uzegan: Parenting
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Ketek dan Wisata Air Sungai Musi

13:26 4
Ketek dan Wisata Air Sungai Musi
Jalur LRT di atas Jembatan Ampera

Setelah menahan diri untuk tidak jalan-jalan selama beberapa tahun (bukan hanya karena Covid tapi juga riweuh karena anak-anak masih bayi). Akhirnya pada sebuah kesempatan di bulan lalu, kami memutuskan untuk berwisata bersama semua anggota keluarga termasuk juga dengan para bocah-bocah di rumah. Karena lokasi tempat kami akan memulai touring, tentu saja jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah Mertua. πŸ˜‚

Berhubung rumah kediaman Mertua dekat dengan beberapa tempat objek wisata penting di kota saya. Maka wisata pertama yang kami lakukan adalah Touring atau Wisata Air mengitari keindahan Sungai Musi dari bawah Jembatan Ampera kemudian menuju bawah Jembatan Musi VI yang baru diresmikan tepat di awal tahun ini. Hingga ke Dermaga yang ada di Tanggo Buntung dengan menyewa perahu motor kecil atau Ketek. Kenapa disebut ketek? Karena ketika mesinnya dihidupkan, maka motornya akan berbunyi, ketek ketek ketek.. πŸ˜‚

Tarif yang ditawarkan untuk sewa perahu dan tukang kemudi per sekali perjalanan sebesar 65.000 rupiah saja. Boleh ditawar, tapi kasian. Karena sejak bertambahnya dua jembatan di Palembang yakni Jembatan Musi IV dan Jembatan Musi VI, pendapatan mereka menurun drastis dan hampir kehilangan mata pencaharian karena sudah jarang yang menyewa kecuali di hari-hari tertentu saja.


Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya πŸ˜‚
Entah sudah berapa puluh kali saya mendapati objek yang ngeblur di henpon karena perahunya seringkali oleng. Belum lagi karena tukang kemudinya gak pake setop apalagi mampir-mampir dulu ke warung kopi, alhasil jepret-jepretnya dilakukan dalam keadaan ngebut tingkat tinggi. Udahlah diterpa angin kencang, kena percikan air pula πŸ˜‚Dan untungnya, henpon yang terkena cipratan macam kesiram air bah saat itu bukan milik saya, tapi punya suami. πŸ˜‚πŸ˜…


Orangtua atau Orang lain?

13:38 8
Orangtua atau Orang lain?

Apa yang terjadi ketika hati dan pikiran kita lebih dekat dengan orang lain ketimbang dengan Orangtua sendiri? 

Hmm...
Saya teringat kembali dengan seorang teman kuliah begitu membaca komentar Mba Roma tentang caption gambar ini di IG, yang menyarankan untuk ke kotanya, Lampung jika pandemi ini telah berakhir. 

Lampung adalah kota yang memiliki pantai terdekat dari kota tempat dimana saya tinggal sekarang. Dibutuhkan waktu setidaknya 10 jam untuk menempuh perjalanan ke sana. Tapi karena sudah dibangun jalan tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayu Agung sepanjang 189 km, maka jarak tempuhnya sekarang sudah bisa dipersingkat menjadi 4 jam perjalanan saja. Bahkan jarak dari tempat adik saya ke Palembang yang biasanya memakan waktu 1 jam  bisa dipersingkat menjadi 15 menit saja sejak diresmikannya Jalan tol Palembang - Pemulutan tahun 2017 lalu.

Meski sudah sangat dipermudahkan dalam urusan jarak, namun untuk bepergian seperti sekarang-sekarang ini saya juga butuh kenekatan yang berlimpah serta materi dan waktu yang cukup banyak untuk diri sendiri, agar impian melihat pantai ini dapat bisa segera terwujud.

Saya menargetkan Lampung sebagai destinasi wisata laut pertama sebenarnya bukan semata-mata karena ingin melihat langsung pantai dan laut saja. Tapi karena diharapkan bisa bersilahturahmi lagi dengan seorang teman dekat yang bekerja dan menikah di sana sejak 12 tahun lalu. Dan juga karena saya kehilangan kontak beberapa tahun setelah kepindahannya, Henpon saya hilang bersama uang, KTP, SIM dan juga henpon adik saya yang akan diservis, di dalam pouch yang dulu pernah jatuh di jalan. 

