uzegan: Palembang
Tampilkan postingan dengan label Palembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palembang. Tampilkan semua postingan

Dapur Rumah Panggung Khas Melayu

07:56 14
Dapur Rumah Panggung Khas Melayu
Dapur Rumah Panggung Khas Melayu
Untuk pertama kalinya, saya dan kakak sangat jauh dari rumah dan Orangtua. 

Sebelumnya, kami diantar lebih awal ke rumah sepupu yang akan mengadakan pesta pernikahan, karena semua anggota keluarga beserta ibu yang sedang hamil besar baru bisa menyusul kesana dua hari kemudian.

Rumah sepupu terletak di sebuah dusun yang juga adalah kampung halaman dimana Ayah dan Ibu dilahirkan. Disana, rata-rata tempat tinggalnya berbentuk rumah panggung khas orang melayu. Sebelum hari pernikahan digelar, biasanya para sesepuh, sanak keluarga dan tetangga sekitar turut bahu membahu membantu memasak hidangan pesta di bawah rumah. 

Lalu malamnya, semua makanan dibawa ke atas agar lokasi bawah rumah yang sebelumnya menjadi dapur kotor bisa segera dirapikan, dan bisa dimanfaatkan sebagai tempat tambahan untuk menjamu para tamu undangan. Untuk selanjutnya, semua hidangan yang telah selesai dimasak bisa langsung dihangatkan di dapur atas.

Sebelum subuh, beberapa orang sudah bangun lebih awal untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya dan kakak juga ikut terbangun. Setelah berbenah kami langsung ke dapur melihat Uwak mengurus hidangan yang nantinya akan disajikan, sambil menikmati sarapan bersama. 

Agar porsi makanan untuk pesta pernikahan tidak terganggu sebelum acara, Uwak akan menambah beberapa masakan lagi untuk konsumsi sanak keluarga yang menginap atau saudara yang datang dari jauh, termasuk juga para tetangga yang ikut membantu demi kelancaran acara nantinya.

Saat itu, acara pernikahan sepupu dilaksanakan di hari dan bulan baik, yakni selepas lebaran dengan kondisi dapur Uwak yang penuh dengan hasil panen, sebagai hasil jerih payah dari bertani dan berkebun yang merupakan mata pencaharian utama mereka.

Niatnya disain illustrasi ini dibikin cerita fiksinya, tapi berhubung gambar bertema kitchen yang akhirnya masuk kategori disain (canva) terfavorit ini adalah recreate memori masa kecil (cerita base on true story yang dituangkan lewat media visual) dan karena udah lama banget saya gak ngefiksi, jadi keterangan gambar (caption di IG) ini kayaknya lebih cocok dituangkan melalui sudut pandang seorang anak aja, yak. πŸ˜‚

Karena sekarang saya jarang ngeblog dan membalas komentar, apalagi blog walking dan meninggalkan komentar di blognya temen-temen, (Si kakak lagi mid test dan ngerjain satu ulangan dari pagi ampe sore kagak kelar-kelar kalo gak diawasi)😭Jadi saya butuh lebih banyak mood booster agar kepala saya tidak terus-terusan berasep πŸ˜…πŸ˜‚contohnya seperti dengan mengotak-ngatik gambar di atas. Dan ternyata hasilnya lumayan untuk membenahi lagi otak yang sudah terlanjur berantakan. πŸ˜‚

Note : Semoga tulisannya gak patah-patah pas dibaca yah. πŸ˜…

***

Berhubung caption di IG hanya dibatasi maksimal 2200 karakter. Maka cerita versi nyantai lengkapnya saya tambahkan disini. 😁

Dari segi karakter, di gambar ada empat orang yang sedang duduk bersama :

#1. Jilbab merah muda mewakili Uwak : 
Uwak adalah anak kedua dari lima bersaudara, dan yang paling bontot adalah Ibu saya.

#2. Jilbab putih mewakili Saya : 
Saya lebih besar dari Kakak meski hanya selisih satu tahun.

#3. Jilbab ungu tentu saja mewakili Kakak : 
Kesehatannya memang agak berbeda dari anak-anak kebanyakan, karena dia memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah dari saya.

#4. Jilbab kuning mewakili Sepupu : 
Si Calon Penganten adalah anak nomor dua dari empat bersaudara.

Jadi ceritanya jarak usia Uwak dan Ibu saya itu sangat jauh, karena Ibu saya usianya hanya selisih beberapa tahun dari usia anak Uwak yang pertama. Dan itu juga akhirnya merentet ke usia kami dengan sepupu-sepupu yang lain.

