uzegan: Fiksi
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Prompt #71: Aku Pulang

23:22 10
Prompt #71: Aku Pulang

"Psst... Turunkan kacamatamu Sin!"

Tangan Shinta beringsut, menarik kacamata yang bertengger di atas kepala sejak awal perjalanan. Khalid langsung memasang earphone dan mempercepat laju mobil. Melewati begitu saja para pejalan kaki yang juga tetangganya di kampung.

"Apa kamu sudah siap menerima segala resikonya, Sin?"

"Entahlah, aku tidak ingin keadaan begini terus, Lid. Aku ingin hidup sebagaimana diriku sekarang tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi lagi."

Khalid menghela nafas. "Apa kau tau? Dulu, saat Orangtuamu tau kau menolak untuk di jodohkan. Mereka menganggap akulah penyebab pemberontakanmu itu, bahwa aku membawa pengaruh buruk untukmu. Dan mereka memintaku untuk tidak mendekatimu lagi."

"Tidak, Lid, kamu satu-satunya orang terbaik yang pernah kukenal sejak kecil. Hanya karena beberapa orang kampung pernah melihatmu keluar masuk nightclub hotel, bukan berarti kamu melakukan hal-hal buruk."

"Aku juga tidak peduli dengan anggapan mereka, nanti juga mereka tau saat melihat demo memasakku di TV. Hanya saja, aku khawatir, Sin. Sudah bertahun-tahun kamu tidak pulang sejak kejadian itu. Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kepada Orangtuamu."

"Tidak apa-apa, biar aku sendiri yang menghadapi mereka nanti. Lambat laun mereka juga pasti akan menerima pilihanku."

Khalid memelankan laju mobilnya.

"Kamu pulang dulu saja, Lid, istrimu pasti sudah menunggu di rumah."

Deru mobil berhenti tepat di depan pagar. Orangtua Shinta langsung menghambur ke halaman depan rumah. Mereka terdiam. Semakin larut dalam kebekuan yang tersirat dari wajah-wajah lelah para perindu.

Namun, pelukan sang Bunda mampu mencairkan segalanya. "Husin... kenapa kamu jadi begini nak..."

"Bu, Aku rindu..."


Note : 250 Kata

Kau & Aku

01:29 2
Kau & Aku
Setelah membaca buku antologi bertemakan sex & relationships, yang berjudul Heart Ring "Ketika Hati Saling Memiliki" (ada satu tulisan saya yang nyelip disitu tapi bukan tentang LDR). Saya pun jadi kepikiran buat ngintip lagi tulisan lama tentang LDR, yang sempat terlupakan di beberapa folder jadul.

Dan setelah bongkar-bongkar, akhirnya nemulah tulisan nan geje ala abegeh ヾ(-_-;) dibawah ini... Yang tentu saja, beberapa kalimatnya udah saya obrak-abrik (saking banyaknya kata-kata yang kelewat overdosis) hihihi...

"You complete Me" 
-Secret garden|Bruce Springsteen- 

***

Mungkin aku tidak akan merasa dekat denganmu jika tak kutuliskan kata-kata itu. Masa dimana jiwa kita pernah tertambat di asa yang sama, bersama mencoba berlari meninggalkan luka lama. Lalu berlanjut dalam diskusi-diskusi basi. Membiarkan diri tersesat dalam belantara emosi. Tapi sayangnya, masih saja pasi mengarungi hasrat diri yang hampir mati. 

Seakan terinjak-terinjak sang durjana pelantun cinta, bak sebuah elegi. Terhenyak dan perih. Begitu dahsyatnya cinta itu menghampiri, namun tak lebih dahsyat saat mengebiri. Menghempaskan palung hati, tega membuat diri seolah mati menjadi memedi. 

Kau hisap berpuluh-puluh puntung rokok, katamu malam ini kau ingin nyampah. Mengorek-ngorek dan mengendus sisa sisa kerak cinta yang masih menempel di hatimu. Sisa luka yang berubah menjadi bom waktu yang akan memuntahkan lahar keluh berbau anyir, kepada orang-orang yang sama sekali tak pernah mengerti, bahwa sampahmu adalah onggokan-onggokan manusia bisu yang pernah menjadi bagian dari dirimu, dulu.

Kutatap nanar tulisanmu di layar handphone. Tak banyak yang bisa kujawab. “Menangislah jika kau ingin menangis, tapi cukuplah malam ini.” 

Tak sepadan jika setiap kata yang kuucapkan, malah berbalik menggerus jiwaku yang terlampau lelah meratapi duka cinta di masa lalu. Ah, mungkinkah setiap ucapanku bisa meringankan dan memberikan pelajaran bagimu, sementara aku sendiri tak bisa memegang semua kata-kataku.

Disana kau bisa mengasingkan diri. Tapi disini, aku sama sekali tak punya waktu untuk tenggelam dalam dilema patah hati. The show must go on, meski harus kujalani semua dengan tertatih. Hidupku berbeda denganmu tanpa melirik esensi. Walau kau dan aku akhirnya menyadari, kita ternyata satu hati meski hanya terungkap dalam hati.

Kau tidak bodoh, aku tau. Akupun tidak. Tapi entah kenapa, malam-malam ini dan mungkin beberapa malam selanjutnya kita akan masih sama, terus berkubang dalam air mata yang bahkan tak tau sampai kemana akan bermuara. Dimana candu ngobrol tengah malam dan bincang sebelum subuh adalah hal wajib, yang tanpa kita sadari bahwa hal itu tiba-tiba menjadi semacam kebiasaan tersirat. Hingga membuat luka itu terasa semakin masygul jika tak dihadapi bersama.

Meski aku tak pernah menangkap jelas apa inginmu yang sebenarnya. Tapi daya tarik menarik yang kita miliki menjelaskan segalanya. Terus dan masih berusaha menepis, bahwa kita ternyata berjarak ribuan mil jauhnya.



2006

[BeraniCerita # 21] Eep & Entin

19:59 29
[BeraniCerita # 21] Eep & Entin

"Entin! Kenapa diem aja sih?!"

Entin tersentak dari lamunan. "Eh, ya kenapa, Ep?"

"Pegangin goloknya bentar."

"Buat apaan sih, Ep?"

"Udah, ntar lu tau sendiri."

Kepala Eep clingak clinguk. Mengintip dengan teropongnya dari kejauhan dan memastikan penjaga kebun sedang tertidur.

"Aman!"

Eep menarik jantung Pisang dan menggapai-gapai pangkal tandan yang menjulur diatas kepalanya.

"Ntin! Bantuin gue dong, cepetan!"

"Nggak ah! Makan Pisang sesisir aja gue enek Ep, apalagi musti makan ampe setandan gitu."