Saya sempat mencari-cari nomer henpon barunya ke temen-temen tapi gak ada yang punya, dan sayangnya dulu dia memang pernah bilang tidak berminat sama sekali untuk memiliki akun social media. Alhasil, sampe sekarang saya belum bisa menemukan kontaknya. 

Sikapnya yang ramah dan sering menyapa duluan membuat kami lebih akrab hingga kemudian menjadi lebih dekat lagi karena ternyata saya suka dengan Ibunya. Kalo Ibunya baik biasanya nurun ke anak-anaknya, begitu prinsip yang dulu saya pegang. Ibunya enak diajak ngobrol dan selalu nyambung kalo diajakin ngomong apa aja. Bisa tuker pikiran, kadang bisa jadi sahabat bagi anak-anaknya dari yang abege hingga yang udah dewasa. 

Teman saya termasuk orang yang tidak berkecukupan karena tempat tinggalnya masih menumpang  serta tidak lagi memiliki penopang utama dalam keluarga. Ayahnya meninggal waktu temen saya masih SMA dan meninggalkan 4 orang anak, yakni temen saya yang adalah anak pertama dan adik-adiknya yang waktu itu juga masih kecil-kecil. 

Dulu saya sering banget main ke rumahnya. Walo sebenernya yang terjadi temen saya yang sibuk di dapur, dan saya malah duet sama ibunya di ruang tamu. Saya nyanyi, dan ibunya main gitar.  πŸ˜‚ 

Kalo kamu seorang penggemar drakor, tau dengan Kim Yoo Jung? yang jadi First Lead Female di serial drama Backstreet Rookie. Nah begitulah sedikit banyak gambaran raut wajah temen saya, hanya saja sekarang pasti udah agak beda karena selisih usia. Pas dulu waktu pertama kali ngeliatnya sebagai First Lead Female remaja di drama saeguk The Moon That Embraces The Sun tahun 2012 lalu. Saya sampe pangling. Apa temen saya sekarang udah alih profesi yak, hahaha.. sampe-sampe gak bisa dihubungin lagi. Dulu banyak banget cowok-cowok yang ngejer temen saya inih (beberapa temen cowok saya juga) dan jadi murid kesayangan dosen karena gak hanya cantik tapi juga ramah, pintar dan rajin belajar termasuk juga pintar masak dan pintar menjahit. Sangat menginpirasi dan patut dijadikan panutan bukan. 

Dulu saya sempat menentukan seseorang bisa jadi temen deket itu salah satu alasannya adalah karena saya kagum dengan Ibunya, ayahnya atau neneknya, dan itu juga salah satu alasan terpenting kenapa akhirnya saya bisa menikah dengan pak suami. πŸ˜‚πŸ˜

Meski tidak dipungkiri saya juga dengan senang hati berteman dekat dengan beberapa teman lain, walo tetap saja kebanyakan ortunya ternyata single parent. Ada yang ikut ibunya, ada yang ikut ayahnya, juga ada yang ikut nenek-kakeknya atau memang karena salah satunya telah tiada. Pernah terbersit harapan untuk memiliki single parent saja, biar sama seperti mereka, barangkali hidup kami akan terasa lebih baik. Siapa tau hidup akan jadi lebih aman, nyaman, damai, dan tidak perlu was-was setiap kali akan pulang ke rumah. Dengan begitu, setidaknya kami juga bisa ikut merasakan bagaimana memiliki rumah seperti mereka yang sering menggaungkan baiti jannati, home sweet home, atau rumahku adalah syurgaku.

Tapi seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya usia dan semakin beratnya perjalanan hidup. Akhirnya kami mulai memahami atau sebenarnya "harus" memahami kenapa ayah begini kenapa ibu begitu, agar suatu hari nanti bisa jauh lebih mengerti dan memaklumi pasangan dalam mengarungi kehidupan pernikahan. Kami merasa harus segera bertindak dengan mencoba menciptakan situasi (meski secara bergerilya) agar tidak terjadi perang urat syaraf setiap kali mereka memulai komunikasi.

Meskipun pada akhirnya kami hanya dianggap sebagai bocah tak berpengalaman, dan minim ilmu. Pengertian yang kami sampaikan terasa janggal untuk diterima karena berasal dari ucapan seorang anak yang baru belajar seumur jagung, ke Orangtua yang merasa jauh lebih lama dan lebih paham menghadapi pahit getirnya hidup. 

