uzegan: Relationships
Tampilkan postingan dengan label Relationships. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relationships. Tampilkan semua postingan

Perempuan dalam Diam

23:54 9
Perempuan dalam Diam

"Love Letter"

*Backsound :
10 : 54 PM.


Sudah lama saya tidak melihat Bu Dahlan. Biasanya setiap saya pulang dari warung atau pulang dari bepergian, Beliau sering duduk di teras pelataran depan pintu rumahnya. Kadang hanya ngaso, bermain dengan cucunya atau sedang menunggu anak-anaknya pulang kerja dan pulang sekolah.

Bu Dahlan selalu tersenyum dan selalu menyapa duluan setiap kali saya tak sengaja bertatap muka dengan beliau. Wajar bagi kami untuk saling bertegur sapa ketika pertama kali bertemu pandang, bukan.

Tapi satu hal menjadi berbeda ketika sebagian warga kampung yang sudah berumur, menjunjung tinggi prinsip bahwa yang muda yang harus menyapa, dan harus memperlakukan mereka selayaknya orang yang paling dihormati dan dituakan.

Namun tidak demikian dengan Bu Dahlan, tidak peduli siapapun, tua, muda, anak-anak, Beliau selalu menyapa duluan dan selalu memberikan senyum terbaiknya.

Bu Dahlan tidak pernah ngumpul-ngumpul. Beliau lebih suka di rumah daripada ngalor ngidul yang tidak penting dengan tetangga sekitar. Ngobrol dengan saya pun sangat jarang sekali dan tidak pernah lama. Hanya sesekali saat saya memerlukan ijin ketika hendak memasuki pekarangan belakang rumahnya untuk memperbaiki pagar dan hal-hal semacam itu.

Saya lebih banyak mengenal Bu Dahlan ketika mendengarnya sedang berbincang-bincang dengan anggota keluarga atau mendengar suaranya saat berinteraksi dengan anak atau cucunya yang baru lahir. Dialog-dialog penuh kehangatan yang selalu hadir menyentuh lembut gendang telinga, ketika mereka sedang berkegiatan di dapur atau di halaman belakang rumah.

Setiap kata yang di ucapkannya terkadang membuat saya berangan-angan. Seandainya beliau adalah Ibu saya atau saya bisa seperti beliau yang selalu bertutur halus dan lembut, penuh perhatian dan memiliki banyak rasa sabar menghadapi tingkah pola setiap anak, meskipun hidup bersama seorang suami pengangguran yang tak mau lagi bekerja berat, karena usia yang tak lagi muda.

Bu Dahlan dan suami hidup satu atap bersama anak-anak dan menantunya, di rumah yang tidak begitu besar dan masih setengah jadi karena sebagian dinding hanya ditambal dengan papan atau ditutup dengan triplek, dikarenakan tidak ada biaya lagi untuk memperbaiki rumah.

Sebagai tetangga terdekat, saya bisa ikut merasakan kedamaian dan ketenangan dari dalam rumahnya sejak saya pindah ke kampung ini sepuluh tahun yang lalu, sekalipun kesan tentang suaminya kurang begitu baik di mata saya karena tidak mau berusaha mencari nafkah dan lebih memilih hidup dari penghasilan anak-anaknya. Tapi itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa saya salut dengan sikap seorang perempuan bernama Bu Dahlan.

Tubuhnya yang langsing memberi kesan, bahwa dia bahagia dengan apa yang dia jalani. Di mata saya, beliau orang yang ceria, tidak pernah mengeluh. Selalu bersyukur meskipun hidup dengan begitu banyak kekurangan. Hingga pada akhirnya saya mencoba untuk lebih menghormati suami dari seorang perempuan yang diam-diam saya kagumi itu. Karena sesungguhnya tidak mudah juga bagi seorang suami untuk bisa membuat istrinya bisa bersikap seperti itu di tengah kesulitan hidup yang morat marit dari awal menikah hingga beranak cucu.

***

Kemarin, saya mencoba mengetuk pintu rumah Bu Dahlan, ingin bertanya apakah mau menerima sekantung Belimbing Wuluh yang baru saja saya panen dari pekarangan belakang rumah. Tapi ternyata beliau sedang tidak ada, hanya ada anak lelakinya yang terlihat dibalik jendela, sayapun undur diri. Saya rasa lebih elok kalo nanti saja saya berikan, agar bisa sekalian ngobrol-ngobrol dengan Beliau.

Namun tidak disangka, sore tadi saya mengetahui bahwa Bu Dahlan telah menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Menurut cerita anaknya, beliau ternyata mengidap penyakit paru-paru, Itulah sebabnya mengapa saya sering mendengarnya batuk-batuk menahun di beberapa pagi sebelumnya dan kenapa berat tubuhnya tidak bisa terus terusan bertambah seperti halnya ibu-ibu disini. Ibu-ibu yang kebanyakan lebih suka mengalihkan stress dengan makan, sering mengadakan acara ngumpul-ngumpul, jalan-jalan bareng atau bercengkerama dalam kegiatan-kegiatan arisan dan pengajian yang tidak lepas dari acara bersantap ria.

Satu hal tentang budaya Ibu-ibu yang kadang sering membuat saya cuma bisa menghela nafas. Yakni kebiasaan memendam. Kurang terbuka kepada pasangan untuk mencari pemecahan masalah. Lebih suka di simpan sendiri, dan menganggap bahwa jarang berkomunikasi dengan suami itu merupakan hal yang lumrah, karena seringnya tidak menemukan titik temu setiap kali hendak bertukar pikiran.

Meminta perhatian dari seorang suami yang tidak tau bagaimana caranya memberi kasih sayang yang semestinya kepada Istri, seolah menjadi hal tabuh dan membuat sungkan karena masih menganut budaya lama, tak ingin dianggap sebagai perempuan agresif. Mereka meratapi kemalangan diri, menelan sakit hati atau lebih memilih menyimpan masalah dalam diam, tanpa tau hal itu hanya akan merusak diri.

Meremehkan, bahwa umur yang kian menua tidak lagi penting untuk di romantisasi. Padahal itu adalah salah satu kebutuhan dasar yang diharapkan bisa didapat dari pasangan, ketika nilai-nilai kehidupan dunia sudah mulai perlahan memudar.

Sekalipun tanda-tanda kematian mulai mendekat, mereka masih saja terus mengusap luka dan menelan rasa pahit itu dengan seulas senyum, lalu kemudian membalutnya dalam wujud kesabaran. Kesabaran yang menjadi sebuah dalih karena tidak mau ambil pusing, akibat terlalu banyak menelan kekecewaan yang tidak pernah ditanggapi. Dan karena hanya suamilah, yang menjadi satu-satunya tempat dimana mereka bisa menggantungkan hidupnya selama ini.

Saya tidak tau apakah dibalik keceriaan dan kehangatan yang biasanya terdengar, Bu Dahlan sebenarnya memilih diam, ataukah karena diamnyalah yang menggerogoti hingga akhirnya berada di penghujung nyawa.

Namun bagaimanapun juga, apapun yang telah dilakukannya, telah membuat dirinya menjadi seorang Perempuan luar biasa, Perempuan yang semestinya layak mendapatkan penghargaan dan perlakuan lebih dari pasangan hidupnya.

Pada Sebuah Kepenatan

23:14 20
Pada Sebuah Kepenatan
Time Travel
*Backsound :
Ost. 5 Centimeters Per Second


Tampaknya orang-orang sudah teramat sangat penat dengan semua keadaan ini, tak terkecuali saya.