"Siapa bilang ini buat lu, Entiiin...! Ini  buat Emak gue yang lagi ngidam."

"Lah, keterlaluan Emak lu, Ep. Pagi-pagi buta gini nyuruh anaknya nyolong Pisang."

"Nggak mungkinlah Emak gue kayak gitu, Ntin."

"Trus, kenapa lu musti pake nyolong? Di tangkep Hansip, baru tau rasa lu, Ep."

"Lu nggak usah khawatir, kalo ketauan gue bakal tanggung jawab." Eep menghentikan kegiatannya dan menatap Entin. "Lu setia kawan kan?"

"Iya, iyaaaa ..."

"Ya udah, cepetan bantuin!"

***

"Mak, Pisangnya udah dapet."

"Loh, duitnya kan belom Emak kasih, Ep?"

"Setandannya 75 ribu perak, Mak. Tadi pinjem duitnya Entin dulu, buat bayar nih Pisang."

Emak Eep mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dalam ponjen yang terselip di bawah bantal. "Nih, Emak tambahin 25 ribu perak. Buat ganti ongkos."

"Makasih ya Mak, Pisangnya udah Eep gantung di dapur."

Eep langsung berlari menuju halaman belakang. Bergegas menemui Entin yang sedari tadi ngaso di pinggir empang, di sebelah kandang Bebek.

"Nih, buat lu Ntin. Buat beli baju sekolah."

"Tapi Ep ..." Entin menghela nafas lalu terdiam.

"Udah Ntin, terima aja."

"Kalo Babe nanya darimana gue dapet duit buat beli baju itu, gimana? Gue takut Ep, Babe gue galak."

"Bilang aja dari sekolah, udah sepaket sama uang pendaftaran. Jadi lu nggak perlu lagi make baju bekas Mpok lu yang udah kuning dan tipis itu. Kalo Emak gue pengen kolak pisang lagi, ntar lu kan bisa beli rok baru yang lebih gedean dikit. "

"Beneran nih Ep?"

"Mumpung Emak gue lagi ngidam, Ntin. Gue tau sebenernya cara kita salah. Tapi gimana lagi ngadepin Babe lu itu. Punya kebon Pisang tapi pelitnya minta ampun. Masak anaknya mo masuk SMA, cuma dikasih uang pendaftaran aja, nggak mau ngasih duit buat beli baju seragam. Mentang-mentang udah sukses, jadi Juragan Pisang tanpa sekolah."

Aku, Mas Galuh & Mobilnya

20:10 2
Aku, Mas Galuh & Mobilnya
Mas!"

Seorang Pelayan mengangguk dan tergopoh-gopoh mendekati kami. "145 ribu..."


Diletakkannya nampan kecil berisi nota pembayaran dihadapan Mas Galuh, laki-laki yang beberapa bulan ini hanya kukenal lewat jejaring sosial.



Pelayan itu menoleh ke arahku dan menatap agak lama. Dia tersenyum, dan kubalas dengan senyum kikuk.



Mas Galuh mengeluarkan uang dan kulihat SIM A dan SIM C terselip di bagian tengah dompetnya. Hmm.. mungkinkah Dia punya mobil? 


Mas Galuh mempersilahkanku untuk menunggu diluar. Selama menunggu, kulihat Dia berbicara dan bersalaman dengan Pelayan tadi. 

Akhirnya Mas Galuh mendekatiku. "Kuantar pulang yah?"

Tanpa menunggu jawabanku, Dia membuka pintu dan mempersilahkanku naik ke Mobil Xenia Hitam yang sedari tadi terparkir di depanku. 

Aku tersenyum. Enggan untuk berkata tidak.

Seminggu berlalu. Mas Galuh memintaku menjadi kekasihnya. Aku ragu. Tapi akhirnya ku iyakan. Kapan lagi bisa dapet cowok yang bawaannya mobil. 


***



Besoknya. 



Aku berdiri di gerbang sekolah menunggu jemputan. Kulihat Mas Galuh dari kejauhan. Tidak seperti biasa, hari ini Dia datang lebih cepat.


"Tumben datengnya cepet, Mas?"


"Iya.. Ni hadiah buat kamu." Mas Galuh memakaikan helm cantik berwarna pink di kepalaku. "Hari ini aku mengundurkan diri dan balik kerja di tempat yang lama Rah."


"Kok nggak ngomong sih, kalo Mas Galuh kuliah sambil kerja?"

Mas Galuh hanya tersenyum.

"Emang di tempat yang lama kerjanya apa Mas?"

"Kasir Restoran."


"Kasir?" Dahiku mengernyit.


"Daripada ditempat yang sekarang Rah. Kerjanya sih lumayan enak, pagi nganter majikan ke kantor trus nongkrong disana sampe jam makan siang. Trus nganter lagi. Abis itu nongkrong lagi, trus sorenya baru nganter pulang. Nyantai kan? Justru yang ribet itu malah istrinya Rah, nggak peduli udah lewat jam kerja, sering banget tiba-tiba minta anter ke mall atau arisan. Kalo sudah gitu, waktu buat kita berdua kan jadi terganggu." 

Haaaaah...




