uzegan: Psikologi
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Perempuan dalam Diam

23:54 9
Perempuan dalam Diam

"Love Letter"

*Backsound :
10 : 54 PM.


Sudah lama saya tidak melihat Bu Dahlan. Biasanya setiap saya pulang dari warung atau pulang dari bepergian, Beliau sering duduk di teras pelataran depan pintu rumahnya. Kadang hanya ngaso, bermain dengan cucunya atau sedang menunggu anak-anaknya pulang kerja dan pulang sekolah.

Bu Dahlan selalu tersenyum dan selalu menyapa duluan setiap kali saya tak sengaja bertatap muka dengan beliau. Wajar bagi kami untuk saling bertegur sapa ketika pertama kali bertemu pandang, bukan.

Tapi satu hal menjadi berbeda ketika sebagian warga kampung yang sudah berumur, menjunjung tinggi prinsip bahwa yang muda yang harus menyapa, dan harus memperlakukan mereka selayaknya orang yang paling dihormati dan dituakan.

Namun tidak demikian dengan Bu Dahlan, tidak peduli siapapun, tua, muda, anak-anak, Beliau selalu menyapa duluan dan selalu memberikan senyum terbaiknya.

Bu Dahlan tidak pernah ngumpul-ngumpul. Beliau lebih suka di rumah daripada ngalor ngidul yang tidak penting dengan tetangga sekitar. Ngobrol dengan saya pun sangat jarang sekali dan tidak pernah lama. Hanya sesekali saat saya memerlukan ijin ketika hendak memasuki pekarangan belakang rumahnya untuk memperbaiki pagar dan hal-hal semacam itu.

Saya lebih banyak mengenal Bu Dahlan ketika mendengarnya sedang berbincang-bincang dengan anggota keluarga atau mendengar suaranya saat berinteraksi dengan anak atau cucunya yang baru lahir. Dialog-dialog penuh kehangatan yang selalu hadir menyentuh lembut gendang telinga, ketika mereka sedang berkegiatan di dapur atau di halaman belakang rumah.

Setiap kata yang di ucapkannya terkadang membuat saya berangan-angan. Seandainya beliau adalah Ibu saya atau saya bisa seperti beliau yang selalu bertutur halus dan lembut, penuh perhatian dan memiliki banyak rasa sabar menghadapi tingkah pola setiap anak, meskipun hidup bersama seorang suami pengangguran yang tak mau lagi bekerja berat, karena usia yang tak lagi muda.

Bu Dahlan dan suami hidup satu atap bersama anak-anak dan menantunya, di rumah yang tidak begitu besar dan masih setengah jadi karena sebagian dinding hanya ditambal dengan papan atau ditutup dengan triplek, dikarenakan tidak ada biaya lagi untuk memperbaiki rumah.

Sebagai tetangga terdekat, saya bisa ikut merasakan kedamaian dan ketenangan dari dalam rumahnya sejak saya pindah ke kampung ini sepuluh tahun yang lalu, sekalipun kesan tentang suaminya kurang begitu baik di mata saya karena tidak mau berusaha mencari nafkah dan lebih memilih hidup dari penghasilan anak-anaknya. Tapi itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa saya salut dengan sikap seorang perempuan bernama Bu Dahlan.

Tubuhnya yang langsing memberi kesan, bahwa dia bahagia dengan apa yang dia jalani. Di mata saya, beliau orang yang ceria, tidak pernah mengeluh. Selalu bersyukur meskipun hidup dengan begitu banyak kekurangan. Hingga pada akhirnya saya mencoba untuk lebih menghormati suami dari seorang perempuan yang diam-diam saya kagumi itu. Karena sesungguhnya tidak mudah juga bagi seorang suami untuk bisa membuat istrinya bisa bersikap seperti itu di tengah kesulitan hidup yang morat marit dari awal menikah hingga beranak cucu.

***

Kemarin, saya mencoba mengetuk pintu rumah Bu Dahlan, ingin bertanya apakah mau menerima sekantung Belimbing Wuluh yang baru saja saya panen dari pekarangan belakang rumah. Tapi ternyata beliau sedang tidak ada, hanya ada anak lelakinya yang terlihat dibalik jendela, sayapun undur diri. Saya rasa lebih elok kalo nanti saja saya berikan, agar bisa sekalian ngobrol-ngobrol dengan Beliau.

Namun tidak disangka, sore tadi saya mengetahui bahwa Bu Dahlan telah menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Menurut cerita anaknya, beliau ternyata mengidap penyakit paru-paru, Itulah sebabnya mengapa saya sering mendengarnya batuk-batuk menahun di beberapa pagi sebelumnya dan kenapa berat tubuhnya tidak bisa terus terusan bertambah seperti halnya ibu-ibu disini. Ibu-ibu yang kebanyakan lebih suka mengalihkan stress dengan makan, sering mengadakan acara ngumpul-ngumpul, jalan-jalan bareng atau bercengkerama dalam kegiatan-kegiatan arisan dan pengajian yang tidak lepas dari acara bersantap ria.

Satu hal tentang budaya Ibu-ibu yang kadang sering membuat saya cuma bisa menghela nafas. Yakni kebiasaan memendam. Kurang terbuka kepada pasangan untuk mencari pemecahan masalah. Lebih suka di simpan sendiri, dan menganggap bahwa jarang berkomunikasi dengan suami itu merupakan hal yang lumrah, karena seringnya tidak menemukan titik temu setiap kali hendak bertukar pikiran.

Meminta perhatian dari seorang suami yang tidak tau bagaimana caranya memberi kasih sayang yang semestinya kepada Istri, seolah menjadi hal tabuh dan membuat sungkan karena masih menganut budaya lama, tak ingin dianggap sebagai perempuan agresif. Mereka meratapi kemalangan diri, menelan sakit hati atau lebih memilih menyimpan masalah dalam diam, tanpa tau hal itu hanya akan merusak diri.

Meremehkan, bahwa umur yang kian menua tidak lagi penting untuk di romantisasi. Padahal itu adalah salah satu kebutuhan dasar yang diharapkan bisa didapat dari pasangan, ketika nilai-nilai kehidupan dunia sudah mulai perlahan memudar.

Sekalipun tanda-tanda kematian mulai mendekat, mereka masih saja terus mengusap luka dan menelan rasa pahit itu dengan seulas senyum, lalu kemudian membalutnya dalam wujud kesabaran. Kesabaran yang menjadi sebuah dalih karena tidak mau ambil pusing, akibat terlalu banyak menelan kekecewaan yang tidak pernah ditanggapi. Dan karena hanya suamilah, yang menjadi satu-satunya tempat dimana mereka bisa menggantungkan hidupnya selama ini.

Saya tidak tau apakah dibalik keceriaan dan kehangatan yang biasanya terdengar, Bu Dahlan sebenarnya memilih diam, ataukah karena diamnyalah yang menggerogoti hingga akhirnya berada di penghujung nyawa.

Namun bagaimanapun juga, apapun yang telah dilakukannya, telah membuat dirinya menjadi seorang Perempuan luar biasa, Perempuan yang semestinya layak mendapatkan penghargaan dan perlakuan lebih dari pasangan hidupnya.

Pada Sebuah Kepenatan

23:14 20
Pada Sebuah Kepenatan
Time Travel
*Backsound :
Ost. 5 Centimeters Per Second


Tampaknya orang-orang sudah teramat sangat penat dengan semua keadaan ini, tak terkecuali saya.

Dari mereka yang sekedar memposting foto bandara, cafe, gunung, pantai, sekolah, kampung halaman dan sejenisnya. Adalah rindu yang terus tertahan karena pandemi yang masih saja tak berkesudahan.

Kegemukan yang belakangan menjadi trend bukanlah wujud keinginan, melainkan hasil pe-luapan, bentuk dari sebuah kepenatan. Pun Si pemilih (picky eater) yang tak lagi bergaji, turut menanggalkan keegosentrisan demi hadirnya sesuap nasi.

Siapa sangka, gawai yang pernah digaungkan bisa berdampak buruk pada anak namun paling disenangi, ternyata menjadi bagian paling erat dalam hidupnya. Yakni bagian yang pada akhirnya tetap tidak luput dari rengkuhan rasa penat.

Hingga cinta yang biasanya jauh, lalu mendekat dan melahirkan bayi-bayi pandemi. Atau yang biasanya dekat lalu menjauh karena pertikaian atau kehilangan, entah itu pada pasangan, pekerjaan, harta benda, hingga kepada Tuhan.

Sesuatu yang jauh mendekat dan yang dekat akhirnya menjauh.

Sesuatu yang dulu tak diacuhkan, kini menjadi yang paling dicari.

Sesuatu yang dulu terasa berharga, sekarang tidak lagi berarti.

Ketika semua hal dilakukan secara daring, ketika semua tlah terbiasa, maka tibalah kita di titik jenuh. Titik dimana sebuah kepenatan menjadi terasa luar biasa. Kita terjebak, terhimpit dan tersudut tepat di depan tabir dunia nyata yang belum juga kunjung meluruh. Kita menjadi emosi, stress, depresi, bahkan melakukan kekerasan hingga berujung pada kematian.

Bukan main.

Semuanya tidak serta merta terjadi begitu saja. Kekecewaan-kekecewaan yang bersumber dari masalah yang belum dianggap pantas memenuhi pikiran, membuat abai Si Empunya jiwa. Kekecewaan itu tertanam di alam bawah sadar lalu kemudian menjelma menjadi bibit-bibit kepenatan. Bibit yang telah tumbuh jauh sebelum datangnya wabah. Bibit yang akhirnya bertunas menjadi lecutan emosi dan juga percikan amarah.

Kini bibit itu semakin membesar, dan dengan mudahnya menyala karena tersulut api pandemi yang tengah membara. Hingga begitu cepatnya membumihanguskan sekerat kesabaran.

