uzegan

Kuliner Ikonik Palembang

06:58 33
Kuliner Ikonik Palembang

@racliamoon


Saya tuh sebenernya lagi males ngomongin wabah di situasi seperti sekarang, tapi apa daya. Ternyata hal itu secara langsung telah memporak-porandakan tradisi Ramadhan dan Lebaran semua orang. 

Pengennya gak inget dan terus berusaha cuek, kalo ternyata harapan saya untuk bisa melakukan banyak hal di kesempatan lebaran tahun ini harus pupus, sekali lagi.

Dan tak dinyana, memori masa lalu yang terpatri di benak pun akhirnya bermunculan, terutama tentang masa-masa indah di waktu kecil. 

"Dimana kegembiraan itu seolah tak terukur dan keceriaan itu begitu luas untuk di arungi. Tanpa beban. Cukup bahagia dengan kebebasan untuk jajan lebih banyak dan bermain lebih lama. Tentu saja dengan mengenakan baju baru di hari lebaran."

Mudik dan silahturahmi adalah salah satu tradisi lebaran yang akan dan telah ditiadakan bagi sebagian orang. Tapi entah dengan baju baru, bikin kue dan ketupat, ziarah makam, petasan atau THR, apakah juga akan ikut menghilang atau hanya berkurang? Who knows.. 

Bisa saja tradisi-tradisi itu tidak menghilang dan masih penting di beberapa orang atau daerah. Entah karena nekat, masih bisa dilakukan di rumah atau dilakukan secara online. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi mereka yang berada di daerah pinggiran. Dimana wabah covid-19 hanya menjamah sedikit orang dan sisanya adalah orang-orang yang tidak melek teknologi.


Ilustrasi Sumber Inspirasi

Berhubung adik saya sedang kebanjiran order membuat ilustrasi (tapi dibayar seikhlasnya), seperti  gambar di beberapa postingan saya sebelumnya, berupa lukisan buah dan sketsa penganten melayu, juga termasuk pada postingan ini. Akhirnya saya jadi pengen ngebahas tentang beberapa kuliner ikonik khas Palembang terutama makanan yang sering dijumpai di hari raya, seperti pada gambar/ilustrasi diatas (khusus buat kknya gratis ๐Ÿ˜‚).

Maklum, meskipun saya pernah jadi anak disain, tapi bidang ilmu dan orientasi pekerjaan yang pernah saya geluti tidak sejalan dan berbeda aliran. Dalam disain itu ada banyak cabang, seperti Ilustrasi, disain grafis, disain web, komik, animasi dan lain-lain. Sementara skill saya sebagai disain editor,  hanya mampu menggambar untuk pelajaran matematika dan fisika (tau kan) atau mendisain layout. Gak nyeni sama sekali tapi butuh ketelitian dalam menginput data angka atau simbol-simbol (biar yang ngerjain soal gak salah jawab dan nilainya gak anjlok ๐Ÿ˜‚). 

Sedangkan adik saya sebagai anak millenial, sudah begitu jauh melampaui. Jam terbangnya sudah tinggi untuk urusan ilustrasi dan emang berada di masa, banyak sumber yang bisa menginspirasi seperti melalui internet. Juga lebih tanggap untuk hal-hal baru, di bidang menggambar secara analog atau digital dengan menggunakan aplikasi. Dan dipastikan ilmu saya akan semakin terbelakang, jika tidak rajin mengupgrade diri (gak punya waktu soale). ๐Ÿ˜ญ

Begitulah beda anak disain jaman dulu dan anak disain jaman sekarang. ๐Ÿ˜‚


Beberapa Kuliner Ikonik Khas Palembang
Okeh, biar gak semakin halu. Ini dia beberapa Kuliner Ikonik yang keberadaannya juga dinantikan di Hari Raya khususnya kuliner yang ada di kota Palembang. 

Nah, pembahasannya disesuaikan dengan urutan pada gambar diatas, dari yang paling depan lalu ke kanan kemudian ke atas lalu ke kiri :

Pempek

Dulu pernah terjadi klaim dari dua daerah, mengenai asal usul pempek. Namun melalui sejarah, secara historis, filosofis, geografis, serta psikologis dengan jelas menceritakan, bahwa pempek aslinya berasal dari Palembang.

Pempek awalnya bernama Kelesan. Namun pada tahun 1920an berubah menjadi Pempek. Saat itu orang China yang menjual Kelesan akan menghampiri, jika pembeli berteriak 'pek! pek!' kependekan dari Apek. Apek atau empek berasal dari bahasa hokkian, panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari ayah atau disebut dengan paman.  Hingga lama kelamaan, akhirnya menjadi nama makanan yang dijualnya, yaitu Pempek sebagai kata serapan. Meskipun sebagian Orangtua yang sudah sepuh disini masih menyebut Pempek dengan Kelesan. 

Jenis Pempek ada bermacam-macam, tapi biasanya yang terfavorit dan pembuatannya tidak terlalu ribet adalah Pempek Lenjer dan Pempek Telur (ada yang ukuran besar dan ukuran kecil). Seperti pada gambar di postingan ini.

Dulu saya tidak begitu suka Pempek. Kalopun ada yang menyajikan, saya hanya mengkonsumsi telur isiannya, adonan pempeknya dibuang ๐Ÿ˜‚. Hingga pada suatu hari, saya ditakdirkan untuk mencicipi pempek dengan tekstur dan aroma yang tidak menyengat serta rasa yang enak banget, termasuk variant lainnya seperti pempek kulit yang lembut di dalam tapi krispi di luar. ๐Ÿคค Akhirnya ๐Ÿ˜‚.


Es Kacang Merah

Sebagai budaya kuliner yang juga populer dan terbawa dari negeri asalnya bersama bakso, maka es kacang merah pun ikut ambil bagian menjadi kuliner ikonik khas Palembang karena memiliki sedikit perbedaan dari resep es kacang merah di beberapa daerah lainnya di Indonesia. 

Es Kacang Merah biasanya sering disajikan sebagai menu berbuka puasa. Namun jika ingin menikmatinya di hari lebaran kita bisa ke gerai-gerai pempek yang ada di Palembang. Salah satu minuman pendamping yang sering disajikan biasanya adalah es kacang merah.

Sebagai pecinta es kacang merah garis keras, jika ingin mencicipi es kacang merah ketika berada di kota Palembang, suami merekomendasikan gerai Pempek Vico dan Pempek Akiun. Namun ada satu lagi kedai es kacang merah rekomendasi dari teman-teman yaitu Es Kacang Merah Mamat di daerah sekitar Lapangan Hatta. Banyak para pengusaha bahkan pejabat yang sengaja datang kesana, meskipun lokasinya berada di tempat tersembunyi dan antriannya yang mengular.


Mie Celor

Kuliner yang satu ini merupakan perpaduan kuliner Melayu dan Tionghoa karena tampilannya sangat mirip dengan Lo Mie asal China bagian Selatan namun berwarna lebih putih. Mienya besar (seperti Mie Aceh atau Mi Udon dari Jepang) yang di celor atau di celup-celupkan ke air panas. Tekstur kuahnya mirip dengan spagethi tapi lebih encer, karena kuahnya sendiri dibuat dari santan gurih dan kaldu ebi yang merupakan pengaruh dari budaya melayu. Salah satu tempat yang paling direkomendasikan adalah Mie Celor 26 Ilir, sebuah gerai kecil di deretan penjual pempek di Sentra kuliner Kampung Pempek 26 Ilir Palembang. 


Kemplang Iwak

Kata Kemplang berasal dari dialek Melayu di daerah Sumatera Selatan yang berarti dipukul. Apanya yang dipukul? Adonannya dong, masak orangnya ๐Ÿ˜‚. Menurut saya, Kemplang itu awalnya adalah penamaan untuk Kemplang yang dipanggang saja. Karena sewaktu kecil, saya sering melihat pembuatannya di rumah-rumah tetangga yang memproduksi Kemplang Panggang.

Setelah dipipihkan, adonan yang dominan berbahan sagu itu lalu dipukul hingga rata, kemudian di kukus dan di jemur. Begitu juga prosesnya ketika dipanggang, dipukul-pukul agar bentuknya tidak melengkung. Berbeda dengan Kemplang yang digoreng, pertama-tama adonan mentah dibentuk seperti pempek lenjer, dikukus baru kemudian diiris tipis-tipis (tidak dipukul), lalu dijemur.

Sebenernya toko kemplang di Palembang itu banyak banget ampe bejibun, dari kualitas paling minimum hingga premium. Namun ada satu tempat, yang berulang kali saya datangi karena rasa dan teksturnya yang enak. Tokonya terletak di Jl. KH. Ahmad Dahlan di belakang Indomaret, namanya Toko Kemplang Dikita, tidak jauh dari Taman Kambang Iwak Palembang. Kemplangnya sendiri terbuat dari Ikan Tenggiri, jadi bagi yang alergi dengan ikan laut bisa mencari alternatif kemplang ikan gabus ke toko-toko lain disini.


