uzegan

Menjadi ODP meski di Rumah saja

02:26 25
Menjadi ODP meski di Rumah saja

Perlu diketahui, mungkin tulisan ini akan berefek psikosomatis (mungkin saja). Jadi silahkan beralih ke postingan saya yang lain yah, kalo dirasa akan berakibat buruk setelah dibaca. 

Back on track setelah beberapa bulan penggemukan. Akhirnya berat badan saya turun (bukan karena takut dijadikan kurban saat idul adha, yak) tapi karena lemak di perut yang memang sudah pelan-pelan kembali menipis. Makanan berminyak, makanan manis dan segala kuliner khas lebaran itu kalorinya sangat tinggi, meskipun yang dimakan hanya separuh dari takaran biasa, termasuk gorengan dan juga hidangan bersantan. 

Jangan tertipu dengan jumlah porsinya yah, karena dalam 100 ml minyak goreng saja sudah mengandung 818 kal dan 387 kal dari 100 gram gula pasir yang biasanya ada di dalam kandungan bahan kue atau sambal geprek sekalipun. Kalorinya jauh diatas 0.5 mangkok nasi yang hanya 121 Kalori. 

Walau kelihatan makannya hanya sedikit, lalu dengan penuh semangat berusaha menahan lapar karena ketidaktahuan. Padahal, justru kalorilah yang bikin lemak di tubuh bertambah. Bukannya melangsing, malah lemak yang akan menebal di sana sini. 

Jadi sudah tau kan? Yang mana yang lebih mengenyangkan jika di konsumsi tapi gak cepet bikin gendut atau mengapa orang gemuk gak kurus-kurus meskipun makannya sedikit? Bisa jadi itu salah satu alasannya.

Sayangnya, yang ingin saya ceritakan kali ini lagi-lagi bukan tentang diet atau karena menjaga pola makan yang telah ikut andil menurunkan berat badan. Melainkan karena ngedrop lantaran dua kali mendengar kabar, bahwa suami sempat berinteraksi dengan mereka-mereka (rekan kerja) yang dinyatakan positif Covid. Yang pertama kemaren, sepertinya tidak ada kabar buruk yang kami terima. Tapi yang kedua ini cukup menggegerkan otak dan hati saya. 

Suami diwajiban ikut tes swab, karena telah berinteraksi langsung (tanpa masker dan jaga jarak) dengan rekan kerja yang dinyatakan positif COVID 19, tertular dari istrinya yang berprofesi sebagai nakes. Sangat mengejutkan buat saya, karena setelah mendengarnya dua hari yang lalu, saya langsung reflek ke kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang sudah saya telan sebelumnya. Setelah itu saya langsung lemas, karena teringat dengan semua anggota keluarga yang saat ini sedang sakit. 

Mungkin beginilah rasanya jika menjadi bagian dari daftar orang-orang yang terkena wabah, yang datanya selalu di update dan di umumkan setiap hari itu. Belum tentu positif pun, sudah membuat saya kalang kabut karena dengan segala upaya sudah saya dan anak-anak lakukan untuk tetap di rumah, namun pada akhirnya masih juga harus berstatus ODP.

Di depan anak juga di depan Suami saya biasa saja, meski tidak bisa ditutupi, semangat saya dalam melakukan aktifitas sehari-hari telah hilang entah kemana. Tubuh saya terasa lemah, jantung terus-terusan berdebar, seolah dada ini telah berlubang karena tidak sanggup lagi menahan batu yang telah lama mengganjal. Belum lagi dengan sakit kepala yang tiba-tiba datang, lenyap lalu kemudian datang lagi. Bersamaan dengan datangnya pilek, batuk, sakit pinggang, sakit tenggorokan dan lidah yang kadang seperti kesemutan. Kadang mati rasa, karena asam lambung saya kumat lagi untuk ketiga kalinya setelah terakhir saya rasakan di ramadhan lalu. Saya merasakan lelah yang teramat sangat.

Saya butuh bahkan harus, untuk berpikir positif, agar daya tahan tubuh ini tidak melemah. Saya ingin sehat, ingin menjaga anak-anak, meskipun saya tau, suami memiliki penyakit bawaan dan sudah melewati golongan usia aktif. Entahlah, saya bukan hendak membagi kecemasan. Hanya saja saya butuh mencabut semua duri-duri yang sudah menancap di otak dan hati, karena tidak mungkin saya berbagi dengan orang-orang sekitar. Saya butuh orang-orang yang tidak pergi ketika saya dengan lugasnya bercerita tentang nasib keluarga kecil kami. Karena satu hal yang masih saya yakini, bahwa sampe sekarang belum ada yang tertular COVID 19 karena berinteraksi melalui internet (siapa yang gak tau itu). 

Saya kecewa, setelah berbulan-bulan kami hanya di rumah. Dengan berbagai cara dilakukan untuk menjaga kesehatan, tiba-tiba semuanya harus sia-sia karena keegoisan orang-orang yang lebih mementingkan kenyamanan dirinya. Tidak tahan dengan pengapnya masker, tidak tahan harus selalu mencuci tangan setiap waktu dan menganggap remeh bahwa mereka yang bertubuh sehat dan bugar itu tidak akan menulari (OTG). Terlebih ketika pemerintah telah menghimbau pelaksanaan New Normal. Seolah menganggap keadaan sudah kembali seperti sedia kala. Seolah wabah telah sirna dari muka bumi ini.

Selama menunggu hasil tes yang akan segera diberitahukan, besok. Bayangan tentang masa depan pun telah lama lenyap, hidup kami hanya berputar di situ-situ saja. Suami lebih banyak diam, anak-anak belum mengerti, tapi kami jadi lebih sering merangkul, mengeratkan diri satu sama lain. 

Saya ingin lebih banyak tertawa, meski pada kenyataannya air mata yang lebih banyak tumpah setiap kali anak-anak berada dalam pelukan.

Semoga apa yang saya takutkan tidak terjadi, dan walaupun terjadi semoga kami masuk dalam golongan mereka-mereka yang mampu melewati musibah ini. Amiiiin ya robbal alamien..

Cerita dari seorang Kawan

Mayapada

10:14 38
Mayapada

Pernah ada masanya, ketika mayapada hanya berarti sejumput sapa. Kendati sesungguhnya, sebuah makna keeratan terkorelasi dalam jejak-jejak berjeda. Menyelaras dalam jurai perjalanan, mengembara pada sekat-sekat masa. Hingga berjumpa sejawat dalam kanca semesta khayali. Bukan sekedar melintas, meski tahun demi tahun tlah lama bersulih.

Dalam jagat maya pun akan selalu ada sketsa manusia, pada rasa, pada hati yang patah. Tak jauh berpaut dalam dunia yang fana. Hanya mungkin sebongkah raga yang tak mampu menjamah. Membuat hidup seolah tak berarti, hilang esensi, di tengah eksistensi alam nyata. 

Karena sesungguhnya, tak mudah untuk berbagi jika hidup tlah lama bersua sunyi. Dan tak mudah untuk berperi, jika yang hadir tak lagi turut menjiwai.


*Backsound
04:09 AM

Jurus Ampuh Melawan Lupa Unfaedah

20:54 81
Jurus Ampuh Melawan Lupa Unfaedah

Pernah gak sih, kamu lupa bawa duit kalo mo belanja atau malah lupa bawa ongkos padahal udah di dalam bus atau angkot? Biasa aja kali yah kalo lupa dengan hal-hal seperti itu, udah umum. Tapi kalo selalu lupa bawa duit, setiap makan bareng sama temen yang lagi tajir, pernah? Kalo iya, itu mah bukan lupa atuuh, tapi kamunya yang ngarep ditraktir. πŸ˜‚

Nah, kalo kenalan saya lain lagi (belum jadi temen sih sebenernya, meskipun setiap ketemu tak pernah lupa untuk saling menjahili). πŸ˜…

Pada suatu hari di pagi yang dingin, Si Dia ini tiba-tiba menggedor-gedor pintu kantor mencari Pak Bos, yang mana saat itu saya juga sedang menunggu dibukakan pintu oleh Beliau.

Terus saya tanya, "Kenapa? Apakah ada yang mendesak?" Dia cuma senyum-senyum doang dan malah balik bertanya, apakah Bos saya ada di dalam? 

Tidak berapa lama, Pak Bos membukakan pintu dan Si Dia ini langsung ngajak ngobrol tapi berbisik-bisik. Tak disangka, ternyata suaranya bisa terkoneksi ke kuping saya. Jadi saat itu, saya langsung aja akting, pura-pura gak denger. πŸ˜‚πŸ€£

Ternyata dia lupa bawa kunci motor sodara-sodara, tapi motornya idup dan bisa nyampe ke kantor saya.πŸ˜‚ 

Gimana pula ceritanya ??

Jadi begini, pas dia mo manasin motor di depan rumah, biasanya kuncinya digeletakin lagi di atas meja (takut motornya dibawa orang beserta kuncinya). Berkemungkinan ntuh kunci masih disitu atau bisa saja terjatuh. Kenapa bisa ada dua opsi? Karena dia lupa, apakah kuncinya sudah berada di atas meja lagi ato udah diambil dari atas meja tapi gak nyadar kalo terjatuh. 