Dulu kami berharap mereka mau belajar menempatkan komunikasi di waktu dan kondisi yang tepat. Itu saja sudah cukup. Bukan karena sudah merasa pintar, sudah jadi anak sekolahan atau karena berpendidikan lebih tinggi.

Kalo dihitung-hitung, beberapa keputusan penting dalam hidup saya sebenarnya lebih banyak saya bicarakan ke Ibu teman ketimbang dengan Ibu sendiri. Bukan karena saya tidak percaya dengan Orangtua. Tapi sepertinya memang karena cara pandang dan cara berpikir saya saat itu masih polos dan terbatas. Dulu saya menganggap untuk apa curhat ke Ibu, beliau sendiri sudah terlalu berat menanggung masalah di rumah dan jika harus ditambah lagi dengan masalah yang saya hadapi, rasanya gak tega untuk menambahkan beban lagi dipundaknya. Lagipula karena sejak kecil saya memang sudah terbiasa menyediakan telinga untuk semua keluh kesah Ibu, hingga membuat saya berpikir tidak ada lagi kesempatan dan ruang yang cukup di benaknya untuk saya berbagi keluh kesah.

Jadi setiap kali ada masalah, dan Ibu akhirnya tau, beliau akan bilang. "Makanya kalo ada apa-apa tuh dibicarakan dulu ke Orangtua, biar jadinya gak kayak gini." Padahal, saya sebenarnya sudah mempertimbangkan dengan matang hanya saja saya mendiskusikannya dengan Ibu yang lain. Dan itu adalah sebuah jawaban yang tidak mungkin saya lontarkan, karena saya tau pasti hanya akan menyakiti hatinya.

Hingga saya menikah dan punya anak, barulah saya bisa memandang lebih dalam dari dua sisi. Meskipun saya meyakinkan diri bahwa apa yang dulu pernah saya jalani adalah pilihan terbaik yang bisa saya lakukan, alih-alih merasa sedih karena menyadari betapa menyakitkan kalo anak sendiri malah lebih mempercayakan isi hatinya ke orang lain ketimbang dengan Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan segala pengorbanan,  segenap jiwa dan raga.

Segarang-garangnya saya sebagai Ibu, yang kadang sering naik darah kalo ngeliat ada yang salah dengan kelakuan anak (bertolak belakang dengan watak Ibu saya yang jauh lebih sabar menghadapi delapan orang anak), saya masih sangat berharap anak saya punya seorang Ibu yang bisa berinteraksi dengan baik dalam berkomunikasi dua arah dengan anak-anaknya, walau saya tau itu sangat sulit apalagi dengan kondisi punya banyak anak. Tidak apa-apa jika anak mempercayakan masalahnya untuk diselesaikan bersama orang lain. Siapa tau dengan begitu bisa menemukan solusi yang lebih baik. 

Meskipun saat ini saya harus melewati masa-masa sulit membesarkan anak. tapi beginilah hidup, waktu berjalan terus. Tidak akan ada yang sama. Semua tumbuh mengikuti waktu. Suatu hari gak akan ada lagi suara tawa bayi, suara anak-anak yang baru belajar bicara, anak-anak yang gelendotan karena ingin diperhatikan lebih atau anak-anak yang rewel minta ini dan itu. Suatu hari kita akan merindukan wajah-wajah lucu nan menggemaskan dan tangan-tangan mungil yang tidak akan pernah bisa kita peluk dan sentuh lagi. Suatu kerinduan yang dipastikan tak akan pernah kita dapati lagi kecuali hanya melalui sebatas foto, kenangan di waktu kecil.

Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

14:13 37
Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Belakangan ini saya merasa seperti diteror terus-terusan, dirongrong hingga membuat kepala saya seringkali migrain karena kurang tidur dan stress yang berkepanjangan akibat kekecewaan dari rumah dan tekanan dari sekolah Si Kakak. Ibarat sepotong dendeng yang ditekan dari atas, tapi yang ini alasnya malah memberikan perlawanan (bergerak keatas) karena menolak ditekan dengan mendorong balik agar tidak ikut tehenyak ke bawah bersama si dendeng. Dari situ jelas sekali, pada akhirnya si dendeng lah yang akan menjadi hancur atau gepeng karena ditekan dari dua sisi. Yang setiap saat bisa saja menjadi dendeng balado jika terus-terusan dicampur dengan berkilo-kilo ulekan cabe keriting. (Ngenes banget analoginya yah) πŸ˜‚

Sejak tahun ajaran baru dimulai dan diberlakukannya pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Saya akhirnya menjadi bagian dari golongan Orangtua murid yang gagal membuat anaknya mau belajar dengan baik dan efektif selama di rumah.

