uzegan: Heart-Talk
Tampilkan postingan dengan label Heart-Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heart-Talk. Tampilkan semua postingan

Perempuan dalam Diam

23:54 9
Perempuan dalam Diam

"Love Letter"

*Backsound :
10 : 54 PM.


Sudah lama saya tidak melihat Bu Dahlan. Biasanya setiap saya pulang dari warung atau pulang dari bepergian, Beliau sering duduk di teras pelataran depan pintu rumahnya. Kadang hanya ngaso, bermain dengan cucunya atau sedang menunggu anak-anaknya pulang kerja dan pulang sekolah.

Bu Dahlan selalu tersenyum dan selalu menyapa duluan setiap kali saya tak sengaja bertatap muka dengan beliau. Wajar bagi kami untuk saling bertegur sapa ketika pertama kali bertemu pandang, bukan.

Tapi satu hal menjadi berbeda ketika sebagian warga kampung yang sudah berumur, menjunjung tinggi prinsip bahwa yang muda yang harus menyapa, dan harus memperlakukan mereka selayaknya orang yang paling dihormati dan dituakan.

Namun tidak demikian dengan Bu Dahlan, tidak peduli siapapun, tua, muda, anak-anak, Beliau selalu menyapa duluan dan selalu memberikan senyum terbaiknya.

Bu Dahlan tidak pernah ngumpul-ngumpul. Beliau lebih suka di rumah daripada ngalor ngidul yang tidak penting dengan tetangga sekitar. Ngobrol dengan saya pun sangat jarang sekali dan tidak pernah lama. Hanya sesekali saat saya memerlukan ijin ketika hendak memasuki pekarangan belakang rumahnya untuk memperbaiki pagar dan hal-hal semacam itu.

Saya lebih banyak mengenal Bu Dahlan ketika mendengarnya sedang berbincang-bincang dengan anggota keluarga atau mendengar suaranya saat berinteraksi dengan anak atau cucunya yang baru lahir. Dialog-dialog penuh kehangatan yang selalu hadir menyentuh lembut gendang telinga, ketika mereka sedang berkegiatan di dapur atau di halaman belakang rumah.

Setiap kata yang di ucapkannya terkadang membuat saya berangan-angan. Seandainya beliau adalah Ibu saya atau saya bisa seperti beliau yang selalu bertutur halus dan lembut, penuh perhatian dan memiliki banyak rasa sabar menghadapi tingkah pola setiap anak, meskipun hidup bersama seorang suami pengangguran yang tak mau lagi bekerja berat, karena usia yang tak lagi muda.

Bu Dahlan dan suami hidup satu atap bersama anak-anak dan menantunya, di rumah yang tidak begitu besar dan masih setengah jadi karena sebagian dinding hanya ditambal dengan papan atau ditutup dengan triplek, dikarenakan tidak ada biaya lagi untuk memperbaiki rumah.

Sebagai tetangga terdekat, saya bisa ikut merasakan kedamaian dan ketenangan dari dalam rumahnya sejak saya pindah ke kampung ini sepuluh tahun yang lalu, sekalipun kesan tentang suaminya kurang begitu baik di mata saya karena tidak mau berusaha mencari nafkah dan lebih memilih hidup dari penghasilan anak-anaknya. Tapi itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa saya salut dengan sikap seorang perempuan bernama Bu Dahlan.

Tubuhnya yang langsing memberi kesan, bahwa dia bahagia dengan apa yang dia jalani. Di mata saya, beliau orang yang ceria, tidak pernah mengeluh. Selalu bersyukur meskipun hidup dengan begitu banyak kekurangan. Hingga pada akhirnya saya mencoba untuk lebih menghormati suami dari seorang perempuan yang diam-diam saya kagumi itu. Karena sesungguhnya tidak mudah juga bagi seorang suami untuk bisa membuat istrinya bisa bersikap seperti itu di tengah kesulitan hidup yang morat marit dari awal menikah hingga beranak cucu.

***

Kemarin, saya mencoba mengetuk pintu rumah Bu Dahlan, ingin bertanya apakah mau menerima sekantung Belimbing Wuluh yang baru saja saya panen dari pekarangan belakang rumah. Tapi ternyata beliau sedang tidak ada, hanya ada anak lelakinya yang terlihat dibalik jendela, sayapun undur diri. Saya rasa lebih elok kalo nanti saja saya berikan, agar bisa sekalian ngobrol-ngobrol dengan Beliau.

Namun tidak disangka, sore tadi saya mengetahui bahwa Bu Dahlan telah menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Menurut cerita anaknya, beliau ternyata mengidap penyakit paru-paru, Itulah sebabnya mengapa saya sering mendengarnya batuk-batuk menahun di beberapa pagi sebelumnya dan kenapa berat tubuhnya tidak bisa terus terusan bertambah seperti halnya ibu-ibu disini. Ibu-ibu yang kebanyakan lebih suka mengalihkan stress dengan makan, sering mengadakan acara ngumpul-ngumpul, jalan-jalan bareng atau bercengkerama dalam kegiatan-kegiatan arisan dan pengajian yang tidak lepas dari acara bersantap ria.

Satu hal tentang budaya Ibu-ibu yang kadang sering membuat saya cuma bisa menghela nafas. Yakni kebiasaan memendam. Kurang terbuka kepada pasangan untuk mencari pemecahan masalah. Lebih suka di simpan sendiri, dan menganggap bahwa jarang berkomunikasi dengan suami itu merupakan hal yang lumrah, karena seringnya tidak menemukan titik temu setiap kali hendak bertukar pikiran.

Meminta perhatian dari seorang suami yang tidak tau bagaimana caranya memberi kasih sayang yang semestinya kepada Istri, seolah menjadi hal tabuh dan membuat sungkan karena masih menganut budaya lama, tak ingin dianggap sebagai perempuan agresif. Mereka meratapi kemalangan diri, menelan sakit hati atau lebih memilih menyimpan masalah dalam diam, tanpa tau hal itu hanya akan merusak diri.

Meremehkan, bahwa umur yang kian menua tidak lagi penting untuk di romantisasi. Padahal itu adalah salah satu kebutuhan dasar yang diharapkan bisa didapat dari pasangan, ketika nilai-nilai kehidupan dunia sudah mulai perlahan memudar.

Sekalipun tanda-tanda kematian mulai mendekat, mereka masih saja terus mengusap luka dan menelan rasa pahit itu dengan seulas senyum, lalu kemudian membalutnya dalam wujud kesabaran. Kesabaran yang menjadi sebuah dalih karena tidak mau ambil pusing, akibat terlalu banyak menelan kekecewaan yang tidak pernah ditanggapi. Dan karena hanya suamilah, yang menjadi satu-satunya tempat dimana mereka bisa menggantungkan hidupnya selama ini.

Saya tidak tau apakah dibalik keceriaan dan kehangatan yang biasanya terdengar, Bu Dahlan sebenarnya memilih diam, ataukah karena diamnyalah yang menggerogoti hingga akhirnya berada di penghujung nyawa.

Namun bagaimanapun juga, apapun yang telah dilakukannya, telah membuat dirinya menjadi seorang Perempuan luar biasa, Perempuan yang semestinya layak mendapatkan penghargaan dan perlakuan lebih dari pasangan hidupnya.

Pada Sebuah Kepenatan

23:14 20
Pada Sebuah Kepenatan
Time Travel
*Backsound :
Ost. 5 Centimeters Per Second


Tampaknya orang-orang sudah teramat sangat penat dengan semua keadaan ini, tak terkecuali saya.

Dari mereka yang sekedar memposting foto bandara, cafe, gunung, pantai, sekolah, kampung halaman dan sejenisnya. Adalah rindu yang terus tertahan karena pandemi yang masih saja tak berkesudahan.

Kegemukan yang belakangan menjadi trend bukanlah wujud keinginan, melainkan hasil pe-luapan, bentuk dari sebuah kepenatan. Pun Si pemilih (picky eater) yang tak lagi bergaji, turut menanggalkan keegosentrisan demi hadirnya sesuap nasi.

Siapa sangka, gawai yang pernah digaungkan bisa berdampak buruk pada anak namun paling disenangi, ternyata menjadi bagian paling erat dalam hidupnya. Yakni bagian yang pada akhirnya tetap tidak luput dari rengkuhan rasa penat.

Hingga cinta yang biasanya jauh, lalu mendekat dan melahirkan bayi-bayi pandemi. Atau yang biasanya dekat lalu menjauh karena pertikaian atau kehilangan, entah itu pada pasangan, pekerjaan, harta benda, hingga kepada Tuhan.

Sesuatu yang jauh mendekat dan yang dekat akhirnya menjauh.

Sesuatu yang dulu tak diacuhkan, kini menjadi yang paling dicari.

Sesuatu yang dulu terasa berharga, sekarang tidak lagi berarti.

Ketika semua hal dilakukan secara daring, ketika semua tlah terbiasa, maka tibalah kita di titik jenuh. Titik dimana sebuah kepenatan menjadi terasa luar biasa. Kita terjebak, terhimpit dan tersudut tepat di depan tabir dunia nyata yang belum juga kunjung meluruh. Kita menjadi emosi, stress, depresi, bahkan melakukan kekerasan hingga berujung pada kematian.

Bukan main.

