uzegan

Ripple Effect karena Berbagi

14:42 32
Ripple Effect karena Berbagi


Belum lama ini, saya sempat melihat berita viral yang bersliweran di internet. Dimana seorang kakek tua pengusaha kaya dari solo, turun ke jalan ditengah pandemi yang sedang mewabah.

Demi upayanya untuk menebar kebaikan, beliau memutuskan untuk secara langsung menghampiri tukang becak, tukang sol sepatu, pedagang kecil, karyawan toko, anak yatim piatu, janda dan warga berpenghasilan rendah. Untuk diberikan 2 bungkus beras seberat 5 kg, serta uang sebesar 100 ribu rupiah/orang.

Terakhir diketahui, beliau membagikan 500 kg beras dan uang sebesar 10 juta rupiah untuk 100 orang yang tidak mampu, setiap hari dalam sepekan.


Dengan berkeliling dan membagikannya sendiri, beliau berharap apa yang dilakukannya dapat dicontoh oleh banyak pihak. Yang sekiranya memiliki kemampuan lebih dan juga mau memahami pentingnya arti kebaikan berbagi. Terutama untuk membantu saudara-saudara yang sedang terhimpit, di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk memperoleh penghasilan.

Tak terhitung yang mendoakan, begitu pula yang menghujat, tak pernah ketinggalan. Ada netizen yang bilang itu pamer atau riya', ada juga yang bilang demi kepentingan politik. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang, masih sempatkah kita mencari keuntungan dalam kesempitan? saya rasa, hal itu bahkan tidak penting lagi bagi si penerima.


Ketika Kita Berbagi, Kita Sebenarnya sedang Menerima 

Sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Professor Michael Norton di Harvard Business School menemukan bahwa, memberi uang pada orang lain lebih meningkatkan kebahagiaan orang-orang yang diteliti, ketimbang digunakan untuk keperluannya sendiri. Rasa bahagia itu akan lebih mudah membuat orang-orang untuk memberi atau menularkan kebaikan.

Pada 2006, Jorge Moll dan koleganya di National Institute of Health juga menemukan bahwa, ketika sesorang memberi atau menolong, hal tersebut mengaktifkan bagian-bagian otak yang terhubung dengan kenikmatan, koneksi sosial, dan kepercayaan yang kesemuanya menciptakan efek pendar yang hangat. Sehingga dapat mengeluarkan endorfin di otak dan menghasilkan sebuah perasaan positif yang disebut sebagai “helper’s high”.


“Berbuat baik dan murah hati akan membawa orang lain menjadi lebih positif dan lebih ingin berbagi,” - Buku The How of Happiness oleh Lyubomirsky -


Dua Tipe pada Diri Manusia

Tipe Pemberi
Ada orang yang senang memberi tapi juga berharap mendapatkan balasan. Dan akan kecewa jika terlalu banyak memberi tapi tidak mendapatkan apa-apa. Ada juga yang akan merasa berbahagia jika bisa memberikan sesuatu kepada orang lain (tanpa pamrih). Semakin banyak memberi semakin bahagia yang ia rasakan dan sebaliknya, mereka agak sulit menerima pemberian. 

Meskipun begitu, kaum pemberi pun masih ingin diberi. Seperti mengharapkan imbalan psikologis atau sosial, misalnya saja ucapan terima kasih, harga diri, dan kepercayaan dari orang lain. Hal ini tidak berlaku saat seseorang melakukan altruisme, yakni pemberi/penolong berkorban tanpa mengharapkan imbalan atas kesukarelaannya. Dan ini berasal dari motivasi dalam diri, tanpa memikirkan dampaknya bagi si penolong. Contoh konkretnya adalah, para pejuang yang bertempur di medan perang atau para tenaga medis dan sukarelawan yang sedang berjuang di garda depan, menghadapi pandemi covid 19 yang sedang terjadi sekarang.

Tipe Penerima
Beda halnya dengan si pemberi, si penerima merasa sangat berbahagia jika mendapat pemberian. Mereka merasa diperhatikan dan dihargai. Apalagi jika sering diberi dan mendapatkan dukungan, sering mendapatkan bantuan akan membuat mereka kadang lupa diri. Namun seiring dengan semakin banyak pemberian yang mereka dapatkan, maka keterikatan pun akan semakin dalam. 

Akan tetapi, tidak selamanya pemberian secara terus menerus akan membuat mereka nyaman. Jika mereka mendapatkan terlalu banyak, bisa timbul perasaan bersalah atau rasa tidak enak dalam diri mereka. Apalagi, jika selalu diperhatikan dan didukung tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk si pemberi. Dan mulai memiliki pikiran, takut untuk menyusahkan si pemberi.


Kebaikan Berbagi itu Menular

Hasil penelitian Proceedings of the National Academy of Science, yang dilakukan oleh James Fowler dari University of California, San Diego dan Nicholas Christakis dari Harvard menunjukkan bahwa, ketika seseorang berlaku baik dan murah hati, hal itu menginspirasi mereka yang mengamatinya, untuk bersikap baik ketika ia bertemu dengan orang lain.

Dan nyatanya, para peneliti memang menemukan bahwa perilaku mementingkan orang lain bisa menyebar hingga tiga lapis komunitas, di sekitar orang pertama yang melakukannya (ripple effect). Seperti ketika air terkena lemparan kerikil dan menimbulkan gelombang percikan air layaknya pola melingkar, berlapis-lapis dan semakin besar.

Ketika kita berbagi, kebaikan itu akan terus berlanjut seperti sebuah pertandingan lari estafet, dimana orang yang menerima kebaikan dari seseorang akan melakukan kebaikan juga bagi orang lain. Bila kita meyakini bahwa kebaikan adalah sebuah lingkaran, maka kebaikan yang kita beri dengan berbagi itu, akan kembali lagi pada kita. Meski akan kita dapati, lewat bentuk dan dengan orang yang berbeda.


Karena sesungguhnya, aktivitas memberi dan menerima ini sama-sama membuat bahagia dan menghadirkan rasa syukur.


Tak Ada Batasan dalam Berbagi 

Tidak hanya si kakek pengusaha kaya, para artis dan influencer Indonesia pun turut mengajak para followers-nya untuk ikut berdonasi, membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi.

Tidak tanggung-tanggung, melalui website tagar.id diketahui, donasi yang terkumpul telah berhasil mencapai angka nominal yang fantastis, dimulai dari angka 9 juta hingga 2,6 miliyar rupiah.

Selain itu, ada juga yang langsung turun ke jalan, membagikan alat pelindung diri (APD), sembako, uang, makanan dan memborong dagangan para pedagang kecil di pinggir jalan.


"Kita berbagi bukan karena kita kaya. Tapi karena kita tahu rasanya lapar dan nggak punya apa-apa."

Kata-kata ini mengingatkan saya, bahwa siapapun bisa berbagi kebaikan meskipun dengan keadaan  financial dan ruang gerak yang masih terbatas. Minimal kita bisa menyumbangkan tenaga atau pikiran, agar bisa bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan.

Contohnya saja seperti beberapa teman di facebook, yang memiliki ribuan follower. Mereka mempersilahkan siapa saja yang memiliki usaha, untuk mempromosikan dagangan mereka di kolom komentar secara gratis. Lalu, ada lagi beberapa blogger yang membuka kelas penulisan berbayar, yang nantinya akan disumbangkan untuk penggalangan dana COVID 19.

Ada juga yang berbagi ke beberapa teman yang membutuhkan, dan beramai-ramai mempergunakan jasa ojek online untuk melakukan pengiriman barang atau memesan makanan untuk mereka. 

Tidak sampai disitu saja, beberapa blogger turut membagikan masker dan hand sanitizer sekaligus menggalang donasi, bagi para tunawisma yang terdampak COVID 19. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang teman blogger bersama komunitasnya.

Dan semoga saja, dengan menuliskannya disini juga bisa menjadi cara bagi saya, untuk menebar kebaikan.


kita juga bisa menebar kebaikan disekitar rumah kita sendiri, seperti ibu saya misalnya. Setiap pulang dari pasar dengan berjalan kaki, beliau kerapkali mendatangi rumah tetangga yang ada di sepanjang jalan menuju rumah, untuk sekedar berbagi satu atau dua belanjaannya kepada mereka yang membutuhkan. Entah itu makanan, buah, lauk atau keperluan sehari-hari. Apalagi jika mereka datang ke rumah, biasanya akan mendapat oleh-oleh makanan atau apapun (selagi ada), untuk dibawa pulang.



Tepat Sasaran dalam Menebar Kebaikan

Begitu  banyak  orang  di  dunia  ini  yang  bersedia  memberikan  pertolongan  kepada sesama dan mengetahui artinya kebaikan berbagi,  akan  tetapi  tidak  semua perbuatan baik tersebut diketahui orang banyak. Beberapa diantaranya diketahui secara luas, justru karena tersebar di dunia maya.

Saya sering mendengar ada tetangga yang lebih mampu dan berkecukupan, mendapatkan sumbangan sembako dan surat keterangan miskin atau tidak mampu dari RT. Begitu juga setelah membaca timeline di social media, ternyata ada beberapa teman yang menyadari hal tersebut terjadi di sekeliling mereka.

Seperti di jaman ketika saya kecil, dimana teknologi informasi masih sangat terbelakang. Bantuan diumumkan di depan banyak orang, tapi hanya di sekitar lingkungannya saja. Seringnya jalan di tempat atau malah berhenti di beberapa orang. Informasi yang didapat pun belum tentu sampai ke orang yang berhak menerima. Selebihnya hanya di sampaikan dari mulut ke mulut dan biasanya sudah terlambat. Siapa cepat, maka dia yang dapat.