Dari mereka yang sekedar memposting foto bandara, cafe, gunung, pantai, sekolah, kampung halaman dan sejenisnya. Adalah rindu yang terus tertahan karena pandemi yang masih saja tak berkesudahan.

Kegemukan yang belakangan menjadi trend bukanlah wujud keinginan, melainkan hasil pe-luapan, bentuk dari sebuah kepenatan. Pun Si pemilih (picky eater) yang tak lagi bergaji, turut menanggalkan keegosentrisan demi hadirnya sesuap nasi.

Siapa sangka, gawai yang pernah digaungkan bisa berdampak buruk pada anak namun paling disenangi, ternyata menjadi bagian paling erat dalam hidupnya. Yakni bagian yang pada akhirnya tetap tidak luput dari rengkuhan rasa penat.

Hingga cinta yang biasanya jauh, lalu mendekat dan melahirkan bayi-bayi pandemi. Atau yang biasanya dekat lalu menjauh karena pertikaian atau kehilangan, entah itu pada pasangan, pekerjaan, harta benda, hingga kepada Tuhan.

Sesuatu yang jauh mendekat dan yang dekat akhirnya menjauh.

Sesuatu yang dulu tak diacuhkan, kini menjadi yang paling dicari.

Sesuatu yang dulu terasa berharga, sekarang tidak lagi berarti.

Ketika semua hal dilakukan secara daring, ketika semua tlah terbiasa, maka tibalah kita di titik jenuh. Titik dimana sebuah kepenatan menjadi terasa luar biasa. Kita terjebak, terhimpit dan tersudut tepat di depan tabir dunia nyata yang belum juga kunjung meluruh. Kita menjadi emosi, stress, depresi, bahkan melakukan kekerasan hingga berujung pada kematian.

Bukan main.

Semuanya tidak serta merta terjadi begitu saja. Kekecewaan-kekecewaan yang bersumber dari masalah yang belum dianggap pantas memenuhi pikiran, membuat abai Si Empunya jiwa. Kekecewaan itu tertanam di alam bawah sadar lalu kemudian menjelma menjadi bibit-bibit kepenatan. Bibit yang telah tumbuh jauh sebelum datangnya wabah. Bibit yang akhirnya bertunas menjadi lecutan emosi dan juga percikan amarah.

Kini bibit itu semakin membesar, dan dengan mudahnya menyala karena tersulut api pandemi yang tengah membara. Hingga begitu cepatnya membumihanguskan sekerat kesabaran.

Maka berbahagialah jika dianugerahi banyak pilihan, bisa menikmati hal-hal yang baik dan memiliki kemudahan untuk menjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun jika kita tidak memiliki keistimewaan itu, apa boleh buat. Kepenatan kali ini benar-benar terasa amat sangat berat dan teramat sulit untuk ditempuh. Dan semoga, kita diberi kekuatan dan kemudahan agar rasa penat ini bisa segera berlalu.

Ketek dan Wisata Air Sungai Musi

13:26 4
Ketek dan Wisata Air Sungai Musi
Jalur LRT di atas Jembatan Ampera

Setelah menahan diri untuk tidak jalan-jalan selama beberapa tahun (bukan hanya karena Covid tapi juga riweuh karena anak-anak masih bayi). Akhirnya pada sebuah kesempatan di bulan lalu, kami memutuskan untuk berwisata bersama semua anggota keluarga termasuk juga dengan para bocah-bocah di rumah. Karena lokasi tempat kami akan memulai touring, tentu saja jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah Mertua. πŸ˜‚

Berhubung rumah kediaman Mertua dekat dengan beberapa tempat objek wisata penting di kota saya. Maka wisata pertama yang kami lakukan adalah Touring atau Wisata Air mengitari keindahan Sungai Musi dari bawah Jembatan Ampera kemudian menuju bawah Jembatan Musi VI yang baru diresmikan tepat di awal tahun ini. Hingga ke Dermaga yang ada di Tanggo Buntung dengan menyewa perahu motor kecil atau Ketek. Kenapa disebut ketek? Karena ketika mesinnya dihidupkan, maka motornya akan berbunyi, ketek ketek ketek.. πŸ˜‚

Tarif yang ditawarkan untuk sewa perahu dan tukang kemudi per sekali perjalanan sebesar 65.000 rupiah saja. Boleh ditawar, tapi kasian. Karena sejak bertambahnya dua jembatan di Palembang yakni Jembatan Musi IV dan Jembatan Musi VI, pendapatan mereka menurun drastis dan hampir kehilangan mata pencaharian karena sudah jarang yang menyewa kecuali di hari-hari tertentu saja.


Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya πŸ˜‚
Entah sudah berapa puluh kali saya mendapati objek yang ngeblur di henpon karena perahunya seringkali oleng. Belum lagi karena tukang kemudinya gak pake setop apalagi mampir-mampir dulu ke warung kopi, alhasil jepret-jepretnya dilakukan dalam keadaan ngebut tingkat tinggi. Udahlah diterpa angin kencang, kena percikan air pula πŸ˜‚Dan untungnya, henpon yang terkena cipratan macam kesiram air bah saat itu bukan milik saya, tapi punya suami. πŸ˜‚πŸ˜…


10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah

07:13 66
10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah

Lebaran baru genap seminggu, saya terpaksa harus meminta maaf lagi. Tapi okehlah, gak papaaaa..

Mohon maaf yaaah, buat yang masih single πŸ€­. Tidak bermaksud menyindir atau membuat kalian merasa tersingkirkan dari postingan kali ini, πŸ˜‚tapi dipersilahkeun bagi yang ingin menabung informasi, demi kebahagiaan bersama pasangannya di masa depan, yah hihihi...  

Tulisan ini adalah based on true story dari sudut pandang perempuan sebagai anak atau istri, yang sempat tertangkap oleh mata dan terdengar oleh telinga saya dari beberapa kerabat dan kenalan. Bukan saja tentang tipikal suami dalam menafkahi pasangannya tapi bisa jadi dua-duanya ternyata ikut andil, dan harus bertanggung jawab terhadap masalah perekonomian yang terjadi dalam rumah tangga mereka. 

Berdasarkan data perceraian dari Mahkamah Agung, pada tahun 2015 hingga tahun 2018. Ada dua masalah utama yang paling banyak dihadapi oleh pasangan suami istri, yaitu perekonomian rumah tangga yang tidak berkesesuaian dan pertengkaran yang tidak ada habisnya. Karena tidak adanya keterbukaan dalam urusan finansial. 

Beberapa diantaranya adalah momok, yang terjadi karena pasangan secara tidak langsung menjiplak kebiasaan Orangtua. Dan semakin tak tergoyahkan karena sudah tertanam di benaknya sejak kecil. Sehingga sulit sekali keluar dari lembah hitam yang penuh dengan onak dan duri (aih, bahasanya). πŸ™„

Kecuali dengan perceraian sebagai jalan terakhir, atau memilih menggunakan komunikasi dua arah dan mau belajar untuk saling terbuka. Agar kedua pihak tidak merasa menjadi korban dan bisa lepas dari tekanan bathin, dikarenakan kesalahan dalam mengelola keuangan dan karena tidak bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk berkomunikasi secara efektif dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan pasangan sebelum menikah. Lalu kemudian bisa di kompromikan bersama pasangan.

