uzegan: Kesehatan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Alergi & Adegan Garuk Menggaruk

16:17 5
Alergi & Adegan Garuk Menggaruk
Gatal-gatal karena alergi dingin

Ketika baru pindah ke rumah mertua, pagi-pagi saya dibuat kaget waktu ngeliat seorang bocah gendut keluar dari kamar mandi. Dengan mengenakan handuk kecil yang hanya menutupi bagian bawah tubuh tambunnya, si bocah melesat menuju tiang paling menonjol di sudut tembok ruang tamu. 

Seolah tak peduli keadaan sekitar, si bocah tiba-tiba menyandarkan punggungnya ke arah sisi tiang dinding yang menyudut ke arah luar. Bak seorang penari striptis, dia mulai menggeser-geserkan tubuhnya ke atas, lalu turun, kadang ke kiri kadang ke kanan. Awalnya pelan, namun lama-lama semakin cepat. πŸ˜‚

Kelakuan si bocah yang juga adalah keponakan suami ini saya perhatikan seringkali terjadi ketika musim penghujan tiba. Dimana hawa dingin, selalu menelusup menusuk kulit ketika pagi hampir menjelang. Khususnya ketika si bocah memulai kegiatan di awal pagi dengan mandi sebelum subuh. 

Belakangan akhirnya saya ketahui ternyata suami pun pernah juga bertingkah seperti itu. Yang tambah bikin geleng-geleng kepala waktu si tengah baru berusia sekitar 3 tahun. Ternyata bukan hanya alergi dingin yang menurun dari bapaknya tapi juga kelakuannya, persis banget tingkahnya kayak suami dan si keponakan. Saya jadi suka greget sendiri setiap kali ngeliat tingkah mereka-mereka inih. πŸ˜‚ 

Kalo kalian yang punya alergi dengan udara dingin pasti taukan gimana rasanya, gatal gatal yang tiba-tiba menyerang akibat kedinginan sehabis mandi, sampe kebingungan pengen ngegaruk punggung tapi tangan sendiri malah gak nyampe. πŸ˜‚ 

Berhubung suami sudah tau cara memberdayakan istrinya, jadi beberapa kali pernahlah tangan saya tiba-tiba dijadikan penggaruk saat keadaan lagi darurat satu, penggaruknya (si tiang) gak bisa di deketin kalo lagi ada orang lain di ruang tamu. πŸ˜… 

Dan ketika sisir terlihat menjadi benda penggaruk alternatif paling mudah di raih, akhirnya kebiasaan garuk menggaruk di tembok ini berganti-ganti, kadang sisir kadang dinding. 

Begitu sisir udah gak efektif, entah karena tajam, terlalu kecil atau gak bisa ditemukan karena gak dikembalikan ke tempat semula,  akhirnya si pengidap alergi dingin ini memutuskan membeli alat penggaruk yang sudah dipatenkan fungsinya, yakni miniatur tangan plastik dengan gagang yang lumayan panjang mirip sikat yang biasa dipake untuk mandi. 

Walau pada akhirnya, keberadaan si penggaruk tetap tidak bisa dimaksimalkan fungsinya karena hanya jadi bahan rebutan si tengah kalo pak suami lagi garuk-garuk (masih berbahaya kalo di pegang anak balita). Dan ujung-ujungnya, ntuh penggaruk jadi patah-mematah karena beralih fungsi dan berakhir menjadi mainan anak-anak.

Hingga pada suatu hari  pak suami memutuskan untuk ke dokter spesialis (akhirnya). Karena kemaren itu, entah mandi pagi atau sore, alerginya terus menerus kambuh. 

Sepulang dari sana, ternyata dokter hanya meresepkan salep racikan untuk obat luar (ada satu bagian di punggungnya yang menghitam karena keseringan digaruk) dan obat yang diminum untuk mengurangi reaksi alerginya. Yang berarti kalo pas lagi kambuh kita harus minum obat seumur hidup. Karena alerginya ini gak bisa disembuhkan tapi masih bisa dihindari dan dicegah.

Jadi kalo pas suami libur kerja, dia memilih untuk mandi agak siangan dikit, jadi airnya gak terlalu dingin, walau kadang masih kambuh juga alerginya. Jadi suami seringkali menyiasati dengan mandi air hangat, alerginya lumayan berkurang dan juga punggungnya langsung diolesin salep setiap habis mandi (pas cuaca dingin). 

Berhubung kulit si tengah lebih sensitif, sering garuk-garuk leher kalo lagi keringetan karena dia juga alergi dengan udara panas. Jadi mandinya juga agak siangan dikit karena dia hanya di rumah gak kemana-mana. Selain itu dia olweis standby di depan kipas angin untuk mengantisipasi jika udara terlalu panas biar gak terserang gatal-gatal.

Lain kakak, lain adik. Meskipun alergi dingin keponakan sama seperti alergi sepupunya, yakni si tengah. Namun adiknya si keponakan yang usianya hanya selisih satu tahun dengan si tengah ternyata memiliki alergi yang berbeda. Sejak lahir dia alergi dengan sufor atau susu sapi beserta turunannya seperti mentega, keju, yoghurt dan sejenisnya. Selain itu dia juga alergi putih telur, kacang dan juga makanan laut. 

Jadi sekalinya dia salah makan, atau sedikit aja makan sesuatu yang mengandung bahan pemicu alergi. Badannya langsung gatal-gatal, dan luka-luka seluruh tubuh saking seringnya digaruk. Alhasil, dia harus selalu memakai pakaian yang menyatu dari leher sampe kaki dengan bahan agak tebal agar dia tidak gampang melukai dirinya sendiri. 

Karena terhalang pakaian yang membuat sesi garuk-menggaruknya tidak tuntas dan ketika garukan biasa tidak lagi memuaskan, akhirnya dia terpikir dengan ide menggaruk versi baru. Ketika gatal mulai menyerang biasanya dia akan rebahan diatas benda-benda atau karpet yang kasar, kadang dibagian tikar bambu dengan salur kecil-kecil yang sudah mulai rusak, setelah itu dia meliuk-liuk kesana kemari macam ulat bulu agar sekujur tubuhnya bisa tergaruk dengan lebih memuaskan. πŸ˜…

Jika alerginya semakin parah dia akan menangis terus-terusan hingga terserang batuk, biasanya asmanya langsung kambuh dan harus segera dibawah ke rumah sakit. 

Mungkin karena sudah lebih mengerti yang mana yang boleh dan tidak boleh di makan, di usianya yang sudah menginjak tahun keenam alerginya sudah mulai jarang kambuh. Yah setidaknya kecemasan ibunya sudah mulai banyak berkurang. Begitu juga dengan pak suami, si tengah dan si bocah gendut (yang gak gendut lagi karena sekarang udah jadi mahasiswa), sepertinya belum ada lagi adegan garuk menggaruk di musim kemarau kali ini. Semoga saja ketika musim penghujan tiba gak ada lagi alergi-alergi yang kambuh, yah. πŸ˜…

Menggunting & Digunting

01:10 13
Menggunting & Digunting

Sewaktu kecil, telinga saya pernah tergunting dan sedikit robek ketika rambut saya dipotong oleh bapak. Lukanya lumayan ringan, tapi bekasnya masih tetap ada hingga sekarang.

Dulu sewaktu saya dan kakak mau masuk SD, Bapak memotong ujung rambut saya hingga sejajar dibawah kuping, biar lebih ringkas dan kelihatan selalu rapi saat pengambilan gambar untuk pas foto di sekolah. 

Contoh konkretnya mungkin bisa dengan membayangkan rambut seorang Yuni Sarah terbingkai di wajah seorang anak kelas satu sekolah dasar. Dimana foto yang akhirnya tertempel di lembar biodata raport itu justru lebih menggambarkan potret seorang anak laki-laki, memakai anting-anting dan memiliki nama lengkap seorang perempuan dengan jenis kelamin yang juga adalah perempuan. πŸ˜…πŸ˜‚

Sejak kejadian itu, seingat saya bapak tidak pernah lagi menggunting rambut kami. Tapi sebagai ganti, Ibu yang kemudian menyempatkan diri merapikan rambut anak-anaknya meski berada di tengah keriweuhan antara mencari nafkah, mengurus rumah serta mengasuh adik-adik yang masih unyil kunyil.

Setelah kami mulai besar, kadang-kadang saya yang menggantikan Ibu untuk menggunting rambut Kakak dan adik-adik. Karena ke salon itu sudah pasti harus mengeluarkan duit, apalagi kalo harus merapikan rambut untuk banyak kepala. Bisa membuat rambut mereka terlihat rapi dengan menggunakan teknik sederhana aja udah syukur sebenere. Kecuali anaknya yang memang ga bisa diem hingga butuh seorang tukang gunting specialis khusus untuk anak-anak. 

Biasanya, model rambut yang saya jadikan contoh itu gak jauh-jauh dari gaya rambut dora atau potongan rambutnya demimor. Sesekali saya juga mencontoh potongan rambut bergaya bob sebagai alternatif jika contoh model potongan rambut lain mulai membosankan, dimana bagian kiri kanan bawah telinga tidak perlu dipotong hanya dirapikan sedikit tapi tetap lebih panjang dari bagian belakang. Biar keliatan sedikit lebih kekinian. πŸ˜…

Berhubung saya terbiasa motong rambut saudara-saudara yang kesemuanya adalah perempuan, (ada satu laki-laki, tapi baru lahir ketika saya udah keburu masuk kerja jadi gak masuk itungan) πŸ˜‚ jadi, begitu rambut si tengah udah mulai gondrong diusianya yang ke dua tahun, saya langsung kagok karena gak tau gimana cara nyukur rambut anak cowok sesuai dengan kaidah yang dibenarkan. 

