uzegan

Aku, Mas Galuh & Mobilnya

20:10 2
Aku, Mas Galuh & Mobilnya
Mas!"

Seorang Pelayan mengangguk dan tergopoh-gopoh mendekati kami. "145 ribu..."


Diletakkannya nampan kecil berisi nota pembayaran dihadapan Mas Galuh, laki-laki yang beberapa bulan ini hanya kukenal lewat jejaring sosial.



Pelayan itu menoleh ke arahku dan menatap agak lama. Dia tersenyum, dan kubalas dengan senyum kikuk.



Mas Galuh mengeluarkan uang dan kulihat SIM A dan SIM C terselip di bagian tengah dompetnya. Hmm.. mungkinkah Dia punya mobil? 


Mas Galuh mempersilahkanku untuk menunggu diluar. Selama menunggu, kulihat Dia berbicara dan bersalaman dengan Pelayan tadi. 

Akhirnya Mas Galuh mendekatiku. "Kuantar pulang yah?"

Tanpa menunggu jawabanku, Dia membuka pintu dan mempersilahkanku naik ke Mobil Xenia Hitam yang sedari tadi terparkir di depanku. 

Aku tersenyum. Enggan untuk berkata tidak.

Seminggu berlalu. Mas Galuh memintaku menjadi kekasihnya. Aku ragu. Tapi akhirnya ku iyakan. Kapan lagi bisa dapet cowok yang bawaannya mobil. 


***



Besoknya. 



Aku berdiri di gerbang sekolah menunggu jemputan. Kulihat Mas Galuh dari kejauhan. Tidak seperti biasa, hari ini Dia datang lebih cepat.


"Tumben datengnya cepet, Mas?"


"Iya.. Ni hadiah buat kamu." Mas Galuh memakaikan helm cantik berwarna pink di kepalaku. "Hari ini aku mengundurkan diri dan balik kerja di tempat yang lama Rah."


"Kok nggak ngomong sih, kalo Mas Galuh kuliah sambil kerja?"

Mas Galuh hanya tersenyum.

"Emang di tempat yang lama kerjanya apa Mas?"

"Kasir Restoran."


"Kasir?" Dahiku mengernyit.


"Daripada ditempat yang sekarang Rah. Kerjanya sih lumayan enak, pagi nganter majikan ke kantor trus nongkrong disana sampe jam makan siang. Trus nganter lagi. Abis itu nongkrong lagi, trus sorenya baru nganter pulang. Nyantai kan? Justru yang ribet itu malah istrinya Rah, nggak peduli udah lewat jam kerja, sering banget tiba-tiba minta anter ke mall atau arisan. Kalo sudah gitu, waktu buat kita berdua kan jadi terganggu." 

Haaaaah...




Note : 282 Kata



Cerita FF ini diikutsertakan dalam Kinzihana's GA

Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

15:40 0
Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela
“Nggak mau! Ini punya Rara!”
Adit menarik sendok dan nasi bungkus yang ada di pelukan Rara.
“Adiiiiiiit, kembaliin!”
“Ini punyaku! Wek!” Adit menjunjung tinggi bungkusan itu, tapi tiba-tiba Rara menyundul punggungnya dari belakang, hingga mereka berdua terjatuh dan bergulat di lantai.
Marni panik dan tergopoh-gopoh keluar dari dapur, lalu segera melerai kedua anaknya yang lincahnya naujubillah. Dia mengambil paksa nasi bungkus yang ada di tangan Adit dan meletakannya di tangan Rara.
“Kalian ini apa-apaan sih! Kan udah punya satu-satu, kenapa masih rebutan?!”
“Tapi Adit kan masih laper Bu..”
Secepat kilat Adit merampas nasi bungkus yang dipegang Rara, hingga terjadilah adegan tarik menarik, tapi akhirnya “Brak!” bungkusnya robek dan karetnya putus. Semua isinya berhamburan keluar.
Marni, mengelus dada. “Heran nih anak dua! Badan udah kayak Gajah Way Kambas, tapi kelakuan kayak orang yang nggak makan tiga hari. Kalian liat tuh si Hana. Nggak banyak tingkah, pendiam, penurut lagi. Kalo kelakuan kalian kayak gini terus, Ibu nggak mau ngasih makan kalian lagi! Emangnya nyari uang itu gampang?”
“Yah, jangan Buuu…” Rara dan Adit mengumpulkan remahan nasi yang berserakan serta 2 potong paha ayam yang terpental sampai ke kolong meja.
“Nih, kalian makan punya Ibu aja. Nasi yang itu buang aja, udah kotor gitu ntar kalian malah sakit perut lagi.”
Hana diam saja, dia memilih untuk melihat ke luar jendela. Matanya menatap halaman luas yang membentang di depan matanya. Anak-anak tertawa riang bermain di taman. Ada yang sedang berlarian dan ada yang sedang makan bersama. Hana tertunduk.
Marni ke dapur lalu kembali dengan sepiring gorengan. “Hana, yok sini makan dulu. Ni ada Pisang Molen kesukaanmu.”
“Iya Bu.” Hana mencubit Pisang Molen yang diletakkan Marni dalam sebuah piring plastik. Kemudian dimakannya sampai habis. Sesekali diteguknya air putih yang tergeletak di sudut jendela.
Setelah kenyang. Hana kemudian duduk bersandar di sisi jendela, beristirahat dan berusaha memejamkan mata.
“Hana. Sebelum kamu tidur, jangan lupa cuci piring dan beres-beres ya.” Seru Marni.
“Iya, Bu.”
“Oh ya, kamu kan udah makan Pisang Molen. Jadi jatah nasi bungkusmu buat Ibu yah?”
Hana mengangguk.
“Besok-besok, kamu harus bisa dapetin uang kayak gini lagi pokoknya, yah? Kalo udah terkumpul, Ibu bisa beliin kamu baju lebaran. Kamu mau kan?”
Hana mengangguk lagi. “Boleh nggak besok Hana makan nasi bungkus kayak yang tadi sama beli sandal baru, Bu? Tadi siang, pas Hana dikejar-kejar petugas Kamtib, sandal Hana nyangkut di got dan hanyut di selokan. Trus Hana nangis di bawah jembatan tempat biasa Hana duduk, eh ternyata malah tambah banyak yang ngasih duit, Bu.”
“Bagus, pinter kamu Na! Marni tertawa senang. “Kalo kamu bisa dapet dua kali lipat dari jumlah hari ini, nanti nasi dan sandalnya Ibu pertimbangkanlah pokoknya. Yang jelas, besok kamu praktekin lagi nangis kayak tadi siang yah! Kalo kamu nggak bawa uang, Ibu nggak jamin kamu besok-besok bisa numpang disini lagi. Inget itu ya!

