uzegan: Resep
Tampilkan postingan dengan label Resep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resep. Tampilkan semua postingan

3 Bahan Penyelamat

22:16 3
3 Bahan Penyelamat

Kecanggihan teknologi membuat sebagian orang jadi lebih menggampangkan sesuatu.

Seperti katanya Sydney J. Harris, The real danger is not that computers will begin to think like men, but that men will begin to think like computers. Dan itulah yang terjadi sewaktu saya memulai kehidupan baru di rumah mertua.

Saya yang dulu kerjanya bertahun-tahun hanya di depan komputer (tanpa berurusan dengan dapur), bangun, kuliah, kerja, pulang larut, tidur, bangun, kuliah, kerja, pulang larut, begitu tiap hari. Hari minggu gak kuliah tapi tetep kerja di hari libur. Kebayangkan gimana pemandangan sehari-harinya. Hidup diantara monitor, pc, keyboard, mouse, buku, kertas dan sejenisnya, lalu akhirnya menikah dan langsung resign.

Begitu memulai hidup baru, tiba-tiba kehidupan berubah, setiap hari harus ngeliat kompor, panci, sayur-mayur, ikan-ikanan, baju kotor, piring kotor, rumah kotor serta seabrek keresahan akibat small talk antar ipar dan mertua yang pernah terdengar di balik pintu. πŸ˜‚πŸ˜…

Berhubung cara berpikir saya dulu masih terbawa-bawa seperti ketika berhadapan dengan komputer, dimana saya pernah berprinsip bahwa ngedisain dan memasak itu sama-sama mengolah bahan mentah menjadi sebuah karya/hidangan. Alhasil kadang saya khilaf dan lupa kalo masak itu gak bisa di undo atau di redo, maka dengan nyantainya bahan beserta bumbu masakan itu saya racik tanpa mikir panjang, apalagi kalo lagi males, langsung bablas aja. Tapi kalo lagi rajin, yah kadang nyoba-nyoba berimprovisasi saking overnya.

Dan hasilnya tentu saja keasinan, keaseman bahkan rasanya jadi terlalu tajam saking semangatnya ngasih bumbu hahaha... Dulu saya mikir, kalo semakin banyak rempah atau bahan maka rasanya pasti makin enak πŸ˜‚πŸ˜… Padahal yah gak begitu juga. Bisa jadi rasanya jadi ancur kalo gak sesuai resep yak hihihi..

Jadi kali ini saya mau ngasih sedikit tips tentang 3 bahan. 3 Bahan ini masih bisa menghandle masakan yang sudah terlanjur keasinan, terlalu asem, atau makanan yang bumbu atau seasoningnya kebanyakan. Istilah komputernya, kesalahan yang telah terjadi ini ternyata masih bisa di undo loh wkwkwk. Biar hasil masakannya nanti gak ancur-ancur banget ketika disajikan πŸ˜‚πŸ˜… Daripada harus masak ulang, kan jadi capek dan pemborosan yakan. 😁

Triknya saya pelajari lewat google jaman baheula dan pengalaman di waktu awal-awal belajar masak masakan khasnya keluarga suami. Nah 3 Bahan Penyelamat itu adalah :
1. Wortel

Wortel bisa digunakan ketika masakan terlalu asam, dulu saya sempet nyoba beberapa kali waktu kebablasan masak pindang ikan patin, sayur asem dan saos asam manis. Setelah dimasak dengan wortel yang sudah di potong agak besar, wortelnya akan menyerap rasa asam. Biarkan mendidih. Kalo masih terlalu asam tambahkan wortel lagi sampe rasa asamnya berkurang, setelah itu wortelnya bisa langsung disisihkan.


2. Kentang

Kentang sangat bermanfaat menyerap rasa asin ketika kita memasak makanan berkuah yang keasinan. Karena itu, ketika kita memasak Opor, Kari, Soto atau Sop Ayam atau makanan berkuah yang ada kentangnya. Jangan lupa diicip-icip lagi atau masukkan garam terakhir setelah kentangnya sudah dididihkan.


3. Telur

Ada dua masakan yang membuat saya harus selalu menambahkan telur agar makanan yang saya masak rasanya tidak terlalu tajam, yaitu Indomie dan Nasi Goreng πŸ˜‚ tapi telur disini fungsinya bukan sebagai garnis atau pendamping makanan. Karena telur ini (harus dikocok) khusus dicampur dengan nasi goreng di akhir. Agar bumbu yang kebanyakan itu bisa diserap oleh telur yang penampakannya akan hilang (telur siluman) πŸ˜‚ karena harus menyelimuti setiap butir nasi. 😁


Begitu juga dengan Mie Instant. Karena saya termasuk tipe orang yang mengkonsumsi Indomie Goreng tapi pake kuah. Kalopun masak kering, bumbunya saya kurangi atau dicampur dengan kocokan dua telur agar rasanya yang pekat (tajam) bisa berkurang. Dan ini juga bisa di aplikasikan untuk masakan lain, selagi masakan itu bisa dicampur dengan telur atau telurnya bisa disaring jika tidak cocok dengan makanan yang akan disajikan. Dengan catatan, telurnya harus di kocok tidak bisa kalo hanya dicemplung ato diceplok.


Gimana? Ilmunya udah nambah blom ? Semoga temen-temen yang nanti mau nikah gak mengalami hal yang sama yak hihihi..

Makanan & Kenangan Masa Kecil

19:08 37
Makanan & Kenangan Masa Kecil


Setiap kali, ketika saya kembali menjejakkan kaki ke rumah Orangtua, ingatan-ingatan tentang masa kecil serta merta kembali menyelusup, menyesaki ruang benak, lalu berakhir dengan sereguk kesedihan dalam dogma kehampaan. Menangis? Konon menangisi kematian itu hanyalah bentuk dari sebuah keegoisan, bahwa kita sebenarnya sedang menangisi diri karena tidak lagi bisa mendapati atau melihat apa yang pernah menjadi milik kita. Bahwa kita takut sendirian, takut kehilangan, takut untuk menerima siksaan rasa rindu yang tak akan pernah terobati. Yang pada akhirnya kita hanyalah seorang manusia yang takut untuk menghadapi rasa sepi. 

Kebersamaan saya dan almarhumah Kakak, adalah salah satu kenangan yang akan selalu menjadi pembelajaran bagi saya sebagai seorang adik yang telah menjadi Orangtua. Juga sebagai kenangan manis yang menjadi pengingat bahwa dia pernah menjadi rekan terbaik, ketika kami sama-sama berjuang menjalani kepahitan hidup saat bersama Orangtua.
~//~

Ketika kami masih anak-anak, solat taraweh telah menjadi satu hal paling menyenangkan, walau tidak seperti teman-teman lain yang kadang dibekali uang jajan oleh Orangtuanya. Setelah selesai solat biasanya anak-anak langsung berhamburan menuju kedai makanan terdekat yang masih buka di sekitar masjid. Berbeda dengan saya dan kakak, kami biasanya langsung pulang karena Ibu memang sudah membekali kami dengan sekantong makanan sisa berbuka. Makanan yang dibuat sendiri oleh Ibu atau saya. 

Godo-godo Labu

Salah satu makanan khas yang biasa dihidangkan saat berbuka di rumah adalah Godo-godo Labu. Makanan ini mirip Bakwan, tapi terbuat dari potongan-potongan kecil labu kuning seukuran korek api yang dicampur dengan terigu. Rasanya manis-manis gurih. Tekstur makanan ini terasa garing diluar namun lembut di dalam. Jika ingin menambah sensasi pedas, akan lebih cocok jika Godo-godo Labu disajikan dengan cuko pempek ketimbang dimakan dengan cabe rawit yang pedasnya cuma se-upil. πŸ˜‚

Godo-godo Labu adalah salah satu makanan kenangan masa kecil saya bersama Kakak di bulan Ramadhan. Kalo lagi bosen mendengarkan ceramah di masjid setelah solat atau mengaji, makanan ini selalu jadi penangkal rasa ngantuk dan jenuh. Walau bentuknya sering jadi gepeng karena disembunyikan di bawah sajadah (dulu para Ustadz rajin mendisiplinkan anak-anak yang makan dan ribut disaat orang-orang sedang solat) untungnya saat itu kami tidak pernah terciduk meski solatnya dipastikan keteteran. πŸ˜‚πŸ˜…

Selain beberapa masakan ibu, saya juga rindu dengan jajanan atau makanan yang dibeli bersama Kakak sewaktu kecil. Beberapa makanan ini dulu sempat saya idamkan setelah menikah, bukan saja karena rasanya yang enak tapi karena kenangannya. Suatu momen yang tidak bisa saya ciptakan lagi karena ada beberapa bagian dari kenangan itu yang memang sudah tidak ada lagi.