Dulu sekali, saya sering bertanya-tanya. Mengapa banyak tetangga yang mendapatkan sumbangan uang, barang, zakat atau daging kurban saat hari raya, sedangkan kami tidak. Padahal, jika dibandingkan dengan tetangga sekitar, keadaan kami pada saat itu cukup menyedihkan. Karena orangtua saya hanya mengandalkan warung kecil sebagai mata pencaharian dan sempat menganggur karena bangkrut. Tidak ada lagi yang bisa dijual akibat dampak krisis moneter tahun 1998. Sementara ada 8 orang anak yang menunggu untuk diberi makan. 

Setiap kami protes karena tidak kebagian jatah sumbangan, Ibu saya selalu menjawab, "biarkan saja, mungkin disini lebih banyak yang hidupnya lebih susah dari kita." Dengan prinsip bapak yang juga tidak ingin harga dirinya jatuh karena meminta-minta, kami yang masih kecil pun jadi merasa semakin tersudutkan dari lingkungan, karena tak ada yang peduli.

Teringat kembali ketika saya menginjak bangku SMA. Ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa untuk anak tidak mampu. Yang membuat saya tidak habis pikir, beasiswa itu baru diketahui teman-teman yang lain justru setelah dana beasiswa itu dibagikan ke para penerima (tidak diumumkan). Yang nota bene, si penerima terpilih bahkan jauh lebih mampu, dari teman-teman yang saya ketahui betul bagaimana kondisi keluarganya.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika saya sudah bekerja, seorang kenalan berhasil mendapatkan surat keterangan miskin untuk mendapatkan beasiswa, sedangkan statusnya saat itu adalah seorang mahasiswa kedokteran bonafide, dengan dukungan fasilitas dan finansial dari Orangtua yang bisa dibilang lebih dari cukup. 

Menebar Kebaikan melalui Dompet Dhuafa

Agar bantuan kita bisa disalurkan kepada mereka yang memang membutuhkan dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya, kita bisa menjadikan Dompet Dhuafa sebagai wadah untuk berdonasi. 

Karena Dompet Dhuafa (DD) adalah Lembaga Amil Zakat milik masyarakat, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta Dana Sosial Kemanusiaan lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan sejak tahun 1993. 

Donasi yang dikelola juga mampu mengentaskan kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi. Mereka bukan saja “memberi ikan”, namun “memberi kail” dan melatih para penerima donasi, agar mampu bertahan bahkan berpindah dari penerima menjadi pemberi donasi (ripple effect).




Selain karena memiliki 5 pilar program utama yang memiliki tujuan besar dalam mengentaskan kemiskinan, Dompet Dhuafa juga menggunakan data penerima manfaat dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), berdasarkan Sensus Penduduk, Survei Sosial Ekonomi dan Potensi Desa (PODES). TNP2K juga mendata rumah tangga lain yang diduga miskin berdasarkan informasi dari rumah tangga miskin lainnya (dengan melakukan konsultasi bersama penduduk miskin selama proses pendataan), serta hasil pengamatan langsung di lapangan. Jadi, dipastikan tepat sasaran dan bisa dipertanggungjawabkan.


Di masa pandemi seperti sekarang, kita mengalami kesulitan untuk berbagi karena diberlakukannya kebijakan Work From Home (WFH), School From Home (SFH), Stayathome, Physical Distancing, Social Distancing, PSBB dan lain-lain, demi untuk memutus rantai penyebaran wabah COVID 19. Yang secara tidak langsung, berdampak besar dari segi ekonomi, khususnya bagi masyarakat menengah kebawah. Seperti contohnya, mereka yang menggantungkan hidup dari pendapatan sehari-hari, dengan pekerjaan yang mengharuskan untuk berinteraksi dari jarak dekat dan berada diantara orang banyak.




Karena itu, Dompet Dhuafa juga membuka donasi berupa sembako bagi masyarakat yang terdampak Corona. 


Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat disini. Jika ingin menyalurkan bantuan berupa dana, cukup dengan mengklik  :  https://donasi.dompetdhuafa.org 




Disana kita bisa langsung mengisi data dengan memilih Jenis Donasi. Apakah itu Zakat, Infak/Sedekah, Kemanusiaan, Wakaf dan lain-lain. Setelah itu, mengenai Pengkhususan Donasi, apakah itu Zakat Maal, Zakat Fitrah, Zakat Penghasilan atau Fidyah. 
Lalu, kita tinggal mengisi Informasi lengkap Profil Donatur dan memilih metode pembayaran. Setelah selesai, tinggal klik Donasi Sekarang! Lalu akan terbuka halaman informasi pembayaran, yang juga akan kita terima melalui email. Setelah melakukan transfer, kita tinggal mengkonfirmasi pembayaran dengan mengupload bukti transfer.  
Informasi dan Konfirmasi :
  • Call Center 021-7416050
  • SMS 0812 1292 528
  • Email layandonatur@dompetdhuafa.org
  • www.dompetdhuafa.org




Referensi :
# Shadiqi, M. A. 2018. Perilaku Prososial. Dalam A. 
   Pitaloka, Z. Abidin, & M. N. Milla (Eds.), Buku psikologi sosial, pengantar teori dan penelitian 
   (227-260)
# https://greatmind.id
# https://pijarpsikologi.org
# Dompet dhuafa.org
# https://bdt.tnp2k.go.id
# Liputan6.com

Akibat Sembarang Diet

13:27 37
Akibat Sembarang Diet

Beberapa tahun yang lalu, berat saya pernah turun hingga 15 kg dalam beberapa bulan setelah melahirkan, tanpa diet dan olahraga. Kok bisa? Gimana caranya? Yah, dengan mengkonsumsi makanan sehat, pastinya. Tapi sayangnya itu tidak bertahan lama. Hanya berlangsung selama 3 bulan, lalu muncul gejala mual-mual, kepala terasa berat dan sering pusing berhari-hari. Setelah melakukan medical check-up ke dokter spesialis penyakit dalam, ternyata saya menderita sakit maag, asam lambung dan kolesterol tinggi. Untuk sementara, diet saya stop dulu. Jadi, kesempatan untuk terlihat langsing pun tertunda lagi.

Setelah mulai belajar dan mendapatkan banyak informasi, akhirnya saya sadar kalo penyakit yang saya dapatkan, adalah karena kesalahan pola makan dan nutrisi yang tidak seimbang. Meskipun semua yang dimakan adalah realfood, tapi saya tidak menakar, bahkan mengkonsumsi makanan yang sama berhari-hari dan kadang sengaja mengurangi porsi makan untuk berhemat. Yang terpenting makanan itu sedikit, tidak di goreng, dan bukan nasi putih. Yang juga berarti, bisa mengurangi pengeluaran termasuk kebutuhan bahan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng dan lain-lain. Nah, sedangkal itulah ilmu perdietan saya saat itu.


Mengurangi Waktu Makan untuk Berhemat

(Mengurangi waktu makan disini, maksudnya bukan dalam satu kali makan di double jadi dua porsi, yak)๐Ÿ˜‚. Keluarga kami biasanya makan tiga kali sehari di awal-awal bulan dan berubah menjadi dua kali sehari ketika menuju akhir bulan (bagi yang dewasa saja). Jika pandemi ini belum berakhir sebulan kedepan, maka kebiasaan makan itu bisa saja berubah dari tiga kali menjadi dua kali, dan yang dua kali menjadi hanya sekali sehari (tenaaang.. blom nyampe ke level makan obat maag tiga kali sehari, kok)๐Ÿ˜‚. 


Mengingat sebentar lagi kita akan menyambut bulan ramadhan, saya mungkin harus berpikir lagi untuk mengatur ulang pengeluaran, agar bisa tetap melaksanakan sahur dan berbuka puasa sesuai sunah rasulullah.

“Bersahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari Muslim)

Selain untuk berhemat, banyak juga orang yang melewatkan waktu sahur begitu saja seakan-akan bukanlah hal penting. Alasannya, karena merasa kuat berpuasa tanpa sahur atau karena malas bangun dan lebih memilih untuk melanjutkan tidur. Atau seperti adik saya yang tidak semangat untuk sahur, karena makanan yang disajikan tidak cocok dengan seleranya.

Ada juga yang melaksanakan sahur, tapi tidak melakukannya sesuai sunnah yang telah dianjurkan. Misalnya dengan makan sahur 2 jam lebih cepat biar tidak kebablasan atau karena memang belum tidur setelah tengah malam kemudian langsung sahur, lalu tidur lagi sampai pagi.


“Dari Abu Dzar, Nabi Saw berkata: “Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Ahmad).


Mempraktekkan Pola Makan yang Benar

Kebiasaan mengurangi waktu makan itu mungkin bisa mempermudah. Tapi jika terus-terusan tanpa memperhatikan batasan kalori perhari, dipastikan akan berakibat buruk pada kesehatan. Kita mungkin menjadi kurus dan mengalami penurunan berat badan, tapi tubuh kita pada akhirnya akan mengalami kekurangan gizi dan nutrisi. Yang membuat organ-organ di dalam tubuh tidak bisa bekerja secara maksimal. Efek terburuknya adalah, bisa menyebabkan kegagalan fungsi pada organ. Sehingga badan kita menjadi lemah dan mudah terserang penyakit.

Diet itu artinya Pola Makan. Maka kita harus mencari tau berapa BMR (Basal Metabolic Rate) agar kita tau berapa kalori minimal dalam sehari saat tubuh tidak melakukan apa-apa, seperti memompa jantung, bernapas, memperbaiki sel tubuh, mempertahankan suhu tubuh, dan lain-lain. Dan juga, berapa TDEE (BMR + kegiatan selama sehari) disini. Maka kita akan mendapatkan jumlah kalori harian untuk mengatur diet perhari yaitu berada di atas BMR dan di bawah TDEE.