Bhirawa & Ghinara

18:25 0
Bhirawa & Ghinara
"Teruntuk Kapten Bhirawa,

Jalan panjang yang kita lalui, bagiku tak sekedar persahabatan tapi entah bagimu... Aku sadar bagaimana rasanya mengenal soulmate seperti kata orang-orang, kemana-mana selalu bersama sebagaimana halnya kita berdua. Ketika kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi kita dalam mencari ilmu atau saat kita menjadikan tawa dan keceriaan itu harus ada dalam hari-hari yang kita jalani, kita seolah tak terpisahkan untuk saling bahu membahu. Statusku sebagai sobat kentalmu memang lebih kentara dibandingkan dengan jabatanku sebagai wakilmu di dalam kelas. Aku kenal sekali prinsipmu, kau akan marah jika aku mentraktirmu. Maka aku akan berpura-pura tak punya uang, agar kau tak mengacuhkanku. Ketika pulang kuliah aku akan ikut berjalan kaki beberapa kilometer, melewati guyuran hujan dan sengatan mentari hanya untuk berbincang denganmu. Mungkin aku bodoh, atau sebenarnya aku dibodohi oleh rasa yang pelan-pelan menyelinap dan menghangatkan hatiku yang dingin. Aku tak ingin rasa ini terus membuncah, tapi aku tak tau kenapa rasa ini semakin tak terkendali saat kubaca surat yang dikirim dari Ibumu, yang memintamu untuk tinggal seterusnya di kota kelahirannya, Surabaya. Atau ketika berhari-hari kau membuatku kebingungan, karena tak tergurat lagi keceriaan dari wajahmu dan kata-kata penuh semangat yang biasanya keluar dari mulutmu.

Bathinku terus bergolak di bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatanmu. Ketika aku menunggumu pulang dari gereja setiap hari minggu, atau ketika kau selalu menungguku di luar Musholla setelah pulang kuliah. Tak tau bagaimana lagi aku harus merasa, ketika diam-diam kudapati sketsa-sketsa wajahku tergores di beberapa halaman buku Grammarmu. Atau sketsa-sketsa wajahmu yang sempat kau gores di buku catatanku. Aku hanya bisa diam. Tak sekalipun kuucapkan terima kasih ketika berkali-kali kau membantuku, walau kau rela kehujanan dan basah kuyup, hanya untuk menemaniku menyelesaikan pekerjaan ditempatku mencari sesuap nasi atau menjemputku dengan sepeda butut almarhum Ayahmu. Aku tau kau marah karena seringkali merasa tak dihargai. Tapi aku tak punya cara lain. Aku tak tau lagi bagaimana caranya menghilangkan semua rintangan, yang telah membuat hatiku remuk karena tak bisa menghadapi kenyataan bahwa kita tak selamanya bisa bersama dan untuk menjadi lebih dari sekedar sahabat. Kau tau, tak mudah bagiku untuk menjalaninya..
Ghinara"


Lagi-lagi Bhirawa terpaku. Disesapnya kopi yang hampir bercampur ampas di atas meja kerja. Lalu dihisapnya dalam-dalam rokok yang tinggal separuh. Sekelebat ingatannya kembali ke masa lalu. Bhirawa tersenyum getir. Batu nisan Ghinara telah mengoyak-ngoyak tabir kerinduan yang telah bertahun-tahun ia benamkan di sudut hatinya sejak keberangkatannya kala itu. Baginya, kertas yang ada ditangannya itu adalah surat cinta yang mampu menepis rindunya pada Ghinara dan sebagai peredam luka yang tak terobati saat meninggalkannya. Tapi Bhirawa harus memilih, kematian Ayahnya telah membuat Ibunya jatuh sakit dan Bhirawa tak sampai hati untuk mengabaikannya. 

