uzegan: Lomba
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Ripple Effect karena Berbagi

14:42 32
Ripple Effect karena Berbagi


Belum lama ini, saya sempat melihat berita viral yang bersliweran di internet. Dimana seorang kakek tua pengusaha kaya dari solo, turun ke jalan ditengah pandemi yang sedang mewabah.

Demi upayanya untuk menebar kebaikan, beliau memutuskan untuk secara langsung menghampiri tukang becak, tukang sol sepatu, pedagang kecil, karyawan toko, anak yatim piatu, janda dan warga berpenghasilan rendah. Untuk diberikan 2 bungkus beras seberat 5 kg, serta uang sebesar 100 ribu rupiah/orang.

Terakhir diketahui, beliau membagikan 500 kg beras dan uang sebesar 10 juta rupiah untuk 100 orang yang tidak mampu, setiap hari dalam sepekan.


Dengan berkeliling dan membagikannya sendiri, beliau berharap apa yang dilakukannya dapat dicontoh oleh banyak pihak. Yang sekiranya memiliki kemampuan lebih dan juga mau memahami pentingnya arti kebaikan berbagi. Terutama untuk membantu saudara-saudara yang sedang terhimpit, di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk memperoleh penghasilan.

Tak terhitung yang mendoakan, begitu pula yang menghujat, tak pernah ketinggalan. Ada netizen yang bilang itu pamer atau riya', ada juga yang bilang demi kepentingan politik. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang, masih sempatkah kita mencari keuntungan dalam kesempitan? saya rasa, hal itu bahkan tidak penting lagi bagi si penerima.


Ketika Kita Berbagi, Kita Sebenarnya sedang Menerima 

Sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Professor Michael Norton di Harvard Business School menemukan bahwa, memberi uang pada orang lain lebih meningkatkan kebahagiaan orang-orang yang diteliti, ketimbang digunakan untuk keperluannya sendiri. Rasa bahagia itu akan lebih mudah membuat orang-orang untuk memberi atau menularkan kebaikan.

Pada 2006, Jorge Moll dan koleganya di National Institute of Health juga menemukan bahwa, ketika sesorang memberi atau menolong, hal tersebut mengaktifkan bagian-bagian otak yang terhubung dengan kenikmatan, koneksi sosial, dan kepercayaan yang kesemuanya menciptakan efek pendar yang hangat. Sehingga dapat mengeluarkan endorfin di otak dan menghasilkan sebuah perasaan positif yang disebut sebagai “helper’s high”.


“Berbuat baik dan murah hati akan membawa orang lain menjadi lebih positif dan lebih ingin berbagi,” - Buku The How of Happiness oleh Lyubomirsky -


Dua Tipe pada Diri Manusia

Tipe Pemberi
Ada orang yang senang memberi tapi juga berharap mendapatkan balasan. Dan akan kecewa jika terlalu banyak memberi tapi tidak mendapatkan apa-apa. Ada juga yang akan merasa berbahagia jika bisa memberikan sesuatu kepada orang lain (tanpa pamrih). Semakin banyak memberi semakin bahagia yang ia rasakan dan sebaliknya, mereka agak sulit menerima pemberian. 

Meskipun begitu, kaum pemberi pun masih ingin diberi. Seperti mengharapkan imbalan psikologis atau sosial, misalnya saja ucapan terima kasih, harga diri, dan kepercayaan dari orang lain. Hal ini tidak berlaku saat seseorang melakukan altruisme, yakni pemberi/penolong berkorban tanpa mengharapkan imbalan atas kesukarelaannya. Dan ini berasal dari motivasi dalam diri, tanpa memikirkan dampaknya bagi si penolong. Contoh konkretnya adalah, para pejuang yang bertempur di medan perang atau para tenaga medis dan sukarelawan yang sedang berjuang di garda depan, menghadapi pandemi covid 19 yang sedang terjadi sekarang.

Tipe Penerima
Beda halnya dengan si pemberi, si penerima merasa sangat berbahagia jika mendapat pemberian. Mereka merasa diperhatikan dan dihargai. Apalagi jika sering diberi dan mendapatkan dukungan, sering mendapatkan bantuan akan membuat mereka kadang lupa diri. Namun seiring dengan semakin banyak pemberian yang mereka dapatkan, maka keterikatan pun akan semakin dalam. 

Akan tetapi, tidak selamanya pemberian secara terus menerus akan membuat mereka nyaman. Jika mereka mendapatkan terlalu banyak, bisa timbul perasaan bersalah atau rasa tidak enak dalam diri mereka. Apalagi, jika selalu diperhatikan dan didukung tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk si pemberi. Dan mulai memiliki pikiran, takut untuk menyusahkan si pemberi.


Kebaikan Berbagi itu Menular

Hasil penelitian Proceedings of the National Academy of Science, yang dilakukan oleh James Fowler dari University of California, San Diego dan Nicholas Christakis dari Harvard menunjukkan bahwa, ketika seseorang berlaku baik dan murah hati, hal itu menginspirasi mereka yang mengamatinya, untuk bersikap baik ketika ia bertemu dengan orang lain.

Dan nyatanya, para peneliti memang menemukan bahwa perilaku mementingkan orang lain bisa menyebar hingga tiga lapis komunitas, di sekitar orang pertama yang melakukannya (ripple effect). Seperti ketika air terkena lemparan kerikil dan menimbulkan gelombang percikan air layaknya pola melingkar, berlapis-lapis dan semakin besar.

Ketika kita berbagi, kebaikan itu akan terus berlanjut seperti sebuah pertandingan lari estafet, dimana orang yang menerima kebaikan dari seseorang akan melakukan kebaikan juga bagi orang lain. Bila kita meyakini bahwa kebaikan adalah sebuah lingkaran, maka kebaikan yang kita beri dengan berbagi itu, akan kembali lagi pada kita. Meski akan kita dapati, lewat bentuk dan dengan orang yang berbeda.


Karena sesungguhnya, aktivitas memberi dan menerima ini sama-sama membuat bahagia dan menghadirkan rasa syukur.


Tak Ada Batasan dalam Berbagi 

Tidak hanya si kakek pengusaha kaya, para artis dan influencer Indonesia pun turut mengajak para followers-nya untuk ikut berdonasi, membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi.

Tidak tanggung-tanggung, melalui website tagar.id diketahui, donasi yang terkumpul telah berhasil mencapai angka nominal yang fantastis, dimulai dari angka 9 juta hingga 2,6 miliyar rupiah.

Selain itu, ada juga yang langsung turun ke jalan, membagikan alat pelindung diri (APD), sembako, uang, makanan dan memborong dagangan para pedagang kecil di pinggir jalan.


"Kita berbagi bukan karena kita kaya. Tapi karena kita tahu rasanya lapar dan nggak punya apa-apa."

Kata-kata ini mengingatkan saya, bahwa siapapun bisa berbagi kebaikan meskipun dengan keadaan  financial dan ruang gerak yang masih terbatas. Minimal kita bisa menyumbangkan tenaga atau pikiran, agar bisa bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan.

Contohnya saja seperti beberapa teman di facebook, yang memiliki ribuan follower. Mereka mempersilahkan siapa saja yang memiliki usaha, untuk mempromosikan dagangan mereka di kolom komentar secara gratis. Lalu, ada lagi beberapa blogger yang membuka kelas penulisan berbayar, yang nantinya akan disumbangkan untuk penggalangan dana COVID 19.

Ada juga yang berbagi ke beberapa teman yang membutuhkan, dan beramai-ramai mempergunakan jasa ojek online untuk melakukan pengiriman barang atau memesan makanan untuk mereka. 

Tidak sampai disitu saja, beberapa blogger turut membagikan masker dan hand sanitizer sekaligus menggalang donasi, bagi para tunawisma yang terdampak COVID 19. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang teman blogger bersama komunitasnya.

Dan semoga saja, dengan menuliskannya disini juga bisa menjadi cara bagi saya, untuk menebar kebaikan.


kita juga bisa menebar kebaikan disekitar rumah kita sendiri, seperti ibu saya misalnya. Setiap pulang dari pasar dengan berjalan kaki, beliau kerapkali mendatangi rumah tetangga yang ada di sepanjang jalan menuju rumah, untuk sekedar berbagi satu atau dua belanjaannya kepada mereka yang membutuhkan. Entah itu makanan, buah, lauk atau keperluan sehari-hari. Apalagi jika mereka datang ke rumah, biasanya akan mendapat oleh-oleh makanan atau apapun (selagi ada), untuk dibawa pulang.



Tepat Sasaran dalam Menebar Kebaikan

Begitu  banyak  orang  di  dunia  ini  yang  bersedia  memberikan  pertolongan  kepada sesama dan mengetahui artinya kebaikan berbagi,  akan  tetapi  tidak  semua perbuatan baik tersebut diketahui orang banyak. Beberapa diantaranya diketahui secara luas, justru karena tersebar di dunia maya.

Saya sering mendengar ada tetangga yang lebih mampu dan berkecukupan, mendapatkan sumbangan sembako dan surat keterangan miskin atau tidak mampu dari RT. Begitu juga setelah membaca timeline di social media, ternyata ada beberapa teman yang menyadari hal tersebut terjadi di sekeliling mereka.

Seperti di jaman ketika saya kecil, dimana teknologi informasi masih sangat terbelakang. Bantuan diumumkan di depan banyak orang, tapi hanya di sekitar lingkungannya saja. Seringnya jalan di tempat atau malah berhenti di beberapa orang. Informasi yang didapat pun belum tentu sampai ke orang yang berhak menerima. Selebihnya hanya di sampaikan dari mulut ke mulut dan biasanya sudah terlambat. Siapa cepat, maka dia yang dapat.