Bagaimana cara menghitung kalori yang akan masuk ke tubuh kita? Dengan menimbang makanan atau menggunakan kepalan tangan. Jika ingin lebih praktis, bisa menggunakan piring yang memiliki sekat untuk mempermudah kita menentukan takaran (lihat gambar pertama).


Karena itu, menjaga pola makan sehat itu sangat penting sekali, baik itu di masa pandemi seperti sekarang ataupun tidak. Apalagi di saat kita ingin menurunkan berat badan agar terlihat langsing dan ideal. Pelajari pola makan sehat yang benar agar tidak berimbas di kemudian hari. Karena yang harus berkurang itu adalah lemak, baru berat badan menyusul kemudian.


Berikut Tips dan alternatif agar langsing tapi tetap sehat dan hemat, khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini :

  1. Mengkonsumsi karbo kompleks seperti jagung, ubi, kentang, labu kuning. Jika masih punya duit bolehlah sesekali  makan nasi merah, oatmeal, sereal dari gandum utuh atau mungkin roti gandum sebagai pengganti karbohidrat dari nasi. Sebenarnya boleh saja mengkonsumsi nasi putih, karena indeks glikemiknya ternyata tidak jauh berbeda dengan nasi merah, asalkan porsinya dikurangi dan bukan penderita diabet.
  2. Telur, tahu, tempe, toge, susu kedelai, ikan, kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang tanah, dada ayam tanpa kulit, putih telur, sebagai sumber protein rendah lemak, pilih yang murah meriah tapi tinggi gizi.
  3. Gunakan wajan anti lengket setiap kali menggoreng  atau menumis makanan. Karena tingginya kadar lemak jenuh yang dimiliki oleh minyak kelapa sawit, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
  4. Selain merebus, bisa juga dengan mengukus atau memanggang agar rasa dan nutrisi makanan tidak hilang atau rusak. Dengan begitu masakan jadi lebih sehat dan kita juga bisa berhemat, karena tidak memakai minyak goreng sama sekali.
  5. Kurangi mengkonsumsi gula dan tepung-tepungan. Pemanis alami bisa didapat dari buah atau madu. 
  6. Mengkonsumsi sayuran atau serat. Lebih bagus jika ditanam sendiri, selain menghindari terpapar pestisida juga akan menghemat pengeluaran.
  7. Mengkonsumsi lemak baik seperti ikan, alpukat, kacang tanah, kacang almond, kacang mete, kacang kenari, minyak zaitun, minyak kelapa (bukan kelapa sawit) tinggal pilih yang paling terjangkau.
  8. Mengkonsumsi vitamin dan mineral yang terdapat pada buah dan sayur-sayuran lokal atau yang sedang musim.
  9. Mengganti Suplemen dengan Jamu-jamuan. Bisa juga dengan minuman tradisional yang menggunakan rempah atau rimpang-rimpangan.
  10. Belajar mengerem ketika makan, meskipun yang dikonsumsi adalah sayur atau buah. Walaupun sehat tapi makan berlebihan itu tetap saja tidak baik, yang pada akhirnya akan ikut ambil bagian dalam kenaikan berat badan.
  11. Membatasi info-info yang membuat kita semakin tertarik untuk mencari makanan, seperti lewat internet dan media sosial.
  12. Menjauhi semua fasilitas yang mempermudahkan kita untuk memperoleh camilan tidak sehat.
  13. Lebih banyak bergaul dan berkomunikasi dengan yang seide dan sejalan soal kesehatan dan juga pola makan.
  14. Bergabung ke dalam komunitas yang bisa membuat kita termotivasi untuk menjaga pola makan dan hidup sehat.
  15. Olahraga di rumah, berdayakan saluran olahraga di youtube sebagai instruktur virtual. Jika tidak, lakukan angkat beban (pake botol air mineral diisi pasir pun bisa) atau skipping. Tidak mengapa sedikit-sedikit yang penting dikerjakan secara rutin dan seterusnya.
  16. Say no to Mager, misalnya dengan melakukan pekerjaan rumah lebih intens agar kalori terbakar tanpa harus berolahraga keluar rumah. Meskipun receh, tapi aktivitas tersebut juga berkontribusi menghilangkan lemak berlebih di tubuh kita. Apalagi buat yang masih punya anak kecil, bisa dimanfaatkan sebagai alat olahraga angkat beban juga.
  17. Belajar memanajemen stress.
  18. Stop begadang, selain mengurangi imunitas, juga menghambat pembakaran kalori.
  19. Minum air 2 liter per hari. Minum air berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan, karena akan memaksa organ di dalam tubuh kita bekerja lebih keras.
  20. Nah buat emak-emak yang doyan sisa makan anaknya (saya banget ini mah) ๐Ÿ˜‚untuk mensiasati agar makanan sisa tidak terbuang begitu saja, karena tidak dimakan emaknya lagi (emaknya pengen diet), tinggal pelihara ayam aja. Sisa makanan si adek jadi jatah buat ayam, biar ayamnya jadi sehat dan bergizi alias gendut. Dengan memelihara ayam, kita bisa mendapatkan profit protein hewani gratis dari telurnya, apalagi pas di tanggal tua.๐Ÿ˜‚
Dengan pola makan sehat dan seimbang, kita tidak akan merasa tersiksa lagi karena rasa lapar. Caranya gimana? Dengan mengkonsumsi makanan yang mengenyangkan pengganti karbohidrat, yakni dengan menambahkan serat lebih banyak, seperti karbo kompleks, buah dan juga sayuran.


Mengurangi Lemak Setiap Hari (Defisit Kalori)

Melalui Jurnal Dr. Melyanti, dikatakan bahwa "Untuk membuang 1 kg lemak dari tubuh, kita harus mengurangi (defisit) sebanyak 7700 kalori. Nah jika saya sehari bisa defisit rata-rata 300 kalori, maka berat badan saya bisa turun 1 kg dalam waktu 7700 : 300 = 26 hari.

Apa aja yang dimakan????
  • 70-80% realfood seperti nasi, sayur, buah, ikan, dada ayam, daging merah lainnya (tanpa lemak), hati ayam, ampela, oat dan sejenisnya.
  • 20-30% funfood seperti mie, gorengan, kue-kue, donat, martabak, biskuit, cokelat, ice cream, pizza, burger, pasta seperti spageti dan sejenisnya. Jadi bukan berarti kamu 100% kudu makan realfood. Funfood boleh, asal dibatasi jumlahnya. (Biar ga stress, daripada ditahan-tahan, abis itu jadi kalap trus gagal diet, yah kagak bisa juga).๐Ÿ˜…
Misal: 
Saya dulu bisa makan 4-5 pcs gorengan baru puas. Sekarang cukup 1 pcs saja, maksimal 3 pcs/minggu.
Dulu makan donat kudu 2 pcs. Sekarang kalo pas dibeliin ya makan aja 1 pcs.
Dulu makan mie/indomie 3x/minggu, sekarang cukup 3x/bulan.
Dulu makan pizza harus 2 slice, sekarang cukup 1 slice.
Dulu makan pisang molen bisa 3 pcs, sekarang cukup 1 pcs.

Jadi lebih banyak makan sayur, buah, dada ayam, ikan, telur, putih telur, nasi 1/2 porsi dari biasanya (kira-kira 100-150 gram di siang hari). Gak ada pantangan terhadap makanan, kecuali yang haram dan alergi buat kamu. Karena kuncinya itu tetep ada di defisit kalori.

Memang terlihat lama, tapi di jalankan saja. Nanti berat badan akan tetap stabil di bawah dan gak gampang naik. Yang terpenting bukan berapa lama dan berapa hasilnya, tapi....MEMBENTUK POLA HIDUP SEHAT itu butuh waktu minimal 3 minggu. Kalau pola hidupmu sudah bisa sehat (defisit kalori yang bener dan olahraga yang bener), ini artinya prosesnya bener dan nanti hasilnya juga pasti bener. Lakukan aja 3 bulan, lihat hasilnya bertahap.

Gak ada proses turun berat badan yang instan tapi sehat. Instan tapi berbahaya bagi tubuh, malah merugikan kamu sendiri. Lakukan bertahap tapi sehat itu lebih baik dan ilmu yang kita dapat bisa kita pakai dan share sampai kapanpun."

Nah, setelah mempraktekkan apa yang saya pelajari selama beberapa bulan belakangan, berat saya turun sebanyak 7 kg. Perubahan yang paling signifikan adalah :
๐ŸŒธ Rambut rontok berkurang.
๐Ÿ Kaki tidak kram lagi setiap pagi.
๐Ÿ‰ Gusi tidak berdarah lagi setiap menggosok gigi.
๐Ÿ˜Ž Mata tidak berkunang-kunang lagi setelah bangun tidur.
๐Ÿ‚ Muka lebih sehat dan jarang berjerawat.
๐Ÿ„ Tidak kram perut lagi kalo duduk kelamaan.
๐ŸŒฝ Stress berkurang.
๐Ÿฉ Lemak di perut berkurang sangat banyak.
๐Ÿ‘ฝ Pipi jadi lebih tirus.
☕ Disaat semua orang flu saya sendiri yang tidak.