Dipandanginya foto pernikahan anak lelaki semata wayangnya, Abimanyu. Kebahagiaan terpancar dari wajah dua insan yang telah dipertemukan nun jauh di Timor Leste. Bhirawa menatap wajah itu lekat-lekat. Dia tersenyum "Anakmu ternyata sama cantiknya denganmu Ra.."

 Senandung Cinta


Note : Di kampus saya dulu, kami menggunakan sebutan Kapten sebelum nama kepada setiap ketua kelas, terutama di Jurusan yang saya ambil. ^_^

Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman

03:21 2
Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman
Bangunan tinggi menjulang di langit hitam. Spiderman merayap. Menebar jaring dari satu titik gedung ke gedung lainnya. Bergelantungan lalu melambung semakin tinggi dan berakhir di puncak menara. Sendiri, menjauh dari hiruk pikuk dunia.

"Cletek!" Gambar TV berubah gelap. "Tidur sana! Kecil-kecil suka begadang, mau jadi apa kamu!"

"Inghya Fha'k..." Pandi masih berusaha menjawab perintah bapaknya, meski dia kesulitan bicara karena ada kelainan pada bibir atasnya.

"Ngapain aja kamu di rumah Bu!" Bapak Pandi mulai berteriak.

"Prangg!!!"

Ibu Pandi tergopoh-gopoh dari dapur, dan melihat kaca TV sudah berhamburan.

"Masya Allah! TV itu dibeli pake duit Pak! Bukan pake daun."

"Anak cuma satu, tapi ngurusnya nggak becus!"

"Loh, Bapak itu yang seharusnya ngaca! Kerjanya keluyuran aja. Bukannya nyari duit, malah mabok-mabokan. Selama ini, kita makan dari mana kalo aku nggak bikin kue?!"

Hujan lebat dan suara halilintar terus bersahutan dengan suara Orangtuanya yang saling memaki. Untuk kesekian kali Pandi mencoba menutup telinga dengan tangan, bantal atau apapun yang bisa membuatnya tidak mendengar suara-suara itu. Tapi percuma.

Hingga akhirnya Pandi tak tahan lagi. Dia membuka lemari. Dikenakannya baju kesayangannya, lalu berjinjit lewat pintu belakang. Pandi berlari sejauh mungkin. Meski tubuh kecilnya hampir tak mampu lagi menahan dingin tapi kakinya terus melangkah, pasti.. 
***

Sekilas Info.

"Seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia 7 tahun, ditemukan tewas pagi ini. Tanda-tanda fisik yang masih bisa dikenali adalah bibir sumbing. Banyak bekas luka dan memar akibat pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya, belum diketahui penyebabnya. Dilihat dari sisa pakaian yang tidak hangus, diketahui korban memakai baju dan celana berwarna merah dan biru bergambar jaring laba-laba. Diduga korban tewas akibat terjatuh dari puncak menara karena tersambar petir."



QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 :  Sekilas Sekitarmu (Televisi)




Note :
# Inghya Fha'k.. : Iya Pak..
#

Prompt # 15 : In The End

04:04 22
Prompt # 15 : In The End
“Kenapa tas ini bisa disini?”

Ginarah menarik tas kerja Galuh yang terselip di belakang lemari gudang. Dibukanya tas itu kemudian satu persatu dia keluarkan isinya. Tiba-tiba tangan Ginarah menyentuh sebongkah kertas yang sudah remuk teremat.

“Apa ini?”

Kertas itu dibukanya, lalu dirapikan dan diarahkannya di bawah cahaya yang menerobos masuk dari jendela.

Ginarah bergegas ke kamar dan menyodorkan kertas yang baru saja dibacanya. “Benarkah semua ini Mas?!”

Galuh terhenyak dengan kepala tertunduk. Dia tak kuasa menatap mata istrinya. “Iya Rah.. Kata dokter, waktuku tinggal beberapa bulan lagi.."

"Darimana kamu dapatkan penyakit kotor itu Mas?!"

Galuh terdiam.

"Maafkan aku Rah.." Suara Galuh bergetar. "Beberapa tahun lalu, aku pernah berhubungan dengan wanita lain.."

"Segampang itu kamu bilang maaf!"

"Aku khilaf Rah.."

Dengan linangan air mata, Ginarah mengguncang-guncang tubuh Galuh yang sudah sangat lemah. “Sejak kapan?! Sejak kapan kamu mengetahui penyakit ini?!”

“Aku baru tau sebulan yang lalu sejak penyakitku semakin parah..”

Ginarah terduduk lemas. “Kamu telah menghancurkanku dan masa depan kita.."

“Ampuni aku Rah..”

"Percuma meminta ampun padaku Mas.."

Galuh menegakkan punggungnya dan pelan-pelan menurunkan kakinya dari ranjang, tubuhnya langsung terhenyak ke lantai dan bersimpuh dihadapan Ginarah. “Jangan pergi Rah, aku mohon dengan sangat! Jangan pergi!” Tangis Galuh pecah.

Ginarah menangis tergugu sambil mengusap perutnya yang telah berusia sembilan bulan.

“Entahlah..”

***

Kerinduan Ginarah semakin membuncah saat memandang foto terakhir suaminya. Meski dia sudah merawat Galuh dengan kemampuan terbaiknya, tapi dia sadar cepat atau lambat virus itu akan mengambil nyawa suaminya.