Maksuba

Disini, Maksuba biasanya selalu hadir di Hari Raya, di sebuah Event atau untuk Hantaran Pernikahan. Rasanya yang manis dan bahannya yang berlemak karena terdiri dari telur bebek, gula, mentega dan kental manis kaleng, membuat orang yang mencicipi was-was untuk makan lebih dari sepotong, kalorinya tinggi eui. Meskipun setelah mencoba sekali, ternyata malah jadi ketagihan. Akhirnya nyomot lagi, lagi dan lagi ๐Ÿ˜‚ (itu mah saya, yak).

Untuk yang mainnya kurang jauh seperti saya, (berdasarkan kenangan) Maksuba terenak itu adalah buatan Ibu pastinya ๐Ÿ˜‚. Eh tapi, ada juga kok beberapa tamu yang bilang kalo buatan Ibu yang terenak, karena bahannya agak unik dibandingkan Maksuba biasa. Teksturnya itu lebih halus, padat, lembut dan lembab. Kalo orang laen kuenya berwarna kuning kecoklatan, Ibu mah beda, kuenya berwarna Pink! Sekalipun belum pernah saya temui Maksuba dengan rasa dan warna seperti itu di toko atau di rumah orang lain saat bersilahturahmi, kecuali di dusun Ortu. Tapi walopun berbeda, ternyata rasanya itu enaaak banget dan harum sangat. ๐Ÿ˜‚

Pada zaman dahulu, untuk menilai seorang perempuan Palembang apakah sudah pantas dipersunting menjadi istri, dia harus bisa memasak bahan mentah kiriman dari calon mertuanya untuk dibuat menjadi kue Maksuba. Kalo dia bisa, berarti sudah layak untuk menjadi seorang istri.

Pantas saja hanya Maksubanya yang enak tapi kue yang lainnya gak *eh ๐Ÿ˜… (maksudnya kue bikinannya yang laen gak seenak kue Maksubanya) ๐Ÿ˜‚


Buah Duku

Sebagian orang mungkin mengenal Duku yang manis dan berkulit tipis itu adalah Duku Palembang, namun Duku yang tersebar sampai seantero Indonesia itu sebenarnya berasal dari daerah Ogan dan Komering, yang wilayah perkebunan rakyatnya ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ulu Selatan bukan dari Ibu kotanya. Karena di Palembang sendiri tidak ada tanaman Duku. Kalopun ada tapi tidak subur bahkan tidak berbuah, karena unsur tanahnya tidak cocok.

Duku adalah salah satu buah lokal musiman terpopuler yang paling digemari disini (selain Durian Komering). Karena daerah penghasil buahnya masih berada di ruang lingkup daerah Sumatera Selatan. 

Untuk Duku Komering, setelah panen biasanya langsung di distribusikan ke luar kota hingga melanglang buana ke seluruh Indonesia. Di ibukotanya sendiri terkadang malah tidak kebagian, kalopun ada mungkin hanya sisa-sisa dari Duku Komering yang sudah dipilih sebelumnya.

Teringat waktu kecil, dulu Bapak punya seorang Paman jauh, yang berasal dari Komering. Beliau sudah sangat berumur, agak pikun dan pendengarannya pun sudah banyak berkurang. Tapi hebatnya, setiap tahun dia selalu ingat jalan kesini. Karena kami tidak pernah merasakan pernah punya kakek nenek paman dan bibi, dari Orangtua (kedua Orangtua saya anak yatim piatu). Kehadirannya ke Palembang sungguh membuat kami senang, karena beliau selalu membawa sekarung Duku Komering dan beberapa buah lainnya sebagai buah tangan (bayangkanlah, di usia yang sudah sepuh harus membawa berkarung-karung buah dari tanah yang jauh). Aroma dan rasa Duku Komering yang khas itu selalu menjadi kenangan untuk saya dan juga mungkin untuk saudara-saudara saya. Terlebih disaat Ramadhan. ๐Ÿฅบ

Gadget & Generasi Millenial

17:09 41
Gadget & Generasi Millenial

Wali kelas Si Kk tiba-tiba nongol di balik pintu, matanya menatap tajam ke arah saya yang lagi nongkrong nyambi maen perosotan. (busyet, emak-emak maen perosotan) ๐Ÿ˜‚ 

Tapi kejadian ini udah beberapa tahun yang lalu kok (walo udah beberapa tahun, yah tetep aja kan udah emak-emak). ๐Ÿ˜… 

"Bu, kesini sebentar!" Saya kaget campur salting. "Aduh du ee.., bakal kena semprot karena ngerusak fasilitas sekolah, ini kayaknya". 

"Bisa bicara sebentar?" Bu guru menarik tangan saya dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam kelas. 

Disana saya langsung menghampiri Si Kk, yang setiap ngerumpi gak ada jedahnya lagi kalo udah mulai ngumpul sama temen sekelasnya. 

Berhubung posisi duduk Si Kk di kursi paling belakang (yang mana itu adalah posisi ter legend) ๐Ÿ˜‚ dekat dengan pintu keluar pula, saya pun jadi ikutan nimbrung. Dan Bu Guru pun, akhirnya ikut-ikutan. 

Okeh.. 

Saya jadi dag dig dug beneran (karena emang gak pernah ngobrol sama sekali dengan belio, yang dikenal sebage Guru paling garang tegas di TK Si Kk). ๐Ÿ˜…


Komunikasi antara Guru & Orangtua

"Begini Bu, Si Kk inih kalo latihan di buku nilainya selalu bagus tapi kalo ditanya soal-soal di papan tulis, selalu jawab gak tau dan menulisnya gak pernah selesai. (tuh kan, pasti karena kebanyakan ngerumpi)

"Setelah saya tanya-tanya lebih detail," lanjut Bu Guru. "Ternyata Si Kk matanya gak bisa melihat tulisan dari jarak jauh. Jadi kalo bisa tolong di periksakan ke dokter, karena kemungkinan ada masalah dengan matanya."

"Eugh! Sudah kuduga!" (ngomong pake bahasa kalbu kayak di Sinetron) kagak sopan juga kali, ngomong langsung kayak begitu di depan Bu Guru. ๐Ÿ˜‚

"Sebenernya, gejala-gejalanya udah lama keliatan, Bu. Soalnya kalo Si Kk menatap orang, jidatnya itu pasti jadi mengkerut, trus mukanya seolah kayak mau nempel ke muka orang di depannya. Orang yang diliatin kan pasti grogi dan langsung ngerasa jadi mahluk aneh, ya kan." (Emaknya curcol karena sering dibegituin sama Si Kk). ๐Ÿ˜‚

"Udah lama saya pengen ngajak Si Kk ke dokter, tapi blom ada biaya dan gak ada yang nganter. Maklum Bu Guru, susah kalo ada bayi, gak ada yang bisa bantu jaga. Si Kk juga gak ada keluhan sampe sekarang, jadi saya pikir itu belum diperlukan." 

Tapi karena yang ngeluh adalah Bu Guru (lagi-lagi ngomong dalam hati) yah mau gak mau dan juga sepertinya ini sudah darurat. 

"Nanti akan diusahakan, Bu." Jawaban itu akhirnya meluncur juga setelah Bu Guru meminta berulang-ulang. 

"Diperiksakan ya Bu jangan nggak, kasian Si Kk." 

(sebenernya saya kasian juga sama Bu Guru, pasti ngerasa riweuh juga ngurusin anak-anak yang kelakuannya kadang naujubillah. Dan karena usia mereka yang memang lagi lincah-lincahnya ๐Ÿ˜‚, apalagi harus ditambah dengan masalah seperti ini di kelas).

Sejak saat itu posisi duduk Si Kk dipindahkan ke deretan terdepan, pas banget di depan papan tulis (meskipun yang dibelakang pada protes karena ketutupan Si Kk yang memang bergelar sebage anak tertinggi di kelas), ๐Ÿ˜‚ tapi apa daya, untuk sementara itu dulu yang bisa dilakukan.


Check Up ke Dokter

Seminggu kemudian, setelah mendapat hasil dari pengajuan askes. Akhirnya Si Kk diajak ke dokter mata, di sebuah rumah sakit yang semua penghuninya saat ini di karantina akibat wabah covid 19. (Kemaren itu saya pengen ke sana untuk berobat tapi gak bisa.๐Ÿ˜… )

Saat mata Si Kk diperiksa, Bu dokter jadi agak sedikit cemas. Karena setiap ditanya huruf apa, Si Kk cuma geleng-geleng karena banyak yang gak bisa dijawab. Padahal tulisan yang terpampang di depan, ukurannya lumayan besar.

Okeh, awalnya saya ikutan cemas, tapi tiba-tiba jadi teringat sesuatu. 