Semuanya tidak serta merta terjadi begitu saja. Kekecewaan-kekecewaan yang bersumber dari masalah yang belum dianggap pantas memenuhi pikiran, membuat abai Si Empunya jiwa. Kekecewaan itu tertanam di alam bawah sadar lalu kemudian menjelma menjadi bibit-bibit kepenatan. Bibit yang telah tumbuh jauh sebelum datangnya wabah. Bibit yang akhirnya bertunas menjadi lecutan emosi dan juga percikan amarah.

Kini bibit itu semakin membesar, dan dengan mudahnya menyala karena tersulut api pandemi yang tengah membara. Hingga begitu cepatnya membumihanguskan sekerat kesabaran.

Maka berbahagialah jika dianugerahi banyak pilihan, bisa menikmati hal-hal yang baik dan memiliki kemudahan untuk menjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun jika kita tidak memiliki keistimewaan itu, apa boleh buat. Kepenatan kali ini benar-benar terasa amat sangat berat dan teramat sulit untuk ditempuh. Dan semoga, kita diberi kekuatan dan kemudahan agar rasa penat ini bisa segera berlalu.

Terima Kasih

15:44 2
Terima Kasih

Saya gagal mengulas beberapa hadiah dan pemberian dari temen-temen blogger maupun temen-temen di Instagram, maafkan. Saya sadar betul, saya termasuk lamban dalam urusan seperti ini. Karena mengingat kamera handphone yang saya punya memiliki kualitas rendah (handphone lama khusus untuk belajar moto udah rusak) dan saya belum punya waktu untuk mendisain ilustrasinya di Canva untuk postingan blog.

Kalaupun ilustrasi postingannya hanya berupa sketsa yang digambar di SketchBook, ternyata hati kecil saya masih disentil oleh naluri keperfeksionisan, bahwa ternyata saya masih menjadi seorang pemula. Sehingga saya membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk belajar membuat illustrasi yang baik. Saya gak bisa multitasking. Jangankan melakukan tiga hal bersamaan, ngeblog dan ngurus keluarga pun sering banget keteteran. πŸ˜…

Karena itulah, dengan terpaksa saya harus memilah-milah urusan yang sekiranya tidak dapat ditinggalkan karena waktu yang telah terenggut untuk urusan anak-anak dan rumah tangga. Yap, waktu untuk bengong pun saya gak punya karena anak-anak gak pernah membiarkan saya memiliki waktu yang leluasa untuk diri sendiri. Mereka sudah mengambil alih, bahkan di malam hari dimana biasanya saya mulai ngetik postingan atau berkomentar ke blog temen-temen.

Saya sering ketiduran. Kalopun saya akhirnya bisa mengupdate postingan ataupun bewe, biasanya itu terjadi karena kebetulan anak-anak tidur siang berbarengan atau gadget sedang tidak dipake dan anak-anak sedang melakukan hal yang seru tanpa kehadiran saya disitu, misalnya nyelonong mandi ujan di halaman belakang, bikin rumah banjir, diem-diem maen ke rumah tetangga atau mengobrak-abrik perkakas Ayahnya. πŸ˜‚

Ditambah lagi beberapa bulan ini Si tengah dan Si Bontot yang sudah macam anak kembar harus mulai belajar toilet training dimana sebenarnya saya yang harus menguatkan pikiran agar tidak terlanjur stress karena entah berapa menit sekali saya harus standby dikamar mandi nemenin anak berganti-gantian karena mau pipis atau BAB bahkan buang angin pun minta dicebokin πŸ˜…padahal mereka sebenarnya cuma main air selama setengah jam atau malah berjam jam.

Yah begitulah, nasib emak-emak yang usia anaknya berdekatan, makan pun yang disuapin dua orang berbarengan. Padahal, Si Tengah yang seharusnya udah mulai belajar makan sendiri, ikut merengek minta disuapin karena gak mau kalah dengan Adiknya yang masih suka dikejar-kejar setiap kali dikasih makan.

Jadi, kali ini saya pengen ngucapin terima kasih yang banyak banget ke temen-temen semua yang sudah memberikan hadiah, bingkisan bahkan bantuan. Di usia saya yang sekarang, dimana lingkaran pertemanan saya sudah gak ada lagi, kiriman-kiriman dari kalian adalah salah satu hal luar biasa yang pernah saya terima. Terima Kasih banyak temen-temen, Selamat menyambut Ramadhan 1442 Hijriah, Mohon Maaf Lahir & Bathin buat semua.

Illustrasi ini saya bikin di Canva karena lagi kangen bulan Ramadhan, Oktober tahun lalu πŸ™‚

Self Healing

18:22 5
Self Healing

*Backsound
Ost. One Pieces

Seorang teman pernah bilang, curhat itu sama dengan mengeluh dan mengeluh itu sama saja dengan tidak bersyukur.

Lantas, bagaimana dengan saya dan teman-teman yang suka curhat, khususnya di blog ? 

Hmm..

Mungkin bisa dikatakan, (dulu) saya adalah seorang pendengar yang baik, karena lebih sering menyediakan telinga dibanding bersuara untuk memberi saran (kecuali diminta). Saya sendiri hampir tidak pernah curhat (jika tidak dipaksa keadaan) karena merasa tidak penting bagi orang lain, malu, atau karena tidak menemukan orang yang bisa dipercaya. Lebih memilih untuk bercanda dan tertawa alih-alih membicarakan isi hati sendiri meski sedang berada di titik terendah sekalipun. Secara naluriah, mendengarkan cerita, curhatan dan mendengarkan pengalaman orang-orang secara langsung adalah sebuah pembelajaran yang tak ternilai harganya. Karena bisa membuat saya kembali bersemangat dan merasa lebih mampu dalam menghadapi lika-liku hidup.

Hingga suatu hari, saya mulai menyadari bahwa beberapa orang (banyak) termasuk Kakak saya yang pada akhirnya tumbang di usia yang belum lagi tua. Karena lebih memilih untuk memendam kesedihan dan rasa kecewa, yang ternyata pelan-pelan mengguncang psikis dan berakhir menggerogoti jasmani hingga di akhir hayatnya (meskipun saya dan kakak diperlakukan seperti anak kembar, saya tidak ingat sama sekali kapan dia terakhir menangis).

Banyak hal yang membuat cara pandang saya berubah. Hingga saya pun memutuskan untuk memulai self healing dengan menuliskan isi hati bersama seorang sahabat dalam sebuah buku diary. Kami menulis dan membaca berganti-gantian meski ternyata saya lebih sering melakukan hal lain yang bisa mengalihkan pikiran (hal lain sebagai alat untuk lari dari kenyataan). Hingga pada suatu kesempatan, akhirnya saya mengenal dan berpindah ke media blog.

Dan mungkin ini juga bisa menjadi salah satu alasan kenapa sebagian orang yang dulunya cuek atau pendiam kemudian berubah galak atau pemarah ke orang lain, bahkan ke pasangan atau anak-anaknya ketika sedang menghadapi masalah. 

Karena diam dalam kekecewaan itu hanya akan menggerogoti dan merusak diri sendiri. Mungkin dengan meluapkannya akan bisa mengurangi beban karena bathin yang kelewat tertekan. Namun sayangnya, cara seperti itu ternyata tidak menyehatkan mental, dan orang yang terkena luapan emosi bisa tersinggung, sakit hati bahkan menyimpan dendam karena cara kita yang keliru.

Mengutip dari pembahasan Adjie Santosoputro dan Habib Husein di Channel Youtube Jeda Nulis, momen-momen kecil saja, yang tidak sesuai dengan keinginan bisa membuat kita kecewa dan berpotensi membuat mental kita perlu dirawat. Sayangnya selama ini Adjie Santosoputro dan kita, hanya dibekali 4 jurus dan sepertinya kurang tuntas menyehatkan mental.

1. Menekan marah, sedih, kecewa. Memendam yang penting senyum, keliatannya seneng (karena budaya timur) dan ternyata ini pun kurang sehat karena bisa meledak suatu waktu. Bisa mengalami substitusi atau kompensasi. Keliatannya menekan memendam dan gak pa pa, tapi berakibat ke aspek yang lain, seperti marah-marah di kehidupan beragamanya, keluarganya atau kehidupan pekerjaannya.

Contohnya : Dia tidak mau memendam kekecewaan kepada orang lain di kantor tapi marahnya pada istri atau anaknya di rumah, karena dia merasa punya kuasa pada anak istrinya dan gak ada resiko, kalo dengan karyawan atau atasan mungkin bisa dipecat. (Habib Husein)

2. Melampiaskan. Sedih, Marah, langsung melampiaskan, seketika, spontan tanpa mikir tanpa babibu langsung dikeluarkan dan itu juga kurang sehat.

3. Pengalihan. Misal : Sebenarnya sedih, mengalihkan dengan cara makan, ngopi, ngemil, shopping, stress kerja mengalihkan ke hal-hal yang gak ada hubungannya, yang sebenarnya gak memulihkan stress. Tetep aja itu kurang sehat karena lukanya gak terobati.