Di dalam rumah kontrakannya, Ginarah mencoba bertahan menghadapi penyakit yang telah ditularkan suaminya, sendirian. Tubuhnya semakin kurus dengan demam yang tak kunjung reda, dan entah berapa kali Ginarah harus bolak balik ke kamar mandi.

“Ini Ibu nak, Ibu disini.. Kamu lapar nak?” Ginarah mendekap bayi berusia 6 bulan yang sedari tadi menangis karena tak kunjung mendapatkan pelukan hangat dari ibunya.

Disuapkannya bersendok-sendok cairan bening itu ke mulut anaknya. Hingga bayinya pelan-pelan berhenti menangis dan matanya mulai terpejam.

Dipandanginya dengan lembut hasil buah cintanya dengan Galuh. Airmatanya mengalir deras.

Sedetik kemudian, ditenggaknya sisa cairan bening yang berasal dari kaleng bergambar serangga itu sampai habis.


A tribute to Freddie Mercury

#8 Minggu Ngeblog: Komunitas Ideal #1

10:41 0
#8 Minggu Ngeblog: Komunitas Ideal #1

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.


Bagaimana sih komunitas yang ideal itu?

Sebelum saya membahasnya lebih jauh, kayaknya saya perlu mengingat-ingat dulu, komunitas apa saja yang pernah saya masuki, hmm... #garuk2

*tring*

Ah! ternyata banyak. Tapi kok yang berkesan hanya sedikit yah..

Lah kenapa?

Tentu saja karena komunitasnya membosankan, anggotanya jarang aktif, atau komunitas tersebut menuntut waktu lebih banyak untuk berkonsentrasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan komunitas. Padahal, saat itu saya sedang miskin-miskinnya dengan waktu.

Komunitas pertama yang pernah saya ikuti adalah Komunitas Bela Diri Kempo waktu SMP, baru nimbrung 2 minggu eh bubar, anggotanya males karena nggak punya sesuatu yang bisa memotivasi agar komunitasnya maju.

Lalu ada Komunitas Teater waktu SMA. Baru sehari jadi anggota, besoknya nggak dateng lagi. Nggak pede soalnya, mendadak keringat dingin pas ngeliat para senior dan teman-teman pada jago akting karena memang mereka punya basic. Nah saya ? kenal aja baru disitu. Tujuan saya bergabung sebenernya memang cuma iseng, karena tempat ngumpulnya deket mall dan cuma ikut-ikutan temen. Sempet kepikiran mo pulang aja pas seniornya ngetes kemampuan para anggota baru, tapi untungnya saya pura-pura ijin ke toilet dan nggak balik lagi. *hihihi*

Setelah itu saya bergabung dengan Komunitas Pebasket di sekolah, yang ini juga banyakan bolosnya daripada datengnya karena sibuk kursus ini dan kursus itu. Lagian tempatnya juga jauh dan berat di ongkos, kalo ada event-event pun saya hanya ikut sekali pas 17 an, sekedar ikut bantu-bantu memeriahkan. Kalo menang kan lumayan dapet hadiah. :D

Setelah lulus SMK, saya sempat bergabung dalam Komunitas Ibu-Ibu Merajut. Ih senengnya saat itu, karena dapet banyak ilmu dan bisa belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Dan pastinya, saya sering banget dapet traktiran. Terlebih lagi karena saya adalah perajut paling bontot dan hanya saya yang masih single. Istimewa dong pastinya.. ^_^

Oh iyah, komunitas ini bukan komunitas dunia maya, kami hanya berkumpul di satu tempat. Lengkap dengan perkakasnya masing-masing, yaitu benang dan peralatan merajut. Komunitas ini sendiri terbentuk karena kebosanan para ibu-ibu atau hanya untuk mengisi waktu luang pas lagi nungguin anaknya pulang sekolah dan kursus. Karena mereka males bolak-balik dari rumah ke sekolah trus pulang dan jemput ke sekolah lagi, lanjut ke tempat kursus, terus pulang dan ke tempat kursus lagi buat njemput anak-anaknya, kan ribet. Dan juga sebagai alternatif buat ngirit bensin *emang yah ibu-ibu teteup, kalo udah berurusan dengan irit mengirit* hihihi.

Karena di rumah mereka udah ada para pembokat yang beres-beres, jadi nih ibu-ibu emang nggak ada kerjaan alias pengangguran banyak duit. Daripada ngerumpi, ngegosipin orang dan ngomongin yang nggak bener. So merajutlah mereka. Merajutnya mereka inih adalah merenda menggunakan jarum kait (hook), yang bahasa Inggrisnya crochet, nah kalo saya saat itu hanya bisa knitting, itupun bisanya baru bikin syal. Setelah mengenal komunitas ini, awal-awalnya saya masih belum berani praktek, cuma ngeliatin aja. Tapi pas saya mo mulai knitting, ternyata gantian mereka juga pada ngeliatin. :D

Dalam komunitas ini nggak ada istilah leader-leaderan, atau event-eventnan, kegiatannya yah cuma berbagi ilmu, dan ngerajut bareng. Kegiatan hot nya yang paling banter, mungkin traktir mentraktir aja kayaknya. ^_^