Demikianlah, kurang lebih manfaat yang saya dapatkan selama belajar membentuk pola makan sehat. Semoga bermanfaat, yak. ๐Ÿ˜



Referensi :
#rizalnutrisionist
#hansboling
#komunitas fatsecret

5 Film tentang Waktu, Paling Berkesan

18:02 55
5 Film tentang Waktu, Paling Berkesan
Adakah diantara kalian yang seperti saya. pengen merubah masa lalu tapi gak bisa-bisa (yah elaaah, semua orang pan emang kagak bisa merubah masa lalu)๐Ÿ˜…. Tapi bisa jadi, itu adalah keinginan semua orang, yak.

Saking banyaknya penyesalan dan hanya bisa berandai-andai, akhirnya memilih untuk menonton film atau cerita fiksinya saja.

Nah, salah satu genre fantasi yang paling cocok adalah film yang bermakna waktu. Entah itu perjalanan hidup dari waktu ke waktu, waktu yang berhenti, teleportasi atau berpindah tempat, dan perjalanan ke masa lalu ataupun sebaliknya.

Jika saja cerita di film itu terjadi dalam hidup kita, pasti seneng banget yak. Atau malah jadi kepikiran dan justru menuai pertanyaan-pertanyaan? Bagaimanakah caranya, agar "masalah" yang ada di dalam film itu tidak terjadi dan bagaimana pula cara mengantisipasinya? 

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Pengennya waktu tuh dicepetin, langsung ke waktu dimana wabah ini telah berakhir, ato kalo bisa kembali ke waktu kita paling bahagia, trus balik lagi ke waktu ketika wabah ini sudah selesai menyerang bumi. (halu teruuus...) ๐Ÿคฃ

Sebenere bukan hanya film, drama berseri yang menceritakan tentang waktu pun tidak sedikit, lebih tepatnya tak terhitung lagi. Tapi karena durasinya lama dan banyak banget yang musti di inget, kayaknya lebih enak ngebahas tentang filmnya aja yak, biar lebih cepet selesai. (Ini aja udah banyak, sepertinya). ๐Ÿ˜‚

1. VANISHING TIME : A BOY WHO RETURNED (2016)


Film ini bercerita tentang anak SD dan 2 orang temannya. Menurut legenda setempat, ketika bulan purnama,  akan muncul sebuah gua misterius yang di dalamnya terdapat monster pemakan waktu atau Goblin. (Yang sukses bikin saya mikir, apakah Goblin yang mereka maksud akan seperti Mas Gong Yoo, ganteng dong, berarti bukan cerita serem ini, yak). Akhirnya karena itu, saya lanjut nonton lagi dan penasaran, seganteng apakah Si Goblin di film ini ๐Ÿคฃ.

Tunggu punya tunggu. Fiuh, ternyata gak sekalipun ditunjukkin mukanya atau apapun yang menggambarkan kemiripan dengan wajah Goblin, yang katanya dulu pernah ada di salah satu drama korea terbeken, berdasarkan rating dan penonton. Akhirnya saya hampir nyerah, ah film biasa aja ini mah, kayak film-film petualangan misteri atau kayak cerita detektif anak-anak karangan Enid Blayton dan sejenisnya.

Tapi ternyata, pendapat saya berubah sewaktu Si Seung Min mengambil telur raksasa di gua misterius tersebut dan memecahkannya bersama kedua orang temannya. Karena tiba-tiba, waktu dan seluruh isi dunia berhenti bergerak, kecuali mereka bertiga.

Perjalanan hidup mereka pun akhirnya dimulai. Hari-hari terus berlalu, matahari masih tak bergerak, air pun tak mengalir. Mereka makan, tidur dengan enak, seeebebas-bebasnya, dan punya banyak uang hasil mengumpulkan lembar demi lembar, dari manusia-manusia yang tengah mematung. Mereka juga memutuskan untuk belajar, karena masih berharap dunia akan kembali seperti semula.

Namun sayangnya, diawal perjalanan, salah seorang temannya meninggal karena penyakit asma yang di deritanya. Mereka pun segera menguburnya di sebuah taman bermain. Uniknya, Seung Min membawa jasad temannya seperti membawa balon, karena tubuh temannya berubah menjadi sangat ringan. Mirip seperti balon bentuk manusia yang sedang meringkuk.

Di dunia nyata, semua orang sibuk mencari mereka bertiga (akhirnya saya paham, ternyata mereka bertiga berada di dimensi lain) ๐Ÿ˜…. Lalu beberapa hari kemudian, jasad temannya Seung Min ditemukan. Dan polisi menetapkan, tiga orang anak kemungkinan diculik dan satu orang telah dibunuh di gunung, lalu jasadnya dikuburkan di taman bermain.

Makin hari umur mereka pun bertambah, hingga mereka berusia 30 tahun. Bagaimana cara Seung Min menghitung usianya, sedangkan hari tak pernah berganti, matahari sedikitpun tak bergeser dari tempatnya? Ternyata, jika mereka tertidur sangat lama, maka itu sudah berlalu satu hari.

Tiap hari mereka dihantui kecemasan karena tak kunjung kembali ke dunia nyata, yang pada akhirnya membuat teman Seung Min memutuskan untuk bunuh diri. Melihat itu Seung Min semakin putus asa, lalu memilih untuk menyusul temannya dengan meloncat ke laut. Tapi di waktu yang sama, waktu akhirnya bergerak, dan Seung Min kembali ke dunia nyata. (Di situ saya langsung nyeletuk, eugh! sayang sekali, temennya nanggung baget. Padahal tinggal sedikit lagi, yak).

Ketika Seung Min kembali, Soo Rin yang masih kelas 6 SD, bertemu dengan orang yang sudah jauh berbeda. Karena bertahun-tahun telah hidup dalam dunia "waktu yang terhenti". Perjuangan Seung Min untuk diakui pun ternyata tak membuahkan hasil, hingga dituduh menjadi salah satu penculik anak-anak yang pernah hilang di gunung. Tapi pada saat itu, hanya Soo Rin lah satu-satunya yang percaya. Karena mereka terhubung melalui diari bertuliskan huruf rahasia, yang pernah diketahui oleh mereka berdua saja.

Film yang juga bertajuk Hidden Time ini memenangkan penghargaan untuk kategori : Korea Top Star Awards, Star Asia Award, Best New Director, Best Music dan Audience Award Vanishing Time: A Boy Who Returned di 12th Festival du Film Corรฉen ร  Paris.

2. WILL YOU BE THERE (2015)


Film Korea yang diangkat dari Novel Perancis berjudul Seras-tu lร ?, oleh Guillaume Musso ini, berkisah tentang seorang dokter (Han Soo Hyun). Dia memiliki masa lalu yang sangat disesalinya. Hingga suatu hari, dia ditugaskan ke Kamboja (menurut beberapa resensi). Tapi waktu saya nonton, saya inget sekali dia bertugas di pedalaman Kalimantan (kalo merujuk dari subtitlenya).

Awal-awal ceritanya seperti kisah cinta biasa, tapi setelah udah berada di tengah-tengah, saya langsung mikir, eh, gimana-gimana tadi kok bisa gitu, yak. Yang ujung-ujungnya, balik lagi nonton ke menit pertama (akibat suka ngeremehin cerita film). ๐Ÿ˜‚ 

Han Soo Hyun mendapatkan beberapa buah pil yang bisa membuatnya tertidur, Di dalam tidurnya itu, dia kembali ke masa lalu. Disana dia bertemu dengan dirinya yang masih muda (30 tahun sebelumnya). Dengan pil itu dia berusaha mengubah takdir, dengan mencegah kematian kekasihnya. Sayangnya, Si Dokter atau Han Soo Hyun telah memiliki anak dari wanita lain. Jika dia merubah  takdir, maka dia tidak akan pernah lagi melihat anaknya, karena memang tidak pernah ada jika masa lalunya berubah.

Dari situ perjuangannya berlanjut, termasuk dengan merubah takdir temannya yang meninggal begitu cepat dan ketika dia pasrah saat menderita kanker paru-paru. Setelah dia meninggal, temannya memakan pil terakhirnya, dan mencoba mengubah takdir Han Soo Hyun. 

Awards : Pemenang Popularity Award di 37th Golden Cinema Film Festival dan Nominasi Best New Actor di 54th Grand Bell Awards.


3. FATHER AND DAUGHTER (2000) A FILM BY MICHAEL DUDOK De WIT



Film pendek tanpa dialog, yang berasal dari negeri Kincir Angin ini, mampu menyampaikan pesannya yang sangat mendalam kepada penonton. Dengan menyajikan ilustrasi yang sederhana juga diiringi suara musik, namun menarik. Kita akan terus melihat pemandangan jalan di sepanjang cerita, lalu berakhir di tepi sungai. Dimana sang ayah berpamitan kepada putrinya untuk pergi ke suatu tempat dan sepertinya akan lama.

Keesokan harinya, putrinya kembali ke tepi sungai dan berharap sang ayah akan segera pulang. Namun, terus berulang-ulang sampai ia dewasa, ayahnya tak jua kembali. Hingga suatu hari, putrinya menyusuri sungai yang telah mengering. Dia menemukan bahwa perahu yang ditumpangi ayahnya telah terbalik dan sang ayah telah tiada. 

Di akhir cerita, putrinya yang telah menua seolah berhalusinasi kembali ke masa kecil, dia bertemu lagi dengan ayahnya dan segera memeluknya.

Film ini mendapatkan 20 penghargaan dan 1 nominasi, diantaranya adalah :
BAFTA Award for Best Short Animation (25 February 2001), Academy Award for Best Animated Short Film (25 March 2001), Grand Prix at World Festival of Animated Film - Animafest Zagreb in 2002.


4. LA MAISON EN PETITS CUBES (2008)


La Maison en Petits Cubes ato nama lainnya (ใคใฟใใฎใ„ใˆ, Tsumiki no Ie, "The House of Small Cubes") adalah sebuah animasi yang mengingatkan kita pada gaya lukisan khas Eropa modern di awal abad ke-19 yang dipelopori oleh Pablo Picasso atau Salvador Dali.