Dari segi latar, kita melihat ada pintu coklat seperti pintu utama sebuah rumah. Pintu itu tidak berfungsi sebagai pintu keluar. Itu adalah jendela sebesar pintu yang dipasangi pagar kayu. Jadi gak bakal ada tangga diluar. Kecuali emang ada yang lagi ngapel dan bawa tangga sendiri dari rumah.πŸ˜‚ 

Lalu ruangan sebelah, dimana di gambar kita ngeliat ada sedikit peralatan mandi dan gantungan baju. Kalo ada yang menganggap itu kamar tidur atau kamar mandi, hmm.. bukan. Itu adalah teras belakang yang lantainya terbuat dari bilah-bilah bambu. 

Sebenarnya semua kegiatan cuci mencuci di lakukan di sungai, namun karena jalan setapak menuju kesana agak terjal dan menurun serta tidak adanya fasilitas penerangan di malam hari (meskipun lokasi sungai tepat di belakang rumah), maka ruangan sebelah dijadikan tempat area basah termasuk untuk cuci piring, wese darurat untuk anak-anak atau tempat sementara untuk menjemur baju. 

***

Terakhir, saya ingin ngucapin terima kasih banyak atas perhatian dan support dari Mba Eno melalui kiriman-kirimannya. Demi seorang teman yang udah sangat hectic dan ngedrop dengan kondisi yang entah kapan berakhirnya ini. Saya terharu hingga berkali-kali 😒 Dan karena tulisan Mba Eno kemaren tentang musim gugur telah menginspirasi saya hingga terciptalah disain illustrasi diatas. Glad to know U Mba, Peluk dari jauh πŸ€—. Lavv u.. 😊

Hujan di Bulan Agustus

20:03 25
Hujan di Bulan Agustus
Hujan di Bulan Agustus

Foto ini diambil bulan oktober tahun lalu. Potret daun rimbun Momordica Charantia atau tumbuhan yang bernama umum Paria ini saya jepret lantaran muak dan merasa jenuh, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan terlesak dalam kediaman. 

Serupa foto yang gagal, gambar yang nampak buram ini bukanlah hasil jepretan terburuk dari sekian momen yang saya tangkap hari itu. Melainkan sebuah penegasan sekaligus sejarah, bahwa sisa udara kotor hasil pembakaran hutan dan lahan masih terus menyeruak memenuhi langit kota tempat dimana saya pernah dilahirkan.

Pagi itu kendati sesaat, hujan telah turun dari langit, mengguyur kabut asap menyapu sisa-sisa pembakaran. Sampah-sampah abu yang berterbangan dan menyelusup melalui sela-sela pintu, lubang angin dan celah jendela kamar akhirnya terbilas, setelah lebih dahulu mencemari permukaan bumi. 

Untuk sementara, para penghuni terbebas dari rasa sesak, batuk dan terganggunya pernafasan, rasa perih pada penglihatan serta kerongkongan yang selalu meradang acap kali pagi bertandang. 

Karena hari itu, adalah pagi pertama dimana akhirnya kami menghirup udara bersih. Setelah beberapa pekan merasakan sesak, akibat memekatnya kabut asap.


12 Agustus 2020

Bumi yang panas sebagai pengharap musnahnya wabah, akhirnya kembali basah, disertai hawa dingin yang memang tlah lama melesap.  

Pada sebuah kabar akhirnya kami tersadar. 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) melakukan modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan di wilayah Sumatera Selatan yang kini sedang menghadapi musim kemarau untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Modifikasi cuaca tersebut dilakukan selama 20 hari ke depan dengan menyemaikan sebanyak 40 ton garam di atas awan yang memiliki potensi hujan. Koordinator Lapangan Tehnik Modifikasi Cuaca (TMC) wilayah Sumsel dan Jambi dari BPPT, Dwipa Wirawan mengatakan, dalam sehari sebanyak 2 ton garam yang akan di semai. Saat ini, mereka memfokuskan penyemaian di wilayah timur Sumsel karena masih banyak memiliki potensi awan hujan. "Proses penyemaian ini memakan waktu dalam sehari dua sampai tiga jam. Kami menggunakan pesawat CN295 dari Skadrone Halim Perdanakusuma untuk penyemaian," kata Dwipa saat memantau langsung proses penyemaian di Landasan Udara (LANUD) Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Rabu (12/8/2020)


17 Agustus 2020

Setiap kali negri ini memestakan kemerdekaan. 
Tanah menjelma sebongkah batu ketika baskara mengganas. 
Meringkaikan padi dan pohon yang bertumbuh, tampak dari dedaun yang kian meranggas. 
Tak sekalipun tehirup aroma basah, tak sekalipun termaktub dalam ingatan.