Siangnya, setelah Dia ngembaliin kunci motor Pak Bos, yang ternyata bisa juga dipake di motornya Dia. Misteri lupa kunci motor ini pun terpecahkan (akhirnya Dia ingat ).  πŸ˜‚

Kunci motornya emang beneran terjatuh, tapi jatuhnya dari motor dan untungnya masih di depan rumah. Sayangnya, dia cuma ngeliatin aja kuncinya terjatuh tapi gak diambil, langsung nyelonong aja naek motor trus tancep gas, wkwkwk... Ada-ada aja kelakuan anak abegeh satu itu (jadi semacam amnesia sesat atau pikun gak jelas ini, kali yak. Entah) πŸ˜‚

Karena usia Dia hanya beda dua tahun di bawah saya🀣 Jadi waktu itu ngakaknya nyante banget bro (tidak disertai dengan tata krama dan tata cara orang lagi jaim seperti gaya-gayanya orang dewasa). πŸ˜‚

*Tega banget yak saya ngetawain orang lupa, πŸ˜… Astaghfirullah.. 🀣


Faktor Penyebab Lupa 

Nah, ternyata Lupa ini banyak penyebabnya. Kalo saya sama seperti si Dia ini, sering mendadak lupa karena kehilangan konsentrasi akibat terburu-buru, kebanyakan ngelamun atau banyak pikiran karena suatu masalah yang membuat kita jadi linglung. 

Biasanya langsung berimbas ke masakan yang jadi gosong, salah racik bumbu, manggil nama anak sampe ketuker-tuker, lupa matiin kompor atau tagihan air membengkak akibat sering lupa nutup air keran. πŸ˜‚

Secara pengamatan, lupa itu biasanya terjadi karena aktivitas yang terlalu padat, kejenuhan, tidak adanya pengulangan atau latihan, karena sering ditunda, otak yang sedang capek, pengaruh alkohol atau yang lebih parah seperti kerusakan jaringan syaraf pada otak. Selain itu, bisa juga terkena penyakit yang disebabkan usia yang sudah lanjut. Seperti amnesia, demensia dan alzheimer yang menyebabkan orang tua menjadi  pikun.

Meskipun biasanya kerap terjadi pada orang tua, namun sepertinya generasi muda sudah mulai banyak yang ikut mengalami "mudah lupa" ini. Dan kemungkinan salah satu penyebabnya adalah karena melemahnya fungsi otak.


Agar Tidak Mudah Lupa 

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar tidak mudah lupa :

1. Aktif Secara Mental

Sama seperti kalo kita aktif berolahraga biar sehat. Maka otak kita juga kudu aktif secara mental, biar bisa ikutan sehat juga doounk, alias gak lemot. Gak enak juga kan kalo bodynya sehat tapi otaknya malah keropos. 

Kalo di jaman abegeh dulu, hobi yang biasa saya lakukan sekaligus sebagai cara untuk mencegah penyakit lupa, biasanya dengan mengisi teka teki silang (TTS), bermain catur, melatih memori dengan menjadikan musik sebagai alat untuk mengingat vocab dan spelling saat belajar bahasa asing. Atau ikut memecahkan masalah yang ada dalam cerita novel misteri dan cerita detektif. 

Tapi yang masih saya lakukan sampai sekarang adalah merajut dan belajar memotret (termasuk dengan mencoba menulis lagi di blog ini), meskipun tidak se-intens dulu seperti waktu di awal-awal belajar, dimana saya masih punya banyak waktu luang dan anak-anak blom nambah.  

Selain karena bisa menghasilkan sebuah karya, menyibukkan diri dengan melakukan apa yang kita sukai juga bisa mengalihkan pikiran dari menghabiskan waktu memikirkan hal-hal negatif penyebab stress, yang membuat kita tidak bisa berkonsentrasi dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
 
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa merajut mampu mengurangi stress, rasa cemas, dan menurunkan tekanan darah. Dan yang paling penting, merajut dapat membantu mengurangi resiko terjadinya demensia. Juga melatih otak kiri dan otak kanan secara bersamaan dengan melakukan suatu gerakan yang sama secara berulang-ulang. 


Pada akhirnya, orang yang melakukan kegiatan merajut pun akan memasuki suatu fase meditasi. Dimana kita bisa menjadikannya sebagai salah satu cara untuk melatih otak agar bisa fokus dan tidak mudah lupa. Seperti hal nya Yoga.

Itulah mengapa merajut identik dengan nenek-nenek, karena selain sebagai hobi pengisi waktu luang, manfaatnya juga sebanding dengan waktu yang dihabiskan. 

2.  Aktif Bersosialisasi

Aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti dengan tetangga, kerabat, orang-orang tercinta atau orang-orang ditempat kerja ternyata bisa mencegah lupa, loh. 

Saya jadi teringat dengan tulisan Mba Eno tentang "4 Necessary for Living" Si Oppa kesayangan, di blognya CREAMENO. Dimana "You" adalah salah satu hal terpenting, yang menurut saya juga bermakna "orang lain selain diri kita sendiri." Karena sesimpel-simpelnya hidup manusa, pasti membutuhkan orang lain untuk berinteraksi meskipun itu hanya dengan satu orang. 

Contoh konkretnya bisa kita rasakan ketika kita sedang melaksanakan himbauan pemerintah dalam rangka menanggulangi wabah COVID 19, yakni #stayathome #schoolfromhome dan #workfromhome. Bagaimanakah rasanya setelah menjalani semua protokol dengan penuh kepatuhan? Apalagi jika tidak memiliki koneksi internet dan sendirian di rumah dalam kurun waktu yang sangat lama? Silahkan dijawab sendiri, yah. πŸ˜‚ 

Kalo saya mah asli mati gaya. Kecuali saya punya hobi atau kerjaan yang saya sukai dan memang gak membutuhkan internet sebagai pelipur lara dan obat duka nestapa. πŸ˜‚

Karena saat seseorang terisolasi secara sosial dan merasakan kesepian, maka hal ini sangat meningkatkan resiko demensia. Tidak adanya interaksi dengan orang lain akan membuat otak menjadi layu dan perasaan kesepian, efek terburuknya akan membuat seseorang merasa depresi hingga terjadi penurunan mental.

Studi yang diterbitkan oleh Frontier in Aging Neuroscience mengungkapkan bahwa orang tua dengan waktu bersosial yang baik memiliki ingatan, penalaran, dan kecepatan proses otak yang lebih baik.

Koneksi sosial yang dimiliki dan dibangun akan menjaga kesehatan otak menjadi lebih baik. Karena itu juga merupakan salah satu cara meningkatkan daya ingat yang efektif. Dengan begitu kita terhindar dari stress dan depresi yang menyebabkan kita mudah lupa karena daya ingat yang berkurang.

3.  Aktif Berolahraga

Jika kita tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk berolahraga, menurut penelitian yang diterbitkan dalam ‘Prosiding National Academy of Sciences’, kita bisa melakukan latihan ringan selama 10 menit sehari yang setara dengan kegiatan yoga dan tai chi. Contohnya dengan berjalan kaki agar jantung kita terpompa dan bisa berkeringat. 

Karena saat berolahraga, sirkulasi darah di dalam tubuh kita menjadi lebih lancar dan terdapat peningkatan komunikasi di antara hippocampus. Yaitu wilayah penting dalam penyimpanan ingatan. 

Menurut Ilmuwan di University of California, yang dilansir dari Bustle. Olahraga ringan berpotensi meningkatkan konektifitas dan berdampak positif pada otak, karena bisa merangsang pelepasan faktor pertumbuhan bahan kimia di otak yang mempengaruhi kesehatan sel-sel otak. Bahkan bisa menumbuhkan pembuluh darah baru di otak.

Selain itu, berdasarkan sebuah studi, olahraga juga dapat membantu kita mencegah alzheimer. Membantu menjaga daya ingat dan mempertajam fungsi otak.

4. Sarapan dan Makan Makanan Sehat

Perut keroncongan, tidak konsentrasi ketika memulai hari, mual-mual, pusing bahkan sampe sakit kepala, merupakan suatu pertanda bahwa kita lupa untuk mengisi perut dengan makanan atau sarapan. 

Paling sering dulu, dimana kita ikut berpartisipasi dalam rangka mengikuti upacara bendera setiap hari senin pagi di sekolah. Tidak jarang kita melihat ada beberapa anak yang pingsan atau merasa pusing dan lemas. Salah satu penyebabnya adalah karena lupa untuk sarapan. Dan ditambah lagi dengan daya tahan tubuh mereka yang juga lemah.

Sedangkan saya sendiri, meskipun tidak pernah mengalami hal seperti itu. Melupakan sarapan seringnya membuat asam lambung naik. Apalagi jika selalu diburu waktu setiap pagi dan mengabaikan sarapan karena takut terlambat pergi ke sekolah. Biasanya ketika sudah berada di dalam kendaraan, kepala saya akan menjadi pusing, mulai berkeringat dingin dan mual-mual, ditambah lagi jika sopir mulai mengemudi dengan ugal-ugalan. Lengkaplah sudah.