Nah, berikut 10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah. Apa saja itu? Check this out

  1. Suami menyimpan gajinya sendiri untuk ditabung dan mempergunakan gaji istri untuk belanja dan kebutuhan keluarga.
  2. Suami berkuasa penuh dengan keuangan. Uang belanja diberikan perhari hanya setiap akan belanja saja.
  3. Suami hanya memberikan separuh gajinya, separuh lagi disimpan sendiri.
  4. Suami hanya mengutip 10-20 % gajinya untuk bensin dan lain-lain, sisanya diserahkan semua kepada istri. (Lovely)
  5. Suami memberikan gaji ala kadarnya, sisanya terserah istri, mau ngutang atau berusaha mencari tambahan sendiri. Whatever
  6. Suami tidak memberikan gajinya tapi marah-marah kalo tidak ada yang bisa dimakan di rumah. Insane
  7. Suami memberikan gajinya tapi kemudian terus menuntut istri untuk memiliki penghasilan sendiri agar tidak perlu meminta lagi ke suami. What?!
  8. Suami menyerahkan semua gajinya yang tak seberapa tapi diam saja ketika gajinya naik dan bonusnya lebih besar 2x lipat dari gajinya.
  9. Suami menyerahkan semua gajinya tetapi selalu punya uang setiap ingin membeli semua keinginannya. Nah loh??
  10. Suami menyerahkan seluruh gajinya kepada istri dan mempercayai untuk mengelolanya. (Terdebest)

Kepercayaan dalam rumah tangga itu penting banget, bukan hanya tentang istri yang mempercayai kesetiaan suami, bertanggung jawab untuk keluarga dan lain-lain. Suami juga seharusnya ikut andil untuk mempercayai istri dalam tugasnya mengelola keuangan rumah tangga. Jika tidak adanya komunikasi, maka akan berakibat buruk bagi kedua pihak terutama soal keuangan. 

Apalagi jika sudah memiliki anak, kadang partner hidup kita lebih mementingkan kebutuhan buah hati ketimbang pasangannya. Padahal itu adalah salah satu bentuk perhatian yang tidak boleh luput dari pandangan kita begitu saja. Kadang saking sayangnya ke anak, sampai lupa dengan kebutuhannya sendiri. Padahal pada kesempatan itulah kita bisa memanfaatkan ketrampilan kita untuk saling memberikan perhatian lebih ke pasangan, dengan memberikan kebutuhannya terlebih dahulu sebelum ke anak. 

Tapi kalo kita sibuk ngurusin pasangan, nanti anak jadi terlantar dong? Kan kasian. Perhatian itu gak harus yang wah kok, dengan bertanya apa yang sedang dibutuhkan pasangan atau adakah yang sedang diinginkannya, itu aja rasanya udah bikin nyess.

Nah, yang jadi pertanyaaanya sekarang adalah, pasanganmu termasuk tipikal yang seperti apa, apakah termasuk dalam kriteria di atas atau malah masuk dalam kriteria lain? Dengan kriteria tersebut apakah kamu bisa menerimanya dengan lapang dada? Menerimanya dengan sukacita karena sesuai dengan keinginanmu? Mencoba memakluminya? Atau malah tidak terima tapi diam saja?

Sudahkah kamu minum yakult berkomunikasi dengan pasanganmu hari ini ? πŸ˜…

For My Soulmate

06:20 22
For My Soulmate

Tenanglah kekasihku, kutau hatimu menangis.
Beranilah untuk percaya, semua ini pasti berlalu.
Meski tak kan mudah, namun kau tak kan sendiri, Ku ada disini...
Untukmu aku akan bertahan, dalam gelap takkan kutinggalkan.
Engkaulah teman sejati, kasihku di setiap hariku.
Untuk hatimu ku kan bertahan, sebentuk hati yang kunantikan.
Hanya kau dan aku yang tahu, arti cinta yang telah kita punya.
Beranilah dan percaya semua ini pasti berlalu.
Meski takkan mudah, namun kau takkan sendiri, Ku ada disini...
                                         ~oOo~


bentar, bentaaar... itu diambil dari lirik lagu yah, bukan tulisan saya. πŸ˜‚

Tapi karena saya masih tak sanggup harus berucap lewat suara  πŸ˜‚, jadi ditulis sajalah.

Sama saja seperti dulu, saat masih sering posting-posting puisi di jaman baheula tapi kurang penghayatan. (karena ngetiknya itu malah sambil denger lagu laen, semacam laruku atau kalau tidak ya greenday πŸ˜‚).

Ketika hari anniversary telah terlewati (gak kebagian kalender soalnya)πŸ˜‚.

Beginilah yang terjadi, ucapan tak ada, coklat apalagi. terlalu ruwet dengan banyak urusan yang terus menanti. πŸ˜ͺ

Dulu itu, pertama kalinya kami bertemu di sebuah acara bukber dan kopdar lebih dari 10 plus plus tahun yang lalu. (Meskipun bertahun sebelumnya, kami pernah berpas-pasan di sebuah acara perpisahan dan dia tidak ingat lagi).

Entah dengan dia, tapi saya adalah orang yang bertype pengingat wajah tapi tidak tau nama, jadi yang saya rasakan saat itu, adalah seolah bertemu dengan teman lama.

Ramadhan kali ini seharusnya menjadi moment paling penting, sebenernya, yak.

Dan tanggal 26 kemarin itu bertepatan di hari minggu. Yang mana setelah bertahun-tahun, akhirnya anniversary kami kembali berada di hari minggu, seperti di hari waktu kami menikah dulu. (acara nikah itu kan biasanya emang hari minggu, yak πŸ˜ͺ)

Dan sayangnya, moment kali ini terlupakan begitu saja. 😌

Entahlah. 

Mungkin, karena seiring usia dan kesibukan yang semakin bertambah ditengah virus yang mewabah, hal-hal seperti itu kurang menjadi prioritas lagi. (Padahal bagi saya dikasih kado itu tetep the most important) πŸ˜‚ karena biasanya belio yang ngasih kado. Saya mah hampir gak pernah, paling masak sesuatu yang di sukai seperti pempek misalnya (itu mah saya yang suka)πŸ˜‚.

Tapi ya sutralah.. saya pasang foto lamanya sajah. (gak nyangka, saya pernah nekat bikin yang beginianπŸ˜…, pekerjaan yang menghabiskan waktu berhari-hari dan telah membuat saya sangat abai dengan orang-orang sekitar).



Happy Anniversary, My Soulmate   

tanpa kata
tanpa bersuara
namun matamu, menunjukkan segalanya

diammu adalah lelah tak terungkap
bahwa cinta yang kauberi adalah yang terbanyak 
kepada kami, yang tak kan mampu membalasnya lebih indah

terima kasih
tlah kau beri hatimu, hidupmu 
untuk kami, 
untukku


Bukit, Midnight


Diiringi lirik pembuka :
Afghan - Untukmu aku akan bertahan  04:08

Ditutup dengan iringan lagu dari winamp :
Daniel Sahuleka - I Adore You  05:56
Glenn Lewis - Fall Again  04:19



Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

08:32 21
Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

"Kita mungkin dirumah terus, tapi ternyata duit gak mau ikut diem di rumah. Malah keluar terus." (Entah siapa yang bilang itu di Instagram kemaren, lupa saya).πŸ˜‚

Kita bisa berhemat untuk urusan transport, anak-anak gak minta jajan, stop jalan-jalan bahkan stop laper mata di mall sewaktu weekend. Tapi, sekalinya ngendon di rumah, eh jadinya malah pengen ngemil terus, yekan.