Pemilihan judul yang menggunakan bahasa Perancis (La Maison en Petits Cubes) menegaskan nuansa Eropa dalam film animasi berdurasi sekitar 12 (dua belas) menit ini. Audiens seperti digiring untuk mempercayai bahwa film animasi ini benar-benar produksi Eropa atau Perancis. Sampai di akhir film, audiens akan dikejutkan oleh sederetan nama-nama Jepang yang mengisi credit title. 

Film yang juga tanpa dialog ini, bercerita mengenai perjalanan seorang lelaki tua dalam membongkar masa lalunya. Banyak menampilkan tanda-tanda visual metaforik dengan makna berlapis. Dimulai dari rasa sepinya pada kesendirian, di sebuah lingkungan yang semua rumahnya berbentuk kubus, yang berulang kali harus di renovasi jika ketinggian air semakin bertambah. Kisahnya banyak menunjukkan kegiatannya di hari tua dan kerinduannya di masa lalu. Ketika dia kecil, bertemu kekasihnya, menikah, punya anak, lalu cucu, hingga bagaimana ia berakhir di rumah itu sendirian.

Diiringi musik Kenji Kondo, film ini menyajikan gaya surealis dan hiperbolis yang ditampilkan dalam warna-warna kelam dan penggambaran objek yang berbeda dengan film animasi komersial populer, film animasi besutan sutradara Kunio Kato ini tidak terlalu berambisi mengejar profit. (Berat banget bahasanya, yak) ๐Ÿ˜‚ karena infonya ini, di dapat dari Paper yang berjudul Mitologi Film Animasi La Maison En Petits Cubes yang ditulis oleh Ardiyansyah. ๐Ÿ˜

Film ini berhasil memenangkan Academy Award yang ke 81 pada tahun 2009 sebagai Film Animasi Pendek Terbaik, dan meraih penghargaan The Annecy Cristal pada Annecy International Animated Film Festival yang ke 32.

Selain itu, pada tahun 2008 mendapatkan Hiroshima Prize di Hiroshima International Animation Festival, Grand Prize – Animation Division di Japan Media Arts Festival, Junior Jury Award di Annecy International Animated Film Festival, Best Animated Film di Message to Man, Best Script – Jury Award di Anima Mundi, dan terakhir Best Animation di LA Shorts Fest.


5. ANONIM (Lupa Judulnya) ๐Ÿ˜‚

Sebenernya, ada film barat satu lagi tapi karena udah lama jadi saya lupa judulnya. Gambar covernya itu, dia lagi duduk diatas sejenis gajah purbakala (kalo gak salah). Google juga udah tak ubek-ubek tapi masih aja gak ketemu. Tapi ya sudahlah, tak ceritain aja kisahnya yaahhh.. ๐Ÿ˜

Cerita filmnya berawal dari sang keponakan yang mendapatkan surat warisan. Sang keponakan diminta menjaga makam pamannya dan mengurus harta benda yang ditinggalkannya. Nah, sementara itu, pamannya ini ternyata telah terteleportasi untuk ke dua kalinya ke planet lain dan masuk ke tubuh orang sana (untuk urusan travel timenya inih mirip-miriplah seperti avatar tapi bukan menggunakan teknologi mungkin lebih seperti kekuatan ghaib, yang terjadi di sebuah gua (cmiw).

Sebelumnya, di planet tersebut dia menjadi seorang prajurit rendah, tapi memiliki kemampuan luar biasa. Badannya menjadi elastis, bisa meloncat kesana sini, dan memiliki kemampuan bertarung yang hebat diatas rata-rata.

Karena sepertinya dia tidak akan pernah kembali ke bumi, akhirnya dia benar-benar mencoba bertahan hidup dan ikut berperang membela kerajaan dan galaksinya. Hingga pada akhirnya, dia berhasil memenangkan peperangan, dan menemukan cinta sejatinya.

Tapi sayang, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba dia kembali ke bumi disaat dia akan menikahi kekasihnya, yang adalah seorang putri raja. Karena merasa hidupnya tiba-tiba menjadi tak berarti dan kehilangan orang yang dikasihi, dengan sekuat tenaga dan segala cara akhirnya dia berusaha kembali ke planet dimana sang putri berada.

Nah, dari cerita diatas. Kira-kira adakah yang tau dengan judulnya ? ๐Ÿ˜‚

Trus kalo kalian gimana? Adakah film ato drama yang paling nyantol di benak kalian? Yang bikin kalian terus terngiang-ngiang dan paling membekas hingga sekarang ? Cerita dong

sumber : wikipedia

Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

08:32 21
Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

"Kita mungkin dirumah terus, tapi ternyata duit gak mau ikut diem di rumah. Malah keluar terus." (Entah siapa yang bilang itu di Instagram kemaren, lupa saya).๐Ÿ˜‚

Kita bisa berhemat untuk urusan transport, anak-anak gak minta jajan, stop jalan-jalan bahkan stop laper mata di mall sewaktu weekend. Tapi, sekalinya ngendon di rumah, eh jadinya malah pengen ngemil terus, yekan.

Kegiatan masak-memasak di rumah pun belum tentu juga bisa berhemat. Kadang, bahannya juga gak bisa dibeli sedikit ato malah bersisa banyak tapi hampir gak pernah dipake, jadi rusak, layu sampe kadaluarsa. Sedangkan kalo yang mateng masih bisa dibeli dengan porsi sedikit dan juga bermacam-macam, tanpa harus menghidangkan masakan rumah yang itu lagi, itu lagi. Lalu kemudian makanan yang udah gak 'fresh from the oven" itu pun terlupakan.

Yang begitu itu pasti bikin bosen dan ujung-ujungnya jadi males makan. Dipastikan, bakal tambah pusinglah emaknya (pengen irit malah jadi pailit)๐Ÿ˜‚. Belum lagi biaya untuk menjaga imunitas yang perlu dioptimalkan seperti sekarang ini, alat kebersihan dan alat kesehatan termasuk obat-obatan yang harus di stok di luar kebiasaan, (karena orang-orang di rumah, semuanya lagi pada ngedrop) bikin keuangan membengkak, sebengkak-bengkaknya karena terinfeksi harga yang melonjak dengan sangat drastis. 

Demikian uneg-uneg saya, di minggu pagi yang cerah ini.  ๐Ÿ˜‚


Sejak diberlakukannya #stayathome, udah berasakah atmosfernya? Udah mulai gak betahkah? Pengen kesini, pengen kesitu? Pengen ngumpul, makan ini, makan itu? Pastinya udah ada yang nyampe level jenuh, suntuk, bosen, setengah bosen, kali yak. Atau, malah biasa aja, bahkan menikmati? Ada?

Jarum timbangan udah geser ke kanan blom? Skill memasaknya pasti udah pada naek level, yak. Buat yang suka film atawa drama, udah mecahin rekor berapa biji nontonnya? Eh, kuota juga. Udah abis berapa giga tuh? (Kok ini kayak nanya diri sendiri, yak). ๐Ÿ˜…

Salah satu hal penting yang akan saya bahas disini adalah semoga dibukakannya, mata hati mereka-mereka yang tidak tau atau malah tidak peduli tentang segala keruwetan yang ada di dalam pikiran para ibu rumah tangga (yang jarang bersosialisasi dan ibu yang mendedikasikan waktunya selama 24 jam untuk mengurus keluarga). Semoga mereka bisa menyadari bagaimana suntuknya tidak bisa kemana-mana ketika ruang gerak dibatasi, seperti yang terjadi pada setiap orang di masa pandemi seperti sekarang. 

Karena begitulah yang seorang Ibu rasakan, #stayathome bukan dalam hitungan minggu atau bulan saja, tapi tahunan. Berjibaku di dalam rumah, menghadapi segala keruwetan tak berujung, setiap hari dan berulang-ulang. Pengen kemana-mana gak bisa, apalagi mo ngapa-ngapain dikarenakan anak-anak yang masih pada kecil, atau malah karena para abegeh yang belum mandiri meski udah beranjak dewasa. 

Ditambah lagi dengan adanya wabah, bukan hanya keriweuhan saja yang semakin bertambah karena harus mendahulukan seabrek kewajiban. Tapi juga butuh tenaga ekstra untuk menjaga kebersihan, kesehatan keluarga, mengatur pola makan agar semua anggota keluarga bisa tetap sehat dan terjaga nutrisinya. Walaupun keuangan kadang morat-marit, yang paling penting anak-anak tidak menderita kelaparan.