Dulu sekali, saya sering bertanya-tanya. Mengapa banyak tetangga yang mendapatkan sumbangan uang, barang, zakat atau daging kurban saat hari raya, sedangkan kami tidak. Padahal, jika dibandingkan dengan tetangga sekitar, keadaan kami pada saat itu cukup menyedihkan. Karena orangtua saya hanya mengandalkan warung kecil sebagai mata pencaharian dan sempat menganggur karena bangkrut. Tidak ada lagi yang bisa dijual akibat dampak krisis moneter tahun 1998. Sementara ada 8 orang anak yang menunggu untuk diberi makan. 

Setiap kami protes karena tidak kebagian jatah sumbangan, Ibu saya selalu menjawab, "biarkan saja, mungkin disini lebih banyak yang hidupnya lebih susah dari kita." Dengan prinsip bapak yang juga tidak ingin harga dirinya jatuh karena meminta-minta, kami yang masih kecil pun jadi merasa semakin tersudutkan dari lingkungan, karena tak ada yang peduli.

Teringat kembali ketika saya menginjak bangku SMA. Ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa untuk anak tidak mampu. Yang membuat saya tidak habis pikir, beasiswa itu baru diketahui teman-teman yang lain justru setelah dana beasiswa itu dibagikan ke para penerima (tidak diumumkan). Yang nota bene, si penerima terpilih bahkan jauh lebih mampu, dari teman-teman yang saya ketahui betul bagaimana kondisi keluarganya.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika saya sudah bekerja, seorang kenalan berhasil mendapatkan surat keterangan miskin untuk mendapatkan beasiswa, sedangkan statusnya saat itu adalah seorang mahasiswa kedokteran bonafide, dengan dukungan fasilitas dan finansial dari Orangtua yang bisa dibilang lebih dari cukup. 

Menebar Kebaikan melalui Dompet Dhuafa

Agar bantuan kita bisa disalurkan kepada mereka yang memang membutuhkan dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya, kita bisa menjadikan Dompet Dhuafa sebagai wadah untuk berdonasi. 

Karena Dompet Dhuafa (DD) adalah Lembaga Amil Zakat milik masyarakat, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta Dana Sosial Kemanusiaan lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan sejak tahun 1993. 

Donasi yang dikelola juga mampu mengentaskan kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi. Mereka bukan saja “memberi ikan”, namun “memberi kail” dan melatih para penerima donasi, agar mampu bertahan bahkan berpindah dari penerima menjadi pemberi donasi (ripple effect).




Selain karena memiliki 5 pilar program utama yang memiliki tujuan besar dalam mengentaskan kemiskinan, Dompet Dhuafa juga menggunakan data penerima manfaat dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), berdasarkan Sensus Penduduk, Survei Sosial Ekonomi dan Potensi Desa (PODES). TNP2K juga mendata rumah tangga lain yang diduga miskin berdasarkan informasi dari rumah tangga miskin lainnya (dengan melakukan konsultasi bersama penduduk miskin selama proses pendataan), serta hasil pengamatan langsung di lapangan. Jadi, dipastikan tepat sasaran dan bisa dipertanggungjawabkan.


Di masa pandemi seperti sekarang, kita mengalami kesulitan untuk berbagi karena diberlakukannya kebijakan Work From Home (WFH), School From Home (SFH), Stayathome, Physical Distancing, Social Distancing, PSBB dan lain-lain, demi untuk memutus rantai penyebaran wabah COVID 19. Yang secara tidak langsung, berdampak besar dari segi ekonomi, khususnya bagi masyarakat menengah kebawah. Seperti contohnya, mereka yang menggantungkan hidup dari pendapatan sehari-hari, dengan pekerjaan yang mengharuskan untuk berinteraksi dari jarak dekat dan berada diantara orang banyak.




Karena itu, Dompet Dhuafa juga membuka donasi berupa sembako bagi masyarakat yang terdampak Corona. 


Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat disini. Jika ingin menyalurkan bantuan berupa dana, cukup dengan mengklik  :  https://donasi.dompetdhuafa.org 




Disana kita bisa langsung mengisi data dengan memilih Jenis Donasi. Apakah itu Zakat, Infak/Sedekah, Kemanusiaan, Wakaf dan lain-lain. Setelah itu, mengenai Pengkhususan Donasi, apakah itu Zakat Maal, Zakat Fitrah, Zakat Penghasilan atau Fidyah. 
Lalu, kita tinggal mengisi Informasi lengkap Profil Donatur dan memilih metode pembayaran. Setelah selesai, tinggal klik Donasi Sekarang! Lalu akan terbuka halaman informasi pembayaran, yang juga akan kita terima melalui email. Setelah melakukan transfer, kita tinggal mengkonfirmasi pembayaran dengan mengupload bukti transfer.  
Informasi dan Konfirmasi :
  • Call Center 021-7416050
  • SMS 0812 1292 528
  • Email layandonatur@dompetdhuafa.org
  • www.dompetdhuafa.org




Referensi :
# Shadiqi, M. A. 2018. Perilaku Prososial. Dalam A. 
   Pitaloka, Z. Abidin, & M. N. Milla (Eds.), Buku psikologi sosial, pengantar teori dan penelitian 
   (227-260)
# https://greatmind.id
# https://pijarpsikologi.org
# Dompet dhuafa.org
# https://bdt.tnp2k.go.id
# Liputan6.com

Cara Cepat Jadi Penulis Legendaris

10:30 0
Cara Cepat Jadi Penulis Legendaris
17 tahun yang lalu..

"Gawat! Sudah jam 7."


Aku semakin gelisah dalam kemacetan yang juga semakin menggila. Kusapukan pandangan, menilik satu persatu penghuni jalanan. Beberapa orang teman menyusuri trotoar dan melewatiku, ada yang berjalan cepat tapi lebih banyak yang berlari, lagi dan lagi. Mendadak gelisahku berganti menjadi panik lalu galau, panik, galau dan begitu seterusnya. Kuputuskan untuk segera turun dari angkot, siap untuk melaju meski harus menaklukan jalur sepanjang kurang lebih dua kilometer bak seorang atlet pelari atau malah mirip pencopet yang dikejar-kejar polisi, aku tak perduli.


Kuambil jalan pintas lalu menjelajahi jalan setapak diantara ruko-ruko di dalam gang. Nafasku tersengal dan langkahku memelan. Dandanan yang sudah rapi jali berubah kusut masai. Sisiran poni belah pinggir harus porak poranda karena peluh membasahi dahi dan pelipis. Harumnya bedak bayi dan pelicin pakaian telah bercampur baur dengan aroma keringat. Hilang sudah kharisma seorang abege kala itu.

Aku berjalan gontai disertai gerutu panjang. Kesal, bosan karena selalu diterima di sekolah yang jaraknya jauh, sejak SD hingga SMA. Belum lagi dengan kemacetan yang semakin merajalela dan sopir angkot yang dengan seenaknya berlama-lama menunggu penumpang. Tidak cukup hanya itu, aku masih harus berjalan jauh setelah turun dari angkot dengan kaki yang sudah terlanjur mirip betis kesebelasan. (menyalahkan lokasi sekolah => pencitraan xixixi..)

***


Daripada galau karena mikirin sikat toilet, kemoceng, sapu, kain pel, arit, cangkul dan lapangan "hot" yang sedang menanti dengan penuh sukacita, lebih baik mikir yang asyik-asyik aja ya kan. Hidup ini indah kalau kita berpikir hidup ini indah (eh, ngayal itu berpikir apa bukan yah?) Tapi sutralah.. dibawa enak aja, kita hidup untuk hari ini, yang lalu biarlah berlalu dan besok belum terjadi. :D



Okey! Back to topic. :D



Karena kejadian itu, disepanjang jalan daku terus berharap bisa melompat diantara puncak gedung dan bangunan seperti Spiderman. Dengan begitu maka tidak perlu menunggu berlama-lama di angkot, dan uang jajan juga bisa bertambah karena nggak perlu lagi biaya buat transport (halagh) #Ujung-ujungnya duit. Dengan kemampuan Spiderman, pastinya daku akan lebih yahud dalam bidang olahraga seperti basket dan bela diri, lalu bisa memenangkan semua kejuaraan dan ikut olimpiade, wuih keren. :D


Nah, ternyata dari hasil penelitian, mengkhayal adalah aktifitas yang bagus untuk memaksimalkan fungsi otak kanan dan ternyata lagi, 80% pengkhayal adalah seorang manusia yang kreatif sodara-sodara. Terutama dalam bidang tulis menulis cerita fiksi seperti Tante J. K. Rowling (Harry Potter) dan Animator legendaris Eyang Hayao Miyazaki (Ghibli Studio), Walter Elias Disney (Walt Disney), William Hana & Joseph Barbera (MGM) atau Penulis dan Animator terkenal lainnya yang belakangan sudah marak dan bertebaran seantero dunia. Darimana lagi mereka mendapatkan ide kalo nggak dari ilmu pengetahuan yang dikombinasikan dengan sentuhan khayalan tingkat tinggi. Ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan dengan sekolah, belajar atau bahkan konsul sama mbah google, nah kalo ngayal? Apapun, kapanpun dan dimanapun tetep gratis toh. :D

Dalam setiap mengambil keputusan, mungkin semua perubahan hidupku tak luput dari yang namanya mengkhayal. Kegiatan yang satu itu adalah hal yang menyenangkan disaat belum atau tidak mampu memiliki apa yang diinginkan. Tapi "ingin" memang tak harus memiliki bukan, kadang dengan mengkhayal akan sedikit mengobati keinginan hati yang tak kesampaian. Dan jika mau berusaha menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki dan dilakukan sepenuh hati, Allahu a'lam. Semoga menjadi do'a yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa... semogaahhhhh.. (uhuk). Seperti khayalan Spiderman yang telah menjadi salah satu inspirasi tulisan fiksiku. (ehem..)