4. Refreming. Refreming itu misalnya mengalami kegagalan. Lalu berusaha mereframe atau mengganti makna gagal itu dengan sukses yang tertunda. Diawal mungkin menyehatkan mental tapi dijangka waktu yang panjang, itu seperti melatih diri kita untuk halu. Terkadang kita sebagai manusia dengan egonya terlalu menghakimi gagal ini sebagai musibah sehingga memaksa diri merefremingkan. Sedangkan ketika kita tidak terlalu menghakimi, ngejudge. Ketika gagal ya terima aja. Karena memang itu adalah sebagian dari hidup dan bagian dari perjuangan. Karena tanpa ada gagal gak ada sukses dan alih-alih di refreming tapi justru disadari dan didamaikan.

Dan ternyata 4 jurus yang dilakukan selama ini justru membuat mental makin terkapar dan kita harus mulai belajar mengenal kesadaran diri. Sesuatu yang dirasa sebagai musibah ternyata di dalamnya ada berkah. Sesuatu yang selama ini disanjung-sanjung sebagai berkah kemungkinan di dalamnya ada musibah. Melihat sesuatu secara seimbang dan kesadaran itulah yang akhirnya menyelamatkan dan bisa menyehatkan mental. Dan itu memang perlu dilatih dengan niat. 

Selengkapnya bisa dilihat di video "Mengenali Diri dengan Mindfulness"

Ini bukan hal yang baru, apalagi rahasia umum. Semua orang tau atau nantinya akan tau, tapi sayangnya tidak semua orang selalu ingat. Terkadang ketika kita merasa down, kita jadi lebih terfokus ke rasa sakit atau penderitaan yang dialami. Kita lupa, tidak ada yang mengingatkan dan menjadi semakin terpuruk karena kita telah hidup dalam dunia kita sendiri. 

Kita sendiri yang memutuskan untuk menelan sendiri rasa kecewa dan sedih namun berharap (bahkan mengharuskan) orang mau mengerti tanpa kita perlu berkata-kata. Pun ada yang terlena hingga lupa bahwa manusia itu bukan peramal dan tidak bisa menerawang pikiran apalagi melakukan telepati.




Feeling Guilty

03:40 11
Feeling Guilty
*Backsound :
yang intronya bikin saya inget film Grave of Fireflies 1988

***

Lantaran dapet email tagihan domain blog ini, akhirnya saya bikin postingan lagi. πŸ˜…

Yah, begitulah. Kalo udah mepet kayak begini, akhirnya saya baru tersadar udah menyia-nyiakan blog yang bakalan non aktif satu bulan lagi ini (mungkin).

Sama seperti nomor handphone untuk tugas sekolah Si Kakak yang gak pernah di isi pulsa, begitu henponnya rusak dan WA nya mo dipindah ke henpon laen, udah deh, wasalam. Nomornya hangus dan saya pusiang tujuah kelilieng, nomer barunya belom sempet dibeli (lokasinya jauh) dan tugas sekolahnya terus-terusan menumpuk karena gak dikerjakan sama sekali.

***

Sebenernya saya kangen ngeblog lagi, kangen berkegiatan sebelum subuh. Kangen bales-bales komentar ato jalan-jalan ke blognya temen-temen. Tapi saya sadar sesadar-sadarnya, waktu dan keadaan yang saya punya sedang tergadaikan dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Ditambah dengan manajemen waktu yang masih berantakan.

Mungkin karena saya yang salah, karena lebih sering menikmati waktu sendiri hingga akhirnya anak-anak secara tidak langsung terabaikan. Sekalipun secara fisik mereka dekat, tapi tidak dengan hati saya. Pikiran saya melanglang buana, berkelana di dunia maya, mencoba lari dari kenyataan, berharap bisa menghilangkan rasa stress yang terus menggerogoti.

Tapi apa yang akhirnya saya dapati? saya malah semakin down, terpuruk, merasa menjadi Ibu paling egois yang hanya memikirkan kesenangan diri tanpa menghasilkan apa-apa.

Dalam seminggu ini, saking stucknya entah berapa kali saya memimpikan kembali bekerja di kantor saya dulu. Meskipun setelah menikah, semua masih bisa saya lakukan. Mulai dari menjadi tukang ketik soal, tukang disain brosur, giveaway hunter, reseller buku, menjual berbagai makanan, reseller kaldu organik, reseller pakaian, sampe reseller frozen food disaat hamil besar Si Bontot, saya berkeliling menggunakan motor tua, motor yang servisnya udah ngalah-ngalahin harga motornya itu sendiri.

Saat itu saya mencari pelanggan dan melakukan pengiriman sendiri di tengah panas dan hujan, dengan membawa Si Tengah, sembari mengantar Si Kakak ke sekolah. Dagangan saya laris, yang larisnya baru saya sadari mungkin hanya karena sebatas rasa kasihan dan simpati orang-orang yang melihat.

Lucunya, saat itu saya hanya punya rasa optimis dan penuh semangat, karena apa yang saya tawarkan memang berkualitas dan bisa dijual dengan harga yang lebih miring. Tanpa ada baper-baperan karena hambatan-hambatan yang saya punya.

Namun sayangnya, satu persatu, tempat dimana saya biasa mengambil barang pelan-pelan hengkang dari dunia per-agenan. Hingga akhirnya saya juga terpaksa berhenti karena melahirkan Si Bontot.

Sejak saat itu, hingga hari ini. Saya kehilangan ruang gerak. Motor saya ngadat karena tidak pernah dipakai lagi, pajaknya sudah mati karena tidak pernah dibayar. Hingga akhirnya, teman yang paling menghibur saya disaat paling penat itu dikembalikan lagi ke pemilik aslinya (Orangtua). Ikhlas, tapi saya merasa ada yang hilang.

Mungkin, mungkin saja nanti. Di suatu hari saya bisa kembali berpetualang. Semoga saja.


Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

14:13 37
Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Belakangan ini saya merasa seperti diteror terus-terusan, dirongrong hingga membuat kepala saya seringkali migrain karena kurang tidur dan stress yang berkepanjangan akibat kekecewaan dari rumah dan tekanan dari sekolah Si Kakak. Ibarat sepotong dendeng yang ditekan dari atas, tapi yang ini alasnya malah memberikan perlawanan (bergerak keatas) karena menolak ditekan dengan mendorong balik agar tidak ikut tehenyak ke bawah bersama si dendeng. Dari situ jelas sekali, pada akhirnya si dendeng lah yang akan menjadi hancur atau gepeng karena ditekan dari dua sisi. Yang setiap saat bisa saja menjadi dendeng balado jika terus-terusan dicampur dengan berkilo-kilo ulekan cabe keriting. (Ngenes banget analoginya yah) πŸ˜‚

Sejak tahun ajaran baru dimulai dan diberlakukannya pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Saya akhirnya menjadi bagian dari golongan Orangtua murid yang gagal membuat anaknya mau belajar dengan baik dan efektif selama di rumah.

Sebelumnya saya memang merasa lega. Karena tidak perlu lagi harus tiap hari menyiapkan seragam sekolah, uang jajan dan ongkos ojek serta tidak perlu kocar kacir karena selalu berkejaran dengan waktu demi menyiapkan makan siang sebelum Si Kakak berangkat ke sekolah. 

Dulu, saya heran kenapa Ortu teman-teman Si Kakak banyak yang mengajukan keluhan melalui WAG sekolah, anaknya tidak mau menurutlah, jadi malas belajar, kerjanya main game dan nonton aja di rumah. Namun setelah dimulainya tahun ajaran baru, kegiatan Si Kakak yang tidak ada belajarnya saat libur lebaran dan kenaikan kelas telah menjadi kebiasaan baru yang membuat saya makin uring-uringan. Segala cara sudah saya lakukan agar Si Kakak mau belajar dan mengerjakan tugas serta hapalan-hapalan seabrek dari sekolah, baik itu latihan di buku, maupun materi melalui video. Yang awalnya saya lakukan dengan cara lembut dan mengayomi, tapi ternyata Si Kakak malah nyantai dan seringkali pura-pura gak denger. Mentang-mentang gak berangkat ke sekolah, dikiranya sekarang emang masih libur jadi ngapain juga musti belajar.

Saya pikir karena Si Kakak memang butuh diawasi, maka dengan konsekuensi dua orang adiknya juga ikut nimbrung dan menganggu, saya tetap menemaninya belajar dan tetep disambi beres-beres kerjaan rumah. Begitu saya bantuin bikin tugas, eh Si Kakak malah ketagihan. Dikit-dikit nanya, dikit-dikit ngomong gak tau, karena malas membaca materi dan ngerasa bisa langsung dapet jawaban dari emaknya. Jadi kalo ada yang praktis ngapain lagi harus baca-baca, mungkin begitu pikirnya. Meski ujung-ujungnya Si Kakak bukannya belajar, tapi konsentrasinya malah terpecah, ngalor ngidul lalu tiba-tiba main atau nonton seperti adik-adiknya.

