uzegan

Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

08:32 21
Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

"Kita mungkin dirumah terus, tapi ternyata duit gak mau ikut diem di rumah. Malah keluar terus." (Entah siapa yang bilang itu di Instagram kemaren, lupa saya).πŸ˜‚

Kita bisa berhemat untuk urusan transport, anak-anak gak minta jajan, stop jalan-jalan bahkan stop laper mata di mall sewaktu weekend. Tapi, sekalinya ngendon di rumah, eh jadinya malah pengen ngemil terus, yekan.

Kegiatan masak-memasak di rumah pun belum tentu juga bisa berhemat. Kadang, bahannya juga gak bisa dibeli sedikit ato malah bersisa banyak tapi hampir gak pernah dipake, jadi rusak, layu sampe kadaluarsa. Sedangkan kalo yang mateng masih bisa dibeli dengan porsi sedikit dan juga bermacam-macam, tanpa harus menghidangkan masakan rumah yang itu lagi, itu lagi. Lalu kemudian makanan yang udah gak 'fresh from the oven" itu pun terlupakan.

Yang begitu itu pasti bikin bosen dan ujung-ujungnya jadi males makan. Dipastikan, bakal tambah pusinglah emaknya (pengen irit malah jadi pailit)πŸ˜‚. Belum lagi biaya untuk menjaga imunitas yang perlu dioptimalkan seperti sekarang ini, alat kebersihan dan alat kesehatan termasuk obat-obatan yang harus di stok di luar kebiasaan, (karena orang-orang di rumah, semuanya lagi pada ngedrop) bikin keuangan membengkak, sebengkak-bengkaknya karena terinfeksi harga yang melonjak dengan sangat drastis. 

Demikian uneg-uneg saya, di minggu pagi yang cerah ini.  πŸ˜‚


Sejak diberlakukannya #stayathome, udah berasakah atmosfernya? Udah mulai gak betahkah? Pengen kesini, pengen kesitu? Pengen ngumpul, makan ini, makan itu? Pastinya udah ada yang nyampe level jenuh, suntuk, bosen, setengah bosen, kali yak. Atau, malah biasa aja, bahkan menikmati? Ada?

Jarum timbangan udah geser ke kanan blom? Skill memasaknya pasti udah pada naek level, yak. Buat yang suka film atawa drama, udah mecahin rekor berapa biji nontonnya? Eh, kuota juga. Udah abis berapa giga tuh? (Kok ini kayak nanya diri sendiri, yak). πŸ˜…

Salah satu hal penting yang akan saya bahas disini adalah semoga dibukakannya, mata hati mereka-mereka yang tidak tau atau malah tidak peduli tentang segala keruwetan yang ada di dalam pikiran para ibu rumah tangga (yang jarang bersosialisasi dan ibu yang mendedikasikan waktunya selama 24 jam untuk mengurus keluarga). Semoga mereka bisa menyadari bagaimana suntuknya tidak bisa kemana-mana ketika ruang gerak dibatasi, seperti yang terjadi pada setiap orang di masa pandemi seperti sekarang. 

Karena begitulah yang seorang Ibu rasakan, #stayathome bukan dalam hitungan minggu atau bulan saja, tapi tahunan. Berjibaku di dalam rumah, menghadapi segala keruwetan tak berujung, setiap hari dan berulang-ulang. Pengen kemana-mana gak bisa, apalagi mo ngapa-ngapain dikarenakan anak-anak yang masih pada kecil, atau malah karena para abegeh yang belum mandiri meski udah beranjak dewasa. 

Ditambah lagi dengan adanya wabah, bukan hanya keriweuhan saja yang semakin bertambah karena harus mendahulukan seabrek kewajiban. Tapi juga butuh tenaga ekstra untuk menjaga kebersihan, kesehatan keluarga, mengatur pola makan agar semua anggota keluarga bisa tetap sehat dan terjaga nutrisinya. Walaupun keuangan kadang morat-marit, yang paling penting anak-anak tidak menderita kelaparan.

Kendatipun demikian, dengan adanya wabah ini setidaknya ada hikmah yang bisa kita ambil. Beban pikiran seorang Ibu akan menjadi terasa lebih ringan, karena anggota keluarga sudah dengan sendirinya menyadari, dan mulai terbiasa untuk menjaga kebersihan, kesehatan serta pola makan. Tidak lagi harus diingetin terus, sampe harus diomelin berkali-kali, nurut tapi setelah itu males lagi, lupa lagi. Karena kadang anak lebih suka ngedengerin omongan orang lain, ketimbang Orangtuanya sendiri. (Mungkin karena sering diomelin, yak). πŸ˜‚

Efek samping dari stress dan keruwetan seorang Ibu itu biasanya akan berujung menjadi kegemukan atau overweight hingga obesitas. Karena apa? Yah itu, bisa jadi salah satunya karena kelamaan di rumah, gak bisa kemana-mana jadi bingung mo ngapain lantas jadi mageran, tapi pengen juga melakukan sesuatu biar gak ngerasa jenuh dan cepat bosan meskipun kegiatannya hanya dilakukan di rumah. Karena sayang juga kan, membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Nah, biasanya yang paling gampang itu, yah dengan menyelami apa yang menjadi aktifitasnya sehari-hari. Dari yang paling terdekat saja, misalnya makanan. Makanan dengan mudah bisa diakses, entah dari kulkas atau stok makanan yang ada di lemari. Kalopun gak ada semua, dengan bahan-bahan seadanya dan alat memasak yang tersedia, bukan tidak mungkin seorang ibu jadi semakin kreatif demi sebuah camilan.  Jika udah bener-bener gak ada lagi bahan untuk dimasak (zonk) dan gak bisa keluar untuk belanja, tinggal pesen makanan secara online aja, beres toh. πŸ˜‚

Tuh kan, ampe dibikin gak ada lagi aral merintang di dunia emak-emak, gegara soal fasilitas permakanan ini, yekan. Blom lagi foto-foto atau resep makanan yang banyak bersliweran di internet. Obsesi tentang makanan pun semakin membara jadinya, yak. πŸ˜‚

Makan menjadi hal yang membuat ketagihan dan tak jarang seorang Ibu rumah tangga mengabaikan efeknya. Kenapa? karena ternyata bisa menggantikan banyak kebahagiaan yang tidak dia dapatkan setelah menikah. 

Dulu banget, pernah saya bahas sedikit tentang ini, dari bukunya John Gray, P.hD. Bahwa makan merupakan Salah satu pembunuh rasa sakit para Istri.

Sedikit banyak isi bukunya seperti ini :

"Makan merupakan sebuah pengganti yang mudah untuk cinta. Semakin dia banyak makan, untuk sementara waktu dia dapat menekan perasaan-perasaan tidak aman yang menyakitkan yang muncul dari sisi kewanitaannya. Sampai dia menemukan suatu cara untuk memuaskan dan secara langsung memupuk sisi kewanitaannya secara teratur, dia akan terus menggunakan makanan sebagai pembunuh rasa sakit. 

Dengan mematirasakan perasaan-perasaan itu, kemampuannya untuk bercinta diteduhkan, dan menemukan kelegaan. Kecenderungan ini disebut sebuah “Penggantian kebutuhan”. Jika dia tidak dapat memperoleh apa yang betul-betul dibutuhkannya, kebutuhan nyata itu digantikan oleh kebutuhan lain yang tampaknya lebih gampang diperoleh, seperti makanan. Sebelum kehausan akan cinta itu dipuaskan, dia akan terus merasa lapar. Kadang-kadang dia bahkan mampu menipu dirinya sendiri untuk sementara waktu dengan keyakinan bahwa dia cukup bahagia dan tidak perlu berbicara atau berbagi rasa dalam suatu hubungan untuk membangun kebahagiaan bersama pasangan." 

Tidak hanya itu saja, menurut salah seorang Ahli GiziWanita yang menjadi gemuk setelah menikah dan punya anak itu, bukanlah karena keturunan, "Yang turun temurun itu kebiasaan makan dan budaya makan dalam keluarga" (apalagi kalo banyak stok makanan dirumah, tambah semangat itu, yak).πŸ˜…Hal itu sangat fenomenal, karena terjadi di seluruh dunia dan berulang-ulang pada generasi selanjutnya.

Gemuk setelah melahirkan dan menyusui itu masih wajar menurut saya, yang tidak wajar itu gemuk seumur hidup. Kendatipun sekarang sudah banyak wanita yang berusaha dan keluar dari lingkaran tersebut, dengan menjaga pola makan dan hidup sehat seperti olahraga serta mengelola pikiran agar tidak gampang stress, tapi masih saja ada yang pasrah dan menganggap gemuk itu wajar setelah menikah dan punya anak.