Note : 282 Kata



Cerita FF ini diikutsertakan dalam Kinzihana's GA

Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

15:40 0
Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela
“Nggak mau! Ini punya Rara!”
Adit menarik sendok dan nasi bungkus yang ada di pelukan Rara.
“Adiiiiiiit, kembaliin!”
“Ini punyaku! Wek!” Adit menjunjung tinggi bungkusan itu, tapi tiba-tiba Rara menyundul punggungnya dari belakang, hingga mereka berdua terjatuh dan bergulat di lantai.
Marni panik dan tergopoh-gopoh keluar dari dapur, lalu segera melerai kedua anaknya yang lincahnya naujubillah. Dia mengambil paksa nasi bungkus yang ada di tangan Adit dan meletakannya di tangan Rara.
“Kalian ini apa-apaan sih! Kan udah punya satu-satu, kenapa masih rebutan?!”
“Tapi Adit kan masih laper Bu..”
Secepat kilat Adit merampas nasi bungkus yang dipegang Rara, hingga terjadilah adegan tarik menarik, tapi akhirnya “Brak!” bungkusnya robek dan karetnya putus. Semua isinya berhamburan keluar.
Marni, mengelus dada. “Heran nih anak dua! Badan udah kayak Gajah Way Kambas, tapi kelakuan kayak orang yang nggak makan tiga hari. Kalian liat tuh si Hana. Nggak banyak tingkah, pendiam, penurut lagi. Kalo kelakuan kalian kayak gini terus, Ibu nggak mau ngasih makan kalian lagi! Emangnya nyari uang itu gampang?”
“Yah, jangan Buuu…” Rara dan Adit mengumpulkan remahan nasi yang berserakan serta 2 potong paha ayam yang terpental sampai ke kolong meja.
“Nih, kalian makan punya Ibu aja. Nasi yang itu buang aja, udah kotor gitu ntar kalian malah sakit perut lagi.”
Hana diam saja, dia memilih untuk melihat ke luar jendela. Matanya menatap halaman luas yang membentang di depan matanya. Anak-anak tertawa riang bermain di taman. Ada yang sedang berlarian dan ada yang sedang makan bersama. Hana tertunduk.
Marni ke dapur lalu kembali dengan sepiring gorengan. “Hana, yok sini makan dulu. Ni ada Pisang Molen kesukaanmu.”
“Iya Bu.” Hana mencubit Pisang Molen yang diletakkan Marni dalam sebuah piring plastik. Kemudian dimakannya sampai habis. Sesekali diteguknya air putih yang tergeletak di sudut jendela.
Setelah kenyang. Hana kemudian duduk bersandar di sisi jendela, beristirahat dan berusaha memejamkan mata.
“Hana. Sebelum kamu tidur, jangan lupa cuci piring dan beres-beres ya.” Seru Marni.
“Iya, Bu.”
“Oh ya, kamu kan udah makan Pisang Molen. Jadi jatah nasi bungkusmu buat Ibu yah?”
Hana mengangguk.
“Besok-besok, kamu harus bisa dapetin uang kayak gini lagi pokoknya, yah? Kalo udah terkumpul, Ibu bisa beliin kamu baju lebaran. Kamu mau kan?”
Hana mengangguk lagi. “Boleh nggak besok Hana makan nasi bungkus kayak yang tadi sama beli sandal baru, Bu? Tadi siang, pas Hana dikejar-kejar petugas Kamtib, sandal Hana nyangkut di got dan hanyut di selokan. Trus Hana nangis di bawah jembatan tempat biasa Hana duduk, eh ternyata malah tambah banyak yang ngasih duit, Bu.”
“Bagus, pinter kamu Na! Marni tertawa senang. “Kalo kamu bisa dapet dua kali lipat dari jumlah hari ini, nanti nasi dan sandalnya Ibu pertimbangkanlah pokoknya. Yang jelas, besok kamu praktekin lagi nangis kayak tadi siang yah! Kalo kamu nggak bawa uang, Ibu nggak jamin kamu besok-besok bisa numpang disini lagi. Inget itu ya!

Bhirawa & Ghinara

18:25 0
Bhirawa & Ghinara
"Teruntuk Kapten Bhirawa,

Jalan panjang yang kita lalui, bagiku tak sekedar persahabatan tapi entah bagimu... Aku sadar bagaimana rasanya mengenal soulmate seperti kata orang-orang, kemana-mana selalu bersama sebagaimana halnya kita berdua. Ketika kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi kita dalam mencari ilmu atau saat kita menjadikan tawa dan keceriaan itu harus ada dalam hari-hari yang kita jalani, kita seolah tak terpisahkan untuk saling bahu membahu. Statusku sebagai sobat kentalmu memang lebih kentara dibandingkan dengan jabatanku sebagai wakilmu di dalam kelas. Aku kenal sekali prinsipmu, kau akan marah jika aku mentraktirmu. Maka aku akan berpura-pura tak punya uang, agar kau tak mengacuhkanku. Ketika pulang kuliah aku akan ikut berjalan kaki beberapa kilometer, melewati guyuran hujan dan sengatan mentari hanya untuk berbincang denganmu. Mungkin aku bodoh, atau sebenarnya aku dibodohi oleh rasa yang pelan-pelan menyelinap dan menghangatkan hatiku yang dingin. Aku tak ingin rasa ini terus membuncah, tapi aku tak tau kenapa rasa ini semakin tak terkendali saat kubaca surat yang dikirim dari Ibumu, yang memintamu untuk tinggal seterusnya di kota kelahirannya, Surabaya. Atau ketika berhari-hari kau membuatku kebingungan, karena tak tergurat lagi keceriaan dari wajahmu dan kata-kata penuh semangat yang biasanya keluar dari mulutmu.

Bathinku terus bergolak di bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatanmu. Ketika aku menunggumu pulang dari gereja setiap hari minggu, atau ketika kau selalu menungguku di luar Musholla setelah pulang kuliah. Tak tau bagaimana lagi aku harus merasa, ketika diam-diam kudapati sketsa-sketsa wajahku tergores di beberapa halaman buku Grammarmu. Atau sketsa-sketsa wajahmu yang sempat kau gores di buku catatanku. Aku hanya bisa diam. Tak sekalipun kuucapkan terima kasih ketika berkali-kali kau membantuku, walau kau rela kehujanan dan basah kuyup, hanya untuk menemaniku menyelesaikan pekerjaan ditempatku mencari sesuap nasi atau menjemputku dengan sepeda butut almarhum Ayahmu. Aku tau kau marah karena seringkali merasa tak dihargai. Tapi aku tak punya cara lain. Aku tak tau lagi bagaimana caranya menghilangkan semua rintangan, yang telah membuat hatiku remuk karena tak bisa menghadapi kenyataan bahwa kita tak selamanya bisa bersama dan untuk menjadi lebih dari sekedar sahabat. Kau tau, tak mudah bagiku untuk menjalaninya..
Ghinara"


Lagi-lagi Bhirawa terpaku. Disesapnya kopi yang hampir bercampur ampas di atas meja kerja. Lalu dihisapnya dalam-dalam rokok yang tinggal separuh. Sekelebat ingatannya kembali ke masa lalu. Bhirawa tersenyum getir. Batu nisan Ghinara telah mengoyak-ngoyak tabir kerinduan yang telah bertahun-tahun ia benamkan di sudut hatinya sejak keberangkatannya kala itu. Baginya, kertas yang ada ditangannya itu adalah surat cinta yang mampu menepis rindunya pada Ghinara dan sebagai peredam luka yang tak terobati saat meninggalkannya. Tapi Bhirawa harus memilih, kematian Ayahnya telah membuat Ibunya jatuh sakit dan Bhirawa tak sampai hati untuk mengabaikannya. 

Dipandanginya foto pernikahan anak lelaki semata wayangnya, Abimanyu. Kebahagiaan terpancar dari wajah dua insan yang telah dipertemukan nun jauh di Timor Leste. Bhirawa menatap wajah itu lekat-lekat. Dia tersenyum "Anakmu ternyata sama cantiknya denganmu Ra.."