Karena kesel, akhirnya saya mengingatkan Si Kakak dengan nada mengancam, dan ternyata masih juga gak mempan. Dari hari ke hari keadaan semakin rumit, tugasnya terus menerus bertumpuk karena tidak pernah dikerjakan. Sementara saya harus terus berusaha memantau dan mencatat soal serta mencatat materi yang tidak ada di buku pelajaran. Sekaligus menonton video agar tidak ada yang terlewat dan nantinya bisa saya berikan penjelasan ulang ke Si Kakak. Kenapa Si Kakak gak langsung ngeliat dari henpon? Karena Si Kakak bukannya ngeliat tugas di WA tapi malah bongkar-bongkar isi henpon emaknya dan lagi henpon biasanya langsung dikasih ke adeknya biar gak menganggu Kakaknya belajar. Dan bersama keriweuhan itu saya masih harus berkubang dengan segala urusan rumah yang tak pernah ada habisnya. Kalo tidak, tau sendirilah semua kerjaan rumah bisa keteteran dan tertunda lagi sampai besok dan besoknya lagi. Menumpuk dan berakhir dengan menyengsarakan diri sendiri jika tidak ada yang membantu.

Ditambah lagi dengan ramenya Ortu yang ngejawab di WAG sekolah yang bikin saya jadi semakin kewalahan. Karena begitu satu tugas diberikan, Ortu yang ngucapin terima kasih itu bisa nyampe berapa gerbong kereta panjangnya, seharian notif WA isinya ucapan terimakasiiiiiih melulu atau kalo ada yang lagi diselametin atau ada yang lagi sakit, jadinya panjaaaaang banget list anggota WAG yang ngucapin atau ngedoain. Bikin saya jadi senewen sendiri.

Apalagi daftar panjang update-an murid yang sudah mengumpulkan tugas serta jawaban-jawaban murid saat ngelist absensi dan daftar hadir di WAG. Udah macam ular naga panjangnya, bukan kepalang. Bayangkan kalo gak buka WAG Sekolah sehari saja karena gak punya kuota, semoga henponnya gak ngehang pas lagi buka notif, yak. Atau mungkin malah seperti saya yang sering gagal bikin video hapalan Si Kakak untuk dikirim ke sekolah karena memory henpon yang selalu tiba-tiba kepenuhan.

Begitu juga ketika saya ngecek tugas mana saja yang sudah dikerjakan Si Kakak, ternyata hasilnya mengecewakan sodara-sodara. Paling hanya satu soal yang selesai. Sisanya? Zonk, gak ada yang dikerjakan sama sekali, karena saya juga yang memang tidak selalu bisa menemaninya belajar. 

Akhirnya setiap kali melihat WAG, stress saya makin ngepull, karena selalu mendapat pemberitahuan daftar nama-nama murid yang sudah mengumpulkan tugas, dan cuman Si Kakak yang namanya tidak pernah terconteng. 

Mengingat kelas Si Kakak adalah kelas unggulan dimana rata-rata muridnya rajin belajar. Si Kakak bisa bergabung di kelas itu karena usianya paling tua dari teman-teman seangkatannya. Si Kakak masuk SD pas di usia 7 tahun kurang tiga bulan, yang mana teman-temannya banyak yang lebih muda satu tahun tapi rajin dan pintar-pintar. 

Alasan itu makin membuat saya ngedrop di titik terendah, dan bikin otak saya jadi kacau balau. Hingga berapa kali saya akting nangis biar Si Kakak nurut dan hasilnya ternyata gagal juga, sampai ketika emosi sudah meninggi barulah Si Kakak patuh, tapi sayangnya cuma satu hari. Besoknya ketika emosi saya meledak lagi. Si Kakak mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu menangis. Dan itu yang sebenernya bikin saya kesel, karena yang seharusnya nangis itu saya bukan dia.

Hingga suatu hari saya mencari-cari kesempatan bagaimana caranya agar keluar dari WAG sekolah, saya sudah tidak sanggup lagi membaca kiriman-kiriman tugas dan segala macam pemberitahuan yang mengakibatkan saya menderita kecemasan yang lumayan akut. Saya dan suami sudah pasrah, biarlah Si Kakak tahun ini berhenti sekolah dulu, mengulang kelas tahun depan tidak masalah, dan jika pandemi ini belum berakhir, setidaknya adik-adiknya sudah lebih mengerti untuk tidak mengganggu kakaknya belajar (harapannya). 

Saya sadar kalo metode belajar seperti sekarang sangat tidak efektif untuk Si Kakak dan mungkin untuk sebagian besar anak-anak lain juga. Walau faktor yang mendominasi kelakuannya Si Kakak emang karena menurun dari emaknya. Yang waktu kecil dulu, memang malas belajar teori atau hapalan tapi lebih nangkep dan lebih tertarik kalo belajarnya dengan cara praktek bersama teman-teman sekelas. Dan juga karena atmosfer rumah yang memang sangat tidak kondusif untuk bisa belajar dengan tenang seperti di sekolah.

Pada suatu kesempatan, akhirnya saya keluar juga dari WAG sekolah dengan memanfaatkan situasi percakapan yang sedang memanas di grup. Namun tak dinyana, para Ortu siswa/i malah balik bersimpati dan meminta saya jangan keluar dari grup agar tidak ketinggalan informasi, sampe di telpon berkali-kali dan tidak saya angkat. Hingga akhirnya rencana keluar dari sana gagal total karena admin memasukkan saya kembali ke dalam grup. Dan suami saja yang berhasil keluar dengan mulus dari WAG sekolah Si Kakak.

Sejak saat itu saya mulai sering keluar rumah untuk menenangkan pikiran dan menjauhkan diri dari gadget. Selama berkeliling di lingkungan sekitar rumah, saya melihat beberapa anak tetangga yang sedang belajar di teras rumah di temani Ibu, Kakak atau Neneknya setiap pagi. Mereka nurut, semuanya belajar dengan khusyuk karena tidak ada yang menganggu, kalopun bersama adiknya tapi adiknya yah kalem aja.

Saya nyadar kalo ngeliat rumput (anak) tetangga lebih hijau (rajin) justru malah bikin stress karena secara otomatis saya langsung membandingkan dengan anak sendiri. Karena itu, akhirnya saya bertanya ke para Ortunya, bagaimana cara agar anaknya mau belajar tanpa harus diawali drama bak cerita ibu tiri. 

Tapi jawaban yang saya dapatkan ternyata yah gak jauh beda seperti saya, sesekali mereka juga menampakkan taringnya ke anak kalo udah kelewatan. Tapi bedanya, si anak masih punya keinginan untuk belajar, tidak ada yang mengganggu atau ada yang bantu menemani selain Ibunya. Dan hal itu semakin membuat saya merasa, bahwa kondisi mereka jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang saya alami.

Mendapati kenyataan seperti itu, saya semakin down karena merasa gagal menjadi Orangtua. Karena mau gak mau saya juga harus mengurus adik-adiknya disaat Si Kakak paling membutuhkan perhatian dan bantuan saya.

Hingga di suatu sore, saya ke warung sendirian di dekat lapangan gang sebelah, anak-anak saya titip ke Pak Suami (siapa tau pikiran saya kembali jernih dengan me time sambilan seperti itu). Disana saya ngeliat dua orang kakak beradik, satu kelas 2 SD dan kakaknya kelas 1 SMP. Mereka sedang mengasuh adiknya yang masih bayi. Dua bersaudara ini saya kenal sebagai anak yang rajin dan selalu nurut sama Orangtua karena sering ngeliat mereka membantu ibunya berjualan makanan di depan rumah.

Saat itu ibunya lagi membersihkan selokan disamping rumah. Saya langsung mendekat dan tanpa babibu, saya langsung tanya, cara apa yang bisa bikin anaknya mau nurut khususnya waktu ngerjain tugas dari sekolah. 

Dari perbincangan sore itu, sarannya saya simpan dan ingat baik-baik agar sepulang dari sana bisa langsung diterapkan di rumah. 

Tips dari tetangga ini langsung saya praktekkan dan alhamdulillah, Si Kakak akhirnya bikin tugas juga. Caranya gimana? Dengan menyita semua barang kesukaannya dan kemudian membujuknya. Kalo semua tugas sudah selesai saya akan kabulkan keinginannya nonton youtube di henpon dan beberapa keinginannya yang lain.

Sayangnya (masih harus disayangkan) tugas dari sekolah seolah tak ada hentinya, pagi siang malam, ada saja pemberitahuan, tak mengenal waktu. Barulah ingin bernafas sudah datang tugas baru, hapalan baru. Dan saya sudah kehabisan cara ngebujuk Si Kakak agar mau mengerjakan semua tugas dari sekolah. Karena Dia sekalipun gak mau berinisiatif untuk mengerjakan tugas sekolahnya kalo gak saya ingatkan terus-terusan.

Yang pada akhirnya, tetep aja balik ke selera asal, Si Kakak kembali malas malasan lagi dan dengan nyantainya bilang iya setiap kali saya minta mengerjakan tugas, tapi gak pernah dikerjakan. Dia hanya menangis karena katanya capek terlalu banyak tugas dan hapalan yang harus diselesaikan. Dan saya juga sudah kelelahan.

Puncaknya, ketika waktu me time saya yang cuma sedikit itu telah habis dan terenggut secara paksa demi kelancaran proses belajar mengajar jarak jauh ini. Saya rasanya ingin memberontak dan keluar dari tekanan yang datang terus menerus serta rongrongan yang telah menelan kebebasan saya untuk merawat otak dan hati, agar kewarasan saya tidak terlanjur menyimpang kesana kemari.  