Kendatipun demikian, dengan adanya wabah ini setidaknya ada hikmah yang bisa kita ambil. Beban pikiran seorang Ibu akan menjadi terasa lebih ringan, karena anggota keluarga sudah dengan sendirinya menyadari, dan mulai terbiasa untuk menjaga kebersihan, kesehatan serta pola makan. Tidak lagi harus diingetin terus, sampe harus diomelin berkali-kali, nurut tapi setelah itu males lagi, lupa lagi. Karena kadang anak lebih suka ngedengerin omongan orang lain, ketimbang Orangtuanya sendiri. (Mungkin karena sering diomelin, yak). ๐Ÿ˜‚

Efek samping dari stress dan keruwetan seorang Ibu itu biasanya akan berujung menjadi kegemukan atau overweight hingga obesitas. Karena apa? Yah itu, bisa jadi salah satunya karena kelamaan di rumah, gak bisa kemana-mana jadi bingung mo ngapain lantas jadi mageran, tapi pengen juga melakukan sesuatu biar gak ngerasa jenuh dan cepat bosan meskipun kegiatannya hanya dilakukan di rumah. Karena sayang juga kan, membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Nah, biasanya yang paling gampang itu, yah dengan menyelami apa yang menjadi aktifitasnya sehari-hari. Dari yang paling terdekat saja, misalnya makanan. Makanan dengan mudah bisa diakses, entah dari kulkas atau stok makanan yang ada di lemari. Kalopun gak ada semua, dengan bahan-bahan seadanya dan alat memasak yang tersedia, bukan tidak mungkin seorang ibu jadi semakin kreatif demi sebuah camilan.  Jika udah bener-bener gak ada lagi bahan untuk dimasak (zonk) dan gak bisa keluar untuk belanja, tinggal pesen makanan secara online aja, beres toh. ๐Ÿ˜‚

Tuh kan, ampe dibikin gak ada lagi aral merintang di dunia emak-emak, gegara soal fasilitas permakanan ini, yekan. Blom lagi foto-foto atau resep makanan yang banyak bersliweran di internet. Obsesi tentang makanan pun semakin membara jadinya, yak. ๐Ÿ˜‚

Makan menjadi hal yang membuat ketagihan dan tak jarang seorang Ibu rumah tangga mengabaikan efeknya. Kenapa? karena ternyata bisa menggantikan banyak kebahagiaan yang tidak dia dapatkan setelah menikah. 

Dulu banget, pernah saya bahas sedikit tentang ini, dari bukunya John Gray, P.hD. Bahwa makan merupakan Salah satu pembunuh rasa sakit para Istri.

Sedikit banyak isi bukunya seperti ini :

"Makan merupakan sebuah pengganti yang mudah untuk cinta. Semakin dia banyak makan, untuk sementara waktu dia dapat menekan perasaan-perasaan tidak aman yang menyakitkan yang muncul dari sisi kewanitaannya. Sampai dia menemukan suatu cara untuk memuaskan dan secara langsung memupuk sisi kewanitaannya secara teratur, dia akan terus menggunakan makanan sebagai pembunuh rasa sakit. 

Dengan mematirasakan perasaan-perasaan itu, kemampuannya untuk bercinta diteduhkan, dan menemukan kelegaan. Kecenderungan ini disebut sebuah “Penggantian kebutuhan”. Jika dia tidak dapat memperoleh apa yang betul-betul dibutuhkannya, kebutuhan nyata itu digantikan oleh kebutuhan lain yang tampaknya lebih gampang diperoleh, seperti makanan. Sebelum kehausan akan cinta itu dipuaskan, dia akan terus merasa lapar. Kadang-kadang dia bahkan mampu menipu dirinya sendiri untuk sementara waktu dengan keyakinan bahwa dia cukup bahagia dan tidak perlu berbicara atau berbagi rasa dalam suatu hubungan untuk membangun kebahagiaan bersama pasangan." 

Tidak hanya itu saja, menurut salah seorang Ahli GiziWanita yang menjadi gemuk setelah menikah dan punya anak itu, bukanlah karena keturunan, "Yang turun temurun itu kebiasaan makan dan budaya makan dalam keluarga" (apalagi kalo banyak stok makanan dirumah, tambah semangat itu, yak).๐Ÿ˜…Hal itu sangat fenomenal, karena terjadi di seluruh dunia dan berulang-ulang pada generasi selanjutnya.

Gemuk setelah melahirkan dan menyusui itu masih wajar menurut saya, yang tidak wajar itu gemuk seumur hidup. Kendatipun sekarang sudah banyak wanita yang berusaha dan keluar dari lingkaran tersebut, dengan menjaga pola makan dan hidup sehat seperti olahraga serta mengelola pikiran agar tidak gampang stress, tapi masih saja ada yang pasrah dan menganggap gemuk itu wajar setelah menikah dan punya anak.

Ada juga yang berusaha untuk kembali ke body asal sebelum menikah atau sekedar mencoba mengurangi lemak di tubuh tapi gagal karena kurangnya dukungan dan motivasi dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada akhirnya dia menyerah, tidak berbuat apa-apa lagi dan berusaha menerima dirinya apa adanya. Padahal, dipastikan banyak penyakit yang akan mengintai dan berdatangan jika hal tersebut dibiarkan begitu saja.

Meskipun banyak juga yang melangsing tanpa memperhatikan pola makan, bisa saja itu terjadi karena kurangnya nutrisi akibat sembarang diet atau karena sakit. Saking banyaknya yang dipikirin atau karena ketidakmampuan dan kurangnya fasilitas untuk memperoleh makanan, IMO.

Beberapa tahun yang lalu, teman saya meninggal dunia. Dia menghembuskan nafas terakhir, setelah melahirkan anak pertamanya. Lalu, beberapa tahun setelahnya, teman kental saya, meninggal dunia akibat pecah pembuluh darah di otak. Lalu kemudian tak lama berselang, saya pun tak sengaja menonton di sebuah acara berita selebriti, bahwa Mike Mohede pun telah berpulang. Lalu kemudian satu-satunya paman saya juga menyusul karena penyakit di usus.

Dan baru saja dua minggu yang lalu, Ibu tetangga depan rumah turut menyusul karena sakit tumor usus, setelah sebulan sebelumnya mbak penjual sayur langganan saya berpulang karena tekanan darah tinggi dan terakhir Ibu tetangga samping rumah yang menderita penyakit komplikasi. Selain itu, masih ada dua tetangga lagi yang sedang sakit parah. (ini yang hanya di lingkungan rumah saja, belum di lingkungan keluarga dan lain-lain).

Kamu tau apa kesamaan mereka? Sama-sama mengalami overweight hingga obesitas.

Menurut John Gray, PhD. Kemudahan, kenyamanan, kelancaran, rasa aman, riang gembira, rekreasi, kenikmatan dan keindahan, semuanya memupuk sisi kewanitaan tetapi diet tidak. Program diet dengan memakan lebih banyak makanan berkadar lemak rendah dan berolahraga jelas merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi berat badan. Namun pemecahan paling efektif adalah hubungan yang lebih membangun kebahagiaan dan gaya hidup yang lebih santai dan tidak banyak beban.

Karena itu, "Untuk mendukung seorang wanita, pria harus memahami bahwa, jauh didalam lubuk hati, wanita ingin beristirahat, merasa lega dan menyerahkan kepada seseorang yang dipercayainya untuk mengasuh dan mendukungnya. Inilah kebutuhan batiniah sejati sisi kewanitaan."  - John Gray, PhD.

Tulisan isi saya buat karena merasa sangat prihatin dengan keadaan ini, mengingat mayoritas ibu-ibu disini mengalami hal seperti itu (saya termasuk gak yah, hmm..)๐Ÿค”๐Ÿ˜‚.

Dan juga, karena merasa tertohok (tersentil tepatnya ๐Ÿ˜‚) dengan kalimat ini :


"Siapa yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka dia tidak bisa mengendalikan pikirannya." – Ali bin Abi Thalib


Yang berarti makan berlebihan itu, adalah salah satu ciri bahwa saya tidak bisa mengendalikan diri.  Ckckck.. ๐Ÿ˜…

Bukan Jarak yang Salah

11:17 2
Bukan Jarak yang Salah

Patut dipertanyakan, jika pasangan terpisah jarak dan hubungannya terlihat baik-baik saja, apalagi ternyata hubungannya malah semakin memburuk. Harus di cari tau, itu yak.

Dari hasil pengalaman mendengar (sisanya menguping ๐Ÿ˜‚). Ada beberapa kisah dari sudut pandang perempuan, tentang jarak yang membuat mereka malah berakhir jadi nelangsa. 

Eh tapi, jangan mentang-mentang abis baca ini langsung minta cerai atau putus, yak. Bukan bermaksud manas-manasin sih, cuma sekedar menghasut ๐Ÿ˜‚ (sama aja itu, mah). Hanya saja, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan. Meskipun sedikit, semoga bisa diambil hikmahnya. ๐Ÿ˜Š

Di suatu pagi, ada seorang wanita menangis tersedu-sedu, sambil sesekali terdiam. Dia berkata, baru sebulan melahirkan anaknya yang keempat, anak pertamanya pun masih kecil. Berulang-ulang dia mempertanyakan kenapa suaminya tega menikah lagi diam-diam, dengan airmata yang tak henti terurai. Bagaimana kehidupan mereka sehari-hari? Ternyata, sang suami bekerja di luar kota dan pulang hanya sebulan sekali.

Lalu ada lagi, seorang wanita yang berkali-kali dikhianati akhirnya memutuskan untuk bercerai, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi kelakuan suaminya selama bertahun-tahun. Semuanya berawal karena sang suami sering pindah tugas keluar kota. Walopun mereka bertemu seminggu sekali, tapi itu kurang cukup untuk membuat suaminya kekeuh untuk tidak terus mencari wanita lain.

Tidak perlu harus sampai keluar kota, Jika seorang suami tidak pulang berhari-hari dikarenakan pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggal, seperti sebuah proyek atau sejenisnya. Jangan dibiarin aja (waspada dounk harusnya). Seperti nasib salah seorang temen saya yang sering upload-upload foto mesra bareng suami, saking positive thinkingnya. Eh taunya, si suami gak pulang berhari-hari, ternyata karena sering menginap di rumah sang mantan. Ckckck..

"Rindu mungkin terjadi karena jarak. Tapi rindu itu, hanya untuk mereka yang setia."

