uzegan

Orang tua Pilihan

05:05 0
Orang tua Pilihan

Banyak hal yang terlewati begitu saja dari rentang waktu sekian tahun.. Sudah bukan kepalang betapa banyaknya penyesalan, banyak yang tersia-sia, ketika kita mendapati begitu mudahnya nyawa tercabut dari raga.. Gambaran jelas dari kecil dan lemahnya mahluk yang bernama manusia.. Hari berganti hari, dan bulan menjadi tahun.. Akankah sholat itu hanya menjadi setoran wajib 5x sehari, disaat manusia sudah berumur? yang menjadi lambang ketakutan manusia akan ancaman api neraka dan harapan kekalnya di syurga. Apakah memang banyak anak muda yang sudah akhir baligh tidak menghiraukan, atau memang tak tau? bahwa sholat adalah amalan pertama yang dihisab. Sayangnya banyak yang baru tau.. kemana saja selama ini? apa saja yang dipikirkan dan kehidupan yang bagaimana yang telah dijalani sebelumnya? hanya Tuhan yang tau..
Muslim dari lahir tak menjamin bahwa si manusia mengerti dan mendalami Perintah Syariat, Al Qur’an dan Al Hadist, orang tua lah yang berkewajiban memberikan pemahaman.. Kita sebagai anak hanyalah duplikasi watak, sikap dan kebiasaan orang tua yang menurun sejak lahir, sebelum kita mampu berpikir dan memilah baik buruknya kehidupan dan kematian. Toh seorang anak, bayi yang masih suci tak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya bukan. kadang tak selalu anak yang durhaka, mungkin saja orang tua yang tak sadar telah membuat luka..


Prompt # 7 The Postcard

23:59 0
Prompt # 7 The Postcard
Lelaki itu datang. Walau hanya sekilas pandang, mataku tak bisa lepas meliriknya. Dadaku dag dig dug, tapi otakku masih harus konsisten dengan pekerjaanku. 


Tina mencolekku “Mey, cowok ganteng yang waktu itu tuh.” Lelaki itu melihat nomor antriannnya dan berjalan ke arahku. Tapi sepertinya persaingan kami untuk mendapatkan pacar paling tampan, memang tidak akan pernah berakhir. Tina langsung pasang badan dan mempersilahkan lelaki itu untuk ke counter nya.


“Yah sudah ambil saja, masih banyak lelaki lain kok,” bathinku.


“Hei, kerja yang bener,” tegur manajer kami.


Lelaki itu berpindah arah dan menyapaku. “Permisi Nona.” Senyumnya manis sekali. Seketika, hatiku mendadak tak karuan. 


“Anda mengirim kartu pos lagi hari ini,” komentarku. “Wah, cantik sekali.” “Apa ada yang lain?” lanjutku.


“Tidak,” jawabnya setengah grogi.


“Semuanya 220 won,” ucapku lagi. Lalu dia membayar dan langsung pergi tanpa berkata apa-apa.



“Matamu, Rambutmu, Senyummu dan Seragammu

mempesona mataku”

Dadaku terhenyak, begitu menyadari kepada siapa alamat itu ditujukan. “Kok sama dengan alamat kontrakannya Daniel yah, tapi kenapa dia tidak mencantumkan nama dan alamat pengirim?” bisikku.

“Jangan-jangan lelaki itu.. .” Aku memutar otak, "Ah, tidak mungkin sahabat karibku yang ganteng itu mau,” pikirku. “Tapi entahlah, beberapa kali aku sempat memergoki mereka bertemu pandang dan saling memberi isyarat.” Pikiranku jadi ragu bercampur cemburu.

***


“Mey, sendirian aja pulangnya ?” Daniel menghampiriku.


“Eh, iya,” jawabku setengah kaget.


“Mey, kita duduk di ruang tunggu sebentar yuk, ada yang mau aku ceritakan.”



“Cerita apa?” jawabku penasaran. “Okey, baiklah.” lanjutku menyudahi.



Daniel menyandarkan punggungnya di kursi, lalu memangku helmnya. “Hmm.. begini Mey.”



“Apa Dan?” 


“Besok aku akan menemui wanita itu.”


“Wanita yang mana?” 



“Wanita yang selalu mengirimiku kartu pos, lewat kakaknya itu Mey.”


“Oh, ternyataa.. .” Hatiku lega. “Untuk apa?”

“Untuk memintanya berhenti mengirimiku Kartu Pos lagi.” 

“Kenapa Dan?”


“Ng... Aku tidak mau kamu melihat kartu pos - kartu pos itu lagi.”


“Loh!” Aku kaget. “Maaf klo begitu, aku tidak akan melakukannya lagi!” Aku langsung bangkit.


“Aku mau kamu, yang mengirim kartu pos - kartu pos seperti itu. Untukku Mey.”