Trus waktu kuliah, saya ikutan Komunitas Pebasket lagi, kerjanya maen basket melulu. Tapi sesekali ngumpul dan diskusi di lapangan atau kalo nggak, tanding sama Pebasket dari komunitas laen. Nah, di tempat kami biasa latihan ada komunitas kecil satu lagi. Komunitasnya para breakers (sebutan untuk para pelaku breakdances), saya mah nggak ikut bergabung. Cuma komunitas basketnya udah dicuekin aja karena ngeliatin para breakers latihan itu ternyata lebih asyik dan seru. *selingkuh ceritanya inih*:D

Dan setahun yang lalu, saya sempat membentuk satu komunitas di Grup BB (Blackberry) untuk para mantan dan calon mantan karyawan di tempat kerja saya yang dulu. Tujuannya yah sekalian buat reuni, menjalin silahturahmi yang udah terputus, kopdar sekalian sebagai tempat sharing dan juga curhat. Komunitas ini menampung semua keluh kesah, susah dan senang selama bekerja disana, sekaligus sebagai tempat bertukar pikiran dan tempat konsultasi bagaimana cara mengundurkan diri yang tetap berkesan baik, meskipun kadang ada yang gondok dan sakit hati karena perlakuan yang tidak nyaman dari Bos besar. Intinya. karena saya adalah karyawan paling senior dan cukup lama bekerja disana. Jadi mungkin lebih paham bagaimana watak dan jalan pikiran si Bos Besar :D

Tapi sayangnya, komunitas ini tidak terlalu lama aktif. Karena Handphone saya dah hampir koid. Jadi udah nggak tau lagi gimana perkembangan atau penyusutan para anggotanya.

Kemudian saya bergabung di komunitas para alumni dari SMK saya yang dulu. Mungkin juga bisa disebut komunitas arisan kali yah, meskipun nggak semua ikut arisan. Anggotanya mayoritas udah berstatus ibu-ibu dan beberapa masih ada yang singel. Komunitas ini sebenarnya sama sekali tidak memilih gender, tapi berhubung sekolahnya memiliki murid yang 98 persennya adalah cewek tulen, 1 persennya cewek jadi-jadian dan 1 persennya lagi cowok macho *hihihi* . Jadi yah, maklumlah :D.

Para anggota di komunitas ini memiliki uang kas, yang suatu saat bisa digunakan untuk membantu salah satu anggotanya jika terkena musibah atau semacamnya. Komunitas ini juga memiliki jadwal pertemuan sebulan sekali, kegiatannya antara lain sharing atau berdiskusi tentang apapun yang kira-kira nyambung dengan para anggotanya.

Dan yang terakhir, Komunitas Monday Flashfiction atau MFF. Baru sekitar 3 bulan lebih saya bergabung disana dan insya Allah seterusnya. MFF adalah komunitas pencinta Flashfiction. Sebuah komunitas tempat kita belajar menulis cerita fiksi yang ditulis tidak lebih dari 500 kata dan ceritanya di akhiri dengan twist ending atau ending yang tidak terduga. Komunitas ini berdiri di dunia maya. Kalo komunitas ini diadain di dunia nyata atau ada event-event kopdarnya, wuih pasti seru, soalnya anggotanya dari berbagai daerah dan luar negeri. Leader atau admin-adminnya pada okeh dan pinter-pinter, tegas dan bisa menetralisir keadaan dan anggotanya pada asyik semua. Ada yang kocak, ada yang nyantai dan ada yang serius, pokoknya macem-macem deh. Meskipun bermacam-macam tapi mereka punya satu visi dan satu tujuan *jadi inget semboyan Bhineka Tunggal Ika ya hihihi*. Salutnya, No heart feeling dari Admin dan Anggota karena semuanya tentang belajar dan belajar dan juga harus bisa nerima saran dan kritik kalo ingin maju. Kita juga dibebaskan kapan saja untuk menulis dan ikutan prompt yang dilaksanakan tiap minggu, karena para Admin memaklumi koneksi internet yang kadang awut-awutan. Selain latihan menulis, juga ada pemilihan karya terbaik setiap minggu, belajar fiksi mini, review buku, tips dan artikel-artikel penting juga quiz berhadiah untuk cerita FlashFiction terbaik. Komunitas ini berinteraksi dalam grup di Facebook dan memiliki sebuah situs yang berisi informasi dan pelajaran-pelajaran yang berguna sekali bagi mereka yang ingin memperdalam FlashFiction.

Nah dari beberapa komunitas yang saya ikuti, akhirnnya saya memiliki beberapa kesimpulan, gimana seharusnya Komunitas yang Ideal itu.

Menurut saya komunitas ideal itu, adalah tempat dimana para anggotanya merasa nyaman dan bisa menjadi diri sendiri serta open minded atau berpikiran terbuka terhadap segala kritikan dan masukkan. Mampu saling meringankan beban masalah dan menunjukan rasa simpatinya antar anggotanya dan saling peduli satu sama lain.

Esensi dari suatu komunitas adalah ikatan emosional yang terbentuk dari kesamaan kesukaan pada suatu hal. Sama secara visi, hobi, tujuan yang juga merupakan daya tarik untuk membuat orang bergabung dalam komunitas. Untuk membangun komunitas tidak diperlukan dana yang sangat besar, karena sejatinya komunitas adalah tentang kualitas, bukan kuantitas.