Pantas. 

Hari itu mereka berjuang. Hari ini kami merdeka dari kabut asap. 
Hari ini kita sama-sama berjuang. Hari ini, relakan wajah kita masih tersekap. 

Semoga esok dunia turut bersegera, 
Untuk mengejawantahkan bahwa kita akhirnya terbebas dari wabah. 
Dengan itikad mengambil kembali kemerdekaan yang tlah direnggut, bersama-sama.

Puding Roti berasa Maksuba

09:03 34
Puding Roti berasa Maksuba
Resep Puding Roti berasa Maksuba

Beberapa waktu lalu, ada beberapa teman yang menyempatkan diri untuk ngede-em di akun Instagram saya. Yang mana sekiranya ingin mendapatkan penjelasan. Kenapa Puding Roti yang pernah saya upload, bisa menyamai kue yang memiliki tingkat kerumitan dan biaya bahan setingkat diatas rata-rata kue basah pada umumnya seperti Kue Maksuba. Baik dari segi rasa maupun dari segi teksturnya tapi dengan biaya yang tidak mahal.

Karena resep ini awalnya tercipta dari banyak unsur ketidaksengajaan, keisengan dan kekreatifan ala kadarnya semata. Maka harap dimaklumi, jika setelah di remake ternyata tidak sesuai dengan ekspetasi, mungkin karena bahannya yang kurang, tekniknya yang gak sinkron atau khayalannya yang kurang tinggi. πŸ˜‚πŸ˜… 

Tapi meskipun begitu, semoga saja resep berbahan irit yang akan segera dirilis ini, bisa sesuai dengan apa yang sudah lama kita nanti-nantikan, Amiiiin ya Robbal Alamiin.. (kok jadi inget pidato jaman batu, yak) πŸ˜…

Okeh.. ini dia Resepnya.. 

PUDING ROTI berasa MAKSUBA 


Bahan : 

5 lembar Roti Tawar Pandan, potong kecil-kecil (boleh di blender)
5 butir Telur
4-5 sachet Kental Manis Putih
Sejumput Garam
2 sdm Mentega
2 sdm Gula (optional kalo kurang manis)
Setengah batang (Keju sachet) Keju Cheddar, parut 
2 tetes Vanila Cair atau Banana Essens (optional bagi yang gak kuat nyium aroma telur, kalo aroma pandannya kurang mendominasi)

Boleh ditambahkan sedikit air jika adonan terlalu kental (gunanya, agar tekstur Puding tidak terlalu padat karena banyaknya telur yang dipakai). 

Cara Membuat : 

Campur semua bahan dalam satu wadah, aduk hingga benar-benar rata, boleh pake mixer speed rendah. Siapkan kukusan, tuang adonan ke dalam loyang kecil (loyang brownis) yang sudah diberi alas kertas roti, dioles dengan mentega dan ditaburi tepung. 

Kukus kurang lebih 30 menit ato di panggang dengan metode Au Bain Marie (di kukus dalam oven tanpa tutup) biar atasnya gak kering dan tekstur tetep lembut dan lembab. 

Setelah matang, angkat, potong-potong, langsung di lep, nyam nyam nyam.. 🀀


Note : 
Bagi yang sudah pernah membaca Resep ini harap dimaklumi, karena ini adalah repost tulisan lama tertanggal 21 Juli 2018 ato kurleb dua tahun lalu, yang saya posting dan rombak ulang dengan dokumentasi seadanya. Dimana dulu itu, saya masih aktif di IG dan pernah meninggalkan Blog ini dengan berat hatiπŸ˜… (tapi sekarang malah terbalik). πŸ˜…πŸ˜ 

Kenapa di repost? Jawabannya bisa dibaca di sini πŸ˜…

Biasanya perempuan itu kalo udah ngerjain sesuatu rata-rata bisa multitasking, tapi ternyata saya tidak gaes😭. Saya tidak ditakdirkan untuk berada di golongan mereka-mereka yang bertalenta seperti itu. Kalo kedua aktifitas itu di handle dengan sepenuh hati (walopun bisa aja sih sebenere, kalo nekat) Alamat, anak-anak dan suami yang ujung-ujungnya bakal terlantar. πŸ˜…