Terus terus, ada lagi temen saya. Pacarnya itu seorang abdi negara, yang harus bertugas beberapa tahun diluar kota. Sempet gak ngasih kabar, eh taunya ngirim sms minta putus, karena dia mau nikah sama orang laen. Lah, mending sekalian aja gak usah ngomong-ngomong atau setidaknya minta putus ajalah karena jarak, gak usah pake embel-embel karena mo nikah sama orang laen. Lah wong tempatnya aja di luar kota. Mo kawin ato gak juga, ya mana tau.

Nah, yang ini beda sudut pandang. Karena cerita ini berasal dari temen saya (cowok) pas kuliah, dia punya temen cowok yang juga adalah temen saya. Ceritanya kami lagi meng-gibhahin si temen kami itu (sebut saja Si Boy) dibawah pohon rindang, pagi-pagi di depan kampus. Mirip species-species tukang gosip ala anak kampus, yak. ๐Ÿ˜‚

Tujuan kami sih sebenernya baik, karena Si Boy ini, anaknya lumayan populer dan juga aktif di kegiatan kampus, suaranya enak banget (seorang vokalis), pinter dan ganteng pula. Dia orangnya baik, dan cara berinteraksinya dengan orang lain terlihat dewasa, untuk orang yang hanya beda setaon diatas saya.

Kami mendiskusikan sesuatu yang terbilang hot di seputar kampus pada saat itu, demi kebaikan cewek-cewek yang sangat over ngefans sama Si Boy ini, atau mungkin malah temen saya ini yang rada sirik, karena banyak cewek yang lebih memilih Si Boy daripada dia. Mungkin.. ๐Ÿ˜…

Si Boy ini, ternyata udah punya anak-istri di kampung (menikah muda), tapi suka tebar pesona kemana-mana dan merahasiakan latar belakangnya. Sepertinya, temen saya gak sengaja denger dari Si Boy sendiri. Yang jelas temen saya ini orangnya menghargai privasi orang lain, tapi mungkin kelakuan Si Boy telah mengusik hati nuraninya. Gak tega ngeliat cewek-cewek cantik di kampus patah hati, padahal masih banyak pria-pria yang sedang menanti, (termasuk dia kayaknya)๐Ÿ˜‚ dan diharapkan cewek-cewek untuk berhati-hati, jangan sampai salah pilih. ๐Ÿ˜‚

Nah satu lagi, cerita dari bapak-bapak muda, juga seorang abdi negara, baru menikah tapi tiba-tiba harus pindah tugas ke kota terpencil, disana dia menikah lagi dan punya anak. Setelah dia kembali pindah tugas kesini secara permanen, Istri dan anaknya yang masih kecil disana ditinggalkan begitu saja dan kembali ke istrinya yang disini.

Sungguhlah mendengar kisah-kisah mereka, bener-bener membuat naluri pembela kebenaran dan keadilan dalam diri saya bangkit (jadi inget Ninja Hattori)๐Ÿ˜‚. Pengennya angkat senjata, tapi berat ๐Ÿ˜‚. Pake mulut, orangnya udah dimana, saya dimana. Dengan keyboard, entah apakah para pelaku bisa tersentil? Who Knows.. emang lebih baik calon korban juga yang harus waspada duluan, yak.

Tapiii, gak semua kisah LDR atau LDM seperti itu tentunya, yak. Karena emang begitulah hidup, yang adem ayem bahkan tak terdengar kisahnya, karena tidak ada yang dipermasalahkan. Justru mereka yang bermasalah, jika ketauan maka akan terkuak dan semakin terekspos, karena terdengar lebih menarik dan secara alamiah menjadi pusat perhatian, sehingga membuat seolah hubungan yang berjarak akan selalu berakibat negatif.

Padahal jika ditilik lebih dekat, banyak juga yang rela berkorban, meninggalkan keluarga besar ikut bersama pasangan ke negeri asalnya. Rela berjauhan dari Orangtua dan pindah ke kota lain, agar bisa tetap bersama dengan pasangan. Atau seperti Ortu teman saya yang berpisah (tidak bercerai) sejak teman saya SMA, ibunya bekerja di luar negeri dan membawa serta kakaknya, sedangkan ayahnya disini bersama teman saya dan adiknya, begitu teman saya ini menikah, ibunya memutuskan untuk kembali kesini dan melepas semua kariernya.

"Bukan jarak yang salah, tapi manusianya yang tidak setia. Titik." 

(Bikin peribahasa tapi kok ngegas ๐Ÿ˜‚) 

22 Olahan Telur di Masa Pandemik

00:06 2
22 Olahan Telur di Masa Pandemik

Lumayan kaget, waktu dapet kembalian 2 ribu perak setelah belanja telur, gula sekilo sama sawi 2 ons pake duit 50 ribu, Ckckck.. Padahal, duit segitu mah biasanya, (cukup gak cukup) masih bisa buat beli sarapan sama bahan lauk pauk untuk satu hari. Tapi tadi, saya dengar dari sumber terpercaya (bukan gosip ala warung sayur) ๐Ÿ˜‚memang ada beberapa oknum yang mulai menimbun berpeti-peti telur untuk dijual lagi dengan harga lebih mahal. Setelah kelangkaan masker, hand sanitizer serta melonjaknya harga gula yang mencapai harga 20 ribu/kg (padahal disini ada pabrik yang memproduksi gula lokal) dan juga harga-harga bahan pangan laen.

Sepertinya kita (emak-emak) harus terus berjuang muter otak, demi kelangsungan hidup beberapa orang yang lagi ngendon di rumah selama beberapa minggu ke depan. Apalagi harus menuruti selera makan mereka yang (Picky Eater), Si tukang pilih-pilih makanan. Padahal kan sekarang ini, sangat dianjurkan untuk makan dengan gizi seimbang demi meningkatkan imunitas tubuh. Herannya di sini, kok yah selera makannya variatif banget yak (tapi sayur ogah), sampe emaknya harus mengolah bahan yang sama menjadi makanan yang berbeda. Kalo lagi banyak duit mah enak, tinggal beli aja bahannya gampang. Nah kalo keuangan terbatas seperti situasi sekarang ini. Emang sih emaknya jadi kreatif dan dapurnya ngebul tiap hari, tapi otaknya, pasti ikutan berasep juga pastinya๐Ÿ˜…. Lah wong, biasanya lebih sering beli kalo gak sempet masak. Mo cemilan, tinggal ke warung, kan banyak tuh disini. 

Saking 'muaknya' masak telur tiap hari (orang-orang serumah mah tetep aja doyan). Dontnowailah.. Mungkin, karena dulu pas baru merit sama suami, semuaaanya doyan makan telur. Tapi saya, karena emang waktu kecil, telur itu biasanya dibeli untuk lauk kalo ibu saya udah kepentok, gak tau mau masak apalagi (ceritanya lagi males masak). Nah, sementara selera makan ortu saya itu, ikan-ikanan dan seafood, seirit-iritnya yah ikan asin ato lauk garem. Jaraaaang sekali mengkonsumsi telur ayam, kecuali kalo pas masak mie instant doang. Itupun anak-anaknya jarang kebagian pake telur. Padahal justru saat itulah kehadiran telur itu begitu sangat istimewa. Rasanya beda kalo indomie disajikan pake telur, karena pasti jadi lebih banyak dan lebih kenyang, yak. Trus tampilannya, diharapkan juga bisa mirip seperti saran penyajian yang tergambar dibungkusnya, (ngarep doang). Karena ternyata, volumenya emang gak seindah realita yang ada. ๐Ÿ˜…

Meskipun begitu, telur tetep selalu menjadi salah satu makanan paling wajib sejak menikah. Entah dari jaman batu, pokoknya harus ada telur. Karena dapetnya gampang, masaknya gampang apalagi makannya (tapi itu, kalo cuma direbus, ceplok atau didadar aja) ๐Ÿ˜…. Dan lagi, karena telur memiliki kandungan protein tertinggi diantara yang lainnya dan juga mengandung nutrisi yang penting untuk kesehatan, seperti kalium, sodium, magnesium, dan kalsium terutama pada putih telur. Jadi lumayanlah, murah dan bergizi, yak.

Bermacam-macam resep telur yang pernah saya baca di majalah dan di internet, tapi yang saya praktekin tidak banyak juga ternyata ๐Ÿ˜‚yang sesuai selera aja sih sebenere, biar gak eneg lagi makan telur. Kalo harus nurutin seleranya orang-orang tapi saya gak mau, yah percuma juga. Feelnya pasti gak dapet, trus masaknya jadi ogah-ogahan. Rasanya juga pasti yah, ala kadarnya ๐Ÿ˜….

Berikut, 22 Olahan telur yang pernah saya praktekin. Buat yang doyan telur, boleh dicoba ๐Ÿ˜‚.

1. Dadar Garing
Ini adalah resep andalan pertama kali yang saya pelajari setelah menikah. Dimana sebutir telur itu dikocok hingga berbusa kayak bikin kue bolu, dikasih garem kemudian digoreng di minyak banyak dan panas lalu dimasak hingga kriuk-kriuk. 

2. Dadar Tomat Cabe
Resep ini adalah warisan Ortu yang hadir di masa panceklik yang sekalipun gak pernah saya praktekin, kecuali setelah menikah. Karena saya cuma teringat resep ini, waktu mertua nanya bisa masak telor apa aja selaen telur rebus ๐Ÿ˜…. Bahannya telor, bawang merah, bawang putih, tomat sebiji, cabe merah, diiris iris semua, kasih garem doang, aduk rata trus di goreng. Makannya sama nasi putih doang kerasa enak banget "saat itu" ๐Ÿ˜‚.