Tidak hanya untuk tubuh, jika kita ingin menjaga sel-sel otak tetap sehat dan membantu mencegah penurunan kognitif yang berkaitan dengan usia, kita tidak boleh melupakan sarapan dan berusaha mengonsumsi makanan yang tepat. Misalnya dengan makan buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. Sebagai sumber protein kita bisa mengkonsumsi makanan rendah lemak, seperti dari kacang kedelai, ikan, putih telur dan dada unggas (tanpa lemak dan kulit).

5.  Tidur Cukup

Rambut gondrong awut-awutan, pake baju asal comot, entah baju kemaren ato baju bekas pake seminggu atau sebulan sebelumnya. Namun tiba-tiba datang ke kampus dengan aroma semerbak mirip pupuk kandang karena lupa mandi. πŸ˜‚ (bukan ngomongin diri sendiri ini, yak) πŸ˜…. Ditambah lagi dengan kebiasaan begadang alias kurang tidur. Meskipun gantengnya udah hampir kayak artis ibukota, tetep aja bakal resmi dinobatkan jadi duplikatnya zombie kalo gak sayang sama diri sendiri. 

Udahlah pelajaran gak masuk di otak, bukannya merhatiin dosen, kerjanya malah goler-goleran memamerkan iler ke temen-temen disekitarnya (salah satu temennya itu saya) yang mencoba tabah dan berusaha untuk ikhlas ketika berada disampingnya saat mengikuti mata kuliah di kelas. πŸ˜…

Meskipun pertahanan saya akhirnya tergoyahkan, akibat terpengaruh kebiasaan begadang beliau yang sangat menular. Namun pada kenyataannya, saya kapok sekapok-kapoknya. Karena bukan saja kurang tidur itu bikin otak gak bisa berpikir jernih dan mudah lupa, Kebiasaan begadang juga membuat daya tahan tubuh kita langsung drop dan dipastikan beragam penyakitpun akan berdatangan (hingga sempat bikin keuangan saya pailit, akibat bolak balik berobat ke dokter). 

Tidak hanya itu, pernah juga sekali nabrak saklar dan tiang listrik (ceritanya kurang tidur karena abis putus)πŸ˜…dan pernah kejedut kursi di bus waktu sopirnya tiba-tiba ngerem mendadak, yang bikin mulut saya berdarah karena kursi tersebut berbahan baku dari besi (kurang tidur karena abis berantem). Yang paling langganan itu adalah lupa turun dari bus karena kebanyakan ngelamun, saking lemes dan ngantuknya padahal harus kuliah pagi πŸ˜… 
*Contoh point ke 5 ini dibaca aja ya adek-adek, gak usah di tiru. πŸ˜‚

Ternyata, tidur yang cukup dan nyenyak itu sangat penting banget, coy. Tak terkecuali buat emak-emak yang masih punya anak bayi ato para bloger dan penulis yang terbiasa bergadang-gadang ria. Setidaknya, usahakan ada pengganti jam tidurnya. Entah itu dengan ikut tidur siang bersama bayinya, atau titip dulu Si Bayi ke Bapaknya. Buat emak-emak baru (abaikan dulu perkerjaan di dapur yang memanggil-manggil minta dibereskan, yakπŸ˜…) tidur itu penting, beb.  Kalo emaknya sehat, ngurus anakpun jadi lebih enak, ya gak emak-emak? Kalo kita yang sakit gak mungkin kan Si Bayi yang ngurusin emaknya. πŸ˜‚

Berdasarkan penelitian, selain untuk menguatkan ingatan, memprioritaskan waktu tidur yang cukup dapat mencegah kita dari mudah lupa. Karena terjaga selama 12 jam dapat menurunkan memori untuk mengingat, sedangkan kebanyakan orang dewasa membutuhkan tujuh hingga sembilan jam tidur dalam sehari.

Otak memiliki berbagai macam fungsi dan tanggung jawab. Ada bagian yang bertugas mengingat wajah, ada bagian yang harus mengingat nama. Dan lainnya lagi hanya merekam kejadian kalau kita baru bertemu orang baru. “Tidur merupakan momen dimana semua rekaman itu disatukan. Dan tidur jugalah yang membuat hal tersebut tetap bisa diingat dalam jangka waktu lama,” ujar Gary Richardson, M.D., salah seorang Ilmuwan Senior di Sleep Disorders Center (Henry Ford Hospital, Detroit).


Macam-macam Lupa 

Nah, lupa versi saya juga ternyata banyak macemnya temen-temen. 
Contohnya :
Lupa beneran
Lupa ilusi (hipnotis)
Lupa karena pikun 
Lupa disengaja
Lupa-lupanya gak inget πŸ˜‚

Lupa Positif (berfaedah) dan Lupa Negatif (unfaedah)

Lupa positif (berfaedah), misalnya :
Lupa tentang hal yang menyedihkan di masa lalu
Lupa kalo pernah ngutangin orang
Lupa sudah pernah memberi (bukan memberi masalah, yak) πŸ˜‚
Lupa dengan kesalahan orang lain dan memaafkannya

Kalo lupa negatif (unfaedah), misalnya :
Lupa dengan Tuhan
Lupa bayar, kalo gak ada yang nagih
Lupa anak istri atau suami
Lupa bawa duit
Lupa diri
Lupa pulang, karena keasyikan main atau ngerumpi
Lupa sama hutang
Lupa ngembaliin, setelah minjem barang
Lupa dengan kesalahan orang lain yang membuat kita ikutan jadi korban
Lupa kulitnya, kayak Si Kacang
Lupa kalo lagi puasa atau diet
Lupa makan karena gak bisa ngelupain mantan πŸ˜‚


Pengalaman Lupa Unfaedah 

Kalo saya sendiri, paling sebel pas kejadian belanja di minimarket setahun yang lalu (kejadiannya sampe dua kali, terulang kembali waktu belanja di tukang buah di pinggir jalan). Kenapa? Setelah semua barang yang dibeli di gantung di cantelan motor, eh pak suami malah maen nyelonong aja langsung pergi. Meninggalkan saya yang masih tejogrok disitu, lupa kalo bininya blom di angkut. 

Dan juga dengan kejadian dua hari yang lalu yang sempet membuat saya mengutuki diri sendiri. 

Adalah sebuah kekonyolan, ketika dengan sigapnya saya menelusuri tagar resep brownis kukus yang diperkirakan yahud di Instagram setelah melihat fotonya. Demi kue ultah Si Bontot yang ketiga dan kedua adik saya (kuenya kongsian karena ultahnya hanya beda sehari dua hari di bulan ini). Buat mereka itu hemat cuy, karena saya yang modalin, dan juga itu modus sih sebenere.πŸ˜‚ Soale yang pengen makan kue ultah (akibat lebaran kemaren gak kebagian kue) itu sayaπŸ˜…. Mereka mah kagak pernah sekalipun ngerayain yang beginian, hihihi.. 

Siapa sangka kalo saya menemukan foto beserta resep saya sendiri, yang memang pernah di repost di sebuah akun masakan nusantara beberapa tahun lalu (padahal di akunnya sendiri pun masih ada). πŸ˜‚

Yang paling nyesek, adalah ketika ada yang berkomentar "Alhamdulillah enakkkkkk aku bikin, paaasssss kaya yg di toko." πŸ˜‚

Lah, sih empunya resep pun udah gak inget lagi kalo resep itu adalah resep andalan (kata mereka yang udah pernah nyicip gratisπŸ˜…). Saking lupanya, sampe dua hari si pemilik resep malah sibuk berburu tepung brownis instant di setiap minimarket seantero kecamatan (bukan hand sanitizer aja yang sempet menghilang dari peredaran, yak). πŸ˜‚

Kue Ultah Si Bontot yang Ketiga, dengan teknik menghias seadanya πŸ˜…

Ternyata bermanfaat juga upload resep di Instagram, yak. Kendatipun resepnya adalah hasil modifikasi dari beberapa akun memasak terkenal di media sosial, selain karena bisa berbagi (kecuali resep dagangan) kita juga bisa mendokumentasikan lagi catatan resepnya agar tidak lupa seperti saya πŸ˜… (asalkan akunnya gak dihapus). Karena resepnya dulu memang pernah hilang di dalam handphone yang sudah lama rusak. πŸ˜…

Nah, kalo temen-temen gimana? Punyakah pengalaman berkesan mengenai lupa negatif atau lupa tak berfaedah seperti diatas? cerita dong. 😁


Referensi : 
https://www.halodoc.com/
https://doktersehat.com/
https://www.bbc.com/
https://www.honestdocs.id/
https://koinworks.com/
https://www.jawapos.com/

10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah

07:13 66
10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah

Lebaran baru genap seminggu, saya terpaksa harus meminta maaf lagi. Tapi okehlah, gak papaaaa..

