pengen banget punya anak cowok. πŸ˜…

kalo kalian nasibnya gimana? Samakah seperti saya? πŸ˜…


Note : 
Tulisan ini adalah komentar saya di Postingan Mba Eno, yang telah saya kembangkan menjadi sebuah Postingan (karena saya yakin tulisan ini gak bakal muat kalo saya ketik di kolom komentarnya).😁😊

Makanan & Kenangan Masa Kecil

19:08 37
Makanan & Kenangan Masa Kecil


Setiap kali, ketika saya kembali menjejakkan kaki ke rumah Orangtua, ingatan-ingatan tentang masa kecil serta merta kembali menyelusup, menyesaki ruang benak, lalu berakhir dengan sereguk kesedihan dalam dogma kehampaan. Menangis? Konon menangisi kematian itu hanyalah bentuk dari sebuah keegoisan, bahwa kita sebenarnya sedang menangisi diri karena tidak lagi bisa mendapati atau melihat apa yang pernah menjadi milik kita. Bahwa kita takut sendirian, takut kehilangan, takut untuk menerima siksaan rasa rindu yang tak akan pernah terobati. Yang pada akhirnya kita hanyalah seorang manusia yang takut untuk menghadapi rasa sepi. 

Kebersamaan saya dan almarhumah Kakak, adalah salah satu kenangan yang akan selalu menjadi pembelajaran bagi saya sebagai seorang adik yang telah menjadi Orangtua. Juga sebagai kenangan manis yang menjadi pengingat bahwa dia pernah menjadi rekan terbaik, ketika kami sama-sama berjuang menjalani kepahitan hidup saat bersama Orangtua.
~//~

Ketika kami masih anak-anak, solat taraweh telah menjadi satu hal paling menyenangkan, walau tidak seperti teman-teman lain yang kadang dibekali uang jajan oleh Orangtuanya. Setelah selesai solat biasanya anak-anak langsung berhamburan menuju kedai makanan terdekat yang masih buka di sekitar masjid. Berbeda dengan saya dan kakak, kami biasanya langsung pulang karena Ibu memang sudah membekali kami dengan sekantong makanan sisa berbuka. Makanan yang dibuat sendiri oleh Ibu atau saya. 

Godo-godo Labu

Salah satu makanan khas yang biasa dihidangkan saat berbuka di rumah adalah Godo-godo Labu. Makanan ini mirip Bakwan, tapi terbuat dari potongan-potongan kecil labu kuning seukuran korek api yang dicampur dengan terigu. Rasanya manis-manis gurih. Tekstur makanan ini terasa garing diluar namun lembut di dalam. Jika ingin menambah sensasi pedas, akan lebih cocok jika Godo-godo Labu disajikan dengan cuko pempek ketimbang dimakan dengan cabe rawit yang pedasnya cuma se-upil. πŸ˜‚

Godo-godo Labu adalah salah satu makanan kenangan masa kecil saya bersama Kakak di bulan Ramadhan. Kalo lagi bosen mendengarkan ceramah di masjid setelah solat atau mengaji, makanan ini selalu jadi penangkal rasa ngantuk dan jenuh. Walau bentuknya sering jadi gepeng karena disembunyikan di bawah sajadah (dulu para Ustadz rajin mendisiplinkan anak-anak yang makan dan ribut disaat orang-orang sedang solat) untungnya saat itu kami tidak pernah terciduk meski solatnya dipastikan keteteran. πŸ˜‚πŸ˜…

Selain beberapa masakan ibu, saya juga rindu dengan jajanan atau makanan yang dibeli bersama Kakak sewaktu kecil. Beberapa makanan ini dulu sempat saya idamkan setelah menikah, bukan saja karena rasanya yang enak tapi karena kenangannya. Suatu momen yang tidak bisa saya ciptakan lagi karena ada beberapa bagian dari kenangan itu yang memang sudah tidak ada lagi.