Dulu, yang paling sering di cuekin itu, of kors adalah urusan rumah tangga beserta para personilnya yang masih mungil-mungil. Yang mau tidak mau, ungkapan protes "tanpa kata" mereka itu akhirnya tercipta dalam bentuk konser tangisan dan teriakan-teriakan. (every minute, everyday) πŸ˜…πŸ˜‚

Dengan terpaksa, memaksa dan dipaksa akhirnya saya mundur juga dari dunia perbloheran. πŸ˜‚  

Kalo sekarang, mereka udah lumayan anteng. Udah gak ngajak begadang ria bareng lagi. Emaknya aja yang begadang sendirian sambil nyemil, nyeruput coklat ato teh anget, trus lanjut surfing-surfing internet. Kalo lagi dapet inspirasi yah bisa nyambi ngetik tulisan baru, meskipun jarang-jarang juga. 

Karena inspirasi tulisannya itu justru selalu muncul, pas lagi nyuci piring. Soalnya bisa sambil ngelamun di halaman belakang dibawah pohon jambu yang rindang tanpa ada gangguan (sayang pohonnya udah gak ada lagi sekarang). Anak-anak juga gak bisa gelendotan karena nyucinya jongkok dan pintu dapurnya dikunci dari luar. Jadi tangan tetep kerja, otak juga lancar banget buat ngehalu. πŸ˜‚ 

Kalo siang sih masih bisalah nyuri-nyuri waktu buat nulis ato ngebewe. Meskipun susah kalo mo komen, karena bocah-bocah malah jadi tergoda setelah ngeliat blognya temen-temen, pada penasaran pengen ikutan mencet-mencet komentar juga (pake bahasa alien). πŸ˜‚

Kuliner Ikonik Palembang

06:58 33
Kuliner Ikonik Palembang

@racliamoon


Saya tuh sebenernya lagi males ngomongin wabah di situasi seperti sekarang, tapi apa daya. Ternyata hal itu secara langsung telah memporak-porandakan tradisi Ramadhan dan Lebaran semua orang. 

Pengennya gak inget dan terus berusaha cuek, kalo ternyata harapan saya untuk bisa melakukan banyak hal di kesempatan lebaran tahun ini harus pupus, sekali lagi.

Dan tak dinyana, memori masa lalu yang terpatri di benak pun akhirnya bermunculan, terutama tentang masa-masa indah di waktu kecil. 

"Dimana kegembiraan itu seolah tak terukur dan keceriaan itu begitu luas untuk di arungi. Tanpa beban. Cukup bahagia dengan kebebasan untuk jajan lebih banyak dan bermain lebih lama. Tentu saja dengan mengenakan baju baru di hari lebaran."

Mudik dan silahturahmi adalah salah satu tradisi lebaran yang akan dan telah ditiadakan bagi sebagian orang. Tapi entah dengan baju baru, bikin kue dan ketupat, ziarah makam, petasan atau THR, apakah juga akan ikut menghilang atau hanya berkurang? Who knows.. 

Bisa saja tradisi-tradisi itu tidak menghilang dan masih penting di beberapa orang atau daerah. Entah karena nekat, masih bisa dilakukan di rumah atau dilakukan secara online. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi mereka yang berada di daerah pinggiran. Dimana wabah covid-19 hanya menjamah sedikit orang dan sisanya adalah orang-orang yang tidak melek teknologi.


Ilustrasi Sumber Inspirasi

Berhubung adik saya sedang kebanjiran order membuat ilustrasi (tapi dibayar seikhlasnya), seperti  gambar di beberapa postingan saya sebelumnya, berupa lukisan buah dan sketsa penganten melayu, juga termasuk pada postingan ini. Akhirnya saya jadi pengen ngebahas tentang beberapa kuliner ikonik khas Palembang terutama makanan yang sering dijumpai di hari raya, seperti pada gambar/ilustrasi diatas (khusus buat kknya gratis πŸ˜‚).

Maklum, meskipun saya pernah jadi anak disain, tapi bidang ilmu dan orientasi pekerjaan yang pernah saya geluti tidak sejalan dan berbeda aliran. Dalam disain itu ada banyak cabang, seperti Ilustrasi, disain grafis, disain web, komik, animasi dan lain-lain. Sementara skill saya sebagai disain editor,  hanya mampu menggambar untuk pelajaran matematika dan fisika (tau kan) atau mendisain layout. Gak nyeni sama sekali tapi butuh ketelitian dalam menginput data angka atau simbol-simbol (biar yang ngerjain soal gak salah jawab dan nilainya gak anjlok πŸ˜‚). 