Sebuah komunitas yang ideal haruslah memiliki tujuan yang jelas serta memiliki komitmen yang konsisten terhadap komunitas agar bisa mempengaruhi para anggotanya. Ketulusan adalah hal yang paling penting dalam sebuah komunitas dan juga kekompakkan antar anggotanya. Jika suatu waktu terjadi cekcok atau kesalahpahaman, sebaiknya memiliki seorang leader yang bisa menjadi penengah dan mampu menetralisir keadaan. Selain itu diperlukan juga orang-orang yang mampu memotivasi demi kemajuan komunitas itu sendiri. Diperlukan juga keaktifan dan rasa empati dari setiap anggota. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bukan hanya untuk kepentingan komunitas tapi juga bagi kepentingan umum (kalau bisa) bukan hanya berdiskusi tentang visi dan misi komunitas saja.

#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #3

00:08 0
#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #3

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Postingan ini merupakan sebagian besar kesimpulan atau rangkuman jawaban kali yah "Seandainya saya tidak ngeblog" sekaligus sebagai alasan kenapa saya ngeblog. :D


Seandainya saya tidak ngeblog, mungkin saya tidak akan pernah aktif di facebook dan twitter untuk berkomunikasi dan bersilahturahmi bersama para sahabat blogger. 

Seandainya saya tidak ngeblog, mungkin saya tidak akan pernah berani untuk belajar menulis dan belajar bercerita. Bisa bergabung di dalam sebuah grup yang anggotanya mampu memacu saya untuk menulis dan terus menulis, meski saya banyak memiliki kekurangan disana sini. Dimana lagi saya bisa menemukan komunitas belajar menulis bersama seperti itu yang anggotanya menyambut saya dengan begitu welcome, membuat saya nyaman tanpa no heart feeling dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.

Seandainya saya tidak ngeblog, saya belum tentu bisa belajar berbagi dengan orang-orang yang "bernasib sama". Karena dengan ngeblog, saya merasa tidak sendiri. Saya bisa mengungkapkan uneg-uneg dengan lebih leluasa, mau marah-marah, sedih, seneng, teriak-teriak tidak akan ada yang terganggu telinganya. Toh saya menulis dan belajar berkata tanpa bersuara. Walaupun apa yang saya tulis malah lebih lantang dari sekedar berbicara. Dan yang paling penting, ngeblog mampu mendorong saya untuk aktif berpikir dan berpikir lagi serta berinisiatif untuk mengembangkan sudut pandang yang lebih luas.

Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak pernah tau bahwa banyak sekali orang-orang diluar sana, diluar kota bahkan diluar negeri yang nasibnya lebih menyedihkan. Seandainya saya tidak ngeblog saya tidak akan pernah membaca cerita-cerita pilu para sahabat blogger yang membuat saya jadi lebih bersyukur dengan hidup ini.

Seandainya saya tidak ngeblog, kapan lagi saya bisa berbagi cerita dengan panjang lebar. Sedangkan waktu ini tak pernah cukup bahkan untuk berbagi ke tetangga, saudara atau sahabat di luar sana. Seandainya saya tidak ngeblog kemana lagi saya harus mengeluarkan banyak cerita terpendam menjadi sebuah tulisan.

Ngeblog itu something, yang sudah saya lakoni tapi seringkali mandek, terbentur karena ide yang tak datang-datang. Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan pernah tau sampai dimana kemampuan saya menulis dan tidak ada yang akan berkomentar bahwa tulisan saya jelek sehingga dengan cepat saya akan mengoreksi lalu belajar lagi, tidak ada yang akan mengajak saya berargumen saling beradu pendapat lalu saya akan semakin terus belajar untuk lebih bertanggungjawab.

Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan bisa belajar banyak untuk bisa saling mengingatkan. Berbagi pengalaman, dari yang tidak tau tiba-tiba jadi tertarik karena tulisan yang begitu menggugah. Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan bisa mengikuti banyak lomba-lomba menulis dan memiliki kesempatan untuk menang.

Dengan ngeblog saya bisa mengingat dan mencatat memori-memori yang mungkin suatu hari akan terlupakan begitu saja. Seandainya saya tidak ngeblog mungkin saya tidak akan memerlukan biaya tambahan untuk membeli pulsa modem setiap bulan. Tapi meskipun ilmu bisa kita dapatkan dari buku, seandainya saya tidak ngeblog mungkin pengetahuan saya tidak akan bertambah sebanyak ini.

Seandainya saya tidak ngeblog saya tidak akan banyak belajar dari kisah nyata. Membaca dan berbagi melalui blog membuat saya menjadi terpacu untuk belajar hidup dengan lebih baik lagi serta membangkitkan kesadaran dan mencerahkan pikiran. Dan kita akan mendapatkan banyak dorongan, masukan bahkan dukungan dari para sahabat blogger juga tentunya. ^_^

~oOo~

#8 Minggu Ngeblog: Bathin sehat berkat ngeblog #2

22:33 0
#8 Minggu Ngeblog: Bathin sehat berkat ngeblog #2

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

~oOo~

Ngeblog itu memang mengasyikan, buktinya saya punya 4 blog, dan alhamdulillah ada 3 yang aktif, 1 lagi baru dibikin. Harap maklum jika 1 atau 2 blognya kadang sepi komen. Karena saking sibuknya nyari bahan postingan, kelamaan semedi, dan terlalu konsen di salah satu blog setiap minggu, hingga menyebabkan blog lainnya dicuekin dan sedikit terlantar.