Karena itulah, menjadi seorang Penulis Besar adalah khayalan terbesarku saat ini :D. Tujuannya? Agar bisa mewujudkan semua khayalan-khayalan kecil nan ajaib yang tidak mungkin terjadi itu ke dalam bentuk tulisan. Siapa tau suatu saat nanti tulisanku akan menjadi sebuah Mahakarya, jadi Best Seller, di Filmkan, masuk deretan Box Office, di tonton oleh orang sedunia, dapet penghargaan karena membawa manfaat dan menjadi Film Terinspirasi, lantas dinobatkan menjadi Film Terbaik Sepanjang Masa. Ahayyy... asyiknya mengkhayal.. :D


Aku, Mas Galuh & Mobilnya

20:10 2
Aku, Mas Galuh & Mobilnya
Mas!"

Seorang Pelayan mengangguk dan tergopoh-gopoh mendekati kami. "145 ribu..."


Diletakkannya nampan kecil berisi nota pembayaran dihadapan Mas Galuh, laki-laki yang beberapa bulan ini hanya kukenal lewat jejaring sosial.



Pelayan itu menoleh ke arahku dan menatap agak lama. Dia tersenyum, dan kubalas dengan senyum kikuk.



Mas Galuh mengeluarkan uang dan kulihat SIM A dan SIM C terselip di bagian tengah dompetnya. Hmm.. mungkinkah Dia punya mobil? 


Mas Galuh mempersilahkanku untuk menunggu diluar. Selama menunggu, kulihat Dia berbicara dan bersalaman dengan Pelayan tadi. 

Akhirnya Mas Galuh mendekatiku. "Kuantar pulang yah?"

Tanpa menunggu jawabanku, Dia membuka pintu dan mempersilahkanku naik ke Mobil Xenia Hitam yang sedari tadi terparkir di depanku. 

Aku tersenyum. Enggan untuk berkata tidak.

Seminggu berlalu. Mas Galuh memintaku menjadi kekasihnya. Aku ragu. Tapi akhirnya ku iyakan. Kapan lagi bisa dapet cowok yang bawaannya mobil. 


***



Besoknya. 



Aku berdiri di gerbang sekolah menunggu jemputan. Kulihat Mas Galuh dari kejauhan. Tidak seperti biasa, hari ini Dia datang lebih cepat.


"Tumben datengnya cepet, Mas?"


"Iya.. Ni hadiah buat kamu." Mas Galuh memakaikan helm cantik berwarna pink di kepalaku. "Hari ini aku mengundurkan diri dan balik kerja di tempat yang lama Rah."


"Kok nggak ngomong sih, kalo Mas Galuh kuliah sambil kerja?"

Mas Galuh hanya tersenyum.

"Emang di tempat yang lama kerjanya apa Mas?"

"Kasir Restoran."


"Kasir?" Dahiku mengernyit.


"Daripada ditempat yang sekarang Rah. Kerjanya sih lumayan enak, pagi nganter majikan ke kantor trus nongkrong disana sampe jam makan siang. Trus nganter lagi. Abis itu nongkrong lagi, trus sorenya baru nganter pulang. Nyantai kan? Justru yang ribet itu malah istrinya Rah, nggak peduli udah lewat jam kerja, sering banget tiba-tiba minta anter ke mall atau arisan. Kalo sudah gitu, waktu buat kita berdua kan jadi terganggu." 

Haaaaah...




Note : 282 Kata



Cerita FF ini diikutsertakan dalam Kinzihana's GA

Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

15:40 0
Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela
“Nggak mau! Ini punya Rara!”
Adit menarik sendok dan nasi bungkus yang ada di pelukan Rara.
“Adiiiiiiit, kembaliin!”
“Ini punyaku! Wek!” Adit menjunjung tinggi bungkusan itu, tapi tiba-tiba Rara menyundul punggungnya dari belakang, hingga mereka berdua terjatuh dan bergulat di lantai.
Marni panik dan tergopoh-gopoh keluar dari dapur, lalu segera melerai kedua anaknya yang lincahnya naujubillah. Dia mengambil paksa nasi bungkus yang ada di tangan Adit dan meletakannya di tangan Rara.
“Kalian ini apa-apaan sih! Kan udah punya satu-satu, kenapa masih rebutan?!”
“Tapi Adit kan masih laper Bu..”
Secepat kilat Adit merampas nasi bungkus yang dipegang Rara, hingga terjadilah adegan tarik menarik, tapi akhirnya “Brak!” bungkusnya robek dan karetnya putus. Semua isinya berhamburan keluar.
Marni, mengelus dada. “Heran nih anak dua! Badan udah kayak Gajah Way Kambas, tapi kelakuan kayak orang yang nggak makan tiga hari. Kalian liat tuh si Hana. Nggak banyak tingkah, pendiam, penurut lagi. Kalo kelakuan kalian kayak gini terus, Ibu nggak mau ngasih makan kalian lagi! Emangnya nyari uang itu gampang?”
“Yah, jangan Buuu…” Rara dan Adit mengumpulkan remahan nasi yang berserakan serta 2 potong paha ayam yang terpental sampai ke kolong meja.
“Nih, kalian makan punya Ibu aja. Nasi yang itu buang aja, udah kotor gitu ntar kalian malah sakit perut lagi.”
Hana diam saja, dia memilih untuk melihat ke luar jendela. Matanya menatap halaman luas yang membentang di depan matanya. Anak-anak tertawa riang bermain di taman. Ada yang sedang berlarian dan ada yang sedang makan bersama. Hana tertunduk.
Marni ke dapur lalu kembali dengan sepiring gorengan. “Hana, yok sini makan dulu. Ni ada Pisang Molen kesukaanmu.”
“Iya Bu.” Hana mencubit Pisang Molen yang diletakkan Marni dalam sebuah piring plastik. Kemudian dimakannya sampai habis. Sesekali diteguknya air putih yang tergeletak di sudut jendela.
Setelah kenyang. Hana kemudian duduk bersandar di sisi jendela, beristirahat dan berusaha memejamkan mata.
“Hana. Sebelum kamu tidur, jangan lupa cuci piring dan beres-beres ya.” Seru Marni.
“Iya, Bu.”
“Oh ya, kamu kan udah makan Pisang Molen. Jadi jatah nasi bungkusmu buat Ibu yah?”
Hana mengangguk.
“Besok-besok, kamu harus bisa dapetin uang kayak gini lagi pokoknya, yah? Kalo udah terkumpul, Ibu bisa beliin kamu baju lebaran. Kamu mau kan?”
Hana mengangguk lagi. “Boleh nggak besok Hana makan nasi bungkus kayak yang tadi sama beli sandal baru, Bu? Tadi siang, pas Hana dikejar-kejar petugas Kamtib, sandal Hana nyangkut di got dan hanyut di selokan. Trus Hana nangis di bawah jembatan tempat biasa Hana duduk, eh ternyata malah tambah banyak yang ngasih duit, Bu.”
“Bagus, pinter kamu Na! Marni tertawa senang. “Kalo kamu bisa dapet dua kali lipat dari jumlah hari ini, nanti nasi dan sandalnya Ibu pertimbangkanlah pokoknya. Yang jelas, besok kamu praktekin lagi nangis kayak tadi siang yah! Kalo kamu nggak bawa uang, Ibu nggak jamin kamu besok-besok bisa numpang disini lagi. Inget itu ya!

Bhirawa & Ghinara

18:25 0
Bhirawa & Ghinara
"Teruntuk Kapten Bhirawa,

Jalan panjang yang kita lalui, bagiku tak sekedar persahabatan tapi entah bagimu... Aku sadar bagaimana rasanya mengenal soulmate seperti kata orang-orang, kemana-mana selalu bersama sebagaimana halnya kita berdua. Ketika kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi kita dalam mencari ilmu atau saat kita menjadikan tawa dan keceriaan itu harus ada dalam hari-hari yang kita jalani, kita seolah tak terpisahkan untuk saling bahu membahu. Statusku sebagai sobat kentalmu memang lebih kentara dibandingkan dengan jabatanku sebagai wakilmu di dalam kelas. Aku kenal sekali prinsipmu, kau akan marah jika aku mentraktirmu. Maka aku akan berpura-pura tak punya uang, agar kau tak mengacuhkanku. Ketika pulang kuliah aku akan ikut berjalan kaki beberapa kilometer, melewati guyuran hujan dan sengatan mentari hanya untuk berbincang denganmu. Mungkin aku bodoh, atau sebenarnya aku dibodohi oleh rasa yang pelan-pelan menyelinap dan menghangatkan hatiku yang dingin. Aku tak ingin rasa ini terus membuncah, tapi aku tak tau kenapa rasa ini semakin tak terkendali saat kubaca surat yang dikirim dari Ibumu, yang memintamu untuk tinggal seterusnya di kota kelahirannya, Surabaya. Atau ketika berhari-hari kau membuatku kebingungan, karena tak tergurat lagi keceriaan dari wajahmu dan kata-kata penuh semangat yang biasanya keluar dari mulutmu.