Ditengah kekalutan itu, saya teringat dengan adik saya. Dia adalah seorang guru SD tapi sayangnya dia tinggal di kota lain. Meskipun ketiga adik saya kesemuanya adalah tenaga pengajar tapi saya merasa sungkan untuk curhat ke adik-adik yang lain. Kenapa? Karena mereka juga memiliki kendala dan kesulitan serta merasakan beratnya ketika harus mengajar secara daring sedangkan gaji yang didapat tidak seberapa, dan kebetulan Adik saya yang mengajar anak SD hanya yang tinggal di luar kota.

Setelah saya menelpon dan mencurahkan semua unek-unek seorang wali murid ke Adik saya dan mendengarkan wejangannya, dari situ saya baru bisa memahami kenapa guru-guru seolah tega sekali memberikan tugas secara bertubi-tubi ke siswa/i nya. 

Alasannya? Karena mereka juga mendapat tekanan dari atas dan beberapa alasan lain yang tidak bisa disebutkan. Tapi walau begitu, tetap ada toleransi serta kebijakan untuk murid-murid yang tidak bisa menyesuaikan diri untuk belajar jarak jauh seperti sekarang serta murid yang tidak mampu dan terkendala kuota atau yang tidak memiliki gadget. Sayangnyaaa, sayangnya lagi itu untuk sekolah negeri. Beda dengan sekolah Si Kakak, meskipun sekolah gratis dan hanya diwajibkan membayar infaq tapi dia belajar di sekolah swasta yang notabene semua kebijakannya tergantung dari yayasan atau sekolah masing-masing.

Lalu sekarang Si Kakak gimana? tetep aja masih susah kalo disuruh belajar. Dan karena itu saya memutuskan sharing dengan Wali kelas Si Kakak (meskipun keliatannya susah sekali diganggu setiap kali saya datang untuk menyetor tugas Si Kakak ke sekolah). Kata Wali kelasnya, Gak papa, tunggu sampai Si Kakak mau. Wali kelasnya meminta dengan sangat agar Si Kakak tidak dimarahi. Tapi sayangnya saya udah terlanjur marah-marah duluan dan sebagai Orangtua yang baru belajar hal itu sangat saya sesalkan. 

Besoknya, Wali kelasnya langsung ngomong ke Kakak di WA, agar mau mengerjakan tugas-tugas dengan ngasih kata-kata semangat, yang bikin Si Kakak akhirnya mau mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Meskipun masih sering pake sistem kebut semalem (SKS), semua tugas dikerjakan sehari sebelum menyetor tugas ke sekolah, yang dilakukan seminggu sekali. Setidaknya Si Kakak sudah mau ngerjain tugas sekolahnya, sudah ada nilai yang diberikan karena sudah mau belajar. Dan saya juga tidak perlu berharap yang muluk-muluk karena membandingkan Si Kakak dengan anak-anak yang lain, karena kesabaran saya sebagai Orangtua benar-benar sangat di uji di masa-masa ini.

Saya semakin menyadari bahwa anak lebih suka ngedengerin dan nurut apa kata orang lain ketimbang emaknya sendiri. Karena emang emaknya yang suka ngomel-ngomel, sometimes mengaum kayak singa karena suka khilaf dan hilang kesabaran saking kewalahan dengan semua kerjaan yang ada di rumah. 

Sebagai anak yang hobinya nonton dan bermain. Si Kakak ternyata lama-lama jenuh juga dengan semua aktifitasnya di rumah. Karena itu, sekarang Dia menggantinya dengan hobi baru, yakni sering menawarkan diri untuk ngebantuin emaknya di dapur Ketimbang BIKIN TUGAS dari sekolah. 

Antara pengen seneng tapi kok yah miris. 

Sejak Si Kakak mulai mau bikin tugas, televisi, henpon dan komputer butut emaknya memang telah di berdayakan dan diprioritaskan semua untuk hiburan adek-adeknya dan tugas sekolah Si Kakak.

Hingga membuat Si Kakak berinisiatif untuk mandiin adek-adeknya setiap pagi. Si Kakak bilang, biar ibu bisa ngetik pake komputer, biar gak stress dan gak marah-marah terus. Biar kerjaan Ibunya di rumah tidak penuh drama dan suara tangisan adik-adiknya. Karena setiap menit setiap detik ada aja yang rewel, mo minta dicebokin lah, yang mo minta makan lah, yang mo minta minum, yang mo minta ganti channel tv, yang mo minta gendong lah, yang mo minta bikinin susu, yang berantem lah, manjat-manjat lemari, yang berebut makanan, berebut mainan lah, sampe yang bikin rumah banjir, dan berbagai macem tingkah pola adek-adeknya. Yang kadang bikin Si Kakak kasian sama emaknya, karena selalu kerempongan nyelesain kerjaan dapur yang seabrek-abrek, blum lagi karena selalu gagal pengen ngeblog tengah malem karena adek-adeknya juga pada ikutan begadang. 

Walo saya tau sebenernya mereka sedang memanfaatkan kesempatan karena pengen maen aer di kamar mandi. Keliatan dari tagihan air yang terus membengkak beberapa bulan ini, saking seringnya maen air pake selang di kamar mandi. Dan kadang malah bikin was-was kalo denger adek-adeknya suka jejeritan di kamar mandi, diiringi suara tertawa jahil dari kakaknya. Tapi yah sudahlah, skali-skali inih. πŸ˜‚


Bagaimana dengan kabar kalian, temen-temen? Waktu saya baca-baca timeline di pesbuk, ternyata banyak juga emak-emak yang nasibnya seperti saya, yak. πŸ˜… 

Makanan & Kenangan Masa Kecil

19:08 37
Makanan & Kenangan Masa Kecil


Setiap kali, ketika saya kembali menjejakkan kaki ke rumah Orangtua, ingatan-ingatan tentang masa kecil serta merta kembali menyelusup, menyesaki ruang benak, lalu berakhir dengan sereguk kesedihan dalam dogma kehampaan. Menangis? Konon menangisi kematian itu hanyalah bentuk dari sebuah keegoisan, bahwa kita sebenarnya sedang menangisi diri karena tidak lagi bisa mendapati atau melihat apa yang pernah menjadi milik kita. Bahwa kita takut sendirian, takut kehilangan, takut untuk menerima siksaan rasa rindu yang tak akan pernah terobati. Yang pada akhirnya kita hanyalah seorang manusia yang takut untuk menghadapi rasa sepi. 

Kebersamaan saya dan almarhumah Kakak, adalah salah satu kenangan yang akan selalu menjadi pembelajaran bagi saya sebagai seorang adik yang telah menjadi Orangtua. Juga sebagai kenangan manis yang menjadi pengingat bahwa dia pernah menjadi rekan terbaik, ketika kami sama-sama berjuang menjalani kepahitan hidup saat bersama Orangtua.
~//~

Ketika kami masih anak-anak, solat taraweh telah menjadi satu hal paling menyenangkan, walau tidak seperti teman-teman lain yang kadang dibekali uang jajan oleh Orangtuanya. Setelah selesai solat biasanya anak-anak langsung berhamburan menuju kedai makanan terdekat yang masih buka di sekitar masjid. Berbeda dengan saya dan kakak, kami biasanya langsung pulang karena Ibu memang sudah membekali kami dengan sekantong makanan sisa berbuka. Makanan yang dibuat sendiri oleh Ibu atau saya. 

Godo-godo Labu

Salah satu makanan khas yang biasa dihidangkan saat berbuka di rumah adalah Godo-godo Labu. Makanan ini mirip Bakwan, tapi terbuat dari potongan-potongan kecil labu kuning seukuran korek api yang dicampur dengan terigu. Rasanya manis-manis gurih. Tekstur makanan ini terasa garing diluar namun lembut di dalam. Jika ingin menambah sensasi pedas, akan lebih cocok jika Godo-godo Labu disajikan dengan cuko pempek ketimbang dimakan dengan cabe rawit yang pedasnya cuma se-upil. πŸ˜‚

Godo-godo Labu adalah salah satu makanan kenangan masa kecil saya bersama Kakak di bulan Ramadhan. Kalo lagi bosen mendengarkan ceramah di masjid setelah solat atau mengaji, makanan ini selalu jadi penangkal rasa ngantuk dan jenuh. Walau bentuknya sering jadi gepeng karena disembunyikan di bawah sajadah (dulu para Ustadz rajin mendisiplinkan anak-anak yang makan dan ribut disaat orang-orang sedang solat) untungnya saat itu kami tidak pernah terciduk meski solatnya dipastikan keteteran. πŸ˜‚πŸ˜…

Selain beberapa masakan ibu, saya juga rindu dengan jajanan atau makanan yang dibeli bersama Kakak sewaktu kecil. Beberapa makanan ini dulu sempat saya idamkan setelah menikah, bukan saja karena rasanya yang enak tapi karena kenangannya. Suatu momen yang tidak bisa saya ciptakan lagi karena ada beberapa bagian dari kenangan itu yang memang sudah tidak ada lagi.