Dan kemudian langsung tertawa ngakak dengan airmata yang hampir keluar (bukan bermaksud kejam dan ilang simpati ke anak, ini yah, tapi emang udah refleknya begituw ๐Ÿ˜…), sampe diliatin bu dokter dan asistennya lagi. Gak ketinggalan juga, Pak Suami dan Si Adek yang tiba-tiba ikutan melongo, meski tangannya sibuk geratilan megang-megang peralatan bu dokter. ๐Ÿคฃ

Setelah mengambil nafas panjang, "Bu dok, Si Kk gak bisa jawab, karena baru masuk sekolah TK dan emang belom diajarin di kelas, bukannya karena gak bisa liat." (emang salah emaknya juga sih, rempong sama bayik jadi gak sempet ngajarin, begini jadinya). ๐Ÿ˜…

Trus si Kk langsung nyaut, "Iya, belum diajarin bu guru kalo yang itu".  (lah, dikira bu dokter lagi ngasih soal ujian, apah). Kan yang ditanya itu keliatan ato gak, bukannya tau ato gak. ๐Ÿ˜‚

Selesai Si Kk diperiksa, Bu dokter pun berkomentar. "Matanya kayak orang Korea yah, tapi mata Ayahnya kayak orang Jepang."

(Walopun sipit ternyata mata orang-orang asia dari negeri 4 musim itu punya perbedaan sebenere yak, ini berdasarkan diagnosisnya Bu dok juga) Terus emaknya gimana? Gak perlu penjelasan dari bu dokter pun, sebenernya yang liat udah bakal langsung mikir kalo saya ini orang Cina ๐Ÿ˜‚ padahal mah, orang dusun. (nanya sendiri, jawab sendiri)๐Ÿ˜‚

Trus Si Adek? Kami bertiga mungkinlah bisa dimaklumi sebagai mahluk bermata segaris, karena orang sini kan sebagian memang ada yang seperti itu. namun Si Adek (sekarang jadi Si Tengah) matanya agak mepet ke arap-arapan, lintas generasi mewarisi mata Ibu saya yang bermata coklat abu-abu (orang dusun ternyata spesies matanya bermacem-macem juga, yak).

Bulu matanya itu, panjang dan lentik, bola matanya besar, tapi warna matanya Si Adek yang berjenis kelamin laki-laki ini hanya coklat bening, gak ada campuran abu-abunya. 

Seharusnya, Si Emak dong yang bermata seperti itu, ye kan (doa yang tak terkabulkan). ๐Ÿ˜… dan yang nurun ke saya itu malah kekurangannya, menderita mata plus sejak muda. 


Disiplin dalam Menerapkan Batasan

Setelah di kasih resep, akhirnya Bu dok bilang. Si Kk gak boleh nonton tv sama maen gadget dulu selama pengobatan. Berhubung obatnya lagi kosong, jadi obat tetesnya sementara ini pake obat yang untuk mata tua, maksudnya obat khusus untuk manula yang matanya rabun jauh. Kalo nanti-nanti mau maen gadget lagi, maksimal satu jam dan nonton tv maksimal tiga jam. Kalo semakin parah, nanti akan dikasih surat rujukan ke Jakarta. (Dan emaknya pun cemas, teringat seseorang yang sudah dianggap seperti Kakak sendiri, harus menjadi buta saat muda (maniak komputer) setelah matanya minus delapan dikarenakan penyakit mata bawaan).

Sebenernya Si Kk bukan getol maen gadget (hampir gak pernah), dia mah orangnya ekstrovert, senengnya maen keluar, ngobrol sama temen-temen. Gak bisa diem dan aktif banget "dulu".  Tapi lagi lagi ini kesalahan saya sebage Orangtua dan karena nurun dari Si Ayah termasuk juga kelakuannya (matanya minus 9, dulu). Susah bergeser kalo sudah di depan layar monitor.

Sewaktu Si Kk masih kecil, kami hanya punya TV (tabung) tapi gak punya meja. Karena masih hidup seadanya, jadi yang dipake buat nampung ntuh TV adalah sebuah meja sudut kecil, limpahan dari mertua. Yang ukurannya, yaah setinggi anak umur setaonlah. Dimana kalo Si Kk mau nonton, mukanya langsung nempel ke layar televisi. Meskipun dikasih kursi yang agak jauh, tapi dia balik lagi balik lagi, ngendon di depan TV. Emaknya kemana? Sibuk mengais recehan demi menambal biaya hidup. ๐Ÿ˜ช

Menyesal itu datangnya selalu belakangan, kalo di awal namanya lamaran, 
katanya Bang Mochammad Rizal S, Gz

Setelah nebus kacamata Si Kk, yang diketahui minus nya sebanyak 3,75 - 4 dan ada silindernya juga (lupa detailnya karena kertas resepnya udah ilang). Kami akhirnya mewanti-wanti untuk membatasi penggunaan gadget semacam handphone, yang barangnya emang kagak ada, (ngenes ๐Ÿ˜…) mencegah, maksudnya.๐Ÿ˜‚

Trus, gimana nasibnya setelah beberapa tahun kemudian ?


Mencegah Lebih baik daripada Mengobati

Nah ini, yang bikin emaknya suka galau. Se ekstrovert-nya tuh anak, pas dipinjemin gadget mah mendadak berubah aliran jadi introvert. Bukannya bosen malah makin nyandu, tambah betah ngendon di rumah gara-gara gak sekolah. Tugas sama PR nya pun dicuekin, apalagi temen-temennya. Tapi kalo gak di kasih gadget, bakalan rebutan tv terus sama adek-adeknya dan ujung-ujungnya pada berantem, nangis berjamaah. Kalo udah gitu, Emaknya pula yang bakal pusing.

Akhir-akhir ini, tiap emaknya ke warung selalu ditanyain sama tetangga. Si Kk kemana sih, gak keluar-keluar lagi, takut sama mba Corona yah? (Sebelum ada pandemi ini, Si Kk yang biasanya ke warung soale). 

Kemaren dulu, Emaknya emang lagi gak bisa kemana-mana, ntar adek-adeknya pada mo ikut semua. Harus gendong kiri kanan biar gak keliaran kayak anak ayam baru keluar kandang. Belom nanti kalo minta jajan. Ke warung niatnya beli indomie lima ribu perak biar irit, tapi jajannya dua puluh ribu. Besok-besoknya, makan nasi lauk es krim aja ituh, 2 hari.๐Ÿ˜‚


Belajar dari Pengalaman

Hmm... hikmah dibalik cerita ini sebenernya apah? 

Seperti judul sebelumnya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Terutama pembatasan penggunaan gadget, apalagi untuk anak-anak, tak terkecuali orang dewasa (yang nyadar diri). Kerusakan mata seperti ini gak bisa disembuhkan, karena efeknya seumur hidup kecuali dengan operasi lasik (kalo mampu sih yah ga papa jugaaa, kalo mau). Apalagi anak-anak jaman sekarang itu rata-rata maennya gadget. Main mainan tradisional pun udah jarang terlihat, kecuali mungkin di daerah pinggiran atau di daerah yang masih belum melek teknologi. 

Mending kalo nambah cakep setelah pake kacamata, lah ini malah ngerusak penampilan, yah kagak enak jugaa. ๐Ÿ˜‚ (Seperti saya kalo pas make kacamata baca ato kalo lagi ngejait, sering banget diledekin kayak nenek-nenek) ๐Ÿคฃ  tapi itu kan saya, yak. Orang laen mah beda. ๐Ÿ˜…


Demikianlah curcol hari ini, semoga bermanfaat yah.. ๐Ÿ˜…

For My Soulmate

06:20 22
For My Soulmate

Tenanglah kekasihku, kutau hatimu menangis.
Beranilah untuk percaya, semua ini pasti berlalu.
Meski tak kan mudah, namun kau tak kan sendiri, Ku ada disini...
Untukmu aku akan bertahan, dalam gelap takkan kutinggalkan.
Engkaulah teman sejati, kasihku di setiap hariku.
Untuk hatimu ku kan bertahan, sebentuk hati yang kunantikan.
Hanya kau dan aku yang tahu, arti cinta yang telah kita punya.
Beranilah dan percaya semua ini pasti berlalu.
Meski takkan mudah, namun kau takkan sendiri, Ku ada disini...
                                         ~oOo~


bentar, bentaaar... itu diambil dari lirik lagu yah, bukan tulisan saya. ๐Ÿ˜‚

Tapi karena saya masih tak sanggup harus berucap lewat suara  ๐Ÿ˜‚, jadi ditulis sajalah.

Sama saja seperti dulu, saat masih sering posting-posting puisi di jaman baheula tapi kurang penghayatan. (karena ngetiknya itu malah sambil denger lagu laen, semacam laruku atau kalau tidak ya greenday ๐Ÿ˜‚).

Ketika hari anniversary telah terlewati (gak kebagian kalender soalnya)๐Ÿ˜‚.

Beginilah yang terjadi, ucapan tak ada, coklat apalagi. terlalu ruwet dengan banyak urusan yang terus menanti. ๐Ÿ˜ช

Dulu itu, pertama kalinya kami bertemu di sebuah acara bukber dan kopdar lebih dari 10 plus plus tahun yang lalu. (Meskipun bertahun sebelumnya, kami pernah berpas-pasan di sebuah acara perpisahan dan dia tidak ingat lagi).

Entah dengan dia, tapi saya adalah orang yang bertype pengingat wajah tapi tidak tau nama, jadi yang saya rasakan saat itu, adalah seolah bertemu dengan teman lama.