Kegiatan masak-memasak di rumah pun belum tentu juga bisa berhemat. Kadang, bahannya juga gak bisa dibeli sedikit ato malah bersisa banyak tapi hampir gak pernah dipake, jadi rusak, layu sampe kadaluarsa. Sedangkan kalo yang mateng masih bisa dibeli dengan porsi sedikit dan juga bermacam-macam, tanpa harus menghidangkan masakan rumah yang itu lagi, itu lagi. Lalu kemudian makanan yang udah gak 'fresh from the oven" itu pun terlupakan.

Yang begitu itu pasti bikin bosen dan ujung-ujungnya jadi males makan. Dipastikan, bakal tambah pusinglah emaknya (pengen irit malah jadi pailit)πŸ˜‚. Belum lagi biaya untuk menjaga imunitas yang perlu dioptimalkan seperti sekarang ini, alat kebersihan dan alat kesehatan termasuk obat-obatan yang harus di stok di luar kebiasaan, (karena orang-orang di rumah, semuanya lagi pada ngedrop) bikin keuangan membengkak, sebengkak-bengkaknya karena terinfeksi harga yang melonjak dengan sangat drastis. 

Demikian uneg-uneg saya, di minggu pagi yang cerah ini.  πŸ˜‚


Sejak diberlakukannya #stayathome, udah berasakah atmosfernya? Udah mulai gak betahkah? Pengen kesini, pengen kesitu? Pengen ngumpul, makan ini, makan itu? Pastinya udah ada yang nyampe level jenuh, suntuk, bosen, setengah bosen, kali yak. Atau, malah biasa aja, bahkan menikmati? Ada?

Jarum timbangan udah geser ke kanan blom? Skill memasaknya pasti udah pada naek level, yak. Buat yang suka film atawa drama, udah mecahin rekor berapa biji nontonnya? Eh, kuota juga. Udah abis berapa giga tuh? (Kok ini kayak nanya diri sendiri, yak). πŸ˜…

Salah satu hal penting yang akan saya bahas disini adalah semoga dibukakannya, mata hati mereka-mereka yang tidak tau atau malah tidak peduli tentang segala keruwetan yang ada di dalam pikiran para ibu rumah tangga (yang jarang bersosialisasi dan ibu yang mendedikasikan waktunya selama 24 jam untuk mengurus keluarga). Semoga mereka bisa menyadari bagaimana suntuknya tidak bisa kemana-mana ketika ruang gerak dibatasi, seperti yang terjadi pada setiap orang di masa pandemi seperti sekarang. 

Karena begitulah yang seorang Ibu rasakan, #stayathome bukan dalam hitungan minggu atau bulan saja, tapi tahunan. Berjibaku di dalam rumah, menghadapi segala keruwetan tak berujung, setiap hari dan berulang-ulang. Pengen kemana-mana gak bisa, apalagi mo ngapa-ngapain dikarenakan anak-anak yang masih pada kecil, atau malah karena para abegeh yang belum mandiri meski udah beranjak dewasa. 

Ditambah lagi dengan adanya wabah, bukan hanya keriweuhan saja yang semakin bertambah karena harus mendahulukan seabrek kewajiban. Tapi juga butuh tenaga ekstra untuk menjaga kebersihan, kesehatan keluarga, mengatur pola makan agar semua anggota keluarga bisa tetap sehat dan terjaga nutrisinya. Walaupun keuangan kadang morat-marit, yang paling penting anak-anak tidak menderita kelaparan.

Kendatipun demikian, dengan adanya wabah ini setidaknya ada hikmah yang bisa kita ambil. Beban pikiran seorang Ibu akan menjadi terasa lebih ringan, karena anggota keluarga sudah dengan sendirinya menyadari, dan mulai terbiasa untuk menjaga kebersihan, kesehatan serta pola makan. Tidak lagi harus diingetin terus, sampe harus diomelin berkali-kali, nurut tapi setelah itu males lagi, lupa lagi. Karena kadang anak lebih suka ngedengerin omongan orang lain, ketimbang Orangtuanya sendiri. (Mungkin karena sering diomelin, yak). πŸ˜‚

Efek samping dari stress dan keruwetan seorang Ibu itu biasanya akan berujung menjadi kegemukan atau overweight hingga obesitas. Karena apa? Yah itu, bisa jadi salah satunya karena kelamaan di rumah, gak bisa kemana-mana jadi bingung mo ngapain lantas jadi mageran, tapi pengen juga melakukan sesuatu biar gak ngerasa jenuh dan cepat bosan meskipun kegiatannya hanya dilakukan di rumah. Karena sayang juga kan, membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Nah, biasanya yang paling gampang itu, yah dengan menyelami apa yang menjadi aktifitasnya sehari-hari. Dari yang paling terdekat saja, misalnya makanan. Makanan dengan mudah bisa diakses, entah dari kulkas atau stok makanan yang ada di lemari. Kalopun gak ada semua, dengan bahan-bahan seadanya dan alat memasak yang tersedia, bukan tidak mungkin seorang ibu jadi semakin kreatif demi sebuah camilan.  Jika udah bener-bener gak ada lagi bahan untuk dimasak (zonk) dan gak bisa keluar untuk belanja, tinggal pesen makanan secara online aja, beres toh. πŸ˜‚

Tuh kan, ampe dibikin gak ada lagi aral merintang di dunia emak-emak, gegara soal fasilitas permakanan ini, yekan. Blom lagi foto-foto atau resep makanan yang banyak bersliweran di internet. Obsesi tentang makanan pun semakin membara jadinya, yak. πŸ˜‚

Makan menjadi hal yang membuat ketagihan dan tak jarang seorang Ibu rumah tangga mengabaikan efeknya. Kenapa? karena ternyata bisa menggantikan banyak kebahagiaan yang tidak dia dapatkan setelah menikah. 

Dulu banget, pernah saya bahas sedikit tentang ini, dari bukunya John Gray, P.hD. Bahwa makan merupakan Salah satu pembunuh rasa sakit para Istri.

Sedikit banyak isi bukunya seperti ini :

"Makan merupakan sebuah pengganti yang mudah untuk cinta. Semakin dia banyak makan, untuk sementara waktu dia dapat menekan perasaan-perasaan tidak aman yang menyakitkan yang muncul dari sisi kewanitaannya. Sampai dia menemukan suatu cara untuk memuaskan dan secara langsung memupuk sisi kewanitaannya secara teratur, dia akan terus menggunakan makanan sebagai pembunuh rasa sakit. 

Dengan mematirasakan perasaan-perasaan itu, kemampuannya untuk bercinta diteduhkan, dan menemukan kelegaan. Kecenderungan ini disebut sebuah “Penggantian kebutuhan”. Jika dia tidak dapat memperoleh apa yang betul-betul dibutuhkannya, kebutuhan nyata itu digantikan oleh kebutuhan lain yang tampaknya lebih gampang diperoleh, seperti makanan. Sebelum kehausan akan cinta itu dipuaskan, dia akan terus merasa lapar. Kadang-kadang dia bahkan mampu menipu dirinya sendiri untuk sementara waktu dengan keyakinan bahwa dia cukup bahagia dan tidak perlu berbicara atau berbagi rasa dalam suatu hubungan untuk membangun kebahagiaan bersama pasangan." 

Tidak hanya itu saja, menurut salah seorang Ahli GiziWanita yang menjadi gemuk setelah menikah dan punya anak itu, bukanlah karena keturunan, "Yang turun temurun itu kebiasaan makan dan budaya makan dalam keluarga" (apalagi kalo banyak stok makanan dirumah, tambah semangat itu, yak).πŸ˜…Hal itu sangat fenomenal, karena terjadi di seluruh dunia dan berulang-ulang pada generasi selanjutnya.