Dulu sewaktu masih SD, Ibu selalu kerepotan mengurus adik-adik yang masih kecil karena beliau juga harus ikut membantu bapak mencari nafkah. Karena itu, Ibu meminta saya dan kakak mengurus hal-hal yang berhubungan dengan perkulineran di rumah. Berbelanja keperluan dapur adalah salah satu misi yang kami emban setiap hari, meskipun kerap diwarnai dengan pertikaian khas anak-anak tapi tidak jarang juga kami terpaksa saling mengalah, agar perjalanan menuju pasar yang awalnya hanya berjarak beberapa ratus meter tapi berlanjut menjadi beberapa kilometer itu (sempat bertualang dulu di tengah perjalanan), bisa terasa lebih damai dan aman sentosa. πŸ˜‚

Sambal Telur Udang

Salah satu makanan atau lauk yang tidak bisa kami temui lagi bahannya adalah Telur Udang, mungkin telur dari satu ekor udang adalah bahan yang mudah didapat, tapi jika beratnya sudah mencapai 250-500 gram per bungkus, maka telur udang menjadi bahan masakan yang paling sulit dicari. Disini, tak perduli berapa kali saya dan kakak mencari, kumpulan telur udang siap olah itu sudah tidak bisa kami dapatkan lagi, karena harga jualnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan usaha ketika mengumpulkannya. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa tidak ada lagi yang (mau) menjualnya. 

Sambal Telur Udang ini biasanya kami nikmati dengan mencampurnya bersama nasi yang tidak hangat atau sudah dingin (lebih enak) dan tanpa lauk. Sambalnya sama sekali tidak pedas karena cabe yang dipakai hanya sedikit, khusus untuk anak-anak. Rasanya yang nikmat selalu membuat ketagihan hingga bisa dimakan kapan saja. Entah sarapan, makan siang atau makan malamnya yang jadi dobel-dobel, hayuk aja. caviar mah lewaat. πŸ˜‚

Ikan Kembung Panggang "Joko"

Ikan Kembung Panggang "Joko" merupakan salah satu lauk terfavorit semua anggota keluarga. Karena rasanya yang berbeda dibanding ikan kembung panggang yang dijual di tempat lain. Setiap Ibu malas masak, hal pertama yang kami inginkan adalah menyantap nasi putih hangat bersama ikan kembung panggang yang dibeli di warungnya Si Joko, alih-alih karena harganya paling terjangkau dan karena Bapak yang benci untuk makan ayam atau daging. Tapi meskipun begitu, tetap saja jatah satu ekor ikan dibagi empat bagian per empat orang anak.

Pemilik warung makan ini adalah orang jawa tapi yang mereka jual adalah masakan padang. Joko sebenarnya bukanlah nama warung makan, juga bukan diambil dari nama pemiliknya, melainkan nama anaknya yang paling kecil. Berhubung nama warungnya susah diingat, akhirnya nama Joko yang menjadi trademark di warung makan Ibunya. Dan kebetulan Joko adalah teman mengaji adik saya di Masjid dekat rumah. Anaknya ramah meskipun masih kecil dan satu dari sekian anak lelaki tambun nan gemulai yang kami kenal karena bisa menari jaipong.

Meski Joko dan Ibunya sudah pindah bertahun-tahun yang lalu, tetap saja pernah terbersit keinginan untuk mencari tau mengenai kabar mereka. Saya penasaran bagaimana dia sekarang, apakah masih seperti itu atau sudah berubah. Juga bagaimana kabar Ibunya yang dulunya sudah berstatus sebagai seorang nenek sekaligus si juru masak ikan kembung panggang favorit keluarga kami.


Beberapa bulan lalu, saya dan temen-temen bloger mendapat sebuah hampers hari raya dari Mba Eno, berupa satu ekor Ayam dan Ikan Panggang utuh. Yang rasa ayam panggangnya itu mengingatkan saya dengan Ikan Kembung Panggang masakan Ibunya Si Joko. Sudah berpuluh tahun. Tidak disangka, akhirnya saya bisa menemukan rasa itu lagi melalui seekor ayam panggang kiriman dari seorang teman blogger. 😊

Ayam Kecap Tahlilan

Ayam kecap ini sebenarnya ayam kecap biasa, tapi karena rasa enaknya belum pernah kami temui dari ayam-ayam kecap yang lain, walhasil setiap Uwak samping rumah mengadakan tahlilan, ayam kecap ini selalu jadi rebutan diantara saudara-saudara. Uwak samping rumah adalah keluarga sangat jauh dari sebelah Ibu karena hanya dihubungkan melalui status perkawinan, tapi karena sama-sama orang perantauan. Kami jadi merasa lebih dekat dibandingkan dengan keluarga sendiri dan berusaha saling membantu dalam banyak hal. 

Sayangnya, ayam kecap ini jarang sekali bisa kami nikmati, karena biasanya dimasak untuk para tetamu dan hantaran ke tetangga ketika Uwak mengadakan tahlilan saja (Uwak adalah seorang Janda ditinggal mati yang harus menghidupi 6 orang anak). Setelah saya menikah, ternyata beliau sudah pindah keluar kota mengikuti anak-anak perempuannya yang bekerja disana.

Pempek Dos Panggang Gerobak

Penjual Pempek Dos Panggang ini adalah seorang kakek-kakek. Beliau menjajakan Pempek Panggang menggunakan gerobak kayu yang diatasnya diisi dengan arang dan panggangan dari selembar kawat seukuran panjang gerobak. Cara berdagangnya termasuk unik, karena setau saya sampai sekarang tidak ada satupun pedagang keliling yang menjajakan pempek panggang seperti itu disini, biasanya hanya dijual ditempat.

Bagi penggemar pempek dos macam kami, rasa pempeknya tetep yang paling ajib meskipun tanpa ikan sama sekali. Bagian luarnya berwarna putih dengan warna sedikit gosong, garing, matang hingga kedalam dan berwarna bening, kenyal dan lembut ketika digigit. Beda dari pempek-pempek dos jaman sekarang yang rata-rata dibuat dari resep sejuta umat. Sampai sekarang saya belum nemu pempek dos panggang yang menyamai, baik dari segi rasa maupun dari teksturnya.

Kakek penjual pempek panggang ini dulu sering mangkal tidak jauh dari lapangan tempat anak-anak bermain. Biasanya saya dan kakak menunggu Si Kakek memanggang sambil nongkrong di sebelah abang-abang yang menyewakan gembot (gamewacth). Pernah juga beberapa kali kami menikmati pempek dos panggang si kakek di hari yang panas, sambil nonton lomba panjat pinang di hari kemerdekaan beberapa puluh tahun yang lalu.