Mohon maaf yaaah, buat yang masih single πŸ€­. Tidak bermaksud menyindir atau membuat kalian merasa tersingkirkan dari postingan kali ini, πŸ˜‚tapi dipersilahkeun bagi yang ingin menabung informasi, demi kebahagiaan bersama pasangannya di masa depan, yah hihihi...  

Tulisan ini adalah based on true story dari sudut pandang perempuan sebagai anak atau istri, yang sempat tertangkap oleh mata dan terdengar oleh telinga saya dari beberapa kerabat dan kenalan. Bukan saja tentang tipikal suami dalam menafkahi pasangannya tapi bisa jadi dua-duanya ternyata ikut andil, dan harus bertanggung jawab terhadap masalah perekonomian yang terjadi dalam rumah tangga mereka. 

Berdasarkan data perceraian dari Mahkamah Agung, pada tahun 2015 hingga tahun 2018. Ada dua masalah utama yang paling banyak dihadapi oleh pasangan suami istri, yaitu perekonomian rumah tangga yang tidak berkesesuaian dan pertengkaran yang tidak ada habisnya. Karena tidak adanya keterbukaan dalam urusan finansial. 

Beberapa diantaranya adalah momok, yang terjadi karena pasangan secara tidak langsung menjiplak kebiasaan Orangtua. Dan semakin tak tergoyahkan karena sudah tertanam di benaknya sejak kecil. Sehingga sulit sekali keluar dari lembah hitam yang penuh dengan onak dan duri (aih, bahasanya). πŸ™„

Kecuali dengan perceraian sebagai jalan terakhir, atau memilih menggunakan komunikasi dua arah dan mau belajar untuk saling terbuka. Agar kedua pihak tidak merasa menjadi korban dan bisa lepas dari tekanan bathin, dikarenakan kesalahan dalam mengelola keuangan dan karena tidak bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk berkomunikasi secara efektif dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan pasangan sebelum menikah. Lalu kemudian bisa di kompromikan bersama pasangan.

Nah, berikut 10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah. Apa saja itu? Check this out

  1. Suami menyimpan gajinya sendiri untuk ditabung dan mempergunakan gaji istri untuk belanja dan kebutuhan keluarga.
  2. Suami berkuasa penuh dengan keuangan. Uang belanja diberikan perhari hanya setiap akan belanja saja.
  3. Suami hanya memberikan separuh gajinya, separuh lagi disimpan sendiri.
  4. Suami hanya mengutip 10-20 % gajinya untuk bensin dan lain-lain, sisanya diserahkan semua kepada istri. (Lovely)
  5. Suami memberikan gaji ala kadarnya, sisanya terserah istri, mau ngutang atau berusaha mencari tambahan sendiri. Whatever
  6. Suami tidak memberikan gajinya tapi marah-marah kalo tidak ada yang bisa dimakan di rumah. Insane
  7. Suami memberikan gajinya tapi kemudian terus menuntut istri untuk memiliki penghasilan sendiri agar tidak perlu meminta lagi ke suami. What?!
  8. Suami menyerahkan semua gajinya yang tak seberapa tapi diam saja ketika gajinya naik dan bonusnya lebih besar 2x lipat dari gajinya.
  9. Suami menyerahkan semua gajinya tetapi selalu punya uang setiap ingin membeli semua keinginannya. Nah loh??
  10. Suami menyerahkan seluruh gajinya kepada istri dan mempercayai untuk mengelolanya. (Terdebest)

Kepercayaan dalam rumah tangga itu penting banget, bukan hanya tentang istri yang mempercayai kesetiaan suami, bertanggung jawab untuk keluarga dan lain-lain. Suami juga seharusnya ikut andil untuk mempercayai istri dalam tugasnya mengelola keuangan rumah tangga. Jika tidak adanya komunikasi, maka akan berakibat buruk bagi kedua pihak terutama soal keuangan. 

Apalagi jika sudah memiliki anak, kadang partner hidup kita lebih mementingkan kebutuhan buah hati ketimbang pasangannya. Padahal itu adalah salah satu bentuk perhatian yang tidak boleh luput dari pandangan kita begitu saja. Kadang saking sayangnya ke anak, sampai lupa dengan kebutuhannya sendiri. Padahal pada kesempatan itulah kita bisa memanfaatkan ketrampilan kita untuk saling memberikan perhatian lebih ke pasangan, dengan memberikan kebutuhannya terlebih dahulu sebelum ke anak. 

Tapi kalo kita sibuk ngurusin pasangan, nanti anak jadi terlantar dong? Kan kasian. Perhatian itu gak harus yang wah kok, dengan bertanya apa yang sedang dibutuhkan pasangan atau adakah yang sedang diinginkannya, itu aja rasanya udah bikin nyess.

Nah, yang jadi pertanyaaanya sekarang adalah, pasanganmu termasuk tipikal yang seperti apa, apakah termasuk dalam kriteria di atas atau malah masuk dalam kriteria lain? Dengan kriteria tersebut apakah kamu bisa menerimanya dengan lapang dada? Menerimanya dengan sukacita karena sesuai dengan keinginanmu? Mencoba memakluminya? Atau malah tidak terima tapi diam saja?

Sudahkah kamu minum yakult berkomunikasi dengan pasanganmu hari ini ? πŸ˜…

Tragedi Kucing Terbang & Hilangnya 33 Postingan

00:03 36
Tragedi Kucing Terbang & Hilangnya 33 Postingan

Setelah beberapa eksiden yang terjadi seminggu yang lalu, tepatnya beberapa hari sebelum lebaran. Sepertinya saya emang bener-bener butuh pemanasan biar semangat lagi dalam menulis, khususnya di blog ini.

Saya tuh sebenernya gak habis pikir. Dalam waktu satu minggu kok adaaa aja kejadian yang bikin geleng-geleng sapi. ckckck..

Tapi sebelumnya, maafkanlah kalo saya sekalian curcol disini, yah.πŸ˜‚
Mungkin dengan begini, akhirnya bisa diketahui siapa aja yang senasib. Kalo udah gitu kan enak, kita jadi bisa saling curhat ato sekalianlah nangisnya bareng-bareng. πŸ˜‚ (apaseeh)

Kebetulan banget, temen saya yang ada di Jogja juga sedang ketiban sial yang sama. Rumahnya juga menjadi salah satu korban kebuasan para kucing tetangga. Plafon rumah kami sama-sama jebol karena ada kucing yang meloncat dari atap rumah (gak nyangka yah 🀭). Mungkin bedanya, saya yang lebih sering ngelus dada dan banyak-banyak istighfar. Karena pada saat yang sama, saya sedang di tengah keriweuhan nyari 33 postingan di blog ini yang tiba-tiba hilang entah kemana.

Kronologis kejadiannya begini. Awalnya karena lagi males nulis tapi masih nyisa sedikit waktu senggang (nyuri-nyuri waktu ceritanya) akhirnya saya putuskan untuk mengotak-atik dan menghapus beberapa label yang gak penting. Supaya apa, supaya sitemap yang baru dibikin jadi rapi, gak berceceran dengan nama-nama label receh di mana-mana. Satu postingan kok yah, labelnya banyak banget. Seolah setiap postingan punya label sendiri-sendiri saking banyaknya. πŸ˜‚  

Tapi tak dinyana, bukan labelnya aja yang kehapus, postingannya pun jadi ikut-ikutan menghilang. Walo ada satu dua yang pindah ke draft tapi aneh aja sih, mungkin saya yang salah pencet kali, yak. karena saat itu jaringan internet emang lagi lucu-lucunya, kadang putus kadang nyambung. πŸ˜‚

Nah, di tengah keriweuhan nyari postingan yang ilang itu, tiba-tiba saya harus ngeliat isi rumah yang porak-poranda karena kebiadaban Kucing tetangga yang meloncat dari atap rumah hingga membuat langit-langitnya jebol dan berlubang lumayan besar.

Bukan hanya itu, Si Tengah dan Si Bontot pun jadi nangis kejer. Saat itu mereka baru aja mau siap-siap makan siang di depan TV. Tapi akhirnya jadi kecewa, karena Si Kucing telah meluluh lantakan piring beserta isinya hingga hancur lebur dan berhamburan kemana-mana. Hingga bikin penampilan anak dua itu udah mirip kayak upik abu karena tertimpa kotoran dan debu dari atap rumah. Antara pengen ketawa tapi miris. πŸ˜‚ Dan Si Tengah pun sekarang jadi sering was-was, setiap kali Si Kk (yang jahil) nunjuk atap yang berlubang sambil ngomong "Ada Kucing Terbang." πŸ˜…

Walopun sekarang masih gregetan, karena masih gak punya waktu buat bewe "yang baik dan benar" ke blognya temen-temen semua. Karena tragedi ini terus merentet ke tragedi mesin cuci yang ternyata rusak lagi pada H-2 dan kulkas butut yang tiba-tiba kumat di H-1. Bisa kebayangkan, apa yang terjadi ketika dua perkakas itu tidak lagi bisa menunaikan tugas dan kewajibannya di saat kita lagi butuh-butuhnya (mungkin biasa aja sih buat yang laen) tapi saya sebage emak-emak rempong, berat banget kalo harus berpisah dari mereka.. hiks.