Dulu sewaktu masih SD, Ibu selalu kerepotan mengurus adik-adik yang masih kecil karena beliau juga harus ikut membantu bapak mencari nafkah. Karena itu, Ibu meminta saya dan kakak mengurus hal-hal yang berhubungan dengan perkulineran di rumah. Berbelanja keperluan dapur adalah salah satu misi yang kami emban setiap hari, meskipun kerap diwarnai dengan pertikaian khas anak-anak tapi tidak jarang juga kami terpaksa saling mengalah, agar perjalanan menuju pasar yang awalnya hanya berjarak beberapa ratus meter tapi berlanjut menjadi beberapa kilometer itu (sempat bertualang dulu di tengah perjalanan), bisa terasa lebih damai dan aman sentosa. πŸ˜‚

Sambal Telur Udang

Salah satu makanan atau lauk yang tidak bisa kami temui lagi bahannya adalah Telur Udang, mungkin telur dari satu ekor udang adalah bahan yang mudah didapat, tapi jika beratnya sudah mencapai 250-500 gram per bungkus, maka telur udang menjadi bahan masakan yang paling sulit dicari. Disini, tak perduli berapa kali saya dan kakak mencari, kumpulan telur udang siap olah itu sudah tidak bisa kami dapatkan lagi, karena harga jualnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan usaha ketika mengumpulkannya. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa tidak ada lagi yang (mau) menjualnya. 

Sambal Telur Udang ini biasanya kami nikmati dengan mencampurnya bersama nasi yang tidak hangat atau sudah dingin (lebih enak) dan tanpa lauk. Sambalnya sama sekali tidak pedas karena cabe yang dipakai hanya sedikit, khusus untuk anak-anak. Rasanya yang nikmat selalu membuat ketagihan hingga bisa dimakan kapan saja. Entah sarapan, makan siang atau makan malamnya yang jadi dobel-dobel, hayuk aja. caviar mah lewaat. πŸ˜‚

Ikan Kembung Panggang "Joko"

Ikan Kembung Panggang "Joko" merupakan salah satu lauk terfavorit semua anggota keluarga. Karena rasanya yang berbeda dibanding ikan kembung panggang yang dijual di tempat lain. Setiap Ibu malas masak, hal pertama yang kami inginkan adalah menyantap nasi putih hangat bersama ikan kembung panggang yang dibeli di warungnya Si Joko, alih-alih karena harganya paling terjangkau dan karena Bapak yang benci untuk makan ayam atau daging. Tapi meskipun begitu, tetap saja jatah satu ekor ikan dibagi empat bagian per empat orang anak.

Pemilik warung makan ini adalah orang jawa tapi yang mereka jual adalah masakan padang. Joko sebenarnya bukanlah nama warung makan, juga bukan diambil dari nama pemiliknya, melainkan nama anaknya yang paling kecil. Berhubung nama warungnya susah diingat, akhirnya nama Joko yang menjadi trademark di warung makan Ibunya. Dan kebetulan Joko adalah teman mengaji adik saya di Masjid dekat rumah. Anaknya ramah meskipun masih kecil dan satu dari sekian anak lelaki tambun nan gemulai yang kami kenal karena bisa menari jaipong.

Meski Joko dan Ibunya sudah pindah bertahun-tahun yang lalu, tetap saja pernah terbersit keinginan untuk mencari tau mengenai kabar mereka. Saya penasaran bagaimana dia sekarang, apakah masih seperti itu atau sudah berubah. Juga bagaimana kabar Ibunya yang dulunya sudah berstatus sebagai seorang nenek sekaligus si juru masak ikan kembung panggang favorit keluarga kami.


Beberapa bulan lalu, saya dan temen-temen bloger mendapat sebuah hampers hari raya dari Mba Eno, berupa satu ekor Ayam dan Ikan Panggang utuh. Yang rasa ayam panggangnya itu mengingatkan saya dengan Ikan Kembung Panggang masakan Ibunya Si Joko. Sudah berpuluh tahun. Tidak disangka, akhirnya saya bisa menemukan rasa itu lagi melalui seekor ayam panggang kiriman dari seorang teman blogger. 😊

Ayam Kecap Tahlilan

Ayam kecap ini sebenarnya ayam kecap biasa, tapi karena rasa enaknya belum pernah kami temui dari ayam-ayam kecap yang lain, walhasil setiap Uwak samping rumah mengadakan tahlilan, ayam kecap ini selalu jadi rebutan diantara saudara-saudara. Uwak samping rumah adalah keluarga sangat jauh dari sebelah Ibu karena hanya dihubungkan melalui status perkawinan, tapi karena sama-sama orang perantauan. Kami jadi merasa lebih dekat dibandingkan dengan keluarga sendiri dan berusaha saling membantu dalam banyak hal. 

Sayangnya, ayam kecap ini jarang sekali bisa kami nikmati, karena biasanya dimasak untuk para tetamu dan hantaran ke tetangga ketika Uwak mengadakan tahlilan saja (Uwak adalah seorang Janda ditinggal mati yang harus menghidupi 6 orang anak). Setelah saya menikah, ternyata beliau sudah pindah keluar kota mengikuti anak-anak perempuannya yang bekerja disana.

Pempek Dos Panggang Gerobak

Penjual Pempek Dos Panggang ini adalah seorang kakek-kakek. Beliau menjajakan Pempek Panggang menggunakan gerobak kayu yang diatasnya diisi dengan arang dan panggangan dari selembar kawat seukuran panjang gerobak. Cara berdagangnya termasuk unik, karena setau saya sampai sekarang tidak ada satupun pedagang keliling yang menjajakan pempek panggang seperti itu disini, biasanya hanya dijual ditempat.

Bagi penggemar pempek dos macam kami, rasa pempeknya tetep yang paling ajib meskipun tanpa ikan sama sekali. Bagian luarnya berwarna putih dengan warna sedikit gosong, garing, matang hingga kedalam dan berwarna bening, kenyal dan lembut ketika digigit. Beda dari pempek-pempek dos jaman sekarang yang rata-rata dibuat dari resep sejuta umat. Sampai sekarang saya belum nemu pempek dos panggang yang menyamai, baik dari segi rasa maupun dari teksturnya.

Kakek penjual pempek panggang ini dulu sering mangkal tidak jauh dari lapangan tempat anak-anak bermain. Biasanya saya dan kakak menunggu Si Kakek memanggang sambil nongkrong di sebelah abang-abang yang menyewakan gembot (gamewacth). Pernah juga beberapa kali kami menikmati pempek dos panggang si kakek di hari yang panas, sambil nonton lomba panjat pinang di hari kemerdekaan beberapa puluh tahun yang lalu.



Foto ini adalah hasil percobaan pertama waktu belajar membuat pempek panggang beberapa tahun lalu. Akhirnya saya bikin juga walau cuma di atas teflon. Jaman sekarang, masak dengan menggunakan arang sudah termasuk hal yang langkah, karena alat dan bahan untuk skala rumah tangga hampir tidak lagi dipakai disini. Trus, bagaimana rasa pempeknya setelah dimasak? Untunglah, ternyata masih bisa dimakan. πŸ˜‚πŸ˜

Kalo kalian gimana? Adakah makanan & kenangan masa kecil yang kalian rindukan? Cerita dong. 😊





Hujan di Bulan Agustus

20:03 25
Hujan di Bulan Agustus
Hujan di Bulan Agustus

Foto ini diambil bulan oktober tahun lalu. Potret daun rimbun Momordica Charantia atau tumbuhan yang bernama umum Paria ini saya jepret lantaran muak dan merasa jenuh, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan terlesak dalam kediaman. 

Serupa foto yang gagal, gambar yang nampak buram ini bukanlah hasil jepretan terburuk dari sekian momen yang saya tangkap hari itu. Melainkan sebuah penegasan sekaligus sejarah, bahwa sisa udara kotor hasil pembakaran hutan dan lahan masih terus menyeruak memenuhi langit kota tempat dimana saya pernah dilahirkan.

Pagi itu kendati sesaat, hujan telah turun dari langit, mengguyur kabut asap menyapu sisa-sisa pembakaran. Sampah-sampah abu yang berterbangan dan menyelusup melalui sela-sela pintu, lubang angin dan celah jendela kamar akhirnya terbilas, setelah lebih dahulu mencemari permukaan bumi. 

Untuk sementara, para penghuni terbebas dari rasa sesak, batuk dan terganggunya pernafasan, rasa perih pada penglihatan serta kerongkongan yang selalu meradang acap kali pagi bertandang. 

Karena hari itu, adalah pagi pertama dimana akhirnya kami menghirup udara bersih. Setelah beberapa pekan merasakan sesak, akibat memekatnya kabut asap.


12 Agustus 2020

Bumi yang panas sebagai pengharap musnahnya wabah, akhirnya kembali basah, disertai hawa dingin yang memang tlah lama melesap.  

Pada sebuah kabar akhirnya kami tersadar. 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) melakukan modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan di wilayah Sumatera Selatan yang kini sedang menghadapi musim kemarau untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Modifikasi cuaca tersebut dilakukan selama 20 hari ke depan dengan menyemaikan sebanyak 40 ton garam di atas awan yang memiliki potensi hujan. Koordinator Lapangan Tehnik Modifikasi Cuaca (TMC) wilayah Sumsel dan Jambi dari BPPT, Dwipa Wirawan mengatakan, dalam sehari sebanyak 2 ton garam yang akan di semai. Saat ini, mereka memfokuskan penyemaian di wilayah timur Sumsel karena masih banyak memiliki potensi awan hujan. "Proses penyemaian ini memakan waktu dalam sehari dua sampai tiga jam. Kami menggunakan pesawat CN295 dari Skadrone Halim Perdanakusuma untuk penyemaian," kata Dwipa saat memantau langsung proses penyemaian di Landasan Udara (LANUD) Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Rabu (12/8/2020)


17 Agustus 2020

Setiap kali negri ini memestakan kemerdekaan. 
Tanah menjelma sebongkah batu ketika baskara mengganas. 
Meringkaikan padi dan pohon yang bertumbuh, tampak dari dedaun yang kian meranggas. 
Tak sekalipun tehirup aroma basah, tak sekalipun termaktub dalam ingatan.