Bathinku terus bergolak di bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatanmu. Ketika aku menunggumu pulang dari gereja setiap hari minggu, atau ketika kau selalu menungguku di luar Musholla setelah pulang kuliah. Tak tau bagaimana lagi aku harus merasa, ketika diam-diam kudapati sketsa-sketsa wajahku tergores di beberapa halaman buku Grammarmu. Atau sketsa-sketsa wajahmu yang sempat kau gores di buku catatanku. Aku hanya bisa diam. Tak sekalipun kuucapkan terima kasih ketika berkali-kali kau membantuku, walau kau rela kehujanan dan basah kuyup, hanya untuk menemaniku menyelesaikan pekerjaan ditempatku mencari sesuap nasi atau menjemputku dengan sepeda butut almarhum Ayahmu. Aku tau kau marah karena seringkali merasa tak dihargai. Tapi aku tak punya cara lain. Aku tak tau lagi bagaimana caranya menghilangkan semua rintangan, yang telah membuat hatiku remuk karena tak bisa menghadapi kenyataan bahwa kita tak selamanya bisa bersama dan untuk menjadi lebih dari sekedar sahabat. Kau tau, tak mudah bagiku untuk menjalaninya..
Ghinara"


Lagi-lagi Bhirawa terpaku. Disesapnya kopi yang hampir bercampur ampas di atas meja kerja. Lalu dihisapnya dalam-dalam rokok yang tinggal separuh. Sekelebat ingatannya kembali ke masa lalu. Bhirawa tersenyum getir. Batu nisan Ghinara telah mengoyak-ngoyak tabir kerinduan yang telah bertahun-tahun ia benamkan di sudut hatinya sejak keberangkatannya kala itu. Baginya, kertas yang ada ditangannya itu adalah surat cinta yang mampu menepis rindunya pada Ghinara dan sebagai peredam luka yang tak terobati saat meninggalkannya. Tapi Bhirawa harus memilih, kematian Ayahnya telah membuat Ibunya jatuh sakit dan Bhirawa tak sampai hati untuk mengabaikannya. 

Dipandanginya foto pernikahan anak lelaki semata wayangnya, Abimanyu. Kebahagiaan terpancar dari wajah dua insan yang telah dipertemukan nun jauh di Timor Leste. Bhirawa menatap wajah itu lekat-lekat. Dia tersenyum "Anakmu ternyata sama cantiknya denganmu Ra.."

 Senandung Cinta


Note : Di kampus saya dulu, kami menggunakan sebutan Kapten sebelum nama kepada setiap ketua kelas, terutama di Jurusan yang saya ambil. ^_^

Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman

03:21 2
Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman
Bangunan tinggi menjulang di langit hitam. Spiderman merayap. Menebar jaring dari satu titik gedung ke gedung lainnya. Bergelantungan lalu melambung semakin tinggi dan berakhir di puncak menara. Sendiri, menjauh dari hiruk pikuk dunia.

"Cletek!" Gambar TV berubah gelap. "Tidur sana! Kecil-kecil suka begadang, mau jadi apa kamu!"

"Inghya Fha'k..." Pandi masih berusaha menjawab perintah bapaknya, meski dia kesulitan bicara karena ada kelainan pada bibir atasnya.

"Ngapain aja kamu di rumah Bu!" Bapak Pandi mulai berteriak.

"Prangg!!!"

Ibu Pandi tergopoh-gopoh dari dapur, dan melihat kaca TV sudah berhamburan.

"Masya Allah! TV itu dibeli pake duit Pak! Bukan pake daun."

"Anak cuma satu, tapi ngurusnya nggak becus!"

"Loh, Bapak itu yang seharusnya ngaca! Kerjanya keluyuran aja. Bukannya nyari duit, malah mabok-mabokan. Selama ini, kita makan dari mana kalo aku nggak bikin kue?!"

Hujan lebat dan suara halilintar terus bersahutan dengan suara Orangtuanya yang saling memaki. Untuk kesekian kali Pandi mencoba menutup telinga dengan tangan, bantal atau apapun yang bisa membuatnya tidak mendengar suara-suara itu. Tapi percuma.

Hingga akhirnya Pandi tak tahan lagi. Dia membuka lemari. Dikenakannya baju kesayangannya, lalu berjinjit lewat pintu belakang. Pandi berlari sejauh mungkin. Meski tubuh kecilnya hampir tak mampu lagi menahan dingin tapi kakinya terus melangkah, pasti.. 
***

Sekilas Info.

"Seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia 7 tahun, ditemukan tewas pagi ini. Tanda-tanda fisik yang masih bisa dikenali adalah bibir sumbing. Banyak bekas luka dan memar akibat pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya, belum diketahui penyebabnya. Dilihat dari sisa pakaian yang tidak hangus, diketahui korban memakai baju dan celana berwarna merah dan biru bergambar jaring laba-laba. Diduga korban tewas akibat terjatuh dari puncak menara karena tersambar petir."



QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 :  Sekilas Sekitarmu (Televisi)




Note :
# Inghya Fha'k.. : Iya Pak..
#

#8 Minggu Ngeblog: Komunitas Ideal #1

10:41 0
#8 Minggu Ngeblog: Komunitas Ideal #1

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.


Bagaimana sih komunitas yang ideal itu?

Sebelum saya membahasnya lebih jauh, kayaknya saya perlu mengingat-ingat dulu, komunitas apa saja yang pernah saya masuki, hmm... #garuk2

*tring*

Ah! ternyata banyak. Tapi kok yang berkesan hanya sedikit yah..

Lah kenapa?

Tentu saja karena komunitasnya membosankan, anggotanya jarang aktif, atau komunitas tersebut menuntut waktu lebih banyak untuk berkonsentrasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan komunitas. Padahal, saat itu saya sedang miskin-miskinnya dengan waktu.

Komunitas pertama yang pernah saya ikuti adalah Komunitas Bela Diri Kempo waktu SMP, baru nimbrung 2 minggu eh bubar, anggotanya males karena nggak punya sesuatu yang bisa memotivasi agar komunitasnya maju.

Lalu ada Komunitas Teater waktu SMA. Baru sehari jadi anggota, besoknya nggak dateng lagi. Nggak pede soalnya, mendadak keringat dingin pas ngeliat para senior dan teman-teman pada jago akting karena memang mereka punya basic. Nah saya ? kenal aja baru disitu. Tujuan saya bergabung sebenernya memang cuma iseng, karena tempat ngumpulnya deket mall dan cuma ikut-ikutan temen. Sempet kepikiran mo pulang aja pas seniornya ngetes kemampuan para anggota baru, tapi untungnya saya pura-pura ijin ke toilet dan nggak balik lagi. *hihihi*

Setelah itu saya bergabung dengan Komunitas Pebasket di sekolah, yang ini juga banyakan bolosnya daripada datengnya karena sibuk kursus ini dan kursus itu. Lagian tempatnya juga jauh dan berat di ongkos, kalo ada event-event pun saya hanya ikut sekali pas 17 an, sekedar ikut bantu-bantu memeriahkan. Kalo menang kan lumayan dapet hadiah. :D

Setelah lulus SMK, saya sempat bergabung dalam Komunitas Ibu-Ibu Merajut. Ih senengnya saat itu, karena dapet banyak ilmu dan bisa belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Dan pastinya, saya sering banget dapet traktiran. Terlebih lagi karena saya adalah perajut paling bontot dan hanya saya yang masih single. Istimewa dong pastinya.. ^_^

Oh iyah, komunitas ini bukan komunitas dunia maya, kami hanya berkumpul di satu tempat. Lengkap dengan perkakasnya masing-masing, yaitu benang dan peralatan merajut. Komunitas ini sendiri terbentuk karena kebosanan para ibu-ibu atau hanya untuk mengisi waktu luang pas lagi nungguin anaknya pulang sekolah dan kursus. Karena mereka males bolak-balik dari rumah ke sekolah trus pulang dan jemput ke sekolah lagi, lanjut ke tempat kursus, terus pulang dan ke tempat kursus lagi buat njemput anak-anaknya, kan ribet. Dan juga sebagai alternatif buat ngirit bensin *emang yah ibu-ibu teteup, kalo udah berurusan dengan irit mengirit* hihihi.