Blogwalking dan meninggalkan komen itu adalah hal yang jarang saya lakukan. Padahal kalo ingin menyambung silaturahmi dan pertemanan, seharusnya musti rajin bw dan ninggalin komen juga sebenernya yah.. :D

Seinget saya dulu, waktu kelas 3 SMA sekitar tahun 1999, saya sudah mengenal internet. Karena dulu sempet ikut pelatihan komputer. Sampai tahun 2002 saya masih belum mengenal blog, hanya sekedar belajar mendisain halaman website dan belajar secara offline. Saat itu pembuatan template masih sangat sederhana. Kita hanya mengetik kode html di notepad atau kalau ingin lebih mudah, kita juga bisa mendisain halaman dan menyusun bagian-bagian linknya di Aplikasi Microsoft Frontpage.

Sekitar tahun 2004, barulah saya belajar ngeblog untuk pertama kalinya di Friendster. Ngeblognya lumayan lama lalu pindah ke blogspot sebentar, tapi sayang blognya terlantar dan saya lupa alamat blog, email beserta passwordnya *ishh.. parah yah hehehe... trus balik lagi ke Friendster.

Tahun 2006, coba bikin lagi di blogspot, tapi mendadak ilfill juga pas ngeliat templatenya. Karena saat itu saya belum ngerti gimana ganti template di blogspot dan jarang banget gugling. Juga karena saya nulis postingannya di komputer di rumah, trus baru dibawa ke warnet *biar irit*:D. Nah pas nyampe warnet, bukannya ngeblog, tapi malah chatting. *hihihi*

Tahun 2011, akhirnya saya niatkan bener-bener buat ngeblog. Saat itu saya udah menikah dan si kecil udah agak besar, dan lagi karena komputer serta koneksi internet tersedia tiap bulan. So, why not.. itung-itung ngisi waktu luang dan untuk ngilangin kejenuhan. Memanfaatkan jadwal "Me Time" sebentar dari rutinitas dan pemandangan yang itu-itu aja di rumah.

Awal mulanya saya pengen ngeblog itu karena saya suka nyari resep masakan dan suka ngeliat foto-foto kuliner yang ada di blog. Maklum, soalnya saat itu lagi lucu-lucunya untuk belajar jadi ibu rumah tangga yang baik. :D

Saat itu saya menemukan sebuah blog pribadi tentang resep masakan yang semua isinya ciamik. Tulisan-tulisannya enak dibaca, karena selain nulis resep, yang punya blog juga nulis pengalamannya sehari-hari. Dari situ saya jadi ketularan. Akhirnya bikin blog resep masakan juga. Eh tapi lama-lama, postingannya tak tambahin tulisan tentang review buku. Karena saya juga suka baca buku, jadi sayang aja kalo nggak dishare di blog. Dan akhirnya, berkembanglah jadi blog campur-campur karena saya tambahkan juga tulisan tentang motivasi dan review film. Tapi sayangnya saya belum berani untuk menulis tentang diri sendiri atau apa saja dalam kehidupan sehari-hari, entah. Mungkin karena belum pede aja kali yah..

Dan temen-temennya gimana? Saat itu temen-temen blogger saya rata-rata masih anak sekolah atau kuliah. Sebenernya saya juga pengen temenan sama yang seusia atau kalo nggak statusnya sama-sama sebagai Ibu Muda. Tapi mungkin karena isi postingan-postingan saya yang *mungkin* seleranya lebih ke anak muda, trus jarang blogwalking, terlebih karena sayanya juga yang jarang ngunjungin balik ke temen-temen yang udah komen, jadinya yah gitu deh. *:D*

Saat itu saya ngeblog hingga bulan maret 2012. Kebiasaan ngeblog itu seolah-olah hilang karena kepindahan kami sekeluarga ke rumah baru. Mungkin karena masih harus menyesuaikan diri, teman-teman dan lingkungan baru di dunia nyata, maka dunia maya pelan-pelan mulai terlupakan.

Tapi akhirnya pada bulan Desember, karena sulit menemukan teman seide, atau yah senasib mungkin dan karena lingkungannya yang kurang mendukung karena sesuatu dan lain hal. Maka saya memutuskan untuk mulai ngeblog lagi.

Dan saat mulai ngeblog lagi bulan Januari lalu itulah, saya menemukan banyaaak banget temen dan sahabat *senengnya* ^_^

Pokoknya sejak saat itu, saya udah mulai pede buat nulis-nulis tentang hal-hal pribadi seputar kehidupan sehari-hari. Seandainya saya tidak ngeblog, mungkin pikiran saya hanya jalan ditempat kali yah, nggak maju-maju. Terlebih karena saya orangnya yang jarang bicara, kecuali itu penting atau karena akhirnya saya menemukan orang-orang yang nyaman untuk diajak bicara, baru saya berani buat ceplas-ceplos. :D

Dan karena itu juga, saya memerlukan media untuk menuangkan semua uneg-uneg yang tidak bisa tersampaikan dengan baik lewat ucapan, sebagai tempat berbagi dan sebagai tempat untuk saling mengingatkan. Menulis itu merupakan terapi terbaik untuk saya yang jarang bicara dan karena saya juga suka nulis meskipun kadang awut-awutan. Mau topiknya seneng atau sedih tapi yang penting saya nulis dulu. Entah bagus atau jelek nanti kan bisa dikoreksi dan diedit lagi ^_^. Yang penting emosi yang ada di dalam diri bisa tersalurkan dan mendapatkan kelegaan luar biasa yang kadang tidak bisa saya dapatkan di dunia nyata. Selain sebagai tempat untuk belajar menulis, ngeblog itu adalah salah satu faktor yang menyehatkan bathin. Jika bathin saya sehat, insya Allah lahirnya juga akan mengikuti. ^_^

Seandainya saya tidak ngeblog, aiiih... kasian banget bathin saya. :D
~oOo~. 