Foto ini adalah hasil percobaan pertama waktu belajar membuat pempek panggang beberapa tahun lalu. Akhirnya saya bikin juga walau cuma di atas teflon. Jaman sekarang, masak dengan menggunakan arang sudah termasuk hal yang langkah, karena alat dan bahan untuk skala rumah tangga hampir tidak lagi dipakai disini. Trus, bagaimana rasa pempeknya setelah dimasak? Untunglah, ternyata masih bisa dimakan. πŸ˜‚πŸ˜

Kalo kalian gimana? Adakah makanan & kenangan masa kecil yang kalian rindukan? Cerita dong. 😊





Puding Roti berasa Maksuba

09:03 34
Puding Roti berasa Maksuba
Resep Puding Roti berasa Maksuba

Beberapa waktu lalu, ada beberapa teman yang menyempatkan diri untuk ngede-em di akun Instagram saya. Yang mana sekiranya ingin mendapatkan penjelasan. Kenapa Puding Roti yang pernah saya upload, bisa menyamai kue yang memiliki tingkat kerumitan dan biaya bahan setingkat diatas rata-rata kue basah pada umumnya seperti Kue Maksuba. Baik dari segi rasa maupun dari segi teksturnya tapi dengan biaya yang tidak mahal.

Karena resep ini awalnya tercipta dari banyak unsur ketidaksengajaan, keisengan dan kekreatifan ala kadarnya semata. Maka harap dimaklumi, jika setelah di remake ternyata tidak sesuai dengan ekspetasi, mungkin karena bahannya yang kurang, tekniknya yang gak sinkron atau khayalannya yang kurang tinggi. πŸ˜‚πŸ˜… 

Tapi meskipun begitu, semoga saja resep berbahan irit yang akan segera dirilis ini, bisa sesuai dengan apa yang sudah lama kita nanti-nantikan, Amiiiin ya Robbal Alamiin.. (kok jadi inget pidato jaman batu, yak) πŸ˜…

Okeh.. ini dia Resepnya.. 

PUDING ROTI berasa MAKSUBA 


Bahan : 

5 lembar Roti Tawar Pandan, potong kecil-kecil (boleh di blender)
5 butir Telur
4-5 sachet Kental Manis Putih
Sejumput Garam
2 sdm Mentega
2 sdm Gula (optional kalo kurang manis)
Setengah batang (Keju sachet) Keju Cheddar, parut 
2 tetes Vanila Cair atau Banana Essens (optional bagi yang gak kuat nyium aroma telur, kalo aroma pandannya kurang mendominasi)

Boleh ditambahkan sedikit air jika adonan terlalu kental (gunanya, agar tekstur Puding tidak terlalu padat karena banyaknya telur yang dipakai). 

Cara Membuat : 

Campur semua bahan dalam satu wadah, aduk hingga benar-benar rata, boleh pake mixer speed rendah. Siapkan kukusan, tuang adonan ke dalam loyang kecil (loyang brownis) yang sudah diberi alas kertas roti, dioles dengan mentega dan ditaburi tepung. 

Kukus kurang lebih 30 menit ato di panggang dengan metode Au Bain Marie (di kukus dalam oven tanpa tutup) biar atasnya gak kering dan tekstur tetep lembut dan lembab. 

Setelah matang, angkat, potong-potong, langsung di lep, nyam nyam nyam.. 🀀


Note : 
Bagi yang sudah pernah membaca Resep ini harap dimaklumi, karena ini adalah repost tulisan lama tertanggal 21 Juli 2018 ato kurleb dua tahun lalu, yang saya posting dan rombak ulang dengan dokumentasi seadanya. Dimana dulu itu, saya masih aktif di IG dan pernah meninggalkan Blog ini dengan berat hatiπŸ˜… (tapi sekarang malah terbalik). πŸ˜…πŸ˜ 

Kenapa di repost? Jawabannya bisa dibaca di sini πŸ˜…

Biasanya perempuan itu kalo udah ngerjain sesuatu rata-rata bisa multitasking, tapi ternyata saya tidak gaes😭. Saya tidak ditakdirkan untuk berada di golongan mereka-mereka yang bertalenta seperti itu. Kalo kedua aktifitas itu di handle dengan sepenuh hati (walopun bisa aja sih sebenere, kalo nekat) Alamat, anak-anak dan suami yang ujung-ujungnya bakal terlantar. πŸ˜…

Dulu, yang paling sering di cuekin itu, of kors adalah urusan rumah tangga beserta para personilnya yang masih mungil-mungil. Yang mau tidak mau, ungkapan protes "tanpa kata" mereka itu akhirnya tercipta dalam bentuk konser tangisan dan teriakan-teriakan. (every minute, everyday) πŸ˜…πŸ˜‚

Dengan terpaksa, memaksa dan dipaksa akhirnya saya mundur juga dari dunia perbloheran. πŸ˜‚  

Kalo sekarang, mereka udah lumayan anteng. Udah gak ngajak begadang ria bareng lagi. Emaknya aja yang begadang sendirian sambil nyemil, nyeruput coklat ato teh anget, trus lanjut surfing-surfing internet. Kalo lagi dapet inspirasi yah bisa nyambi ngetik tulisan baru, meskipun jarang-jarang juga. 

Karena inspirasi tulisannya itu justru selalu muncul, pas lagi nyuci piring. Soalnya bisa sambil ngelamun di halaman belakang dibawah pohon jambu yang rindang tanpa ada gangguan (sayang pohonnya udah gak ada lagi sekarang). Anak-anak juga gak bisa gelendotan karena nyucinya jongkok dan pintu dapurnya dikunci dari luar. Jadi tangan tetep kerja, otak juga lancar banget buat ngehalu. πŸ˜‚ 

Kalo siang sih masih bisalah nyuri-nyuri waktu buat nulis ato ngebewe. Meskipun susah kalo mo komen, karena bocah-bocah malah jadi tergoda setelah ngeliat blognya temen-temen, pada penasaran pengen ikutan mencet-mencet komentar juga (pake bahasa alien). πŸ˜‚

Kuliner Ikonik Palembang

06:58 33
Kuliner Ikonik Palembang

@racliamoon


Saya tuh sebenernya lagi males ngomongin wabah di situasi seperti sekarang, tapi apa daya. Ternyata hal itu secara langsung telah memporak-porandakan tradisi Ramadhan dan Lebaran semua orang. 

Pengennya gak inget dan terus berusaha cuek, kalo ternyata harapan saya untuk bisa melakukan banyak hal di kesempatan lebaran tahun ini harus pupus, sekali lagi.

Dan tak dinyana, memori masa lalu yang terpatri di benak pun akhirnya bermunculan, terutama tentang masa-masa indah di waktu kecil. 

"Dimana kegembiraan itu seolah tak terukur dan keceriaan itu begitu luas untuk di arungi. Tanpa beban. Cukup bahagia dengan kebebasan untuk jajan lebih banyak dan bermain lebih lama. Tentu saja dengan mengenakan baju baru di hari lebaran."

Mudik dan silahturahmi adalah salah satu tradisi lebaran yang akan dan telah ditiadakan bagi sebagian orang. Tapi entah dengan baju baru, bikin kue dan ketupat, ziarah makam, petasan atau THR, apakah juga akan ikut menghilang atau hanya berkurang? Who knows.. 

Bisa saja tradisi-tradisi itu tidak menghilang dan masih penting di beberapa orang atau daerah. Entah karena nekat, masih bisa dilakukan di rumah atau dilakukan secara online. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi mereka yang berada di daerah pinggiran. Dimana wabah covid-19 hanya menjamah sedikit orang dan sisanya adalah orang-orang yang tidak melek teknologi.


Ilustrasi Sumber Inspirasi

Berhubung adik saya sedang kebanjiran order membuat ilustrasi (tapi dibayar seikhlasnya), seperti  gambar di beberapa postingan saya sebelumnya, berupa lukisan buah dan sketsa penganten melayu, juga termasuk pada postingan ini. Akhirnya saya jadi pengen ngebahas tentang beberapa kuliner ikonik khas Palembang terutama makanan yang sering dijumpai di hari raya, seperti pada gambar/ilustrasi diatas (khusus buat kknya gratis πŸ˜‚).