Karena itu, saya langsung melipir ke gugel, dan cuci mata lewat yutup hingga kemudian menemukan akunnya Jason Makki, seorang Hairstylist dan Senior Barber dari USA yang sekarang berdomisili di Dubai. Saya tuh sampe kagum ngeliat transformasi rambut cowok-cowok berambut singa, gimbal, berombak, keriting, ubanan bahkan pelanggan yang mengalami kebotakan atau mereka yang berambut panjang dan jenggot megar bisa disulapnya jadi keren setelah di cukur hingga di makeover sama belio. Dimana sebagian prosesnya dilakukan cuma dengan mengandalkan alat cukur dan sisir doang. (ya iyalaah πŸ™„ emang perkakas wajibnya tukang cukur itu ya begitu ituh, gak mungkin juga nyukurnya pake panci sama sutil, yak) πŸ˜‚

Setelah nonton beberapa videonya, keinginan saya untuk beli alat cukur listrik untuk Suami dan Si tengah semakin menggebu-gebu, walo pada kenyataannya tetap tidak pernah sekalipun ada transaksi pembelian alat cukur listrik yang terklik "Beli" di keranjang belanja toko online (gak jadi keratjoenan)πŸ˜‚karena pada akhirnya saya lebih memilih untuk mengganti wajan teflon lama yang sudah baret-baret dengan wajan yang baru, biar penggunaan minyak saat melakukan kegiatan goreng-menggoreng atau tumis-menumis bisa lebih irit setiap harinya. πŸ˜‚

Kendatipun akhirnya dalam jangka waktu setahun (ikut arisan) sempat menyisihkan duit lagi buat beli alat cukur listrik, tapi tetep aja gagal karena udah keduluan tergiur beli gunting rambut seharga lima ribu perak di warung depan rumah. πŸ˜…πŸ˜‚

Dulu saya emang pernah menyempatkan diri nyari alat cukur listrik yang bagus tapi harganya harus yang didiskon abis-abisan di onlineshop (maklumlah emak-emak), biar gak perlu repot-repot lagi merapikan rambut dua orang pejantan di rumahπŸ˜‚ jadi gak perlu ke tukang cukur dan gak capek mikirin pengeluaran yang bertambah karena masih bisa dilakukan sendiri di rumah asalkaaaan? sudah mahir.  🀭

Sayangnya, sampe sekarang ilmu perguntingan saya masih berada di level paling bawah dan sama sekali belum pernah motong rambut cowok, Motong rambut cewek pun hanya dipraktekin setahun sekali setiap menjelang lebaran atau tahun ajaran baru sajah (jam terbangnya dikit euy). Dan lagi, berdasarkan info-info yang saya dapatkan dari gugel dan yutup, untuk memangkas rambut cowok rata-rata memang lebih baik memakai alat cukur listrik, apalagi buat pemula seperti saya, karena gak cukup hanya dengan menggunakan gunting kalo kepengen hasilnya gak pitak-pitak. Kecuali kalo emang pengen gundul, bisa pake cukuran manual, itupun rambut yang panjang musti dipendekkin dulu pake gunting baru ntuh rambut bisa dicukur habis sampe plontos.

Dulu waktu pertama kali saya nyukur rambut Si tengah, hasilnya sampe ada pitak dua πŸ˜‚ karena cuma pake gunting doang. Padahal, kalo mau dibikin plontos mah gampang beud, langsung libas aja pake cukuran manual, yang penting endingnya kan kinclong, gak perlu was was kalo rambutnya jadi pitak atau kependekan. Maka itu, mencukur dengan alat cukur listrik adalah pilihan terbaik. Karena bisa lebih rapi dan merata ditiap helainya.πŸ˜‚

Beberapa hari kemaren, rambut saya banyak yang rontok. Dan saya baru ingat biasanya itu adalah pertanda stress dan ujung-ujung rambut yang sudah lama banget gak dipangkas. Berhubung salon khusus cewek (salon muslimah) masih jarang disini, kalopun ada yah mahal sih (banget untuk kantong saya karena pengennya sepaket sama perawatan). Kalo dulu biasanya saya langganan gunting rambut sama tetangga samping rumah dengan tarif only tujuh ribu perak sajah, tapi sayang sekali orangnya sudah lama pindah dan jarak rumahnya lumayan jauh. Kalo ke tempat lain, ribet karena gak ada yang jagain anak-anak. Maka akhirnya saya putuskan untuk menggunting rambut saya sendiri (lagi).

Pernah sekali, saya coba-coba gunting rambut di tempat khusus cewek (salon biasa). Dan saat itu udah malem, sepi gak ada orang sama sekali. Jadi saya pikir udah amanlah, toh gak bakal ada pelanggan lagi yang dateng. Karena posisi kursi saya gak keliatan juga dari luar, saya jadi nyantai dooong, buka jilbab, dan duduk segala posisi. 

Eh tapi pas lagi ditengah-tengah, tiba-tiba ada seorang pelanggan dateng pengen gunting rambut juga. Si pelanggan ini dateng bersama si pacar dan mereka langsung nyelonong aja masuk ke dalam. Si Mba yang lagi semangat-semangatnya memangkas rambut, sama sekali gak menyadari kalo saya udah salting di tengah pose mematung saat dihujani potongan-potongan rambut yang berhamburan kemana-mana, nemplok di pinggir mata, masuk lubang hidung, nempel dimulut dan gak bisa lepas meski ditiup-ditiup karena udah menempel kena iler di mulut. Mana saya narok jilbabnya jauh lagi. 

Gak ngomong binguuung.., mo ngomong ntar si cowok malah denger, ngasih kode ke Mba nya (biar  bisa nutupin saya pake badannya) malah gak konek, masak saya langsung berdiri trus pake jilbab saat itu juga? Yang ada malah semakin menarik perhatian, itu mah. πŸ˜‚πŸ˜…

Akhirnya, saya cuma bisa berdoa kalo si cowok gak menyempatkan diri untuk ngeliat atau gak menyadari ada saya disitu (sempet-sempetnya halu jadi jinny oh jinny yang bisa ngilang saat itu juga, tapi gagal).πŸ˜‚

Yang paling saya ingat itu waktu jaman-jaman drama meteor garden. Karena dulu rambut saya sudah panjang tapi masih dengan model gaya rambut segi.  Ibu saya ngomong, "potongan rambut orang-orang di drama itu bagus-bagus yah, gayanya anak-anak jaman sekarang." Tapi sayangnya Ibu saya itu gak menyebutkan dengan spesifik artis mana yang beliau jadikan contoh model untuk rambut saya. Saya berharap banget rambut saya mirip Si Shanchai, atau Si first lead female (karakter utama cewek), dulu saya belum ngeh kalo rambutnya itu ternyata di rebonding makanya gak amburadul dan langsung rapi lagi setiap kali dia dilemparin barang  atau pas dikejer sama temen-temennya. Dipikiran anak abegeh saat itu, ntuh rambut artis jadi bagus dan lurus banget karena cuma di gunting doang dan karena rambutnya emang udah lurus dari sononya. Tapi dikasih polesan gel biar rambut halusnya gak mencuat kemana-mana.πŸ˜…

Selama proses pemotongan rambut. Saya sering mengajukan protes, rambut saya dipotong kependekan karena Ibu gak pake ngomong-ngomong lagi langsung maen potong aje. Dan lagi karena kaca yang dipake buat nyalon sama Ibu waktu itu adalah kaca seukuran dompet, yakni bagian kecil dari pecahan kaca besar yang sudah pecah. Jadi saya gak begitu menyadari, sebelum ngaca langsung di lemari kamar.

Karena merasa model rambutnya gak begitu mecing dengan wajah, akhirnya ntuh rambut saya modif sendiri. Ibu bilang "kenapa di rombak potongan rambutnya? Udah bagus kayak begitu, gak usah diubah-ubah lagi." Rambut saya di bikin mirip kayak rambut Taomingse temen-temen. 😭 (Si First lead MALE)

Setelah beberapa bagian saya rapikan lagi dengan seksama, seenggaknya saya berharap rambut saya bisa lebih mirip dengan si Dido, penyanyi cewek yang model rambut pendeknya emang lagi booming saat itu, ketimbang mirip Taomingse yekan. (silahkan gugling yang penasaran sama Dido) πŸ˜‚πŸ˜.

Besoknya, ketika saya ketemu temen-temen di kelas. Banyak yang iseng nyeletuk, rambut baru ni ye.., wow, ato Rin, mirip Wacelei! (Si second lead MALE). πŸ˜ͺ 

Dan begitulah salah satu contoh obsesi terselubungnya Ortu yang pengen banget punya anak cowok. πŸ˜…

kalo kalian nasibnya gimana? Samakah seperti saya? πŸ˜…


Note : 
Tulisan ini adalah komentar saya di Postingan Mba Eno, yang telah saya kembangkan menjadi sebuah Postingan (karena saya yakin tulisan ini gak bakal muat kalo saya ketik di kolom komentarnya).😁😊

No Profil Picture ?

17:25 46
No Profil Picture ?
Thanks to Mas Anton, karena tulisannya yang begitu menginspirasi maka terbitlah sebuah postingan baru di blog ini (akhirnya)πŸ˜‚. Dimana dalam pelaksanaannya, telah membuat saya kembali teringat akan aib di masa lalu. πŸ˜‚πŸ˜…

Saya sebenernya masih terngiang dengan sebuah pertanyaan dari beliau. Sebuah pertanyaan yang ditujukan ke saya di kolom komentar postingannya yang bertajuk tentang Siapa itu CREAMENO.

Pertanyaannya begini,

"Memang sekarang sudah tua ya Mbak?" 

Sebenarnya pengen saya jawab disitu, tapi keburu lupa dan pasti panjang banget. Apalagi karena waktu itu emang lagi asik ngebahas tentang Mba Eno. 😁 

Jadi, berhubung saya tidak bisa mencantumkan foto realistis di profil blog ini, maka inilah jawabannya. 
"Eh mba, itu adiknya yah?" tanya seorang penjaga counter hape.
"Bukan, itu temenku." Jawab Cupi. 

"Masak sih? Kok mirip yah?" 

"Ih, beneran Mba. Saya ini bukan Kakaknya!" 