Dulu sewaktu masih SD, Ibu selalu kerepotan mengurus adik-adik yang masih kecil karena beliau juga harus ikut membantu bapak mencari nafkah. Karena itu, Ibu meminta saya dan kakak mengurus hal-hal yang berhubungan dengan perkulineran di rumah. Berbelanja keperluan dapur adalah salah satu misi yang kami emban setiap hari, meskipun kerap diwarnai dengan pertikaian khas anak-anak tapi tidak jarang juga kami terpaksa saling mengalah, agar perjalanan menuju pasar yang awalnya hanya berjarak beberapa ratus meter tapi berlanjut menjadi beberapa kilometer itu (sempat bertualang dulu di tengah perjalanan), bisa terasa lebih damai dan aman sentosa. πŸ˜‚

Sambal Telur Udang

Salah satu makanan atau lauk yang tidak bisa kami temui lagi bahannya adalah Telur Udang, mungkin telur dari satu ekor udang adalah bahan yang mudah didapat, tapi jika beratnya sudah mencapai 250-500 gram per bungkus, maka telur udang menjadi bahan masakan yang paling sulit dicari. Disini, tak perduli berapa kali saya dan kakak mencari, kumpulan telur udang siap olah itu sudah tidak bisa kami dapatkan lagi, karena harga jualnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan usaha ketika mengumpulkannya. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa tidak ada lagi yang (mau) menjualnya. 

Sambal Telur Udang ini biasanya kami nikmati dengan mencampurnya bersama nasi yang tidak hangat atau sudah dingin (lebih enak) dan tanpa lauk. Sambalnya sama sekali tidak pedas karena cabe yang dipakai hanya sedikit, khusus untuk anak-anak. Rasanya yang nikmat selalu membuat ketagihan hingga bisa dimakan kapan saja. Entah sarapan, makan siang atau makan malamnya yang jadi dobel-dobel, hayuk aja. caviar mah lewaat. πŸ˜‚

Ikan Kembung Panggang "Joko"

Ikan Kembung Panggang "Joko" merupakan salah satu lauk terfavorit semua anggota keluarga. Karena rasanya yang berbeda dibanding ikan kembung panggang yang dijual di tempat lain. Setiap Ibu malas masak, hal pertama yang kami inginkan adalah menyantap nasi putih hangat bersama ikan kembung panggang yang dibeli di warungnya Si Joko, alih-alih karena harganya paling terjangkau dan karena Bapak yang benci untuk makan ayam atau daging. Tapi meskipun begitu, tetap saja jatah satu ekor ikan dibagi empat bagian per empat orang anak.

Pemilik warung makan ini adalah orang jawa tapi yang mereka jual adalah masakan padang. Joko sebenarnya bukanlah nama warung makan, juga bukan diambil dari nama pemiliknya, melainkan nama anaknya yang paling kecil. Berhubung nama warungnya susah diingat, akhirnya nama Joko yang menjadi trademark di warung makan Ibunya. Dan kebetulan Joko adalah teman mengaji adik saya di Masjid dekat rumah. Anaknya ramah meskipun masih kecil dan satu dari sekian anak lelaki tambun nan gemulai yang kami kenal karena bisa menari jaipong.

Meski Joko dan Ibunya sudah pindah bertahun-tahun yang lalu, tetap saja pernah terbersit keinginan untuk mencari tau mengenai kabar mereka. Saya penasaran bagaimana dia sekarang, apakah masih seperti itu atau sudah berubah. Juga bagaimana kabar Ibunya yang dulunya sudah berstatus sebagai seorang nenek sekaligus si juru masak ikan kembung panggang favorit keluarga kami.


Beberapa bulan lalu, saya dan temen-temen bloger mendapat sebuah hampers hari raya dari Mba Eno, berupa satu ekor Ayam dan Ikan Panggang utuh. Yang rasa ayam panggangnya itu mengingatkan saya dengan Ikan Kembung Panggang masakan Ibunya Si Joko. Sudah berpuluh tahun. Tidak disangka, akhirnya saya bisa menemukan rasa itu lagi melalui seekor ayam panggang kiriman dari seorang teman blogger. 😊

Ayam Kecap Tahlilan

Ayam kecap ini sebenarnya ayam kecap biasa, tapi karena rasa enaknya belum pernah kami temui dari ayam-ayam kecap yang lain, walhasil setiap Uwak samping rumah mengadakan tahlilan, ayam kecap ini selalu jadi rebutan diantara saudara-saudara. Uwak samping rumah adalah keluarga sangat jauh dari sebelah Ibu karena hanya dihubungkan melalui status perkawinan, tapi karena sama-sama orang perantauan. Kami jadi merasa lebih dekat dibandingkan dengan keluarga sendiri dan berusaha saling membantu dalam banyak hal. 