Maklum, meskipun saya pernah jadi anak disain, tapi bidang ilmu dan orientasi pekerjaan yang pernah saya geluti tidak sejalan dan berbeda aliran. Dalam disain itu ada banyak cabang, seperti Ilustrasi, disain grafis, disain web, komik, animasi dan lain-lain. Sementara skill saya sebagai disain editor,  hanya mampu menggambar untuk pelajaran matematika dan fisika (tau kan) atau mendisain layout. Gak nyeni sama sekali tapi butuh ketelitian dalam menginput data angka atau simbol-simbol (biar yang ngerjain soal gak salah jawab dan nilainya gak anjlok πŸ˜‚). 

Sedangkan adik saya sebagai anak millenial, sudah begitu jauh melampaui. Jam terbangnya sudah tinggi untuk urusan ilustrasi dan emang berada di masa, banyak sumber yang bisa menginspirasi seperti melalui internet. Juga lebih tanggap untuk hal-hal baru, di bidang menggambar secara analog atau digital dengan menggunakan aplikasi. Dan dipastikan ilmu saya akan semakin terbelakang, jika tidak rajin mengupgrade diri (gak punya waktu soale). 😭

Begitulah beda anak disain jaman dulu dan anak disain jaman sekarang. πŸ˜‚


Beberapa Kuliner Ikonik Khas Palembang
Okeh, biar gak semakin halu. Ini dia beberapa Kuliner Ikonik yang keberadaannya juga dinantikan di Hari Raya khususnya kuliner yang ada di kota Palembang. 

Nah, pembahasannya disesuaikan dengan urutan pada gambar diatas, dari yang paling depan lalu ke kanan kemudian ke atas lalu ke kiri :

Pempek

Dulu pernah terjadi klaim dari dua daerah, mengenai asal usul pempek. Namun melalui sejarah, secara historis, filosofis, geografis, serta psikologis dengan jelas menceritakan, bahwa pempek aslinya berasal dari Palembang.

Pempek awalnya bernama Kelesan. Namun pada tahun 1920an berubah menjadi Pempek. Saat itu orang China yang menjual Kelesan akan menghampiri, jika pembeli berteriak 'pek! pek!' kependekan dari Apek. Apek atau empek berasal dari bahasa hokkian, panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari ayah atau disebut dengan paman.  Hingga lama kelamaan, akhirnya menjadi nama makanan yang dijualnya, yaitu Pempek sebagai kata serapan. Meskipun sebagian Orangtua yang sudah sepuh disini masih menyebut Pempek dengan Kelesan. 

Jenis Pempek ada bermacam-macam, tapi biasanya yang terfavorit dan pembuatannya tidak terlalu ribet adalah Pempek Lenjer dan Pempek Telur (ada yang ukuran besar dan ukuran kecil). Seperti pada gambar di postingan ini.

Dulu saya tidak begitu suka Pempek. Kalopun ada yang menyajikan, saya hanya mengkonsumsi telur isiannya, adonan pempeknya dibuang πŸ˜‚. Hingga pada suatu hari, saya ditakdirkan untuk mencicipi pempek dengan tekstur dan aroma yang tidak menyengat serta rasa yang enak banget, termasuk variant lainnya seperti pempek kulit yang lembut di dalam tapi krispi di luar. 🀀 Akhirnya πŸ˜‚.


Es Kacang Merah

Sebagai budaya kuliner yang juga populer dan terbawa dari negeri asalnya bersama bakso, maka es kacang merah pun ikut ambil bagian menjadi kuliner ikonik khas Palembang karena memiliki sedikit perbedaan dari resep es kacang merah di beberapa daerah lainnya di Indonesia. 

Es Kacang Merah biasanya sering disajikan sebagai menu berbuka puasa. Namun jika ingin menikmatinya di hari lebaran kita bisa ke gerai-gerai pempek yang ada di Palembang. Salah satu minuman pendamping yang sering disajikan biasanya adalah es kacang merah.

Sebagai pecinta es kacang merah garis keras, jika ingin mencicipi es kacang merah ketika berada di kota Palembang, suami merekomendasikan gerai Pempek Vico dan Pempek Akiun. Namun ada satu lagi kedai es kacang merah rekomendasi dari teman-teman yaitu Es Kacang Merah Mamat di daerah sekitar Lapangan Hatta. Banyak para pengusaha bahkan pejabat yang sengaja datang kesana, meskipun lokasinya berada di tempat tersembunyi dan antriannya yang mengular.


Mie Celor

Kuliner yang satu ini merupakan perpaduan kuliner Melayu dan Tionghoa karena tampilannya sangat mirip dengan Lo Mie asal China bagian Selatan namun berwarna lebih putih. Mienya besar (seperti Mie Aceh atau Mi Udon dari Jepang) yang di celor atau di celup-celupkan ke air panas. Tekstur kuahnya mirip dengan spagethi tapi lebih encer, karena kuahnya sendiri dibuat dari santan gurih dan kaldu ebi yang merupakan pengaruh dari budaya melayu. Salah satu tempat yang paling direkomendasikan adalah Mie Celor 26 Ilir, sebuah gerai kecil di deretan penjual pempek di Sentra kuliner Kampung Pempek 26 Ilir Palembang. 


Kemplang Iwak

Kata Kemplang berasal dari dialek Melayu di daerah Sumatera Selatan yang berarti dipukul. Apanya yang dipukul? Adonannya dong, masak orangnya πŸ˜‚. Menurut saya, Kemplang itu awalnya adalah penamaan untuk Kemplang yang dipanggang saja. Karena sewaktu kecil, saya sering melihat pembuatannya di rumah-rumah tetangga yang memproduksi Kemplang Panggang.

Setelah dipipihkan, adonan yang dominan berbahan sagu itu lalu dipukul hingga rata, kemudian di kukus dan di jemur. Begitu juga prosesnya ketika dipanggang, dipukul-pukul agar bentuknya tidak melengkung. Berbeda dengan Kemplang yang digoreng, pertama-tama adonan mentah dibentuk seperti pempek lenjer, dikukus baru kemudian diiris tipis-tipis (tidak dipukul), lalu dijemur.

Sebenernya toko kemplang di Palembang itu banyak banget ampe bejibun, dari kualitas paling minimum hingga premium. Namun ada satu tempat, yang berulang kali saya datangi karena rasa dan teksturnya yang enak. Tokonya terletak di Jl. KH. Ahmad Dahlan di belakang Indomaret, namanya Toko Kemplang Dikita, tidak jauh dari Taman Kambang Iwak Palembang. Kemplangnya sendiri terbuat dari Ikan Tenggiri, jadi bagi yang alergi dengan ikan laut bisa mencari alternatif kemplang ikan gabus ke toko-toko lain disini.


Maksuba

Disini, Maksuba biasanya selalu hadir di Hari Raya, di sebuah Event atau untuk Hantaran Pernikahan. Rasanya yang manis dan bahannya yang berlemak karena terdiri dari telur bebek, gula, mentega dan kental manis kaleng, membuat orang yang mencicipi was-was untuk makan lebih dari sepotong, kalorinya tinggi eui. Meskipun setelah mencoba sekali, ternyata malah jadi ketagihan. Akhirnya nyomot lagi, lagi dan lagi πŸ˜‚ (itu mah saya, yak).

Untuk yang mainnya kurang jauh seperti saya, (berdasarkan kenangan) Maksuba terenak itu adalah buatan Ibu pastinya πŸ˜‚. Eh tapi, ada juga kok beberapa tamu yang bilang kalo buatan Ibu yang terenak, karena bahannya agak unik dibandingkan Maksuba biasa. Teksturnya itu lebih halus, padat, lembut dan lembab. Kalo orang laen kuenya berwarna kuning kecoklatan, Ibu mah beda, kuenya berwarna Pink! Sekalipun belum pernah saya temui Maksuba dengan rasa dan warna seperti itu di toko atau di rumah orang lain saat bersilahturahmi, kecuali di dusun Ortu. Tapi walopun berbeda, ternyata rasanya itu enaaak banget dan harum sangat. πŸ˜‚

Pada zaman dahulu, untuk menilai seorang perempuan Palembang apakah sudah pantas dipersunting menjadi istri, dia harus bisa memasak bahan mentah kiriman dari calon mertuanya untuk dibuat menjadi kue Maksuba. Kalo dia bisa, berarti sudah layak untuk menjadi seorang istri.