 Senandung Cinta


Note : Di kampus saya dulu, kami menggunakan sebutan Kapten sebelum nama kepada setiap ketua kelas, terutama di Jurusan yang saya ambil. ^_^

Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman

03:21 2
Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman
Bangunan tinggi menjulang di langit hitam. Spiderman merayap. Menebar jaring dari satu titik gedung ke gedung lainnya. Bergelantungan lalu melambung semakin tinggi dan berakhir di puncak menara. Sendiri, menjauh dari hiruk pikuk dunia.

"Cletek!" Gambar TV berubah gelap. "Tidur sana! Kecil-kecil suka begadang, mau jadi apa kamu!"

"Inghya Fha'k..." Pandi masih berusaha menjawab perintah bapaknya, meski dia kesulitan bicara karena ada kelainan pada bibir atasnya.

"Ngapain aja kamu di rumah Bu!" Bapak Pandi mulai berteriak.

"Prangg!!!"

Ibu Pandi tergopoh-gopoh dari dapur, dan melihat kaca TV sudah berhamburan.

"Masya Allah! TV itu dibeli pake duit Pak! Bukan pake daun."

"Anak cuma satu, tapi ngurusnya nggak becus!"

"Loh, Bapak itu yang seharusnya ngaca! Kerjanya keluyuran aja. Bukannya nyari duit, malah mabok-mabokan. Selama ini, kita makan dari mana kalo aku nggak bikin kue?!"

Hujan lebat dan suara halilintar terus bersahutan dengan suara Orangtuanya yang saling memaki. Untuk kesekian kali Pandi mencoba menutup telinga dengan tangan, bantal atau apapun yang bisa membuatnya tidak mendengar suara-suara itu. Tapi percuma.

Hingga akhirnya Pandi tak tahan lagi. Dia membuka lemari. Dikenakannya baju kesayangannya, lalu berjinjit lewat pintu belakang. Pandi berlari sejauh mungkin. Meski tubuh kecilnya hampir tak mampu lagi menahan dingin tapi kakinya terus melangkah, pasti.. 
***

Sekilas Info.

"Seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia 7 tahun, ditemukan tewas pagi ini. Tanda-tanda fisik yang masih bisa dikenali adalah bibir sumbing. Banyak bekas luka dan memar akibat pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya, belum diketahui penyebabnya. Dilihat dari sisa pakaian yang tidak hangus, diketahui korban memakai baju dan celana berwarna merah dan biru bergambar jaring laba-laba. Diduga korban tewas akibat terjatuh dari puncak menara karena tersambar petir."



QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 :  Sekilas Sekitarmu (Televisi)




Note :
# Inghya Fha'k.. : Iya Pak..
#

Prompt # 15 : In The End

04:04 22
Prompt # 15 : In The End
“Kenapa tas ini bisa disini?”

Ginarah menarik tas kerja Galuh yang terselip di belakang lemari gudang. Dibukanya tas itu kemudian satu persatu dia keluarkan isinya. Tiba-tiba tangan Ginarah menyentuh sebongkah kertas yang sudah remuk teremat.

“Apa ini?”

Kertas itu dibukanya, lalu dirapikan dan diarahkannya di bawah cahaya yang menerobos masuk dari jendela.

Ginarah bergegas ke kamar dan menyodorkan kertas yang baru saja dibacanya. “Benarkah semua ini Mas?!”

Galuh terhenyak dengan kepala tertunduk. Dia tak kuasa menatap mata istrinya. “Iya Rah.. Kata dokter, waktuku tinggal beberapa bulan lagi.."

"Darimana kamu dapatkan penyakit kotor itu Mas?!"

Galuh terdiam.

"Maafkan aku Rah.." Suara Galuh bergetar. "Beberapa tahun lalu, aku pernah berhubungan dengan wanita lain.."

"Segampang itu kamu bilang maaf!"

"Aku khilaf Rah.."

Dengan linangan air mata, Ginarah mengguncang-guncang tubuh Galuh yang sudah sangat lemah. “Sejak kapan?! Sejak kapan kamu mengetahui penyakit ini?!”

“Aku baru tau sebulan yang lalu sejak penyakitku semakin parah..”

Ginarah terduduk lemas. “Kamu telah menghancurkanku dan masa depan kita.."

“Ampuni aku Rah..”

"Percuma meminta ampun padaku Mas.."

Galuh menegakkan punggungnya dan pelan-pelan menurunkan kakinya dari ranjang, tubuhnya langsung terhenyak ke lantai dan bersimpuh dihadapan Ginarah. “Jangan pergi Rah, aku mohon dengan sangat! Jangan pergi!” Tangis Galuh pecah.

Ginarah menangis tergugu sambil mengusap perutnya yang telah berusia sembilan bulan.

“Entahlah..”

***

Kerinduan Ginarah semakin membuncah saat memandang foto terakhir suaminya. Meski dia sudah merawat Galuh dengan kemampuan terbaiknya, tapi dia sadar cepat atau lambat virus itu akan mengambil nyawa suaminya.

Di dalam rumah kontrakannya, Ginarah mencoba bertahan menghadapi penyakit yang telah ditularkan suaminya, sendirian. Tubuhnya semakin kurus dengan demam yang tak kunjung reda, dan entah berapa kali Ginarah harus bolak balik ke kamar mandi.

“Ini Ibu nak, Ibu disini.. Kamu lapar nak?” Ginarah mendekap bayi berusia 6 bulan yang sedari tadi menangis karena tak kunjung mendapatkan pelukan hangat dari ibunya.

Disuapkannya bersendok-sendok cairan bening itu ke mulut anaknya. Hingga bayinya pelan-pelan berhenti menangis dan matanya mulai terpejam.

Dipandanginya dengan lembut hasil buah cintanya dengan Galuh. Airmatanya mengalir deras.

Sedetik kemudian, ditenggaknya sisa cairan bening yang berasal dari kaleng bergambar serangga itu sampai habis.


A tribute to Freddie Mercury

Prompt # 13 : Sorak Sorai Gembira Tetangga Sebelah

06:27 16
Prompt # 13 : Sorak Sorai Gembira Tetangga Sebelah
Kios minyak tanah bapak akhirnya digusur dan membuatnya mendadak jadi pengangguran. Bapak tidak sekolah, tapi dia pandai mencari uang. Dia keluarkan uang simpanannya dan membuka warung di depan rumah.

Dikerahkannya semua tenaga dan kemampuan, agar 8 orang anaknya bisa makan dan sekolah. Warungnya berkembang pesat, karena bapak mengutamakan servis dan keramahan. Walaupun mematok untung dibawah harga pasaran, tapi yang terpenting banyak pelanggan berdatangan. Hingga akhirnya, warung-warung lain pun menjamur di sekitarnya, tidak terkecuali tetangga sebelah.