Sedangkan adik saya sebagai anak millenial, sudah begitu jauh melampaui. Jam terbangnya sudah tinggi untuk urusan ilustrasi dan emang berada di masa, banyak sumber yang bisa menginspirasi seperti melalui internet. Juga lebih tanggap untuk hal-hal baru, di bidang menggambar secara analog atau digital dengan menggunakan aplikasi. Dan dipastikan ilmu saya akan semakin terbelakang, jika tidak rajin mengupgrade diri (gak punya waktu soale). 😭

Begitulah beda anak disain jaman dulu dan anak disain jaman sekarang. πŸ˜‚


Beberapa Kuliner Ikonik Khas Palembang
Okeh, biar gak semakin halu. Ini dia beberapa Kuliner Ikonik yang keberadaannya juga dinantikan di Hari Raya khususnya kuliner yang ada di kota Palembang. 

Nah, pembahasannya disesuaikan dengan urutan pada gambar diatas, dari yang paling depan lalu ke kanan kemudian ke atas lalu ke kiri :

Pempek

Dulu pernah terjadi klaim dari dua daerah, mengenai asal usul pempek. Namun melalui sejarah, secara historis, filosofis, geografis, serta psikologis dengan jelas menceritakan, bahwa pempek aslinya berasal dari Palembang.

Pempek awalnya bernama Kelesan. Namun pada tahun 1920an berubah menjadi Pempek. Saat itu orang China yang menjual Kelesan akan menghampiri, jika pembeli berteriak 'pek! pek!' kependekan dari Apek. Apek atau empek berasal dari bahasa hokkian, panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari ayah atau disebut dengan paman.  Hingga lama kelamaan, akhirnya menjadi nama makanan yang dijualnya, yaitu Pempek sebagai kata serapan. Meskipun sebagian Orangtua yang sudah sepuh disini masih menyebut Pempek dengan Kelesan. 

Jenis Pempek ada bermacam-macam, tapi biasanya yang terfavorit dan pembuatannya tidak terlalu ribet adalah Pempek Lenjer dan Pempek Telur (ada yang ukuran besar dan ukuran kecil). Seperti pada gambar di postingan ini.

Dulu saya tidak begitu suka Pempek. Kalopun ada yang menyajikan, saya hanya mengkonsumsi telur isiannya, adonan pempeknya dibuang πŸ˜‚. Hingga pada suatu hari, saya ditakdirkan untuk mencicipi pempek dengan tekstur dan aroma yang tidak menyengat serta rasa yang enak banget, termasuk variant lainnya seperti pempek kulit yang lembut di dalam tapi krispi di luar. 🀀 Akhirnya πŸ˜‚.


Es Kacang Merah

Sebagai budaya kuliner yang juga populer dan terbawa dari negeri asalnya bersama bakso, maka es kacang merah pun ikut ambil bagian menjadi kuliner ikonik khas Palembang karena memiliki sedikit perbedaan dari resep es kacang merah di beberapa daerah lainnya di Indonesia. 

Es Kacang Merah biasanya sering disajikan sebagai menu berbuka puasa. Namun jika ingin menikmatinya di hari lebaran kita bisa ke gerai-gerai pempek yang ada di Palembang. Salah satu minuman pendamping yang sering disajikan biasanya adalah es kacang merah.

Sebagai pecinta es kacang merah garis keras, jika ingin mencicipi es kacang merah ketika berada di kota Palembang, suami merekomendasikan gerai Pempek Vico dan Pempek Akiun. Namun ada satu lagi kedai es kacang merah rekomendasi dari teman-teman yaitu Es Kacang Merah Mamat di daerah sekitar Lapangan Hatta. Banyak para pengusaha bahkan pejabat yang sengaja datang kesana, meskipun lokasinya berada di tempat tersembunyi dan antriannya yang mengular.


Mie Celor

Kuliner yang satu ini merupakan perpaduan kuliner Melayu dan Tionghoa karena tampilannya sangat mirip dengan Lo Mie asal China bagian Selatan namun berwarna lebih putih. Mienya besar (seperti Mie Aceh atau Mi Udon dari Jepang) yang di celor atau di celup-celupkan ke air panas. Tekstur kuahnya mirip dengan spagethi tapi lebih encer, karena kuahnya sendiri dibuat dari santan gurih dan kaldu ebi yang merupakan pengaruh dari budaya melayu. Salah satu tempat yang paling direkomendasikan adalah Mie Celor 26 Ilir, sebuah gerai kecil di deretan penjual pempek di Sentra kuliner Kampung Pempek 26 Ilir Palembang. 