Ramadhan kali ini seharusnya menjadi moment paling penting, sebenernya, yak.

Dan tanggal 26 kemarin itu bertepatan di hari minggu. Yang mana setelah bertahun-tahun, akhirnya anniversary kami kembali berada di hari minggu, seperti di hari waktu kami menikah dulu. (acara nikah itu kan biasanya emang hari minggu, yak ๐Ÿ˜ช)

Dan sayangnya, moment kali ini terlupakan begitu saja. ๐Ÿ˜Œ

Entahlah. 

Mungkin, karena seiring usia dan kesibukan yang semakin bertambah ditengah virus yang mewabah, hal-hal seperti itu kurang menjadi prioritas lagi. (Padahal bagi saya dikasih kado itu tetep the most important) ๐Ÿ˜‚ karena biasanya belio yang ngasih kado. Saya mah hampir gak pernah, paling masak sesuatu yang di sukai seperti pempek misalnya (itu mah saya yang suka)๐Ÿ˜‚.

Tapi ya sutralah.. saya pasang foto lamanya sajah. (gak nyangka, saya pernah nekat bikin yang beginian๐Ÿ˜…, pekerjaan yang menghabiskan waktu berhari-hari dan telah membuat saya sangat abai dengan orang-orang sekitar).



Happy Anniversary, My Soulmate   

tanpa kata
tanpa bersuara
namun matamu, menunjukkan segalanya

diammu adalah lelah tak terungkap
bahwa cinta yang kauberi adalah yang terbanyak 
kepada kami, yang tak kan mampu membalasnya lebih indah

terima kasih
tlah kau beri hatimu, hidupmu 
untuk kami, 
untukku


Bukit, Midnight


Diiringi lirik pembuka :
Afghan - Untukmu aku akan bertahan  04:08

Ditutup dengan iringan lagu dari winamp :
Daniel Sahuleka - I Adore You  05:56
Glenn Lewis - Fall Again  04:19



Ripple Effect karena Berbagi

14:42 32
Ripple Effect karena Berbagi


Belum lama ini, saya sempat melihat berita viral yang bersliweran di internet. Dimana seorang kakek tua pengusaha kaya dari solo, turun ke jalan ditengah pandemi yang sedang mewabah.

Demi upayanya untuk menebar kebaikan, beliau memutuskan untuk secara langsung menghampiri tukang becak, tukang sol sepatu, pedagang kecil, karyawan toko, anak yatim piatu, janda dan warga berpenghasilan rendah. Untuk diberikan 2 bungkus beras seberat 5 kg, serta uang sebesar 100 ribu rupiah/orang.

Terakhir diketahui, beliau membagikan 500 kg beras dan uang sebesar 10 juta rupiah untuk 100 orang yang tidak mampu, setiap hari dalam sepekan.


Dengan berkeliling dan membagikannya sendiri, beliau berharap apa yang dilakukannya dapat dicontoh oleh banyak pihak. Yang sekiranya memiliki kemampuan lebih dan juga mau memahami pentingnya arti kebaikan berbagi. Terutama untuk membantu saudara-saudara yang sedang terhimpit, di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk memperoleh penghasilan.

Tak terhitung yang mendoakan, begitu pula yang menghujat, tak pernah ketinggalan. Ada netizen yang bilang itu pamer atau riya', ada juga yang bilang demi kepentingan politik. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang, masih sempatkah kita mencari keuntungan dalam kesempitan? saya rasa, hal itu bahkan tidak penting lagi bagi si penerima.


Ketika Kita Berbagi, Kita Sebenarnya sedang Menerima 

Sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Professor Michael Norton di Harvard Business School menemukan bahwa, memberi uang pada orang lain lebih meningkatkan kebahagiaan orang-orang yang diteliti, ketimbang digunakan untuk keperluannya sendiri. Rasa bahagia itu akan lebih mudah membuat orang-orang untuk memberi atau menularkan kebaikan.

Pada 2006, Jorge Moll dan koleganya di National Institute of Health juga menemukan bahwa, ketika sesorang memberi atau menolong, hal tersebut mengaktifkan bagian-bagian otak yang terhubung dengan kenikmatan, koneksi sosial, dan kepercayaan yang kesemuanya menciptakan efek pendar yang hangat. Sehingga dapat mengeluarkan endorfin di otak dan menghasilkan sebuah perasaan positif yang disebut sebagai “helper’s high”.


“Berbuat baik dan murah hati akan membawa orang lain menjadi lebih positif dan lebih ingin berbagi,” - Buku The How of Happiness oleh Lyubomirsky -


Dua Tipe pada Diri Manusia

Tipe Pemberi
Ada orang yang senang memberi tapi juga berharap mendapatkan balasan. Dan akan kecewa jika terlalu banyak memberi tapi tidak mendapatkan apa-apa. Ada juga yang akan merasa berbahagia jika bisa memberikan sesuatu kepada orang lain (tanpa pamrih). Semakin banyak memberi semakin bahagia yang ia rasakan dan sebaliknya, mereka agak sulit menerima pemberian. 

Meskipun begitu, kaum pemberi pun masih ingin diberi. Seperti mengharapkan imbalan psikologis atau sosial, misalnya saja ucapan terima kasih, harga diri, dan kepercayaan dari orang lain. Hal ini tidak berlaku saat seseorang melakukan altruisme, yakni pemberi/penolong berkorban tanpa mengharapkan imbalan atas kesukarelaannya. Dan ini berasal dari motivasi dalam diri, tanpa memikirkan dampaknya bagi si penolong. Contoh konkretnya adalah, para pejuang yang bertempur di medan perang atau para tenaga medis dan sukarelawan yang sedang berjuang di garda depan, menghadapi pandemi covid 19 yang sedang terjadi sekarang.

Tipe Penerima
Beda halnya dengan si pemberi, si penerima merasa sangat berbahagia jika mendapat pemberian. Mereka merasa diperhatikan dan dihargai. Apalagi jika sering diberi dan mendapatkan dukungan, sering mendapatkan bantuan akan membuat mereka kadang lupa diri. Namun seiring dengan semakin banyak pemberian yang mereka dapatkan, maka keterikatan pun akan semakin dalam. 

Akan tetapi, tidak selamanya pemberian secara terus menerus akan membuat mereka nyaman. Jika mereka mendapatkan terlalu banyak, bisa timbul perasaan bersalah atau rasa tidak enak dalam diri mereka. Apalagi, jika selalu diperhatikan dan didukung tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk si pemberi. Dan mulai memiliki pikiran, takut untuk menyusahkan si pemberi.


Kebaikan Berbagi itu Menular

Hasil penelitian Proceedings of the National Academy of Science, yang dilakukan oleh James Fowler dari University of California, San Diego dan Nicholas Christakis dari Harvard menunjukkan bahwa, ketika seseorang berlaku baik dan murah hati, hal itu menginspirasi mereka yang mengamatinya, untuk bersikap baik ketika ia bertemu dengan orang lain.

Dan nyatanya, para peneliti memang menemukan bahwa perilaku mementingkan orang lain bisa menyebar hingga tiga lapis komunitas, di sekitar orang pertama yang melakukannya (ripple effect). Seperti ketika air terkena lemparan kerikil dan menimbulkan gelombang percikan air layaknya pola melingkar, berlapis-lapis dan semakin besar.

Ketika kita berbagi, kebaikan itu akan terus berlanjut seperti sebuah pertandingan lari estafet, dimana orang yang menerima kebaikan dari seseorang akan melakukan kebaikan juga bagi orang lain. Bila kita meyakini bahwa kebaikan adalah sebuah lingkaran, maka kebaikan yang kita beri dengan berbagi itu, akan kembali lagi pada kita. Meski akan kita dapati, lewat bentuk dan dengan orang yang berbeda.


Karena sesungguhnya, aktivitas memberi dan menerima ini sama-sama membuat bahagia dan menghadirkan rasa syukur.


Tak Ada Batasan dalam Berbagi 

Tidak hanya si kakek pengusaha kaya, para artis dan influencer Indonesia pun turut mengajak para followers-nya untuk ikut berdonasi, membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi.

Tidak tanggung-tanggung, melalui website tagar.id diketahui, donasi yang terkumpul telah berhasil mencapai angka nominal yang fantastis, dimulai dari angka 9 juta hingga 2,6 miliyar rupiah.

Selain itu, ada juga yang langsung turun ke jalan, membagikan alat pelindung diri (APD), sembako, uang, makanan dan memborong dagangan para pedagang kecil di pinggir jalan.


"Kita berbagi bukan karena kita kaya. Tapi karena kita tahu rasanya lapar dan nggak punya apa-apa."

Kata-kata ini mengingatkan saya, bahwa siapapun bisa berbagi kebaikan meskipun dengan keadaan  financial dan ruang gerak yang masih terbatas. Minimal kita bisa menyumbangkan tenaga atau pikiran, agar bisa bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan.