Sebelumnya saya memang merasa lega. Karena tidak perlu lagi harus tiap hari menyiapkan seragam sekolah, uang jajan dan ongkos ojek serta tidak perlu kocar kacir karena selalu berkejaran dengan waktu demi menyiapkan makan siang sebelum Si Kakak berangkat ke sekolah. 

Dulu, saya heran kenapa Ortu teman-teman Si Kakak banyak yang mengajukan keluhan melalui WAG sekolah, anaknya tidak mau menurutlah, jadi malas belajar, kerjanya main game dan nonton aja di rumah. Namun setelah dimulainya tahun ajaran baru, kegiatan Si Kakak yang tidak ada belajarnya saat libur lebaran dan kenaikan kelas telah menjadi kebiasaan baru yang membuat saya makin uring-uringan. Segala cara sudah saya lakukan agar Si Kakak mau belajar dan mengerjakan tugas serta hapalan-hapalan seabrek dari sekolah, baik itu latihan di buku, maupun materi melalui video. Yang awalnya saya lakukan dengan cara lembut dan mengayomi, tapi ternyata Si Kakak malah nyantai dan seringkali pura-pura gak denger. Mentang-mentang gak berangkat ke sekolah, dikiranya sekarang emang masih libur jadi ngapain juga musti belajar.

Saya pikir karena Si Kakak memang butuh diawasi, maka dengan konsekuensi dua orang adiknya juga ikut nimbrung dan menganggu, saya tetap menemaninya belajar dan tetep disambi beres-beres kerjaan rumah. Begitu saya bantuin bikin tugas, eh Si Kakak malah ketagihan. Dikit-dikit nanya, dikit-dikit ngomong gak tau, karena malas membaca materi dan ngerasa bisa langsung dapet jawaban dari emaknya. Jadi kalo ada yang praktis ngapain lagi harus baca-baca, mungkin begitu pikirnya. Meski ujung-ujungnya Si Kakak bukannya belajar, tapi konsentrasinya malah terpecah, ngalor ngidul lalu tiba-tiba main atau nonton seperti adik-adiknya.

Karena kesel, akhirnya saya mengingatkan Si Kakak dengan nada mengancam, dan ternyata masih juga gak mempan. Dari hari ke hari keadaan semakin rumit, tugasnya terus menerus bertumpuk karena tidak pernah dikerjakan. Sementara saya harus terus berusaha memantau dan mencatat soal serta mencatat materi yang tidak ada di buku pelajaran. Sekaligus menonton video agar tidak ada yang terlewat dan nantinya bisa saya berikan penjelasan ulang ke Si Kakak. Kenapa Si Kakak gak langsung ngeliat dari henpon? Karena Si Kakak bukannya ngeliat tugas di WA tapi malah bongkar-bongkar isi henpon emaknya dan lagi henpon biasanya langsung dikasih ke adeknya biar gak menganggu Kakaknya belajar. Dan bersama keriweuhan itu saya masih harus berkubang dengan segala urusan rumah yang tak pernah ada habisnya. Kalo tidak, tau sendirilah semua kerjaan rumah bisa keteteran dan tertunda lagi sampai besok dan besoknya lagi. Menumpuk dan berakhir dengan menyengsarakan diri sendiri jika tidak ada yang membantu.

Ditambah lagi dengan ramenya Ortu yang ngejawab di WAG sekolah yang bikin saya jadi semakin kewalahan. Karena begitu satu tugas diberikan, Ortu yang ngucapin terima kasih itu bisa nyampe berapa gerbong kereta panjangnya, seharian notif WA isinya ucapan terimakasiiiiiih melulu atau kalo ada yang lagi diselametin atau ada yang lagi sakit, jadinya panjaaaaang banget list anggota WAG yang ngucapin atau ngedoain. Bikin saya jadi senewen sendiri.