Usaha warung bapak tak pernah goyah, tak pernah tersaingi. Tetangga sebelah menuding, bapak main dukun dan memelihara tuyul. Bapak tak pernah peduli. Semua ditepisnya.

Walau pada akhirnya, warung bapak terlibas juga dengan dampak krisis moneter. Harga sembako melonjak. Tak ada barang yang bapak tawarkan. Tak ada barang yang bapak jual. Isi warung kosong melompong.

Tetangga sebelah bersorak gembira. "Syukurin. Baru tau rasa lu. Makanya jadi orang jangan syirik sama Tuhan."

Muka bapak merah padam. Aku terperangah, kulihat bapak bergegas mengambil linggis di belakang pintu warung.

"Mau ngapain pak?!"

Bapak hanya diam, lalu masuk ke dalam rumah. Ditancapkannya linggis itu dilantai kamar. Pecahan-pecahan semen berhamburan. Disingkirkannya serpihan bekas menggali. Lalu dicabutnya 2 kotak besi berkarat simpanannya.

Ditatapnya benda-benda berkilau yang merupakan warisan dari Orangtuanya.

"Akhirnya kenang-kenangan dari kalian harus kupinjam lagi."

Diambilnya 50 batang emas dari salah satu besi berkarat itu.

"Bapak pergi dulu, jaga rumah baik-baik?!"

"Bapak mau kemana?"

"Bapak mau jual ini buat modal usaha."

***

Seminggu kemudian Bapak membeli 2 mobil truk untuk membuka usaha baru. Bapak akhirnya menyerah untuk melanjutkan usaha warungnya. Tapi entah mengapa, tak terdengar lagi sorak sorai gembira tetangga sebelah.

Quiz Monday FlashFiction Prompt # 3: Dinda Si Pelukis Senja

20:15 42
Quiz Monday FlashFiction Prompt # 3: Dinda Si Pelukis Senja
Aku duduk di bibir trotoar. Sayup-sayup terdengar lagu favoritku. Aku tersenyum, suara itu telah menyihirku menjadi fans berat Satria sejak enam bulan lalu. Kepiawaiannya menyanyi tak kalah hebat dari artis-artis Jakarta. Meski Satria penyanyi cafe, tapi dia masih setia bersama teman-teman lamanya.

Dia tersenyum padaku. Tangannya mengacungkan bekas gelas air mineral, yang sudah terisi beberapa lembar uang ribuan.

Kubalas senyumnya. "Oke! Diem disitu ya?!"

Kuambil kertas gambarku, kugores sketsa dirinya dalam siluet senja dibawah lampu merah. Dan suara gitarnya perlahan mengalun, mengiringi jemariku mengukir potret kisah dirinya.

Hari-hari selanjutnya, tak kulihat lagi Satria disana. Dia pernah berkata akan pergi untuk beberapa waktu. Tapi entah kenapa, aku mulai merindunya.

Hingga suatu hari, kulihat wajahnya terpampang di selebaran. Seminggu sekali kudatangi apotek di dekat trotoar. Tak pernah kulewatkan sekalipun tanpa menonton Satria. Juga mendukungnya lewat berpuluh-puluh sms.

Mungkin sekardus nomor yang kubeli, telah menambah perolehan voting Satria. Tapi aku yakin, kemenangannya menjadi juara pertama dalam final ajang pencarian bakat malam ini, adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

"Lagu Kupu-Kupu Malam ini, adalah lagu kesukaan Dinda Si Pelukis Senja. Satria sejenak terdiam. "Apa kabarmu sekarang?"

Aku trenyuh, terpaku di depan layar kaca.

"Kabarku tetap sama, dengan Pekerjaan yang masih sama dengan lagu yang kau nyanyikan.."


Yuk, ikutan QUIZ MONDAY FLASHFICTION #3 - On The Street

Prompt # 12 : Berawal dari Konde

22:43 6
Prompt # 12 : Berawal dari Konde
Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?


Keningku mengernyit, ketika menyadari konde itu ternyata berada diantara kumpulan barang-barang Mas Pram. Dengan perasaan geli, kumasukkan konde itu ke tempatnya semula.

"Ngapain sih, nyimpen-nyimpen konde segala? Kayak kurang kerjaan aja."

"Oh, itu. Itu kenang-kenangan dari Ibu, Kin."

"Kenapa harus konde sih? Apa udah gak ada lagi yang lain, yang bisa dijadiin kenang-kenangan?" Gerutuku.

"Soalnya, Ibu dulu pernah jadi tukang rias pengantin Kin. Jadi perlengkapannya yang paling berharga, masih Mas simpen sampai sekarang."

Kumasukkan barang yang masih berguna ke dalam kardus, lalu dipak bersama barang-barang lain. Minggu depan Mas Pram akan meninggalkan rumah almarhumah ibunya dan tinggal bersamaku. Membangun mahligai baru dalam sebuah pernikahan. Meski kami dijodohkan, tapi akhirnya kami setuju untuk membina keluarga.

Kubersihkan debu-debu yang menempel di rak paling atas. Lalu, brak! Sebuah album foto tua hampir terjatuh, dan foto-foto didalamnya meluncur begitu saja ke lantai. Kurapikan kembali lembaran-lembarannya. Kulihat foto seorang gadis muda berkebaya dan memakai konde, manis sekali.

"Siapa sih ini mas?"

"Ah, eh, itu... Tanteku Kin."

"Yang bener... Tante ato Mantan?"

"Loh, kok nanya nya gitu Kin?"

"Iyalah, kan udah jelas-jelas foto ini keliatan gak lama-lama amat, setidaknya kan Kinar masih bisa ngebedain mana foto yang tahun 70-an dan mana yang tahun 90-an."

"Iyah deh, mas ngaku. Itu foto mas waktu SMA."

"Hah!" Kutatap foto itu lekat-lekat. "Astaga, Iya yah. Pantesan kayak pernah liat."

"Dulu, sewaktu ibu masih hidup, beliau pengen banget punya anak perempuan. Tapi, setelah Mas tau hidup Ibu gak bakal lama lagi, jadi Mas bikin aja foto kayak gitu. Yah, sekedar untuk menghibur dan menyenangkan hatinya."

Aku mengangguk paham. Kupandangi foto itu lagi. "Mas cocok banget pake konde itu, cantik."

Mas Pram tersenyum. "Barang-barangnya Mas angkut ke mobil yah."

***

Tit tut. Handphone Mas Pram tertinggal. Kulihat tulisan new multimedia message muncul di layar handphonenya.

Di tunggu di tempat biasa yah, mmuah!

foto ini bikin aku kangen terus..