Contohnya saja seperti beberapa teman di facebook, yang memiliki ribuan follower. Mereka mempersilahkan siapa saja yang memiliki usaha, untuk mempromosikan dagangan mereka di kolom komentar secara gratis. Lalu, ada lagi beberapa blogger yang membuka kelas penulisan berbayar, yang nantinya akan disumbangkan untuk penggalangan dana COVID 19.

Ada juga yang berbagi ke beberapa teman yang membutuhkan, dan beramai-ramai mempergunakan jasa ojek online untuk melakukan pengiriman barang atau memesan makanan untuk mereka. 

Tidak sampai disitu saja, beberapa blogger turut membagikan masker dan hand sanitizer sekaligus menggalang donasi, bagi para tunawisma yang terdampak COVID 19. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang teman blogger bersama komunitasnya.

Dan semoga saja, dengan menuliskannya disini juga bisa menjadi cara bagi saya, untuk menebar kebaikan.


kita juga bisa menebar kebaikan disekitar rumah kita sendiri, seperti ibu saya misalnya. Setiap pulang dari pasar dengan berjalan kaki, beliau kerapkali mendatangi rumah tetangga yang ada di sepanjang jalan menuju rumah, untuk sekedar berbagi satu atau dua belanjaannya kepada mereka yang membutuhkan. Entah itu makanan, buah, lauk atau keperluan sehari-hari. Apalagi jika mereka datang ke rumah, biasanya akan mendapat oleh-oleh makanan atau apapun (selagi ada), untuk dibawa pulang.



Tepat Sasaran dalam Menebar Kebaikan

Begitu  banyak  orang  di  dunia  ini  yang  bersedia  memberikan  pertolongan  kepada sesama dan mengetahui artinya kebaikan berbagi,  akan  tetapi  tidak  semua perbuatan baik tersebut diketahui orang banyak. Beberapa diantaranya diketahui secara luas, justru karena tersebar di dunia maya.

Saya sering mendengar ada tetangga yang lebih mampu dan berkecukupan, mendapatkan sumbangan sembako dan surat keterangan miskin atau tidak mampu dari RT. Begitu juga setelah membaca timeline di social media, ternyata ada beberapa teman yang menyadari hal tersebut terjadi di sekeliling mereka.

Seperti di jaman ketika saya kecil, dimana teknologi informasi masih sangat terbelakang. Bantuan diumumkan di depan banyak orang, tapi hanya di sekitar lingkungannya saja. Seringnya jalan di tempat atau malah berhenti di beberapa orang. Informasi yang didapat pun belum tentu sampai ke orang yang berhak menerima. Selebihnya hanya di sampaikan dari mulut ke mulut dan biasanya sudah terlambat. Siapa cepat, maka dia yang dapat.

Dulu sekali, saya sering bertanya-tanya. Mengapa banyak tetangga yang mendapatkan sumbangan uang, barang, zakat atau daging kurban saat hari raya, sedangkan kami tidak. Padahal, jika dibandingkan dengan tetangga sekitar, keadaan kami pada saat itu cukup menyedihkan. Karena orangtua saya hanya mengandalkan warung kecil sebagai mata pencaharian dan sempat menganggur karena bangkrut. Tidak ada lagi yang bisa dijual akibat dampak krisis moneter tahun 1998. Sementara ada 8 orang anak yang menunggu untuk diberi makan. 

Setiap kami protes karena tidak kebagian jatah sumbangan, Ibu saya selalu menjawab, "biarkan saja, mungkin disini lebih banyak yang hidupnya lebih susah dari kita." Dengan prinsip bapak yang juga tidak ingin harga dirinya jatuh karena meminta-minta, kami yang masih kecil pun jadi merasa semakin tersudutkan dari lingkungan, karena tak ada yang peduli.

Teringat kembali ketika saya menginjak bangku SMA. Ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa untuk anak tidak mampu. Yang membuat saya tidak habis pikir, beasiswa itu baru diketahui teman-teman yang lain justru setelah dana beasiswa itu dibagikan ke para penerima (tidak diumumkan). Yang nota bene, si penerima terpilih bahkan jauh lebih mampu, dari teman-teman yang saya ketahui betul bagaimana kondisi keluarganya.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika saya sudah bekerja, seorang kenalan berhasil mendapatkan surat keterangan miskin untuk mendapatkan beasiswa, sedangkan statusnya saat itu adalah seorang mahasiswa kedokteran bonafide, dengan dukungan fasilitas dan finansial dari Orangtua yang bisa dibilang lebih dari cukup. 

Menebar Kebaikan melalui Dompet Dhuafa

Agar bantuan kita bisa disalurkan kepada mereka yang memang membutuhkan dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya, kita bisa menjadikan Dompet Dhuafa sebagai wadah untuk berdonasi. 

Karena Dompet Dhuafa (DD) adalah Lembaga Amil Zakat milik masyarakat, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta Dana Sosial Kemanusiaan lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan sejak tahun 1993. 

Donasi yang dikelola juga mampu mengentaskan kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi. Mereka bukan saja “memberi ikan”, namun “memberi kail” dan melatih para penerima donasi, agar mampu bertahan bahkan berpindah dari penerima menjadi pemberi donasi (ripple effect).




Selain karena memiliki 5 pilar program utama yang memiliki tujuan besar dalam mengentaskan kemiskinan, Dompet Dhuafa juga menggunakan data penerima manfaat dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), berdasarkan Sensus Penduduk, Survei Sosial Ekonomi dan Potensi Desa (PODES). TNP2K juga mendata rumah tangga lain yang diduga miskin berdasarkan informasi dari rumah tangga miskin lainnya (dengan melakukan konsultasi bersama penduduk miskin selama proses pendataan), serta hasil pengamatan langsung di lapangan. Jadi, dipastikan tepat sasaran dan bisa dipertanggungjawabkan.


Di masa pandemi seperti sekarang, kita mengalami kesulitan untuk berbagi karena diberlakukannya kebijakan Work From Home (WFH), School From Home (SFH), Stayathome, Physical Distancing, Social Distancing, PSBB dan lain-lain, demi untuk memutus rantai penyebaran wabah COVID 19. Yang secara tidak langsung, berdampak besar dari segi ekonomi, khususnya bagi masyarakat menengah kebawah. Seperti contohnya, mereka yang menggantungkan hidup dari pendapatan sehari-hari, dengan pekerjaan yang mengharuskan untuk berinteraksi dari jarak dekat dan berada diantara orang banyak.




Karena itu, Dompet Dhuafa juga membuka donasi berupa sembako bagi masyarakat yang terdampak Corona. 


Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat disini. Jika ingin menyalurkan bantuan berupa dana, cukup dengan mengklik  :  https://donasi.dompetdhuafa.org 




Disana kita bisa langsung mengisi data dengan memilih Jenis Donasi. Apakah itu Zakat, Infak/Sedekah, Kemanusiaan, Wakaf dan lain-lain. Setelah itu, mengenai Pengkhususan Donasi, apakah itu Zakat Maal, Zakat Fitrah, Zakat Penghasilan atau Fidyah. 
Lalu, kita tinggal mengisi Informasi lengkap Profil Donatur dan memilih metode pembayaran. Setelah selesai, tinggal klik Donasi Sekarang! Lalu akan terbuka halaman informasi pembayaran, yang juga akan kita terima melalui email. Setelah melakukan transfer, kita tinggal mengkonfirmasi pembayaran dengan mengupload bukti transfer.  
Informasi dan Konfirmasi :
  • Call Center 021-7416050
  • SMS 0812 1292 528
  • Email layandonatur@dompetdhuafa.org
  • www.dompetdhuafa.org




Referensi :
# Shadiqi, M. A. 2018. Perilaku Prososial. Dalam A. 
   Pitaloka, Z. Abidin, & M. N. Milla (Eds.), Buku psikologi sosial, pengantar teori dan penelitian 
   (227-260)
# https://greatmind.id
# https://pijarpsikologi.org
# Dompet dhuafa.org
# https://bdt.tnp2k.go.id
# Liputan6.com

Akibat Sembarang Diet

13:27 37
Akibat Sembarang Diet

Beberapa tahun yang lalu, berat saya pernah turun hingga 15 kg dalam beberapa bulan setelah melahirkan, tanpa diet dan olahraga. Kok bisa? Gimana caranya? Yah, dengan mengkonsumsi makanan sehat, pastinya. Tapi sayangnya itu tidak bertahan lama. Hanya berlangsung selama 3 bulan, lalu muncul gejala mual-mual, kepala terasa berat dan sering pusing berhari-hari. Setelah melakukan medical check-up ke dokter spesialis penyakit dalam, ternyata saya menderita sakit maag, asam lambung dan kolesterol tinggi. Untuk sementara, diet saya stop dulu. Jadi, kesempatan untuk terlihat langsing pun tertunda lagi.