Kemplang Iwak

Kata Kemplang berasal dari dialek Melayu di daerah Sumatera Selatan yang berarti dipukul. Apanya yang dipukul? Adonannya dong, masak orangnya πŸ˜‚. Menurut saya, Kemplang itu awalnya adalah penamaan untuk Kemplang yang dipanggang saja. Karena sewaktu kecil, saya sering melihat pembuatannya di rumah-rumah tetangga yang memproduksi Kemplang Panggang.

Setelah dipipihkan, adonan yang dominan berbahan sagu itu lalu dipukul hingga rata, kemudian di kukus dan di jemur. Begitu juga prosesnya ketika dipanggang, dipukul-pukul agar bentuknya tidak melengkung. Berbeda dengan Kemplang yang digoreng, pertama-tama adonan mentah dibentuk seperti pempek lenjer, dikukus baru kemudian diiris tipis-tipis (tidak dipukul), lalu dijemur.

Sebenernya toko kemplang di Palembang itu banyak banget ampe bejibun, dari kualitas paling minimum hingga premium. Namun ada satu tempat, yang berulang kali saya datangi karena rasa dan teksturnya yang enak. Tokonya terletak di Jl. KH. Ahmad Dahlan di belakang Indomaret, namanya Toko Kemplang Dikita, tidak jauh dari Taman Kambang Iwak Palembang. Kemplangnya sendiri terbuat dari Ikan Tenggiri, jadi bagi yang alergi dengan ikan laut bisa mencari alternatif kemplang ikan gabus ke toko-toko lain disini.


Maksuba

Disini, Maksuba biasanya selalu hadir di Hari Raya, di sebuah Event atau untuk Hantaran Pernikahan. Rasanya yang manis dan bahannya yang berlemak karena terdiri dari telur bebek, gula, mentega dan kental manis kaleng, membuat orang yang mencicipi was-was untuk makan lebih dari sepotong, kalorinya tinggi eui. Meskipun setelah mencoba sekali, ternyata malah jadi ketagihan. Akhirnya nyomot lagi, lagi dan lagi πŸ˜‚ (itu mah saya, yak).

Untuk yang mainnya kurang jauh seperti saya, (berdasarkan kenangan) Maksuba terenak itu adalah buatan Ibu pastinya πŸ˜‚. Eh tapi, ada juga kok beberapa tamu yang bilang kalo buatan Ibu yang terenak, karena bahannya agak unik dibandingkan Maksuba biasa. Teksturnya itu lebih halus, padat, lembut dan lembab. Kalo orang laen kuenya berwarna kuning kecoklatan, Ibu mah beda, kuenya berwarna Pink! Sekalipun belum pernah saya temui Maksuba dengan rasa dan warna seperti itu di toko atau di rumah orang lain saat bersilahturahmi, kecuali di dusun Ortu. Tapi walopun berbeda, ternyata rasanya itu enaaak banget dan harum sangat. πŸ˜‚

Pada zaman dahulu, untuk menilai seorang perempuan Palembang apakah sudah pantas dipersunting menjadi istri, dia harus bisa memasak bahan mentah kiriman dari calon mertuanya untuk dibuat menjadi kue Maksuba. Kalo dia bisa, berarti sudah layak untuk menjadi seorang istri.

Pantas saja hanya Maksubanya yang enak tapi kue yang lainnya gak *eh πŸ˜… (maksudnya kue bikinannya yang laen gak seenak kue Maksubanya) πŸ˜‚


Buah Duku

Sebagian orang mungkin mengenal Duku yang manis dan berkulit tipis itu adalah Duku Palembang, namun Duku yang tersebar sampai seantero Indonesia itu sebenarnya berasal dari daerah Ogan dan Komering, yang wilayah perkebunan rakyatnya ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ulu Selatan bukan dari Ibu kotanya. Karena di Palembang sendiri tidak ada tanaman Duku. Kalopun ada tapi tidak subur bahkan tidak berbuah, karena unsur tanahnya tidak cocok.

Duku adalah salah satu buah lokal musiman terpopuler yang paling digemari disini (selain Durian Komering). Karena daerah penghasil buahnya masih berada di ruang lingkup daerah Sumatera Selatan. 

Untuk Duku Komering, setelah panen biasanya langsung di distribusikan ke luar kota hingga melanglang buana ke seluruh Indonesia. Di ibukotanya sendiri terkadang malah tidak kebagian, kalopun ada mungkin hanya sisa-sisa dari Duku Komering yang sudah dipilih sebelumnya.