Nafasku naik turun, amarahku hampir memuncak. Tanganku meremat dan melempar handphone berisi foto mas Pram yang sedang berasyik masygul dengan seorang laki-laki di depan cermin tanpa sehelai benang pun.

"Ternyata laki-laki itu emang nggak ada yang setia. Semuanya pembohong!"

Airmataku tumpah. Menyesal, telah meninggalkan Shinta demi Mas Pram.


Prompt # 10 : Shioban dan Kereta Kuda

09:04 30
Prompt # 10 : Shioban dan Kereta Kuda

Sebuah kereta kuda bercahaya, terpendar merah turun dari langit malam lalu mendarat pelan di depan sebuah istal. Tiba-tiba, cahayanya berubah putih hingga menerangi separuh hutan Fujimori. Shioban yang sedang melangkah gontai setelah berhari-hari tak menemukan obat yang dicarinya, terkesiap.

"Itu dia!"

Shioban berlari secepat mungkin ke arah kereta kudanya yang sempat hilang secara misterius beberapa hari yang lalu.

Cahaya itu tiba-tiba lenyap. "Dimana kereta kuda itu?!" Shioban kehabisan tenaga dan putus asa. Lalu dia terjatuh karena kelelahan.

***

Shioban bangkit. Dia teringat pesan dari nenek peramal di desanya, untuk segera mendapatkan Daun Mori yang ada di Kerajaan Fujimori, agar bisa menyembuhkan anaknya yang hampir sekarat.

Samar-samar dia mendengar suara ringkikan kuda. "Tempat apa ini?" Cahaya putih menyilaukan mata Shioban.

"Kamu berada di Istal Kerajaan Fujimori!"

Shioban kaget melihat sosok serupa Jin berwarna hitam yang ukurannya hampir setinggi atap.

"Ka.. kamu siapa?!"

"Aku adalah Jin Penjaga tempat ini! Apa yang kamu lakukan disini?!"

Pelan-pelan Shioban mundur ke belakang, mencari kesempatan untuk lari ketika Jin Penjaga itu lengah. Tapi, tiba-tiba punggungnya menabrak sebuah benda yang terbuat dari kayu. Ketika menoleh ke belakang, Shioban terbelalak.

"Aku ingin mengambil kembali benda ini!"

"Kereta kuda hanya untuk para ratu dan penyihir."

"Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika aku menginginkannya?" kata Shioban sambil mendelik ke arah jin penjaga.

"Maaf! Walaupun kamu yang membuatnya, kamu tidak bisa memilikinya!"

"Darimana kamu tau kalau aku yang membuatnya?!

"Aku dulu adalah Jin Penunggu dari Pohon Mori yang kamu pahat hingga menjadi kereta kuda ini! Pohon itu adalah Pohon Keabadian milik salah satu Penyihir di negeri ini. Siapapun manusia yang menebarkan bibitnya akan ikut abadi, tapi jika pohon itu ditebang tanpa menggantinya dengan bibit yang baru, maka manusia yang melakukannya juga pelan-pelan akan mati!"

Jin Penjaga itu tertawa sinis. "Karena anakmu sudah menebangnya, maka dia harus menerima akibatnya!"

Shioban bersimpuh. "Aku mohon ampuni anakku. Dia sama sekali tidak tau apa-apa!"

"Baik! Aku punya satu cara yang bisa menyelamatkan anakmu!"

"Asalkan anakku bisa sembuh kembali, apapun akan kulakukan."

Jin Penjaga itu menunjuk kereta kuda Shioban. Tiba-tiba, duri-duri dan dedaunan kecil merambat di sekelilingnya.

"Daun Mori yang ada diantara duri beracun itu akan menjadi obatnya. Tapi, daun itu akan berkhasiat hanya jika kamu bisa memetik tanpa menyentuh durinya dan menerima persyaratan dariku!"

"Baiklah."

"Ambilah daun itu, rebus dan minumkan airnya pada anakmu, dia akan kembali seperti sedia kala.

Shioban bahagia mengetahui anaknya akan sembuh, ternyata semua yang dilakukannya tidak sia-sia.

***

"Demi bumi ini, tanamlah kembali apa yang sudah kamu ambil Nak.. Semoga kamu bahagia dan sehat selalu..."

Ichiban tak kuasa menahan tangis, setelah membaca surat terakhir ayahnya.

Berani Cerita # 07 : Si Pendiam yang Aneh

17:40 17
Berani Cerita # 07 : Si Pendiam yang Aneh
"Will you Marry Me?" Pintanya.

Kupandangi wajahnya lekat-lekat. Sudut mata tajam dan hidung runcing menghiasi wajahnya yang putih. Ketampananannya tak membias, di usianya yang menginjak paruh baya.

Akhirnya kuterima lamarannya. Walau dengan berat hati, tapi aku yakin dia akan memberi apa pun yang kuminta.

Hari-hari kujalani bersamanya. Jangankan menjamahku, bicaranya pun hanya sedikit dengan kata-kata yang kadang tak kumengerti. Ketika kuhidangkan makanan, dia mencoleknya lalu menggeleng dan berkata "Sorry." kemudian membungkuk dan pergi begitu saja. Tapi, dia selalu memperhatikan semua kebutuhan dan merawatku ketika sakit, hingga cinta itu pelan-pelan menghampiriku dan ikut mencairkan gelora nafsunya yang beku.

Lalu si kecil hadir, dia masih jarang bicara dan tetap dingin. Tak pernah sekalipun dia bermain atau mengajak anaknya berjalan-jalan, waktunya di rumah selalu dihabiskan di ruang kerja. Dia hanya tersenyum ketika berpas-pasan dengan si kecil, itu saja. Tak ada niat untuk memeluk dan menggendong atau sekedar menciumnya.

***

Masa kerja suamiku berakhir, pernikahan kami yang sudah berusia tiga tahun ikut berakhir. Meski aku memohon, dia tetap memilih untuk pulang ke kampung halamannya.

"Terima kasih banyak atas bantuan dan pengertiannya selama ini, Dina san." Suaranya terbata lalu membungkuk agak lama, "Gomen na..." Hanya itu ucapan terakhirnya.

Aku nelangsa.

Cintaku dikalahkan oleh selembar Perjanjian Nikah Kontrak dan anakku kehilangan Ayahnya.

Note :

# Dina san : Nona Dina.

# Gomen na :  Maaf.

Prompt #9: Parfum Mahal

14:09 31
Prompt #9: Parfum Mahal
Parfum Mahal

Grafik data perusahaan itu diletakkannya di atas meja. “Kita bangkrut-sebangkrutnya, Mi,” Roland menghela nafas kemudian melonggarkan dasinya.