Karena di rumah mereka udah ada para pembokat yang beres-beres, jadi nih ibu-ibu emang nggak ada kerjaan alias pengangguran banyak duit. Daripada ngerumpi, ngegosipin orang dan ngomongin yang nggak bener. So merajutlah mereka. Merajutnya mereka inih adalah merenda menggunakan jarum kait (hook), yang bahasa Inggrisnya crochet, nah kalo saya saat itu hanya bisa knitting, itupun bisanya baru bikin syal. Setelah mengenal komunitas ini, awal-awalnya saya masih belum berani praktek, cuma ngeliatin aja. Tapi pas saya mo mulai knitting, ternyata gantian mereka juga pada ngeliatin. :D

Dalam komunitas ini nggak ada istilah leader-leaderan, atau event-eventnan, kegiatannya yah cuma berbagi ilmu, dan ngerajut bareng. Kegiatan hot nya yang paling banter, mungkin traktir mentraktir aja kayaknya. ^_^

Trus waktu kuliah, saya ikutan Komunitas Pebasket lagi, kerjanya maen basket melulu. Tapi sesekali ngumpul dan diskusi di lapangan atau kalo nggak, tanding sama Pebasket dari komunitas laen. Nah, di tempat kami biasa latihan ada komunitas kecil satu lagi. Komunitasnya para breakers (sebutan untuk para pelaku breakdances), saya mah nggak ikut bergabung. Cuma komunitas basketnya udah dicuekin aja karena ngeliatin para breakers latihan itu ternyata lebih asyik dan seru. *selingkuh ceritanya inih*:D

Dan setahun yang lalu, saya sempat membentuk satu komunitas di Grup BB (Blackberry) untuk para mantan dan calon mantan karyawan di tempat kerja saya yang dulu. Tujuannya yah sekalian buat reuni, menjalin silahturahmi yang udah terputus, kopdar sekalian sebagai tempat sharing dan juga curhat. Komunitas ini menampung semua keluh kesah, susah dan senang selama bekerja disana, sekaligus sebagai tempat bertukar pikiran dan tempat konsultasi bagaimana cara mengundurkan diri yang tetap berkesan baik, meskipun kadang ada yang gondok dan sakit hati karena perlakuan yang tidak nyaman dari Bos besar. Intinya. karena saya adalah karyawan paling senior dan cukup lama bekerja disana. Jadi mungkin lebih paham bagaimana watak dan jalan pikiran si Bos Besar :D

Tapi sayangnya, komunitas ini tidak terlalu lama aktif. Karena Handphone saya dah hampir koid. Jadi udah nggak tau lagi gimana perkembangan atau penyusutan para anggotanya.

Kemudian saya bergabung di komunitas para alumni dari SMK saya yang dulu. Mungkin juga bisa disebut komunitas arisan kali yah, meskipun nggak semua ikut arisan. Anggotanya mayoritas udah berstatus ibu-ibu dan beberapa masih ada yang singel. Komunitas ini sebenarnya sama sekali tidak memilih gender, tapi berhubung sekolahnya memiliki murid yang 98 persennya adalah cewek tulen, 1 persennya cewek jadi-jadian dan 1 persennya lagi cowok macho *hihihi* . Jadi yah, maklumlah :D.

Para anggota di komunitas ini memiliki uang kas, yang suatu saat bisa digunakan untuk membantu salah satu anggotanya jika terkena musibah atau semacamnya. Komunitas ini juga memiliki jadwal pertemuan sebulan sekali, kegiatannya antara lain sharing atau berdiskusi tentang apapun yang kira-kira nyambung dengan para anggotanya.

Dan yang terakhir, Komunitas Monday Flashfiction atau MFF. Baru sekitar 3 bulan lebih saya bergabung disana dan insya Allah seterusnya. MFF adalah komunitas pencinta Flashfiction. Sebuah komunitas tempat kita belajar menulis cerita fiksi yang ditulis tidak lebih dari 500 kata dan ceritanya di akhiri dengan twist ending atau ending yang tidak terduga. Komunitas ini berdiri di dunia maya. Kalo komunitas ini diadain di dunia nyata atau ada event-event kopdarnya, wuih pasti seru, soalnya anggotanya dari berbagai daerah dan luar negeri. Leader atau admin-adminnya pada okeh dan pinter-pinter, tegas dan bisa menetralisir keadaan dan anggotanya pada asyik semua. Ada yang kocak, ada yang nyantai dan ada yang serius, pokoknya macem-macem deh. Meskipun bermacam-macam tapi mereka punya satu visi dan satu tujuan *jadi inget semboyan Bhineka Tunggal Ika ya hihihi*. Salutnya, No heart feeling dari Admin dan Anggota karena semuanya tentang belajar dan belajar dan juga harus bisa nerima saran dan kritik kalo ingin maju. Kita juga dibebaskan kapan saja untuk menulis dan ikutan prompt yang dilaksanakan tiap minggu, karena para Admin memaklumi koneksi internet yang kadang awut-awutan. Selain latihan menulis, juga ada pemilihan karya terbaik setiap minggu, belajar fiksi mini, review buku, tips dan artikel-artikel penting juga quiz berhadiah untuk cerita FlashFiction terbaik. Komunitas ini berinteraksi dalam grup di Facebook dan memiliki sebuah situs yang berisi informasi dan pelajaran-pelajaran yang berguna sekali bagi mereka yang ingin memperdalam FlashFiction.

Nah dari beberapa komunitas yang saya ikuti, akhirnnya saya memiliki beberapa kesimpulan, gimana seharusnya Komunitas yang Ideal itu.

Menurut saya komunitas ideal itu, adalah tempat dimana para anggotanya merasa nyaman dan bisa menjadi diri sendiri serta open minded atau berpikiran terbuka terhadap segala kritikan dan masukkan. Mampu saling meringankan beban masalah dan menunjukan rasa simpatinya antar anggotanya dan saling peduli satu sama lain.

Esensi dari suatu komunitas adalah ikatan emosional yang terbentuk dari kesamaan kesukaan pada suatu hal. Sama secara visi, hobi, tujuan yang juga merupakan daya tarik untuk membuat orang bergabung dalam komunitas. Untuk membangun komunitas tidak diperlukan dana yang sangat besar, karena sejatinya komunitas adalah tentang kualitas, bukan kuantitas.

Sebuah komunitas yang ideal haruslah memiliki tujuan yang jelas serta memiliki komitmen yang konsisten terhadap komunitas agar bisa mempengaruhi para anggotanya. Ketulusan adalah hal yang paling penting dalam sebuah komunitas dan juga kekompakkan antar anggotanya. Jika suatu waktu terjadi cekcok atau kesalahpahaman, sebaiknya memiliki seorang leader yang bisa menjadi penengah dan mampu menetralisir keadaan. Selain itu diperlukan juga orang-orang yang mampu memotivasi demi kemajuan komunitas itu sendiri. Diperlukan juga keaktifan dan rasa empati dari setiap anggota. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bukan hanya untuk kepentingan komunitas tapi juga bagi kepentingan umum (kalau bisa) bukan hanya berdiskusi tentang visi dan misi komunitas saja.

#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #3

00:08 0
#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #3

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Postingan ini merupakan sebagian besar kesimpulan atau rangkuman jawaban kali yah "Seandainya saya tidak ngeblog" sekaligus sebagai alasan kenapa saya ngeblog. :D


Seandainya saya tidak ngeblog, mungkin saya tidak akan pernah aktif di facebook dan twitter untuk berkomunikasi dan bersilahturahmi bersama para sahabat blogger. 

Seandainya saya tidak ngeblog, mungkin saya tidak akan pernah berani untuk belajar menulis dan belajar bercerita. Bisa bergabung di dalam sebuah grup yang anggotanya mampu memacu saya untuk menulis dan terus menulis, meski saya banyak memiliki kekurangan disana sini. Dimana lagi saya bisa menemukan komunitas belajar menulis bersama seperti itu yang anggotanya menyambut saya dengan begitu welcome, membuat saya nyaman tanpa no heart feeling dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.

Seandainya saya tidak ngeblog, saya belum tentu bisa belajar berbagi dengan orang-orang yang "bernasib sama". Karena dengan ngeblog, saya merasa tidak sendiri. Saya bisa mengungkapkan uneg-uneg dengan lebih leluasa, mau marah-marah, sedih, seneng, teriak-teriak tidak akan ada yang terganggu telinganya. Toh saya menulis dan belajar berkata tanpa bersuara. Walaupun apa yang saya tulis malah lebih lantang dari sekedar berbicara. Dan yang paling penting, ngeblog mampu mendorong saya untuk aktif berpikir dan berpikir lagi serta berinisiatif untuk mengembangkan sudut pandang yang lebih luas.

Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak pernah tau bahwa banyak sekali orang-orang diluar sana, diluar kota bahkan diluar negeri yang nasibnya lebih menyedihkan. Seandainya saya tidak ngeblog saya tidak akan pernah membaca cerita-cerita pilu para sahabat blogger yang membuat saya jadi lebih bersyukur dengan hidup ini.

Seandainya saya tidak ngeblog, kapan lagi saya bisa berbagi cerita dengan panjang lebar. Sedangkan waktu ini tak pernah cukup bahkan untuk berbagi ke tetangga, saudara atau sahabat di luar sana. Seandainya saya tidak ngeblog kemana lagi saya harus mengeluarkan banyak cerita terpendam menjadi sebuah tulisan.

Ngeblog itu something, yang sudah saya lakoni tapi seringkali mandek, terbentur karena ide yang tak datang-datang. Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan pernah tau sampai dimana kemampuan saya menulis dan tidak ada yang akan berkomentar bahwa tulisan saya jelek sehingga dengan cepat saya akan mengoreksi lalu belajar lagi, tidak ada yang akan mengajak saya berargumen saling beradu pendapat lalu saya akan semakin terus belajar untuk lebih bertanggungjawab.

Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan bisa belajar banyak untuk bisa saling mengingatkan. Berbagi pengalaman, dari yang tidak tau tiba-tiba jadi tertarik karena tulisan yang begitu menggugah. Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan bisa mengikuti banyak lomba-lomba menulis dan memiliki kesempatan untuk menang.

Dengan ngeblog saya bisa mengingat dan mencatat memori-memori yang mungkin suatu hari akan terlupakan begitu saja. Seandainya saya tidak ngeblog mungkin saya tidak akan memerlukan biaya tambahan untuk membeli pulsa modem setiap bulan. Tapi meskipun ilmu bisa kita dapatkan dari buku, seandainya saya tidak ngeblog mungkin pengetahuan saya tidak akan bertambah sebanyak ini.