3. Orak-arik Kecap
Terinspirasi karena ngeliatin ponakan doyan banget makan ini sama nasi tiap hari. Awal-awal saya cuma sering masakin aja gak sampe nyicip. Tapi kapan hari sering kepepet gak sempet masak, mo beli makan jauh, anak bayi gak bisa ditinggal. Akhirnya, wow kok enak yah, apalagi makannya pake nasi anget yang dicampur kecap manis. (Perasaan orang laper aja kali yah ๐Ÿ˜‚). Cara masaknya itu gampang. Telur diorak-arik tanpa minyak tapi kasih sedikit mentega biar wangi, di teflon campur dengan kecap manis sedikit, setelah mateng, tarok diatas nasi trus tuangin kecap manis lagi agak banyak. Aduk.

4. Telur Kari
Telur yang sudah direbus, ditusuk tusuk pake garpu (biar gak meletus) kemudian di goreng, setelah agak garing dicemplungin ke kuah kari ayam. Gampang banget kan ๐Ÿ˜…, cuma bikin kuahnya yang kurang praktis. Tapi gak masalah juga sekarang kan banyak bumbu kemasan, yak. Nah, kuah kari ini boleh dibikin banyak, biar besoknya bisa bikin martabak telur buat sarapan. Telur lagi, telur lagi.. ๐Ÿ˜‚

5. Martabak Telur
Jangan ngebayangin saya bikin martabak seperti abang-abang itu yah, noup. Susaaaah, bikin kayak begitu, musti dimelarin, lempar sana sini. Belum prosesnya yang lama, keburu laper duluan ini mah ๐Ÿ˜…. Saya mah praktis aja bikinnya, tepung aja di dadar tipis-tipis di teflon trus masukin telor, abis itu dilipet, pindahin ke wajan yang banyak minyak, trus digoreng sampe garing luarnya. Jadilah martabak imitasi yang rasanya mirip banget.

6. Roti Tawar Krispi isi Telur
Kemaren beli roti tawar ke minimarket, untuk stok beberapa hari, tapi sepertinya udah pada bosen makan roti yang dioles mentega dan susu lalu ditaburin meses, kemudian dipanggang. Jadi, karena dipastikan pada doyan sama telur. Akhirnya, roti tawar itu dipotong segitiga, diisi sama telur yang sudah didadar tebel (isinya telur doang tapi banyak, terus rotinya dicelupin di adonan tepung krispi, abis ituh langsung digoreng di minyak banyak biar menyatu. Jangan tanya gimana, selera anak-anak banget itu mah, apalagi pake dicolek-colek sama sambel, beuh. Berasa makan ayam goreng krispi aja dah. Meskipun yang ini ada tambahan, namanya jadi Telur Ayam krispi.

7. Telur Dadar Krispi (geprek)
Resepnya simpel. Sesuai namanya, telor cuman didadar tapi tepung krispinya dibanyakin biar tebel dan kriuk-kriuknya melimpah ruah, karena ada juga yang doyan makan tepungnya aja tapi isinya dicuekin.

8. Nugget telur
Alih-alih sayur, akhirnya saya bikin bakwan (biar pada mau makan sayur, meski terselubung). Sejak #dirumahaja, eh, saya kebablasan, karena ternyata bikinnya hampir tiap hari๐Ÿ˜‚. Itu baru ketauan karena ada yang protes, kalo gak, yah cuek aja teruus wkwkwk..

Akhirnya karena banyak stok sayur, semuanya saya cincang kecil-kecil kemudian campur dengan telur yang sudah dikocok. Usahakan jumlah telurnya melimpah, biar adonan merekat sempurna setelah dikukus di loyang dan rasa sayurnya bisa ilang ketutupan rasa telur. Setelah itu, saya potong-potong kotak/stik, balurin tepung roti, trus simpen di kulkas, pas mo makan baru digoreng. Lumayan buat lauk seminggu.

9. Botok telur
Resepnya sama kayak botok biasa dicampur parutan kelapa trus dibungkus daun pisang dan dikukus, tapi saya banyakin telurnya, karena yah, emang gak ada bahan laen lagi yang bisa dimasukkin. ๐Ÿ˜‚

10. Telur kukus
Telur dikocok aja kasih garem ato kaldu bubuk, abis ituh saya kukus (lumayan, makanan untuk diet tanpa minyak) buat cemilan penambah protein.

11. Pempek telur
Pempek disini maksudnya Pempek dos isi telur, karena lebih praktis. Kalo mo pake ikan juga boleh, tapi berhubung biayanya bakal "menggendut", jadi pake sagu aja dulu, yak. Di adonannya saya kasih telur juga biar teksturnya lebih manteb. Pas pempeknya dibentuk, saya bikin tipis, dan isi telurnya melimpah, biar puaaaassss.. ๐Ÿ˜†

12. Telur sambo
Ada yang pernah denger telur ini? Ini adalah telur dadar yang suka dijual di rumah makan padang ituloh. Telurnya tebal sekali dan aroma rempahnya sangat khas. Dulu resep telur ini sempet populer di internet, karena disertai tips dan trik gimana menggorengnya, biar hasilnya tebal dan enak. Bahannya pun terbilang simple, telur, bawang merah, cabe merah dan garam. Hanya saja teknik menggoreng yang harus diperhatikan dan peralatan wajan yang berbentuk sangat cekung agar hasil telur bisa kelihatan tebal maksimal.

13. Telur gulung ala Jepun (Tamagoyaki)
Karena kemaren dulu pengen makan telur yang tebel tapi gak punya wajan kecil cekung, alhasil nemulah cara bikin telur dadar ala jepang yang teksturnya sebelas duabelaslah kayak telur gulung ala korea (gyeran mari) dan masih bisa dimasak di teflon bulat (yang penting tebel yekan).

14. Sambal goreng telur
Aslinya, sambal ini adalah sambal goreng ati buncis. Karena udah ada yang jual bumbu basahnya disini (bisa dibekukan untuk nyetok), tapi males ngebersihin ati, ampela dan buncis (sebenere karena telur emang lebih murah) jadi cukup telur rebus, terus digoreng sampe kulitnya agak coklat baru dimasukkin ke bumbu basah yang udah ditumis dan dikasih santan, biar ada kuahnya. Udah, manteb itu mah.

15. Sate telur puyuh
Konon katanya, anak-anak kecil yang sedang berada di masa pertumbuhan boleh mengkonsumsi 5 butir telur puyuh perhari (konsumsinya dibatasi untuk orang dewasa karena mengandung kolesterol tinggi). Demi tumbuh kembangnya dan biar gak minta jajan terus, akhirnya diputuskan bikin sate dari telur puyuh rebus, telurnya dikupas lalu disusun seperti sate, terus dicemilin. Gitu doang ๐Ÿ˜‚ kalo pengen dicocol saos kacang silahkan (kalo ada).

16. Bola-bola Telur Puyuh balut Tepung Jagung (namanya lupa)
Dulu pernah nemu resep ini di sebuah tabloid masak memasak, bahan-bahannya seabrek tapi rasanya bolehlah. Adonan kulitnya dari jagung dan udang yang sudah ditumbuk dan dicampur bawang-bawangan halus, ketumbar, terigu serta tepung maizena. Mirip adonan perkedel tapi bisa dibulat-bulatkan dan diisi telur puyuh, kemudian di goreng.

17. Telur ceplok kuah Soto
Telur diceplok masukkin ke kuah soto, jadi deh. Tapi sebelumnya, kuahnya dibikin dulu, ato mungkin masih ada yang kemaren, sisa beli dari warteg. ๐Ÿ˜

18Telur ceplok kuah Semur
Caranya sama kayak telur ceplok kuah soto, tapi kuahnya pake Kuah Semur Ayam atau Semur Daging. (bisa bikin, beli atau memanfaatkan sisa lauk kemarin)

19. Telur malbi
Telur rebus, digoreng sampe berkulit dimasukkin ke bumbu malbi. Ada yang jual bumbu basahnya juga disini, jadi tinggal ditumis trus dikasih kecap, masukin telur taburin bawang goreng.

20. Telur Bacem
Sekalian pas mo masak tempe bacem, masukkan juga telur yang udah direbus. Lumayan kan, bisa nambahin stok lauk.

21. Pempek lenggang
Gak perlu pempek yang mahal, cukup pempek dos ato cireng, cilok dan sejenisnya, dipotong kecil-kecil dimasukkin ke kocokan telur, terus di dadar di teflon, dimakan pake cuko pempek. Kenyang ๐Ÿ˜…

22. Orak arik kuah pindang
Karena waktu itu sempet kehabisan minyak goreng, tapi males makan telur rebus. Liat di panci, masih ada sisa kuah pindang tulang kemaren. Akhirnya beberapa butir telur yang sudah dikocok saya cemplungin, ke sisa kuah pindang yang mendidih terus di aduk-aduk kayak bikin telor orak arik. Dan ternyata, rasanya jadi lebih enak ๐Ÿ˜‚. 

Ya, sutralah. Segini dulu aja, ini juga kayaknya udah kebanyakan. ๐Ÿ˜‚

Semoga yang membaca terinspirasi, terutama di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Mo nyetok susah, eh barangnya juga gak ada karena langkah. Pas mo belanja, eh ternyata duitnya juga gak ada (kan puyeng)๐Ÿ˜‚  

Mengkonsumsi telur itu lumayan ngirit bagi yang punya duit (kalo gak punya duit, apa juga yang musti diiritin, yak ๐Ÿ˜…) dan lumayan praktis buat yang gak mau ribet, bersihin ikan, ayam, udang dan lauk-lauk sejenis lainnya ato malah emang sukanya cuma sama telur. Dan semoga, gak tambah eneg setelah kebanyakan praktek masak telur, yak. ๐Ÿ˜‚ 

Kalo ada yang ingin menambahkan, boleh ๐Ÿ˜ dipesilahken.