Gemuk setelah melahirkan dan menyusui itu masih wajar menurut saya, yang tidak wajar itu gemuk seumur hidup. Kendatipun sekarang sudah banyak wanita yang berusaha dan keluar dari lingkaran tersebut, dengan menjaga pola makan dan hidup sehat seperti olahraga serta mengelola pikiran agar tidak gampang stress, tapi masih saja ada yang pasrah dan menganggap gemuk itu wajar setelah menikah dan punya anak.

Ada juga yang berusaha untuk kembali ke body asal sebelum menikah atau sekedar mencoba mengurangi lemak di tubuh tapi gagal karena kurangnya dukungan dan motivasi dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada akhirnya dia menyerah, tidak berbuat apa-apa lagi dan berusaha menerima dirinya apa adanya. Padahal, dipastikan banyak penyakit yang akan mengintai dan berdatangan jika hal tersebut dibiarkan begitu saja.

Meskipun banyak juga yang melangsing tanpa memperhatikan pola makan, bisa saja itu terjadi karena kurangnya nutrisi akibat sembarang diet atau karena sakit. Saking banyaknya yang dipikirin atau karena ketidakmampuan dan kurangnya fasilitas untuk memperoleh makanan, IMO.

Beberapa tahun yang lalu, teman saya meninggal dunia. Dia menghembuskan nafas terakhir, setelah melahirkan anak pertamanya. Lalu, beberapa tahun setelahnya, teman kental saya, meninggal dunia akibat pecah pembuluh darah di otak. Lalu kemudian tak lama berselang, saya pun tak sengaja menonton di sebuah acara berita selebriti, bahwa Mike Mohede pun telah berpulang. Lalu kemudian satu-satunya paman saya juga menyusul karena penyakit di usus.

Dan baru saja dua minggu yang lalu, Ibu tetangga depan rumah turut menyusul karena sakit tumor usus, setelah sebulan sebelumnya mbak penjual sayur langganan saya berpulang karena tekanan darah tinggi dan terakhir Ibu tetangga samping rumah yang menderita penyakit komplikasi. Selain itu, masih ada dua tetangga lagi yang sedang sakit parah. (ini yang hanya di lingkungan rumah saja, belum di lingkungan keluarga dan lain-lain).

Kamu tau apa kesamaan mereka? Sama-sama mengalami overweight hingga obesitas.

Menurut John Gray, PhD. Kemudahan, kenyamanan, kelancaran, rasa aman, riang gembira, rekreasi, kenikmatan dan keindahan, semuanya memupuk sisi kewanitaan tetapi diet tidak. Program diet dengan memakan lebih banyak makanan berkadar lemak rendah dan berolahraga jelas merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi berat badan. Namun pemecahan paling efektif adalah hubungan yang lebih membangun kebahagiaan dan gaya hidup yang lebih santai dan tidak banyak beban.

Karena itu, "Untuk mendukung seorang wanita, pria harus memahami bahwa, jauh didalam lubuk hati, wanita ingin beristirahat, merasa lega dan menyerahkan kepada seseorang yang dipercayainya untuk mengasuh dan mendukungnya. Inilah kebutuhan batiniah sejati sisi kewanitaan."  - John Gray, PhD.

Tulisan isi saya buat karena merasa sangat prihatin dengan keadaan ini, mengingat mayoritas ibu-ibu disini mengalami hal seperti itu (saya termasuk gak yah, hmm..)πŸ€”πŸ˜‚.

Dan juga, karena merasa tertohok (tersentil tepatnya πŸ˜‚) dengan kalimat ini :


"Siapa yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka dia tidak bisa mengendalikan pikirannya." – Ali bin Abi Thalib


Yang berarti makan berlebihan itu, adalah salah satu ciri bahwa saya tidak bisa mengendalikan diri.  Ckckck.. πŸ˜…

Bukan Jarak yang Salah

11:17 2
Bukan Jarak yang Salah

Patut dipertanyakan, jika pasangan terpisah jarak dan hubungannya terlihat baik-baik saja, apalagi ternyata hubungannya malah semakin memburuk. Harus di cari tau, itu yak.

Dari hasil pengalaman mendengar (sisanya menguping πŸ˜‚). Ada beberapa kisah dari sudut pandang perempuan, tentang jarak yang membuat mereka malah berakhir jadi nelangsa. 

Eh tapi, jangan mentang-mentang abis baca ini langsung minta cerai atau putus, yak. Bukan bermaksud manas-manasin sih, cuma sekedar menghasut πŸ˜‚ (sama aja itu, mah). Hanya saja, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan. Meskipun sedikit, semoga bisa diambil hikmahnya. 😊

Di suatu pagi, ada seorang wanita menangis tersedu-sedu, sambil sesekali terdiam. Dia berkata, baru sebulan melahirkan anaknya yang keempat, anak pertamanya pun masih kecil. Berulang-ulang dia mempertanyakan kenapa suaminya tega menikah lagi diam-diam, dengan airmata yang tak henti terurai. Bagaimana kehidupan mereka sehari-hari? Ternyata, sang suami bekerja di luar kota dan pulang hanya sebulan sekali.

Lalu ada lagi, seorang wanita yang berkali-kali dikhianati akhirnya memutuskan untuk bercerai, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi kelakuan suaminya selama bertahun-tahun. Semuanya berawal karena sang suami sering pindah tugas keluar kota. Walopun mereka bertemu seminggu sekali, tapi itu kurang cukup untuk membuat suaminya kekeuh untuk tidak terus mencari wanita lain.

Tidak perlu harus sampai keluar kota, Jika seorang suami tidak pulang berhari-hari dikarenakan pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggal, seperti sebuah proyek atau sejenisnya. Jangan dibiarin aja (waspada dounk harusnya). Seperti nasib salah seorang temen saya yang sering upload-upload foto mesra bareng suami, saking positive thinkingnya. Eh taunya, si suami gak pulang berhari-hari, ternyata karena sering menginap di rumah sang mantan. Ckckck..

"Rindu mungkin terjadi karena jarak. Tapi rindu itu, hanya untuk mereka yang setia."

Terus terus, ada lagi temen saya. Pacarnya itu seorang abdi negara, yang harus bertugas beberapa tahun diluar kota. Sempet gak ngasih kabar, eh taunya ngirim sms minta putus, karena dia mau nikah sama orang laen. Lah, mending sekalian aja gak usah ngomong-ngomong atau setidaknya minta putus ajalah karena jarak, gak usah pake embel-embel karena mo nikah sama orang laen. Lah wong tempatnya aja di luar kota. Mo kawin ato gak juga, ya mana tau.

Nah, yang ini beda sudut pandang. Karena cerita ini berasal dari temen saya (cowok) pas kuliah, dia punya temen cowok yang juga adalah temen saya. Ceritanya kami lagi meng-gibhahin si temen kami itu (sebut saja Si Boy) dibawah pohon rindang, pagi-pagi di depan kampus. Mirip species-species tukang gosip ala anak kampus, yak. πŸ˜‚

Tujuan kami sih sebenernya baik, karena Si Boy ini, anaknya lumayan populer dan juga aktif di kegiatan kampus, suaranya enak banget (seorang vokalis), pinter dan ganteng pula. Dia orangnya baik, dan cara berinteraksinya dengan orang lain terlihat dewasa, untuk orang yang hanya beda setaon diatas saya.