“Yang bener, Pi?!” Laras tercengang dan kelihatan sangat kecewa. Dahinya berkerut dan berkeringat dingin. “Gimana ini ya, Pi.. Mami kan pengen ikut arisan yang 20 juta perbulan bersama ibu-ibu pejabat itu.”

“Kan bisa dibatalin, Mi, Kondisi kita udah gak memungkinkan lagi untuk hal seperti itu!”

“Nggak ah, Pi! Tengsin dong, Mami!”

“Trus, mau nyari uang 20 juta perbulan itu ke mana? Rumah kita yang di BSD aja udah disita!”

“Mami buka bisnis parfum aja deh, Pi. Kalo sering bergaul sama istri pejabat, pangsa pasarnya kan lumayan.”

“Ya udah. Kalo Mami punya modal sendiri, Papi sih nurut aja.”

***

“Hei Jeng, kemana aja, udah lama nggak keliatan?”

“Eh Jeng Anna, nggak ke mana-mana kok cuma lagi ngurus bisnis baru aja.”

“Bisnis apa Jeng? Suami udah kaya kok istrinya masih kerja aja toh…”

“Alah Jeng, daripada shopping melulu ngabisin uang suami, mending uangnya dijadiin modal bisnis, kan hasilnya malah jadi berkali lipat,” Laras tersenyum miris, berharap teman-temannya yang hadir di acara arisan itu tidak ada yang tahu tentang kebangkrutan suaminya.

“Jeng-Jeng sekalian, ada barang limited edition dari luar negeri nih! Baru saya pake sekali, lho!” seru Laras.

“Barang apa, Jeng? Oh, parfum yah!”

“Iya nih Jeng, ada 3 buah, dari Paris. The Lalique, Clive Christian’s sama Caron’s Poivre dan semuanya bersertifikat. Saya ini kan orangnya bosenan, jadi kalo ada yang baru pasti yang lama terlupakan. Sayang kan, mending buat kalian-kalian aja.”

“Aduh Jeng, ada The Lalique yah! Ini kan parfum yang dipake Si Jelo itu. Waktu itu saya nyari tapi udah nggak ada lagi,” ucap Jeng Anna.

“Eh tau nggak Jeng, saya dengar harganya itu 25 juta loh,” ujar temannya menimpali.

“Nggak pa-pa lah Jeng, sekali-sekali ini. Kapan lagi bisa dapet parfum mewah dengan harga miring. Mas Adam dijamin bakalan lengket terus deh sama Jeng Anna. Kalo mau, ntar saya kasih diskon 15 persen khusus buat Jeng Anna,” bujuk Laras. “Gimana, mau yah? Ntar kalo yang lain berminat langsung tak lepas loh…”

Jeng Anna mengamati botol cantik yang terbuat dari kristal lalique itu dengan seksama, beberapa biji permata berwarna bening, tertanam di badan botol. Dia membuka tutupnya dan mengendus aroma yang melekat, lalu menyemprotkan sedikit ke pergelangan tangan.

“Unik, yah! Aromanya juga eksotis,” ujarnya. “Hmm.. Baiklah, ntar saya transfer uangnya setelah pulang dari sini yah.”

“Kalo punya suami konglomerat, uang segitu mah pasti nggak seberapa. Ya nggak, Jeng Anna?”

“Ah, Jeng Laras tau aja.”

Laras tersenyum puas.

“Besok aku harus meracik pengharum ruangan dan menambahkan pelicin pakaian lebih banyak lagi. Sepertinya, masih ada botol parfum kosong di rumah.”


Prompt # 8 : Kendi Ajaib

20:37 30
Prompt # 8 : Kendi Ajaib
“Hei! Maliiiiiing!” 

Seorang wanita muda, menunjuk laki-laki yang berlari terseok-seok ke arah Pak Pardi yang sudah siap siaga memasang kuda-kuda di balik tembok.

“Ciaaat!!!” 

"Gedebuk! Si Maling terjungkal. Pak Pardi meraihnya, lalu mengunci pergelangan tangan dan menjambak rambutnya. “Nyuri apa kamu?!”

“Ampun Pak ampuuuun..! Saya cuma meminjam Kendi ini. Kalau sudah selesai, nanti akan saya kembalikan.”

Wanita muda itu datang terengah-engah untuk memastikan. “Iya bener, ini Malingnya Pak!”

Pak Pardi menarik paksa Si Maling. “Ikut saya!”

***

Pak Pardi menyodorkan sebuah kursi. “Duduk!”

“Apa maksudmu dengan meminjam Kendi ini?!”

"Eh! Begini Pak... Saya dengar, orang-orang di kampung selalu membawa segepok uang, setelah keluar dari sini. Lalu saya pun bertanya, bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dengan mudah. Temanku bilang, uang-uang itu berasal dari Kendi Ajaib dan saya harus memberikan salah satu barang berharga sebagai persyaratannya." Dia menghela nafas. "Tapi sayang, saya tidak punya barang berharga satu pun Pak.”

"Kamu jangan mengada-ngada, jawab dengan jujur?!"

“Benar Pak.. Tetangga saya yang seorang dukun, menyarankan saya membawa Kendi itu untuk di jampi-jampi, agar bisa melewatkan persyaratannya. Karena Ibu harus segera di bawa ke dokter, jadi saya nekat untuk mengambilnya Pak,” ucapnya memelas.

“Hahaha...hahaha...hahaha...” Pak Pardi tertawa kencang.

“Kebetulan sekali! Baik, akan kukabulkan permintaanmu. Kamu akan mendapatkan uang segepok. Tapi sebelum itu, kamu harus membantu dan melaksanakan semua perintahku!"

“Hahaha...hahaha...!” Pak Pardi tertawa lagi, tapi kali ini terdengar seperti tawa Jin Mustapha di telinga Si Maling.

Si Maling sempat ketakutan, tapi “Siap, Pak Jin!” Reaksinya berubah penuh semangat. Lalu mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Sebenarnya Pak Pardi merasa iba. Karena postur Si Maling, yang belum lulus SD dan masih lugu itu mengingatkannya dengan Si Kurdi, anak lelakinya yang sama-sama berkaki pincang.

"Baiklah," lanjut Pak Pardi. "Mulai hari ini, Aku perintahkan kamu untuk mengepel dan membersihkan ruangan yang ada di sini. Sebulan sekali, kamu harus memotong rumput yang ada di halaman kantor,” ujar Si Satpam Senior itu, sambil mengelap Maskot Kantor Pegadaian yang masih ada di tangannya.

Note : # 323 Kata

Lampu Bohlam #5 Pulang

23:30 0
Lampu Bohlam #5 Pulang
Jam 05.30 Pagi, ku ambil sepeda mini yang tersandar di belakang pintu.