Selaen karena beberapa makanan yang rusak, saya pun harus kembali mengerjakan cucian dengan cara tradisional. Pake kemben dan handuk yang menutupi pundak sambil membawa ember cucian, sekalian mandi dan nyuci baju di pinggir sungai bersama tujuh bidadari yang turun dari langit (mulai halu 🀣).

Gak ding, semuanya dikerjakan manual bersama tiga anak yang terus ngekor nyambi ikutan main air di kamar mandi dan ternyata, gak ada satupun anak yang kalem ketika berada di moment back to nature ituhh. πŸ˜ͺ 

Sabaaar... Tarik Nafaaaaas... Wasyukurillah.. lalu ambil hikmahnya : πŸ˜…

#Masih banyak orang yang jauh lebih kesulitan.
#Bisa sekalian olah raga lengan jadi gak perlu pake barbel.
#Bisa maen sama anak-anak.
#Skill mencuci meningkat, siapa tau nanti buka laundry atau menerima cucian baju sebage kerjaan freelance buat nambah-nambah penghasilan. 
#Trus, akhirnya saya jadi tau gimana cara mengcallback atau mengembalikan postingan yang telah terhapus, asalkan "history di browser blom dihapus" (hayooo, siapa nih yang suka ngapus-ngapusin history setelah browsing-browsing?🀭 Kalo postingannya sampe ilang, udah deh, the end). πŸ˜‚
#Setelah H+1 ntuh kulkas sembuh sendiri. πŸ˜ͺ
#Etc yang gak bisa disebutin satu-satu. 🀭

Yang namanya teori mah gampaang. Prakteknya? 
Ternyata berat banget eui.. πŸ˜‚

Berhubung ada beberapa tulisan saya yang masuk nominasi 1minggu1cerita untuk satu tulisan terpilih setiap minggunya, yang kebetulan itu adalah postingan yang bisa saya callback lagi diantara 33 postingan yang hilang, sayang semua komentar dari teman-teman harus hilang juga, karena harus di publish ulang di link baru.  Tapi tak apalah, yang paling penting hal itu pada akhirnya bisa menjadi daya tarik dan motivasi buat saya, agar bisa semangat lagi nulis di blog ini. 🀭 (receh banget yah, baru masuk nominasi aja udah semangat lagi). πŸ˜…

Dan pada akhirnya, (meskipun udah lewat beberapa hari) saya ucapkan Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin yah temen-temeeeen. Kalo saya punya salah atau menyinggung, baik dalam tulisan atau perbuatan, karena saya yakin semuanya itu gak disengaja. Kalopun sengaja, yah tolonglah di maafkan juga πŸ˜‚ Tapi saya gak jamin abis ini gak bikin kesalahan lagi, jadi dimaafinnya kalo bisa sampe lebaran tahun depan yah.. πŸ˜‚.

Berkerumun di Mall demi Baju Lebaran ?

08:06 19
Berkerumun di Mall demi Baju Lebaran ?
Beberapa hari yang lalu, banyak sekali status-status yang bersliweran di timeline facebook saya mengenai orang-orang yang berkerumun dan berdesak-desakan di mall, demi baju lebaran.

Diantaranya ada yang berkomentar seperti ini :
"Tidak bijak untuk menghambur-hamburkan uang sekedar untuk baju baru dan kue lebaran, toh kita juga tidak bisa kemana-mana. Lebih baik uangnya disimpan saja, jika suatu saat wabah ini terus berlanjut kita memiliki cadangan untuk bisa melanjutkan hidup."
"Kasihan para tenaga kesehatan."
"Kasihani keluarga kita dirumah yang mungkin akan tertular karena kita tidak mematuhi protokol kesehatan."
"Mau sampai kapan wabah ini berakhir, kalo masih seenaknya melanggar peraturan." dan sejenisnya.

Perlu diketahui, komentar yang akan saya tuliskan di sini dititikberatkan pada keberadaan baju baru di hari lebaran (yang bukan hanya ketika berada di tengah pandemi). Karena ternyata, tidak sedikit yang berkomentar mengenai baju barunya ketimbang pelanggarannya. πŸ˜…

Contohnya kurang lebih seperti ini :

"Kue kering, Salam Tempel dan Baju Lebaran tidak termasuk dalam Idul Fitri, itu hanyalah tradisi. Selain itu, juga mengajarkan anak-anak untuk tidak membeli baju lebaran karena bajunya sudah dibeli jauh-jauh hari. Itu pun sesuai kebutuhan, ketika mereka sedang membutuhkan baju atau celana baru. Jadi ngga ada tuh mereka ribut menanyakan baju baru untuk lebaran atau sendal baru." (ya, iyalah.. kan udah dibeli duluan πŸ˜‚)

"Itu kan cuma sekedar baju baru."
"Beli baju gak perlu pas lebaran." 
"Buat apa beli baju toh masih banyak baju lama yang masih bagus-bagus dan bisa dipakai." atau 
"Saya gak pernah beli baju untuk lebaran tuh. Belinya pas butuh aja (tapi sering beli)." 

Lalu bagaimanakah dengan mereka yang membeli baju secara online? Apakah ikut terseret juga dengan komentar dari para netizen? Belum tentu juga kan seorang pembeli baju lebaran itu orang susah dan mereka juga tidak berkerumun atau berdesak-desakan di mall. πŸ˜…

Dan pada akhirnya, kata-kata mereka telah membuat saya tergeletik untuk mengomentari komentar mereka dan menuliskannya di sini.  πŸ˜‚

Kenapa?

karena saya jadi teringat dengan keluarga kedua Orangtua saya nun jauh di dusun sana dan beberapa sahabat Orangtua yang merantau kesini. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak golongan yang disebut dengan fakir miskin, anak yatim dan kaum duafa.

Baju baru?

Jangankan baju baru, untuk makan saja masih kembang kempis. Setengah mati mencari rejeki demi bertahan hidup dengan pakaian yang sudah lusuh. Kadang robek di sana sini dan tidak layak pakai karena baju yang dipunya tinggal beberapa helai saja. Jika bukan di hari raya, kapan lagi mereka bisa merasakan sedikit kelegaan dan beristirahat, meletakkan sejenak beban di pundak yang belum tentu berkurang, sebelum akhirnya menutup mata di ujung usia.

Mereka memprioritaskan hari raya dan tradisinya karena belum tentu bisa mendapatkan hal-hal istimewa seperti itu di hari-hari biasa. Bagi mereka, hari lebaran adalah hari paling berharga yang patut dirayakan. Meskipun sekarang sepertinya sudah mulai ikut tergerus, akibat kemajuan jaman.

Mereka begitu gegap gempita dalam menyambut hari raya. Mengenakan baju baru kendatipun sederhana dan murah, memasak hidangan lebaran meskipun tidak mewah, dan juga mengharapkan THR atau salam tempel dari sanak saudara.

Jika bukan dikarenakan kebaikan hati dari mereka yang bersedekah dan berzakat atau karena THR yang tak seberapa dan pendapatan yang sedikit meningkat dikarenakan menjelang hari raya. Belum tentu mereka bisa merasakan punya baju baru dan bisa makan enak seperti orang-orang yang bilang "beli baju gak perlu harus nunggu lebaran." Karena pada kenyataannya belum tentu hal itu terjadi setahun sekali. Ada yang bahkan bertahun-tahun masih belum mampu mendapatkan itu semua.

Kuliner Ikonik Palembang

06:58 33
Kuliner Ikonik Palembang

@racliamoon


Saya tuh sebenernya lagi males ngomongin wabah di situasi seperti sekarang, tapi apa daya. Ternyata hal itu secara langsung telah memporak-porandakan tradisi Ramadhan dan Lebaran semua orang. 

Pengennya gak inget dan terus berusaha cuek, kalo ternyata harapan saya untuk bisa melakukan banyak hal di kesempatan lebaran tahun ini harus pupus, sekali lagi.

Dan tak dinyana, memori masa lalu yang terpatri di benak pun akhirnya bermunculan, terutama tentang masa-masa indah di waktu kecil. 

"Dimana kegembiraan itu seolah tak terukur dan keceriaan itu begitu luas untuk di arungi. Tanpa beban. Cukup bahagia dengan kebebasan untuk jajan lebih banyak dan bermain lebih lama. Tentu saja dengan mengenakan baju baru di hari lebaran."

Mudik dan silahturahmi adalah salah satu tradisi lebaran yang akan dan telah ditiadakan bagi sebagian orang. Tapi entah dengan baju baru, bikin kue dan ketupat, ziarah makam, petasan atau THR, apakah juga akan ikut menghilang atau hanya berkurang? Who knows.. 

Bisa saja tradisi-tradisi itu tidak menghilang dan masih penting di beberapa orang atau daerah. Entah karena nekat, masih bisa dilakukan di rumah atau dilakukan secara online. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi mereka yang berada di daerah pinggiran. Dimana wabah covid-19 hanya menjamah sedikit orang dan sisanya adalah orang-orang yang tidak melek teknologi.