Kami mendiskusikan sesuatu yang terbilang hot di seputar kampus pada saat itu, demi kebaikan cewek-cewek yang sangat over ngefans sama Si Boy ini, atau mungkin malah temen saya ini yang rada sirik, karena banyak cewek yang lebih memilih Si Boy daripada dia. Mungkin.. πŸ˜…

Si Boy ini, ternyata udah punya anak-istri di kampung (menikah muda), tapi suka tebar pesona kemana-mana dan merahasiakan latar belakangnya. Sepertinya, temen saya gak sengaja denger dari Si Boy sendiri. Yang jelas temen saya ini orangnya menghargai privasi orang lain, tapi mungkin kelakuan Si Boy telah mengusik hati nuraninya. Gak tega ngeliat cewek-cewek cantik di kampus patah hati, padahal masih banyak pria-pria yang sedang menanti, (termasuk dia kayaknya)πŸ˜‚ dan diharapkan cewek-cewek untuk berhati-hati, jangan sampai salah pilih. πŸ˜‚

Nah satu lagi, cerita dari bapak-bapak muda, juga seorang abdi negara, baru menikah tapi tiba-tiba harus pindah tugas ke kota terpencil, disana dia menikah lagi dan punya anak. Setelah dia kembali pindah tugas kesini secara permanen, Istri dan anaknya yang masih kecil disana ditinggalkan begitu saja dan kembali ke istrinya yang disini.

Sungguhlah mendengar kisah-kisah mereka, bener-bener membuat naluri pembela kebenaran dan keadilan dalam diri saya bangkit (jadi inget Ninja Hattori)πŸ˜‚. Pengennya angkat senjata, tapi berat πŸ˜‚. Pake mulut, orangnya udah dimana, saya dimana. Dengan keyboard, entah apakah para pelaku bisa tersentil? Who Knows.. emang lebih baik calon korban juga yang harus waspada duluan, yak.

Tapiii, gak semua kisah LDR atau LDM seperti itu tentunya, yak. Karena emang begitulah hidup, yang adem ayem bahkan tak terdengar kisahnya, karena tidak ada yang dipermasalahkan. Justru mereka yang bermasalah, jika ketauan maka akan terkuak dan semakin terekspos, karena terdengar lebih menarik dan secara alamiah menjadi pusat perhatian, sehingga membuat seolah hubungan yang berjarak akan selalu berakibat negatif.

Padahal jika ditilik lebih dekat, banyak juga yang rela berkorban, meninggalkan keluarga besar ikut bersama pasangan ke negeri asalnya. Rela berjauhan dari Orangtua dan pindah ke kota lain, agar bisa tetap bersama dengan pasangan. Atau seperti Ortu teman saya yang berpisah (tidak bercerai) sejak teman saya SMA, ibunya bekerja di luar negeri dan membawa serta kakaknya, sedangkan ayahnya disini bersama teman saya dan adiknya, begitu teman saya ini menikah, ibunya memutuskan untuk kembali kesini dan melepas semua kariernya.

"Bukan jarak yang salah, tapi manusianya yang tidak setia. Titik." 

(Bikin peribahasa tapi kok ngegas πŸ˜‚) 

Kenali 7 hal tentang Lelaki sebelum Menikah

06:53 16
Kenali 7 hal tentang Lelaki sebelum Menikah
Kenali 7 Hal tentang Lelaki sebelum Menikah

"Ternyata dia berubah, dulu dia so sweet banget, perhatian dan gak pelit. Mau berkorban apa aja buat Gue. Padahal dulu Gue gak terlalu suka-suka amat ke Dia. Malah sebenernya gak cinta. Tapi karena sikapnya yang lembut dan gak gampang menyerah, akhirnya Gue mau-mau aja diajak ke pelaminan meskipun dia gak punya apa-apa."

Hayooo... siapa pernah merasakan perasaan seperti ini? atau malah sedang mengalaminya sekarang? 

Ada beberapa emak-emak yang bercerita tentang penyesalan terdalamnya ke saya (banyak juga sih sebenere). Yang kisah cintanya berawal seperti curhatan di atas. Namun setelah sekian lama menjalani pernikahan, ada yang baru ketauan bohongnya dan ada yang baru ketauan ternyata mereka berbeda prinsip. Bahkan ada juga yang sering bentrok karena ternyata mereka tidak satu visi dan misi, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. 

Dan sayangnya, meski di luar terkesan baik-baik saja, namun tidak dengan otak dan hatinya. Karena bisa saja mereka sedang "lupa". Lupa untuk mencoba memahami dan melihat dari sudut pandang pasangan. Alih-alih ingin membahagiakan, yang terjadi justru dia malah mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri. Hingga akhirnya down. Saking lelahnya memberi banyak hal yang sama seperti yang dia inginkan dari pasangan tapi tidak mendapatkan feedback sesuai harapan, atas semua usaha dan hal baik yang sudah ia lakukan. Karena pada kenyataannya, apa yang dibutuhkan pasangan ternyata berbeda. 

Apa yang sebenarnya dibutuhkan laki-laki, belum tentu merupakan kebutuhan paling utama bagi perempuan dan begitu juga sebaliknya. Sehingga  membuat sebuah "pengorbanan yang dilakukan demi cinta" (meskipun kadarnya sangat besar menurut versi diri kita) ternyata tidak terlalu penting di mata pasangan. Alhasil, kita jadi merasa seolah tidak dianggap. πŸ˜…

Nah, buat cewek-cewek dan juga cowok-cowok yang sekiranya mau mempersiapkan diri naek ke level lebih tinggi, dari single menuju double. Sebelum menyesal dan berhenti di tengah jalan, "bahkan loncat ke laut" (memilih berpaling ke yang lain atau berpisah) alias kecewa, karena sudah berpikir memilih pasangan berdasarkan tebak-tebak buah manggis ato malah seperti membeli kucing dalam karung akibat merasa sendirian. Di saat kapalnya (pernikahannya) mulai oleng dan mau tenggelam (mbok yah kalo bisa, dipikirkan duluuh...)πŸ˜©πŸ˜….

Maklum kalo udah terlanjur cinta, batas antara fantasi dan logika itu jadi rada ngeblur. Begitu saling mendekat dalam naungan pernikahan, semuanya akan jadi terlihat tajam dan jelas, entah itu hal yang baik atau buruk di mata pasangan. Emang baiknya kita juga mengupgrade diri dulu yak, agar nantinya tidak ikut saling mengecewakan pasangan. 

Selain itu, hal penting lain yang harus kita lakukan adalah menggali informasi yang akurat, tentang siapa sih sebenernya orang yang akan bersama kita mengarungi lautan pernikahan. 

Nah biasanya, kalo udah mau menjelang hari raya kayak gini, dari jauh-jauh hari (yang lagi pada jomblo nih, khususnya cewek-cewek) pasti udah ada niat atau malah nyiapin target khusus, semacam diet ato nabung misalnya. Biar ntar lebaran bisa tampil lebih eksis. Demi apa? Kebanyakan sih, ya demi menggaet pujaan hati (buat yang lagi nyari) ato malah pengen segera dilamar? yekan. 🀭

Tapi disini saya gak lagi ngasih tips diet sih, soalnya saya juga sedang berjuang πŸ˜…πŸ˜‚, kalo pengen tau diet yang benar dan sehat, dan juga berhasil, tips terlengkapnya bisa diliat disini, yak. πŸ˜‚

Berdasarkan pengetahuan dan pendapat saya sebagai seorang perempuan (yaah, sekedar untuk berbagi). Inilah 7 hal yang harus dikenali dari seorang lelaki atau calon suami sebelum memutuskan menikah (Of course, sangat bisa banget dijadikan acuan dan sumber informasi penting untuk para cowok-cowok juga, yah). 🀭

Warning : Jika ingin tahu lebih dalam dan lebih jelas, silahkan berkonsultasi ke Tenaga profesional/Ahli atau Konsultan Pernikahan yak, πŸ˜…πŸ˜‚ .