Pantas saja hanya Maksubanya yang enak tapi kue yang lainnya gak *eh πŸ˜… (maksudnya kue bikinannya yang laen gak seenak kue Maksubanya) πŸ˜‚


Buah Duku

Sebagian orang mungkin mengenal Duku yang manis dan berkulit tipis itu adalah Duku Palembang, namun Duku yang tersebar sampai seantero Indonesia itu sebenarnya berasal dari daerah Ogan dan Komering, yang wilayah perkebunan rakyatnya ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ulu Selatan bukan dari Ibu kotanya. Karena di Palembang sendiri tidak ada tanaman Duku. Kalopun ada tapi tidak subur bahkan tidak berbuah, karena unsur tanahnya tidak cocok.

Duku adalah salah satu buah lokal musiman terpopuler yang paling digemari disini (selain Durian Komering). Karena daerah penghasil buahnya masih berada di ruang lingkup daerah Sumatera Selatan. 

Untuk Duku Komering, setelah panen biasanya langsung di distribusikan ke luar kota hingga melanglang buana ke seluruh Indonesia. Di ibukotanya sendiri terkadang malah tidak kebagian, kalopun ada mungkin hanya sisa-sisa dari Duku Komering yang sudah dipilih sebelumnya.

Teringat waktu kecil, dulu Bapak punya seorang Paman jauh, yang berasal dari Komering. Beliau sudah sangat berumur, agak pikun dan pendengarannya pun sudah banyak berkurang. Tapi hebatnya, setiap tahun dia selalu ingat jalan kesini. Karena kami tidak pernah merasakan pernah punya kakek nenek paman dan bibi, dari Orangtua (kedua Orangtua saya anak yatim piatu). Kehadirannya ke Palembang sungguh membuat kami senang, karena beliau selalu membawa sekarung Duku Komering dan beberapa buah lainnya sebagai buah tangan (bayangkanlah, di usia yang sudah sepuh harus membawa berkarung-karung buah dari tanah yang jauh). Aroma dan rasa Duku Komering yang khas itu selalu menjadi kenangan untuk saya dan juga mungkin untuk saudara-saudara saya. Terlebih disaat Ramadhan. πŸ₯Ί

22 Olahan Telur di Masa Pandemik

00:06 2
22 Olahan Telur di Masa Pandemik

Lumayan kaget, waktu dapet kembalian 2 ribu perak setelah belanja telur, gula sekilo sama sawi 2 ons pake duit 50 ribu, Ckckck.. Padahal, duit segitu mah biasanya, (cukup gak cukup) masih bisa buat beli sarapan sama bahan lauk pauk untuk satu hari. Tapi tadi, saya dengar dari sumber terpercaya (bukan gosip ala warung sayur) πŸ˜‚memang ada beberapa oknum yang mulai menimbun berpeti-peti telur untuk dijual lagi dengan harga lebih mahal. Setelah kelangkaan masker, hand sanitizer serta melonjaknya harga gula yang mencapai harga 20 ribu/kg (padahal disini ada pabrik yang memproduksi gula lokal) dan juga harga-harga bahan pangan laen.

Sepertinya kita (emak-emak) harus terus berjuang muter otak, demi kelangsungan hidup beberapa orang yang lagi ngendon di rumah selama beberapa minggu ke depan. Apalagi harus menuruti selera makan mereka yang (Picky Eater), Si tukang pilih-pilih makanan. Padahal kan sekarang ini, sangat dianjurkan untuk makan dengan gizi seimbang demi meningkatkan imunitas tubuh. Herannya di sini, kok yah selera makannya variatif banget yak (tapi sayur ogah), sampe emaknya harus mengolah bahan yang sama menjadi makanan yang berbeda. Kalo lagi banyak duit mah enak, tinggal beli aja bahannya gampang. Nah kalo keuangan terbatas seperti situasi sekarang ini. Emang sih emaknya jadi kreatif dan dapurnya ngebul tiap hari, tapi otaknya, pasti ikutan berasep juga pastinyaπŸ˜…. Lah wong, biasanya lebih sering beli kalo gak sempet masak. Mo cemilan, tinggal ke warung, kan banyak tuh disini. 

Saking 'muaknya' masak telur tiap hari (orang-orang serumah mah tetep aja doyan). Dontnowailah.. Mungkin, karena dulu pas baru merit sama suami, semuaaanya doyan makan telur. Tapi saya, karena emang waktu kecil, telur itu biasanya dibeli untuk lauk kalo ibu saya udah kepentok, gak tau mau masak apalagi (ceritanya lagi males masak). Nah, sementara selera makan ortu saya itu, ikan-ikanan dan seafood, seirit-iritnya yah ikan asin ato lauk garem. Jaraaaang sekali mengkonsumsi telur ayam, kecuali kalo pas masak mie instant doang. Itupun anak-anaknya jarang kebagian pake telur. Padahal justru saat itulah kehadiran telur itu begitu sangat istimewa. Rasanya beda kalo indomie disajikan pake telur, karena pasti jadi lebih banyak dan lebih kenyang, yak. Trus tampilannya, diharapkan juga bisa mirip seperti saran penyajian yang tergambar dibungkusnya, (ngarep doang). Karena ternyata, volumenya emang gak seindah realita yang ada. πŸ˜…

Meskipun begitu, telur tetep selalu menjadi salah satu makanan paling wajib sejak menikah. Entah dari jaman batu, pokoknya harus ada telur. Karena dapetnya gampang, masaknya gampang apalagi makannya (tapi itu, kalo cuma direbus, ceplok atau didadar aja) πŸ˜…. Dan lagi, karena telur memiliki kandungan protein tertinggi diantara yang lainnya dan juga mengandung nutrisi yang penting untuk kesehatan, seperti kalium, sodium, magnesium, dan kalsium terutama pada putih telur. Jadi lumayanlah, murah dan bergizi, yak.

Bermacam-macam resep telur yang pernah saya baca di majalah dan di internet, tapi yang saya praktekin tidak banyak juga ternyata πŸ˜‚yang sesuai selera aja sih sebenere, biar gak eneg lagi makan telur. Kalo harus nurutin seleranya orang-orang tapi saya gak mau, yah percuma juga. Feelnya pasti gak dapet, trus masaknya jadi ogah-ogahan. Rasanya juga pasti yah, ala kadarnya πŸ˜….

Berikut, 22 Olahan telur yang pernah saya praktekin. Buat yang doyan telur, boleh dicoba πŸ˜‚.

1. Dadar Garing
Ini adalah resep andalan pertama kali yang saya pelajari setelah menikah. Dimana sebutir telur itu dikocok hingga berbusa kayak bikin kue bolu, dikasih garem kemudian digoreng di minyak banyak dan panas lalu dimasak hingga kriuk-kriuk. 

2. Dadar Tomat Cabe
Resep ini adalah warisan Ortu yang hadir di masa panceklik yang sekalipun gak pernah saya praktekin, kecuali setelah menikah. Karena saya cuma teringat resep ini, waktu mertua nanya bisa masak telor apa aja selaen telur rebus πŸ˜…. Bahannya telor, bawang merah, bawang putih, tomat sebiji, cabe merah, diiris iris semua, kasih garem doang, aduk rata trus di goreng. Makannya sama nasi putih doang kerasa enak banget "saat itu" πŸ˜‚.

3. Orak-arik Kecap
Terinspirasi karena ngeliatin ponakan doyan banget makan ini sama nasi tiap hari. Awal-awal saya cuma sering masakin aja gak sampe nyicip. Tapi kapan hari sering kepepet gak sempet masak, mo beli makan jauh, anak bayi gak bisa ditinggal. Akhirnya, wow kok enak yah, apalagi makannya pake nasi anget yang dicampur kecap manis. (Perasaan orang laper aja kali yah πŸ˜‚). Cara masaknya itu gampang. Telur diorak-arik tanpa minyak tapi kasih sedikit mentega biar wangi, di teflon campur dengan kecap manis sedikit, setelah mateng, tarok diatas nasi trus tuangin kecap manis lagi agak banyak. Aduk.