Ilustrasi Sumber Inspirasi

Berhubung adik saya sedang kebanjiran order membuat ilustrasi (tapi dibayar seikhlasnya), seperti  gambar di beberapa postingan saya sebelumnya, berupa lukisan buah dan sketsa penganten melayu, juga termasuk pada postingan ini. Akhirnya saya jadi pengen ngebahas tentang beberapa kuliner ikonik khas Palembang terutama makanan yang sering dijumpai di hari raya, seperti pada gambar/ilustrasi diatas (khusus buat kknya gratis πŸ˜‚).

Maklum, meskipun saya pernah jadi anak disain, tapi bidang ilmu dan orientasi pekerjaan yang pernah saya geluti tidak sejalan dan berbeda aliran. Dalam disain itu ada banyak cabang, seperti Ilustrasi, disain grafis, disain web, komik, animasi dan lain-lain. Sementara skill saya sebagai disain editor,  hanya mampu menggambar untuk pelajaran matematika dan fisika (tau kan) atau mendisain layout. Gak nyeni sama sekali tapi butuh ketelitian dalam menginput data angka atau simbol-simbol (biar yang ngerjain soal gak salah jawab dan nilainya gak anjlok πŸ˜‚). 

Sedangkan adik saya sebagai anak millenial, sudah begitu jauh melampaui. Jam terbangnya sudah tinggi untuk urusan ilustrasi dan emang berada di masa, banyak sumber yang bisa menginspirasi seperti melalui internet. Juga lebih tanggap untuk hal-hal baru, di bidang menggambar secara analog atau digital dengan menggunakan aplikasi. Dan dipastikan ilmu saya akan semakin terbelakang, jika tidak rajin mengupgrade diri (gak punya waktu soale). 😭

Begitulah beda anak disain jaman dulu dan anak disain jaman sekarang. πŸ˜‚


Beberapa Kuliner Ikonik Khas Palembang
Okeh, biar gak semakin halu. Ini dia beberapa Kuliner Ikonik yang keberadaannya juga dinantikan di Hari Raya khususnya kuliner yang ada di kota Palembang. 

Nah, pembahasannya disesuaikan dengan urutan pada gambar diatas, dari yang paling depan lalu ke kanan kemudian ke atas lalu ke kiri :

Pempek

Dulu pernah terjadi klaim dari dua daerah, mengenai asal usul pempek. Namun melalui sejarah, secara historis, filosofis, geografis, serta psikologis dengan jelas menceritakan, bahwa pempek aslinya berasal dari Palembang.

Pempek awalnya bernama Kelesan. Namun pada tahun 1920an berubah menjadi Pempek. Saat itu orang China yang menjual Kelesan akan menghampiri, jika pembeli berteriak 'pek! pek!' kependekan dari Apek. Apek atau empek berasal dari bahasa hokkian, panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari ayah atau disebut dengan paman.  Hingga lama kelamaan, akhirnya menjadi nama makanan yang dijualnya, yaitu Pempek sebagai kata serapan. Meskipun sebagian Orangtua yang sudah sepuh disini masih menyebut Pempek dengan Kelesan. 

Jenis Pempek ada bermacam-macam, tapi biasanya yang terfavorit dan pembuatannya tidak terlalu ribet adalah Pempek Lenjer dan Pempek Telur (ada yang ukuran besar dan ukuran kecil). Seperti pada gambar di postingan ini.

Dulu saya tidak begitu suka Pempek. Kalopun ada yang menyajikan, saya hanya mengkonsumsi telur isiannya, adonan pempeknya dibuang πŸ˜‚. Hingga pada suatu hari, saya ditakdirkan untuk mencicipi pempek dengan tekstur dan aroma yang tidak menyengat serta rasa yang enak banget, termasuk variant lainnya seperti pempek kulit yang lembut di dalam tapi krispi di luar. 🀀 Akhirnya πŸ˜‚.


Es Kacang Merah

Sebagai budaya kuliner yang juga populer dan terbawa dari negeri asalnya bersama bakso, maka es kacang merah pun ikut ambil bagian menjadi kuliner ikonik khas Palembang karena memiliki sedikit perbedaan dari resep es kacang merah di beberapa daerah lainnya di Indonesia. 

Es Kacang Merah biasanya sering disajikan sebagai menu berbuka puasa. Namun jika ingin menikmatinya di hari lebaran kita bisa ke gerai-gerai pempek yang ada di Palembang. Salah satu minuman pendamping yang sering disajikan biasanya adalah es kacang merah.

Sebagai pecinta es kacang merah garis keras, jika ingin mencicipi es kacang merah ketika berada di kota Palembang, suami merekomendasikan gerai Pempek Vico dan Pempek Akiun. Namun ada satu lagi kedai es kacang merah rekomendasi dari teman-teman yaitu Es Kacang Merah Mamat di daerah sekitar Lapangan Hatta. Banyak para pengusaha bahkan pejabat yang sengaja datang kesana, meskipun lokasinya berada di tempat tersembunyi dan antriannya yang mengular.


Mie Celor

Kuliner yang satu ini merupakan perpaduan kuliner Melayu dan Tionghoa karena tampilannya sangat mirip dengan Lo Mie asal China bagian Selatan namun berwarna lebih putih. Mienya besar (seperti Mie Aceh atau Mi Udon dari Jepang) yang di celor atau di celup-celupkan ke air panas. Tekstur kuahnya mirip dengan spagethi tapi lebih encer, karena kuahnya sendiri dibuat dari santan gurih dan kaldu ebi yang merupakan pengaruh dari budaya melayu. Salah satu tempat yang paling direkomendasikan adalah Mie Celor 26 Ilir, sebuah gerai kecil di deretan penjual pempek di Sentra kuliner Kampung Pempek 26 Ilir Palembang. 


Kemplang Iwak

Kata Kemplang berasal dari dialek Melayu di daerah Sumatera Selatan yang berarti dipukul. Apanya yang dipukul? Adonannya dong, masak orangnya πŸ˜‚. Menurut saya, Kemplang itu awalnya adalah penamaan untuk Kemplang yang dipanggang saja. Karena sewaktu kecil, saya sering melihat pembuatannya di rumah-rumah tetangga yang memproduksi Kemplang Panggang.

Setelah dipipihkan, adonan yang dominan berbahan sagu itu lalu dipukul hingga rata, kemudian di kukus dan di jemur. Begitu juga prosesnya ketika dipanggang, dipukul-pukul agar bentuknya tidak melengkung. Berbeda dengan Kemplang yang digoreng, pertama-tama adonan mentah dibentuk seperti pempek lenjer, dikukus baru kemudian diiris tipis-tipis (tidak dipukul), lalu dijemur.

Sebenernya toko kemplang di Palembang itu banyak banget ampe bejibun, dari kualitas paling minimum hingga premium. Namun ada satu tempat, yang berulang kali saya datangi karena rasa dan teksturnya yang enak. Tokonya terletak di Jl. KH. Ahmad Dahlan di belakang Indomaret, namanya Toko Kemplang Dikita, tidak jauh dari Taman Kambang Iwak Palembang. Kemplangnya sendiri terbuat dari Ikan Tenggiri, jadi bagi yang alergi dengan ikan laut bisa mencari alternatif kemplang ikan gabus ke toko-toko lain disini.


Maksuba

Disini, Maksuba biasanya selalu hadir di Hari Raya, di sebuah Event atau untuk Hantaran Pernikahan. Rasanya yang manis dan bahannya yang berlemak karena terdiri dari telur bebek, gula, mentega dan kental manis kaleng, membuat orang yang mencicipi was-was untuk makan lebih dari sepotong, kalorinya tinggi eui. Meskipun setelah mencoba sekali, ternyata malah jadi ketagihan. Akhirnya nyomot lagi, lagi dan lagi πŸ˜‚ (itu mah saya, yak).

Untuk yang mainnya kurang jauh seperti saya, (berdasarkan kenangan) Maksuba terenak itu adalah buatan Ibu pastinya πŸ˜‚. Eh tapi, ada juga kok beberapa tamu yang bilang kalo buatan Ibu yang terenak, karena bahannya agak unik dibandingkan Maksuba biasa. Teksturnya itu lebih halus, padat, lembut dan lembab. Kalo orang laen kuenya berwarna kuning kecoklatan, Ibu mah beda, kuenya berwarna Pink! Sekalipun belum pernah saya temui Maksuba dengan rasa dan warna seperti itu di toko atau di rumah orang lain saat bersilahturahmi, kecuali di dusun Ortu. Tapi walopun berbeda, ternyata rasanya itu enaaak banget dan harum sangat. πŸ˜‚

Pada zaman dahulu, untuk menilai seorang perempuan Palembang apakah sudah pantas dipersunting menjadi istri, dia harus bisa memasak bahan mentah kiriman dari calon mertuanya untuk dibuat menjadi kue Maksuba. Kalo dia bisa, berarti sudah layak untuk menjadi seorang istri.