Apalagi daftar panjang update-an murid yang sudah mengumpulkan tugas serta jawaban-jawaban murid saat ngelist absensi dan daftar hadir di WAG. Udah macam ular naga panjangnya, bukan kepalang. Bayangkan kalo gak buka WAG Sekolah sehari saja karena gak punya kuota, semoga henponnya gak ngehang pas lagi buka notif, yak. Atau mungkin malah seperti saya yang sering gagal bikin video hapalan Si Kakak untuk dikirim ke sekolah karena memory henpon yang selalu tiba-tiba kepenuhan.

Begitu juga ketika saya ngecek tugas mana saja yang sudah dikerjakan Si Kakak, ternyata hasilnya mengecewakan sodara-sodara. Paling hanya satu soal yang selesai. Sisanya? Zonk, gak ada yang dikerjakan sama sekali, karena saya juga yang memang tidak selalu bisa menemaninya belajar. 

Akhirnya setiap kali melihat WAG, stress saya makin ngepull, karena selalu mendapat pemberitahuan daftar nama-nama murid yang sudah mengumpulkan tugas, dan cuman Si Kakak yang namanya tidak pernah terconteng. 

Mengingat kelas Si Kakak adalah kelas unggulan dimana rata-rata muridnya rajin belajar. Si Kakak bisa bergabung di kelas itu karena usianya paling tua dari teman-teman seangkatannya. Si Kakak masuk SD pas di usia 7 tahun kurang tiga bulan, yang mana teman-temannya banyak yang lebih muda satu tahun tapi rajin dan pintar-pintar. 

Alasan itu makin membuat saya ngedrop di titik terendah, dan bikin otak saya jadi kacau balau. Hingga berapa kali saya akting nangis biar Si Kakak nurut dan hasilnya ternyata gagal juga, sampai ketika emosi sudah meninggi barulah Si Kakak patuh, tapi sayangnya cuma satu hari. Besoknya ketika emosi saya meledak lagi. Si Kakak mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu menangis. Dan itu yang sebenernya bikin saya kesel, karena yang seharusnya nangis itu saya bukan dia.

Hingga suatu hari saya mencari-cari kesempatan bagaimana caranya agar keluar dari WAG sekolah, saya sudah tidak sanggup lagi membaca kiriman-kiriman tugas dan segala macam pemberitahuan yang mengakibatkan saya menderita kecemasan yang lumayan akut. Saya dan suami sudah pasrah, biarlah Si Kakak tahun ini berhenti sekolah dulu, mengulang kelas tahun depan tidak masalah, dan jika pandemi ini belum berakhir, setidaknya adik-adiknya sudah lebih mengerti untuk tidak mengganggu kakaknya belajar (harapannya). 

Saya sadar kalo metode belajar seperti sekarang sangat tidak efektif untuk Si Kakak dan mungkin untuk sebagian besar anak-anak lain juga. Walau faktor yang mendominasi kelakuannya Si Kakak emang karena menurun dari emaknya. Yang waktu kecil dulu, memang malas belajar teori atau hapalan tapi lebih nangkep dan lebih tertarik kalo belajarnya dengan cara praktek bersama teman-teman sekelas. Dan juga karena atmosfer rumah yang memang sangat tidak kondusif untuk bisa belajar dengan tenang seperti di sekolah.

Pada suatu kesempatan, akhirnya saya keluar juga dari WAG sekolah dengan memanfaatkan situasi percakapan yang sedang memanas di grup. Namun tak dinyana, para Ortu siswa/i malah balik bersimpati dan meminta saya jangan keluar dari grup agar tidak ketinggalan informasi, sampe di telpon berkali-kali dan tidak saya angkat. Hingga akhirnya rencana keluar dari sana gagal total karena admin memasukkan saya kembali ke dalam grup. Dan suami saja yang berhasil keluar dengan mulus dari WAG sekolah Si Kakak.

Sejak saat itu saya mulai sering keluar rumah untuk menenangkan pikiran dan menjauhkan diri dari gadget. Selama berkeliling di lingkungan sekitar rumah, saya melihat beberapa anak tetangga yang sedang belajar di teras rumah di temani Ibu, Kakak atau Neneknya setiap pagi. Mereka nurut, semuanya belajar dengan khusyuk karena tidak ada yang menganggu, kalopun bersama adiknya tapi adiknya yah kalem aja.