Cupi yang tomboy dan kadang emang suka baperan akhirnya bersikeras. Dia merogoh isi tas selempang bututnya, lalu mengambil KTP yang terselip di bagian tengah dompet. 

"Mba Riniii! keluarin KTP mu?" Cupi meminta setengah memaksa. 

Cupi lalu menunjuk-nunjuk keterangan tanggal lahir di kedua KTP yang disodorkannya diatas meja counter. 

"Nooooh...! Saya ini lahir tahun 19xx Mba, kalo Mba Rini lahir tahun 19xx."
Saat itu, saya sudah berstatus sebagai seorang karyawan dan temen saya baru lulus SMA. Usia kami selisih delapan tahun.

Ada dua alasan kenapa Mba penjaga counter sampe mengira saya lebih muda. Pertama, kemungkinan karena tampang saya yang lebih imut πŸ˜›atau emang dasar tampang temen saya yang menyiratkan wajah orang yang  habis dimakan usia (padahal cantik)πŸ˜… Sepertinya kedua alasan itu gak ada satupun yang fair buat temen saya yak, gak enak semua πŸ˜‚πŸ˜… dan jelas-jelas justru malah saya yang jadi berbunga-bunga πŸ˜‚Meskipun pada kenyataannya, saya cuma bisa ngakak ngeliat mulutnya yang manyun sepanjang jalan. πŸ˜‚πŸ€£

Kalo mengenang lagi jaman-jaman waktu masih kerja dulu, semua temen saya memang sebagian adalah abege. Karena dulu saya sempat bekerja di sebuah lembaga pendidikan untuk Sekolah Menengah Atas. Dulu waktu bekerja disana (+ 17 tahun yang lalu), saya sempat akrab dengan para murid, karena usia yang hanya terpaut 1 hingga 3 tahun. Teman-teman saya selalu datang dan pergi beberapa tahun setelahnya (lulus). Lalu setelah datang teman-teman baru, dunia pertemanan dimulai dari awal lagi. Bersama saya yang usianya terus bertambah dan teman-teman yang usianya segitu lagi-segitu lagi.

Ibarat orang yang berteman dengan si penjual minyak wangi dan pandai besi, saya yang saat itu masih berada dalam masa pencarian jati diri, mau gak mau pasti ikut kebagian wanginya begitu juga dengan percikan apinya. Entah itu dari cara berpakaian, cara bergaul, selera bermusik hingga cara berpikir. Dan berlanjut terus hingga saya sudah tidak abege lagi. Jadi harap maklum kalo kelakuan kadang suka begajulan meski saat itu udah terbilang dewasa.  πŸ˜‚

Teman-teman saya dulu dari berbagai macam ras, campuran dan beragam keyakinan (yang ada di Indo). Kecuali Hindu. Ada satu orang siswa tapi saya tidak akrab dan dia juga jarang masuk.

Sampai disini udah paham pasti yah, kenapa saya bisa bilang "dulu waktu saya masih muda." πŸ˜‚ Kalo masih belum, mari kita lanjut lagi. 😁

Jadi meskipun saya berhaha hihi di blog tanpa memajang foto profil. Ternyata saya juga tidak bisa disebut anak muda lagi, gaes. Meskipun masih terjebak dalam gaya bicara anak muda. Tapi dibalik itu saya juga seringkali merasa (sok) tua. Yang bikin saya jadi lebih sering labil dalam menentukan identitas diri. πŸ˜‚πŸ˜…

Mungkin salah satu alasaannya, karena lingkaran pertemanan saya di dunia nyata "sekarang" banyak yang usianya jauh lebih tua. Maka itu saya lebih memilih untuk berteman di dunia maya dengan para teman blogger sekalian. Dari berbagai tempat dan usia yang berbeda sebagai teman sharing dan ngobrol, agar saya lebih banyak berpikir positif dan lebih optimis. Dan yang paling penting biar gak stress dan menderita kecemasan akut setiap menerima berita kabar duka. Entah itu pengumuman kematian dari masjid dekat rumah, hingga obrolan ibu-ibu tentang penyakit berat yang di derita, yang kerapkali saya dengar saat bertandang ke warung sayur atau di perkumpulan arisan RT.

Masak iya saya nekad ngebahas lagu-lagu punk, j-rock, k-pop ato ngebahas betapa gantengnya Nam Joo hyuk dan betapa kul nya Kim Soo Hyun? demi penghiburan di tengah-tengah pembicaraan tentang asam urat, kolesterol, menurunkan tekanan darah, pantangan makan, perjuangan mencari obat herbal, berapa biaya rumah sakit dan sejenisnya, hingga kabar kematian dari teman dan handai taulan setiap waktu? Yang ada, malah mereka yang nantinya balik nanya, "Dua orang korea itu pasien dari rumah sakit mana?" πŸ˜…πŸ˜‚

Kalo Mba Eno, Mba Nita dan Mba Rey, yang konon katanya sukanya cuap-cuap lewat tulisan namun aslinya pendiam. Maka saya beda lagi, kadang-kadang saja seperti itu. Interaksi saya dengan para teman-teman blogger disini sama seperti ketika saya berada di masa-masa waktu masih kerja. Atmosfernya benar-benar mengingatkan saya di jaman itu.  Kalopun sekarang jadi pendiam, bukan berarti saya aslinya seperti itu, tapi karena keadaanlah yang tidak mengizinkan. 

Dan "keadaan itu" sayangnya terus berlanjut hingga terjadilah zona nyaman. Dimana kita jadi malas keluar rumah, malas ngobrol dengan keluarga, tetangga, ngumpul dengan teman alumni dan lain-lain. Karena di jaman kayak sekarang ini sisi introvert kita semakin terdukung di rumah berkat henpon, kuota, komputer buat ngeblog dan bersosmed ria bersama netizen lainnya. Yang biasanya suka jalan kaki, keliling kampung sekalian olahraga, mampir dan beramah tamah ke tetangga. Pelan-pelan jadi malas dan terlanjur menjadi kebiasaan yang gak terlalu di gubris lagi.

Alesannya bisa macem-macem, takut panaslah, males keringetan, males ngejer anak-anak, ribet pokoknya kalo keluar rumah, mo ke warung aja banyak printilan yang harus disiapkan. Bahkan ke depan pintu ngambil paket dari mas-mas kurier pun sering banget kelabakan, akibat kelamaan nemplok di depan monitor ato henpon, lupa masak, lupa mandi sampe lupa anak.πŸ˜‚πŸ˜…

Tapi walau begitu, gak ada yang tau pasti nantinya akan seperti apa kalo suatu saat ternyata kita semua ditakdirkan untuk kopdaran. Seperti teman-teman komunitas saya dulu yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan blogger yang berdomisili di luar negeri juga menyempatkan diri untuk ikut kopdaran ketika berada di Indonesia. Mungkin hanya saya yang gak pernah kopdaran sekalipun. Meski ada juga beberapa blogger sedaerah yang selalu rajin ngede-em ngajak kopdaran setiap ada event komunitas, tapi berkali-kali itu pula saya menjawab belum bisa. πŸ˜‚πŸ˜…