Maka berbahagialah jika dianugerahi banyak pilihan, bisa menikmati hal-hal yang baik dan memiliki kemudahan untuk menjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun jika kita tidak memiliki keistimewaan itu, apa boleh buat. Kepenatan kali ini benar-benar terasa amat sangat berat dan teramat sulit untuk ditempuh. Dan semoga, kita diberi kekuatan dan kemudahan agar rasa penat ini bisa segera berlalu.

Self Healing

18:22 5
Self Healing

*Backsound
Ost. One Pieces

Seorang teman pernah bilang, curhat itu sama dengan mengeluh dan mengeluh itu sama saja dengan tidak bersyukur.

Lantas, bagaimana dengan saya dan teman-teman yang suka curhat, khususnya di blog ? 

Hmm..

Mungkin bisa dikatakan, (dulu) saya adalah seorang pendengar yang baik, karena lebih sering menyediakan telinga dibanding bersuara untuk memberi saran (kecuali diminta). Saya sendiri hampir tidak pernah curhat (jika tidak dipaksa keadaan) karena merasa tidak penting bagi orang lain, malu, atau karena tidak menemukan orang yang bisa dipercaya. Lebih memilih untuk bercanda dan tertawa alih-alih membicarakan isi hati sendiri meski sedang berada di titik terendah sekalipun. Secara naluriah, mendengarkan cerita, curhatan dan mendengarkan pengalaman orang-orang secara langsung adalah sebuah pembelajaran yang tak ternilai harganya. Karena bisa membuat saya kembali bersemangat dan merasa lebih mampu dalam menghadapi lika-liku hidup.

Hingga suatu hari, saya mulai menyadari bahwa beberapa orang (banyak) termasuk Kakak saya yang pada akhirnya tumbang di usia yang belum lagi tua. Karena lebih memilih untuk memendam kesedihan dan rasa kecewa, yang ternyata pelan-pelan mengguncang psikis dan berakhir menggerogoti jasmani hingga di akhir hayatnya (meskipun saya dan kakak diperlakukan seperti anak kembar, saya tidak ingat sama sekali kapan dia terakhir menangis).

Banyak hal yang membuat cara pandang saya berubah. Hingga saya pun memutuskan untuk memulai self healing dengan menuliskan isi hati bersama seorang sahabat dalam sebuah buku diary. Kami menulis dan membaca berganti-gantian meski ternyata saya lebih sering melakukan hal lain yang bisa mengalihkan pikiran (hal lain sebagai alat untuk lari dari kenyataan). Hingga pada suatu kesempatan, akhirnya saya mengenal dan berpindah ke media blog.

Dan mungkin ini juga bisa menjadi salah satu alasan kenapa sebagian orang yang dulunya cuek atau pendiam kemudian berubah galak atau pemarah ke orang lain, bahkan ke pasangan atau anak-anaknya ketika sedang menghadapi masalah. 

Karena diam dalam kekecewaan itu hanya akan menggerogoti dan merusak diri sendiri. Mungkin dengan meluapkannya akan bisa mengurangi beban karena bathin yang kelewat tertekan. Namun sayangnya, cara seperti itu ternyata tidak menyehatkan mental, dan orang yang terkena luapan emosi bisa tersinggung, sakit hati bahkan menyimpan dendam karena cara kita yang keliru.

Mengutip dari pembahasan Adjie Santosoputro dan Habib Husein di Channel Youtube Jeda Nulis, momen-momen kecil saja, yang tidak sesuai dengan keinginan bisa membuat kita kecewa dan berpotensi membuat mental kita perlu dirawat. Sayangnya selama ini Adjie Santosoputro dan kita, hanya dibekali 4 jurus dan sepertinya kurang tuntas menyehatkan mental.

1. Menekan marah, sedih, kecewa. Memendam yang penting senyum, keliatannya seneng (karena budaya timur) dan ternyata ini pun kurang sehat karena bisa meledak suatu waktu. Bisa mengalami substitusi atau kompensasi. Keliatannya menekan memendam dan gak pa pa, tapi berakibat ke aspek yang lain, seperti marah-marah di kehidupan beragamanya, keluarganya atau kehidupan pekerjaannya.

Contohnya : Dia tidak mau memendam kekecewaan kepada orang lain di kantor tapi marahnya pada istri atau anaknya di rumah, karena dia merasa punya kuasa pada anak istrinya dan gak ada resiko, kalo dengan karyawan atau atasan mungkin bisa dipecat. (Habib Husein)

2. Melampiaskan. Sedih, Marah, langsung melampiaskan, seketika, spontan tanpa mikir tanpa babibu langsung dikeluarkan dan itu juga kurang sehat.

3. Pengalihan. Misal : Sebenarnya sedih, mengalihkan dengan cara makan, ngopi, ngemil, shopping, stress kerja mengalihkan ke hal-hal yang gak ada hubungannya, yang sebenarnya gak memulihkan stress. Tetep aja itu kurang sehat karena lukanya gak terobati.

4. Refreming. Refreming itu misalnya mengalami kegagalan. Lalu berusaha mereframe atau mengganti makna gagal itu dengan sukses yang tertunda. Diawal mungkin menyehatkan mental tapi dijangka waktu yang panjang, itu seperti melatih diri kita untuk halu. Terkadang kita sebagai manusia dengan egonya terlalu menghakimi gagal ini sebagai musibah sehingga memaksa diri merefremingkan. Sedangkan ketika kita tidak terlalu menghakimi, ngejudge. Ketika gagal ya terima aja. Karena memang itu adalah sebagian dari hidup dan bagian dari perjuangan. Karena tanpa ada gagal gak ada sukses dan alih-alih di refreming tapi justru disadari dan didamaikan.

Dan ternyata 4 jurus yang dilakukan selama ini justru membuat mental makin terkapar dan kita harus mulai belajar mengenal kesadaran diri. Sesuatu yang dirasa sebagai musibah ternyata di dalamnya ada berkah. Sesuatu yang selama ini disanjung-sanjung sebagai berkah kemungkinan di dalamnya ada musibah. Melihat sesuatu secara seimbang dan kesadaran itulah yang akhirnya menyelamatkan dan bisa menyehatkan mental. Dan itu memang perlu dilatih dengan niat. 

Selengkapnya bisa dilihat di video "Mengenali Diri dengan Mindfulness"

Ini bukan hal yang baru, apalagi rahasia umum. Semua orang tau atau nantinya akan tau, tapi sayangnya tidak semua orang selalu ingat. Terkadang ketika kita merasa down, kita jadi lebih terfokus ke rasa sakit atau penderitaan yang dialami. Kita lupa, tidak ada yang mengingatkan dan menjadi semakin terpuruk karena kita telah hidup dalam dunia kita sendiri. 

Kita sendiri yang memutuskan untuk menelan sendiri rasa kecewa dan sedih namun berharap (bahkan mengharuskan) orang mau mengerti tanpa kita perlu berkata-kata. Pun ada yang terlena hingga lupa bahwa manusia itu bukan peramal dan tidak bisa menerawang pikiran apalagi melakukan telepati.




Menjadi Karyawan & Bos Idaman

15:17 40
Menjadi Karyawan & Bos Idaman

Menjadi Karyawan & Bos Idaman

Bicara tentang menjadi Bos idaman, mari kita menilik Sebuah Drama Korea yang berjudul Pegasus Market. Kalo di toko-toko atau tempat usaha biasanya menggunakan slogan "Pelanggan adalah Raja." Maka beda lagi di Drama yang satu ini, karena yang menjadi rajanya itu justru adalah para karyawannya. Yang juga berarti Si "Karyawan adalah Raja." 

Alur cerita anti mainstream, kocak dan sukses membuat saya over ngakak di banyak scene tapi tetap terasa menohok bagi penonton. Karena dibalik keabsurdannya banyak makna dan sudut pandang baru tentang cara berpikir seorang pemimpin yang bisa dikatakan "jenius". 

Meski pada kenyataannya, kejeniusan ini akan tetap menjadi sebuah misteri hingga di akhir episod, kenapa? Karena bisa jadi, itu semua hanya berawal dari kebetulan semata akibat kesalahan strategi demi terbalasnya sebuah dendam. πŸ˜‚

Tapi apapun itu, Dia adalah seorang pemimpin yang tidak biasa dengan empatinya yang juga tidak biasa, karena orang yang sudah meninggal pun bisa direkrutnya menjadi seorang karyawan. Pemimpin yang bisa dikategorikan sebagai salah satu tipikal bos yang diimpikan bagi banyak karyawan meskipun dengan tingkahnya yang unik nan ajaib, Terutama bagi para pelamar yang tidak berpendidikan tinggi tapi ternyata memiliki bakat unik dan skill tersembunyi. πŸ˜‚

Makna tentang memberi dan menerima yang semestinya, antar atasan dan bawahan di drama ini sebenarnya bisa jadi adalah ungkapan hati semua karyawan di seluruh dunia. Yang tidak pernah tercetus dan tidak berani mereka ungkapkan secara terang-terangan dari mulut mereka sendiri, secara langsung di depan pimpinannya. 

You knowlah, apalagi kalo bosnya itu tipe-tipe close minded, banyak maunya dan medit pula (tidak ada empati-empatinya terhadap karyawan). Gimana mau diajak becanda, melakukan kesalahan sedikit saja bisa-bisa kitanya yang dibabat habis πŸ˜‚πŸ˜…. Layaknya tipe pimpinan yang menegaskan kepemilikan dan kekuasaannya di depan semua orang, maka Si Bos lah yang paling benar sekalipun kebenaran itu masih diragukan.πŸ˜‚ Kecuali emang dari awal kamu udah menyiapkan mental kalo suatu saat bakal dipecat atau malah gaji kamu yang dipotong dan berakhir menjadi bahan rumpian. πŸ˜‚

Namun terkadang, betah atau tidak betahnya kita di tempat bekerja atau sebuah instansi, sebenarnya tergantung motivasi ato faktor awal kenapa kita memutuskan untuk bekerja.