Pantas saja hanya Maksubanya yang enak tapi kue yang lainnya gak *eh πŸ˜… (maksudnya kue bikinannya yang laen gak seenak kue Maksubanya) πŸ˜‚


Buah Duku

Sebagian orang mungkin mengenal Duku yang manis dan berkulit tipis itu adalah Duku Palembang, namun Duku yang tersebar sampai seantero Indonesia itu sebenarnya berasal dari daerah Ogan dan Komering, yang wilayah perkebunan rakyatnya ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ulu Selatan bukan dari Ibu kotanya. Karena di Palembang sendiri tidak ada tanaman Duku. Kalopun ada tapi tidak subur bahkan tidak berbuah, karena unsur tanahnya tidak cocok.

Duku adalah salah satu buah lokal musiman terpopuler yang paling digemari disini (selain Durian Komering). Karena daerah penghasil buahnya masih berada di ruang lingkup daerah Sumatera Selatan. 

Untuk Duku Komering, setelah panen biasanya langsung di distribusikan ke luar kota hingga melanglang buana ke seluruh Indonesia. Di ibukotanya sendiri terkadang malah tidak kebagian, kalopun ada mungkin hanya sisa-sisa dari Duku Komering yang sudah dipilih sebelumnya.

Teringat waktu kecil, dulu Bapak punya seorang Paman jauh, yang berasal dari Komering. Beliau sudah sangat berumur, agak pikun dan pendengarannya pun sudah banyak berkurang. Tapi hebatnya, setiap tahun dia selalu ingat jalan kesini. Karena kami tidak pernah merasakan pernah punya kakek nenek paman dan bibi, dari Orangtua (kedua Orangtua saya anak yatim piatu). Kehadirannya ke Palembang sungguh membuat kami senang, karena beliau selalu membawa sekarung Duku Komering dan beberapa buah lainnya sebagai buah tangan (bayangkanlah, di usia yang sudah sepuh harus membawa berkarung-karung buah dari tanah yang jauh). Aroma dan rasa Duku Komering yang khas itu selalu menjadi kenangan untuk saya dan juga mungkin untuk saudara-saudara saya. Terlebih disaat Ramadhan. πŸ₯Ί

Gadget & Generasi Millenial

17:09 41
Gadget & Generasi Millenial

Wali kelas Si Kk tiba-tiba nongol di balik pintu, matanya menatap tajam ke arah saya yang lagi nongkrong nyambi maen perosotan. (busyet, emak-emak maen perosotan) πŸ˜‚ 

Tapi kejadian ini udah beberapa tahun yang lalu kok (walo udah beberapa tahun, yah tetep aja kan udah emak-emak). πŸ˜… 

"Bu, kesini sebentar!" Saya kaget campur salting. "Aduh du ee.., bakal kena semprot karena ngerusak fasilitas sekolah, ini kayaknya". 

"Bisa bicara sebentar?" Bu guru menarik tangan saya dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam kelas. 

Disana saya langsung menghampiri Si Kk, yang setiap ngerumpi gak ada jedahnya lagi kalo udah mulai ngumpul sama temen sekelasnya. 

Berhubung posisi duduk Si Kk di kursi paling belakang (yang mana itu adalah posisi ter legend) πŸ˜‚ dekat dengan pintu keluar pula, saya pun jadi ikutan nimbrung. Dan Bu Guru pun, akhirnya ikut-ikutan. 

Okeh.. 

Saya jadi dag dig dug beneran (karena emang gak pernah ngobrol sama sekali dengan belio, yang dikenal sebage Guru paling garang tegas di TK Si Kk). πŸ˜…


Komunikasi antara Guru & Orangtua

"Begini Bu, Si Kk inih kalo latihan di buku nilainya selalu bagus tapi kalo ditanya soal-soal di papan tulis, selalu jawab gak tau dan menulisnya gak pernah selesai. (tuh kan, pasti karena kebanyakan ngerumpi)

"Setelah saya tanya-tanya lebih detail," lanjut Bu Guru. "Ternyata Si Kk matanya gak bisa melihat tulisan dari jarak jauh. Jadi kalo bisa tolong di periksakan ke dokter, karena kemungkinan ada masalah dengan matanya."

"Eugh! Sudah kuduga!" (ngomong pake bahasa kalbu kayak di Sinetron) kagak sopan juga kali, ngomong langsung kayak begitu di depan Bu Guru. πŸ˜‚

"Sebenernya, gejala-gejalanya udah lama keliatan, Bu. Soalnya kalo Si Kk menatap orang, jidatnya itu pasti jadi mengkerut, trus mukanya seolah kayak mau nempel ke muka orang di depannya. Orang yang diliatin kan pasti grogi dan langsung ngerasa jadi mahluk aneh, ya kan." (Emaknya curcol karena sering dibegituin sama Si Kk). πŸ˜‚

"Udah lama saya pengen ngajak Si Kk ke dokter, tapi blom ada biaya dan gak ada yang nganter. Maklum Bu Guru, susah kalo ada bayi, gak ada yang bisa bantu jaga. Si Kk juga gak ada keluhan sampe sekarang, jadi saya pikir itu belum diperlukan." 

Tapi karena yang ngeluh adalah Bu Guru (lagi-lagi ngomong dalam hati) yah mau gak mau dan juga sepertinya ini sudah darurat. 

"Nanti akan diusahakan, Bu." Jawaban itu akhirnya meluncur juga setelah Bu Guru meminta berulang-ulang. 

"Diperiksakan ya Bu jangan nggak, kasian Si Kk." 

(sebenernya saya kasian juga sama Bu Guru, pasti ngerasa riweuh juga ngurusin anak-anak yang kelakuannya kadang naujubillah. Dan karena usia mereka yang memang lagi lincah-lincahnya πŸ˜‚, apalagi harus ditambah dengan masalah seperti ini di kelas).

Sejak saat itu posisi duduk Si Kk dipindahkan ke deretan terdepan, pas banget di depan papan tulis (meskipun yang dibelakang pada protes karena ketutupan Si Kk yang memang bergelar sebage anak tertinggi di kelas), πŸ˜‚ tapi apa daya, untuk sementara itu dulu yang bisa dilakukan.


Check Up ke Dokter

Seminggu kemudian, setelah mendapat hasil dari pengajuan askes. Akhirnya Si Kk diajak ke dokter mata, di sebuah rumah sakit yang semua penghuninya saat ini di karantina akibat wabah covid 19. (Kemaren itu saya pengen ke sana untuk berobat tapi gak bisa.πŸ˜… )

Saat mata Si Kk diperiksa, Bu dokter jadi agak sedikit cemas. Karena setiap ditanya huruf apa, Si Kk cuma geleng-geleng karena banyak yang gak bisa dijawab. Padahal tulisan yang terpampang di depan, ukurannya lumayan besar.

Okeh, awalnya saya ikutan cemas, tapi tiba-tiba jadi teringat sesuatu. 

Dan kemudian langsung tertawa ngakak dengan airmata yang hampir keluar (bukan bermaksud kejam dan ilang simpati ke anak, ini yah, tapi emang udah refleknya begituw πŸ˜…), sampe diliatin bu dokter dan asistennya lagi. Gak ketinggalan juga, Pak Suami dan Si Adek yang tiba-tiba ikutan melongo, meski tangannya sibuk geratilan megang-megang peralatan bu dokter. 🀣

Setelah mengambil nafas panjang, "Bu dok, Si Kk gak bisa jawab, karena baru masuk sekolah TK dan emang belom diajarin di kelas, bukannya karena gak bisa liat." (emang salah emaknya juga sih, rempong sama bayik jadi gak sempet ngajarin, begini jadinya). πŸ˜…

Trus si Kk langsung nyaut, "Iya, belum diajarin bu guru kalo yang itu".  (lah, dikira bu dokter lagi ngasih soal ujian, apah). Kan yang ditanya itu keliatan ato gak, bukannya tau ato gak. πŸ˜‚

Selesai Si Kk diperiksa, Bu dokter pun berkomentar. "Matanya kayak orang Korea yah, tapi mata Ayahnya kayak orang Jepang."

(Walopun sipit ternyata mata orang-orang asia dari negeri 4 musim itu punya perbedaan sebenere yak, ini berdasarkan diagnosisnya Bu dok juga) Terus emaknya gimana? Gak perlu penjelasan dari bu dokter pun, sebenernya yang liat udah bakal langsung mikir kalo saya ini orang Cina πŸ˜‚ padahal mah, orang dusun. (nanya sendiri, jawab sendiri)πŸ˜‚

Trus Si Adek? Kami bertiga mungkinlah bisa dimaklumi sebagai mahluk bermata segaris, karena orang sini kan sebagian memang ada yang seperti itu. namun Si Adek (sekarang jadi Si Tengah) matanya agak mepet ke arap-arapan, lintas generasi mewarisi mata Ibu saya yang bermata coklat abu-abu (orang dusun ternyata spesies matanya bermacem-macem juga, yak).