Setelah mulai belajar dan mendapatkan banyak informasi, akhirnya saya sadar kalo penyakit yang saya dapatkan, adalah karena kesalahan pola makan dan nutrisi yang tidak seimbang. Meskipun semua yang dimakan adalah realfood, tapi saya tidak menakar, bahkan mengkonsumsi makanan yang sama berhari-hari dan kadang sengaja mengurangi porsi makan untuk berhemat. Yang terpenting makanan itu sedikit, tidak di goreng, dan bukan nasi putih. Yang juga berarti, bisa mengurangi pengeluaran termasuk kebutuhan bahan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng dan lain-lain. Nah, sedangkal itulah ilmu perdietan saya saat itu.


Mengurangi Waktu Makan untuk Berhemat

(Mengurangi waktu makan disini, maksudnya bukan dalam satu kali makan di double jadi dua porsi, yak)๐Ÿ˜‚. Keluarga kami biasanya makan tiga kali sehari di awal-awal bulan dan berubah menjadi dua kali sehari ketika menuju akhir bulan (bagi yang dewasa saja). Jika pandemi ini belum berakhir sebulan kedepan, maka kebiasaan makan itu bisa saja berubah dari tiga kali menjadi dua kali, dan yang dua kali menjadi hanya sekali sehari (tenaaang.. blom nyampe ke level makan obat maag tiga kali sehari, kok)๐Ÿ˜‚. 


Mengingat sebentar lagi kita akan menyambut bulan ramadhan, saya mungkin harus berpikir lagi untuk mengatur ulang pengeluaran, agar bisa tetap melaksanakan sahur dan berbuka puasa sesuai sunah rasulullah.

“Bersahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari Muslim)

Selain untuk berhemat, banyak juga orang yang melewatkan waktu sahur begitu saja seakan-akan bukanlah hal penting. Alasannya, karena merasa kuat berpuasa tanpa sahur atau karena malas bangun dan lebih memilih untuk melanjutkan tidur. Atau seperti adik saya yang tidak semangat untuk sahur, karena makanan yang disajikan tidak cocok dengan seleranya.

Ada juga yang melaksanakan sahur, tapi tidak melakukannya sesuai sunnah yang telah dianjurkan. Misalnya dengan makan sahur 2 jam lebih cepat biar tidak kebablasan atau karena memang belum tidur setelah tengah malam kemudian langsung sahur, lalu tidur lagi sampai pagi.


“Dari Abu Dzar, Nabi Saw berkata: “Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Ahmad).


Mempraktekkan Pola Makan yang Benar

Kebiasaan mengurangi waktu makan itu mungkin bisa mempermudah. Tapi jika terus-terusan tanpa memperhatikan batasan kalori perhari, dipastikan akan berakibat buruk pada kesehatan. Kita mungkin menjadi kurus dan mengalami penurunan berat badan, tapi tubuh kita pada akhirnya akan mengalami kekurangan gizi dan nutrisi. Yang membuat organ-organ di dalam tubuh tidak bisa bekerja secara maksimal. Efek terburuknya adalah, bisa menyebabkan kegagalan fungsi pada organ. Sehingga badan kita menjadi lemah dan mudah terserang penyakit.

Diet itu artinya Pola Makan. Maka kita harus mencari tau berapa BMR (Basal Metabolic Rate) agar kita tau berapa kalori minimal dalam sehari saat tubuh tidak melakukan apa-apa, seperti memompa jantung, bernapas, memperbaiki sel tubuh, mempertahankan suhu tubuh, dan lain-lain. Dan juga, berapa TDEE (BMR + kegiatan selama sehari) disini. Maka kita akan mendapatkan jumlah kalori harian untuk mengatur diet perhari yaitu berada di atas BMR dan di bawah TDEE.

Bagaimana cara menghitung kalori yang akan masuk ke tubuh kita? Dengan menimbang makanan atau menggunakan kepalan tangan. Jika ingin lebih praktis, bisa menggunakan piring yang memiliki sekat untuk mempermudah kita menentukan takaran (lihat gambar pertama).


Karena itu, menjaga pola makan sehat itu sangat penting sekali, baik itu di masa pandemi seperti sekarang ataupun tidak. Apalagi di saat kita ingin menurunkan berat badan agar terlihat langsing dan ideal. Pelajari pola makan sehat yang benar agar tidak berimbas di kemudian hari. Karena yang harus berkurang itu adalah lemak, baru berat badan menyusul kemudian.


Berikut Tips dan alternatif agar langsing tapi tetap sehat dan hemat, khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini :

  1. Mengkonsumsi karbo kompleks seperti jagung, ubi, kentang, labu kuning. Jika masih punya duit bolehlah sesekali  makan nasi merah, oatmeal, sereal dari gandum utuh atau mungkin roti gandum sebagai pengganti karbohidrat dari nasi. Sebenarnya boleh saja mengkonsumsi nasi putih, karena indeks glikemiknya ternyata tidak jauh berbeda dengan nasi merah, asalkan porsinya dikurangi dan bukan penderita diabet.
  2. Telur, tahu, tempe, toge, susu kedelai, ikan, kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang tanah, dada ayam tanpa kulit, putih telur, sebagai sumber protein rendah lemak, pilih yang murah meriah tapi tinggi gizi.
  3. Gunakan wajan anti lengket setiap kali menggoreng  atau menumis makanan. Karena tingginya kadar lemak jenuh yang dimiliki oleh minyak kelapa sawit, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
  4. Selain merebus, bisa juga dengan mengukus atau memanggang agar rasa dan nutrisi makanan tidak hilang atau rusak. Dengan begitu masakan jadi lebih sehat dan kita juga bisa berhemat, karena tidak memakai minyak goreng sama sekali.
  5. Kurangi mengkonsumsi gula dan tepung-tepungan. Pemanis alami bisa didapat dari buah atau madu. 
  6. Mengkonsumsi sayuran atau serat. Lebih bagus jika ditanam sendiri, selain menghindari terpapar pestisida juga akan menghemat pengeluaran.
  7. Mengkonsumsi lemak baik seperti ikan, alpukat, kacang tanah, kacang almond, kacang mete, kacang kenari, minyak zaitun, minyak kelapa (bukan kelapa sawit) tinggal pilih yang paling terjangkau.
  8. Mengkonsumsi vitamin dan mineral yang terdapat pada buah dan sayur-sayuran lokal atau yang sedang musim.
  9. Mengganti Suplemen dengan Jamu-jamuan. Bisa juga dengan minuman tradisional yang menggunakan rempah atau rimpang-rimpangan.
  10. Belajar mengerem ketika makan, meskipun yang dikonsumsi adalah sayur atau buah. Walaupun sehat tapi makan berlebihan itu tetap saja tidak baik, yang pada akhirnya akan ikut ambil bagian dalam kenaikan berat badan.
  11. Membatasi info-info yang membuat kita semakin tertarik untuk mencari makanan, seperti lewat internet dan media sosial.
  12. Menjauhi semua fasilitas yang mempermudahkan kita untuk memperoleh camilan tidak sehat.
  13. Lebih banyak bergaul dan berkomunikasi dengan yang seide dan sejalan soal kesehatan dan juga pola makan.
  14. Bergabung ke dalam komunitas yang bisa membuat kita termotivasi untuk menjaga pola makan dan hidup sehat.
  15. Olahraga di rumah, berdayakan saluran olahraga di youtube sebagai instruktur virtual. Jika tidak, lakukan angkat beban (pake botol air mineral diisi pasir pun bisa) atau skipping. Tidak mengapa sedikit-sedikit yang penting dikerjakan secara rutin dan seterusnya.
  16. Say no to Mager, misalnya dengan melakukan pekerjaan rumah lebih intens agar kalori terbakar tanpa harus berolahraga keluar rumah. Meskipun receh, tapi aktivitas tersebut juga berkontribusi menghilangkan lemak berlebih di tubuh kita. Apalagi buat yang masih punya anak kecil, bisa dimanfaatkan sebagai alat olahraga angkat beban juga.
  17. Belajar memanajemen stress.
  18. Stop begadang, selain mengurangi imunitas, juga menghambat pembakaran kalori.
  19. Minum air 2 liter per hari. Minum air berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan, karena akan memaksa organ di dalam tubuh kita bekerja lebih keras.
  20. Nah buat emak-emak yang doyan sisa makan anaknya (saya banget ini mah) ๐Ÿ˜‚untuk mensiasati agar makanan sisa tidak terbuang begitu saja, karena tidak dimakan emaknya lagi (emaknya pengen diet), tinggal pelihara ayam aja. Sisa makanan si adek jadi jatah buat ayam, biar ayamnya jadi sehat dan bergizi alias gendut. Dengan memelihara ayam, kita bisa mendapatkan profit protein hewani gratis dari telurnya, apalagi pas di tanggal tua.๐Ÿ˜‚
Dengan pola makan sehat dan seimbang, kita tidak akan merasa tersiksa lagi karena rasa lapar. Caranya gimana? Dengan mengkonsumsi makanan yang mengenyangkan pengganti karbohidrat, yakni dengan menambahkan serat lebih banyak, seperti karbo kompleks, buah dan juga sayuran.