Seandainya saya tidak ngeblog saya tidak akan banyak belajar dari kisah nyata. Membaca dan berbagi melalui blog membuat saya menjadi terpacu untuk belajar hidup dengan lebih baik lagi serta membangkitkan kesadaran dan mencerahkan pikiran. Dan kita akan mendapatkan banyak dorongan, masukan bahkan dukungan dari para sahabat blogger juga tentunya. ^_^

~oOo~

#8 Minggu Ngeblog: Bathin sehat berkat ngeblog #2

22:33 0
#8 Minggu Ngeblog: Bathin sehat berkat ngeblog #2

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

~oOo~

Ngeblog itu memang mengasyikan, buktinya saya punya 4 blog, dan alhamdulillah ada 3 yang aktif, 1 lagi baru dibikin. Harap maklum jika 1 atau 2 blognya kadang sepi komen. Karena saking sibuknya nyari bahan postingan, kelamaan semedi, dan terlalu konsen di salah satu blog setiap minggu, hingga menyebabkan blog lainnya dicuekin dan sedikit terlantar.

Blogwalking dan meninggalkan komen itu adalah hal yang jarang saya lakukan. Padahal kalo ingin menyambung silaturahmi dan pertemanan, seharusnya musti rajin bw dan ninggalin komen juga sebenernya yah.. :D

Seinget saya dulu, waktu kelas 3 SMA sekitar tahun 1999, saya sudah mengenal internet. Karena dulu sempet ikut pelatihan komputer. Sampai tahun 2002 saya masih belum mengenal blog, hanya sekedar belajar mendisain halaman website dan belajar secara offline. Saat itu pembuatan template masih sangat sederhana. Kita hanya mengetik kode html di notepad atau kalau ingin lebih mudah, kita juga bisa mendisain halaman dan menyusun bagian-bagian linknya di Aplikasi Microsoft Frontpage.

Sekitar tahun 2004, barulah saya belajar ngeblog untuk pertama kalinya di Friendster. Ngeblognya lumayan lama lalu pindah ke blogspot sebentar, tapi sayang blognya terlantar dan saya lupa alamat blog, email beserta passwordnya *ishh.. parah yah hehehe... trus balik lagi ke Friendster.

Tahun 2006, coba bikin lagi di blogspot, tapi mendadak ilfill juga pas ngeliat templatenya. Karena saat itu saya belum ngerti gimana ganti template di blogspot dan jarang banget gugling. Juga karena saya nulis postingannya di komputer di rumah, trus baru dibawa ke warnet *biar irit*:D. Nah pas nyampe warnet, bukannya ngeblog, tapi malah chatting. *hihihi*

Tahun 2011, akhirnya saya niatkan bener-bener buat ngeblog. Saat itu saya udah menikah dan si kecil udah agak besar, dan lagi karena komputer serta koneksi internet tersedia tiap bulan. So, why not.. itung-itung ngisi waktu luang dan untuk ngilangin kejenuhan. Memanfaatkan jadwal "Me Time" sebentar dari rutinitas dan pemandangan yang itu-itu aja di rumah.

Awal mulanya saya pengen ngeblog itu karena saya suka nyari resep masakan dan suka ngeliat foto-foto kuliner yang ada di blog. Maklum, soalnya saat itu lagi lucu-lucunya untuk belajar jadi ibu rumah tangga yang baik. :D

Saat itu saya menemukan sebuah blog pribadi tentang resep masakan yang semua isinya ciamik. Tulisan-tulisannya enak dibaca, karena selain nulis resep, yang punya blog juga nulis pengalamannya sehari-hari. Dari situ saya jadi ketularan. Akhirnya bikin blog resep masakan juga. Eh tapi lama-lama, postingannya tak tambahin tulisan tentang review buku. Karena saya juga suka baca buku, jadi sayang aja kalo nggak dishare di blog. Dan akhirnya, berkembanglah jadi blog campur-campur karena saya tambahkan juga tulisan tentang motivasi dan review film. Tapi sayangnya saya belum berani untuk menulis tentang diri sendiri atau apa saja dalam kehidupan sehari-hari, entah. Mungkin karena belum pede aja kali yah..

Dan temen-temennya gimana? Saat itu temen-temen blogger saya rata-rata masih anak sekolah atau kuliah. Sebenernya saya juga pengen temenan sama yang seusia atau kalo nggak statusnya sama-sama sebagai Ibu Muda. Tapi mungkin karena isi postingan-postingan saya yang *mungkin* seleranya lebih ke anak muda, trus jarang blogwalking, terlebih karena sayanya juga yang jarang ngunjungin balik ke temen-temen yang udah komen, jadinya yah gitu deh. *:D*

Saat itu saya ngeblog hingga bulan maret 2012. Kebiasaan ngeblog itu seolah-olah hilang karena kepindahan kami sekeluarga ke rumah baru. Mungkin karena masih harus menyesuaikan diri, teman-teman dan lingkungan baru di dunia nyata, maka dunia maya pelan-pelan mulai terlupakan.

Tapi akhirnya pada bulan Desember, karena sulit menemukan teman seide, atau yah senasib mungkin dan karena lingkungannya yang kurang mendukung karena sesuatu dan lain hal. Maka saya memutuskan untuk mulai ngeblog lagi.

Dan saat mulai ngeblog lagi bulan Januari lalu itulah, saya menemukan banyaaak banget temen dan sahabat *senengnya* ^_^

Pokoknya sejak saat itu, saya udah mulai pede buat nulis-nulis tentang hal-hal pribadi seputar kehidupan sehari-hari. Seandainya saya tidak ngeblog, mungkin pikiran saya hanya jalan ditempat kali yah, nggak maju-maju. Terlebih karena saya orangnya yang jarang bicara, kecuali itu penting atau karena akhirnya saya menemukan orang-orang yang nyaman untuk diajak bicara, baru saya berani buat ceplas-ceplos. :D

Dan karena itu juga, saya memerlukan media untuk menuangkan semua uneg-uneg yang tidak bisa tersampaikan dengan baik lewat ucapan, sebagai tempat berbagi dan sebagai tempat untuk saling mengingatkan. Menulis itu merupakan terapi terbaik untuk saya yang jarang bicara dan karena saya juga suka nulis meskipun kadang awut-awutan. Mau topiknya seneng atau sedih tapi yang penting saya nulis dulu. Entah bagus atau jelek nanti kan bisa dikoreksi dan diedit lagi ^_^. Yang penting emosi yang ada di dalam diri bisa tersalurkan dan mendapatkan kelegaan luar biasa yang kadang tidak bisa saya dapatkan di dunia nyata. Selain sebagai tempat untuk belajar menulis, ngeblog itu adalah salah satu faktor yang menyehatkan bathin. Jika bathin saya sehat, insya Allah lahirnya juga akan mengikuti. ^_^

Seandainya saya tidak ngeblog, aiiih... kasian banget bathin saya. :D
~oOo~. 

#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #1

00:13 0
#8 Minggu Ngeblog: Seandainya saya tidak ngeblog #1

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.


Apa sih sebenernya tujuan ngeblog itu?

setau saya, dulu ngeblog itu cuma tempat buat nyampah. Kalo nggak diisi dengan lirik lagu atau curhatan, yah sumpah serapah.. :D

Tapi itu dulu, sebelum saya mengenal para sahabat-sahabat yang saya temukan dalam sebuah grup menulis. Meskipun saya ngeblog udah dari lamaaa banget, tapi ternyata kok sedikit sekali kemajuannya yah. Baik dari segi tulisan bahkan pertemanan. Nah loh, kok bisa gitu?

Saya mengenal blog itu, waktu jamannya FS (Friendster). Dimana semua teman yang terkoneksi bisa membaca semua curhatan-curhatan saya di blog, sama kayak di Facebook notes. Tapi sayangnya yang ngeblog di FS nggak booming banget kayak sekarang. Jadilah isi postingannya kadang rada ngaco, cuma sekedar teriak-teriak geje dalam bentuk tulisan, bikin puisi-puisi yang juga lebih kebangetan lagi gejenya. Eh walopun begitu, FS ku itu isinya banyak tulisan-tulisan temen loh. Apalagi klo soal cinta-cintaan wuih... blogku jadi tempat penampungan. Maksudnya, kalo temenku sedang dilanda cinta membara tiada tara, jadilah dia tuangkan dalam bentuk tulisan, trus di posting di FS ku, trus berharap orang yang disukainya (yang tidak lain temenku juga) geer bin penasaran trus komen-komen di blogku. Intinya saat itu, saya sempet jadi seorang mak comblang. 

Blog di FS juga bisa dijadikan sebagai sebuah media surat-suratan atau tulisan berbalas. Kalo lagi baikan, tulisannya lucu-lucu. Tapi kalo lagi berantem, tulisannya yah sindir-sindiran. Saya bikin postingan di FS lumayan rutin, meski blognya nggak kayak sekarang inih, yang isinya pada canggih dan bermacam-macam. Jadi ngeblog di FS itu sebenernya, mungkin karena saya memiliki jam iseng lebih banyak daripada jam kerja kali yah hihihi...