Bulu matanya itu, panjang dan lentik, bola matanya besar, tapi warna matanya Si Adek yang berjenis kelamin laki-laki ini hanya coklat bening, gak ada campuran abu-abunya. 

Seharusnya, Si Emak dong yang bermata seperti itu, ye kan (doa yang tak terkabulkan). πŸ˜… dan yang nurun ke saya itu malah kekurangannya, menderita mata plus sejak muda. 


Disiplin dalam Menerapkan Batasan

Setelah di kasih resep, akhirnya Bu dok bilang. Si Kk gak boleh nonton tv sama maen gadget dulu selama pengobatan. Berhubung obatnya lagi kosong, jadi obat tetesnya sementara ini pake obat yang untuk mata tua, maksudnya obat khusus untuk manula yang matanya rabun jauh. Kalo nanti-nanti mau maen gadget lagi, maksimal satu jam dan nonton tv maksimal tiga jam. Kalo semakin parah, nanti akan dikasih surat rujukan ke Jakarta. (Dan emaknya pun cemas, teringat seseorang yang sudah dianggap seperti Kakak sendiri, harus menjadi buta saat muda (maniak komputer) setelah matanya minus delapan dikarenakan penyakit mata bawaan).

Sebenernya Si Kk bukan getol maen gadget (hampir gak pernah), dia mah orangnya ekstrovert, senengnya maen keluar, ngobrol sama temen-temen. Gak bisa diem dan aktif banget "dulu".  Tapi lagi lagi ini kesalahan saya sebage Orangtua dan karena nurun dari Si Ayah termasuk juga kelakuannya (matanya minus 9, dulu). Susah bergeser kalo sudah di depan layar monitor.

Sewaktu Si Kk masih kecil, kami hanya punya TV (tabung) tapi gak punya meja. Karena masih hidup seadanya, jadi yang dipake buat nampung ntuh TV adalah sebuah meja sudut kecil, limpahan dari mertua. Yang ukurannya, yaah setinggi anak umur setaonlah. Dimana kalo Si Kk mau nonton, mukanya langsung nempel ke layar televisi. Meskipun dikasih kursi yang agak jauh, tapi dia balik lagi balik lagi, ngendon di depan TV. Emaknya kemana? Sibuk mengais recehan demi menambal biaya hidup. πŸ˜ͺ

Menyesal itu datangnya selalu belakangan, kalo di awal namanya lamaran, 
katanya Bang Mochammad Rizal S, Gz

Setelah nebus kacamata Si Kk, yang diketahui minus nya sebanyak 3,75 - 4 dan ada silindernya juga (lupa detailnya karena kertas resepnya udah ilang). Kami akhirnya mewanti-wanti untuk membatasi penggunaan gadget semacam handphone, yang barangnya emang kagak ada, (ngenes πŸ˜…) mencegah, maksudnya.πŸ˜‚

Trus, gimana nasibnya setelah beberapa tahun kemudian ?


Mencegah Lebih baik daripada Mengobati

Nah ini, yang bikin emaknya suka galau. Se ekstrovert-nya tuh anak, pas dipinjemin gadget mah mendadak berubah aliran jadi introvert. Bukannya bosen malah makin nyandu, tambah betah ngendon di rumah gara-gara gak sekolah. Tugas sama PR nya pun dicuekin, apalagi temen-temennya. Tapi kalo gak di kasih gadget, bakalan rebutan tv terus sama adek-adeknya dan ujung-ujungnya pada berantem, nangis berjamaah. Kalo udah gitu, Emaknya pula yang bakal pusing.

Akhir-akhir ini, tiap emaknya ke warung selalu ditanyain sama tetangga. Si Kk kemana sih, gak keluar-keluar lagi, takut sama mba Corona yah? (Sebelum ada pandemi ini, Si Kk yang biasanya ke warung soale). 

Kemaren dulu, Emaknya emang lagi gak bisa kemana-mana, ntar adek-adeknya pada mo ikut semua. Harus gendong kiri kanan biar gak keliaran kayak anak ayam baru keluar kandang. Belom nanti kalo minta jajan. Ke warung niatnya beli indomie lima ribu perak biar irit, tapi jajannya dua puluh ribu. Besok-besoknya, makan nasi lauk es krim aja ituh, 2 hari.πŸ˜‚


Belajar dari Pengalaman

Hmm... hikmah dibalik cerita ini sebenernya apah? 

Seperti judul sebelumnya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Terutama pembatasan penggunaan gadget, apalagi untuk anak-anak, tak terkecuali orang dewasa (yang nyadar diri). Kerusakan mata seperti ini gak bisa disembuhkan, karena efeknya seumur hidup kecuali dengan operasi lasik (kalo mampu sih yah ga papa jugaaa, kalo mau). Apalagi anak-anak jaman sekarang itu rata-rata maennya gadget. Main mainan tradisional pun udah jarang terlihat, kecuali mungkin di daerah pinggiran atau di daerah yang masih belum melek teknologi. 

Mending kalo nambah cakep setelah pake kacamata, lah ini malah ngerusak penampilan, yah kagak enak jugaa. πŸ˜‚ (Seperti saya kalo pas make kacamata baca ato kalo lagi ngejait, sering banget diledekin kayak nenek-nenek) 🀣  tapi itu kan saya, yak. Orang laen mah beda. πŸ˜…


Demikianlah curcol hari ini, semoga bermanfaat yah.. πŸ˜…

For My Soulmate

06:20 22
For My Soulmate

Tenanglah kekasihku, kutau hatimu menangis.
Beranilah untuk percaya, semua ini pasti berlalu.
Meski tak kan mudah, namun kau tak kan sendiri, Ku ada disini...
Untukmu aku akan bertahan, dalam gelap takkan kutinggalkan.
Engkaulah teman sejati, kasihku di setiap hariku.
Untuk hatimu ku kan bertahan, sebentuk hati yang kunantikan.
Hanya kau dan aku yang tahu, arti cinta yang telah kita punya.
Beranilah dan percaya semua ini pasti berlalu.
Meski takkan mudah, namun kau takkan sendiri, Ku ada disini...
                                         ~oOo~


bentar, bentaaar... itu diambil dari lirik lagu yah, bukan tulisan saya. πŸ˜‚

Tapi karena saya masih tak sanggup harus berucap lewat suara  πŸ˜‚, jadi ditulis sajalah.

Sama saja seperti dulu, saat masih sering posting-posting puisi di jaman baheula tapi kurang penghayatan. (karena ngetiknya itu malah sambil denger lagu laen, semacam laruku atau kalau tidak ya greenday πŸ˜‚).

Ketika hari anniversary telah terlewati (gak kebagian kalender soalnya)πŸ˜‚.

Beginilah yang terjadi, ucapan tak ada, coklat apalagi. terlalu ruwet dengan banyak urusan yang terus menanti. πŸ˜ͺ

Dulu itu, pertama kalinya kami bertemu di sebuah acara bukber dan kopdar lebih dari 10 plus plus tahun yang lalu. (Meskipun bertahun sebelumnya, kami pernah berpas-pasan di sebuah acara perpisahan dan dia tidak ingat lagi).

Entah dengan dia, tapi saya adalah orang yang bertype pengingat wajah tapi tidak tau nama, jadi yang saya rasakan saat itu, adalah seolah bertemu dengan teman lama.

Ramadhan kali ini seharusnya menjadi moment paling penting, sebenernya, yak.

Dan tanggal 26 kemarin itu bertepatan di hari minggu. Yang mana setelah bertahun-tahun, akhirnya anniversary kami kembali berada di hari minggu, seperti di hari waktu kami menikah dulu. (acara nikah itu kan biasanya emang hari minggu, yak πŸ˜ͺ)

Dan sayangnya, moment kali ini terlupakan begitu saja. 😌

Entahlah. 

Mungkin, karena seiring usia dan kesibukan yang semakin bertambah ditengah virus yang mewabah, hal-hal seperti itu kurang menjadi prioritas lagi. (Padahal bagi saya dikasih kado itu tetep the most important) πŸ˜‚ karena biasanya belio yang ngasih kado. Saya mah hampir gak pernah, paling masak sesuatu yang di sukai seperti pempek misalnya (itu mah saya yang suka)πŸ˜‚.

Tapi ya sutralah.. saya pasang foto lamanya sajah. (gak nyangka, saya pernah nekat bikin yang beginianπŸ˜…, pekerjaan yang menghabiskan waktu berhari-hari dan telah membuat saya sangat abai dengan orang-orang sekitar).



Happy Anniversary, My Soulmate   

tanpa kata
tanpa bersuara
namun matamu, menunjukkan segalanya

diammu adalah lelah tak terungkap
bahwa cinta yang kauberi adalah yang terbanyak 
kepada kami, yang tak kan mampu membalasnya lebih indah

terima kasih
tlah kau beri hatimu, hidupmu 
untuk kami, 
untukku


Bukit, Midnight


Diiringi lirik pembuka :
Afghan - Untukmu aku akan bertahan  04:08

Ditutup dengan iringan lagu dari winamp :
Daniel Sahuleka - I Adore You  05:56
Glenn Lewis - Fall Again  04:19