Sudah bukan menjadi hal baru, dimanapun kita berpijak pasti akan ada yang enak dan gak enaknya, apalagi jika itu menyangkut masalah pekerjaan. Ada yang bilang, bekerja dimanapun sama saja. Asalkan kita bisa pintar-pintar membawa diri dan mengutamakan profesionalitas. Kadang orang melihat kita bekerja di tempat yang kelihatannya bagus, tapi ternyata sebenarnya tidak, begitupun sebaliknya kita juga menganggap orang lain seperti itu. 

Ada yang nyantai bisa libur, tapi gajinya juga kecil. Ada yang jarang libur, pekerjaan numpuk, tapi yah sebanding juga dengan jumlah gajinya. Kalo pengen yang lebih enak lagi, ya gak usah kerja. Mending investasi saham, menyewakan kos-kosan ato membuka bisnis. Dengan menyewakan villa di Bali misalnya *eh gak yah, beda itu mah😜🀭. (langsung sungkem ke Mba Eno)πŸ™‡‍♀️😁

Atau cari orang kaya yang mau diajak nikah πŸ˜‚πŸ˜…. Asal gak jadi pelakor ato pebinor aja, yah. Seputus-putus asanya kamu, plis don't do that ya adek-adek. πŸ˜…

Untuk membuka usaha sendiri pun juga gak mudah, karena gak ada yang langsung sukses. Kita musti punya modal dulu. Dan salah satu modal selain pengalaman itu adalah duit. Dari mana datangnya duit kalo bukan hasil dari bekerja. (kecuali ortu kamu emang punya harta sampe tujuh turunan, yah gak masalah banget itu mah) πŸ˜‚ jadi kan enak gak perlu kerja seumur hidup. Itupun kalo Orangtua kamu gak menuntut kamu untuk bisa menjadi seorang anak yang mandiri.

Tidak adanya motivasi yang kuat atau tanggungan demi memenuhi tuntutan hidup, bisa menjadi salah satu faktor yang membuat kita jadi lebih mudah memutuskan untuk mengundurkan diri, dan pindah dari satu tempat ke tempat lainnya jika dirasa tidak cocok atau tidak layak. Apalagi ternyata banyak pilihan dengan pengalaman dan skill yang juga mendukung. Maka dengan mudahnya kita menolak dan mencari tempat lain untuk bekerja. Meskipun sebenarnya gak segampang itu juga, karena semakin hari persaingan akan menjadi semakin ketat. Koneksi dan relasi juga merupakan hal terpenting yang paling dibutuhkan untuk memuluskan jalan, agar kita lebih mudah memperoleh informasi pekerjaan yang diidamkan.

Mendapatkan posisi dan kedudukan yang bagus dalam pekerjaan itu rata-rata karena bersakit sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Jangan mentang-mentang udah lulus kuliah di fakultas ternama, dan mengira bisa langsung bekerja. (Yah kali, bapaknya orang penting atau punya koneksi kelas atas, mungkin bisalah). Kalo kagak punya? pastikan dulu skill yang ada emang sudah mumpuni dengan nilai diatas rata-rata, meskipun belum tentu juga nantinya bisa keterima. 

Karena kamu harus tau, gak cuma kamu yang kompetensinya bagus. Masih banyak diluar sana yang bahkan jauh lebih mumpuni tapi ternyata PENGANGGURAN karena gak punya relasi dan koneksi. Yang mau kerja apapun selagi mampu dan gak bikin makan hati. Begitu mereka mendapatkan sebuah pekerjaan, dipastikan mereka lebih bersemangat, tahan banting dan rela bekerja keras. Gak dikit-dikit ngomong capek, dikit-dikit ngomong tempatnya gak enak, dikit dikit pengen berhenti. Dikiranya nyari kerja sama kayak nyari recehan. Kapan bisa majunya kalo kayak gitu terus, bro, sis? 

Kok jadi bikin emosi, yah.  πŸ˜‚πŸ˜…

Entah apakah ini mental pemalas, mudah menyerah atau budaya tinggal terima enaknya saja? Atau malah sebenarnya karena merasa yakin bahwa dirinya pantas mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Meskipun pada kenyataannya, baru jadi anak kemaren sore, skill pun lebih banyak diasah dari youtube dibanding prakteknya, tapi sudah berharap punya kedudukan sama, seperti mereka yang sudah mahir dan berpengalaman. Yah kagak bisa, coy. 

Fiyuh! πŸ˜ͺ

Kitalah yang harus membuat diri kita nyaman karena kita yang butuh uang. Kalo kita menuntut sebuah kenyamanan dan gaji yang tinggi, maka berusahalah untuk menjadi seorang bos bukan hanya sebagai karyawan. Untuk banyak kasus, dengan menjadi pimpinan pun belum tentu masalahnya akan lebih ringan, karena jabatan atau pekerjaan apapun itu pasti memiliki tantangan dan masalahnya tersendiri yang bisa jadi lebih berat. Dimana kemampuan yang besar itu pasti diiringi dengan tanggung jawab yang juga sama besarnya. Hanya saja, level fasilitasnya yang membedakan. Biasanya.. πŸ˜‚πŸ˜…

10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah

07:13 66
10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah

Lebaran baru genap seminggu, saya terpaksa harus meminta maaf lagi. Tapi okehlah, gak papaaaa..

Mohon maaf yaaah, buat yang masih single πŸ€­. Tidak bermaksud menyindir atau membuat kalian merasa tersingkirkan dari postingan kali ini, πŸ˜‚tapi dipersilahkeun bagi yang ingin menabung informasi, demi kebahagiaan bersama pasangannya di masa depan, yah hihihi...  

Tulisan ini adalah based on true story dari sudut pandang perempuan sebagai anak atau istri, yang sempat tertangkap oleh mata dan terdengar oleh telinga saya dari beberapa kerabat dan kenalan. Bukan saja tentang tipikal suami dalam menafkahi pasangannya tapi bisa jadi dua-duanya ternyata ikut andil, dan harus bertanggung jawab terhadap masalah perekonomian yang terjadi dalam rumah tangga mereka. 

Berdasarkan data perceraian dari Mahkamah Agung, pada tahun 2015 hingga tahun 2018. Ada dua masalah utama yang paling banyak dihadapi oleh pasangan suami istri, yaitu perekonomian rumah tangga yang tidak berkesesuaian dan pertengkaran yang tidak ada habisnya. Karena tidak adanya keterbukaan dalam urusan finansial. 

Beberapa diantaranya adalah momok, yang terjadi karena pasangan secara tidak langsung menjiplak kebiasaan Orangtua. Dan semakin tak tergoyahkan karena sudah tertanam di benaknya sejak kecil. Sehingga sulit sekali keluar dari lembah hitam yang penuh dengan onak dan duri (aih, bahasanya). πŸ™„

Kecuali dengan perceraian sebagai jalan terakhir, atau memilih menggunakan komunikasi dua arah dan mau belajar untuk saling terbuka. Agar kedua pihak tidak merasa menjadi korban dan bisa lepas dari tekanan bathin, dikarenakan kesalahan dalam mengelola keuangan dan karena tidak bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk berkomunikasi secara efektif dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan pasangan sebelum menikah. Lalu kemudian bisa di kompromikan bersama pasangan.

Nah, berikut 10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah. Apa saja itu? Check this out

  1. Suami menyimpan gajinya sendiri untuk ditabung dan mempergunakan gaji istri untuk belanja dan kebutuhan keluarga.
  2. Suami berkuasa penuh dengan keuangan. Uang belanja diberikan perhari hanya setiap akan belanja saja.
  3. Suami hanya memberikan separuh gajinya, separuh lagi disimpan sendiri.
  4. Suami hanya mengutip 10-20 % gajinya untuk bensin dan lain-lain, sisanya diserahkan semua kepada istri. (Lovely)
  5. Suami memberikan gaji ala kadarnya, sisanya terserah istri, mau ngutang atau berusaha mencari tambahan sendiri. Whatever
  6. Suami tidak memberikan gajinya tapi marah-marah kalo tidak ada yang bisa dimakan di rumah. Insane
  7. Suami memberikan gajinya tapi kemudian terus menuntut istri untuk memiliki penghasilan sendiri agar tidak perlu meminta lagi ke suami. What?!
  8. Suami menyerahkan semua gajinya yang tak seberapa tapi diam saja ketika gajinya naik dan bonusnya lebih besar 2x lipat dari gajinya.
  9. Suami menyerahkan semua gajinya tetapi selalu punya uang setiap ingin membeli semua keinginannya. Nah loh??
  10. Suami menyerahkan seluruh gajinya kepada istri dan mempercayai untuk mengelolanya. (Terdebest)

Kepercayaan dalam rumah tangga itu penting banget, bukan hanya tentang istri yang mempercayai kesetiaan suami, bertanggung jawab untuk keluarga dan lain-lain. Suami juga seharusnya ikut andil untuk mempercayai istri dalam tugasnya mengelola keuangan rumah tangga. Jika tidak adanya komunikasi, maka akan berakibat buruk bagi kedua pihak terutama soal keuangan. 

Apalagi jika sudah memiliki anak, kadang partner hidup kita lebih mementingkan kebutuhan buah hati ketimbang pasangannya. Padahal itu adalah salah satu bentuk perhatian yang tidak boleh luput dari pandangan kita begitu saja. Kadang saking sayangnya ke anak, sampai lupa dengan kebutuhannya sendiri. Padahal pada kesempatan itulah kita bisa memanfaatkan ketrampilan kita untuk saling memberikan perhatian lebih ke pasangan, dengan memberikan kebutuhannya terlebih dahulu sebelum ke anak. 

Tapi kalo kita sibuk ngurusin pasangan, nanti anak jadi terlantar dong? Kan kasian. Perhatian itu gak harus yang wah kok, dengan bertanya apa yang sedang dibutuhkan pasangan atau adakah yang sedang diinginkannya, itu aja rasanya udah bikin nyess.