Kadang, ada aja salah satu teman blogger yang upload foto kopdaran. Dan biasanya, dari situlah rasa penasaran saya akhirnya terjawab. Akan muncul wajah-wajah baru dari beberapa blogger yang biasanya gak pernah menunjukkan profilnya di blog, ato gak sekalipun memajang fotonya di blog. wkwkwk πŸ˜‚πŸ˜

~~~

Emang yah, kalo cewek itu ditanya jawabnya suka muter-muter. Masalah yang ada di depan mata dibikin ruwet seperti katanya Mas Anton. πŸ˜‚πŸ˜ Yang ditanya tentang usia, eh ceritanya malah berujung tentang kopdar blogger, hihihi.. πŸ˜‚

Jadi gimana, jawaban dari pertanyaannya Mas Anton ituh? 

Hmm...

Sepertinya saya memang sudah tua, maksudnya lebih tua dari Mba Eno, Mba Rey, Mba Nita dan Mba Pipit πŸ˜‚ 

Apalagi karena saya emang udah lama disebut "Orang Tua" oleh anak-anak. Udah jelas banget kan tua' nya. πŸ˜‚πŸ˜

Menjadi ODP meski di Rumah saja

02:26 25
Menjadi ODP meski di Rumah saja

Perlu diketahui, mungkin tulisan ini akan berefek psikosomatis (mungkin saja). Jadi silahkan beralih ke postingan saya yang lain yah, kalo dirasa akan berakibat buruk setelah dibaca. 

Back on track setelah beberapa bulan penggemukan. Akhirnya berat badan saya turun (bukan karena takut dijadikan kurban saat idul adha, yak) tapi karena lemak di perut yang memang sudah pelan-pelan kembali menipis. Makanan berminyak, makanan manis dan segala kuliner khas lebaran itu kalorinya sangat tinggi, meskipun yang dimakan hanya separuh dari takaran biasa, termasuk gorengan dan juga hidangan bersantan. 

Jangan tertipu dengan jumlah porsinya yah, karena dalam 100 ml minyak goreng saja sudah mengandung 818 kal dan 387 kal dari 100 gram gula pasir yang biasanya ada di dalam kandungan bahan kue atau sambal geprek sekalipun. Kalorinya jauh diatas 0.5 mangkok nasi yang hanya 121 Kalori. 

Walau kelihatan makannya hanya sedikit, lalu dengan penuh semangat berusaha menahan lapar karena ketidaktahuan. Padahal, justru kalorilah yang bikin lemak di tubuh bertambah. Bukannya melangsing, malah lemak yang akan menebal di sana sini. 

Jadi sudah tau kan? Yang mana yang lebih mengenyangkan jika di konsumsi tapi gak cepet bikin gendut atau mengapa orang gemuk gak kurus-kurus meskipun makannya sedikit? Bisa jadi itu salah satu alasannya.

Sayangnya, yang ingin saya ceritakan kali ini lagi-lagi bukan tentang diet atau karena menjaga pola makan yang telah ikut andil menurunkan berat badan. Melainkan karena ngedrop lantaran dua kali mendengar kabar, bahwa suami sempat berinteraksi dengan mereka-mereka (rekan kerja) yang dinyatakan positif Covid. Yang pertama kemaren, sepertinya tidak ada kabar buruk yang kami terima. Tapi yang kedua ini cukup menggegerkan otak dan hati saya. 

Suami diwajiban ikut tes swab, karena telah berinteraksi langsung (tanpa masker dan jaga jarak) dengan rekan kerja yang dinyatakan positif COVID 19, tertular dari istrinya yang berprofesi sebagai nakes. Sangat mengejutkan buat saya, karena setelah mendengarnya dua hari yang lalu, saya langsung reflek ke kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang sudah saya telan sebelumnya. Setelah itu saya langsung lemas, karena teringat dengan semua anggota keluarga yang saat ini sedang sakit. 

Mungkin beginilah rasanya jika menjadi bagian dari daftar orang-orang yang terkena wabah, yang datanya selalu di update dan di umumkan setiap hari itu. Belum tentu positif pun, sudah membuat saya kalang kabut karena dengan segala upaya sudah saya dan anak-anak lakukan untuk tetap di rumah, namun pada akhirnya masih juga harus berstatus ODP.

Di depan anak juga di depan Suami saya biasa saja, meski tidak bisa ditutupi, semangat saya dalam melakukan aktifitas sehari-hari telah hilang entah kemana. Tubuh saya terasa lemah, jantung terus-terusan berdebar, seolah dada ini telah berlubang karena tidak sanggup lagi menahan batu yang telah lama mengganjal. Belum lagi dengan sakit kepala yang tiba-tiba datang, lenyap lalu kemudian datang lagi. Bersamaan dengan datangnya pilek, batuk, sakit pinggang, sakit tenggorokan dan lidah yang kadang seperti kesemutan. Kadang mati rasa, karena asam lambung saya kumat lagi untuk ketiga kalinya setelah terakhir saya rasakan di ramadhan lalu. Saya merasakan lelah yang teramat sangat.

Saya butuh bahkan harus, untuk berpikir positif, agar daya tahan tubuh ini tidak melemah. Saya ingin sehat, ingin menjaga anak-anak, meskipun saya tau, suami memiliki penyakit bawaan dan sudah melewati golongan usia aktif. Entahlah, saya bukan hendak membagi kecemasan. Hanya saja saya butuh mencabut semua duri-duri yang sudah menancap di otak dan hati, karena tidak mungkin saya berbagi dengan orang-orang sekitar. Saya butuh orang-orang yang tidak pergi ketika saya dengan lugasnya bercerita tentang nasib keluarga kecil kami. Karena satu hal yang masih saya yakini, bahwa sampe sekarang belum ada yang tertular COVID 19 karena berinteraksi melalui internet (siapa yang gak tau itu). 

Saya kecewa, setelah berbulan-bulan kami hanya di rumah. Dengan berbagai cara dilakukan untuk menjaga kesehatan, tiba-tiba semuanya harus sia-sia karena keegoisan orang-orang yang lebih mementingkan kenyamanan dirinya. Tidak tahan dengan pengapnya masker, tidak tahan harus selalu mencuci tangan setiap waktu dan menganggap remeh bahwa mereka yang bertubuh sehat dan bugar itu tidak akan menulari (OTG). Terlebih ketika pemerintah telah menghimbau pelaksanaan New Normal. Seolah menganggap keadaan sudah kembali seperti sedia kala. Seolah wabah telah sirna dari muka bumi ini.

Selama menunggu hasil tes yang akan segera diberitahukan, besok. Bayangan tentang masa depan pun telah lama lenyap, hidup kami hanya berputar di situ-situ saja. Suami lebih banyak diam, anak-anak belum mengerti, tapi kami jadi lebih sering merangkul, mengeratkan diri satu sama lain. 

Saya ingin lebih banyak tertawa, meski pada kenyataannya air mata yang lebih banyak tumpah setiap kali anak-anak berada dalam pelukan.

Semoga apa yang saya takutkan tidak terjadi, dan walaupun terjadi semoga kami masuk dalam golongan mereka-mereka yang mampu melewati musibah ini. Amiiiin ya robbal alamien..

Cerita dari seorang Kawan

Jurus Ampuh Melawan Lupa Unfaedah

20:54 81
Jurus Ampuh Melawan Lupa Unfaedah

Pernah gak sih, kamu lupa bawa duit kalo mo belanja atau malah lupa bawa ongkos padahal udah di dalam bus atau angkot? Biasa aja kali yah kalo lupa dengan hal-hal seperti itu, udah umum. Tapi kalo selalu lupa bawa duit, setiap makan bareng sama temen yang lagi tajir, pernah? Kalo iya, itu mah bukan lupa atuuh, tapi kamunya yang ngarep ditraktir. πŸ˜‚

Nah, kalo kenalan saya lain lagi (belum jadi temen sih sebenernya, meskipun setiap ketemu tak pernah lupa untuk saling menjahili). πŸ˜…

Pada suatu hari di pagi yang dingin, Si Dia ini tiba-tiba menggedor-gedor pintu kantor mencari Pak Bos, yang mana saat itu saya juga sedang menunggu dibukakan pintu oleh Beliau.

Terus saya tanya, "Kenapa? Apakah ada yang mendesak?" Dia cuma senyum-senyum doang dan malah balik bertanya, apakah Bos saya ada di dalam? 

Tidak berapa lama, Pak Bos membukakan pintu dan Si Dia ini langsung ngajak ngobrol tapi berbisik-bisik. Tak disangka, ternyata suaranya bisa terkoneksi ke kuping saya. Jadi saat itu, saya langsung aja akting, pura-pura gak denger. πŸ˜‚πŸ€£

Ternyata dia lupa bawa kunci motor sodara-sodara, tapi motornya idup dan bisa nyampe ke kantor saya.πŸ˜‚ 

Gimana pula ceritanya ??

Jadi begini, pas dia mo manasin motor di depan rumah, biasanya kuncinya digeletakin lagi di atas meja (takut motornya dibawa orang beserta kuncinya). Berkemungkinan ntuh kunci masih disitu atau bisa saja terjatuh. Kenapa bisa ada dua opsi? Karena dia lupa, apakah kuncinya sudah berada di atas meja lagi ato udah diambil dari atas meja tapi gak nyadar kalo terjatuh. 

Siangnya, setelah Dia ngembaliin kunci motor Pak Bos, yang ternyata bisa juga dipake di motornya Dia. Misteri lupa kunci motor ini pun terpecahkan (akhirnya Dia ingat ).  πŸ˜‚

Kunci motornya emang beneran terjatuh, tapi jatuhnya dari motor dan untungnya masih di depan rumah. Sayangnya, dia cuma ngeliatin aja kuncinya terjatuh tapi gak diambil, langsung nyelonong aja naek motor trus tancep gas, wkwkwk... Ada-ada aja kelakuan anak abegeh satu itu (jadi semacam amnesia sesat atau pikun gak jelas ini, kali yak. Entah) πŸ˜‚

Karena usia Dia hanya beda dua tahun di bawah saya🀣 Jadi waktu itu ngakaknya nyante banget bro (tidak disertai dengan tata krama dan tata cara orang lagi jaim seperti gaya-gayanya orang dewasa). πŸ˜‚

*Tega banget yak saya ngetawain orang lupa, πŸ˜… Astaghfirullah.. 🀣


Faktor Penyebab Lupa 

Nah, ternyata Lupa ini banyak penyebabnya. Kalo saya sama seperti si Dia ini, sering mendadak lupa karena kehilangan konsentrasi akibat terburu-buru, kebanyakan ngelamun atau banyak pikiran karena suatu masalah yang membuat kita jadi linglung. 