Ada juga yang berusaha untuk kembali ke body asal sebelum menikah atau sekedar mencoba mengurangi lemak di tubuh tapi gagal karena kurangnya dukungan dan motivasi dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada akhirnya dia menyerah, tidak berbuat apa-apa lagi dan berusaha menerima dirinya apa adanya. Padahal, dipastikan banyak penyakit yang akan mengintai dan berdatangan jika hal tersebut dibiarkan begitu saja.

Meskipun banyak juga yang melangsing tanpa memperhatikan pola makan, bisa saja itu terjadi karena kurangnya nutrisi akibat sembarang diet atau karena sakit. Saking banyaknya yang dipikirin atau karena ketidakmampuan dan kurangnya fasilitas untuk memperoleh makanan, IMO.

Beberapa tahun yang lalu, teman saya meninggal dunia. Dia menghembuskan nafas terakhir, setelah melahirkan anak pertamanya. Lalu, beberapa tahun setelahnya, teman kental saya, meninggal dunia akibat pecah pembuluh darah di otak. Lalu kemudian tak lama berselang, saya pun tak sengaja menonton di sebuah acara berita selebriti, bahwa Mike Mohede pun telah berpulang. Lalu kemudian satu-satunya paman saya juga menyusul karena penyakit di usus.

Dan baru saja dua minggu yang lalu, Ibu tetangga depan rumah turut menyusul karena sakit tumor usus, setelah sebulan sebelumnya mbak penjual sayur langganan saya berpulang karena tekanan darah tinggi dan terakhir Ibu tetangga samping rumah yang menderita penyakit komplikasi. Selain itu, masih ada dua tetangga lagi yang sedang sakit parah. (ini yang hanya di lingkungan rumah saja, belum di lingkungan keluarga dan lain-lain).

Kamu tau apa kesamaan mereka? Sama-sama mengalami overweight hingga obesitas.

Menurut John Gray, PhD. Kemudahan, kenyamanan, kelancaran, rasa aman, riang gembira, rekreasi, kenikmatan dan keindahan, semuanya memupuk sisi kewanitaan tetapi diet tidak. Program diet dengan memakan lebih banyak makanan berkadar lemak rendah dan berolahraga jelas merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi berat badan. Namun pemecahan paling efektif adalah hubungan yang lebih membangun kebahagiaan dan gaya hidup yang lebih santai dan tidak banyak beban.

Karena itu, "Untuk mendukung seorang wanita, pria harus memahami bahwa, jauh didalam lubuk hati, wanita ingin beristirahat, merasa lega dan menyerahkan kepada seseorang yang dipercayainya untuk mengasuh dan mendukungnya. Inilah kebutuhan batiniah sejati sisi kewanitaan."  - John Gray, PhD.

Tulisan isi saya buat karena merasa sangat prihatin dengan keadaan ini, mengingat mayoritas ibu-ibu disini mengalami hal seperti itu (saya termasuk gak yah, hmm..)πŸ€”πŸ˜‚.

Dan juga, karena merasa tertohok (tersentil tepatnya πŸ˜‚) dengan kalimat ini :


"Siapa yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka dia tidak bisa mengendalikan pikirannya." – Ali bin Abi Thalib


Yang berarti makan berlebihan itu, adalah salah satu ciri bahwa saya tidak bisa mengendalikan diri.  Ckckck.. πŸ˜…

Bukan Jarak yang Salah

11:17 2
Bukan Jarak yang Salah

Patut dipertanyakan, jika pasangan terpisah jarak dan hubungannya terlihat baik-baik saja, apalagi ternyata hubungannya malah semakin memburuk. Harus di cari tau, itu yak.

Dari hasil pengalaman mendengar (sisanya menguping πŸ˜‚). Ada beberapa kisah dari sudut pandang perempuan, tentang jarak yang membuat mereka malah berakhir jadi nelangsa. 

Eh tapi, jangan mentang-mentang abis baca ini langsung minta cerai atau putus, yak. Bukan bermaksud manas-manasin sih, cuma sekedar menghasut πŸ˜‚ (sama aja itu, mah). Hanya saja, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan. Meskipun sedikit, semoga bisa diambil hikmahnya. 😊

Di suatu pagi, ada seorang wanita menangis tersedu-sedu, sambil sesekali terdiam. Dia berkata, baru sebulan melahirkan anaknya yang keempat, anak pertamanya pun masih kecil. Berulang-ulang dia mempertanyakan kenapa suaminya tega menikah lagi diam-diam, dengan airmata yang tak henti terurai. Bagaimana kehidupan mereka sehari-hari? Ternyata, sang suami bekerja di luar kota dan pulang hanya sebulan sekali.

Lalu ada lagi, seorang wanita yang berkali-kali dikhianati akhirnya memutuskan untuk bercerai, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi kelakuan suaminya selama bertahun-tahun. Semuanya berawal karena sang suami sering pindah tugas keluar kota. Walopun mereka bertemu seminggu sekali, tapi itu kurang cukup untuk membuat suaminya kekeuh untuk tidak terus mencari wanita lain.

Tidak perlu harus sampai keluar kota, Jika seorang suami tidak pulang berhari-hari dikarenakan pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggal, seperti sebuah proyek atau sejenisnya. Jangan dibiarin aja (waspada dounk harusnya). Seperti nasib salah seorang temen saya yang sering upload-upload foto mesra bareng suami, saking positive thinkingnya. Eh taunya, si suami gak pulang berhari-hari, ternyata karena sering menginap di rumah sang mantan. Ckckck..

"Rindu mungkin terjadi karena jarak. Tapi rindu itu, hanya untuk mereka yang setia."

Terus terus, ada lagi temen saya. Pacarnya itu seorang abdi negara, yang harus bertugas beberapa tahun diluar kota. Sempet gak ngasih kabar, eh taunya ngirim sms minta putus, karena dia mau nikah sama orang laen. Lah, mending sekalian aja gak usah ngomong-ngomong atau setidaknya minta putus ajalah karena jarak, gak usah pake embel-embel karena mo nikah sama orang laen. Lah wong tempatnya aja di luar kota. Mo kawin ato gak juga, ya mana tau.

Nah, yang ini beda sudut pandang. Karena cerita ini berasal dari temen saya (cowok) pas kuliah, dia punya temen cowok yang juga adalah temen saya. Ceritanya kami lagi meng-gibhahin si temen kami itu (sebut saja Si Boy) dibawah pohon rindang, pagi-pagi di depan kampus. Mirip species-species tukang gosip ala anak kampus, yak. πŸ˜‚

Tujuan kami sih sebenernya baik, karena Si Boy ini, anaknya lumayan populer dan juga aktif di kegiatan kampus, suaranya enak banget (seorang vokalis), pinter dan ganteng pula. Dia orangnya baik, dan cara berinteraksinya dengan orang lain terlihat dewasa, untuk orang yang hanya beda setaon diatas saya.

Kami mendiskusikan sesuatu yang terbilang hot di seputar kampus pada saat itu, demi kebaikan cewek-cewek yang sangat over ngefans sama Si Boy ini, atau mungkin malah temen saya ini yang rada sirik, karena banyak cewek yang lebih memilih Si Boy daripada dia. Mungkin.. πŸ˜…

Si Boy ini, ternyata udah punya anak-istri di kampung (menikah muda), tapi suka tebar pesona kemana-mana dan merahasiakan latar belakangnya. Sepertinya, temen saya gak sengaja denger dari Si Boy sendiri. Yang jelas temen saya ini orangnya menghargai privasi orang lain, tapi mungkin kelakuan Si Boy telah mengusik hati nuraninya. Gak tega ngeliat cewek-cewek cantik di kampus patah hati, padahal masih banyak pria-pria yang sedang menanti, (termasuk dia kayaknya)πŸ˜‚ dan diharapkan cewek-cewek untuk berhati-hati, jangan sampai salah pilih. πŸ˜‚

Nah satu lagi, cerita dari bapak-bapak muda, juga seorang abdi negara, baru menikah tapi tiba-tiba harus pindah tugas ke kota terpencil, disana dia menikah lagi dan punya anak. Setelah dia kembali pindah tugas kesini secara permanen, Istri dan anaknya yang masih kecil disana ditinggalkan begitu saja dan kembali ke istrinya yang disini.