Saya nyadar kalo ngeliat rumput (anak) tetangga lebih hijau (rajin) justru malah bikin stress karena secara otomatis saya langsung membandingkan dengan anak sendiri. Karena itu, akhirnya saya bertanya ke para Ortunya, bagaimana cara agar anaknya mau belajar tanpa harus diawali drama bak cerita ibu tiri. 

Tapi jawaban yang saya dapatkan ternyata yah gak jauh beda seperti saya, sesekali mereka juga menampakkan taringnya ke anak kalo udah kelewatan. Tapi bedanya, si anak masih punya keinginan untuk belajar, tidak ada yang mengganggu atau ada yang bantu menemani selain Ibunya. Dan hal itu semakin membuat saya merasa, bahwa kondisi mereka jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang saya alami.

Mendapati kenyataan seperti itu, saya semakin down karena merasa gagal menjadi Orangtua. Karena mau gak mau saya juga harus mengurus adik-adiknya disaat Si Kakak paling membutuhkan perhatian dan bantuan saya.

Hingga di suatu sore, saya ke warung sendirian di dekat lapangan gang sebelah, anak-anak saya titip ke Pak Suami (siapa tau pikiran saya kembali jernih dengan me time sambilan seperti itu). Disana saya ngeliat dua orang kakak beradik, satu kelas 2 SD dan kakaknya kelas 1 SMP. Mereka sedang mengasuh adiknya yang masih bayi. Dua bersaudara ini saya kenal sebagai anak yang rajin dan selalu nurut sama Orangtua karena sering ngeliat mereka membantu ibunya berjualan makanan di depan rumah.

Saat itu ibunya lagi membersihkan selokan disamping rumah. Saya langsung mendekat dan tanpa babibu, saya langsung tanya, cara apa yang bisa bikin anaknya mau nurut khususnya waktu ngerjain tugas dari sekolah. 

Dari perbincangan sore itu, sarannya saya simpan dan ingat baik-baik agar sepulang dari sana bisa langsung diterapkan di rumah. 

Tips dari tetangga ini langsung saya praktekkan dan alhamdulillah, Si Kakak akhirnya bikin tugas juga. Caranya gimana? Dengan menyita semua barang kesukaannya dan kemudian membujuknya. Kalo semua tugas sudah selesai saya akan kabulkan keinginannya nonton youtube di henpon dan beberapa keinginannya yang lain.

Sayangnya (masih harus disayangkan) tugas dari sekolah seolah tak ada hentinya, pagi siang malam, ada saja pemberitahuan, tak mengenal waktu. Barulah ingin bernafas sudah datang tugas baru, hapalan baru. Dan saya sudah kehabisan cara ngebujuk Si Kakak agar mau mengerjakan semua tugas dari sekolah. Karena Dia sekalipun gak mau berinisiatif untuk mengerjakan tugas sekolahnya kalo gak saya ingatkan terus-terusan.

Yang pada akhirnya, tetep aja balik ke selera asal, Si Kakak kembali malas malasan lagi dan dengan nyantainya bilang iya setiap kali saya minta mengerjakan tugas, tapi gak pernah dikerjakan. Dia hanya menangis karena katanya capek terlalu banyak tugas dan hapalan yang harus diselesaikan. Dan saya juga sudah kelelahan.

Puncaknya, ketika waktu me time saya yang cuma sedikit itu telah habis dan terenggut secara paksa demi kelancaran proses belajar mengajar jarak jauh ini. Saya rasanya ingin memberontak dan keluar dari tekanan yang datang terus menerus serta rongrongan yang telah menelan kebebasan saya untuk merawat otak dan hati, agar kewarasan saya tidak terlanjur menyimpang kesana kemari.  

Ditengah kekalutan itu, saya teringat dengan adik saya. Dia adalah seorang guru SD tapi sayangnya dia tinggal di kota lain. Meskipun ketiga adik saya kesemuanya adalah tenaga pengajar tapi saya merasa sungkan untuk curhat ke adik-adik yang lain. Kenapa? Karena mereka juga memiliki kendala dan kesulitan serta merasakan beratnya ketika harus mengajar secara daring sedangkan gaji yang didapat tidak seberapa, dan kebetulan Adik saya yang mengajar anak SD hanya yang tinggal di luar kota.