Biasanya langsung berimbas ke masakan yang jadi gosong, salah racik bumbu, manggil nama anak sampe ketuker-tuker, lupa matiin kompor atau tagihan air membengkak akibat sering lupa nutup air keran. πŸ˜‚

Secara pengamatan, lupa itu biasanya terjadi karena aktivitas yang terlalu padat, kejenuhan, tidak adanya pengulangan atau latihan, karena sering ditunda, otak yang sedang capek, pengaruh alkohol atau yang lebih parah seperti kerusakan jaringan syaraf pada otak. Selain itu, bisa juga terkena penyakit yang disebabkan usia yang sudah lanjut. Seperti amnesia, demensia dan alzheimer yang menyebabkan orang tua menjadi  pikun.

Meskipun biasanya kerap terjadi pada orang tua, namun sepertinya generasi muda sudah mulai banyak yang ikut mengalami "mudah lupa" ini. Dan kemungkinan salah satu penyebabnya adalah karena melemahnya fungsi otak.


Agar Tidak Mudah Lupa 

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar tidak mudah lupa :

1. Aktif Secara Mental

Sama seperti kalo kita aktif berolahraga biar sehat. Maka otak kita juga kudu aktif secara mental, biar bisa ikutan sehat juga doounk, alias gak lemot. Gak enak juga kan kalo bodynya sehat tapi otaknya malah keropos. 

Kalo di jaman abegeh dulu, hobi yang biasa saya lakukan sekaligus sebagai cara untuk mencegah penyakit lupa, biasanya dengan mengisi teka teki silang (TTS), bermain catur, melatih memori dengan menjadikan musik sebagai alat untuk mengingat vocab dan spelling saat belajar bahasa asing. Atau ikut memecahkan masalah yang ada dalam cerita novel misteri dan cerita detektif. 

Tapi yang masih saya lakukan sampai sekarang adalah merajut dan belajar memotret (termasuk dengan mencoba menulis lagi di blog ini), meskipun tidak se-intens dulu seperti waktu di awal-awal belajar, dimana saya masih punya banyak waktu luang dan anak-anak blom nambah.  

Selain karena bisa menghasilkan sebuah karya, menyibukkan diri dengan melakukan apa yang kita sukai juga bisa mengalihkan pikiran dari menghabiskan waktu memikirkan hal-hal negatif penyebab stress, yang membuat kita tidak bisa berkonsentrasi dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
 
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa merajut mampu mengurangi stress, rasa cemas, dan menurunkan tekanan darah. Dan yang paling penting, merajut dapat membantu mengurangi resiko terjadinya demensia. Juga melatih otak kiri dan otak kanan secara bersamaan dengan melakukan suatu gerakan yang sama secara berulang-ulang. 


Pada akhirnya, orang yang melakukan kegiatan merajut pun akan memasuki suatu fase meditasi. Dimana kita bisa menjadikannya sebagai salah satu cara untuk melatih otak agar bisa fokus dan tidak mudah lupa. Seperti hal nya Yoga.

Itulah mengapa merajut identik dengan nenek-nenek, karena selain sebagai hobi pengisi waktu luang, manfaatnya juga sebanding dengan waktu yang dihabiskan. 

2.  Aktif Bersosialisasi

Aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti dengan tetangga, kerabat, orang-orang tercinta atau orang-orang ditempat kerja ternyata bisa mencegah lupa, loh. 

Saya jadi teringat dengan tulisan Mba Eno tentang "4 Necessary for Living" Si Oppa kesayangan, di blognya CREAMENO. Dimana "You" adalah salah satu hal terpenting, yang menurut saya juga bermakna "orang lain selain diri kita sendiri." Karena sesimpel-simpelnya hidup manusa, pasti membutuhkan orang lain untuk berinteraksi meskipun itu hanya dengan satu orang. 

Contoh konkretnya bisa kita rasakan ketika kita sedang melaksanakan himbauan pemerintah dalam rangka menanggulangi wabah COVID 19, yakni #stayathome #schoolfromhome dan #workfromhome. Bagaimanakah rasanya setelah menjalani semua protokol dengan penuh kepatuhan? Apalagi jika tidak memiliki koneksi internet dan sendirian di rumah dalam kurun waktu yang sangat lama? Silahkan dijawab sendiri, yah. πŸ˜‚ 

Kalo saya mah asli mati gaya. Kecuali saya punya hobi atau kerjaan yang saya sukai dan memang gak membutuhkan internet sebagai pelipur lara dan obat duka nestapa. πŸ˜‚

Karena saat seseorang terisolasi secara sosial dan merasakan kesepian, maka hal ini sangat meningkatkan resiko demensia. Tidak adanya interaksi dengan orang lain akan membuat otak menjadi layu dan perasaan kesepian, efek terburuknya akan membuat seseorang merasa depresi hingga terjadi penurunan mental.

Studi yang diterbitkan oleh Frontier in Aging Neuroscience mengungkapkan bahwa orang tua dengan waktu bersosial yang baik memiliki ingatan, penalaran, dan kecepatan proses otak yang lebih baik.

Koneksi sosial yang dimiliki dan dibangun akan menjaga kesehatan otak menjadi lebih baik. Karena itu juga merupakan salah satu cara meningkatkan daya ingat yang efektif. Dengan begitu kita terhindar dari stress dan depresi yang menyebabkan kita mudah lupa karena daya ingat yang berkurang.

3.  Aktif Berolahraga

Jika kita tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk berolahraga, menurut penelitian yang diterbitkan dalam ‘Prosiding National Academy of Sciences’, kita bisa melakukan latihan ringan selama 10 menit sehari yang setara dengan kegiatan yoga dan tai chi. Contohnya dengan berjalan kaki agar jantung kita terpompa dan bisa berkeringat. 

Karena saat berolahraga, sirkulasi darah di dalam tubuh kita menjadi lebih lancar dan terdapat peningkatan komunikasi di antara hippocampus. Yaitu wilayah penting dalam penyimpanan ingatan. 

Menurut Ilmuwan di University of California, yang dilansir dari Bustle. Olahraga ringan berpotensi meningkatkan konektifitas dan berdampak positif pada otak, karena bisa merangsang pelepasan faktor pertumbuhan bahan kimia di otak yang mempengaruhi kesehatan sel-sel otak. Bahkan bisa menumbuhkan pembuluh darah baru di otak.

Selain itu, berdasarkan sebuah studi, olahraga juga dapat membantu kita mencegah alzheimer. Membantu menjaga daya ingat dan mempertajam fungsi otak.

4. Sarapan dan Makan Makanan Sehat

Perut keroncongan, tidak konsentrasi ketika memulai hari, mual-mual, pusing bahkan sampe sakit kepala, merupakan suatu pertanda bahwa kita lupa untuk mengisi perut dengan makanan atau sarapan. 

Paling sering dulu, dimana kita ikut berpartisipasi dalam rangka mengikuti upacara bendera setiap hari senin pagi di sekolah. Tidak jarang kita melihat ada beberapa anak yang pingsan atau merasa pusing dan lemas. Salah satu penyebabnya adalah karena lupa untuk sarapan. Dan ditambah lagi dengan daya tahan tubuh mereka yang juga lemah.

Sedangkan saya sendiri, meskipun tidak pernah mengalami hal seperti itu. Melupakan sarapan seringnya membuat asam lambung naik. Apalagi jika selalu diburu waktu setiap pagi dan mengabaikan sarapan karena takut terlambat pergi ke sekolah. Biasanya ketika sudah berada di dalam kendaraan, kepala saya akan menjadi pusing, mulai berkeringat dingin dan mual-mual, ditambah lagi jika sopir mulai mengemudi dengan ugal-ugalan. Lengkaplah sudah.

Tidak hanya untuk tubuh, jika kita ingin menjaga sel-sel otak tetap sehat dan membantu mencegah penurunan kognitif yang berkaitan dengan usia, kita tidak boleh melupakan sarapan dan berusaha mengonsumsi makanan yang tepat. Misalnya dengan makan buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. Sebagai sumber protein kita bisa mengkonsumsi makanan rendah lemak, seperti dari kacang kedelai, ikan, putih telur dan dada unggas (tanpa lemak dan kulit).

5.  Tidur Cukup

Rambut gondrong awut-awutan, pake baju asal comot, entah baju kemaren ato baju bekas pake seminggu atau sebulan sebelumnya. Namun tiba-tiba datang ke kampus dengan aroma semerbak mirip pupuk kandang karena lupa mandi. πŸ˜‚ (bukan ngomongin diri sendiri ini, yak) πŸ˜…. Ditambah lagi dengan kebiasaan begadang alias kurang tidur. Meskipun gantengnya udah hampir kayak artis ibukota, tetep aja bakal resmi dinobatkan jadi duplikatnya zombie kalo gak sayang sama diri sendiri. 

Udahlah pelajaran gak masuk di otak, bukannya merhatiin dosen, kerjanya malah goler-goleran memamerkan iler ke temen-temen disekitarnya (salah satu temennya itu saya) yang mencoba tabah dan berusaha untuk ikhlas ketika berada disampingnya saat mengikuti mata kuliah di kelas. πŸ˜…

Meskipun pertahanan saya akhirnya tergoyahkan, akibat terpengaruh kebiasaan begadang beliau yang sangat menular. Namun pada kenyataannya, saya kapok sekapok-kapoknya. Karena bukan saja kurang tidur itu bikin otak gak bisa berpikir jernih dan mudah lupa, Kebiasaan begadang juga membuat daya tahan tubuh kita langsung drop dan dipastikan beragam penyakitpun akan berdatangan (hingga sempat bikin keuangan saya pailit, akibat bolak balik berobat ke dokter). 