Sungguhlah mendengar kisah-kisah mereka, bener-bener membuat naluri pembela kebenaran dan keadilan dalam diri saya bangkit (jadi inget Ninja Hattori)πŸ˜‚. Pengennya angkat senjata, tapi berat πŸ˜‚. Pake mulut, orangnya udah dimana, saya dimana. Dengan keyboard, entah apakah para pelaku bisa tersentil? Who Knows.. emang lebih baik calon korban juga yang harus waspada duluan, yak.

Tapiii, gak semua kisah LDR atau LDM seperti itu tentunya, yak. Karena emang begitulah hidup, yang adem ayem bahkan tak terdengar kisahnya, karena tidak ada yang dipermasalahkan. Justru mereka yang bermasalah, jika ketauan maka akan terkuak dan semakin terekspos, karena terdengar lebih menarik dan secara alamiah menjadi pusat perhatian, sehingga membuat seolah hubungan yang berjarak akan selalu berakibat negatif.

Padahal jika ditilik lebih dekat, banyak juga yang rela berkorban, meninggalkan keluarga besar ikut bersama pasangan ke negeri asalnya. Rela berjauhan dari Orangtua dan pindah ke kota lain, agar bisa tetap bersama dengan pasangan. Atau seperti Ortu teman saya yang berpisah (tidak bercerai) sejak teman saya SMA, ibunya bekerja di luar negeri dan membawa serta kakaknya, sedangkan ayahnya disini bersama teman saya dan adiknya, begitu teman saya ini menikah, ibunya memutuskan untuk kembali kesini dan melepas semua kariernya.

"Bukan jarak yang salah, tapi manusianya yang tidak setia. Titik." 

(Bikin peribahasa tapi kok ngegas πŸ˜‚) 

22 Olahan Telur di Masa Pandemik

00:06 2
22 Olahan Telur di Masa Pandemik

Lumayan kaget, waktu dapet kembalian 2 ribu perak setelah belanja telur, gula sekilo sama sawi 2 ons pake duit 50 ribu, Ckckck.. Padahal, duit segitu mah biasanya, (cukup gak cukup) masih bisa buat beli sarapan sama bahan lauk pauk untuk satu hari. Tapi tadi, saya dengar dari sumber terpercaya (bukan gosip ala warung sayur) πŸ˜‚memang ada beberapa oknum yang mulai menimbun berpeti-peti telur untuk dijual lagi dengan harga lebih mahal. Setelah kelangkaan masker, hand sanitizer serta melonjaknya harga gula yang mencapai harga 20 ribu/kg (padahal disini ada pabrik yang memproduksi gula lokal) dan juga harga-harga bahan pangan laen.

Sepertinya kita (emak-emak) harus terus berjuang muter otak, demi kelangsungan hidup beberapa orang yang lagi ngendon di rumah selama beberapa minggu ke depan. Apalagi harus menuruti selera makan mereka yang (Picky Eater), Si tukang pilih-pilih makanan. Padahal kan sekarang ini, sangat dianjurkan untuk makan dengan gizi seimbang demi meningkatkan imunitas tubuh. Herannya di sini, kok yah selera makannya variatif banget yak (tapi sayur ogah), sampe emaknya harus mengolah bahan yang sama menjadi makanan yang berbeda. Kalo lagi banyak duit mah enak, tinggal beli aja bahannya gampang. Nah kalo keuangan terbatas seperti situasi sekarang ini. Emang sih emaknya jadi kreatif dan dapurnya ngebul tiap hari, tapi otaknya, pasti ikutan berasep juga pastinyaπŸ˜…. Lah wong, biasanya lebih sering beli kalo gak sempet masak. Mo cemilan, tinggal ke warung, kan banyak tuh disini. 

Saking 'muaknya' masak telur tiap hari (orang-orang serumah mah tetep aja doyan). Dontnowailah.. Mungkin, karena dulu pas baru merit sama suami, semuaaanya doyan makan telur. Tapi saya, karena emang waktu kecil, telur itu biasanya dibeli untuk lauk kalo ibu saya udah kepentok, gak tau mau masak apalagi (ceritanya lagi males masak). Nah, sementara selera makan ortu saya itu, ikan-ikanan dan seafood, seirit-iritnya yah ikan asin ato lauk garem. Jaraaaang sekali mengkonsumsi telur ayam, kecuali kalo pas masak mie instant doang. Itupun anak-anaknya jarang kebagian pake telur. Padahal justru saat itulah kehadiran telur itu begitu sangat istimewa. Rasanya beda kalo indomie disajikan pake telur, karena pasti jadi lebih banyak dan lebih kenyang, yak. Trus tampilannya, diharapkan juga bisa mirip seperti saran penyajian yang tergambar dibungkusnya, (ngarep doang). Karena ternyata, volumenya emang gak seindah realita yang ada. πŸ˜…

Meskipun begitu, telur tetep selalu menjadi salah satu makanan paling wajib sejak menikah. Entah dari jaman batu, pokoknya harus ada telur. Karena dapetnya gampang, masaknya gampang apalagi makannya (tapi itu, kalo cuma direbus, ceplok atau didadar aja) πŸ˜…. Dan lagi, karena telur memiliki kandungan protein tertinggi diantara yang lainnya dan juga mengandung nutrisi yang penting untuk kesehatan, seperti kalium, sodium, magnesium, dan kalsium terutama pada putih telur. Jadi lumayanlah, murah dan bergizi, yak.

Bermacam-macam resep telur yang pernah saya baca di majalah dan di internet, tapi yang saya praktekin tidak banyak juga ternyata πŸ˜‚yang sesuai selera aja sih sebenere, biar gak eneg lagi makan telur. Kalo harus nurutin seleranya orang-orang tapi saya gak mau, yah percuma juga. Feelnya pasti gak dapet, trus masaknya jadi ogah-ogahan. Rasanya juga pasti yah, ala kadarnya πŸ˜….

Berikut, 22 Olahan telur yang pernah saya praktekin. Buat yang doyan telur, boleh dicoba πŸ˜‚.

1. Dadar Garing
Ini adalah resep andalan pertama kali yang saya pelajari setelah menikah. Dimana sebutir telur itu dikocok hingga berbusa kayak bikin kue bolu, dikasih garem kemudian digoreng di minyak banyak dan panas lalu dimasak hingga kriuk-kriuk. 

2. Dadar Tomat Cabe
Resep ini adalah warisan Ortu yang hadir di masa panceklik yang sekalipun gak pernah saya praktekin, kecuali setelah menikah. Karena saya cuma teringat resep ini, waktu mertua nanya bisa masak telor apa aja selaen telur rebus πŸ˜…. Bahannya telor, bawang merah, bawang putih, tomat sebiji, cabe merah, diiris iris semua, kasih garem doang, aduk rata trus di goreng. Makannya sama nasi putih doang kerasa enak banget "saat itu" πŸ˜‚.

3. Orak-arik Kecap
Terinspirasi karena ngeliatin ponakan doyan banget makan ini sama nasi tiap hari. Awal-awal saya cuma sering masakin aja gak sampe nyicip. Tapi kapan hari sering kepepet gak sempet masak, mo beli makan jauh, anak bayi gak bisa ditinggal. Akhirnya, wow kok enak yah, apalagi makannya pake nasi anget yang dicampur kecap manis. (Perasaan orang laper aja kali yah πŸ˜‚). Cara masaknya itu gampang. Telur diorak-arik tanpa minyak tapi kasih sedikit mentega biar wangi, di teflon campur dengan kecap manis sedikit, setelah mateng, tarok diatas nasi trus tuangin kecap manis lagi agak banyak. Aduk.

4. Telur Kari
Telur yang sudah direbus, ditusuk tusuk pake garpu (biar gak meletus) kemudian di goreng, setelah agak garing dicemplungin ke kuah kari ayam. Gampang banget kan πŸ˜…, cuma bikin kuahnya yang kurang praktis. Tapi gak masalah juga sekarang kan banyak bumbu kemasan, yak. Nah, kuah kari ini boleh dibikin banyak, biar besoknya bisa bikin martabak telur buat sarapan. Telur lagi, telur lagi.. πŸ˜‚

5. Martabak Telur
Jangan ngebayangin saya bikin martabak seperti abang-abang itu yah, noup. Susaaaah, bikin kayak begitu, musti dimelarin, lempar sana sini. Belum prosesnya yang lama, keburu laper duluan ini mah πŸ˜…. Saya mah praktis aja bikinnya, tepung aja di dadar tipis-tipis di teflon trus masukin telor, abis itu dilipet, pindahin ke wajan yang banyak minyak, trus digoreng sampe garing luarnya. Jadilah martabak imitasi yang rasanya mirip banget.