Teringat waktu kecil, dulu Bapak punya seorang Paman jauh, yang berasal dari Komering. Beliau sudah sangat berumur, agak pikun dan pendengarannya pun sudah banyak berkurang. Tapi hebatnya, setiap tahun dia selalu ingat jalan kesini. Karena kami tidak pernah merasakan pernah punya kakek nenek paman dan bibi, dari Orangtua (kedua Orangtua saya anak yatim piatu). Kehadirannya ke Palembang sungguh membuat kami senang, karena beliau selalu membawa sekarung Duku Komering dan beberapa buah lainnya sebagai buah tangan (bayangkanlah, di usia yang sudah sepuh harus membawa berkarung-karung buah dari tanah yang jauh). Aroma dan rasa Duku Komering yang khas itu selalu menjadi kenangan untuk saya dan juga mungkin untuk saudara-saudara saya. Terlebih disaat Ramadhan. πŸ₯Ί

For My Soulmate

06:20 22
For My Soulmate

Tenanglah kekasihku, kutau hatimu menangis.
Beranilah untuk percaya, semua ini pasti berlalu.
Meski tak kan mudah, namun kau tak kan sendiri, Ku ada disini...
Untukmu aku akan bertahan, dalam gelap takkan kutinggalkan.
Engkaulah teman sejati, kasihku di setiap hariku.
Untuk hatimu ku kan bertahan, sebentuk hati yang kunantikan.
Hanya kau dan aku yang tahu, arti cinta yang telah kita punya.
Beranilah dan percaya semua ini pasti berlalu.
Meski takkan mudah, namun kau takkan sendiri, Ku ada disini...
                                         ~oOo~


bentar, bentaaar... itu diambil dari lirik lagu yah, bukan tulisan saya. πŸ˜‚

Tapi karena saya masih tak sanggup harus berucap lewat suara  πŸ˜‚, jadi ditulis sajalah.

Sama saja seperti dulu, saat masih sering posting-posting puisi di jaman baheula tapi kurang penghayatan. (karena ngetiknya itu malah sambil denger lagu laen, semacam laruku atau kalau tidak ya greenday πŸ˜‚).

Ketika hari anniversary telah terlewati (gak kebagian kalender soalnya)πŸ˜‚.

Beginilah yang terjadi, ucapan tak ada, coklat apalagi. terlalu ruwet dengan banyak urusan yang terus menanti. πŸ˜ͺ

Dulu itu, pertama kalinya kami bertemu di sebuah acara bukber dan kopdar lebih dari 10 plus plus tahun yang lalu. (Meskipun bertahun sebelumnya, kami pernah berpas-pasan di sebuah acara perpisahan dan dia tidak ingat lagi).

Entah dengan dia, tapi saya adalah orang yang bertype pengingat wajah tapi tidak tau nama, jadi yang saya rasakan saat itu, adalah seolah bertemu dengan teman lama.

Ramadhan kali ini seharusnya menjadi moment paling penting, sebenernya, yak.

Dan tanggal 26 kemarin itu bertepatan di hari minggu. Yang mana setelah bertahun-tahun, akhirnya anniversary kami kembali berada di hari minggu, seperti di hari waktu kami menikah dulu. (acara nikah itu kan biasanya emang hari minggu, yak πŸ˜ͺ)

Dan sayangnya, moment kali ini terlupakan begitu saja. 😌

Entahlah. 

Mungkin, karena seiring usia dan kesibukan yang semakin bertambah ditengah virus yang mewabah, hal-hal seperti itu kurang menjadi prioritas lagi. (Padahal bagi saya dikasih kado itu tetep the most important) πŸ˜‚ karena biasanya belio yang ngasih kado. Saya mah hampir gak pernah, paling masak sesuatu yang di sukai seperti pempek misalnya (itu mah saya yang suka)πŸ˜‚.

Tapi ya sutralah.. saya pasang foto lamanya sajah. (gak nyangka, saya pernah nekat bikin yang beginianπŸ˜…, pekerjaan yang menghabiskan waktu berhari-hari dan telah membuat saya sangat abai dengan orang-orang sekitar).



Happy Anniversary, My Soulmate   

tanpa kata
tanpa bersuara
namun matamu, menunjukkan segalanya

diammu adalah lelah tak terungkap
bahwa cinta yang kauberi adalah yang terbanyak 
kepada kami, yang tak kan mampu membalasnya lebih indah

terima kasih
tlah kau beri hatimu, hidupmu 
untuk kami, 
untukku


Bukit, Midnight


Diiringi lirik pembuka :
Afghan - Untukmu aku akan bertahan  04:08

Ditutup dengan iringan lagu dari winamp :
Daniel Sahuleka - I Adore You  05:56
Glenn Lewis - Fall Again  04:19



Venesia dari Timur ?