Mengurangi Lemak Setiap Hari (Defisit Kalori)

Melalui Jurnal Dr. Melyanti, dikatakan bahwa "Untuk membuang 1 kg lemak dari tubuh, kita harus mengurangi (defisit) sebanyak 7700 kalori. Nah jika saya sehari bisa defisit rata-rata 300 kalori, maka berat badan saya bisa turun 1 kg dalam waktu 7700 : 300 = 26 hari.

Apa aja yang dimakan????
  • 70-80% realfood seperti nasi, sayur, buah, ikan, dada ayam, daging merah lainnya (tanpa lemak), hati ayam, ampela, oat dan sejenisnya.
  • 20-30% funfood seperti mie, gorengan, kue-kue, donat, martabak, biskuit, cokelat, ice cream, pizza, burger, pasta seperti spageti dan sejenisnya. Jadi bukan berarti kamu 100% kudu makan realfood. Funfood boleh, asal dibatasi jumlahnya. (Biar ga stress, daripada ditahan-tahan, abis itu jadi kalap trus gagal diet, yah kagak bisa juga).๐Ÿ˜…
Misal: 
Saya dulu bisa makan 4-5 pcs gorengan baru puas. Sekarang cukup 1 pcs saja, maksimal 3 pcs/minggu.
Dulu makan donat kudu 2 pcs. Sekarang kalo pas dibeliin ya makan aja 1 pcs.
Dulu makan mie/indomie 3x/minggu, sekarang cukup 3x/bulan.
Dulu makan pizza harus 2 slice, sekarang cukup 1 slice.
Dulu makan pisang molen bisa 3 pcs, sekarang cukup 1 pcs.

Jadi lebih banyak makan sayur, buah, dada ayam, ikan, telur, putih telur, nasi 1/2 porsi dari biasanya (kira-kira 100-150 gram di siang hari). Gak ada pantangan terhadap makanan, kecuali yang haram dan alergi buat kamu. Karena kuncinya itu tetep ada di defisit kalori.

Memang terlihat lama, tapi di jalankan saja. Nanti berat badan akan tetap stabil di bawah dan gak gampang naik. Yang terpenting bukan berapa lama dan berapa hasilnya, tapi....MEMBENTUK POLA HIDUP SEHAT itu butuh waktu minimal 3 minggu. Kalau pola hidupmu sudah bisa sehat (defisit kalori yang bener dan olahraga yang bener), ini artinya prosesnya bener dan nanti hasilnya juga pasti bener. Lakukan aja 3 bulan, lihat hasilnya bertahap.

Gak ada proses turun berat badan yang instan tapi sehat. Instan tapi berbahaya bagi tubuh, malah merugikan kamu sendiri. Lakukan bertahap tapi sehat itu lebih baik dan ilmu yang kita dapat bisa kita pakai dan share sampai kapanpun."

Nah, setelah mempraktekkan apa yang saya pelajari selama beberapa bulan belakangan, berat saya turun sebanyak 7 kg. Perubahan yang paling signifikan adalah :
๐ŸŒธ Rambut rontok berkurang.
๐Ÿ Kaki tidak kram lagi setiap pagi.
๐Ÿ‰ Gusi tidak berdarah lagi setiap menggosok gigi.
๐Ÿ˜Ž Mata tidak berkunang-kunang lagi setelah bangun tidur.
๐Ÿ‚ Muka lebih sehat dan jarang berjerawat.
๐Ÿ„ Tidak kram perut lagi kalo duduk kelamaan.
๐ŸŒฝ Stress berkurang.
๐Ÿฉ Lemak di perut berkurang sangat banyak.
๐Ÿ‘ฝ Pipi jadi lebih tirus.
☕ Disaat semua orang flu saya sendiri yang tidak.

Demikianlah, kurang lebih manfaat yang saya dapatkan selama belajar membentuk pola makan sehat. Semoga bermanfaat, yak. ๐Ÿ˜



Referensi :
#rizalnutrisionist
#hansboling
#komunitas fatsecret

5 Film tentang Waktu, Paling Berkesan

18:02 55
5 Film tentang Waktu, Paling Berkesan
Adakah diantara kalian yang seperti saya. pengen merubah masa lalu tapi gak bisa-bisa (yah elaaah, semua orang pan emang kagak bisa merubah masa lalu)๐Ÿ˜…. Tapi bisa jadi, itu adalah keinginan semua orang, yak.

Saking banyaknya penyesalan dan hanya bisa berandai-andai, akhirnya memilih untuk menonton film atau cerita fiksinya saja.

Nah, salah satu genre fantasi yang paling cocok adalah film yang bermakna waktu. Entah itu perjalanan hidup dari waktu ke waktu, waktu yang berhenti, teleportasi atau berpindah tempat, dan perjalanan ke masa lalu ataupun sebaliknya.

Jika saja cerita di film itu terjadi dalam hidup kita, pasti seneng banget yak. Atau malah jadi kepikiran dan justru menuai pertanyaan-pertanyaan? Bagaimanakah caranya, agar "masalah" yang ada di dalam film itu tidak terjadi dan bagaimana pula cara mengantisipasinya? 

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Pengennya waktu tuh dicepetin, langsung ke waktu dimana wabah ini telah berakhir, ato kalo bisa kembali ke waktu kita paling bahagia, trus balik lagi ke waktu ketika wabah ini sudah selesai menyerang bumi. (halu teruuus...) ๐Ÿคฃ

Sebenere bukan hanya film, drama berseri yang menceritakan tentang waktu pun tidak sedikit, lebih tepatnya tak terhitung lagi. Tapi karena durasinya lama dan banyak banget yang musti di inget, kayaknya lebih enak ngebahas tentang filmnya aja yak, biar lebih cepet selesai. (Ini aja udah banyak, sepertinya). ๐Ÿ˜‚

1. VANISHING TIME : A BOY WHO RETURNED (2016)


Film ini bercerita tentang anak SD dan 2 orang temannya. Menurut legenda setempat, ketika bulan purnama,  akan muncul sebuah gua misterius yang di dalamnya terdapat monster pemakan waktu atau Goblin. (Yang sukses bikin saya mikir, apakah Goblin yang mereka maksud akan seperti Mas Gong Yoo, ganteng dong, berarti bukan cerita serem ini, yak). Akhirnya karena itu, saya lanjut nonton lagi dan penasaran, seganteng apakah Si Goblin di film ini ๐Ÿคฃ.

Tunggu punya tunggu. Fiuh, ternyata gak sekalipun ditunjukkin mukanya atau apapun yang menggambarkan kemiripan dengan wajah Goblin, yang katanya dulu pernah ada di salah satu drama korea terbeken, berdasarkan rating dan penonton. Akhirnya saya hampir nyerah, ah film biasa aja ini mah, kayak film-film petualangan misteri atau kayak cerita detektif anak-anak karangan Enid Blayton dan sejenisnya.

Tapi ternyata, pendapat saya berubah sewaktu Si Seung Min mengambil telur raksasa di gua misterius tersebut dan memecahkannya bersama kedua orang temannya. Karena tiba-tiba, waktu dan seluruh isi dunia berhenti bergerak, kecuali mereka bertiga.

Perjalanan hidup mereka pun akhirnya dimulai. Hari-hari terus berlalu, matahari masih tak bergerak, air pun tak mengalir. Mereka makan, tidur dengan enak, seeebebas-bebasnya, dan punya banyak uang hasil mengumpulkan lembar demi lembar, dari manusia-manusia yang tengah mematung. Mereka juga memutuskan untuk belajar, karena masih berharap dunia akan kembali seperti semula.

Namun sayangnya, diawal perjalanan, salah seorang temannya meninggal karena penyakit asma yang di deritanya. Mereka pun segera menguburnya di sebuah taman bermain. Uniknya, Seung Min membawa jasad temannya seperti membawa balon, karena tubuh temannya berubah menjadi sangat ringan. Mirip seperti balon bentuk manusia yang sedang meringkuk.

Di dunia nyata, semua orang sibuk mencari mereka bertiga (akhirnya saya paham, ternyata mereka bertiga berada di dimensi lain) ๐Ÿ˜…. Lalu beberapa hari kemudian, jasad temannya Seung Min ditemukan. Dan polisi menetapkan, tiga orang anak kemungkinan diculik dan satu orang telah dibunuh di gunung, lalu jasadnya dikuburkan di taman bermain.

Makin hari umur mereka pun bertambah, hingga mereka berusia 30 tahun. Bagaimana cara Seung Min menghitung usianya, sedangkan hari tak pernah berganti, matahari sedikitpun tak bergeser dari tempatnya? Ternyata, jika mereka tertidur sangat lama, maka itu sudah berlalu satu hari.

Tiap hari mereka dihantui kecemasan karena tak kunjung kembali ke dunia nyata, yang pada akhirnya membuat teman Seung Min memutuskan untuk bunuh diri. Melihat itu Seung Min semakin putus asa, lalu memilih untuk menyusul temannya dengan meloncat ke laut. Tapi di waktu yang sama, waktu akhirnya bergerak, dan Seung Min kembali ke dunia nyata. (Di situ saya langsung nyeletuk, eugh! sayang sekali, temennya nanggung baget. Padahal tinggal sedikit lagi, yak).