Setelah saya menelpon dan mencurahkan semua unek-unek seorang wali murid ke Adik saya dan mendengarkan wejangannya, dari situ saya baru bisa memahami kenapa guru-guru seolah tega sekali memberikan tugas secara bertubi-tubi ke siswa/i nya. 

Alasannya? Karena mereka juga mendapat tekanan dari atas dan beberapa alasan lain yang tidak bisa disebutkan. Tapi walau begitu, tetap ada toleransi serta kebijakan untuk murid-murid yang tidak bisa menyesuaikan diri untuk belajar jarak jauh seperti sekarang serta murid yang tidak mampu dan terkendala kuota atau yang tidak memiliki gadget. Sayangnyaaa, sayangnya lagi itu untuk sekolah negeri. Beda dengan sekolah Si Kakak, meskipun sekolah gratis dan hanya diwajibkan membayar infaq tapi dia belajar di sekolah swasta yang notabene semua kebijakannya tergantung dari yayasan atau sekolah masing-masing.

Lalu sekarang Si Kakak gimana? tetep aja masih susah kalo disuruh belajar. Dan karena itu saya memutuskan sharing dengan Wali kelas Si Kakak (meskipun keliatannya susah sekali diganggu setiap kali saya datang untuk menyetor tugas Si Kakak ke sekolah). Kata Wali kelasnya, Gak papa, tunggu sampai Si Kakak mau. Wali kelasnya meminta dengan sangat agar Si Kakak tidak dimarahi. Tapi sayangnya saya udah terlanjur marah-marah duluan dan sebagai Orangtua yang baru belajar hal itu sangat saya sesalkan. 

Besoknya, Wali kelasnya langsung ngomong ke Kakak di WA, agar mau mengerjakan tugas-tugas dengan ngasih kata-kata semangat, yang bikin Si Kakak akhirnya mau mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Meskipun masih sering pake sistem kebut semalem (SKS), semua tugas dikerjakan sehari sebelum menyetor tugas ke sekolah, yang dilakukan seminggu sekali. Setidaknya Si Kakak sudah mau ngerjain tugas sekolahnya, sudah ada nilai yang diberikan karena sudah mau belajar. Dan saya juga tidak perlu berharap yang muluk-muluk karena membandingkan Si Kakak dengan anak-anak yang lain, karena kesabaran saya sebagai Orangtua benar-benar sangat di uji di masa-masa ini.

Saya semakin menyadari bahwa anak lebih suka ngedengerin dan nurut apa kata orang lain ketimbang emaknya sendiri. Karena emang emaknya yang suka ngomel-ngomel, sometimes mengaum kayak singa karena suka khilaf dan hilang kesabaran saking kewalahan dengan semua kerjaan yang ada di rumah. 

Sebagai anak yang hobinya nonton dan bermain. Si Kakak ternyata lama-lama jenuh juga dengan semua aktifitasnya di rumah. Karena itu, sekarang Dia menggantinya dengan hobi baru, yakni sering menawarkan diri untuk ngebantuin emaknya di dapur Ketimbang BIKIN TUGAS dari sekolah. 

Antara pengen seneng tapi kok yah miris. 

Sejak Si Kakak mulai mau bikin tugas, televisi, henpon dan komputer butut emaknya memang telah di berdayakan dan diprioritaskan semua untuk hiburan adek-adeknya dan tugas sekolah Si Kakak.

Hingga membuat Si Kakak berinisiatif untuk mandiin adek-adeknya setiap pagi. Si Kakak bilang, biar ibu bisa ngetik pake komputer, biar gak stress dan gak marah-marah terus. Biar kerjaan Ibunya di rumah tidak penuh drama dan suara tangisan adik-adiknya. Karena setiap menit setiap detik ada aja yang rewel, mo minta dicebokin lah, yang mo minta makan lah, yang mo minta minum, yang mo minta ganti channel tv, yang mo minta gendong lah, yang mo minta bikinin susu, yang berantem lah, manjat-manjat lemari, yang berebut makanan, berebut mainan lah, sampe yang bikin rumah banjir, dan berbagai macem tingkah pola adek-adeknya. Yang kadang bikin Si Kakak kasian sama emaknya, karena selalu kerempongan nyelesain kerjaan dapur yang seabrek-abrek, blum lagi karena selalu gagal pengen ngeblog tengah malem karena adek-adeknya juga pada ikutan begadang. 