1. Lingkungan

Ketahui orang-orang yang ada disekelilingnya, bagaimana pergaulannya (yang sebenarnya yak) bukan hanya yang nampak atau yang terlihat oleh mata kita saja, tapi semuanya. Apakah masuk dalam kriteria lelaki idamanmu atau tidak, serta kebiasaan-kebiasaannya yang mungkin bisa di tolerir atau bahkan tidak sama sekali. Banyak-banyaklah melihat melalui mata orang lain.

Karena dalam Hadist juga telah disebutkan :
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


2. Keluarga

Perhatikan bagaimana hubungannya dengan Orangtua, baik itu dengan Ayah, Ibu dan Saudara-saudaranya. Yang paling penting, bagaimana komunikasi diantara mereka, terutama interaksi antara Ayah dan Ibunya. Karena biasanya, kebiasaan mereka saling memperlakukan satu sama lain akan menurun, terjiplak ke alam bawah sadar anaknya, entah itu baik ataupun buruk. Mau tidak mau, karena anak adalah "Peniru yang ulung".

Banyak juga (Si Anak) yang menyadari hal tersebut (yang buruk) menurun ke dirinya, meskipun sering mencoba mengendalikan diri, namun self control kadang terabaikan ketika sedang berada di titik terendah (namanya manusia, yak). Tapi, jika kamu bisa menerima kekurangannya (masih dalam kategori wajar dan manusiawi) its okey, gak masalah sama sekali. Yang paling penting kamu bisa merespon tindakan-tindakan buruknya dengan cara yang tepat, agar kedua pihak bisa mendapatkan win win solution.


3. Pendidikan

Pendidikan sangat berpengaruh dalam cara berpikir. Seorang pemimpin dalam rumah tangga haruslah bisa menjadi seorang teladan yang baik bagi istri dan juga anak-anaknya. Untuk bisa memberi contoh yang baik, dibutuhkan ilmu dan pemahaman agar mampu mendapatkan kepercayaan. Selain bisa menyikapi masalah dengan lebih bijak, menjalani hidup berkeluarga akan jauh lebih teratur dan lebih terarah.

Dengan ilmu, kita tidak mudah goyah, kendatipun saat melewati benturan-benturan ketika diterpa badai masalah. Condong untuk berpikir positif, karena sudah memiliki bekal "Pendidikan Berkeluarga" yang cukup. Perbedaan kualitasnya sangat besar, jika hanya dijalani dengan cara "mengalir aja" atau dijalani aja".

Dan jangan lupa, ini juga berlaku untuk diri sendiri, yak. πŸ˜‚


4. Keuangan

Seorang lelaki yang bisa mengatur keuangan itu, diharapkan bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Yang mana yang dibutuhkan saat itu dan yang mana yang masih bisa ditunda. Dan tonggaknya adalah keterbukaan.

Pernah baca, "Kesetiaan wanita diuji saat lelaki tidak punya apa-apa, tapi kesetiaan lelaki diuji saat dia memiliki segalanya." ?

Walopun itu tidak bisa di sama ratakan untuk setiap orang, namun sebagai selfreminder, hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena banyak sekali contoh kasus serupa yang terjadi disekitar saya. Si Lelaki karena merasa berkecukupan dan memiliki banyak kesempatan, menganggap enteng hubungan dengan mencari wanita lain. Sedangkan Si Perempuan, karena mungkin tidak tahan atau tidak sanggup lagi menjalani hidup serba kekurangan, akhirnya memutuskan untuk berpisah. Lebih memilih untuk mandiri dan sendiri, karena kurangnya empati dan perhatian dari pasangan termasuk dalam urusan finansial. Yang kesemuanya adalah nafkah lahir dan bathin yang tidak diberikan pasangan, padahal Si Lelaki memiliki kemampuan tapi tidak dalam hal kepekaan.


Jadi, lebih baik sengsara di awal tapi "happy ending" (membekali diri dengan ilmu sebanyak-sebanyaknya sebelum memutuskan untuk melangkah lebih lanjut, yaitu pernikahan) daripada bahagia hanya diawal, merasakan masa-masa indah hanya ketika baru jadi pengantin baru. Lantas kemudian, kehidupan pernikahan berubah menjadi keruh bahkan membelenggu, jika malas mengupgrade diri.

Cinta itu buta. Kalo tidak buta, berarti kamu gak cinta dong? Ah, Kata siapa? Seorang buta masih bisa menggunakan tongkat sebagai penunjuk arah dan telinga untuk mendengar. Apalagi ini hanya buta sesaat. Setelah sekian lama menikah, perhatian atau kepercayaan itu biasanya akan banyak berkurang kadarnya, akal dan pikiran akan mulai kembali menghampiri ambang logika.


5. Masa Lalu

Dari beberapa contoh kasus yang pernah saya dengar, ada juga lelaki yang kedapatan tidak jujur tentang masa lalunya. Yah, takut ditolak atau takut diputusin, mungkin? Masa lalunya itu bakal berefek ke masa depan pernikahannya karena tidak adanya keterbukaan dari awal, dan dipastikan tidak akan ada ketenangan dalam pernikahan, kecuali kita memang berusaha menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Dan siapa lagi yang harus mengorbankan perasaan, jika bukan dari pihak perempuan. Apalagi ini seperti kasus salah seorang teman saya, yang suaminya masih dikejar-kejar mantan pacar, hingga akhirnya tergoda lagi sampe punya anak dan kemudian menikah siri. Yang parahnya lagi si mantan yang sudah dinikahi ini, berapa kali menyambangi rumah teman saya untuk mencari suaminya. Berapa kali gontok-gontokan dan harus dilerai oleh Bu RT. Belum lagi bully-annya di Sosmed terhadap teman saya inih, karena salah satu anaknya adalah ABK (akun suaminya dibajak Si mantan). 

Ada juga kasus lain, dimana si mantan istri selalu berusaha menemui mantan suaminya yang baru saja menikah lagi, si istri baru (teman saya) sebelumnya tidak tau kalo suaminya ini seorang duda yang sudah dua kali menikah dan punya anak. Keluarga dari pihak suami pun tak ada yang mau buka mulut, semua informasinya didapat dari tetangga sekitar dan keluarga jauh. Belum lagi pandangan buruk dari tetangga (sahabat-sahabatnya si mantan istri) yang menganggap si istri baru ini seperti layaknya seorang pelakor.


6. Kesehatan

Demi untuk menghindari kemungkinan terburuk, kita juga harus memperhatikan sejauh mana kesehatan pasangan kita. Kadang, ada yang karena emang sudah cinta mati, yah nerimo.

Asalkan kamu paham dengan konsekuensinya, yah tidak mengapa, yang penting semuanya sudah dipertimbangkan dengan baik dan matang.

Namun, apakah hal tersebut akan berpengaruh kepada keturunan anak cucu kita? atau tidak? atau Bagaimanakah pendapat Orangtuamu? Apakah kamu bersedia selalu mengurus pasanganmu disaat sakit? Apakah kamu sudah mempersiapkan mental yang kuat untuk menjalani hidup seperti itu? 