Ketika Seung Min kembali, Soo Rin yang masih kelas 6 SD, bertemu dengan orang yang sudah jauh berbeda. Karena bertahun-tahun telah hidup dalam dunia "waktu yang terhenti". Perjuangan Seung Min untuk diakui pun ternyata tak membuahkan hasil, hingga dituduh menjadi salah satu penculik anak-anak yang pernah hilang di gunung. Tapi pada saat itu, hanya Soo Rin lah satu-satunya yang percaya. Karena mereka terhubung melalui diari bertuliskan huruf rahasia, yang pernah diketahui oleh mereka berdua saja.

Film yang juga bertajuk Hidden Time ini memenangkan penghargaan untuk kategori : Korea Top Star Awards, Star Asia Award, Best New Director, Best Music dan Audience Award Vanishing Time: A Boy Who Returned di 12th Festival du Film Corรฉen ร  Paris.

2. WILL YOU BE THERE (2015)


Film Korea yang diangkat dari Novel Perancis berjudul Seras-tu lร ?, oleh Guillaume Musso ini, berkisah tentang seorang dokter (Han Soo Hyun). Dia memiliki masa lalu yang sangat disesalinya. Hingga suatu hari, dia ditugaskan ke Kamboja (menurut beberapa resensi). Tapi waktu saya nonton, saya inget sekali dia bertugas di pedalaman Kalimantan (kalo merujuk dari subtitlenya).

Awal-awal ceritanya seperti kisah cinta biasa, tapi setelah udah berada di tengah-tengah, saya langsung mikir, eh, gimana-gimana tadi kok bisa gitu, yak. Yang ujung-ujungnya, balik lagi nonton ke menit pertama (akibat suka ngeremehin cerita film). ๐Ÿ˜‚ 

Han Soo Hyun mendapatkan beberapa buah pil yang bisa membuatnya tertidur, Di dalam tidurnya itu, dia kembali ke masa lalu. Disana dia bertemu dengan dirinya yang masih muda (30 tahun sebelumnya). Dengan pil itu dia berusaha mengubah takdir, dengan mencegah kematian kekasihnya. Sayangnya, Si Dokter atau Han Soo Hyun telah memiliki anak dari wanita lain. Jika dia merubah  takdir, maka dia tidak akan pernah lagi melihat anaknya, karena memang tidak pernah ada jika masa lalunya berubah.

Dari situ perjuangannya berlanjut, termasuk dengan merubah takdir temannya yang meninggal begitu cepat dan ketika dia pasrah saat menderita kanker paru-paru. Setelah dia meninggal, temannya memakan pil terakhirnya, dan mencoba mengubah takdir Han Soo Hyun. 

Awards : Pemenang Popularity Award di 37th Golden Cinema Film Festival dan Nominasi Best New Actor di 54th Grand Bell Awards.


3. FATHER AND DAUGHTER (2000) A FILM BY MICHAEL DUDOK De WIT



Film pendek tanpa dialog, yang berasal dari negeri Kincir Angin ini, mampu menyampaikan pesannya yang sangat mendalam kepada penonton. Dengan menyajikan ilustrasi yang sederhana juga diiringi suara musik, namun menarik. Kita akan terus melihat pemandangan jalan di sepanjang cerita, lalu berakhir di tepi sungai. Dimana sang ayah berpamitan kepada putrinya untuk pergi ke suatu tempat dan sepertinya akan lama.

Keesokan harinya, putrinya kembali ke tepi sungai dan berharap sang ayah akan segera pulang. Namun, terus berulang-ulang sampai ia dewasa, ayahnya tak jua kembali. Hingga suatu hari, putrinya menyusuri sungai yang telah mengering. Dia menemukan bahwa perahu yang ditumpangi ayahnya telah terbalik dan sang ayah telah tiada. 

Di akhir cerita, putrinya yang telah menua seolah berhalusinasi kembali ke masa kecil, dia bertemu lagi dengan ayahnya dan segera memeluknya.

Film ini mendapatkan 20 penghargaan dan 1 nominasi, diantaranya adalah :
BAFTA Award for Best Short Animation (25 February 2001), Academy Award for Best Animated Short Film (25 March 2001), Grand Prix at World Festival of Animated Film - Animafest Zagreb in 2002.


4. LA MAISON EN PETITS CUBES (2008)


La Maison en Petits Cubes ato nama lainnya (ใคใฟใใฎใ„ใˆ, Tsumiki no Ie, "The House of Small Cubes") adalah sebuah animasi yang mengingatkan kita pada gaya lukisan khas Eropa modern di awal abad ke-19 yang dipelopori oleh Pablo Picasso atau Salvador Dali.

Pemilihan judul yang menggunakan bahasa Perancis (La Maison en Petits Cubes) menegaskan nuansa Eropa dalam film animasi berdurasi sekitar 12 (dua belas) menit ini. Audiens seperti digiring untuk mempercayai bahwa film animasi ini benar-benar produksi Eropa atau Perancis. Sampai di akhir film, audiens akan dikejutkan oleh sederetan nama-nama Jepang yang mengisi credit title. 

Film yang juga tanpa dialog ini, bercerita mengenai perjalanan seorang lelaki tua dalam membongkar masa lalunya. Banyak menampilkan tanda-tanda visual metaforik dengan makna berlapis. Dimulai dari rasa sepinya pada kesendirian, di sebuah lingkungan yang semua rumahnya berbentuk kubus, yang berulang kali harus di renovasi jika ketinggian air semakin bertambah. Kisahnya banyak menunjukkan kegiatannya di hari tua dan kerinduannya di masa lalu. Ketika dia kecil, bertemu kekasihnya, menikah, punya anak, lalu cucu, hingga bagaimana ia berakhir di rumah itu sendirian.

Diiringi musik Kenji Kondo, film ini menyajikan gaya surealis dan hiperbolis yang ditampilkan dalam warna-warna kelam dan penggambaran objek yang berbeda dengan film animasi komersial populer, film animasi besutan sutradara Kunio Kato ini tidak terlalu berambisi mengejar profit. (Berat banget bahasanya, yak) ๐Ÿ˜‚ karena infonya ini, di dapat dari Paper yang berjudul Mitologi Film Animasi La Maison En Petits Cubes yang ditulis oleh Ardiyansyah. ๐Ÿ˜

Film ini berhasil memenangkan Academy Award yang ke 81 pada tahun 2009 sebagai Film Animasi Pendek Terbaik, dan meraih penghargaan The Annecy Cristal pada Annecy International Animated Film Festival yang ke 32.

Selain itu, pada tahun 2008 mendapatkan Hiroshima Prize di Hiroshima International Animation Festival, Grand Prize – Animation Division di Japan Media Arts Festival, Junior Jury Award di Annecy International Animated Film Festival, Best Animated Film di Message to Man, Best Script – Jury Award di Anima Mundi, dan terakhir Best Animation di LA Shorts Fest.


5. ANONIM (Lupa Judulnya) ๐Ÿ˜‚

Sebenernya, ada film barat satu lagi tapi karena udah lama jadi saya lupa judulnya. Gambar covernya itu, dia lagi duduk diatas sejenis gajah purbakala (kalo gak salah). Google juga udah tak ubek-ubek tapi masih aja gak ketemu. Tapi ya sudahlah, tak ceritain aja kisahnya yaahhh.. ๐Ÿ˜

Cerita filmnya berawal dari sang keponakan yang mendapatkan surat warisan. Sang keponakan diminta menjaga makam pamannya dan mengurus harta benda yang ditinggalkannya. Nah, sementara itu, pamannya ini ternyata telah terteleportasi untuk ke dua kalinya ke planet lain dan masuk ke tubuh orang sana (untuk urusan travel timenya inih mirip-miriplah seperti avatar tapi bukan menggunakan teknologi mungkin lebih seperti kekuatan ghaib, yang terjadi di sebuah gua (cmiw).

Sebelumnya, di planet tersebut dia menjadi seorang prajurit rendah, tapi memiliki kemampuan luar biasa. Badannya menjadi elastis, bisa meloncat kesana sini, dan memiliki kemampuan bertarung yang hebat diatas rata-rata.

Karena sepertinya dia tidak akan pernah kembali ke bumi, akhirnya dia benar-benar mencoba bertahan hidup dan ikut berperang membela kerajaan dan galaksinya. Hingga pada akhirnya, dia berhasil memenangkan peperangan, dan menemukan cinta sejatinya.

Tapi sayang, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba dia kembali ke bumi disaat dia akan menikahi kekasihnya, yang adalah seorang putri raja. Karena merasa hidupnya tiba-tiba menjadi tak berarti dan kehilangan orang yang dikasihi, dengan sekuat tenaga dan segala cara akhirnya dia berusaha kembali ke planet dimana sang putri berada.

Nah, dari cerita diatas. Kira-kira adakah yang tau dengan judulnya ? ๐Ÿ˜‚

Trus kalo kalian gimana? Adakah film ato drama yang paling nyantol di benak kalian? Yang bikin kalian terus terngiang-ngiang dan paling membekas hingga sekarang ? Cerita dong

sumber : wikipedia