Nah, yang jadi pertanyaaanya sekarang adalah, pasanganmu termasuk tipikal yang seperti apa, apakah termasuk dalam kriteria di atas atau malah masuk dalam kriteria lain? Dengan kriteria tersebut apakah kamu bisa menerimanya dengan lapang dada? Menerimanya dengan sukacita karena sesuai dengan keinginanmu? Mencoba memakluminya? Atau malah tidak terima tapi diam saja?

Sudahkah kamu minum yakult berkomunikasi dengan pasanganmu hari ini ? πŸ˜…

Ripple Effect karena Berbagi

14:42 32
Ripple Effect karena Berbagi


Belum lama ini, saya sempat melihat berita viral yang bersliweran di internet. Dimana seorang kakek tua pengusaha kaya dari solo, turun ke jalan ditengah pandemi yang sedang mewabah.

Demi upayanya untuk menebar kebaikan, beliau memutuskan untuk secara langsung menghampiri tukang becak, tukang sol sepatu, pedagang kecil, karyawan toko, anak yatim piatu, janda dan warga berpenghasilan rendah. Untuk diberikan 2 bungkus beras seberat 5 kg, serta uang sebesar 100 ribu rupiah/orang.

Terakhir diketahui, beliau membagikan 500 kg beras dan uang sebesar 10 juta rupiah untuk 100 orang yang tidak mampu, setiap hari dalam sepekan.


Dengan berkeliling dan membagikannya sendiri, beliau berharap apa yang dilakukannya dapat dicontoh oleh banyak pihak. Yang sekiranya memiliki kemampuan lebih dan juga mau memahami pentingnya arti kebaikan berbagi. Terutama untuk membantu saudara-saudara yang sedang terhimpit, di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk memperoleh penghasilan.

Tak terhitung yang mendoakan, begitu pula yang menghujat, tak pernah ketinggalan. Ada netizen yang bilang itu pamer atau riya', ada juga yang bilang demi kepentingan politik. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang, masih sempatkah kita mencari keuntungan dalam kesempitan? saya rasa, hal itu bahkan tidak penting lagi bagi si penerima.


Ketika Kita Berbagi, Kita Sebenarnya sedang Menerima 

Sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Professor Michael Norton di Harvard Business School menemukan bahwa, memberi uang pada orang lain lebih meningkatkan kebahagiaan orang-orang yang diteliti, ketimbang digunakan untuk keperluannya sendiri. Rasa bahagia itu akan lebih mudah membuat orang-orang untuk memberi atau menularkan kebaikan.

Pada 2006, Jorge Moll dan koleganya di National Institute of Health juga menemukan bahwa, ketika sesorang memberi atau menolong, hal tersebut mengaktifkan bagian-bagian otak yang terhubung dengan kenikmatan, koneksi sosial, dan kepercayaan yang kesemuanya menciptakan efek pendar yang hangat. Sehingga dapat mengeluarkan endorfin di otak dan menghasilkan sebuah perasaan positif yang disebut sebagai “helper’s high”.


“Berbuat baik dan murah hati akan membawa orang lain menjadi lebih positif dan lebih ingin berbagi,” - Buku The How of Happiness oleh Lyubomirsky -


Dua Tipe pada Diri Manusia

Tipe Pemberi
Ada orang yang senang memberi tapi juga berharap mendapatkan balasan. Dan akan kecewa jika terlalu banyak memberi tapi tidak mendapatkan apa-apa. Ada juga yang akan merasa berbahagia jika bisa memberikan sesuatu kepada orang lain (tanpa pamrih). Semakin banyak memberi semakin bahagia yang ia rasakan dan sebaliknya, mereka agak sulit menerima pemberian. 

Meskipun begitu, kaum pemberi pun masih ingin diberi. Seperti mengharapkan imbalan psikologis atau sosial, misalnya saja ucapan terima kasih, harga diri, dan kepercayaan dari orang lain. Hal ini tidak berlaku saat seseorang melakukan altruisme, yakni pemberi/penolong berkorban tanpa mengharapkan imbalan atas kesukarelaannya. Dan ini berasal dari motivasi dalam diri, tanpa memikirkan dampaknya bagi si penolong. Contoh konkretnya adalah, para pejuang yang bertempur di medan perang atau para tenaga medis dan sukarelawan yang sedang berjuang di garda depan, menghadapi pandemi covid 19 yang sedang terjadi sekarang.

Tipe Penerima
Beda halnya dengan si pemberi, si penerima merasa sangat berbahagia jika mendapat pemberian. Mereka merasa diperhatikan dan dihargai. Apalagi jika sering diberi dan mendapatkan dukungan, sering mendapatkan bantuan akan membuat mereka kadang lupa diri. Namun seiring dengan semakin banyak pemberian yang mereka dapatkan, maka keterikatan pun akan semakin dalam. 

Akan tetapi, tidak selamanya pemberian secara terus menerus akan membuat mereka nyaman. Jika mereka mendapatkan terlalu banyak, bisa timbul perasaan bersalah atau rasa tidak enak dalam diri mereka. Apalagi, jika selalu diperhatikan dan didukung tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk si pemberi. Dan mulai memiliki pikiran, takut untuk menyusahkan si pemberi.


Kebaikan Berbagi itu Menular

Hasil penelitian Proceedings of the National Academy of Science, yang dilakukan oleh James Fowler dari University of California, San Diego dan Nicholas Christakis dari Harvard menunjukkan bahwa, ketika seseorang berlaku baik dan murah hati, hal itu menginspirasi mereka yang mengamatinya, untuk bersikap baik ketika ia bertemu dengan orang lain.

Dan nyatanya, para peneliti memang menemukan bahwa perilaku mementingkan orang lain bisa menyebar hingga tiga lapis komunitas, di sekitar orang pertama yang melakukannya (ripple effect). Seperti ketika air terkena lemparan kerikil dan menimbulkan gelombang percikan air layaknya pola melingkar, berlapis-lapis dan semakin besar.

Ketika kita berbagi, kebaikan itu akan terus berlanjut seperti sebuah pertandingan lari estafet, dimana orang yang menerima kebaikan dari seseorang akan melakukan kebaikan juga bagi orang lain. Bila kita meyakini bahwa kebaikan adalah sebuah lingkaran, maka kebaikan yang kita beri dengan berbagi itu, akan kembali lagi pada kita. Meski akan kita dapati, lewat bentuk dan dengan orang yang berbeda.


Karena sesungguhnya, aktivitas memberi dan menerima ini sama-sama membuat bahagia dan menghadirkan rasa syukur.


Tak Ada Batasan dalam Berbagi 

Tidak hanya si kakek pengusaha kaya, para artis dan influencer Indonesia pun turut mengajak para followers-nya untuk ikut berdonasi, membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi.

Tidak tanggung-tanggung, melalui website tagar.id diketahui, donasi yang terkumpul telah berhasil mencapai angka nominal yang fantastis, dimulai dari angka 9 juta hingga 2,6 miliyar rupiah.

Selain itu, ada juga yang langsung turun ke jalan, membagikan alat pelindung diri (APD), sembako, uang, makanan dan memborong dagangan para pedagang kecil di pinggir jalan.


"Kita berbagi bukan karena kita kaya. Tapi karena kita tahu rasanya lapar dan nggak punya apa-apa."

Kata-kata ini mengingatkan saya, bahwa siapapun bisa berbagi kebaikan meskipun dengan keadaan  financial dan ruang gerak yang masih terbatas. Minimal kita bisa menyumbangkan tenaga atau pikiran, agar bisa bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan.

Contohnya saja seperti beberapa teman di facebook, yang memiliki ribuan follower. Mereka mempersilahkan siapa saja yang memiliki usaha, untuk mempromosikan dagangan mereka di kolom komentar secara gratis. Lalu, ada lagi beberapa blogger yang membuka kelas penulisan berbayar, yang nantinya akan disumbangkan untuk penggalangan dana COVID 19.

Ada juga yang berbagi ke beberapa teman yang membutuhkan, dan beramai-ramai mempergunakan jasa ojek online untuk melakukan pengiriman barang atau memesan makanan untuk mereka. 

Tidak sampai disitu saja, beberapa blogger turut membagikan masker dan hand sanitizer sekaligus menggalang donasi, bagi para tunawisma yang terdampak COVID 19. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang teman blogger bersama komunitasnya.

Dan semoga saja, dengan menuliskannya disini juga bisa menjadi cara bagi saya, untuk menebar kebaikan.


kita juga bisa menebar kebaikan disekitar rumah kita sendiri, seperti ibu saya misalnya. Setiap pulang dari pasar dengan berjalan kaki, beliau kerapkali mendatangi rumah tetangga yang ada di sepanjang jalan menuju rumah, untuk sekedar berbagi satu atau dua belanjaannya kepada mereka yang membutuhkan. Entah itu makanan, buah, lauk atau keperluan sehari-hari. Apalagi jika mereka datang ke rumah, biasanya akan mendapat oleh-oleh makanan atau apapun (selagi ada), untuk dibawa pulang.



Tepat Sasaran dalam Menebar Kebaikan

Begitu  banyak  orang  di  dunia  ini  yang  bersedia  memberikan  pertolongan  kepada sesama dan mengetahui artinya kebaikan berbagi,  akan  tetapi  tidak  semua perbuatan baik tersebut diketahui orang banyak. Beberapa diantaranya diketahui secara luas, justru karena tersebar di dunia maya.

Saya sering mendengar ada tetangga yang lebih mampu dan berkecukupan, mendapatkan sumbangan sembako dan surat keterangan miskin atau tidak mampu dari RT. Begitu juga setelah membaca timeline di social media, ternyata ada beberapa teman yang menyadari hal tersebut terjadi di sekeliling mereka.