4. Telur Kari
Telur yang sudah direbus, ditusuk tusuk pake garpu (biar gak meletus) kemudian di goreng, setelah agak garing dicemplungin ke kuah kari ayam. Gampang banget kan πŸ˜…, cuma bikin kuahnya yang kurang praktis. Tapi gak masalah juga sekarang kan banyak bumbu kemasan, yak. Nah, kuah kari ini boleh dibikin banyak, biar besoknya bisa bikin martabak telur buat sarapan. Telur lagi, telur lagi.. πŸ˜‚

5. Martabak Telur
Jangan ngebayangin saya bikin martabak seperti abang-abang itu yah, noup. Susaaaah, bikin kayak begitu, musti dimelarin, lempar sana sini. Belum prosesnya yang lama, keburu laper duluan ini mah πŸ˜…. Saya mah praktis aja bikinnya, tepung aja di dadar tipis-tipis di teflon trus masukin telor, abis itu dilipet, pindahin ke wajan yang banyak minyak, trus digoreng sampe garing luarnya. Jadilah martabak imitasi yang rasanya mirip banget.

6. Roti Tawar Krispi isi Telur
Kemaren beli roti tawar ke minimarket, untuk stok beberapa hari, tapi sepertinya udah pada bosen makan roti yang dioles mentega dan susu lalu ditaburin meses, kemudian dipanggang. Jadi, karena dipastikan pada doyan sama telur. Akhirnya, roti tawar itu dipotong segitiga, diisi sama telur yang sudah didadar tebel (isinya telur doang tapi banyak, terus rotinya dicelupin di adonan tepung krispi, abis ituh langsung digoreng di minyak banyak biar menyatu. Jangan tanya gimana, selera anak-anak banget itu mah, apalagi pake dicolek-colek sama sambel, beuh. Berasa makan ayam goreng krispi aja dah. Meskipun yang ini ada tambahan, namanya jadi Telur Ayam krispi.

7. Telur Dadar Krispi (geprek)
Resepnya simpel. Sesuai namanya, telor cuman didadar tapi tepung krispinya dibanyakin biar tebel dan kriuk-kriuknya melimpah ruah, karena ada juga yang doyan makan tepungnya aja tapi isinya dicuekin.

8. Nugget telur
Alih-alih sayur, akhirnya saya bikin bakwan (biar pada mau makan sayur, meski terselubung). Sejak #dirumahaja, eh, saya kebablasan, karena ternyata bikinnya hampir tiap hariπŸ˜‚. Itu baru ketauan karena ada yang protes, kalo gak, yah cuek aja teruus wkwkwk..

Akhirnya karena banyak stok sayur, semuanya saya cincang kecil-kecil kemudian campur dengan telur yang sudah dikocok. Usahakan jumlah telurnya melimpah, biar adonan merekat sempurna setelah dikukus di loyang dan rasa sayurnya bisa ilang ketutupan rasa telur. Setelah itu, saya potong-potong kotak/stik, balurin tepung roti, trus simpen di kulkas, pas mo makan baru digoreng. Lumayan buat lauk seminggu.

9. Botok telur
Resepnya sama kayak botok biasa dicampur parutan kelapa trus dibungkus daun pisang dan dikukus, tapi saya banyakin telurnya, karena yah, emang gak ada bahan laen lagi yang bisa dimasukkin. πŸ˜‚

10. Telur kukus
Telur dikocok aja kasih garem ato kaldu bubuk, abis ituh saya kukus (lumayan, makanan untuk diet tanpa minyak) buat cemilan penambah protein.

11. Pempek telur
Pempek disini maksudnya Pempek dos isi telur, karena lebih praktis. Kalo mo pake ikan juga boleh, tapi berhubung biayanya bakal "menggendut", jadi pake sagu aja dulu, yak. Di adonannya saya kasih telur juga biar teksturnya lebih manteb. Pas pempeknya dibentuk, saya bikin tipis, dan isi telurnya melimpah, biar puaaaassss.. πŸ˜†

12. Telur sambo
Ada yang pernah denger telur ini? Ini adalah telur dadar yang suka dijual di rumah makan padang ituloh. Telurnya tebal sekali dan aroma rempahnya sangat khas. Dulu resep telur ini sempet populer di internet, karena disertai tips dan trik gimana menggorengnya, biar hasilnya tebal dan enak. Bahannya pun terbilang simple, telur, bawang merah, cabe merah dan garam. Hanya saja teknik menggoreng yang harus diperhatikan dan peralatan wajan yang berbentuk sangat cekung agar hasil telur bisa kelihatan tebal maksimal.

13. Telur gulung ala Jepun (Tamagoyaki)
Karena kemaren dulu pengen makan telur yang tebel tapi gak punya wajan kecil cekung, alhasil nemulah cara bikin telur dadar ala jepang yang teksturnya sebelas duabelaslah kayak telur gulung ala korea (gyeran mari) dan masih bisa dimasak di teflon bulat (yang penting tebel yekan).

14. Sambal goreng telur
Aslinya, sambal ini adalah sambal goreng ati buncis. Karena udah ada yang jual bumbu basahnya disini (bisa dibekukan untuk nyetok), tapi males ngebersihin ati, ampela dan buncis (sebenere karena telur emang lebih murah) jadi cukup telur rebus, terus digoreng sampe kulitnya agak coklat baru dimasukkin ke bumbu basah yang udah ditumis dan dikasih santan, biar ada kuahnya. Udah, manteb itu mah.

15. Sate telur puyuh
Konon katanya, anak-anak kecil yang sedang berada di masa pertumbuhan boleh mengkonsumsi 5 butir telur puyuh perhari (konsumsinya dibatasi untuk orang dewasa karena mengandung kolesterol tinggi). Demi tumbuh kembangnya dan biar gak minta jajan terus, akhirnya diputuskan bikin sate dari telur puyuh rebus, telurnya dikupas lalu disusun seperti sate, terus dicemilin. Gitu doang πŸ˜‚ kalo pengen dicocol saos kacang silahkan (kalo ada).

16. Bola-bola Telur Puyuh balut Tepung Jagung (namanya lupa)
Dulu pernah nemu resep ini di sebuah tabloid masak memasak, bahan-bahannya seabrek tapi rasanya bolehlah. Adonan kulitnya dari jagung dan udang yang sudah ditumbuk dan dicampur bawang-bawangan halus, ketumbar, terigu serta tepung maizena. Mirip adonan perkedel tapi bisa dibulat-bulatkan dan diisi telur puyuh, kemudian di goreng.

17. Telur ceplok kuah Soto
Telur diceplok masukkin ke kuah soto, jadi deh. Tapi sebelumnya, kuahnya dibikin dulu, ato mungkin masih ada yang kemaren, sisa beli dari warteg. 😁

18Telur ceplok kuah Semur
Caranya sama kayak telur ceplok kuah soto, tapi kuahnya pake Kuah Semur Ayam atau Semur Daging. (bisa bikin, beli atau memanfaatkan sisa lauk kemarin)

19. Telur malbi
Telur rebus, digoreng sampe berkulit dimasukkin ke bumbu malbi. Ada yang jual bumbu basahnya juga disini, jadi tinggal ditumis trus dikasih kecap, masukin telur taburin bawang goreng.

20. Telur Bacem
Sekalian pas mo masak tempe bacem, masukkan juga telur yang udah direbus. Lumayan kan, bisa nambahin stok lauk.

21. Pempek lenggang
Gak perlu pempek yang mahal, cukup pempek dos ato cireng, cilok dan sejenisnya, dipotong kecil-kecil dimasukkin ke kocokan telur, terus di dadar di teflon, dimakan pake cuko pempek. Kenyang πŸ˜…

22. Orak arik kuah pindang
Karena waktu itu sempet kehabisan minyak goreng, tapi males makan telur rebus. Liat di panci, masih ada sisa kuah pindang tulang kemaren. Akhirnya beberapa butir telur yang sudah dikocok saya cemplungin, ke sisa kuah pindang yang mendidih terus di aduk-aduk kayak bikin telor orak arik. Dan ternyata, rasanya jadi lebih enak πŸ˜‚. 