#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #1

00:13 0
#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #1

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.


Apa sih sebenernya tujuan ngeblog itu?

setau saya, dulu ngeblog itu cuma tempat buat nyampah. Kalo nggak diisi dengan lirik lagu atau curhatan, yah sumpah serapah.. :D

Tapi itu dulu, sebelum saya mengenal para sahabat-sahabat yang saya temukan dalam sebuah grup menulis. Meskipun saya ngeblog udah dari lamaaa banget, tapi ternyata kok sedikit sekali kemajuannya yah. Baik dari segi tulisan bahkan pertemanan. Nah loh, kok bisa gitu?

Saya mengenal blog itu, waktu jamannya FS (Friendster). Dimana semua teman yang terkoneksi bisa membaca semua curhatan-curhatan saya di blog, sama kayak di Facebook notes. Tapi sayangnya yang ngeblog di FS nggak booming banget kayak sekarang. Jadilah isi postingannya kadang rada ngaco, cuma sekedar teriak-teriak geje dalam bentuk tulisan, bikin puisi-puisi yang juga lebih kebangetan lagi gejenya. Eh walopun begitu, FS ku itu isinya banyak tulisan-tulisan temen loh. Apalagi klo soal cinta-cintaan wuih... blogku jadi tempat penampungan. Maksudnya, kalo temenku sedang dilanda cinta membara tiada tara, jadilah dia tuangkan dalam bentuk tulisan, trus di posting di FS ku, trus berharap orang yang disukainya (yang tidak lain temenku juga) geer bin penasaran trus komen-komen di blogku. Intinya saat itu, saya sempet jadi seorang mak comblang. 

Blog di FS juga bisa dijadikan sebagai sebuah media surat-suratan atau tulisan berbalas. Kalo lagi baikan, tulisannya lucu-lucu. Tapi kalo lagi berantem, tulisannya yah sindir-sindiran. Saya bikin postingan di FS lumayan rutin, meski blognya nggak kayak sekarang inih, yang isinya pada canggih dan bermacam-macam. Jadi ngeblog di FS itu sebenernya, mungkin karena saya memiliki jam iseng lebih banyak daripada jam kerja kali yah hihihi...

Saat itu, saya juga suka ragu kalo mo nulis curhatan di blog pribadi. Pengen nyumpah-nyumpah tapi takut dibaca orang yang bersangkutan, tapi kalo nggak nyampah yah rasanya nggak sreg. Untunglah udah ada blogspot, jadi mengungsilah saya. Nenteng tulisan seabrek, semuanya dimasukin ke blogspot. Setelah puas cuap-cuap disana, tetep aja nggak punya temen. Sepi, yang komen juga blom ada. Secara semua temen-temen emang lagi pada betah mangkal di FS yang saat itu lagi lucu-lucunya. Akhirnya, di blogspot juga nggak lama. Balik lagi ke FS bikin akun satu lagi, nama disamarkan. Dan curhatlah saya dengan leluasa, mau jungkir balik, gulang guling yang penting "yang bersangkutan" nggak liat toh. :D

Trus, kalo seandainya saya nggak ngeblog saat itu? yah nggak gaul jadinya hehehe..

Tapi nggak juga sebenernya.., Meskipun saat itu belum ada (atau saya yang belum tau) lomba-lomba ngeblog yang ada kayak sekarang. Tapi dengan ngeblog, kita bisa menyambung tali silahturahmi yang terputus atau menambah sahabat baru tidak hanya dari satu negara, tapi juga dari luar negeri.

Nah, kalo sekarang. Seandainya saya tidak ngeblog, rasanya ada aja yang hilang setiap hari. Makan nggak nyenyak, tidur nggak enak #eh. Saking takutnya ketinggalan informasi soal kontes-kontes ngeblog terbaru. *hihihi* Padahal sebelum-sebelumnya, tujuan ngeblog saya itu cuma sekedar buat belajar tulis menulis dan mendokumentasikan moment yang tidak bisa direkam oleh kamera. Tapi semenjak bewe ke salah satu temen blogger yang lagi bikin giveaway, saya penasaran apa sih giveaway itu. Trus saya liat, wow rupanya dengan menulis di blog kita bisa dapet hadiah juga. Dan ikutlah saya untuk memeriahkan. Tak disangka baru pertama kali ikut, eh menang. Lalu ikutan juga di blog kontes lainnya dan menang lagi, hingga membuat saya ketagihan. Walopun sekarang udah jarang menang, tapi nggak pernah menghentikan saya buat nggak ngeblog lagi. Yap, karena ngeblog itu bukan cuma semata karena hadiah, tapi juga karena ada persahabatan dan pelajaran penting di dalamnya, yang tak selalu bisa kita dapatkan dari dunia nyata. Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan mendapatkan semuanya. ^_^

~oOo~.