Sayangnya, ayam kecap ini jarang sekali bisa kami nikmati, karena biasanya dimasak untuk para tetamu dan hantaran ke tetangga ketika Uwak mengadakan tahlilan saja (Uwak adalah seorang Janda ditinggal mati yang harus menghidupi 6 orang anak). Setelah saya menikah, ternyata beliau sudah pindah keluar kota mengikuti anak-anak perempuannya yang bekerja disana.

Pempek Dos Panggang Gerobak

Penjual Pempek Dos Panggang ini adalah seorang kakek-kakek. Beliau menjajakan Pempek Panggang menggunakan gerobak kayu yang diatasnya diisi dengan arang dan panggangan dari selembar kawat seukuran panjang gerobak. Cara berdagangnya termasuk unik, karena setau saya sampai sekarang tidak ada satupun pedagang keliling yang menjajakan pempek panggang seperti itu disini, biasanya hanya dijual ditempat.

Bagi penggemar pempek dos macam kami, rasa pempeknya tetep yang paling ajib meskipun tanpa ikan sama sekali. Bagian luarnya berwarna putih dengan warna sedikit gosong, garing, matang hingga kedalam dan berwarna bening, kenyal dan lembut ketika digigit. Beda dari pempek-pempek dos jaman sekarang yang rata-rata dibuat dari resep sejuta umat. Sampai sekarang saya belum nemu pempek dos panggang yang menyamai, baik dari segi rasa maupun dari teksturnya.

Kakek penjual pempek panggang ini dulu sering mangkal tidak jauh dari lapangan tempat anak-anak bermain. Biasanya saya dan kakak menunggu Si Kakek memanggang sambil nongkrong di sebelah abang-abang yang menyewakan gembot (gamewacth). Pernah juga beberapa kali kami menikmati pempek dos panggang si kakek di hari yang panas, sambil nonton lomba panjat pinang di hari kemerdekaan beberapa puluh tahun yang lalu.



Foto ini adalah hasil percobaan pertama waktu belajar membuat pempek panggang beberapa tahun lalu. Akhirnya saya bikin juga walau cuma di atas teflon. Jaman sekarang, masak dengan menggunakan arang sudah termasuk hal yang langkah, karena alat dan bahan untuk skala rumah tangga hampir tidak lagi dipakai disini. Trus, bagaimana rasa pempeknya setelah dimasak? Untunglah, ternyata masih bisa dimakan. πŸ˜‚πŸ˜

Kalo kalian gimana? Adakah makanan & kenangan masa kecil yang kalian rindukan? Cerita dong. 😊





Hujan di Bulan Agustus

20:03 25
Hujan di Bulan Agustus
Hujan di Bulan Agustus

Foto ini diambil bulan oktober tahun lalu. Potret daun rimbun Momordica Charantia atau tumbuhan yang bernama umum Paria ini saya jepret lantaran muak dan merasa jenuh, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan terlesak dalam kediaman. 

Serupa foto yang gagal, gambar yang nampak buram ini bukanlah hasil jepretan terburuk dari sekian momen yang saya tangkap hari itu. Melainkan sebuah penegasan sekaligus sejarah, bahwa sisa udara kotor hasil pembakaran hutan dan lahan masih terus menyeruak memenuhi langit kota tempat dimana saya pernah dilahirkan.

Pagi itu kendati sesaat, hujan telah turun dari langit, mengguyur kabut asap menyapu sisa-sisa pembakaran. Sampah-sampah abu yang berterbangan dan menyelusup melalui sela-sela pintu, lubang angin dan celah jendela kamar akhirnya terbilas, setelah lebih dahulu mencemari permukaan bumi. 