Tidak hanya itu, pernah juga sekali nabrak saklar dan tiang listrik (ceritanya kurang tidur karena abis putus)πŸ˜…dan pernah kejedut kursi di bus waktu sopirnya tiba-tiba ngerem mendadak, yang bikin mulut saya berdarah karena kursi tersebut berbahan baku dari besi (kurang tidur karena abis berantem). Yang paling langganan itu adalah lupa turun dari bus karena kebanyakan ngelamun, saking lemes dan ngantuknya padahal harus kuliah pagi πŸ˜… 
*Contoh point ke 5 ini dibaca aja ya adek-adek, gak usah di tiru. πŸ˜‚

Ternyata, tidur yang cukup dan nyenyak itu sangat penting banget, coy. Tak terkecuali buat emak-emak yang masih punya anak bayi ato para bloger dan penulis yang terbiasa bergadang-gadang ria. Setidaknya, usahakan ada pengganti jam tidurnya. Entah itu dengan ikut tidur siang bersama bayinya, atau titip dulu Si Bayi ke Bapaknya. Buat emak-emak baru (abaikan dulu perkerjaan di dapur yang memanggil-manggil minta dibereskan, yakπŸ˜…) tidur itu penting, beb.  Kalo emaknya sehat, ngurus anakpun jadi lebih enak, ya gak emak-emak? Kalo kita yang sakit gak mungkin kan Si Bayi yang ngurusin emaknya. πŸ˜‚

Berdasarkan penelitian, selain untuk menguatkan ingatan, memprioritaskan waktu tidur yang cukup dapat mencegah kita dari mudah lupa. Karena terjaga selama 12 jam dapat menurunkan memori untuk mengingat, sedangkan kebanyakan orang dewasa membutuhkan tujuh hingga sembilan jam tidur dalam sehari.

Otak memiliki berbagai macam fungsi dan tanggung jawab. Ada bagian yang bertugas mengingat wajah, ada bagian yang harus mengingat nama. Dan lainnya lagi hanya merekam kejadian kalau kita baru bertemu orang baru. “Tidur merupakan momen dimana semua rekaman itu disatukan. Dan tidur jugalah yang membuat hal tersebut tetap bisa diingat dalam jangka waktu lama,” ujar Gary Richardson, M.D., salah seorang Ilmuwan Senior di Sleep Disorders Center (Henry Ford Hospital, Detroit).


Macam-macam Lupa 

Nah, lupa versi saya juga ternyata banyak macemnya temen-temen. 
Contohnya :
Lupa beneran
Lupa ilusi (hipnotis)
Lupa karena pikun 
Lupa disengaja
Lupa-lupanya gak inget πŸ˜‚

Lupa Positif (berfaedah) dan Lupa Negatif (unfaedah)

Lupa positif (berfaedah), misalnya :
Lupa tentang hal yang menyedihkan di masa lalu
Lupa kalo pernah ngutangin orang
Lupa sudah pernah memberi (bukan memberi masalah, yak) πŸ˜‚
Lupa dengan kesalahan orang lain dan memaafkannya

Kalo lupa negatif (unfaedah), misalnya :
Lupa dengan Tuhan
Lupa bayar, kalo gak ada yang nagih
Lupa anak istri atau suami
Lupa bawa duit
Lupa diri
Lupa pulang, karena keasyikan main atau ngerumpi
Lupa sama hutang
Lupa ngembaliin, setelah minjem barang
Lupa dengan kesalahan orang lain yang membuat kita ikutan jadi korban
Lupa kulitnya, kayak Si Kacang
Lupa kalo lagi puasa atau diet
Lupa makan karena gak bisa ngelupain mantan πŸ˜‚


Pengalaman Lupa Unfaedah 

Kalo saya sendiri, paling sebel pas kejadian belanja di minimarket setahun yang lalu (kejadiannya sampe dua kali, terulang kembali waktu belanja di tukang buah di pinggir jalan). Kenapa? Setelah semua barang yang dibeli di gantung di cantelan motor, eh pak suami malah maen nyelonong aja langsung pergi. Meninggalkan saya yang masih tejogrok disitu, lupa kalo bininya blom di angkut. 

Dan juga dengan kejadian dua hari yang lalu yang sempet membuat saya mengutuki diri sendiri. 

Adalah sebuah kekonyolan, ketika dengan sigapnya saya menelusuri tagar resep brownis kukus yang diperkirakan yahud di Instagram setelah melihat fotonya. Demi kue ultah Si Bontot yang ketiga dan kedua adik saya (kuenya kongsian karena ultahnya hanya beda sehari dua hari di bulan ini). Buat mereka itu hemat cuy, karena saya yang modalin, dan juga itu modus sih sebenere.πŸ˜‚ Soale yang pengen makan kue ultah (akibat lebaran kemaren gak kebagian kue) itu sayaπŸ˜…. Mereka mah kagak pernah sekalipun ngerayain yang beginian, hihihi.. 

Siapa sangka kalo saya menemukan foto beserta resep saya sendiri, yang memang pernah di repost di sebuah akun masakan nusantara beberapa tahun lalu (padahal di akunnya sendiri pun masih ada). πŸ˜‚

Yang paling nyesek, adalah ketika ada yang berkomentar "Alhamdulillah enakkkkkk aku bikin, paaasssss kaya yg di toko." πŸ˜‚

Lah, sih empunya resep pun udah gak inget lagi kalo resep itu adalah resep andalan (kata mereka yang udah pernah nyicip gratisπŸ˜…). Saking lupanya, sampe dua hari si pemilik resep malah sibuk berburu tepung brownis instant di setiap minimarket seantero kecamatan (bukan hand sanitizer aja yang sempet menghilang dari peredaran, yak). πŸ˜‚

Kue Ultah Si Bontot yang Ketiga, dengan teknik menghias seadanya πŸ˜…

Ternyata bermanfaat juga upload resep di Instagram, yak. Kendatipun resepnya adalah hasil modifikasi dari beberapa akun memasak terkenal di media sosial, selain karena bisa berbagi (kecuali resep dagangan) kita juga bisa mendokumentasikan lagi catatan resepnya agar tidak lupa seperti saya πŸ˜… (asalkan akunnya gak dihapus). Karena resepnya dulu memang pernah hilang di dalam handphone yang sudah lama rusak. πŸ˜…

Nah, kalo temen-temen gimana? Punyakah pengalaman berkesan mengenai lupa negatif atau lupa tak berfaedah seperti diatas? cerita dong. 😁


Referensi : 
https://www.halodoc.com/
https://doktersehat.com/
https://www.bbc.com/
https://www.honestdocs.id/
https://koinworks.com/
https://www.jawapos.com/

Gadget & Generasi Millenial

17:09 41
Gadget & Generasi Millenial

Wali kelas Si Kk tiba-tiba nongol di balik pintu, matanya menatap tajam ke arah saya yang lagi nongkrong nyambi maen perosotan. (busyet, emak-emak maen perosotan) πŸ˜‚ 

Tapi kejadian ini udah beberapa tahun yang lalu kok (walo udah beberapa tahun, yah tetep aja kan udah emak-emak). πŸ˜… 

"Bu, kesini sebentar!" Saya kaget campur salting. "Aduh du ee.., bakal kena semprot karena ngerusak fasilitas sekolah, ini kayaknya". 

"Bisa bicara sebentar?" Bu guru menarik tangan saya dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam kelas. 

Disana saya langsung menghampiri Si Kk, yang setiap ngerumpi gak ada jedahnya lagi kalo udah mulai ngumpul sama temen sekelasnya. 

Berhubung posisi duduk Si Kk di kursi paling belakang (yang mana itu adalah posisi ter legend) πŸ˜‚ dekat dengan pintu keluar pula, saya pun jadi ikutan nimbrung. Dan Bu Guru pun, akhirnya ikut-ikutan. 

Okeh.. 

Saya jadi dag dig dug beneran (karena emang gak pernah ngobrol sama sekali dengan belio, yang dikenal sebage Guru paling garang tegas di TK Si Kk). πŸ˜…


Komunikasi antara Guru & Orangtua

"Begini Bu, Si Kk inih kalo latihan di buku nilainya selalu bagus tapi kalo ditanya soal-soal di papan tulis, selalu jawab gak tau dan menulisnya gak pernah selesai. (tuh kan, pasti karena kebanyakan ngerumpi)

"Setelah saya tanya-tanya lebih detail," lanjut Bu Guru. "Ternyata Si Kk matanya gak bisa melihat tulisan dari jarak jauh. Jadi kalo bisa tolong di periksakan ke dokter, karena kemungkinan ada masalah dengan matanya."

"Eugh! Sudah kuduga!" (ngomong pake bahasa kalbu kayak di Sinetron) kagak sopan juga kali, ngomong langsung kayak begitu di depan Bu Guru. πŸ˜‚

"Sebenernya, gejala-gejalanya udah lama keliatan, Bu. Soalnya kalo Si Kk menatap orang, jidatnya itu pasti jadi mengkerut, trus mukanya seolah kayak mau nempel ke muka orang di depannya. Orang yang diliatin kan pasti grogi dan langsung ngerasa jadi mahluk aneh, ya kan." (Emaknya curcol karena sering dibegituin sama Si Kk). πŸ˜‚

"Udah lama saya pengen ngajak Si Kk ke dokter, tapi blom ada biaya dan gak ada yang nganter. Maklum Bu Guru, susah kalo ada bayi, gak ada yang bisa bantu jaga. Si Kk juga gak ada keluhan sampe sekarang, jadi saya pikir itu belum diperlukan." 

Tapi karena yang ngeluh adalah Bu Guru (lagi-lagi ngomong dalam hati) yah mau gak mau dan juga sepertinya ini sudah darurat. 

"Nanti akan diusahakan, Bu." Jawaban itu akhirnya meluncur juga setelah Bu Guru meminta berulang-ulang. 

"Diperiksakan ya Bu jangan nggak, kasian Si Kk." 

(sebenernya saya kasian juga sama Bu Guru, pasti ngerasa riweuh juga ngurusin anak-anak yang kelakuannya kadang naujubillah. Dan karena usia mereka yang memang lagi lincah-lincahnya πŸ˜‚, apalagi harus ditambah dengan masalah seperti ini di kelas).

Sejak saat itu posisi duduk Si Kk dipindahkan ke deretan terdepan, pas banget di depan papan tulis (meskipun yang dibelakang pada protes karena ketutupan Si Kk yang memang bergelar sebage anak tertinggi di kelas), πŸ˜‚ tapi apa daya, untuk sementara itu dulu yang bisa dilakukan.


Check Up ke Dokter

Seminggu kemudian, setelah mendapat hasil dari pengajuan askes. Akhirnya Si Kk diajak ke dokter mata, di sebuah rumah sakit yang semua penghuninya saat ini di karantina akibat wabah covid 19. (Kemaren itu saya pengen ke sana untuk berobat tapi gak bisa.πŸ˜… )

Saat mata Si Kk diperiksa, Bu dokter jadi agak sedikit cemas. Karena setiap ditanya huruf apa, Si Kk cuma geleng-geleng karena banyak yang gak bisa dijawab. Padahal tulisan yang terpampang di depan, ukurannya lumayan besar.

Okeh, awalnya saya ikutan cemas, tapi tiba-tiba jadi teringat sesuatu. 