Saat itu, saya juga suka ragu kalo mo nulis curhatan di blog pribadi. Pengen nyumpah-nyumpah tapi takut dibaca orang yang bersangkutan, tapi kalo nggak nyampah yah rasanya nggak sreg. Untunglah udah ada blogspot, jadi mengungsilah saya. Nenteng tulisan seabrek, semuanya dimasukin ke blogspot. Setelah puas cuap-cuap disana, tetep aja nggak punya temen. Sepi, yang komen juga blom ada. Secara semua temen-temen emang lagi pada betah mangkal di FS yang saat itu lagi lucu-lucunya. Akhirnya, di blogspot juga nggak lama. Balik lagi ke FS bikin akun satu lagi, nama disamarkan. Dan curhatlah saya dengan leluasa, mau jungkir balik, gulang guling yang penting "yang bersangkutan" nggak liat toh. :D

Trus, kalo seandainya saya nggak ngeblog saat itu? yah nggak gaul jadinya hehehe..

Tapi nggak juga sebenernya.., Meskipun saat itu belum ada (atau saya yang belum tau) lomba-lomba ngeblog yang ada kayak sekarang. Tapi dengan ngeblog, kita bisa menyambung tali silahturahmi yang terputus atau menambah sahabat baru tidak hanya dari satu negara, tapi juga dari luar negeri.

Nah, kalo sekarang. Seandainya saya tidak ngeblog, rasanya ada aja yang hilang setiap hari. Makan nggak nyenyak, tidur nggak enak #eh. Saking takutnya ketinggalan informasi soal kontes-kontes ngeblog terbaru. *hihihi* Padahal sebelum-sebelumnya, tujuan ngeblog saya itu cuma sekedar buat belajar tulis menulis dan mendokumentasikan moment yang tidak bisa direkam oleh kamera. Tapi semenjak bewe ke salah satu temen blogger yang lagi bikin giveaway, saya penasaran apa sih giveaway itu. Trus saya liat, wow rupanya dengan menulis di blog kita bisa dapet hadiah juga. Dan ikutlah saya untuk memeriahkan. Tak disangka baru pertama kali ikut, eh menang. Lalu ikutan juga di blog kontes lainnya dan menang lagi, hingga membuat saya ketagihan. Walopun sekarang udah jarang menang, tapi nggak pernah menghentikan saya buat nggak ngeblog lagi. Yap, karena ngeblog itu bukan cuma semata karena hadiah, tapi juga karena ada persahabatan dan pelajaran penting di dalamnya, yang tak selalu bisa kita dapatkan dari dunia nyata. Seandainya saya tidak ngeblog, saya tidak akan mendapatkan semuanya. ^_^

~oOo~. 

#8 Minggu Ngeblog: Berawal dari Hati

18:21 1
#8 Minggu Ngeblog: Berawal dari Hati
Sangar, Dingin, Pendiam, dan kejam. Julukan-julukan itu pernah saya dapatkan dari siswa-siswi, di sebuah lembaga pendidikan tempat dulu saya bekerja. Kalau di ingat lagi saya pasti tertawa. Karena di saat yang sama, saya juga pernah mendapat julukan ramah, perhatian, rame, suka tertawa dan lucu dari siswa-siswi lainnya. Pendapat yang sangat bertolak belakang, tapi tak pernah membuat saya merasa menjadi manusia bermuka dua. 

Terkadang kondisi memang mengharuskan saya untuk bersikap seperti itu. Walaupun mungkin hanya drama, tapi mau tidak mau saya harus beradaptasi dengan situasi. Contohnya saja ketika sedang mengawas ujian atau tryout, para siswa-siswi mungkin tak pernah tau bagaimana beratnya harus memasang muka sangar, kejam, sok disiplin, diatas panggung dengan mata yang harus standby berjam-jam, lalu berkeliling dalam ruangan sebesar auditorium. Hanya untuk menakuti para peserta ujian agar segan untuk mencontek dan tidak melakukan hal-hal curang lainnya. Bahkan untuk tersenyum atau tertawa saja, saya lebih memilih untuk menghadap dinding atau keluar jendela. Mereka juga tak akan pernah tau bagaimana leganya, ketika proses pekerjaan mengawas ujian itu berakhir, kecuali bagi siswa-siswi yang memahami apa sebenarnya yang saya lakukan. Bukan saja otot muka yang mengendur, tapi seluruh otot syaraf tubuh seolah lepas dari ketegangan. Yah, semuanya demi profesionalitas, demi pekerjaan yang hanya menghasilkan beberapa lembar rupiah. 

Ditinjau dari profesi pekerjaan, mungkin kita adalah orang yang disiplin dan penuh pengabdian terhadap pekerjaan yang kita lakoni. Tapi di sisi lain, saya hanyalah anak kemaren sore yang baru saja lulus sekolah. Yang ingin sekali belajar di bangku kuliah, bergaul, dan menikmati hidup layaknya teman-teman yang lain. Saya yang dulunya terbiasa menghadapi buku dan kertas ujian, mau tidak mau harus siap menghadapi kehidupan yang menantang di lapangan, berada di bawah tekanan dan kerja keras tak kenal waktu. Menghadapi orang banyak dengan segala tingkah polanya, terutama anak-anak remaja. Berusaha bersikap dewasa dan banyak mengalah, meskipun orang-orang yang dihadapi berusia lebih muda 1 atau 2 tahun saja atau bahkan jauh lebih tua. 

Tapi dalam pergaulan sehari-hari, sama sekali saya tidak mau menerapkan sikap sangar, dingin, pendiam dan kejam. Walaupun peran itu terkadang terpaksa saya lakoni, kepada mereka yang terkadang mencela dan tidak mengerti untuk menghargai apa yang sudah saya lakukan atau karena untuk menutupi rasa takut tersakiti. Yah, sikap-sikap itu bisa menjadi senjata yang ampuh jika orang lain mulai bertindak semena-mena. Karena saya juga manusia yang memiliki segala kelebihan dan kekurangan, bukan malaikat ataupun iblis. Bukan juga manusia berhati batu atau manusia berhati emas. Hanya seorang manusia yang diciptakan dari segumpal tanah dan memiliki segumpal daging yang bernama hati. Manusia yang memiliki akal dan pikiran, yang masih terus belajar melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan. 

Kita tau sikap ini tidak khusus secara personal, kita sebagai manusia pun jika terlalu sering disakiti, suatu saat pasti akan melawan. Tergantung dari berapa lama kesabaran seseorang dan cara mengatasinya. Apakah keburukan dibalas dengan keburukan ataukah justru keburukan dibalas dengan kebaikan, tinggal kita yang bisa memilihnya. Jika kita memilih untuk menanam kebaikan lalu merawatnya, menyirami dan memberinya pupuk, meski di tanam di tempat yang gersang dan kering, kebaikan itu akan tumbuh dan menghasilkan buah yang manis. Tapi jika kita memilih menanam keburukan maka hasil yang kita dapat juga adalah keburukan. 


Yah, apapun yang kita lakukan semuanya bersumber dari hati. Dimana tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, ketenangan dan kebimbangan. Yang semuanya juga tergantung dari lurus atau bengkoknya hati.

Seperti sabda Rasulullah : 

Ketahuilah, sungguh pada tubuh itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya, dan ia adalah hati” (HR. Bukhari) 


dan juga dari Abu Hurairah r.a. 

Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya”. 

#8 Minggu Ngeblog: My First Love

09:07 0
#8 Minggu Ngeblog: My First Love

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima.

~oOo~


Cinta Pertama..?

Aku menemukan cinta pertamaku ketika masih SD. Eh! Masih kecil udah bisa main cinta-cintaan yah... :D tapi, yang ini lain. Cinta yang ini memang cinta yang paling spesial selama hidupku. :)

Siapakah dia??

Hmm...

Aku telah jatuh cinta dengan ahlak, budi pekerti dan kerendahan hatinya. Dia mampu menjawab dan membuktikan semua pertanyaan-pertanyaanku tentang hidup ini. Mengajariku banyak hal, terutama kesabaran dan cara mencintai Tuhan, serta membimbingku untuk beribadah dengan cara yang semestinya. Tempatku mencari jawaban mengenai cara menghadapi semua orang, cara menghadapi kehidupan dan kematian, dan cara berjuang dalam kerasnya hidup ini. Hatinya lembut selembut kapas, tapi tekadnya keras sekeras perjuangannya di jalan kebaikan. Pantas jika dia dicintai banyak orang.

Saat itu aku tidak tau harus berbuat apa, untuk menghadapi orang-orang yang menghina, menyakiti dan meremehkanku. Aku tak bisa membalas dengan kemarahan ataupun dengan perbuatan yang lebih kejam. Aku tak berdaya, tak punya kekuatan bahkan untuk membalas dendam. Aku merasa adalah orang yang memiliki selemah-selemahnya kekuatan. Hingga membuat "si Aku kecil" terus mempertanyakan apa yang semestinya dilakukan dan untuk apa menjalani hidup ini. Kenapa banyak manusia menyakiti manusia lainnya, apa iri dan dengki itu, dan mengapa manusia bisa bersikap kasar dalam ucapan serta tindakannya.

Hingga aku pun mengenalnya. Dia begitu mengerti diriku. Dialah orang yang paling ingin aku temui. Orang yang ingin kujadikan sahabat. Aku tak berani menjadikannya seorang kekasih, karena aku merasa bahwa aku bukanlah seorang manusia yang layak untuknya. Tapi aku benar-benar mengharapkan bisa mengenal lagi orang yang memiliki watak, sifat dan perilaku seperti dirinya. Seseorang yang tak pernah kutemui dalam hidupku sampai hari ini.