Untuk sementara, para penghuni terbebas dari rasa sesak, batuk dan terganggunya pernafasan, rasa perih pada penglihatan serta kerongkongan yang selalu meradang acap kali pagi bertandang. 

Karena hari itu, adalah pagi pertama dimana akhirnya kami menghirup udara bersih. Setelah beberapa pekan merasakan sesak, akibat memekatnya kabut asap.


12 Agustus 2020

Bumi yang panas sebagai pengharap musnahnya wabah, akhirnya kembali basah, disertai hawa dingin yang memang tlah lama melesap.  

Pada sebuah kabar akhirnya kami tersadar. 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) melakukan modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan di wilayah Sumatera Selatan yang kini sedang menghadapi musim kemarau untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Modifikasi cuaca tersebut dilakukan selama 20 hari ke depan dengan menyemaikan sebanyak 40 ton garam di atas awan yang memiliki potensi hujan. Koordinator Lapangan Tehnik Modifikasi Cuaca (TMC) wilayah Sumsel dan Jambi dari BPPT, Dwipa Wirawan mengatakan, dalam sehari sebanyak 2 ton garam yang akan di semai. Saat ini, mereka memfokuskan penyemaian di wilayah timur Sumsel karena masih banyak memiliki potensi awan hujan. "Proses penyemaian ini memakan waktu dalam sehari dua sampai tiga jam. Kami menggunakan pesawat CN295 dari Skadrone Halim Perdanakusuma untuk penyemaian," kata Dwipa saat memantau langsung proses penyemaian di Landasan Udara (LANUD) Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Rabu (12/8/2020)


17 Agustus 2020

Setiap kali negri ini memestakan kemerdekaan. 
Tanah menjelma sebongkah batu ketika baskara mengganas. 
Meringkaikan padi dan pohon yang bertumbuh, tampak dari dedaun yang kian meranggas. 
Tak sekalipun tehirup aroma basah, tak sekalipun termaktub dalam ingatan.

Pantas. 

Hari itu mereka berjuang. Hari ini kami merdeka dari kabut asap. 
Hari ini kita sama-sama berjuang. Hari ini, relakan wajah kita masih tersekap. 

Semoga esok dunia turut bersegera, 
Untuk mengejawantahkan bahwa kita akhirnya terbebas dari wabah. 
Dengan itikad mengambil kembali kemerdekaan yang tlah direnggut, bersama-sama.

No Profil Picture ?

17:25 46
No Profil Picture ?
Thanks to Mas Anton, karena tulisannya yang begitu menginspirasi maka terbitlah sebuah postingan baru di blog ini (akhirnya)πŸ˜‚. Dimana dalam pelaksanaannya, telah membuat saya kembali teringat akan aib di masa lalu. πŸ˜‚πŸ˜…

Saya sebenernya masih terngiang dengan sebuah pertanyaan dari beliau. Sebuah pertanyaan yang ditujukan ke saya di kolom komentar postingannya yang bertajuk tentang Siapa itu CREAMENO.

Pertanyaannya begini,

"Memang sekarang sudah tua ya Mbak?" 

Sebenarnya pengen saya jawab disitu, tapi keburu lupa dan pasti panjang banget. Apalagi karena waktu itu emang lagi asik ngebahas tentang Mba Eno. 😁 

Jadi, berhubung saya tidak bisa mencantumkan foto realistis di profil blog ini, maka inilah jawabannya. 
"Eh mba, itu adiknya yah?" tanya seorang penjaga counter hape.
"Bukan, itu temenku." Jawab Cupi. 

"Masak sih? Kok mirip yah?" 

"Ih, beneran Mba. Saya ini bukan Kakaknya!" 

Cupi yang tomboy dan kadang emang suka baperan akhirnya bersikeras. Dia merogoh isi tas selempang bututnya, lalu mengambil KTP yang terselip di bagian tengah dompet. 