Dan kemudian langsung tertawa ngakak dengan airmata yang hampir keluar (bukan bermaksud kejam dan ilang simpati ke anak, ini yah, tapi emang udah refleknya begituw πŸ˜…), sampe diliatin bu dokter dan asistennya lagi. Gak ketinggalan juga, Pak Suami dan Si Adek yang tiba-tiba ikutan melongo, meski tangannya sibuk geratilan megang-megang peralatan bu dokter. 🀣

Setelah mengambil nafas panjang, "Bu dok, Si Kk gak bisa jawab, karena baru masuk sekolah TK dan emang belom diajarin di kelas, bukannya karena gak bisa liat." (emang salah emaknya juga sih, rempong sama bayik jadi gak sempet ngajarin, begini jadinya). πŸ˜…

Trus si Kk langsung nyaut, "Iya, belum diajarin bu guru kalo yang itu".  (lah, dikira bu dokter lagi ngasih soal ujian, apah). Kan yang ditanya itu keliatan ato gak, bukannya tau ato gak. πŸ˜‚

Selesai Si Kk diperiksa, Bu dokter pun berkomentar. "Matanya kayak orang Korea yah, tapi mata Ayahnya kayak orang Jepang."

(Walopun sipit ternyata mata orang-orang asia dari negeri 4 musim itu punya perbedaan sebenere yak, ini berdasarkan diagnosisnya Bu dok juga) Terus emaknya gimana? Gak perlu penjelasan dari bu dokter pun, sebenernya yang liat udah bakal langsung mikir kalo saya ini orang Cina πŸ˜‚ padahal mah, orang dusun. (nanya sendiri, jawab sendiri)πŸ˜‚

Trus Si Adek? Kami bertiga mungkinlah bisa dimaklumi sebagai mahluk bermata segaris, karena orang sini kan sebagian memang ada yang seperti itu. namun Si Adek (sekarang jadi Si Tengah) matanya agak mepet ke arap-arapan, lintas generasi mewarisi mata Ibu saya yang bermata coklat abu-abu (orang dusun ternyata spesies matanya bermacem-macem juga, yak).

Bulu matanya itu, panjang dan lentik, bola matanya besar, tapi warna matanya Si Adek yang berjenis kelamin laki-laki ini hanya coklat bening, gak ada campuran abu-abunya. 

Seharusnya, Si Emak dong yang bermata seperti itu, ye kan (doa yang tak terkabulkan). πŸ˜… dan yang nurun ke saya itu malah kekurangannya, menderita mata plus sejak muda. 


Disiplin dalam Menerapkan Batasan

Setelah di kasih resep, akhirnya Bu dok bilang. Si Kk gak boleh nonton tv sama maen gadget dulu selama pengobatan. Berhubung obatnya lagi kosong, jadi obat tetesnya sementara ini pake obat yang untuk mata tua, maksudnya obat khusus untuk manula yang matanya rabun jauh. Kalo nanti-nanti mau maen gadget lagi, maksimal satu jam dan nonton tv maksimal tiga jam. Kalo semakin parah, nanti akan dikasih surat rujukan ke Jakarta. (Dan emaknya pun cemas, teringat seseorang yang sudah dianggap seperti Kakak sendiri, harus menjadi buta saat muda (maniak komputer) setelah matanya minus delapan dikarenakan penyakit mata bawaan).

Sebenernya Si Kk bukan getol maen gadget (hampir gak pernah), dia mah orangnya ekstrovert, senengnya maen keluar, ngobrol sama temen-temen. Gak bisa diem dan aktif banget "dulu".  Tapi lagi lagi ini kesalahan saya sebage Orangtua dan karena nurun dari Si Ayah termasuk juga kelakuannya (matanya minus 9, dulu). Susah bergeser kalo sudah di depan layar monitor.

Sewaktu Si Kk masih kecil, kami hanya punya TV (tabung) tapi gak punya meja. Karena masih hidup seadanya, jadi yang dipake buat nampung ntuh TV adalah sebuah meja sudut kecil, limpahan dari mertua. Yang ukurannya, yaah setinggi anak umur setaonlah. Dimana kalo Si Kk mau nonton, mukanya langsung nempel ke layar televisi. Meskipun dikasih kursi yang agak jauh, tapi dia balik lagi balik lagi, ngendon di depan TV. Emaknya kemana? Sibuk mengais recehan demi menambal biaya hidup. πŸ˜ͺ

Menyesal itu datangnya selalu belakangan, kalo di awal namanya lamaran, 
katanya Bang Mochammad Rizal S, Gz

Setelah nebus kacamata Si Kk, yang diketahui minus nya sebanyak 3,75 - 4 dan ada silindernya juga (lupa detailnya karena kertas resepnya udah ilang). Kami akhirnya mewanti-wanti untuk membatasi penggunaan gadget semacam handphone, yang barangnya emang kagak ada, (ngenes πŸ˜…) mencegah, maksudnya.πŸ˜‚

Trus, gimana nasibnya setelah beberapa tahun kemudian ?


Mencegah Lebih baik daripada Mengobati

Nah ini, yang bikin emaknya suka galau. Se ekstrovert-nya tuh anak, pas dipinjemin gadget mah mendadak berubah aliran jadi introvert. Bukannya bosen malah makin nyandu, tambah betah ngendon di rumah gara-gara gak sekolah. Tugas sama PR nya pun dicuekin, apalagi temen-temennya. Tapi kalo gak di kasih gadget, bakalan rebutan tv terus sama adek-adeknya dan ujung-ujungnya pada berantem, nangis berjamaah. Kalo udah gitu, Emaknya pula yang bakal pusing.

Akhir-akhir ini, tiap emaknya ke warung selalu ditanyain sama tetangga. Si Kk kemana sih, gak keluar-keluar lagi, takut sama mba Corona yah? (Sebelum ada pandemi ini, Si Kk yang biasanya ke warung soale). 

Kemaren dulu, Emaknya emang lagi gak bisa kemana-mana, ntar adek-adeknya pada mo ikut semua. Harus gendong kiri kanan biar gak keliaran kayak anak ayam baru keluar kandang. Belom nanti kalo minta jajan. Ke warung niatnya beli indomie lima ribu perak biar irit, tapi jajannya dua puluh ribu. Besok-besoknya, makan nasi lauk es krim aja ituh, 2 hari.πŸ˜‚


Belajar dari Pengalaman

Hmm... hikmah dibalik cerita ini sebenernya apah? 

Seperti judul sebelumnya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Terutama pembatasan penggunaan gadget, apalagi untuk anak-anak, tak terkecuali orang dewasa (yang nyadar diri). Kerusakan mata seperti ini gak bisa disembuhkan, karena efeknya seumur hidup kecuali dengan operasi lasik (kalo mampu sih yah ga papa jugaaa, kalo mau). Apalagi anak-anak jaman sekarang itu rata-rata maennya gadget. Main mainan tradisional pun udah jarang terlihat, kecuali mungkin di daerah pinggiran atau di daerah yang masih belum melek teknologi. 

Mending kalo nambah cakep setelah pake kacamata, lah ini malah ngerusak penampilan, yah kagak enak jugaa. πŸ˜‚ (Seperti saya kalo pas make kacamata baca ato kalo lagi ngejait, sering banget diledekin kayak nenek-nenek) 🀣  tapi itu kan saya, yak. Orang laen mah beda. πŸ˜…


Demikianlah curcol hari ini, semoga bermanfaat yah.. πŸ˜…

Akibat Sembarang Diet

13:27 37
Akibat Sembarang Diet

Beberapa tahun yang lalu, berat saya pernah turun hingga 15 kg dalam beberapa bulan setelah melahirkan, tanpa diet dan olahraga. Kok bisa? Gimana caranya? Yah, dengan mengkonsumsi makanan sehat, pastinya. Tapi sayangnya itu tidak bertahan lama. Hanya berlangsung selama 3 bulan, lalu muncul gejala mual-mual, kepala terasa berat dan sering pusing berhari-hari. Setelah melakukan medical check-up ke dokter spesialis penyakit dalam, ternyata saya menderita sakit maag, asam lambung dan kolesterol tinggi. Untuk sementara, diet saya stop dulu. Jadi, kesempatan untuk terlihat langsing pun tertunda lagi.

Setelah mulai belajar dan mendapatkan banyak informasi, akhirnya saya sadar kalo penyakit yang saya dapatkan, adalah karena kesalahan pola makan dan nutrisi yang tidak seimbang. Meskipun semua yang dimakan adalah realfood, tapi saya tidak menakar, bahkan mengkonsumsi makanan yang sama berhari-hari dan kadang sengaja mengurangi porsi makan untuk berhemat. Yang terpenting makanan itu sedikit, tidak di goreng, dan bukan nasi putih. Yang juga berarti, bisa mengurangi pengeluaran termasuk kebutuhan bahan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng dan lain-lain. Nah, sedangkal itulah ilmu perdietan saya saat itu.


Mengurangi Waktu Makan untuk Berhemat

(Mengurangi waktu makan disini, maksudnya bukan dalam satu kali makan di double jadi dua porsi, yak)πŸ˜‚. Keluarga kami biasanya makan tiga kali sehari di awal-awal bulan dan berubah menjadi dua kali sehari ketika menuju akhir bulan (bagi yang dewasa saja). Jika pandemi ini belum berakhir sebulan kedepan, maka kebiasaan makan itu bisa saja berubah dari tiga kali menjadi dua kali, dan yang dua kali menjadi hanya sekali sehari (tenaaang.. blom nyampe ke level makan obat maag tiga kali sehari, kok)πŸ˜‚. 


Mengingat sebentar lagi kita akan menyambut bulan ramadhan, saya mungkin harus berpikir lagi untuk mengatur ulang pengeluaran, agar bisa tetap melaksanakan sahur dan berbuka puasa sesuai sunah rasulullah.

“Bersahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari Muslim)

Selain untuk berhemat, banyak juga orang yang melewatkan waktu sahur begitu saja seakan-akan bukanlah hal penting. Alasannya, karena merasa kuat berpuasa tanpa sahur atau karena malas bangun dan lebih memilih untuk melanjutkan tidur. Atau seperti adik saya yang tidak semangat untuk sahur, karena makanan yang disajikan tidak cocok dengan seleranya.

Ada juga yang melaksanakan sahur, tapi tidak melakukannya sesuai sunnah yang telah dianjurkan. Misalnya dengan makan sahur 2 jam lebih cepat biar tidak kebablasan atau karena memang belum tidur setelah tengah malam kemudian langsung sahur, lalu tidur lagi sampai pagi.