Pantas. 

Hari itu mereka berjuang. Hari ini kami merdeka dari kabut asap. 
Hari ini kita sama-sama berjuang. Hari ini, relakan wajah kita masih tersekap. 

Semoga esok dunia turut bersegera, 
Untuk mengejawantahkan bahwa kita akhirnya terbebas dari wabah. 
Dengan itikad mengambil kembali kemerdekaan yang tlah direnggut, bersama-sama.

No Profil Picture ?

17:25 46
No Profil Picture ?
Thanks to Mas Anton, karena tulisannya yang begitu menginspirasi maka terbitlah sebuah postingan baru di blog ini (akhirnya)πŸ˜‚. Dimana dalam pelaksanaannya, telah membuat saya kembali teringat akan aib di masa lalu. πŸ˜‚πŸ˜…

Saya sebenernya masih terngiang dengan sebuah pertanyaan dari beliau. Sebuah pertanyaan yang ditujukan ke saya di kolom komentar postingannya yang bertajuk tentang Siapa itu CREAMENO.

Pertanyaannya begini,

"Memang sekarang sudah tua ya Mbak?" 

Sebenarnya pengen saya jawab disitu, tapi keburu lupa dan pasti panjang banget. Apalagi karena waktu itu emang lagi asik ngebahas tentang Mba Eno. 😁 

Jadi, berhubung saya tidak bisa mencantumkan foto realistis di profil blog ini, maka inilah jawabannya. 
"Eh mba, itu adiknya yah?" tanya seorang penjaga counter hape.
"Bukan, itu temenku." Jawab Cupi. 

"Masak sih? Kok mirip yah?" 

"Ih, beneran Mba. Saya ini bukan Kakaknya!" 

Cupi yang tomboy dan kadang emang suka baperan akhirnya bersikeras. Dia merogoh isi tas selempang bututnya, lalu mengambil KTP yang terselip di bagian tengah dompet. 

"Mba Riniii! keluarin KTP mu?" Cupi meminta setengah memaksa. 

Cupi lalu menunjuk-nunjuk keterangan tanggal lahir di kedua KTP yang disodorkannya diatas meja counter. 

"Nooooh...! Saya ini lahir tahun 19xx Mba, kalo Mba Rini lahir tahun 19xx."
Saat itu, saya sudah berstatus sebagai seorang karyawan dan temen saya baru lulus SMA. Usia kami selisih delapan tahun.

Ada dua alasan kenapa Mba penjaga counter sampe mengira saya lebih muda. Pertama, kemungkinan karena tampang saya yang lebih imut πŸ˜›atau emang dasar tampang temen saya yang menyiratkan wajah orang yang  habis dimakan usia (padahal cantik)πŸ˜… Sepertinya kedua alasan itu gak ada satupun yang fair buat temen saya yak, gak enak semua πŸ˜‚πŸ˜… dan jelas-jelas justru malah saya yang jadi berbunga-bunga πŸ˜‚Meskipun pada kenyataannya, saya cuma bisa ngakak ngeliat mulutnya yang manyun sepanjang jalan. πŸ˜‚πŸ€£

Kalo mengenang lagi jaman-jaman waktu masih kerja dulu, semua temen saya memang sebagian adalah abege. Karena dulu saya sempat bekerja di sebuah lembaga pendidikan untuk Sekolah Menengah Atas. Dulu waktu bekerja disana (+ 17 tahun yang lalu), saya sempat akrab dengan para murid, karena usia yang hanya terpaut 1 hingga 3 tahun. Teman-teman saya selalu datang dan pergi beberapa tahun setelahnya (lulus). Lalu setelah datang teman-teman baru, dunia pertemanan dimulai dari awal lagi. Bersama saya yang usianya terus bertambah dan teman-teman yang usianya segitu lagi-segitu lagi.

Ibarat orang yang berteman dengan si penjual minyak wangi dan pandai besi, saya yang saat itu masih berada dalam masa pencarian jati diri, mau gak mau pasti ikut kebagian wanginya begitu juga dengan percikan apinya. Entah itu dari cara berpakaian, cara bergaul, selera bermusik hingga cara berpikir. Dan berlanjut terus hingga saya sudah tidak abege lagi. Jadi harap maklum kalo kelakuan kadang suka begajulan meski saat itu udah terbilang dewasa.  πŸ˜‚

Teman-teman saya dulu dari berbagai macam ras, campuran dan beragam keyakinan (yang ada di Indo). Kecuali Hindu. Ada satu orang siswa tapi saya tidak akrab dan dia juga jarang masuk.

Sampai disini udah paham pasti yah, kenapa saya bisa bilang "dulu waktu saya masih muda." πŸ˜‚ Kalo masih belum, mari kita lanjut lagi. 😁

Jadi meskipun saya berhaha hihi di blog tanpa memajang foto profil. Ternyata saya juga tidak bisa disebut anak muda lagi, gaes. Meskipun masih terjebak dalam gaya bicara anak muda. Tapi dibalik itu saya juga seringkali merasa (sok) tua. Yang bikin saya jadi lebih sering labil dalam menentukan identitas diri. πŸ˜‚πŸ˜…

Mungkin salah satu alasaannya, karena lingkaran pertemanan saya di dunia nyata "sekarang" banyak yang usianya jauh lebih tua. Maka itu saya lebih memilih untuk berteman di dunia maya dengan para teman blogger sekalian. Dari berbagai tempat dan usia yang berbeda sebagai teman sharing dan ngobrol, agar saya lebih banyak berpikir positif dan lebih optimis. Dan yang paling penting biar gak stress dan menderita kecemasan akut setiap menerima berita kabar duka. Entah itu pengumuman kematian dari masjid dekat rumah, hingga obrolan ibu-ibu tentang penyakit berat yang di derita, yang kerapkali saya dengar saat bertandang ke warung sayur atau di perkumpulan arisan RT.

Masak iya saya nekad ngebahas lagu-lagu punk, j-rock, k-pop ato ngebahas betapa gantengnya Nam Joo hyuk dan betapa kul nya Kim Soo Hyun? demi penghiburan di tengah-tengah pembicaraan tentang asam urat, kolesterol, menurunkan tekanan darah, pantangan makan, perjuangan mencari obat herbal, berapa biaya rumah sakit dan sejenisnya, hingga kabar kematian dari teman dan handai taulan setiap waktu? Yang ada, malah mereka yang nantinya balik nanya, "Dua orang korea itu pasien dari rumah sakit mana?" πŸ˜…πŸ˜‚

Kalo Mba Eno, Mba Nita dan Mba Rey, yang konon katanya sukanya cuap-cuap lewat tulisan namun aslinya pendiam. Maka saya beda lagi, kadang-kadang saja seperti itu. Interaksi saya dengan para teman-teman blogger disini sama seperti ketika saya berada di masa-masa waktu masih kerja. Atmosfernya benar-benar mengingatkan saya di jaman itu.  Kalopun sekarang jadi pendiam, bukan berarti saya aslinya seperti itu, tapi karena keadaanlah yang tidak mengizinkan. 

Dan "keadaan itu" sayangnya terus berlanjut hingga terjadilah zona nyaman. Dimana kita jadi malas keluar rumah, malas ngobrol dengan keluarga, tetangga, ngumpul dengan teman alumni dan lain-lain. Karena di jaman kayak sekarang ini sisi introvert kita semakin terdukung di rumah berkat henpon, kuota, komputer buat ngeblog dan bersosmed ria bersama netizen lainnya. Yang biasanya suka jalan kaki, keliling kampung sekalian olahraga, mampir dan beramah tamah ke tetangga. Pelan-pelan jadi malas dan terlanjur menjadi kebiasaan yang gak terlalu di gubris lagi.