6. Roti Tawar Krispi isi Telur
Kemaren beli roti tawar ke minimarket, untuk stok beberapa hari, tapi sepertinya udah pada bosen makan roti yang dioles mentega dan susu lalu ditaburin meses, kemudian dipanggang. Jadi, karena dipastikan pada doyan sama telur. Akhirnya, roti tawar itu dipotong segitiga, diisi sama telur yang sudah didadar tebel (isinya telur doang tapi banyak, terus rotinya dicelupin di adonan tepung krispi, abis ituh langsung digoreng di minyak banyak biar menyatu. Jangan tanya gimana, selera anak-anak banget itu mah, apalagi pake dicolek-colek sama sambel, beuh. Berasa makan ayam goreng krispi aja dah. Meskipun yang ini ada tambahan, namanya jadi Telur Ayam krispi.

7. Telur Dadar Krispi (geprek)
Resepnya simpel. Sesuai namanya, telor cuman didadar tapi tepung krispinya dibanyakin biar tebel dan kriuk-kriuknya melimpah ruah, karena ada juga yang doyan makan tepungnya aja tapi isinya dicuekin.

8. Nugget telur
Alih-alih sayur, akhirnya saya bikin bakwan (biar pada mau makan sayur, meski terselubung). Sejak #dirumahaja, eh, saya kebablasan, karena ternyata bikinnya hampir tiap hariπŸ˜‚. Itu baru ketauan karena ada yang protes, kalo gak, yah cuek aja teruus wkwkwk..

Akhirnya karena banyak stok sayur, semuanya saya cincang kecil-kecil kemudian campur dengan telur yang sudah dikocok. Usahakan jumlah telurnya melimpah, biar adonan merekat sempurna setelah dikukus di loyang dan rasa sayurnya bisa ilang ketutupan rasa telur. Setelah itu, saya potong-potong kotak/stik, balurin tepung roti, trus simpen di kulkas, pas mo makan baru digoreng. Lumayan buat lauk seminggu.

9. Botok telur
Resepnya sama kayak botok biasa dicampur parutan kelapa trus dibungkus daun pisang dan dikukus, tapi saya banyakin telurnya, karena yah, emang gak ada bahan laen lagi yang bisa dimasukkin. πŸ˜‚

10. Telur kukus
Telur dikocok aja kasih garem ato kaldu bubuk, abis ituh saya kukus (lumayan, makanan untuk diet tanpa minyak) buat cemilan penambah protein.

11. Pempek telur
Pempek disini maksudnya Pempek dos isi telur, karena lebih praktis. Kalo mo pake ikan juga boleh, tapi berhubung biayanya bakal "menggendut", jadi pake sagu aja dulu, yak. Di adonannya saya kasih telur juga biar teksturnya lebih manteb. Pas pempeknya dibentuk, saya bikin tipis, dan isi telurnya melimpah, biar puaaaassss.. πŸ˜†

12. Telur sambo
Ada yang pernah denger telur ini? Ini adalah telur dadar yang suka dijual di rumah makan padang ituloh. Telurnya tebal sekali dan aroma rempahnya sangat khas. Dulu resep telur ini sempet populer di internet, karena disertai tips dan trik gimana menggorengnya, biar hasilnya tebal dan enak. Bahannya pun terbilang simple, telur, bawang merah, cabe merah dan garam. Hanya saja teknik menggoreng yang harus diperhatikan dan peralatan wajan yang berbentuk sangat cekung agar hasil telur bisa kelihatan tebal maksimal.

13. Telur gulung ala Jepun (Tamagoyaki)
Karena kemaren dulu pengen makan telur yang tebel tapi gak punya wajan kecil cekung, alhasil nemulah cara bikin telur dadar ala jepang yang teksturnya sebelas duabelaslah kayak telur gulung ala korea (gyeran mari) dan masih bisa dimasak di teflon bulat (yang penting tebel yekan).

14. Sambal goreng telur
Aslinya, sambal ini adalah sambal goreng ati buncis. Karena udah ada yang jual bumbu basahnya disini (bisa dibekukan untuk nyetok), tapi males ngebersihin ati, ampela dan buncis (sebenere karena telur emang lebih murah) jadi cukup telur rebus, terus digoreng sampe kulitnya agak coklat baru dimasukkin ke bumbu basah yang udah ditumis dan dikasih santan, biar ada kuahnya. Udah, manteb itu mah.

15. Sate telur puyuh
Konon katanya, anak-anak kecil yang sedang berada di masa pertumbuhan boleh mengkonsumsi 5 butir telur puyuh perhari (konsumsinya dibatasi untuk orang dewasa karena mengandung kolesterol tinggi). Demi tumbuh kembangnya dan biar gak minta jajan terus, akhirnya diputuskan bikin sate dari telur puyuh rebus, telurnya dikupas lalu disusun seperti sate, terus dicemilin. Gitu doang πŸ˜‚ kalo pengen dicocol saos kacang silahkan (kalo ada).

16. Bola-bola Telur Puyuh balut Tepung Jagung (namanya lupa)
Dulu pernah nemu resep ini di sebuah tabloid masak memasak, bahan-bahannya seabrek tapi rasanya bolehlah. Adonan kulitnya dari jagung dan udang yang sudah ditumbuk dan dicampur bawang-bawangan halus, ketumbar, terigu serta tepung maizena. Mirip adonan perkedel tapi bisa dibulat-bulatkan dan diisi telur puyuh, kemudian di goreng.

17. Telur ceplok kuah Soto
Telur diceplok masukkin ke kuah soto, jadi deh. Tapi sebelumnya, kuahnya dibikin dulu, ato mungkin masih ada yang kemaren, sisa beli dari warteg. 😁

18Telur ceplok kuah Semur
Caranya sama kayak telur ceplok kuah soto, tapi kuahnya pake Kuah Semur Ayam atau Semur Daging. (bisa bikin, beli atau memanfaatkan sisa lauk kemarin)

19. Telur malbi
Telur rebus, digoreng sampe berkulit dimasukkin ke bumbu malbi. Ada yang jual bumbu basahnya juga disini, jadi tinggal ditumis trus dikasih kecap, masukin telur taburin bawang goreng.

20. Telur Bacem
Sekalian pas mo masak tempe bacem, masukkan juga telur yang udah direbus. Lumayan kan, bisa nambahin stok lauk.

21. Pempek lenggang
Gak perlu pempek yang mahal, cukup pempek dos ato cireng, cilok dan sejenisnya, dipotong kecil-kecil dimasukkin ke kocokan telur, terus di dadar di teflon, dimakan pake cuko pempek. Kenyang πŸ˜…

22. Orak arik kuah pindang
Karena waktu itu sempet kehabisan minyak goreng, tapi males makan telur rebus. Liat di panci, masih ada sisa kuah pindang tulang kemaren. Akhirnya beberapa butir telur yang sudah dikocok saya cemplungin, ke sisa kuah pindang yang mendidih terus di aduk-aduk kayak bikin telor orak arik. Dan ternyata, rasanya jadi lebih enak πŸ˜‚. 

Ya, sutralah. Segini dulu aja, ini juga kayaknya udah kebanyakan. πŸ˜‚

Semoga yang membaca terinspirasi, terutama di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Mo nyetok susah, eh barangnya juga gak ada karena langkah. Pas mo belanja, eh ternyata duitnya juga gak ada (kan puyeng)πŸ˜‚  

Mengkonsumsi telur itu lumayan ngirit bagi yang punya duit (kalo gak punya duit, apa juga yang musti diiritin, yak πŸ˜…) dan lumayan praktis buat yang gak mau ribet, bersihin ikan, ayam, udang dan lauk-lauk sejenis lainnya ato malah emang sukanya cuma sama telur. Dan semoga, gak tambah eneg setelah kebanyakan praktek masak telur, yak. πŸ˜‚ 

Kalo ada yang ingin menambahkan, boleh 😁 dipesilahken.

Santuy & Corona

13:16 0
Santuy & Corona


Pernah gak sih, kamu ketemu orang - orang yang malas menjaga kesehatan dirinya, susah banget kalo diomongin. Eh, pas dia jatuh sakit, eh dia yang paling manja, paling cerewet, paling heboh dan paaling - paling dari yang laen. Sampe nyusahin orang laen yang kadang sakitnya malah lebih parah.