Kalaulah kalian tau betapa sering aku merindunya. Kadang aku tak bisa menahan air mata yang tiba-tiba bercucuran, karena terlalu berharap bisa menemuinya walau hanya dalam mimpi atau bisa mengenal seseorang yang mirip seperti dirinya. Seseorang yang bisa membawakan ketenangan dalam batinku, menemani dan membimbingku ke jalanNya. Tapi aku sadar-sesadarnya, tak ada orang yang seindah dirinya.

Entah kapan aku bisa berkunjung ke tanah kelahiran dan menziarahi kuburnya. Mungkin dengan membaca tulisan-tulisan tentangnya, akan sedikit mengobati kerinduan-kerinduanku yang terus membuncah, tulisan-tulisan tentangnya yang mampu membuatku tersenyum menghadapi pahit getirnya hidup. Aku ingin dia terus ada dalam setiap jejak langkah hidupku, hidup dalam ahlak dan perbuatanku, tak ada lagi yang bisa kuberikan untuk mengenangnya selain melakukan apa yang dia minta, dan menjalani semua pesan dan amanahnya.

Tulisan-tulisan tentangnya tak sedikitpun menunjukkan kemarahan atau kesusahan. Selain rasa syukur, keimanan, sifatnya yang amanah dan kelembutan hatinya. Cinta pertamaku yang tak pernah lekang oleh waktu, meski kadang aku lupa dan tak menghiraukannya. Ah, aku hanya manusia biasa yang sering khilaf dan kadang lupa bersyukur bahwa Dia adalah anugerah dan hidayah terbesar yang pernah kukenal seumur hidupku.

Betapa aku ingin, melihat ahlak dan budi pekertinya terpancar dalam diri semua anak-anakku. Mungkin dengan begitu setidaknya aku bisa merasakan kehadirannya melekat dalam jiwa, dari setiap orang yang kusayangi.

Begitulah dia di hatiku dan juga di hati semua orang yang telah mencintanya.

Dan hanya dia, Cinta Pertama di hati dan pikiranku. Manusia pilihan di mata Tuhan dan para umatnya, Baginda Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi Wa Sallam..

~oOo~

#8 Minggu Ngeblog: Perempuan-Perempuan Perkasa

10:36 0
#8 Minggu Ngeblog: Perempuan-Perempuan Perkasa
Perempuan inspiratif adalah perempuan yang mampu membangkitkan semangat. Mampu menebarkan aura positif dan dapat memotivasi orang lain dalam mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk melakukan yang terbaik, dengan memberi keteladanan bagi orang-orang yang berada disekitarnya. Tentu saja keteladanan mereka itu terlihat jelas dalam aktifitas kehidupannya sehari-hari. 

Perempuan inspiratif itu bukan hanya berasal dari perempuan yang hidupnya penuh dengan kemewahan, yang berpangkat tinggi atau yang memiliki karier dengan segala aktifitas sosialnya. Perempuan inspiratif bisa datang dari sosok yang sederhana, meski berekonomi lemah tapi memiliki mental dan semangat yang luar biasa. Mampu menjalani kehidupan dengan ikhlas, optimis, bekerja keras, tidak mengeluh dan tidak bergantung kepada orang lain. 

Wanita inspiratif pertama dalam hidupku tentu saja adalah seorang Ibu. Dengannya, saya bisa belajar mengenal dunia untuk pertama kalinya. Tapi selain beliau, ada dua orang lagi yang menjadi perempuan inspiratifku di masa kecil, yaitu Shin Tanokura atau Oshin, nama tokoh utama dalam serial drama Jepang yang juga berjudul Oshin. Siapa yang tidak tau dengan perempuan yang satu itu. Tokoh dari serial drama yang dulu pernah di putar di TVRI dan ceritanya pernah saya baca dari novel di akhir tahun 80-an, ketika saya baru masuk Sekolah Dasar. Walaupun Oshin sendiri hanya tokoh dalam cerita, tapi Oshin merupakan karakter dan cerita yang diambil dari kisah nyata Kazuo Wada, seorang wanita pebisnis pemilik sebuah jaringan Supermarket, Yaohan. Untuk seorang wanita yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup yang penuh tantangan dan mengangkat harkat wanita dimasanya, Kazuo Wada telah menginspirasi banyak perempuan di 59 negara lainnya terutama Asia. 

Oshin kecil yang terlahir dari keluarga miskin harus bekerja menjadi pembantu dan pengasuh anak. Dengan bayaran sekarung beras yang hanya didapatnya setahun sekali, Oshin rela melakukannya demi membantu keluarganya. Kasih sayangnya pada keluarga serta kelembutan hatinya, membuat Oshin sama sekali tidak berniat untuk membalas kepada orang-orang yang telah mendzoliminya. Saya yang saat itu masih anak-anak begitu kagum ketika melihatnya sedang mengasuh, tapi dia masih bertekad untuk belajar. Hingga majikannya tersentuh, dan memberinya ijin untuk belajar sambil mengasuh di sekolah. 

Karakternya yang berdisiplin tinggi membuatnya di sukai banyak orang. Hingga membuat majikan barunya mendidik Oshin dengan tata krama sama seperti bangsawan jepang, meski dia berasal dari kalangan bawah. Semangat hidup serta keinginannya untuk belajar tak pernah pudar dan tak lekang oleh himpitan derita, semuanya dilakukan dengan sepenuh hati. 

Oshin juga mengajarkan bagaimana kita peduli dan berempati, karakternya membuat kita bercermin dan memahami orang yang lebih kesusahan. Dia mampu menolak uang pemberian ibunya, karena dia tau dan dapat merasakan pedihnya kemiskinan dan kesakitan yang diderita ibu dan neneknya. Ia tak mau menyusahkan orangtuanya. Tekadnya kuat dan mandiri meski usianya masih 7 tahun. Yah, bahkan anak sekecil itu selalu berupaya mengenali pribadi orang lain dan memiliki keinginan untuk membantu orang yang sedang dalam kesusahan meskipun dirinya sendiri mengalami hal yang sama. Oshin begitu tegar dalam menghadapi lika liku cobaan hidup dan pantang menyerah dalam meraih cita-citanya. Hingga akhirnya, dia sukses memiliki beberapa cabang Supermarket di Jepang. 

Sejak saat itu saya sering berkaca. Kondisi keluarga yang tidak sama dengan orang lain serta kemiskinan yang pernah melanda keluarga kami, bukanlah suatu penghalang untuk mewujudkan cita-cita dan keinginan asalkan kita tetap tekun, berusaha dan bersabar lalu tawakal. Saya bersyukur dan tidak mau mengeluh karena merasa masih memiliki orang tua yang sehat dan masih mempunyai tempat untuk berteduh. Walaupun iuran sekolah selalu menunggak dan sering tidak bisa ikut ujian, tapi kami masih bisa bersekolah dan bermain seperti anak-anak lainnya. Meskipun makan kadang hanya sekali sehari, tapi rasanya tidak akan sebanding jika harus memakan bubur nasi encer atau nasi lobak (makanan orang miskin di Jepang) yang sebenarnya bukan nasi dan itupun belum tentu ada setiap hari. 

-//-

Sejak kelas 2 SD, saya sempat belajar mengaji dengan seorang Ustadzah di masjid dekat rumah, namanya Ustadzah Yerneni. Beliau adalah janda yang di tinggal mati suaminya, tapi kasih sayang dan kerja keras beliau tak pernah surut di makan waktu. Melalui teknik pendekatan kepada setiap anak, beliau mampu menularkan semangat kepada murid-muridnya, hingga membuat kami sangat mengaguminya. 

Ketika itu beliau masih memiliki anak batita, jadi saat beliau mengajar, anak-anaknya selalu diajak. Kadang beliau meminta waktu sebentar untuk menyusui. Bayangkan bagaimana keadaan kelasnya, biasanya pasti ribut ya. Tapi justru yang terjadi malah sebaliknya, kami duduk dengan tertib dan membaca pelajaran dalam hati. Karena beliau mengajar dengan lemah lembut, perhatian dan kadang suka memanjakan anak-anak didiknya hingga membuat kami menjadi lebih patuh. Beliau tidak pernah menghukum atau menegur dengan nada tinggi apalagi dengan kata-kata kasar, malah sebaliknya semakin lembut dan semakin perhatian dengan keadaan dan kekurangan kami. Maka, hati anak kecil mana yang tidak luluh diperlakukan seperti itu.

Beliau juga menyuguhi kami dengan makanan kecil seperti rempeyek, kue semprong atau kacang goreng. Karena beliau harus mencari nafkah untuk anak-anaknya, maka makanan yang beliau suguhkan itu tidak gratis tapi kami semua dengan senang hati membelinya. Selain mengajar cara membaca alqur'an dan tajwid, beliau juga mengajar teknik melagukan bacaan alqur'an dan musik rebana di berbagai tempat, kadang-kadang beliau juga mengajarkan kami menyanyikan lagu qasidah. Demi agama dan anak, beliau lakukan semua meskipun kadang tidak di bayar. Beliau hanya berharap semua yang dilakukannya, bisa menjadi tabungan amalnya di akhirat kelak. 

Pengabdian dan keteladanan mereka benar-benar sangat membekas di benak saya hingga sekarang. Dan semoga saja, saya bisa mencontoh dan meneladani perjuangan dan kerja kerasnya tapi tetap memiliki kelembutan hati yang luar biasa seperti perempuan-perempuan perkasa ini, insya Allah.

Referensi :  Wikipedia