Ya, sutralah. Segini dulu aja, ini juga kayaknya udah kebanyakan. πŸ˜‚

Semoga yang membaca terinspirasi, terutama di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Mo nyetok susah, eh barangnya juga gak ada karena langkah. Pas mo belanja, eh ternyata duitnya juga gak ada (kan puyeng)πŸ˜‚  

Mengkonsumsi telur itu lumayan ngirit bagi yang punya duit (kalo gak punya duit, apa juga yang musti diiritin, yak πŸ˜…) dan lumayan praktis buat yang gak mau ribet, bersihin ikan, ayam, udang dan lauk-lauk sejenis lainnya ato malah emang sukanya cuma sama telur. Dan semoga, gak tambah eneg setelah kebanyakan praktek masak telur, yak. πŸ˜‚ 

Kalo ada yang ingin menambahkan, boleh 😁 dipesilahken.

MSG dari Sudut Pandang Sains

23:09 0
MSG dari Sudut Pandang Sains

Sebagai seorang Emak-emak atau orang yang kerjanya berkutat di seputar dapur, mungkin hampir nggak ada yang nggak tau dengan yang namanya MSG, Penyedap Rasa, atau yang nama bekennya Micin itu yah?. (ya iyalah, udah ada dari jaman nenek gue kali). :p

Kali ini saya pengen nyatet informasi tentang Sejarah MSG dari sudut pandang Sains yang ditulis oleh Robert L. Wolke. (Buat saya ini bagus untuk menambah wawasan dan nambah-nambahin ilmu sekecil apapun bentuknya... :D)

Dan inilah beberapa hal yang tercantum di dalam buku yang berjudul "Kalo Einstein Jadi Koki"


Sebenernya apa sih MSG itu?
Benarkah bahan ini mampu meningkatkan citarasa?
Apakah kelezatan yang dihasilkannya hanyalah sebuah kebetulan?

Adalah hal yang agak misterius ketika kristal putih lembut yang satu ini tidak memiliki keistimewaan rasa, tapi mampu membuat bermacam-macam masakan terasa lebih enak.

Nah, ternyata misterinya bukan terletak pada Apakah MSG sukses sodara-sodara, karena hal itu memang tidak perlu diragukan, melainkan bagaimana cara kerjanya . Seperti dalam kasus yang terkait dengan "kebiasaan lama". Ternyata kurangnya pemahaman ilmiah tidak menghentikan orang dari menikmati manfaat MSG selama lebih dari dua ribu tahun.

Apa yang membuat reputasi MSG untuk meningkatkan citarasa begitu sulit ditelan sehingga terrminologinya menjadi agak keliru?

Penyedap citarasa sesungguhnya tidak menyedapkan citarasa makanan, dalam arti tidak membuat makanan tidak enak menjadi lezat. Yang mereka kerjakan sesungguhnya adalah mengintensifkan, atau menguatkan citarasa tertentu yang sudah ada. Industri makanan olahan lebih suka menyebutnya potensiator sedangkan penulis menyebutnya penguat citarasa.

Dalam hal ini, penulis merasa perlu membahas debat tentang pengaruhnya terhadap orang-orang yang peka. Setiap orang pernah mendengar Chinese Restaurant Syndrome atau CRS, label sial dan secara politik tidak benar, yang diberikan pada tahun 1968 untuk bermacam-macam gejala, termasuk sakit kepala dan rasa terbakar, sebagaimana dilaporkan beberapa orang setelah mengonsumsi makanan tertentu. Biang keladi di balik CRS tampaknya adalah MSG, yakni kependekan nama kimianya, Monosodium Glutamat. Maka, itulah awal terjadinya perang selama tiga puluh tahun terhadap keamanan bahan yang satu ini.

Di salah satu kubu, ada National Organization Mobilized to Stop Glutamate, dengan solusi jelas sesuai dengan akronimnya. Menurut NOMSG, glutamat dalam berbagai penyamaran mereka (Iihat bawah) bertanggung jawab atas sekurangnya dua puluh tiga keluhan, dari hidung yang terus mengucur, penebalan kantung di bawah mata hingga serangan panik dan kelumpuhan parsial.

Di tiga kubu yang lain, sesuai dugaan, adalah pabrik-pabrik makanan olahan, yang menemukan MSG dan senyawa-senyawa sejenis luar biasa berharga dalam meningkatkan daya tarik konsumen terhadap produk-produk mereka.

Wasit resmi dalam hal ini adalah FDA, yang setelah bertahun-tahun mengevaluasi data, tetap yakin bahwa "MSG dan bahan-bahan terkait adalah bahan makanan yang aman bagi kebanyakan orang apabila dikonsumsi dalam jumlah wajar." Yang sulitnya, semua orang tidak sama dengan "kebanyakan orang" dan FDA masih kerepotan meregulasi pelabelan makanan mengandung glutamat supaya menjadi paling bermanfaat bagi semua konsumen.

Monosodium glutamat pertama kali diisolasi dari ganggang laut kombu oleh ilmuwan kimia Jepang di tahun 1908. Orang Jepang menyebutnya Aji-no-moto, yang berarti "Intisari Rasa" atau "Pusat Citarasa." Kini, 200.000 ton MSG murni diproduksi setiap tahun di lima belas negara. Bumbu masak ini dijual per mobil ke pabrik-pabrik makanan olahan dan dalam kemasan-kemasan kecil kepada konsumen.

Monosodium glutamat atau mononatrium glutamat adalah garam dari asam glutamat, salah satu asam amino paling lazim yang ikut membentuk protein. Sifatnya yang menyedapkan rasa tersembunyi di bagian glutamat pada molekulnya, maka senyawa apa pun dapat digunakan untuk membebaskan glutamat akan sama-sama berhasil. Versi monosodium pada hakikatnya merupakan bentuk glutamat dengan konsentrasi paling tinggi dan mudah ditangani.

Keju parmesan, tomat, cendawan, dan ganggang laut adalab sumber glutamat bebas yang berlimpah. ltu sebabnya sedikit saja pemakaian bahan ini dapat meningkatkan citarasa sebuah menu. Orang Jepang mempunyai tradisi memanfaatkan glutamat dalam ganggang laut untuk membuat sup-sup yang lezat.

Indera pengecap kita bekerja melalui beberapa reaksi kimia dan fisiologis yang rumit sekali. Bagaimana tepatnya glutamat beraksi sulit dijabarkan. Akan tetapi ada beberapa gagasan yang dianggap dapat diterima.

Orang sudah tahu bahwa molekul-molekul dengan citarasa tertentu melekat ke reseptor dalam sistem pengecap kita dengan lama yang berbeda-beda sebelum terlepas kembali. Maka salah satu kemungkinan dalam hal ini adalah glutamat berfungsi memastikan agar molekul-molekul tertentu bisa melekat lebih lama, dan karena itu memberi rasa lebih kuat. Begitu pula, tidak mustahil glutamat mempunyai seperangkat reseptor mereka sendiri, terpisah dari reseptor-reseptor untuk empat kelompok rasa yang sudah kita kenal yaitu manis, asam, asin, dan pahit. Yang menjadikan lebih rumit, ternyata hanya beberapa zat selain glutamat memiliki kemampuan "meningkatkan citarasa."

Orang Jepang sudah lama menemukan sebuah kata untuk menggambarkan efek unik glutamat dalam ganggang laut pada rasa, Umami. Kini, Umami diakui untuk sekelompok rasa terpisah yang dipicu oleh glutamat, sama seperti kelompok rasa manis yang dipicu oleh gula, aspartam, dan keluarga sakarin, mereka.