Nah itu, salah satu hal yang paling mengingatkan saya dengan beberapa, sebagian, rata - rata bahkan mayoritas, atau mungkin hanya sebagian kecil warga +62? Entahlah, jumlah penduduk negeri ini kan banyak, yak. Beda-beda pula.

Apakah kamu salah satunya? Semoga aja gak, yah πŸ˜….

Kebiasaan "Santuy" ini pernah menjadi "kesan pertama" yang diterima para Vlogger luar. Yang mereka dapatkan secara langsung dari warga +62 di negeri tertjinta inih, juga dari warga +62 yang menetap di negara lain (gak semuanya tapi ada).

Bagi mereka yang melihat dari sisi positif, kesan santuy ini bagus dari sudut pandang ketika kita bertawakal dan berserah diri, tidak melulu terobsesi mengejar dunia yang hanya membuat kita lelah dan stress dalam menjalani hidup. Karena bagi seorang muslim, kalian tentu tau sebenarnya untuk apa kita diciptakan dan apa yang menjadi tujuan hidup kita sebenarnya, bukan.

Saking berkesannya perilaku warga +62 tentang bagaimana menghadapi hidup dan berinteraksi dengan orang lain, membuat sebagian dari mereka (orang luar) pun tergugah dan ingin menapaki jalan yang sama, yaitu dengan menjadi seorang mualaf. Tidak tanggung - tanggung, apa yang mereka pelajari bahkan lebih dalam dari seorang yang sudah menjadi muslim sejak lahir.

Karena warga +62 adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim atau beragama islam. Entah itu hanya di KTP ataupun tidak. Negeri tertjinta ini telah berkembang menjadi negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Otomatis, agama yg sudah ada sejak jaman nenek moyang ini, berpengaruh besar pada budaya dan adat istiadat bangsa kita.

Budaya rasa bersyukur dan tawakal yang sudah mengakar ini, seringkali disalahartikan (atau sebenernya, emang malas mengartikan) dari beberapa pihak atau oknum2 yang mageran, manja, egois, dan mau enaknya sendiri. Sehingga arti Santuy yang hakiki pun ternodai.

Kita wajib berserah diri setelah kita berikhtiar, dengan berdo'a dan berusaha sebaik-baiknya, lalu santuy kemudian. Begitulah langkah yang tepat, bagaimana seharusnya kita memfungsikan kata santuy ini, menurut saya.

Lalu, tiba-tiba kegiatan santuy ini belakangan begitu merebak, bukan hanya kata - katanya yang mendadak populer tapi juga kelakuannya. Menjadi kosakata baru, perbendaharaan kata 'anak jaman now warga +62', lalu menjadi hastag, taggar di berbagai akun sosmed, hingga menjalar ke aspek-aspek lain.

Ketika sedang berada di masa pandemi seperti sekarang ini, justru sisi negatif budaya santuy pada aspek kesehatan pun kian mencolok dan menjadi boomerang, bagi bangsanya sendiri.


"Biasanya, kalo belum kena batunya belum nyesel".



Mayoritas orang akan merubah pola makan hanya ketika, mau nikah, udah sakit parah, udah mau mati. Intinya ketika udah kepepet baru mau berubah. Begitu kata Bang @rizalnutritionist, lewat akun Instagramnya.


Itu baru dari pola makan. Belum yang lain, seperti menjaga kebersihan atau melakukan Germas seperti yang sudah dicanangkan pemerintah sejak lama. "Herannya, hal tersebut kan manfaatnya yang dapet dirinya sendiri. Tapi kok yah susah banget, kayak berasa berat ngejalaninnya gitu."

Mereka lebih senang mengikuti egonya, seolah punya prinsip sendiri, alih alih rasa malas. Selain karena faktor kehidupan serba instan seperti sekarang ini. Dimana - mana serba praktis, mo nyewa ART 10 orang pun santuy, ada perawat, dokter pribadi, dipersilahken, asalkan punya duit. Nah ini, jangankan duit, kerjaan gak punya, gaya selangit hasil nodong Ortu, diminta jaga kesehatannya sendiri aja gak mau. Yang ujung-ujungnya siapalagi yang bakal direpotin, kalo gak Ortunya sendiri. Kecuali mereka yang mungkinlah supersibuk, gak sempet lagi atau bahkan lupa menjaga kesehatan dirinya karena kelelahan menjaga kesehatan orang - orang disekitarnya, adaaa.

Atau karena terbatasnya fasilitas dan keuangan yang tidak memadai, bisa makan saja sudah bersyukur luar biasa. Tapi tak jarang kok, justru mereka - mereka yang seperti ini malah lebih telaten dalam urusan hidup sehat dan menjaga kebersihan. Walau fasilitas kurang, seperti tidak adanya pasokan air karena hanya mengonsumsi air dari sumur atau sungai yang kadang mengering di musim kemarau. Atau tinggal di rumah gubuk yang notabene cepat rusak dan tidak awet, tidak seperti bangunan rumah gedong.

Karena ketidakmampuan dan ketidakpunyaan yang dibalut rasa syukur itulah, yang justru mendorong mereka untuk menjadi kreatif dan semakin menjauh dari rasa malas serta lebih menghargai diri sendiri.

Kesehatan itu adalah Mahkota yang bersemayam di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit - Dr. Aidh Al-Qarni

Jumat kemarin disini, telah diumumkan bahwa 1 orang positif. Lalu kemudian bertambah yang ke 2. Dan dari bisik - bisik tetangga (seorang perawat yang tidak saya kenal) di sebuah warung sayur, ternyata sudah ada 4 yang meninggal tapi tidak diumumkan, demi menjaga ketenangan lokal dari kepanikan berjamaah, mungkin.

Tak lupa, dengan kesigapan emak2ser dalam membagikan info - info dan video yang lumayan mengguncang, khususnya budaya santuy nya warga Italia hingga menjadi yang terparah. Barulah terasa senyap, tak ada yang berlalu lalang. Tak ada bapak-bapak yang ngerumpi di depan masjid, tak ada anak-anak yang berkeliaran karena lepas dari pengawasan Ortu. Meskipun masih saja ada yang berusaha mengajak anak - anak mengaji di Masjid. Mungkin, itulah saat yang tepat untuk sharing - sharing atau bahkan berita hoax yang menurut saya mengerikan, perlu dibagikan.

Karena harus menunggu ada yang mati dulu, baru hati tergerak. Padahal pengisolasian diri sudah berjalan 2 minggu disini. Dan sekarang, diperpanjang lagi menjadi 5 minggu, mengingat situasi dan kondisi yang belum kunjung membaik.

Note :
Kata Santuy dipopulerkan oleh Youtuber bernama Qorygore, yang bermakna Santai. Walaupun tak terdaftar dalam KBBI, akan tetapi kata santuy sering digunakan oleh kebanyakan anak anak gaul untuk menggantikan kata santai.  Santuy juga bisa dimaknai sebagai pengantar kata untuk bebas, dimana bebas untuk melakukan sesuatu tanpa adanya ketegangan dan juga kekangan dari siapapun sehingga hidup dengan pembawaan yang santai dan lepas dari semua kepenatan yang ada layaknya seperti hidup di pantai yang tenang dan nikmat. astor.id

Berjuang sendiri di tengah Virus yang sedang mewabah

17:58 6
Berjuang sendiri di tengah Virus yang sedang mewabah

Orang-orang menganggap remeh, anak-anak berkeliaran, ibu-ibu dan bapak-bapak, kakek-kakek hingga nenek-nenek, berkumpul di beberapa tempat, berpartisipasi dalam acara aqiqah dan pernikahan. 

Meskipun acara tersebut sudah direncanakan sejak lama. Dan sebagai bentuk dari mereka yang hendak mencari nafkah, seperti catering, penyewaan tenda atau undangan yang sudah jauh-jauh hari dibuat dan terlanjur tersebar atau semacamnya. Tapi tidaklah etis untuk menyelenggarakan sebuah pesta, di tengah situasi yang sedang tidak mendukung sama sekali, seperti saat ini. Kecuali mereka yang memang harus diwajibkan bertugas di luar, demi negara atau demi kemashlatan orang banyak, dan tidak bisa membawa pekerjaan ke rumah. 

Sepertinya, anjuran pemerintah untuk mengisolasi diri di rumah tak terlalu diacuhkan. 