Seperti di jaman ketika saya kecil, dimana teknologi informasi masih sangat terbelakang. Bantuan diumumkan di depan banyak orang, tapi hanya di sekitar lingkungannya saja. Seringnya jalan di tempat atau malah berhenti di beberapa orang. Informasi yang didapat pun belum tentu sampai ke orang yang berhak menerima. Selebihnya hanya di sampaikan dari mulut ke mulut dan biasanya sudah terlambat. Siapa cepat, maka dia yang dapat.

Dulu sekali, saya sering bertanya-tanya. Mengapa banyak tetangga yang mendapatkan sumbangan uang, barang, zakat atau daging kurban saat hari raya, sedangkan kami tidak. Padahal, jika dibandingkan dengan tetangga sekitar, keadaan kami pada saat itu cukup menyedihkan. Karena orangtua saya hanya mengandalkan warung kecil sebagai mata pencaharian dan sempat menganggur karena bangkrut. Tidak ada lagi yang bisa dijual akibat dampak krisis moneter tahun 1998. Sementara ada 8 orang anak yang menunggu untuk diberi makan. 

Setiap kami protes karena tidak kebagian jatah sumbangan, Ibu saya selalu menjawab, "biarkan saja, mungkin disini lebih banyak yang hidupnya lebih susah dari kita." Dengan prinsip bapak yang juga tidak ingin harga dirinya jatuh karena meminta-minta, kami yang masih kecil pun jadi merasa semakin tersudutkan dari lingkungan, karena tak ada yang peduli.

Teringat kembali ketika saya menginjak bangku SMA. Ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa untuk anak tidak mampu. Yang membuat saya tidak habis pikir, beasiswa itu baru diketahui teman-teman yang lain justru setelah dana beasiswa itu dibagikan ke para penerima (tidak diumumkan). Yang nota bene, si penerima terpilih bahkan jauh lebih mampu, dari teman-teman yang saya ketahui betul bagaimana kondisi keluarganya.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika saya sudah bekerja, seorang kenalan berhasil mendapatkan surat keterangan miskin untuk mendapatkan beasiswa, sedangkan statusnya saat itu adalah seorang mahasiswa kedokteran bonafide, dengan dukungan fasilitas dan finansial dari Orangtua yang bisa dibilang lebih dari cukup. 

Menebar Kebaikan melalui Dompet Dhuafa

Agar bantuan kita bisa disalurkan kepada mereka yang memang membutuhkan dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya, kita bisa menjadikan Dompet Dhuafa sebagai wadah untuk berdonasi. 

Karena Dompet Dhuafa (DD) adalah Lembaga Amil Zakat milik masyarakat, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta Dana Sosial Kemanusiaan lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan sejak tahun 1993. 

Donasi yang dikelola juga mampu mengentaskan kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi. Mereka bukan saja “memberi ikan”, namun “memberi kail” dan melatih para penerima donasi, agar mampu bertahan bahkan berpindah dari penerima menjadi pemberi donasi (ripple effect).




Selain karena memiliki 5 pilar program utama yang memiliki tujuan besar dalam mengentaskan kemiskinan, Dompet Dhuafa juga menggunakan data penerima manfaat dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), berdasarkan Sensus Penduduk, Survei Sosial Ekonomi dan Potensi Desa (PODES). TNP2K juga mendata rumah tangga lain yang diduga miskin berdasarkan informasi dari rumah tangga miskin lainnya (dengan melakukan konsultasi bersama penduduk miskin selama proses pendataan), serta hasil pengamatan langsung di lapangan. Jadi, dipastikan tepat sasaran dan bisa dipertanggungjawabkan.


Di masa pandemi seperti sekarang, kita mengalami kesulitan untuk berbagi karena diberlakukannya kebijakan Work From Home (WFH), School From Home (SFH), Stayathome, Physical Distancing, Social Distancing, PSBB dan lain-lain, demi untuk memutus rantai penyebaran wabah COVID 19. Yang secara tidak langsung, berdampak besar dari segi ekonomi, khususnya bagi masyarakat menengah kebawah. Seperti contohnya, mereka yang menggantungkan hidup dari pendapatan sehari-hari, dengan pekerjaan yang mengharuskan untuk berinteraksi dari jarak dekat dan berada diantara orang banyak.




Karena itu, Dompet Dhuafa juga membuka donasi berupa sembako bagi masyarakat yang terdampak Corona. 


Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat disini. Jika ingin menyalurkan bantuan berupa dana, cukup dengan mengklik  :  https://donasi.dompetdhuafa.org 




Disana kita bisa langsung mengisi data dengan memilih Jenis Donasi. Apakah itu Zakat, Infak/Sedekah, Kemanusiaan, Wakaf dan lain-lain. Setelah itu, mengenai Pengkhususan Donasi, apakah itu Zakat Maal, Zakat Fitrah, Zakat Penghasilan atau Fidyah. 
Lalu, kita tinggal mengisi Informasi lengkap Profil Donatur dan memilih metode pembayaran. Setelah selesai, tinggal klik Donasi Sekarang! Lalu akan terbuka halaman informasi pembayaran, yang juga akan kita terima melalui email. Setelah melakukan transfer, kita tinggal mengkonfirmasi pembayaran dengan mengupload bukti transfer.  
Informasi dan Konfirmasi :
  • Call Center 021-7416050
  • SMS 0812 1292 528
  • Email layandonatur@dompetdhuafa.org
  • www.dompetdhuafa.org




Referensi :
# Shadiqi, M. A. 2018. Perilaku Prososial. Dalam A. 
   Pitaloka, Z. Abidin, & M. N. Milla (Eds.), Buku psikologi sosial, pengantar teori dan penelitian 
   (227-260)
# https://greatmind.id
# https://pijarpsikologi.org
# Dompet dhuafa.org
# https://bdt.tnp2k.go.id
# Liputan6.com

Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

08:32 21
Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

"Kita mungkin dirumah terus, tapi ternyata duit gak mau ikut diem di rumah. Malah keluar terus." (Entah siapa yang bilang itu di Instagram kemaren, lupa saya).πŸ˜‚

Kita bisa berhemat untuk urusan transport, anak-anak gak minta jajan, stop jalan-jalan bahkan stop laper mata di mall sewaktu weekend. Tapi, sekalinya ngendon di rumah, eh jadinya malah pengen ngemil terus, yekan.

Kegiatan masak-memasak di rumah pun belum tentu juga bisa berhemat. Kadang, bahannya juga gak bisa dibeli sedikit ato malah bersisa banyak tapi hampir gak pernah dipake, jadi rusak, layu sampe kadaluarsa. Sedangkan kalo yang mateng masih bisa dibeli dengan porsi sedikit dan juga bermacam-macam, tanpa harus menghidangkan masakan rumah yang itu lagi, itu lagi. Lalu kemudian makanan yang udah gak 'fresh from the oven" itu pun terlupakan.

Yang begitu itu pasti bikin bosen dan ujung-ujungnya jadi males makan. Dipastikan, bakal tambah pusinglah emaknya (pengen irit malah jadi pailit)πŸ˜‚. Belum lagi biaya untuk menjaga imunitas yang perlu dioptimalkan seperti sekarang ini, alat kebersihan dan alat kesehatan termasuk obat-obatan yang harus di stok di luar kebiasaan, (karena orang-orang di rumah, semuanya lagi pada ngedrop) bikin keuangan membengkak, sebengkak-bengkaknya karena terinfeksi harga yang melonjak dengan sangat drastis. 

Demikian uneg-uneg saya, di minggu pagi yang cerah ini.  πŸ˜‚


Sejak diberlakukannya #stayathome, udah berasakah atmosfernya? Udah mulai gak betahkah? Pengen kesini, pengen kesitu? Pengen ngumpul, makan ini, makan itu? Pastinya udah ada yang nyampe level jenuh, suntuk, bosen, setengah bosen, kali yak. Atau, malah biasa aja, bahkan menikmati? Ada?

Jarum timbangan udah geser ke kanan blom? Skill memasaknya pasti udah pada naek level, yak. Buat yang suka film atawa drama, udah mecahin rekor berapa biji nontonnya? Eh, kuota juga. Udah abis berapa giga tuh? (Kok ini kayak nanya diri sendiri, yak). πŸ˜…

Salah satu hal penting yang akan saya bahas disini adalah semoga dibukakannya, mata hati mereka-mereka yang tidak tau atau malah tidak peduli tentang segala keruwetan yang ada di dalam pikiran para ibu rumah tangga (yang jarang bersosialisasi dan ibu yang mendedikasikan waktunya selama 24 jam untuk mengurus keluarga). Semoga mereka bisa menyadari bagaimana suntuknya tidak bisa kemana-mana ketika ruang gerak dibatasi, seperti yang terjadi pada setiap orang di masa pandemi seperti sekarang. 

Karena begitulah yang seorang Ibu rasakan, #stayathome bukan dalam hitungan minggu atau bulan saja, tapi tahunan. Berjibaku di dalam rumah, menghadapi segala keruwetan tak berujung, setiap hari dan berulang-ulang. Pengen kemana-mana gak bisa, apalagi mo ngapa-ngapain dikarenakan anak-anak yang masih pada kecil, atau malah karena para abegeh yang belum mandiri meski udah beranjak dewasa. 

Ditambah lagi dengan adanya wabah, bukan hanya keriweuhan saja yang semakin bertambah karena harus mendahulukan seabrek kewajiban. Tapi juga butuh tenaga ekstra untuk menjaga kebersihan, kesehatan keluarga, mengatur pola makan agar semua anggota keluarga bisa tetap sehat dan terjaga nutrisinya. Walaupun keuangan kadang morat-marit, yang paling penting anak-anak tidak menderita kelaparan.