Walo saya tau sebenernya mereka sedang memanfaatkan kesempatan karena pengen maen aer di kamar mandi. Keliatan dari tagihan air yang terus membengkak beberapa bulan ini, saking seringnya maen air pake selang di kamar mandi. Dan kadang malah bikin was-was kalo denger adek-adeknya suka jejeritan di kamar mandi, diiringi suara tertawa jahil dari kakaknya. Tapi yah sudahlah, skali-skali inih. πŸ˜‚


Bagaimana dengan kabar kalian, temen-temen? Waktu saya baca-baca timeline di pesbuk, ternyata banyak juga emak-emak yang nasibnya seperti saya, yak. πŸ˜… 

Kekuatan Albatros

19:18 0
Kekuatan Albatros
Albatros atau The Temps adalah  sebuah acara 'reality show' dari salah satu stasiun tv berbayar nun jauh dari korea sana. Bolehlah saya rekomendasikan buat inspirasi anak-anak muda jaman now dan juga sebagai tolak ukur dan pandangan baru bagi para ortu. Yang belakangan ini seringkali mengingatkan saya tentang perjuangan-perjuangan di masa lalu. (ini bukan lagi cerita tentang hari kemerdekaan ya :D). "Kan ada juga tuh beberapa ortu yang seneng banget dengan anaknya yang mandiri, saking bangganya karena sang anak bisa membantu mencari nafkah hingga mengabaikan tanggung jawab dan malah sibuk menuntut kewajiban anak terhadap Ortu."

Albatros adalah Seekor burung yang memiliki sayap terlebar namun tidak mampu terbang. Pada suatu waktu datanglah angin badai serta puting beliung dan memporakporandakan burung-burung lain yang sedang terbang hingga berjatuhan. Tapi, tidak dengan Albatros, justru angin puting beliung membuat sayapnya mampu terbang dan bisa mengendalikan angin hingga terbang tinggi dan semakin tinggi.

Dalam hal ini, sang Albatros adalah para anak muda pekerja paruh waktu. Yang sepertinya memang orang-orang terpilih yaitu hanya anak muda yang penuh semangat dan pekerja keras.

Acara ini mempublikasikan tentang kegiatan beberapa selebriti (dua diantaranya adalah mantan atlet) yang sepertinya juga pekerja keras di masa mudanya. Dan merekalah yang akan menggantikan para pekerja paruh waktu (Albatros) dalam kurun waktu satu hari kerja. Dari tayangan tersebut kita bisa melihat betapa kerasnya kehidupan anak anak muda 'jaman now' dalam meraih impian dan usahanya melanjutkan hidup dengan cara mengais rezeki melalui kerja paruh waktu. Khususnya bagi yang kurang mampu.

Saya sempat kagum dengan kemampuan mereka. Entah karena pikiran manusia yang semakin maju atau kekuatan fisik dan daya tahan tubuh manusia yang semakin berevolusi atau mungkin kondisi fisik saya sebenarnya yang lemah. Apalagi waktu ada salah seorang Albatros yg pernah berujar, bahwa sama sekali tidak memiliki hari libur, bahkan mengambil pekerjaan 2 sampai 3 sekaligus dan itu di sambi dengan kuliah. tidur pun hanya 4 jam setiap hari.

Seandainya saya dulu memiliki semangat seperti itu, mungkin impian saya tidak akan patah di tengah jalan. Tapi, kadang saya ragu apakah bisa meskipun semangat saya lebih menggebu dari mereka. Sementara berangkat kuliahpun harus sejak pagi buta, selesai kuliah langsung kerja, sering lembur pulang jam setengah 11 malam, blom urusan mandi, beres beres, bikin tugas kuliah dll.

Seringnya saya kelelahan, tertidur hingga pagi dengan tas yang masih terselempang di bahu. Begitu berulang-ulang setiap hari tanpa libur kerja meskipun tanggal merah ato hari besar, kurang minum kurang tidur kurang makan demi kuliah dan untuk meraih satu impian.

Hingga gejala tipes, gejala batu ginjal, maag, asam lambung naik, gejala isk, gusi berdarah2, dan beberapa penyakit lainnya yang tanpa peduli menyerang secara bertubi tubi.