Pertama, karena surat peringatan hanya beredar di dunia maya, melalui medsos atau whatsapp yang notabene hanya diketahui oleh orang - orang yang sering memantau dan aktif bersosialisasi di medsos. Sisanya, adalah Orangtua atau orang - orang yang jarang menggunakan handphone atau mendengarkan dan melihat informasi melalui media elektronik. 

Kedua, hanya karena di sini belum diketahui pasti siapa saja yang terdeteksi. Belajarlah dari pengalaman kemarin, dimana indonesia masih berada di 0 kasus, begitu 2 orang terdeteksi, maka berbondong - bondong yang lain menyusul. 

Ketiga, karena banyak masyarakat kecil yang masih harus mencari nafkah. Yang mana, jika tidak bekerja, tidak bisa makan dan melanjutkan hidup. 

Kecemasan dan kepanikan mungkin belum begitu menghampiri mereka, tidak seperti emak - emak yang sering memantau informasi terupdate. Jika infonya membaik, agak berkuranglah kegundahan hati tapi jika info yang diterima malah semakin memburuk, kecemasan berlebihlah yang didapat. Apalagi jika berteman dengan orang - orang yang rajin share tentang hal-hal yang justru membuat kita semakin down, hingga mengalami kepanikan dan kecemasan berlebih, yang ujung-ujungnya hanya menjadi toxic. Menambah panas situsi yang memang sudah risuh tanpa memikirkan darimana sumbernya, yang penting di share biar orang-orang tau, entah hoax atau bukan yang penting panik berjamaah dulu, ya gak, emak-emakser? Dengan bertambahnya stress, tidak terkena wabah pun, justru malah penyakit lain yang akan berdatangan. 

Belum lagi, jika di dalam rumah sendiri ada yang menganggap enteng, santuylah pokoknya. Misal, Ortu, Kakak, Adik, Anak atau Suami yang menjawab "Boleh kita ikhtiar maksimal, tapi tetep harus berserah diri. Cukup mengambil hikmahnya, persiapkan diri seolah esok kita akan mati". Setiap diminta untuk menjaga kebersihan, salah satu kalimat itu pasti diucapkan (biar si emak berhenti ngomel, mungkin), tetapi masih saja lalai dalam memperhatikan kebersihan dan aturan yang telah berkali-kali dianjurkan pemerintah. Masih sering ngumpul diam-diam, ke tempat-tempat keramaian dan sebagainya tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Seolah semua usaha dan kerja keras yang dilakukan demi kesehatan keluarga hanya kekhawatiran berlebih seorang emak semata yang hanya jadi perbuatan sia-sia. Bagaimana Sang Emak gak gundah gulana, coba? 

Sekuat-kuatnya seorang Emak, pasti juga bisa lelah. Bukan hanya karena kesehatan fisik semata, tapi juga kesehatan mentalnya. Karena harus menjadi yang paling sehat dan paling diandalkan agar bisa mengurus keluarga secara maksimal. Dan tubuh serta pikirannya akan semakin lelah jika ternyata fisiknya menjadi sakit justru karena mental healthnya ngedrop dan tak ada lagi orang yang bisa membantu mengurus keluarganya. 


Kenali 7 hal tentang Lelaki sebelum Menikah

06:53 16
Kenali 7 hal tentang Lelaki sebelum Menikah
Kenali 7 Hal tentang Lelaki sebelum Menikah

"Ternyata dia berubah, dulu dia so sweet banget, perhatian dan gak pelit. Mau berkorban apa aja buat Gue. Padahal dulu Gue gak terlalu suka-suka amat ke Dia. Malah sebenernya gak cinta. Tapi karena sikapnya yang lembut dan gak gampang menyerah, akhirnya Gue mau-mau aja diajak ke pelaminan meskipun dia gak punya apa-apa."

Hayooo... siapa pernah merasakan perasaan seperti ini? atau malah sedang mengalaminya sekarang? 

Ada beberapa emak-emak yang bercerita tentang penyesalan terdalamnya ke saya (banyak juga sih sebenere). Yang kisah cintanya berawal seperti curhatan di atas. Namun setelah sekian lama menjalani pernikahan, ada yang baru ketauan bohongnya dan ada yang baru ketauan ternyata mereka berbeda prinsip. Bahkan ada juga yang sering bentrok karena ternyata mereka tidak satu visi dan misi, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. 

Dan sayangnya, meski di luar terkesan baik-baik saja, namun tidak dengan otak dan hatinya. Karena bisa saja mereka sedang "lupa". Lupa untuk mencoba memahami dan melihat dari sudut pandang pasangan. Alih-alih ingin membahagiakan, yang terjadi justru dia malah mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri. Hingga akhirnya down. Saking lelahnya memberi banyak hal yang sama seperti yang dia inginkan dari pasangan tapi tidak mendapatkan feedback sesuai harapan, atas semua usaha dan hal baik yang sudah ia lakukan. Karena pada kenyataannya, apa yang dibutuhkan pasangan ternyata berbeda. 

Apa yang sebenarnya dibutuhkan laki-laki, belum tentu merupakan kebutuhan paling utama bagi perempuan dan begitu juga sebaliknya. Sehingga  membuat sebuah "pengorbanan yang dilakukan demi cinta" (meskipun kadarnya sangat besar menurut versi diri kita) ternyata tidak terlalu penting di mata pasangan. Alhasil, kita jadi merasa seolah tidak dianggap. πŸ˜…

Nah, buat cewek-cewek dan juga cowok-cowok yang sekiranya mau mempersiapkan diri naek ke level lebih tinggi, dari single menuju double. Sebelum menyesal dan berhenti di tengah jalan, "bahkan loncat ke laut" (memilih berpaling ke yang lain atau berpisah) alias kecewa, karena sudah berpikir memilih pasangan berdasarkan tebak-tebak buah manggis ato malah seperti membeli kucing dalam karung akibat merasa sendirian. Di saat kapalnya (pernikahannya) mulai oleng dan mau tenggelam (mbok yah kalo bisa, dipikirkan duluuh...)πŸ˜©πŸ˜….

Maklum kalo udah terlanjur cinta, batas antara fantasi dan logika itu jadi rada ngeblur. Begitu saling mendekat dalam naungan pernikahan, semuanya akan jadi terlihat tajam dan jelas, entah itu hal yang baik atau buruk di mata pasangan. Emang baiknya kita juga mengupgrade diri dulu yak, agar nantinya tidak ikut saling mengecewakan pasangan. 

Selain itu, hal penting lain yang harus kita lakukan adalah menggali informasi yang akurat, tentang siapa sih sebenernya orang yang akan bersama kita mengarungi lautan pernikahan. 

Nah biasanya, kalo udah mau menjelang hari raya kayak gini, dari jauh-jauh hari (yang lagi pada jomblo nih, khususnya cewek-cewek) pasti udah ada niat atau malah nyiapin target khusus, semacam diet ato nabung misalnya. Biar ntar lebaran bisa tampil lebih eksis. Demi apa? Kebanyakan sih, ya demi menggaet pujaan hati (buat yang lagi nyari) ato malah pengen segera dilamar? yekan. 🀭

Tapi disini saya gak lagi ngasih tips diet sih, soalnya saya juga sedang berjuang πŸ˜…πŸ˜‚, kalo pengen tau diet yang benar dan sehat, dan juga berhasil, tips terlengkapnya bisa diliat disini, yak. πŸ˜‚

Berdasarkan pengetahuan dan pendapat saya sebagai seorang perempuan (yaah, sekedar untuk berbagi). Inilah 7 hal yang harus dikenali dari seorang lelaki atau calon suami sebelum memutuskan menikah (Of course, sangat bisa banget dijadikan acuan dan sumber informasi penting untuk para cowok-cowok juga, yah). 🀭

Warning : Jika ingin tahu lebih dalam dan lebih jelas, silahkan berkonsultasi ke Tenaga profesional/Ahli atau Konsultan Pernikahan yak, πŸ˜…πŸ˜‚ .


1. Lingkungan

Ketahui orang-orang yang ada disekelilingnya, bagaimana pergaulannya (yang sebenarnya yak) bukan hanya yang nampak atau yang terlihat oleh mata kita saja, tapi semuanya. Apakah masuk dalam kriteria lelaki idamanmu atau tidak, serta kebiasaan-kebiasaannya yang mungkin bisa di tolerir atau bahkan tidak sama sekali. Banyak-banyaklah melihat melalui mata orang lain.