Kendatipun demikian, dengan adanya wabah ini setidaknya ada hikmah yang bisa kita ambil. Beban pikiran seorang Ibu akan menjadi terasa lebih ringan, karena anggota keluarga sudah dengan sendirinya menyadari, dan mulai terbiasa untuk menjaga kebersihan, kesehatan serta pola makan. Tidak lagi harus diingetin terus, sampe harus diomelin berkali-kali, nurut tapi setelah itu males lagi, lupa lagi. Karena kadang anak lebih suka ngedengerin omongan orang lain, ketimbang Orangtuanya sendiri. (Mungkin karena sering diomelin, yak). πŸ˜‚

Efek samping dari stress dan keruwetan seorang Ibu itu biasanya akan berujung menjadi kegemukan atau overweight hingga obesitas. Karena apa? Yah itu, bisa jadi salah satunya karena kelamaan di rumah, gak bisa kemana-mana jadi bingung mo ngapain lantas jadi mageran, tapi pengen juga melakukan sesuatu biar gak ngerasa jenuh dan cepat bosan meskipun kegiatannya hanya dilakukan di rumah. Karena sayang juga kan, membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Nah, biasanya yang paling gampang itu, yah dengan menyelami apa yang menjadi aktifitasnya sehari-hari. Dari yang paling terdekat saja, misalnya makanan. Makanan dengan mudah bisa diakses, entah dari kulkas atau stok makanan yang ada di lemari. Kalopun gak ada semua, dengan bahan-bahan seadanya dan alat memasak yang tersedia, bukan tidak mungkin seorang ibu jadi semakin kreatif demi sebuah camilan.  Jika udah bener-bener gak ada lagi bahan untuk dimasak (zonk) dan gak bisa keluar untuk belanja, tinggal pesen makanan secara online aja, beres toh. πŸ˜‚

Tuh kan, ampe dibikin gak ada lagi aral merintang di dunia emak-emak, gegara soal fasilitas permakanan ini, yekan. Blom lagi foto-foto atau resep makanan yang banyak bersliweran di internet. Obsesi tentang makanan pun semakin membara jadinya, yak. πŸ˜‚

Makan menjadi hal yang membuat ketagihan dan tak jarang seorang Ibu rumah tangga mengabaikan efeknya. Kenapa? karena ternyata bisa menggantikan banyak kebahagiaan yang tidak dia dapatkan setelah menikah. 

Dulu banget, pernah saya bahas sedikit tentang ini, dari bukunya John Gray, P.hD. Bahwa makan merupakan Salah satu pembunuh rasa sakit para Istri.

Sedikit banyak isi bukunya seperti ini :

"Makan merupakan sebuah pengganti yang mudah untuk cinta. Semakin dia banyak makan, untuk sementara waktu dia dapat menekan perasaan-perasaan tidak aman yang menyakitkan yang muncul dari sisi kewanitaannya. Sampai dia menemukan suatu cara untuk memuaskan dan secara langsung memupuk sisi kewanitaannya secara teratur, dia akan terus menggunakan makanan sebagai pembunuh rasa sakit. 

Dengan mematirasakan perasaan-perasaan itu, kemampuannya untuk bercinta diteduhkan, dan menemukan kelegaan. Kecenderungan ini disebut sebuah “Penggantian kebutuhan”. Jika dia tidak dapat memperoleh apa yang betul-betul dibutuhkannya, kebutuhan nyata itu digantikan oleh kebutuhan lain yang tampaknya lebih gampang diperoleh, seperti makanan. Sebelum kehausan akan cinta itu dipuaskan, dia akan terus merasa lapar. Kadang-kadang dia bahkan mampu menipu dirinya sendiri untuk sementara waktu dengan keyakinan bahwa dia cukup bahagia dan tidak perlu berbicara atau berbagi rasa dalam suatu hubungan untuk membangun kebahagiaan bersama pasangan." 

Tidak hanya itu saja, menurut salah seorang Ahli GiziWanita yang menjadi gemuk setelah menikah dan punya anak itu, bukanlah karena keturunan, "Yang turun temurun itu kebiasaan makan dan budaya makan dalam keluarga" (apalagi kalo banyak stok makanan dirumah, tambah semangat itu, yak).πŸ˜…Hal itu sangat fenomenal, karena terjadi di seluruh dunia dan berulang-ulang pada generasi selanjutnya.

Gemuk setelah melahirkan dan menyusui itu masih wajar menurut saya, yang tidak wajar itu gemuk seumur hidup. Kendatipun sekarang sudah banyak wanita yang berusaha dan keluar dari lingkaran tersebut, dengan menjaga pola makan dan hidup sehat seperti olahraga serta mengelola pikiran agar tidak gampang stress, tapi masih saja ada yang pasrah dan menganggap gemuk itu wajar setelah menikah dan punya anak.

Ada juga yang berusaha untuk kembali ke body asal sebelum menikah atau sekedar mencoba mengurangi lemak di tubuh tapi gagal karena kurangnya dukungan dan motivasi dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada akhirnya dia menyerah, tidak berbuat apa-apa lagi dan berusaha menerima dirinya apa adanya. Padahal, dipastikan banyak penyakit yang akan mengintai dan berdatangan jika hal tersebut dibiarkan begitu saja.

Meskipun banyak juga yang melangsing tanpa memperhatikan pola makan, bisa saja itu terjadi karena kurangnya nutrisi akibat sembarang diet atau karena sakit. Saking banyaknya yang dipikirin atau karena ketidakmampuan dan kurangnya fasilitas untuk memperoleh makanan, IMO.

Beberapa tahun yang lalu, teman saya meninggal dunia. Dia menghembuskan nafas terakhir, setelah melahirkan anak pertamanya. Lalu, beberapa tahun setelahnya, teman kental saya, meninggal dunia akibat pecah pembuluh darah di otak. Lalu kemudian tak lama berselang, saya pun tak sengaja menonton di sebuah acara berita selebriti, bahwa Mike Mohede pun telah berpulang. Lalu kemudian satu-satunya paman saya juga menyusul karena penyakit di usus.

Dan baru saja dua minggu yang lalu, Ibu tetangga depan rumah turut menyusul karena sakit tumor usus, setelah sebulan sebelumnya mbak penjual sayur langganan saya berpulang karena tekanan darah tinggi dan terakhir Ibu tetangga samping rumah yang menderita penyakit komplikasi. Selain itu, masih ada dua tetangga lagi yang sedang sakit parah. (ini yang hanya di lingkungan rumah saja, belum di lingkungan keluarga dan lain-lain).

Kamu tau apa kesamaan mereka? Sama-sama mengalami overweight hingga obesitas.

Menurut John Gray, PhD. Kemudahan, kenyamanan, kelancaran, rasa aman, riang gembira, rekreasi, kenikmatan dan keindahan, semuanya memupuk sisi kewanitaan tetapi diet tidak. Program diet dengan memakan lebih banyak makanan berkadar lemak rendah dan berolahraga jelas merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi berat badan. Namun pemecahan paling efektif adalah hubungan yang lebih membangun kebahagiaan dan gaya hidup yang lebih santai dan tidak banyak beban.

Karena itu, "Untuk mendukung seorang wanita, pria harus memahami bahwa, jauh didalam lubuk hati, wanita ingin beristirahat, merasa lega dan menyerahkan kepada seseorang yang dipercayainya untuk mengasuh dan mendukungnya. Inilah kebutuhan batiniah sejati sisi kewanitaan."  - John Gray, PhD.

Tulisan isi saya buat karena merasa sangat prihatin dengan keadaan ini, mengingat mayoritas ibu-ibu disini mengalami hal seperti itu (saya termasuk gak yah, hmm..)πŸ€”πŸ˜‚.

Dan juga, karena merasa tertohok (tersentil tepatnya πŸ˜‚) dengan kalimat ini :


"Siapa yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka dia tidak bisa mengendalikan pikirannya." – Ali bin Abi Thalib


Yang berarti makan berlebihan itu, adalah salah satu ciri bahwa saya tidak bisa mengendalikan diri.  Ckckck.. πŸ˜…

Santuy & Corona

13:16 0
Santuy & Corona


Pernah gak sih, kamu ketemu orang - orang yang malas menjaga kesehatan dirinya, susah banget kalo diomongin. Eh, pas dia jatuh sakit, eh dia yang paling manja, paling cerewet, paling heboh dan paaling - paling dari yang laen. Sampe nyusahin orang laen yang kadang sakitnya malah lebih parah.

Nah itu, salah satu hal yang paling mengingatkan saya dengan beberapa, sebagian, rata - rata bahkan mayoritas, atau mungkin hanya sebagian kecil warga +62? Entahlah, jumlah penduduk negeri ini kan banyak, yak. Beda-beda pula.

Apakah kamu salah satunya? Semoga aja gak, yah πŸ˜….

Kebiasaan "Santuy" ini pernah menjadi "kesan pertama" yang diterima para Vlogger luar. Yang mereka dapatkan secara langsung dari warga +62 di negeri tertjinta inih, juga dari warga +62 yang menetap di negara lain (gak semuanya tapi ada).

Bagi mereka yang melihat dari sisi positif, kesan santuy ini bagus dari sudut pandang ketika kita bertawakal dan berserah diri, tidak melulu terobsesi mengejar dunia yang hanya membuat kita lelah dan stress dalam menjalani hidup. Karena bagi seorang muslim, kalian tentu tau sebenarnya untuk apa kita diciptakan dan apa yang menjadi tujuan hidup kita sebenarnya, bukan.

Saking berkesannya perilaku warga +62 tentang bagaimana menghadapi hidup dan berinteraksi dengan orang lain, membuat sebagian dari mereka (orang luar) pun tergugah dan ingin menapaki jalan yang sama, yaitu dengan menjadi seorang mualaf. Tidak tanggung - tanggung, apa yang mereka pelajari bahkan lebih dalam dari seorang yang sudah menjadi muslim sejak lahir.

Karena warga +62 adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim atau beragama islam. Entah itu hanya di KTP ataupun tidak. Negeri tertjinta ini telah berkembang menjadi negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Otomatis, agama yg sudah ada sejak jaman nenek moyang ini, berpengaruh besar pada budaya dan adat istiadat bangsa kita.