"Mba Riniii! keluarin KTP mu?" Cupi meminta setengah memaksa. 

Cupi lalu menunjuk-nunjuk keterangan tanggal lahir di kedua KTP yang disodorkannya diatas meja counter. 

"Nooooh...! Saya ini lahir tahun 19xx Mba, kalo Mba Rini lahir tahun 19xx."
Saat itu, saya sudah berstatus sebagai seorang karyawan dan temen saya baru lulus SMA. Usia kami selisih delapan tahun.

Ada dua alasan kenapa Mba penjaga counter sampe mengira saya lebih muda. Pertama, kemungkinan karena tampang saya yang lebih imut πŸ˜›atau emang dasar tampang temen saya yang menyiratkan wajah orang yang  habis dimakan usia (padahal cantik)πŸ˜… Sepertinya kedua alasan itu gak ada satupun yang fair buat temen saya yak, gak enak semua πŸ˜‚πŸ˜… dan jelas-jelas justru malah saya yang jadi berbunga-bunga πŸ˜‚Meskipun pada kenyataannya, saya cuma bisa ngakak ngeliat mulutnya yang manyun sepanjang jalan. πŸ˜‚πŸ€£

Kalo mengenang lagi jaman-jaman waktu masih kerja dulu, semua temen saya memang sebagian adalah abege. Karena dulu saya sempat bekerja di sebuah lembaga pendidikan untuk Sekolah Menengah Atas. Dulu waktu bekerja disana (+ 17 tahun yang lalu), saya sempat akrab dengan para murid, karena usia yang hanya terpaut 1 hingga 3 tahun. Teman-teman saya selalu datang dan pergi beberapa tahun setelahnya (lulus). Lalu setelah datang teman-teman baru, dunia pertemanan dimulai dari awal lagi. Bersama saya yang usianya terus bertambah dan teman-teman yang usianya segitu lagi-segitu lagi.

Ibarat orang yang berteman dengan si penjual minyak wangi dan pandai besi, saya yang saat itu masih berada dalam masa pencarian jati diri, mau gak mau pasti ikut kebagian wanginya begitu juga dengan percikan apinya. Entah itu dari cara berpakaian, cara bergaul, selera bermusik hingga cara berpikir. Dan berlanjut terus hingga saya sudah tidak abege lagi. Jadi harap maklum kalo kelakuan kadang suka begajulan meski saat itu udah terbilang dewasa.  πŸ˜‚

Teman-teman saya dulu dari berbagai macam ras, campuran dan beragam keyakinan (yang ada di Indo). Kecuali Hindu. Ada satu orang siswa tapi saya tidak akrab dan dia juga jarang masuk.

Sampai disini udah paham pasti yah, kenapa saya bisa bilang "dulu waktu saya masih muda." πŸ˜‚ Kalo masih belum, mari kita lanjut lagi. 😁

Jadi meskipun saya berhaha hihi di blog tanpa memajang foto profil. Ternyata saya juga tidak bisa disebut anak muda lagi, gaes. Meskipun masih terjebak dalam gaya bicara anak muda. Tapi dibalik itu saya juga seringkali merasa (sok) tua. Yang bikin saya jadi lebih sering labil dalam menentukan identitas diri. πŸ˜‚πŸ˜…

Mungkin salah satu alasaannya, karena lingkaran pertemanan saya di dunia nyata "sekarang" banyak yang usianya jauh lebih tua. Maka itu saya lebih memilih untuk berteman di dunia maya dengan para teman blogger sekalian. Dari berbagai tempat dan usia yang berbeda sebagai teman sharing dan ngobrol, agar saya lebih banyak berpikir positif dan lebih optimis. Dan yang paling penting biar gak stress dan menderita kecemasan akut setiap menerima berita kabar duka. Entah itu pengumuman kematian dari masjid dekat rumah, hingga obrolan ibu-ibu tentang penyakit berat yang di derita, yang kerapkali saya dengar saat bertandang ke warung sayur atau di perkumpulan arisan RT.