Karena dalam Hadist juga telah disebutkan :
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


2. Keluarga

Perhatikan bagaimana hubungannya dengan Orangtua, baik itu dengan Ayah, Ibu dan Saudara-saudaranya. Yang paling penting, bagaimana komunikasi diantara mereka, terutama interaksi antara Ayah dan Ibunya. Karena biasanya, kebiasaan mereka saling memperlakukan satu sama lain akan menurun, terjiplak ke alam bawah sadar anaknya, entah itu baik ataupun buruk. Mau tidak mau, karena anak adalah "Peniru yang ulung".

Banyak juga (Si Anak) yang menyadari hal tersebut (yang buruk) menurun ke dirinya, meskipun sering mencoba mengendalikan diri, namun self control kadang terabaikan ketika sedang berada di titik terendah (namanya manusia, yak). Tapi, jika kamu bisa menerima kekurangannya (masih dalam kategori wajar dan manusiawi) its okey, gak masalah sama sekali. Yang paling penting kamu bisa merespon tindakan-tindakan buruknya dengan cara yang tepat, agar kedua pihak bisa mendapatkan win win solution.


3. Pendidikan

Pendidikan sangat berpengaruh dalam cara berpikir. Seorang pemimpin dalam rumah tangga haruslah bisa menjadi seorang teladan yang baik bagi istri dan juga anak-anaknya. Untuk bisa memberi contoh yang baik, dibutuhkan ilmu dan pemahaman agar mampu mendapatkan kepercayaan. Selain bisa menyikapi masalah dengan lebih bijak, menjalani hidup berkeluarga akan jauh lebih teratur dan lebih terarah.

Dengan ilmu, kita tidak mudah goyah, kendatipun saat melewati benturan-benturan ketika diterpa badai masalah. Condong untuk berpikir positif, karena sudah memiliki bekal "Pendidikan Berkeluarga" yang cukup. Perbedaan kualitasnya sangat besar, jika hanya dijalani dengan cara "mengalir aja" atau dijalani aja".

Dan jangan lupa, ini juga berlaku untuk diri sendiri, yak. πŸ˜‚


4. Keuangan

Seorang lelaki yang bisa mengatur keuangan itu, diharapkan bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Yang mana yang dibutuhkan saat itu dan yang mana yang masih bisa ditunda. Dan tonggaknya adalah keterbukaan.

Pernah baca, "Kesetiaan wanita diuji saat lelaki tidak punya apa-apa, tapi kesetiaan lelaki diuji saat dia memiliki segalanya." ?

Walopun itu tidak bisa di sama ratakan untuk setiap orang, namun sebagai selfreminder, hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena banyak sekali contoh kasus serupa yang terjadi disekitar saya. Si Lelaki karena merasa berkecukupan dan memiliki banyak kesempatan, menganggap enteng hubungan dengan mencari wanita lain. Sedangkan Si Perempuan, karena mungkin tidak tahan atau tidak sanggup lagi menjalani hidup serba kekurangan, akhirnya memutuskan untuk berpisah. Lebih memilih untuk mandiri dan sendiri, karena kurangnya empati dan perhatian dari pasangan termasuk dalam urusan finansial. Yang kesemuanya adalah nafkah lahir dan bathin yang tidak diberikan pasangan, padahal Si Lelaki memiliki kemampuan tapi tidak dalam hal kepekaan.


Jadi, lebih baik sengsara di awal tapi "happy ending" (membekali diri dengan ilmu sebanyak-sebanyaknya sebelum memutuskan untuk melangkah lebih lanjut, yaitu pernikahan) daripada bahagia hanya diawal, merasakan masa-masa indah hanya ketika baru jadi pengantin baru. Lantas kemudian, kehidupan pernikahan berubah menjadi keruh bahkan membelenggu, jika malas mengupgrade diri.

Cinta itu buta. Kalo tidak buta, berarti kamu gak cinta dong? Ah, Kata siapa? Seorang buta masih bisa menggunakan tongkat sebagai penunjuk arah dan telinga untuk mendengar. Apalagi ini hanya buta sesaat. Setelah sekian lama menikah, perhatian atau kepercayaan itu biasanya akan banyak berkurang kadarnya, akal dan pikiran akan mulai kembali menghampiri ambang logika.


5. Masa Lalu

Dari beberapa contoh kasus yang pernah saya dengar, ada juga lelaki yang kedapatan tidak jujur tentang masa lalunya. Yah, takut ditolak atau takut diputusin, mungkin? Masa lalunya itu bakal berefek ke masa depan pernikahannya karena tidak adanya keterbukaan dari awal, dan dipastikan tidak akan ada ketenangan dalam pernikahan, kecuali kita memang berusaha menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Dan siapa lagi yang harus mengorbankan perasaan, jika bukan dari pihak perempuan. Apalagi ini seperti kasus salah seorang teman saya, yang suaminya masih dikejar-kejar mantan pacar, hingga akhirnya tergoda lagi sampe punya anak dan kemudian menikah siri. Yang parahnya lagi si mantan yang sudah dinikahi ini, berapa kali menyambangi rumah teman saya untuk mencari suaminya. Berapa kali gontok-gontokan dan harus dilerai oleh Bu RT. Belum lagi bully-annya di Sosmed terhadap teman saya inih, karena salah satu anaknya adalah ABK (akun suaminya dibajak Si mantan). 

Ada juga kasus lain, dimana si mantan istri selalu berusaha menemui mantan suaminya yang baru saja menikah lagi, si istri baru (teman saya) sebelumnya tidak tau kalo suaminya ini seorang duda yang sudah dua kali menikah dan punya anak. Keluarga dari pihak suami pun tak ada yang mau buka mulut, semua informasinya didapat dari tetangga sekitar dan keluarga jauh. Belum lagi pandangan buruk dari tetangga (sahabat-sahabatnya si mantan istri) yang menganggap si istri baru ini seperti layaknya seorang pelakor.


6. Kesehatan

Demi untuk menghindari kemungkinan terburuk, kita juga harus memperhatikan sejauh mana kesehatan pasangan kita. Kadang, ada yang karena emang sudah cinta mati, yah nerimo.

Asalkan kamu paham dengan konsekuensinya, yah tidak mengapa, yang penting semuanya sudah dipertimbangkan dengan baik dan matang.

Namun, apakah hal tersebut akan berpengaruh kepada keturunan anak cucu kita? atau tidak? atau Bagaimanakah pendapat Orangtuamu? Apakah kamu bersedia selalu mengurus pasanganmu disaat sakit? Apakah kamu sudah mempersiapkan mental yang kuat untuk menjalani hidup seperti itu? 

(Lain halnya jika itu terjadi setelah menikah, yak.)

Coba berpikir dengan logika dan belajar dari orang-orang lama. Atau mungkin, untuk mencoba melihat langsung dari orang-orang yang memiliki kehidupan pernikahan seperti itu. 

Karena cinta itu, tidak hanya sebatas keinginan untuk bersama, tapi juga untuk kebaikan bersama.


7. Cara Berkomunikasi dengan Lawan Jenis

Point ketujuh ini sebenarnya masih berhubungan dengan point kesatu, dimana lingkungan sangat menggambarkan bagaimana cara pasangan berkomunikasi.

Ada beberapa lelaki yang pernah saya kenal, baik itu yang sudah menikah ataupun belum, kadang lain di depan lain di belakang. Maksudnya, jaim hanya ketika di depan pasangan, tapi ketika tidak berada di lingkaran pertemanan pasangan, tidak segan ngobrol tentang hal-hal yang intim atau bahkan tidak pantas dibicarakan dengan wanita lain. Seperti hal-hal yang bisa memicu ketidaksetiaan si lelaki terhadap pasangannya. Apalagi jika hal tersebut sering terjadi setelah berumah tangga. (Memang tidak semua lelaki, tapi ada yg seperti itu dan gak cuma satu).

Nah, apakah hal itu sudah merupakan wataknya dari lahir atau malah kebiasaan yang sulit untuk diubah? ataukah kamu malah menganggapnya biasa saja dan memakluminya? Kita kembali ke point Keluarga dan juga point Lingkungan. 😁


Komunikasikan dengan cara Open Minded

Jika kamu tidak bisa atau belum menemukan beberapa point diatas pada pasangan kalian, maka bicara adalah jalan terbaik. Misalnya, dengan mengkompromikan untuk belajar bersama-bersama mengenai kehidupan pernikahan dan persiapan menjadi Orangtua. 