Budaya rasa bersyukur dan tawakal yang sudah mengakar ini, seringkali disalahartikan (atau sebenernya, emang malas mengartikan) dari beberapa pihak atau oknum2 yang mageran, manja, egois, dan mau enaknya sendiri. Sehingga arti Santuy yang hakiki pun ternodai.

Kita wajib berserah diri setelah kita berikhtiar, dengan berdo'a dan berusaha sebaik-baiknya, lalu santuy kemudian. Begitulah langkah yang tepat, bagaimana seharusnya kita memfungsikan kata santuy ini, menurut saya.

Lalu, tiba-tiba kegiatan santuy ini belakangan begitu merebak, bukan hanya kata - katanya yang mendadak populer tapi juga kelakuannya. Menjadi kosakata baru, perbendaharaan kata 'anak jaman now warga +62', lalu menjadi hastag, taggar di berbagai akun sosmed, hingga menjalar ke aspek-aspek lain.

Ketika sedang berada di masa pandemi seperti sekarang ini, justru sisi negatif budaya santuy pada aspek kesehatan pun kian mencolok dan menjadi boomerang, bagi bangsanya sendiri.


"Biasanya, kalo belum kena batunya belum nyesel".



Mayoritas orang akan merubah pola makan hanya ketika, mau nikah, udah sakit parah, udah mau mati. Intinya ketika udah kepepet baru mau berubah. Begitu kata Bang @rizalnutritionist, lewat akun Instagramnya.


Itu baru dari pola makan. Belum yang lain, seperti menjaga kebersihan atau melakukan Germas seperti yang sudah dicanangkan pemerintah sejak lama. "Herannya, hal tersebut kan manfaatnya yang dapet dirinya sendiri. Tapi kok yah susah banget, kayak berasa berat ngejalaninnya gitu."

Mereka lebih senang mengikuti egonya, seolah punya prinsip sendiri, alih alih rasa malas. Selain karena faktor kehidupan serba instan seperti sekarang ini. Dimana - mana serba praktis, mo nyewa ART 10 orang pun santuy, ada perawat, dokter pribadi, dipersilahken, asalkan punya duit. Nah ini, jangankan duit, kerjaan gak punya, gaya selangit hasil nodong Ortu, diminta jaga kesehatannya sendiri aja gak mau. Yang ujung-ujungnya siapalagi yang bakal direpotin, kalo gak Ortunya sendiri. Kecuali mereka yang mungkinlah supersibuk, gak sempet lagi atau bahkan lupa menjaga kesehatan dirinya karena kelelahan menjaga kesehatan orang - orang disekitarnya, adaaa.

Atau karena terbatasnya fasilitas dan keuangan yang tidak memadai, bisa makan saja sudah bersyukur luar biasa. Tapi tak jarang kok, justru mereka - mereka yang seperti ini malah lebih telaten dalam urusan hidup sehat dan menjaga kebersihan. Walau fasilitas kurang, seperti tidak adanya pasokan air karena hanya mengonsumsi air dari sumur atau sungai yang kadang mengering di musim kemarau. Atau tinggal di rumah gubuk yang notabene cepat rusak dan tidak awet, tidak seperti bangunan rumah gedong.

Karena ketidakmampuan dan ketidakpunyaan yang dibalut rasa syukur itulah, yang justru mendorong mereka untuk menjadi kreatif dan semakin menjauh dari rasa malas serta lebih menghargai diri sendiri.

Kesehatan itu adalah Mahkota yang bersemayam di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit - Dr. Aidh Al-Qarni

Jumat kemarin disini, telah diumumkan bahwa 1 orang positif. Lalu kemudian bertambah yang ke 2. Dan dari bisik - bisik tetangga (seorang perawat yang tidak saya kenal) di sebuah warung sayur, ternyata sudah ada 4 yang meninggal tapi tidak diumumkan, demi menjaga ketenangan lokal dari kepanikan berjamaah, mungkin.

Tak lupa, dengan kesigapan emak2ser dalam membagikan info - info dan video yang lumayan mengguncang, khususnya budaya santuy nya warga Italia hingga menjadi yang terparah. Barulah terasa senyap, tak ada yang berlalu lalang. Tak ada bapak-bapak yang ngerumpi di depan masjid, tak ada anak-anak yang berkeliaran karena lepas dari pengawasan Ortu. Meskipun masih saja ada yang berusaha mengajak anak - anak mengaji di Masjid. Mungkin, itulah saat yang tepat untuk sharing - sharing atau bahkan berita hoax yang menurut saya mengerikan, perlu dibagikan.

Karena harus menunggu ada yang mati dulu, baru hati tergerak. Padahal pengisolasian diri sudah berjalan 2 minggu disini. Dan sekarang, diperpanjang lagi menjadi 5 minggu, mengingat situasi dan kondisi yang belum kunjung membaik.

Note :
Kata Santuy dipopulerkan oleh Youtuber bernama Qorygore, yang bermakna Santai. Walaupun tak terdaftar dalam KBBI, akan tetapi kata santuy sering digunakan oleh kebanyakan anak anak gaul untuk menggantikan kata santai.  Santuy juga bisa dimaknai sebagai pengantar kata untuk bebas, dimana bebas untuk melakukan sesuatu tanpa adanya ketegangan dan juga kekangan dari siapapun sehingga hidup dengan pembawaan yang santai dan lepas dari semua kepenatan yang ada layaknya seperti hidup di pantai yang tenang dan nikmat. astor.id

Kenali 7 hal tentang Lelaki sebelum Menikah

06:53 16
Kenali 7 hal tentang Lelaki sebelum Menikah
Kenali 7 Hal tentang Lelaki sebelum Menikah

"Ternyata dia berubah, dulu dia so sweet banget, perhatian dan gak pelit. Mau berkorban apa aja buat Gue. Padahal dulu Gue gak terlalu suka-suka amat ke Dia. Malah sebenernya gak cinta. Tapi karena sikapnya yang lembut dan gak gampang menyerah, akhirnya Gue mau-mau aja diajak ke pelaminan meskipun dia gak punya apa-apa."

Hayooo... siapa pernah merasakan perasaan seperti ini? atau malah sedang mengalaminya sekarang? 

Ada beberapa emak-emak yang bercerita tentang penyesalan terdalamnya ke saya (banyak juga sih sebenere). Yang kisah cintanya berawal seperti curhatan di atas. Namun setelah sekian lama menjalani pernikahan, ada yang baru ketauan bohongnya dan ada yang baru ketauan ternyata mereka berbeda prinsip. Bahkan ada juga yang sering bentrok karena ternyata mereka tidak satu visi dan misi, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. 

Dan sayangnya, meski di luar terkesan baik-baik saja, namun tidak dengan otak dan hatinya. Karena bisa saja mereka sedang "lupa". Lupa untuk mencoba memahami dan melihat dari sudut pandang pasangan. Alih-alih ingin membahagiakan, yang terjadi justru dia malah mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri. Hingga akhirnya down. Saking lelahnya memberi banyak hal yang sama seperti yang dia inginkan dari pasangan tapi tidak mendapatkan feedback sesuai harapan, atas semua usaha dan hal baik yang sudah ia lakukan. Karena pada kenyataannya, apa yang dibutuhkan pasangan ternyata berbeda. 

Apa yang sebenarnya dibutuhkan laki-laki, belum tentu merupakan kebutuhan paling utama bagi perempuan dan begitu juga sebaliknya. Sehingga  membuat sebuah "pengorbanan yang dilakukan demi cinta" (meskipun kadarnya sangat besar menurut versi diri kita) ternyata tidak terlalu penting di mata pasangan. Alhasil, kita jadi merasa seolah tidak dianggap. πŸ˜…

Nah, buat cewek-cewek dan juga cowok-cowok yang sekiranya mau mempersiapkan diri naek ke level lebih tinggi, dari single menuju double. Sebelum menyesal dan berhenti di tengah jalan, "bahkan loncat ke laut" (memilih berpaling ke yang lain atau berpisah) alias kecewa, karena sudah berpikir memilih pasangan berdasarkan tebak-tebak buah manggis ato malah seperti membeli kucing dalam karung akibat merasa sendirian. Di saat kapalnya (pernikahannya) mulai oleng dan mau tenggelam (mbok yah kalo bisa, dipikirkan duluuh...)πŸ˜©πŸ˜….

Maklum kalo udah terlanjur cinta, batas antara fantasi dan logika itu jadi rada ngeblur. Begitu saling mendekat dalam naungan pernikahan, semuanya akan jadi terlihat tajam dan jelas, entah itu hal yang baik atau buruk di mata pasangan. Emang baiknya kita juga mengupgrade diri dulu yak, agar nantinya tidak ikut saling mengecewakan pasangan. 

Selain itu, hal penting lain yang harus kita lakukan adalah menggali informasi yang akurat, tentang siapa sih sebenernya orang yang akan bersama kita mengarungi lautan pernikahan. 

Nah biasanya, kalo udah mau menjelang hari raya kayak gini, dari jauh-jauh hari (yang lagi pada jomblo nih, khususnya cewek-cewek) pasti udah ada niat atau malah nyiapin target khusus, semacam diet ato nabung misalnya. Biar ntar lebaran bisa tampil lebih eksis. Demi apa? Kebanyakan sih, ya demi menggaet pujaan hati (buat yang lagi nyari) ato malah pengen segera dilamar? yekan. 🀭

Tapi disini saya gak lagi ngasih tips diet sih, soalnya saya juga sedang berjuang πŸ˜…πŸ˜‚, kalo pengen tau diet yang benar dan sehat, dan juga berhasil, tips terlengkapnya bisa diliat disini, yak. πŸ˜‚

Berdasarkan pengetahuan dan pendapat saya sebagai seorang perempuan (yaah, sekedar untuk berbagi). Inilah 7 hal yang harus dikenali dari seorang lelaki atau calon suami sebelum memutuskan menikah (Of course, sangat bisa banget dijadikan acuan dan sumber informasi penting untuk para cowok-cowok juga, yah). 🀭

Warning : Jika ingin tahu lebih dalam dan lebih jelas, silahkan berkonsultasi ke Tenaga profesional/Ahli atau Konsultan Pernikahan yak, πŸ˜…πŸ˜‚ .