21:05 7
Venesia dari Timur ?
Penasaran gak sih? kenapa kota Palembang itu pernah mendapat julukan Venesia dari Timur? Hmm.. kalo saya sih penasaran, karena tentu saja saya kan tinggal di Palembang. Tapi, meskipun udah berpuluh tahun tinggal disini kok sayanya gak tau alasan sebenarnya mengapa dan bagaimana yah :D. Kalo ada turis yang bertanya dan minta jawaban lengkap, nah loh.., malu kan saya :D (katanya kota tertjintaaa..).

Nah, berhubung Palembang akan menjadi salah satu tuan rumah Asian Games ke-18, maka saya akan sedikit mengulik salah satu destinasi wisata terbesar yang ada di kota Palembang, yaitu Sungai Musi yang telah membuat kota Palembang pernah mendapat julukan “Venitie van Oost”, ”de Oosterc Venetie”, ”The Indisch Venetie”, ”The Venice of the East” atau Venesia dari Timur.

Wilayah air dengan sedikit daratan (Geografis)

Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua wilayah, seberang hilir dan seberang hulu, yang terdiri dari beberapa anak sungai. Dulu, paling sedikit tercatat lebih kurang 117 buah anak sungai yang mengalir jernih di tengah jantung kota. Sebagian besar Kota Palembang adalah wilayah air dengan sedikit daratan. Penunjang utama kota adalah tatanan perdagangan “ruang air” dengan dukungan dari kampung-kampung yang menghasilkan industri kecil dan ditopang masyarakat pedalaman yang menghasilkan hasil kebun, hutan, serta tambang membuat Sultan dan para Pembesar Kerajaan dapat berdagang dengan dunia luar di atas “ruang air’ Kota Palembang. Sehingga menjadi tempat strategis dan jalur transportasi paling efektif bagi masyarakat, terutama pedagang lokal, Asia hingga Eropa. Dan hal ini, sangat mendukung rencana para penjajah asing, terutama Belanda.

Keadaan Sosial

Kota kerajaan Palembang pada abad pertengahan memiliki stereotipe pasar terapung karena berlangsung di atas permukaan air dengan warung-warung yang berada di atas rakit. Pada masa itu ada banyak pedagang kecil yang menjajahkan dagangannya seperti penjual Pempek, Burgo dan Kemplang dengan menggunakan Perahu Dangkuk atau Kolek terbuka dengan satu orang atau lebih pendayung dan yang duduk di belakang sebagai pengemudi. Selain Perahu Dangkuk seperti layaknya Gondola yang menjadi perahu khas dari Venesia, di Palembang pun memiliki perahu khas lain dengan keunikan tersendiri seperti Perahu Kajang, yaitu sejenis perahu kayu tertutup dengan memakai atap dari daun rumbia yang dilengkapi kelambu, tempat tidur, dan alat memasak dan ada juga semacam rumah-rumahan dibagian belakang sebagai tempat beristirahat (seperti pada gambar). Perahu ini membawa hasil bumi, terutama buah, sayuran dan kebutuhan lainnya untuk dijual.

Karena keadaan sosial dan kondisi alam (geografis) inilah maka pada akhirnya disebut-sebut memiliki kesamaan dengan sebuah Kota Air yang terletak di Selatan Italia, yaitu Venesia.


Gak terasa, dalam hitungan hari saja seluruh bangsa Indonesia akan ikut memeriahkan perhelatan akbar Asian Games ke-18 di dua kota, yakni Jakarta dan Palembang yang bertepatan di tanggal cantik 18.08.18. Dan seolah mengajak seluruh penduduk negara peserta Asian Games untuk ikut merayakan hari bersejarah bagi negeri tercinta ini, karena bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia satu hari sebelumnya, pada tanggal 17.08.18. 

Semoga event yang akan segera di selenggarakan dapat berjalan lancar dan sukses, serta menjadi kebanggaan bagi nusa dan bangsa. Amiin ya robbalalamien...

Merdeka.. !



Referensi :
#Venesia dari Timur : Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang dari Kolonial sampai Paskakolonial, Penulis Dedi Irwanto Muhammad Santun, 2010
#https://www.tropenmuseum.nl
#Catatan Tugas Akhir
#Masyarakat