Alesannya bisa macem-macem, takut panaslah, males keringetan, males ngejer anak-anak, ribet pokoknya kalo keluar rumah, mo ke warung aja banyak printilan yang harus disiapkan. Bahkan ke depan pintu ngambil paket dari mas-mas kurier pun sering banget kelabakan, akibat kelamaan nemplok di depan monitor ato henpon, lupa masak, lupa mandi sampe lupa anak.πŸ˜‚πŸ˜…

Tapi walau begitu, gak ada yang tau pasti nantinya akan seperti apa kalo suatu saat ternyata kita semua ditakdirkan untuk kopdaran. Seperti teman-teman komunitas saya dulu yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan blogger yang berdomisili di luar negeri juga menyempatkan diri untuk ikut kopdaran ketika berada di Indonesia. Mungkin hanya saya yang gak pernah kopdaran sekalipun. Meski ada juga beberapa blogger sedaerah yang selalu rajin ngede-em ngajak kopdaran setiap ada event komunitas, tapi berkali-kali itu pula saya menjawab belum bisa. πŸ˜‚πŸ˜…

Kadang, ada aja salah satu teman blogger yang upload foto kopdaran. Dan biasanya, dari situlah rasa penasaran saya akhirnya terjawab. Akan muncul wajah-wajah baru dari beberapa blogger yang biasanya gak pernah menunjukkan profilnya di blog, ato gak sekalipun memajang fotonya di blog. wkwkwk πŸ˜‚πŸ˜

~~~

Emang yah, kalo cewek itu ditanya jawabnya suka muter-muter. Masalah yang ada di depan mata dibikin ruwet seperti katanya Mas Anton. πŸ˜‚πŸ˜ Yang ditanya tentang usia, eh ceritanya malah berujung tentang kopdar blogger, hihihi.. πŸ˜‚

Jadi gimana, jawaban dari pertanyaannya Mas Anton ituh? 

Hmm...

Sepertinya saya memang sudah tua, maksudnya lebih tua dari Mba Eno, Mba Rey, Mba Nita dan Mba Pipit πŸ˜‚ 

Apalagi karena saya emang udah lama disebut "Orang Tua" oleh anak-anak. Udah jelas banget kan tua' nya. πŸ˜‚πŸ˜

Menjadi Karyawan & Bos Idaman

15:17 40
Menjadi Karyawan & Bos Idaman

Menjadi Karyawan & Bos Idaman

Bicara tentang menjadi Bos idaman, mari kita menilik Sebuah Drama Korea yang berjudul Pegasus Market. Kalo di toko-toko atau tempat usaha biasanya menggunakan slogan "Pelanggan adalah Raja." Maka beda lagi di Drama yang satu ini, karena yang menjadi rajanya itu justru adalah para karyawannya. Yang juga berarti Si "Karyawan adalah Raja." 

Alur cerita anti mainstream, kocak dan sukses membuat saya over ngakak di banyak scene tapi tetap terasa menohok bagi penonton. Karena dibalik keabsurdannya banyak makna dan sudut pandang baru tentang cara berpikir seorang pemimpin yang bisa dikatakan "jenius". 

Meski pada kenyataannya, kejeniusan ini akan tetap menjadi sebuah misteri hingga di akhir episod, kenapa? Karena bisa jadi, itu semua hanya berawal dari kebetulan semata akibat kesalahan strategi demi terbalasnya sebuah dendam. πŸ˜‚

Tapi apapun itu, Dia adalah seorang pemimpin yang tidak biasa dengan empatinya yang juga tidak biasa, karena orang yang sudah meninggal pun bisa direkrutnya menjadi seorang karyawan. Pemimpin yang bisa dikategorikan sebagai salah satu tipikal bos yang diimpikan bagi banyak karyawan meskipun dengan tingkahnya yang unik nan ajaib, Terutama bagi para pelamar yang tidak berpendidikan tinggi tapi ternyata memiliki bakat unik dan skill tersembunyi. πŸ˜‚

Makna tentang memberi dan menerima yang semestinya, antar atasan dan bawahan di drama ini sebenarnya bisa jadi adalah ungkapan hati semua karyawan di seluruh dunia. Yang tidak pernah tercetus dan tidak berani mereka ungkapkan secara terang-terangan dari mulut mereka sendiri, secara langsung di depan pimpinannya. 

You knowlah, apalagi kalo bosnya itu tipe-tipe close minded, banyak maunya dan medit pula (tidak ada empati-empatinya terhadap karyawan). Gimana mau diajak becanda, melakukan kesalahan sedikit saja bisa-bisa kitanya yang dibabat habis πŸ˜‚πŸ˜…. Layaknya tipe pimpinan yang menegaskan kepemilikan dan kekuasaannya di depan semua orang, maka Si Bos lah yang paling benar sekalipun kebenaran itu masih diragukan.πŸ˜‚ Kecuali emang dari awal kamu udah menyiapkan mental kalo suatu saat bakal dipecat atau malah gaji kamu yang dipotong dan berakhir menjadi bahan rumpian. πŸ˜‚

Namun terkadang, betah atau tidak betahnya kita di tempat bekerja atau sebuah instansi, sebenarnya tergantung motivasi ato faktor awal kenapa kita memutuskan untuk bekerja.

Sudah bukan menjadi hal baru, dimanapun kita berpijak pasti akan ada yang enak dan gak enaknya, apalagi jika itu menyangkut masalah pekerjaan. Ada yang bilang, bekerja dimanapun sama saja. Asalkan kita bisa pintar-pintar membawa diri dan mengutamakan profesionalitas. Kadang orang melihat kita bekerja di tempat yang kelihatannya bagus, tapi ternyata sebenarnya tidak, begitupun sebaliknya kita juga menganggap orang lain seperti itu. 

Ada yang nyantai bisa libur, tapi gajinya juga kecil. Ada yang jarang libur, pekerjaan numpuk, tapi yah sebanding juga dengan jumlah gajinya. Kalo pengen yang lebih enak lagi, ya gak usah kerja. Mending investasi saham, menyewakan kos-kosan ato membuka bisnis. Dengan menyewakan villa di Bali misalnya *eh gak yah, beda itu mah😜🀭. (langsung sungkem ke Mba Eno)πŸ™‡‍♀️😁

Atau cari orang kaya yang mau diajak nikah πŸ˜‚πŸ˜…. Asal gak jadi pelakor ato pebinor aja, yah. Seputus-putus asanya kamu, plis don't do that ya adek-adek. πŸ˜…

Untuk membuka usaha sendiri pun juga gak mudah, karena gak ada yang langsung sukses. Kita musti punya modal dulu. Dan salah satu modal selain pengalaman itu adalah duit. Dari mana datangnya duit kalo bukan hasil dari bekerja. (kecuali ortu kamu emang punya harta sampe tujuh turunan, yah gak masalah banget itu mah) πŸ˜‚ jadi kan enak gak perlu kerja seumur hidup. Itupun kalo Orangtua kamu gak menuntut kamu untuk bisa menjadi seorang anak yang mandiri.

Tidak adanya motivasi yang kuat atau tanggungan demi memenuhi tuntutan hidup, bisa menjadi salah satu faktor yang membuat kita jadi lebih mudah memutuskan untuk mengundurkan diri, dan pindah dari satu tempat ke tempat lainnya jika dirasa tidak cocok atau tidak layak. Apalagi ternyata banyak pilihan dengan pengalaman dan skill yang juga mendukung. Maka dengan mudahnya kita menolak dan mencari tempat lain untuk bekerja. Meskipun sebenarnya gak segampang itu juga, karena semakin hari persaingan akan menjadi semakin ketat. Koneksi dan relasi juga merupakan hal terpenting yang paling dibutuhkan untuk memuluskan jalan, agar kita lebih mudah memperoleh informasi pekerjaan yang diidamkan.

Mendapatkan posisi dan kedudukan yang bagus dalam pekerjaan itu rata-rata karena bersakit sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Jangan mentang-mentang udah lulus kuliah di fakultas ternama, dan mengira bisa langsung bekerja. (Yah kali, bapaknya orang penting atau punya koneksi kelas atas, mungkin bisalah). Kalo kagak punya? pastikan dulu skill yang ada emang sudah mumpuni dengan nilai diatas rata-rata, meskipun belum tentu juga nantinya bisa keterima. 

Karena kamu harus tau, gak cuma kamu yang kompetensinya bagus. Masih banyak diluar sana yang bahkan jauh lebih mumpuni tapi ternyata PENGANGGURAN karena gak punya relasi dan koneksi. Yang mau kerja apapun selagi mampu dan gak bikin makan hati. Begitu mereka mendapatkan sebuah pekerjaan, dipastikan mereka lebih bersemangat, tahan banting dan rela bekerja keras. Gak dikit-dikit ngomong capek, dikit-dikit ngomong tempatnya gak enak, dikit dikit pengen berhenti. Dikiranya nyari kerja sama kayak nyari recehan. Kapan bisa majunya kalo kayak gitu terus, bro, sis? 

Kok jadi bikin emosi, yah.  πŸ˜‚πŸ˜…

Entah apakah ini mental pemalas, mudah menyerah atau budaya tinggal terima enaknya saja? Atau malah sebenarnya karena merasa yakin bahwa dirinya pantas mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Meskipun pada kenyataannya, baru jadi anak kemaren sore, skill pun lebih banyak diasah dari youtube dibanding prakteknya, tapi sudah berharap punya kedudukan sama, seperti mereka yang sudah mahir dan berpengalaman. Yah kagak bisa, coy. 

Fiyuh! πŸ˜ͺ

Kitalah yang harus membuat diri kita nyaman karena kita yang butuh uang. Kalo kita menuntut sebuah kenyamanan dan gaji yang tinggi, maka berusahalah untuk menjadi seorang bos bukan hanya sebagai karyawan. Untuk banyak kasus, dengan menjadi pimpinan pun belum tentu masalahnya akan lebih ringan, karena jabatan atau pekerjaan apapun itu pasti memiliki tantangan dan masalahnya tersendiri yang bisa jadi lebih berat. Dimana kemampuan yang besar itu pasti diiringi dengan tanggung jawab yang juga sama besarnya. Hanya saja, level fasilitasnya yang membedakan. Biasanya.. πŸ˜‚πŸ˜…