“Dari Abu Dzar, Nabi Saw berkata: “Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Ahmad).


Mempraktekkan Pola Makan yang Benar

Kebiasaan mengurangi waktu makan itu mungkin bisa mempermudah. Tapi jika terus-terusan tanpa memperhatikan batasan kalori perhari, dipastikan akan berakibat buruk pada kesehatan. Kita mungkin menjadi kurus dan mengalami penurunan berat badan, tapi tubuh kita pada akhirnya akan mengalami kekurangan gizi dan nutrisi. Yang membuat organ-organ di dalam tubuh tidak bisa bekerja secara maksimal. Efek terburuknya adalah, bisa menyebabkan kegagalan fungsi pada organ. Sehingga badan kita menjadi lemah dan mudah terserang penyakit.

Diet itu artinya Pola Makan. Maka kita harus mencari tau berapa BMR (Basal Metabolic Rate) agar kita tau berapa kalori minimal dalam sehari saat tubuh tidak melakukan apa-apa, seperti memompa jantung, bernapas, memperbaiki sel tubuh, mempertahankan suhu tubuh, dan lain-lain. Dan juga, berapa TDEE (BMR + kegiatan selama sehari) disini. Maka kita akan mendapatkan jumlah kalori harian untuk mengatur diet perhari yaitu berada di atas BMR dan di bawah TDEE.

Bagaimana cara menghitung kalori yang akan masuk ke tubuh kita? Dengan menimbang makanan atau menggunakan kepalan tangan. Jika ingin lebih praktis, bisa menggunakan piring yang memiliki sekat untuk mempermudah kita menentukan takaran (lihat gambar pertama).


Karena itu, menjaga pola makan sehat itu sangat penting sekali, baik itu di masa pandemi seperti sekarang ataupun tidak. Apalagi di saat kita ingin menurunkan berat badan agar terlihat langsing dan ideal. Pelajari pola makan sehat yang benar agar tidak berimbas di kemudian hari. Karena yang harus berkurang itu adalah lemak, baru berat badan menyusul kemudian.


Berikut Tips dan alternatif agar langsing tapi tetap sehat dan hemat, khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini :

  1. Mengkonsumsi karbo kompleks seperti jagung, ubi, kentang, labu kuning. Jika masih punya duit bolehlah sesekali  makan nasi merah, oatmeal, sereal dari gandum utuh atau mungkin roti gandum sebagai pengganti karbohidrat dari nasi. Sebenarnya boleh saja mengkonsumsi nasi putih, karena indeks glikemiknya ternyata tidak jauh berbeda dengan nasi merah, asalkan porsinya dikurangi dan bukan penderita diabet.
  2. Telur, tahu, tempe, toge, susu kedelai, ikan, kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang tanah, dada ayam tanpa kulit, putih telur, sebagai sumber protein rendah lemak, pilih yang murah meriah tapi tinggi gizi.
  3. Gunakan wajan anti lengket setiap kali menggoreng  atau menumis makanan. Karena tingginya kadar lemak jenuh yang dimiliki oleh minyak kelapa sawit, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
  4. Selain merebus, bisa juga dengan mengukus atau memanggang agar rasa dan nutrisi makanan tidak hilang atau rusak. Dengan begitu masakan jadi lebih sehat dan kita juga bisa berhemat, karena tidak memakai minyak goreng sama sekali.
  5. Kurangi mengkonsumsi gula dan tepung-tepungan. Pemanis alami bisa didapat dari buah atau madu. 
  6. Mengkonsumsi sayuran atau serat. Lebih bagus jika ditanam sendiri, selain menghindari terpapar pestisida juga akan menghemat pengeluaran.
  7. Mengkonsumsi lemak baik seperti ikan, alpukat, kacang tanah, kacang almond, kacang mete, kacang kenari, minyak zaitun, minyak kelapa (bukan kelapa sawit) tinggal pilih yang paling terjangkau.
  8. Mengkonsumsi vitamin dan mineral yang terdapat pada buah dan sayur-sayuran lokal atau yang sedang musim.
  9. Mengganti Suplemen dengan Jamu-jamuan. Bisa juga dengan minuman tradisional yang menggunakan rempah atau rimpang-rimpangan.
  10. Belajar mengerem ketika makan, meskipun yang dikonsumsi adalah sayur atau buah. Walaupun sehat tapi makan berlebihan itu tetap saja tidak baik, yang pada akhirnya akan ikut ambil bagian dalam kenaikan berat badan.
  11. Membatasi info-info yang membuat kita semakin tertarik untuk mencari makanan, seperti lewat internet dan media sosial.
  12. Menjauhi semua fasilitas yang mempermudahkan kita untuk memperoleh camilan tidak sehat.
  13. Lebih banyak bergaul dan berkomunikasi dengan yang seide dan sejalan soal kesehatan dan juga pola makan.
  14. Bergabung ke dalam komunitas yang bisa membuat kita termotivasi untuk menjaga pola makan dan hidup sehat.
  15. Olahraga di rumah, berdayakan saluran olahraga di youtube sebagai instruktur virtual. Jika tidak, lakukan angkat beban (pake botol air mineral diisi pasir pun bisa) atau skipping. Tidak mengapa sedikit-sedikit yang penting dikerjakan secara rutin dan seterusnya.
  16. Say no to Mager, misalnya dengan melakukan pekerjaan rumah lebih intens agar kalori terbakar tanpa harus berolahraga keluar rumah. Meskipun receh, tapi aktivitas tersebut juga berkontribusi menghilangkan lemak berlebih di tubuh kita. Apalagi buat yang masih punya anak kecil, bisa dimanfaatkan sebagai alat olahraga angkat beban juga.
  17. Belajar memanajemen stress.
  18. Stop begadang, selain mengurangi imunitas, juga menghambat pembakaran kalori.
  19. Minum air 2 liter per hari. Minum air berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan, karena akan memaksa organ di dalam tubuh kita bekerja lebih keras.
  20. Nah buat emak-emak yang doyan sisa makan anaknya (saya banget ini mah) πŸ˜‚untuk mensiasati agar makanan sisa tidak terbuang begitu saja, karena tidak dimakan emaknya lagi (emaknya pengen diet), tinggal pelihara ayam aja. Sisa makanan si adek jadi jatah buat ayam, biar ayamnya jadi sehat dan bergizi alias gendut. Dengan memelihara ayam, kita bisa mendapatkan profit protein hewani gratis dari telurnya, apalagi pas di tanggal tua.πŸ˜‚
Dengan pola makan sehat dan seimbang, kita tidak akan merasa tersiksa lagi karena rasa lapar. Caranya gimana? Dengan mengkonsumsi makanan yang mengenyangkan pengganti karbohidrat, yakni dengan menambahkan serat lebih banyak, seperti karbo kompleks, buah dan juga sayuran.


Mengurangi Lemak Setiap Hari (Defisit Kalori)

Melalui Jurnal Dr. Melyanti, dikatakan bahwa "Untuk membuang 1 kg lemak dari tubuh, kita harus mengurangi (defisit) sebanyak 7700 kalori. Nah jika saya sehari bisa defisit rata-rata 300 kalori, maka berat badan saya bisa turun 1 kg dalam waktu 7700 : 300 = 26 hari.

Apa aja yang dimakan????
  • 70-80% realfood seperti nasi, sayur, buah, ikan, dada ayam, daging merah lainnya (tanpa lemak), hati ayam, ampela, oat dan sejenisnya.
  • 20-30% funfood seperti mie, gorengan, kue-kue, donat, martabak, biskuit, cokelat, ice cream, pizza, burger, pasta seperti spageti dan sejenisnya. Jadi bukan berarti kamu 100% kudu makan realfood. Funfood boleh, asal dibatasi jumlahnya. (Biar ga stress, daripada ditahan-tahan, abis itu jadi kalap trus gagal diet, yah kagak bisa juga).πŸ˜…
Misal: 
Saya dulu bisa makan 4-5 pcs gorengan baru puas. Sekarang cukup 1 pcs saja, maksimal 3 pcs/minggu.
Dulu makan donat kudu 2 pcs. Sekarang kalo pas dibeliin ya makan aja 1 pcs.
Dulu makan mie/indomie 3x/minggu, sekarang cukup 3x/bulan.
Dulu makan pizza harus 2 slice, sekarang cukup 1 slice.
Dulu makan pisang molen bisa 3 pcs, sekarang cukup 1 pcs.

Jadi lebih banyak makan sayur, buah, dada ayam, ikan, telur, putih telur, nasi 1/2 porsi dari biasanya (kira-kira 100-150 gram di siang hari). Gak ada pantangan terhadap makanan, kecuali yang haram dan alergi buat kamu. Karena kuncinya itu tetep ada di defisit kalori.

Memang terlihat lama, tapi di jalankan saja. Nanti berat badan akan tetap stabil di bawah dan gak gampang naik. Yang terpenting bukan berapa lama dan berapa hasilnya, tapi....MEMBENTUK POLA HIDUP SEHAT itu butuh waktu minimal 3 minggu. Kalau pola hidupmu sudah bisa sehat (defisit kalori yang bener dan olahraga yang bener), ini artinya prosesnya bener dan nanti hasilnya juga pasti bener. Lakukan aja 3 bulan, lihat hasilnya bertahap.

Gak ada proses turun berat badan yang instan tapi sehat. Instan tapi berbahaya bagi tubuh, malah merugikan kamu sendiri. Lakukan bertahap tapi sehat itu lebih baik dan ilmu yang kita dapat bisa kita pakai dan share sampai kapanpun."

Nah, setelah mempraktekkan apa yang saya pelajari selama beberapa bulan belakangan, berat saya turun sebanyak 7 kg. Perubahan yang paling signifikan adalah :
🌸 Rambut rontok berkurang.
🍍 Kaki tidak kram lagi setiap pagi.
πŸ‰ Gusi tidak berdarah lagi setiap menggosok gigi.
😎 Mata tidak berkunang-kunang lagi setelah bangun tidur.
πŸ‚ Muka lebih sehat dan jarang berjerawat.
πŸ„ Tidak kram perut lagi kalo duduk kelamaan.
🌽 Stress berkurang.
🍩 Lemak di perut berkurang sangat banyak.
πŸ‘½ Pipi jadi lebih tirus.
☕ Disaat semua orang flu saya sendiri yang tidak.

Demikianlah, kurang lebih manfaat yang saya dapatkan selama belajar membentuk pola makan sehat. Semoga bermanfaat, yak. 😁



Referensi :
#rizalnutrisionist
#hansboling
#komunitas fatsecret