(Lain halnya jika itu terjadi setelah menikah, yak.)

Coba berpikir dengan logika dan belajar dari orang-orang lama. Atau mungkin, untuk mencoba melihat langsung dari orang-orang yang memiliki kehidupan pernikahan seperti itu. 

Karena cinta itu, tidak hanya sebatas keinginan untuk bersama, tapi juga untuk kebaikan bersama.


7. Cara Berkomunikasi dengan Lawan Jenis

Point ketujuh ini sebenarnya masih berhubungan dengan point kesatu, dimana lingkungan sangat menggambarkan bagaimana cara pasangan berkomunikasi.

Ada beberapa lelaki yang pernah saya kenal, baik itu yang sudah menikah ataupun belum, kadang lain di depan lain di belakang. Maksudnya, jaim hanya ketika di depan pasangan, tapi ketika tidak berada di lingkaran pertemanan pasangan, tidak segan ngobrol tentang hal-hal yang intim atau bahkan tidak pantas dibicarakan dengan wanita lain. Seperti hal-hal yang bisa memicu ketidaksetiaan si lelaki terhadap pasangannya. Apalagi jika hal tersebut sering terjadi setelah berumah tangga. (Memang tidak semua lelaki, tapi ada yg seperti itu dan gak cuma satu).

Nah, apakah hal itu sudah merupakan wataknya dari lahir atau malah kebiasaan yang sulit untuk diubah? ataukah kamu malah menganggapnya biasa saja dan memakluminya? Kita kembali ke point Keluarga dan juga point Lingkungan. 😁


Komunikasikan dengan cara Open Minded

Jika kamu tidak bisa atau belum menemukan beberapa point diatas pada pasangan kalian, maka bicara adalah jalan terbaik. Misalnya, dengan mengkompromikan untuk belajar bersama-bersama mengenai kehidupan pernikahan dan persiapan menjadi Orangtua. 

Kendatipun masa lalunya dirasa tidak bermanfaat untuk masa depan pernikahan. Namun mendapatkan feedback yang baik ketika di komunikasikan, akan membuat pasangan mau menerima semua kekurangan kita juga, karena merasa dihargai dan dipercayai. Apalagi, jika orang yang nanti akan menjadi teman hidup kita  adalah seseorang yang Berpikiran Terbuka (open minded) dan Memahami "Cara Berkomunikasi yang Efektif" terhadap Pasangan.


Sebenernya masih ada point-point lain yang pengen saya tuangkan disini, tapi kayaknya segini dulu deh, ntar mungkin ada part dua nya, InsyaAllah.. πŸ˜…


Okey.. "Berbahagialah dalam kesendirianmu dan mulailah mencintai dirimu, lalu Dia akan mulai mengikutimu."

"Selamat Hari Perempuan Sedunia" 😊

Salah Satu Pembunuh Rasa Sakit para Istri

09:43 3
Salah Satu Pembunuh Rasa Sakit para Istri

Apakah Anda sering menjadikan makanan sebagai pelampiasan rasa sakit hati?

Sebuah tulisan dari Mister John Gray yang menarik untuk dipahami dan dijadikan catatan penting terutama dalam sepak terjang dunia perdietan dan psikologi, bagi emak-emak dan juga suaminya :p. 

Hal seperti ini tidak jarang terjadi pada emak-emak di sekitar saya (walau tidak semua tapi ngenes aja ngeliatnya) termasuk saya juga nggak yah??? *garuk2 jidat* :p. 

Okeh.. berikut kutipannya... (kutipannya banyak :p)

Cukup umum, segera setelah seorang wanita menikah seringkali berat badannya mulai bertambah lebih daripada kelebihan berat alamiah yang diakibatkan oleh usia dan melahirkan anak.

Perubahan itu berlangsung bukan karena hubungan tersebut menghadapi berbagai masalah, melainkan pernikahan itu sendiri membuat seorang wanita rileks dan merasa lebih aman. Sewaktu sisi kewanitaannya mulai berkembang, sisi itu berkata “Sekarang setelah saya dicintai, akhirnya saya mampu keluar dan diberi makan, didukung, dan didengarkan.” Kemudian secara tidak sengaja dia mulai mengalami emosi-emosi dan dorongan-dorongan yang telah ditekan oleh kehidupan yang mandiri. Kecenderungan alamiahnya untuk berbicara tentang perasaan dan kesulitannya muncul dengan tiba-tiba. Perasaan-perasaan asing dari masa lalunya ini membuat dirinya merasa bahwa dia sangat miskin, emosional, tidak logis, cengeng, bahkan lemah. Banyak wanita merasa malu terhadap perasaan-perasaan ini.

Dalam kebingungan emosional itu, hal terakhir yang diinginkan oleh seorang wanita adalah memberitahukan penyebabnya kepada suaminya. Seringkali, dia bahkan merasa tidak enak untuk membagikan perasaan-perasaan baru ini dengan wanita lain. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena dia tidak pernah melihat ibunya berhasil membagikan perasaan atau masalah kepada ayahnya sehingga memperoleh rasa hormat dan dukungan. Untuk menjauhi konflik yang tidak perlu atau mengecewakan suaminya, dia memilih untuk menekan kebutuhan untuk membagikan perasaan-perasaan yang berasal dari sisi kewanitaannya itu dan sebagai akibatnya, merasakan suatu kebutuhan baru untuk makan lebih banyak.

Makan merupakan sebuah pengganti yang mudah untuk cinta. Semakin dia banyak makan, untuk sementara waktu dia dapat menekan perasaan-perasaan tidak aman yang menyakitkan yang muncul dari sisi kewanitaannya. Sampai dia menemukan suatu cara untuk memuaskan dan secara langsung memupuk sisi kewanitaannya secara teratur, dia akan terus menggunakan makanan sebagai pembunuh rasa sakit. Dengan mematirasakan perasaan-perasaan itu, kemampuannya untuk bercinta di teduhkan, dan menemukan kelegaan. Kecenderungan ini disebut sebuah “Penggantian kebutuhan”. Jika dia tidak dapat memperoleh apa yang betul-betul dibutuhkannya, kebutuhan nyata itu digantikan oleh kebutuhan lain yang tampaknya lebih gampang diperoleh, seperti makanan. Sebelum kehausan akan cinta itu dipuaskan, dia akan terus merasa lapar. Kadang-kadang dia bahkan mampu menipu dirinya sendiri untuk sementara waktu dengan keyakinan bahwa dia cukup bahagia dan tidak perlu berbicara atau berbagi rasa dalam suatu hubungan untuk membangun kebahagiaan suatu pasangan.

Kemudahan, kenyamanan, kelancaran, rasa aman, riang gembira, rekreasi, kenikmatan dan keindahan, semuanya memupuk sisi kewanitaan tetapi diet tidak. Program diet dengan memakan lebih banyak makanan berkadar lemak rendah dan berolahraga jelas merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi berat badan. Namun pemecahan paling efektif adalah hubungan yang lebih membangun kebahagiaan dan gaya hidup yang lebih santai dan tidak banyak beban

"Untuk mendukung seorang wanita, pria harus memahami bahwa, jauh didalam lubuk hati, wanita ingin beristirahat, merasa lega dan menyerahkan kepada seseorang yang dipercayainya untuk mengasuh dan mendukungnya. Inilah kebutuhan batiniah sejati sisi kewanitaan." - John Gray, PhD.

Note : tulisan ini pernah saya posting beberapa tahun lalu dan yang komen kok masih singel semua yah? nggak ada dari bapak-bapak atau emak-emaknya :D