1. Lingkungan

Ketahui orang-orang yang ada disekelilingnya, bagaimana pergaulannya (yang sebenarnya yak) bukan hanya yang nampak atau yang terlihat oleh mata kita saja, tapi semuanya. Apakah masuk dalam kriteria lelaki idamanmu atau tidak, serta kebiasaan-kebiasaannya yang mungkin bisa di tolerir atau bahkan tidak sama sekali. Banyak-banyaklah melihat melalui mata orang lain.

Karena dalam Hadist juga telah disebutkan :
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


2. Keluarga

Perhatikan bagaimana hubungannya dengan Orangtua, baik itu dengan Ayah, Ibu dan Saudara-saudaranya. Yang paling penting, bagaimana komunikasi diantara mereka, terutama interaksi antara Ayah dan Ibunya. Karena biasanya, kebiasaan mereka saling memperlakukan satu sama lain akan menurun, terjiplak ke alam bawah sadar anaknya, entah itu baik ataupun buruk. Mau tidak mau, karena anak adalah "Peniru yang ulung".

Banyak juga (Si Anak) yang menyadari hal tersebut (yang buruk) menurun ke dirinya, meskipun sering mencoba mengendalikan diri, namun self control kadang terabaikan ketika sedang berada di titik terendah (namanya manusia, yak). Tapi, jika kamu bisa menerima kekurangannya (masih dalam kategori wajar dan manusiawi) its okey, gak masalah sama sekali. Yang paling penting kamu bisa merespon tindakan-tindakan buruknya dengan cara yang tepat, agar kedua pihak bisa mendapatkan win win solution.


3. Pendidikan

Pendidikan sangat berpengaruh dalam cara berpikir. Seorang pemimpin dalam rumah tangga haruslah bisa menjadi seorang teladan yang baik bagi istri dan juga anak-anaknya. Untuk bisa memberi contoh yang baik, dibutuhkan ilmu dan pemahaman agar mampu mendapatkan kepercayaan. Selain bisa menyikapi masalah dengan lebih bijak, menjalani hidup berkeluarga akan jauh lebih teratur dan lebih terarah.

Dengan ilmu, kita tidak mudah goyah, kendatipun saat melewati benturan-benturan ketika diterpa badai masalah. Condong untuk berpikir positif, karena sudah memiliki bekal "Pendidikan Berkeluarga" yang cukup. Perbedaan kualitasnya sangat besar, jika hanya dijalani dengan cara "mengalir aja" atau dijalani aja".

Dan jangan lupa, ini juga berlaku untuk diri sendiri, yak. πŸ˜‚


4. Keuangan

Seorang lelaki yang bisa mengatur keuangan itu, diharapkan bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Yang mana yang dibutuhkan saat itu dan yang mana yang masih bisa ditunda. Dan tonggaknya adalah keterbukaan.

Pernah baca, "Kesetiaan wanita diuji saat lelaki tidak punya apa-apa, tapi kesetiaan lelaki diuji saat dia memiliki segalanya." ?

Walopun itu tidak bisa di sama ratakan untuk setiap orang, namun sebagai selfreminder, hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena banyak sekali contoh kasus serupa yang terjadi disekitar saya. Si Lelaki karena merasa berkecukupan dan memiliki banyak kesempatan, menganggap enteng hubungan dengan mencari wanita lain. Sedangkan Si Perempuan, karena mungkin tidak tahan atau tidak sanggup lagi menjalani hidup serba kekurangan, akhirnya memutuskan untuk berpisah. Lebih memilih untuk mandiri dan sendiri, karena kurangnya empati dan perhatian dari pasangan termasuk dalam urusan finansial. Yang kesemuanya adalah nafkah lahir dan bathin yang tidak diberikan pasangan, padahal Si Lelaki memiliki kemampuan tapi tidak dalam hal kepekaan.


Jadi, lebih baik sengsara di awal tapi "happy ending" (membekali diri dengan ilmu sebanyak-sebanyaknya sebelum memutuskan untuk melangkah lebih lanjut, yaitu pernikahan) daripada bahagia hanya diawal, merasakan masa-masa indah hanya ketika baru jadi pengantin baru. Lantas kemudian, kehidupan pernikahan berubah menjadi keruh bahkan membelenggu, jika malas mengupgrade diri.

Cinta itu buta. Kalo tidak buta, berarti kamu gak cinta dong? Ah, Kata siapa? Seorang buta masih bisa menggunakan tongkat sebagai penunjuk arah dan telinga untuk mendengar. Apalagi ini hanya buta sesaat. Setelah sekian lama menikah, perhatian atau kepercayaan itu biasanya akan banyak berkurang kadarnya, akal dan pikiran akan mulai kembali menghampiri ambang logika.


5. Masa Lalu

Dari beberapa contoh kasus yang pernah saya dengar, ada juga lelaki yang kedapatan tidak jujur tentang masa lalunya. Yah, takut ditolak atau takut diputusin, mungkin? Masa lalunya itu bakal berefek ke masa depan pernikahannya karena tidak adanya keterbukaan dari awal, dan dipastikan tidak akan ada ketenangan dalam pernikahan, kecuali kita memang berusaha menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Dan siapa lagi yang harus mengorbankan perasaan, jika bukan dari pihak perempuan. Apalagi ini seperti kasus salah seorang teman saya, yang suaminya masih dikejar-kejar mantan pacar, hingga akhirnya tergoda lagi sampe punya anak dan kemudian menikah siri. Yang parahnya lagi si mantan yang sudah dinikahi ini, berapa kali menyambangi rumah teman saya untuk mencari suaminya. Berapa kali gontok-gontokan dan harus dilerai oleh Bu RT. Belum lagi bully-annya di Sosmed terhadap teman saya inih, karena salah satu anaknya adalah ABK (akun suaminya dibajak Si mantan). 

Ada juga kasus lain, dimana si mantan istri selalu berusaha menemui mantan suaminya yang baru saja menikah lagi, si istri baru (teman saya) sebelumnya tidak tau kalo suaminya ini seorang duda yang sudah dua kali menikah dan punya anak. Keluarga dari pihak suami pun tak ada yang mau buka mulut, semua informasinya didapat dari tetangga sekitar dan keluarga jauh. Belum lagi pandangan buruk dari tetangga (sahabat-sahabatnya si mantan istri) yang menganggap si istri baru ini seperti layaknya seorang pelakor.


6. Kesehatan

Demi untuk menghindari kemungkinan terburuk, kita juga harus memperhatikan sejauh mana kesehatan pasangan kita. Kadang, ada yang karena emang sudah cinta mati, yah nerimo.

Asalkan kamu paham dengan konsekuensinya, yah tidak mengapa, yang penting semuanya sudah dipertimbangkan dengan baik dan matang.

Namun, apakah hal tersebut akan berpengaruh kepada keturunan anak cucu kita? atau tidak? atau Bagaimanakah pendapat Orangtuamu? Apakah kamu bersedia selalu mengurus pasanganmu disaat sakit? Apakah kamu sudah mempersiapkan mental yang kuat untuk menjalani hidup seperti itu? 

(Lain halnya jika itu terjadi setelah menikah, yak.)

Coba berpikir dengan logika dan belajar dari orang-orang lama. Atau mungkin, untuk mencoba melihat langsung dari orang-orang yang memiliki kehidupan pernikahan seperti itu. 

Karena cinta itu, tidak hanya sebatas keinginan untuk bersama, tapi juga untuk kebaikan bersama.


7. Cara Berkomunikasi dengan Lawan Jenis

Point ketujuh ini sebenarnya masih berhubungan dengan point kesatu, dimana lingkungan sangat menggambarkan bagaimana cara pasangan berkomunikasi.

Ada beberapa lelaki yang pernah saya kenal, baik itu yang sudah menikah ataupun belum, kadang lain di depan lain di belakang. Maksudnya, jaim hanya ketika di depan pasangan, tapi ketika tidak berada di lingkaran pertemanan pasangan, tidak segan ngobrol tentang hal-hal yang intim atau bahkan tidak pantas dibicarakan dengan wanita lain. Seperti hal-hal yang bisa memicu ketidaksetiaan si lelaki terhadap pasangannya. Apalagi jika hal tersebut sering terjadi setelah berumah tangga. (Memang tidak semua lelaki, tapi ada yg seperti itu dan gak cuma satu).

Nah, apakah hal itu sudah merupakan wataknya dari lahir atau malah kebiasaan yang sulit untuk diubah? ataukah kamu malah menganggapnya biasa saja dan memakluminya? Kita kembali ke point Keluarga dan juga point Lingkungan. 😁


Komunikasikan dengan cara Open Minded

Jika kamu tidak bisa atau belum menemukan beberapa point diatas pada pasangan kalian, maka bicara adalah jalan terbaik. Misalnya, dengan mengkompromikan untuk belajar bersama-bersama mengenai kehidupan pernikahan dan persiapan menjadi Orangtua. 

Kendatipun masa lalunya dirasa tidak bermanfaat untuk masa depan pernikahan. Namun mendapatkan feedback yang baik ketika di komunikasikan, akan membuat pasangan mau menerima semua kekurangan kita juga, karena merasa dihargai dan dipercayai. Apalagi, jika orang yang nanti akan menjadi teman hidup kita  adalah seseorang yang Berpikiran Terbuka (open minded) dan Memahami "Cara Berkomunikasi yang Efektif" terhadap Pasangan.


Sebenernya masih ada point-point lain yang pengen saya tuangkan disini, tapi kayaknya segini dulu deh, ntar mungkin ada part dua nya, InsyaAllah.. πŸ˜…


Okey.. "Berbahagialah dalam kesendirianmu dan mulailah mencintai dirimu, lalu Dia akan mulai mengikutimu."

"Selamat Hari Perempuan Sedunia" 😊