Masak iya saya nekad ngebahas lagu-lagu punk, j-rock, k-pop ato ngebahas betapa gantengnya Nam Joo hyuk dan betapa kul nya Kim Soo Hyun? demi penghiburan di tengah-tengah pembicaraan tentang asam urat, kolesterol, menurunkan tekanan darah, pantangan makan, perjuangan mencari obat herbal, berapa biaya rumah sakit dan sejenisnya, hingga kabar kematian dari teman dan handai taulan setiap waktu? Yang ada, malah mereka yang nantinya balik nanya, "Dua orang korea itu pasien dari rumah sakit mana?" πŸ˜…πŸ˜‚

Kalo Mba Eno, Mba Nita dan Mba Rey, yang konon katanya sukanya cuap-cuap lewat tulisan namun aslinya pendiam. Maka saya beda lagi, kadang-kadang saja seperti itu. Interaksi saya dengan para teman-teman blogger disini sama seperti ketika saya berada di masa-masa waktu masih kerja. Atmosfernya benar-benar mengingatkan saya di jaman itu.  Kalopun sekarang jadi pendiam, bukan berarti saya aslinya seperti itu, tapi karena keadaanlah yang tidak mengizinkan. 

Dan "keadaan itu" sayangnya terus berlanjut hingga terjadilah zona nyaman. Dimana kita jadi malas keluar rumah, malas ngobrol dengan keluarga, tetangga, ngumpul dengan teman alumni dan lain-lain. Karena di jaman kayak sekarang ini sisi introvert kita semakin terdukung di rumah berkat henpon, kuota, komputer buat ngeblog dan bersosmed ria bersama netizen lainnya. Yang biasanya suka jalan kaki, keliling kampung sekalian olahraga, mampir dan beramah tamah ke tetangga. Pelan-pelan jadi malas dan terlanjur menjadi kebiasaan yang gak terlalu di gubris lagi.

Alesannya bisa macem-macem, takut panaslah, males keringetan, males ngejer anak-anak, ribet pokoknya kalo keluar rumah, mo ke warung aja banyak printilan yang harus disiapkan. Bahkan ke depan pintu ngambil paket dari mas-mas kurier pun sering banget kelabakan, akibat kelamaan nemplok di depan monitor ato henpon, lupa masak, lupa mandi sampe lupa anak.πŸ˜‚πŸ˜…

Tapi walau begitu, gak ada yang tau pasti nantinya akan seperti apa kalo suatu saat ternyata kita semua ditakdirkan untuk kopdaran. Seperti teman-teman komunitas saya dulu yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan blogger yang berdomisili di luar negeri juga menyempatkan diri untuk ikut kopdaran ketika berada di Indonesia. Mungkin hanya saya yang gak pernah kopdaran sekalipun. Meski ada juga beberapa blogger sedaerah yang selalu rajin ngede-em ngajak kopdaran setiap ada event komunitas, tapi berkali-kali itu pula saya menjawab belum bisa. πŸ˜‚πŸ˜…

Kadang, ada aja salah satu teman blogger yang upload foto kopdaran. Dan biasanya, dari situlah rasa penasaran saya akhirnya terjawab. Akan muncul wajah-wajah baru dari beberapa blogger yang biasanya gak pernah menunjukkan profilnya di blog, ato gak sekalipun memajang fotonya di blog. wkwkwk πŸ˜‚πŸ˜

~~~

Emang yah, kalo cewek itu ditanya jawabnya suka muter-muter. Masalah yang ada di depan mata dibikin ruwet seperti katanya Mas Anton. πŸ˜‚πŸ˜ Yang ditanya tentang usia, eh ceritanya malah berujung tentang kopdar blogger, hihihi.. πŸ˜‚

Jadi gimana, jawaban dari pertanyaannya Mas Anton ituh? 

Hmm...

Sepertinya saya memang sudah tua, maksudnya lebih tua dari Mba Eno, Mba Rey, Mba Nita dan Mba Pipit πŸ˜‚ 

Apalagi karena saya emang udah lama disebut "Orang Tua" oleh anak-anak. Udah jelas banget kan tua' nya. πŸ˜‚πŸ˜