Banyak protein mengandung asam glutamat, yang dapat diuraikan menjadi glutamat-glutamat bebas dengan beberapa cara, termasuk fermentasi bakteri dan pencernaan kita sendiri. (Ada sekitar dua kilogram glutamat dalam protein tubuh manusia.) Reaksi penguraian kimiawi ini disebut hidrolisis, maka setiap kali kita melihat tulisan "hydrolized protein" atas apa pun seperti sayuran, kacang polong, atau ragi-pada label makanan, bahan tersebut mungkin mengandung glutamat bebas. Protein terhidrolisis paling banyak digunakan sebagai penyedap rasa dalam makanan olahan.

Meskipun sebuah produk makanan mungkin tidak mengandung MSG seperti di atas, bahkan mencantumkan 'Tanpa MSG" pada labelnya, produk tersebut boleh jadi mengandung glutamat-glutamat yang lain. Maka, jika ada kecurigaan bahwa Anda termasuk segelintir orang yang hipersensitif terhadap glutamat, perhatikan juga eufemisme ini pada label-label, sup, sayuran, dan cemilan: seperti hydrolyzed vegetable protein, autolysed yeast protein, yeast extract, yeast nutrient, dan natural flavor atau natural flavoring.

Apa yang disebut "natural flavor"? ltu sebutan untuk zat yang diambil dari sesuatu di alam, alih-alih dibuat dari nol di laboratorium atau pabrik. Agar berhak disebut "alami," bumbu penyedap ini tidak perlu pusing soal kompleksitas kimiawi atau prosesnya yang luar biasa pelik sampai menjadi suatu zat yang rersendiri. Yang penting prosesnya dimulai tanpa sentuhan tangan manusia.

Seperti dinyatakan dalam The U.S. Code of Federal Regulations 10 1. 22(a)(3 ): "lstilah natural flavor atau natural flavoring diberikan untuk minyak esensial, oleoresin, esens atau ekstraktif, protein hidrolisat, distilat, atau produk apa pun dari proses pemanggangan, pemanasan atau enzimolisis, yang mengandung unsur-unsur citarasa dari bahan rempah-rempah, buah-buahan atau air perasan buah-buahan, sayuran atau air perasan sayuran, ragi, daun, kulit pohon, kuntum bunga, akar, atau bahan lain dari tumbuhan yang dapat dimakan, daging, makanan laut, unggas, telur, produk susu, atau produk fermentasi, yang memiliki fungsi lebih sebagai penyedap alih-alih sumber gizi. Natural flavors meliputi esens atau ekstraktif alami yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan yang tercantum dalam Pasal-pasal 182.10, 182.20, 182.40, clan 182.50. serta bagian 184 bab tersebut, dan bahan-bahan yang tercantum dalam Pasal 172.510."

Pengen tau lebih banyak tentang bahan-bahan kimia lain yang sering kita pakai di dapur? Silahkan beli bukunya di Toko Buku terdekat.. :D


Resep Bakso Kenyal, Mulus, Padat, Elastis dan Sehat

01:47 3
Resep Bakso Kenyal, Mulus, Padat, Elastis dan Sehat

Ehem.. Sebagai seorang penikmat bakso (ngefans sih sebenere), saya kepengen banget bisa bikin bakso sendiri. Tapi yah itu, kalo bisa yang bebas bahan kimia alias non MSG dan tanpa "bahan tambahan" (seperti pengenyal yang dipakai beberapa abang bakso ituh). Kalo bisa, cukup diolah dengan trik dan strategi yang mumpuni, sehingga baksonya kenyal, mulus, padat dan elastis, secara alami dan enaklah pastinya. Selain irit (bikin sendiri kan lebih murah) tentunya juga sehat, dan bisa dikonsumsi untuk si kecil.

Nah, sebenernya saya udah lama nyimpen resep Bakso Home Made yang cara pengolahannya dibahas secara spesifik dan sangat membantu seorang pemula seperti saya :D. Tapi Resep tersebut baru saya coba sebulan yang lalu, karena sebelumnya masih riweuh dengan resep favorit yang satu lagi, apa itu? yah, apalagi kalo bukan pempek (lah, orang palembang tapi nggak bisa bikin pempek?) *tutup muka pake panci* :D.

Tapi sayang sungguh sayang.., saya masih belum ngedapetin resep pempek yang paling gres. Resep dan triknya masih standar, seperti kebanyakan resep yang bersliweran di internet (yang tanpa "bahan tambahan"). Kalo pengen tau resep yang standar itu kayak gimana, ntar deh... kapan-kapan saya posting resepnya yah. 

Karena hanya saya dan si kecil yang pengen ngebakso di rumah (suami mah lebih doyan Pempek), jadi saya hanya bikin setengah dari resep aslinya (baru belajar inih). Dan lagi, kalo bikin banyak buat nyetok, godaannya beraaat men... nggak nyampe dua hari bisa-bisa ntuh bakso langsung ludes, ntar gagal lagi dong dietnyaaa...

Oh ya, fyi.. resepnya sudah saya modif sedikit (sesuai stok di dapur) tapi sebagian besar langkah-langkahnya tetap mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditentukan dari Empunya Resep, saya mah manut wae.. :D

Okeh.. ini dia Resep membuat Bakso Ayam Kenyal, Mulus, Padat, Elastis dan Sehat  yang mau nggak mau telah saya jadiin simple dan seadanya :p. 

Step 1 
# 250 gram Daging ayam giling setengah beku, masukkan ke dalam wadah yang agak besar.
(bagi yang punya food processor, bisa di giling dengan es batu sampe halus banget. Kalo saya mah karena nggak punya, jadi langsung beli ayam yang sudah digiling aja :D. Oh ya, saya lebih suka bakso ayam, karena kalo daging sapi, rasanya kok kayak makan sarden kalengan yah?) :D

# 2-3 sdm air es, campur dengan garam, gula, lada, kaldu bubuk (optional) sesuai selera, aduk rata. Lalu tuang ke adonan daging ayam giling sedikit demi sedikit. Kemudian remas-remas adonan hingga merata. Bagusnya sih, make mikser biar tangan nggak kerasa beku saking dinginnya. Dengan begitu pencampuran juga jadi lebih maksimal dan teksturnya lebih mulus. Kecuali untuk resep saya yang bahannya cuma seiprit. Sing penting, nguleninnya aja yang agak dilamain (pake pengaduk biar jari-jarinya nggak menggigil).

Step 2
# Setelah kalis, masukan bawang goreng secukupnya. (Bawang goreng ini yang bikin bakso kerasa manis-manis gurih) Kalo bisa gunakan bawang merah yang digoreng dengan tepung (untuk mengurangi keasaman dari rasa bawangnya).

# 1-2 sdm sagu (masukan sedikit demi sedikit, uleni hingga rata).
Aslinya sih make tepung maizena. Di resep juga ditambahkan baking powder dan baking soda, tapi saya nggak pake, karena emang nggak nyetok dan biar kerasa lebih sehat :D

# Basahi tangan dengan air es, lalu banting-banting adonan hingga 10-11 kali agar alur seratnya kompak dan menyatu. (Ini yang paling penting, asal mbantinge jangan kelebihan aja biar teksturnya mulus dan nggak keras)

Step 3
# Rebus air hingga mendidih, lalu matikan.

# Olesi tangan dengan minyak goreng. Bentuk adonan bulat dengan memencet adonan beberapa kali, hingga didapat permukaan yang bulat dan mulus dengan tekstur yang kompak, padat serta tidak berongga.

# Ambil dengan sendok yang sudah dibasahi dengan air, masukkan ke dalam air rebusan.

# Setelah semua adonan bulat terendam, rebus dengan api kecil saja (agar baksonya kenyal) selama kurang lebih 30 menit atau hingga matang (setelah bakso mengapung, tunggu hingga 5-10 menit baru angkat dan tiriskan).

# Siapkan air dingin berisi es, lalu rendam bakso yang sudah matang hingga dingin. Tiriskan.

# Sisa air rebusan dipakai untuk kuah bakso.