Kendatipun masa lalunya dirasa tidak bermanfaat untuk masa depan pernikahan. Namun mendapatkan feedback yang baik ketika di komunikasikan, akan membuat pasangan mau menerima semua kekurangan kita juga, karena merasa dihargai dan dipercayai. Apalagi, jika orang yang nanti akan menjadi teman hidup kita  adalah seseorang yang Berpikiran Terbuka (open minded) dan Memahami "Cara Berkomunikasi yang Efektif" terhadap Pasangan.


Sebenernya masih ada point-point lain yang pengen saya tuangkan disini, tapi kayaknya segini dulu deh, ntar mungkin ada part dua nya, InsyaAllah.. πŸ˜…


Okey.. "Berbahagialah dalam kesendirianmu dan mulailah mencintai dirimu, lalu Dia akan mulai mengikutimu."

"Selamat Hari Perempuan Sedunia" 😊

Selayang Pandang

19:25 9
Selayang Pandang
Kali ketiga ini, akhirnya saya mengaktifkan blog lagi, ngebewe lagi, dan ceking ceking pesbuk lagi. Ada apa gerangan? Nggak ada apa-apa sih sebenere. Bukan juga karena bosan dengan dunia nyata trus balik ke dunia maya. Hanya kebetulan dapet mood lagi buat ngeblog dan fasilitasnya bener-bener lagi memadai. 

Karena postingan blog ini adalah gabungan dari beberapa tulisan yang berceceran dari jaman antah berantah (jaman dimana levelnya masih setingkat diatas abegeh) hingga emak-emak, dengan nickname dan alamat blog yang berbeda, ada belasan blog kayaknya. Pasti banyak banget dooong yang nggak kenal saya.. (ya iyalah, gimana mo kenal postingannya di hidden semua) hihihi... 

Tapi nggak semua saya repost lagi paling satu dua lah, hanya yang lulus sensor aja yang bisa tayang disini (beuh) yaaah mo gimana lagi, isi postingannya ntuh ternyata lebih cocok untuk kategori 17 tahun ke bawah hihihi...

Okeh, buat yang blom kenal, Rini Uzegan adalah sebuah nama pena. Sebelumnya saya pernah berkutat di banyak blog, yang kesemuanya akan dicabut dari peredaran dan saya kukuhkan di sini, walopun tulisannya yah nggak banyak2 amat. πŸ˜‚

Akhir kata, welcome back lagi buat diri saya sendiri. Nggak terasa udah sangat lama sekali, saya tinggalkan blog ini (karena rusaknya sebuah Netbook) Tempat saya banyak belajar hingga saya bisa beralih ke blog berdomain. Dan akhirnya menggunakan komputer baru (setelah semua hardware dikumpulkan beberapa tahun, akhirnya selese di rakit Pak Suami) kebangetan vakumnya, yak πŸ˜‚.

Semoga blog ini bisa membuat saya termotivasi untuk belajar dan bermanfaat untuk para Pembaca (kalo gak bermanfaat, yah di pelototin aja..) πŸ˜‚.

Amin ya robbal alamiiin...


                                                                                                                                            Maret 2020
uzegan@gmail.com

Venesia dari Timur ?

21:05 7
Venesia dari Timur ?
Penasaran gak sih? kenapa kota Palembang itu pernah mendapat julukan Venesia dari Timur? Hmm.. kalo saya sih penasaran, karena tentu saja saya kan tinggal di Palembang. Tapi, meskipun udah berpuluh tahun tinggal disini kok sayanya gak tau alasan sebenarnya mengapa dan bagaimana yah :D. Kalo ada turis yang bertanya dan minta jawaban lengkap, nah loh.., malu kan saya :D (katanya kota tertjintaaa..).

Nah, berhubung Palembang akan menjadi salah satu tuan rumah Asian Games ke-18, maka saya akan sedikit mengulik salah satu destinasi wisata terbesar yang ada di kota Palembang, yaitu Sungai Musi yang telah membuat kota Palembang pernah mendapat julukan “Venitie van Oost”, ”de Oosterc Venetie”, ”The Indisch Venetie”, ”The Venice of the East” atau Venesia dari Timur.

Wilayah air dengan sedikit daratan (Geografis)

Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua wilayah, seberang hilir dan seberang hulu, yang terdiri dari beberapa anak sungai. Dulu, paling sedikit tercatat lebih kurang 117 buah anak sungai yang mengalir jernih di tengah jantung kota. Sebagian besar Kota Palembang adalah wilayah air dengan sedikit daratan. Penunjang utama kota adalah tatanan perdagangan “ruang air” dengan dukungan dari kampung-kampung yang menghasilkan industri kecil dan ditopang masyarakat pedalaman yang menghasilkan hasil kebun, hutan, serta tambang membuat Sultan dan para Pembesar Kerajaan dapat berdagang dengan dunia luar di atas “ruang air’ Kota Palembang. Sehingga menjadi tempat strategis dan jalur transportasi paling efektif bagi masyarakat, terutama pedagang lokal, Asia hingga Eropa. Dan hal ini, sangat mendukung rencana para penjajah asing, terutama Belanda.

Keadaan Sosial

Kota kerajaan Palembang pada abad pertengahan memiliki stereotipe pasar terapung karena berlangsung di atas permukaan air dengan warung-warung yang berada di atas rakit. Pada masa itu ada banyak pedagang kecil yang menjajahkan dagangannya seperti penjual Pempek, Burgo dan Kemplang dengan menggunakan Perahu Dangkuk atau Kolek terbuka dengan satu orang atau lebih pendayung dan yang duduk di belakang sebagai pengemudi. Selain Perahu Dangkuk seperti layaknya Gondola yang menjadi perahu khas dari Venesia, di Palembang pun memiliki perahu khas lain dengan keunikan tersendiri seperti Perahu Kajang, yaitu sejenis perahu kayu tertutup dengan memakai atap dari daun rumbia yang dilengkapi kelambu, tempat tidur, dan alat memasak dan ada juga semacam rumah-rumahan dibagian belakang sebagai tempat beristirahat (seperti pada gambar). Perahu ini membawa hasil bumi, terutama buah, sayuran dan kebutuhan lainnya untuk dijual.

Karena keadaan sosial dan kondisi alam (geografis) inilah maka pada akhirnya disebut-sebut memiliki kesamaan dengan sebuah Kota Air yang terletak di Selatan Italia, yaitu Venesia.


Gak terasa, dalam hitungan hari saja seluruh bangsa Indonesia akan ikut memeriahkan perhelatan akbar Asian Games ke-18 di dua kota, yakni Jakarta dan Palembang yang bertepatan di tanggal cantik 18.08.18. Dan seolah mengajak seluruh penduduk negara peserta Asian Games untuk ikut merayakan hari bersejarah bagi negeri tercinta ini, karena bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia satu hari sebelumnya, pada tanggal 17.08.18. 

Semoga event yang akan segera di selenggarakan dapat berjalan lancar dan sukses, serta menjadi kebanggaan bagi nusa dan bangsa. Amiin ya robbalalamien...

Merdeka.. !



Referensi :
#Venesia dari Timur : Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang dari Kolonial sampai Paskakolonial, Penulis Dedi Irwanto Muhammad Santun, 2010
#https://www.tropenmuseum.nl
#Catatan Tugas Akhir
#Masyarakat

Lelah & Masa Lalu

16:27 2
Lelah & Masa Lalu
Ilustrasi : @aquareliamoon

Berdasarkan apa yang dulu pernah saya baca, jika seseorang stuck dan terlampau lelah dengan hidup yang sedang dijalaninya otomatis mereka akan mengingat ingat dan membandingkan dengan kebahagiaan yang pernah mereka jalani di masa lalu.

Bukan bermaksud untuk tidak bersyukur atau tidak ingin melihat ke bawah, tapi mungkin dengan membayangkan kembali masa lalu akan sedikit meniupkan angin segar dalam kehidupan yang penat, terlebih jika bisa memberikan inspirasi atau sebagai pengingat untuk terus bersyukur pada sesuatu yang sedikit. 

Betapa menyenangkan bisa mendapatinya lagi dikala sedang lupa bersyukur dan tak berpuas diri dari keadaan yang bahkan sebenarnya lebih baik dari masa yang telah lalu.
Menurut saya, salah satu masa paling bahagia itu adalah saat saat ramadhan. Untuk saya (kecil), saat itu adalah hari hari mengenyangkan dengan banyak makanan dan buah kesukaan. Dan yang terpenting, saat itu adalah hari hari yang damai tanpa pertengkaran dan amarah. Semua berlomba untuk kebaikan.