"Mak, mo nitip beli sarapan gak?"
"Beli Gorengan aja di deket pasar yah."
"Oke mak.. ." Ku acungkan jempol tanda setuju.

Ku hirup udara pagi sambil mengayuh sepeda, sesekali meluncur tanpa memegang kemudi, wuiiih asyiknya meluncur dari tempat yang tinggi. Lalu aku akan berkeliling mencari tempat baru, tempat yang bisa membuatku merasa seperti berada di alam bebas, bisa memanjat pohon, menangkap capung, berlarian atau tiduran di atas rumput. Kalau beruntung aku bisa menemukan anak sungai tempat aku bisa bermain air, atau menangkap ikan-ikan kecil dan ku bawa pulang. Setelah puas, aku akan mampir ke depan pasar. Dengan setia aku akan menunggu si pemilik warung menggelar dagangannya, melihatnya meracik bumbu dan menjejerkan makanan yang akan dijual, lalu menunggu lagi hingga pesanan ibuku selesai di masak. Lama memang, tapi aku akan menikmati setiap detik prosesnya. Aku ingin belajar, apapun itu meski hanya sekedar memasak makanan kecil.

***

Jam 05.00 Pagi, di Bulan Ramadhan. Aku selalu ingin Solat Subuh ke masjid walopun sering di larang oleh Orangtuaku. Entah, aku juga tak tau mengapa. Sehabis subuh, aku berkumpul bersama teman-teman kecilku, bermain monopoli atau ular tangga hingga matahari terbit. Tapi seringkali yang terjadi, berhari-hari aku hanya sendirian. Duduk di halaman menghayal hingga pagi, atau mencari sesuatu yang bisa dilakukan. Entah itu menggambar, menulis kaligrafi ato membaca buku. Kalaupun ingin menghabiskan subuh di rumah, aku hanya menonton acara jejak rasul. Aku tak tau apa yang membuatku begitu terpesona, dengan acara yang menceritakan lokasi dan sejarah-sejarah Nabi. Hingga membuatku pernah bermimpi untuk kesana sebelum menambahkan Jepang dan Eropa sebagai tempat petualangan berikutnya. *tentu saja sampai hari ini, itu semua masih hanya mimpi* :D.

Itulah sekilas masa kecilku..
dan rasanya, aku ingin Pulang ke Masa Lalu.



Prompt #7 Ramli & Julaiha

11:03 0
Prompt #7 Ramli & Julaiha
“Masuk ke kamar!” Julaiha kaget. “Papa bilang masuk!”

“Tapi Pa.. .” 

“Kamu sudah kuperingatkan, jangan temui Julaiha lagi. Kamu itu tidak pantas bersanding dengan anakku!” Ramli tertunduk.

“Om..” Ramli akhirnya bersuara “Kami saling mencintai, Om.”

“Maaf saja, aku tidak sudi. Secuil restu pun tidak akan pernah kuberikan!” “Pergi sana, jangan pernah kembali kesini!”. 

Ramli pulang dengan rasa kecewa. Kata-kata Papa Julaiha begitu kasar di telinganya dan membuatnya merasa tidak berharga sama sekali, padahal dia adalah salah satu anak orang terkaya di kota ini. Orangtuanya adalah rekan bisnis yang paling di percaya oleh Papa Julaiha. Dan seingatnya, sampai hari ini mereka tidak pernah sekalipun bermusuhan. 

Akhirnya Ramli memutuskan, agar Orangtuanya saja yang melamar Julaiha minggu depan.

***

“Bagaimana menurut Kalian?”

“Kamu cari orang lain saja Ramli, jangan Julaiha.” Ujar Mamanya.

“Loh kenapa Ma?!” “Aku bisa memberikan apapun yang Julaiha inginkan. Mengapa kalian tidak mau merestui?!” Ramli sangat kecewa mendengar keputusan orang tuanya.

“Sebenarnya, Julaiha sudah di jodohkan.”

“Dengan siapa Ma?!”

“Sepupumu.” Papa Ramli menengahi.

“Apa!!!” Matanya terbelalak, marah sekaligus kaget. “Ramlan maksud Papa?!”

“Iya, dan dia bersedia” lanjut Papanya. “Sudahlah Ramli, Jangan begitu. Lagipula kasihan Julaiha." 

“Ramlaaaan!!” Ramli mengepalkan tinjunya. Telinga Ramlan tiba-tiba saja gatal ketika tengah memimpin rapat bersama para pemegang saham.

***

“Selamat ya!” Para undangan gegap gempita untuk mengantri, demi mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada Ramlan dan Julaiha.

Wajah Julaiha seperti langit berselimut mendung yang akan segera turun hujan. 

Lalu Ramli datang, dan tiba-tiba seberkas senyum tersungging di bibir Julaiha, Tapi..


“Pa, Tante Julaiha cantik ya pake baju adat Minangkabau.” Ujar seorang anak kecil yang di gandeng Ramli. 


"Iya..." Ramli tertunduk.

“Ma, beliin baju kayak tante Julaiha dong.” Ucapnya lagi.

“Iya, nanti ya...” Ujar wanita disebelahnya.

Julaiha terdiam.

Berani Cerita #02 Di suatu Negeri

07:14 5
Berani Cerita #02 Di suatu Negeri
“Pengawal! bawa terdakwa ke tiang gantungan!”

“Yang mulia, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi !!!"

“Sampai hati anda menghukum mati saudara kandungmu sendiri !!!” Suna berseru dengan suara lantang, berharap sedikit keadilan dari sang Raja untuk saudara sepupunya.

“Yang mulia! Kenapa anda diam saja!” “Apakah anda takut tersingkir dari tahta, hingga tega melakukan hal sekejam ini!” Suna mencoba segala upaya untuk menggoyahkan hati sang Raja, tapi dia tetap tak bergeming.

“kita bertiga sudah bersama sejak kecil, Ayah kita bersaudara” Ujar Suna memelas.

“Berilah dia keringanan..” Suna memohon kepada sang Raja yang hanya terdiam mematung.

“Aku sudah kehilangan Ayah dan Kakakku, aku tau rasanya.. mengapa hatimu begitu dingin..” Tangis Suna memecah hening.

Raja yang berpendirian teguh ini harus mempertanggungjawabkan semua sumpah yang pernah diucapkan, ketika dirinya dinobatkan menjadi pewaris tahta kerajaan. Meskipun dia bukan calon tunggal pewaris tahta, tapi karena desakan rakyat yang menginginkan seorang Raja yang jujur dan adil, akhirnya dia terpilih untuk menduduki Singgasana.

“Maafkan aku Suna..” dengan suara bergetar akhirnya Raja bicara. “Kakakku yang meracuni mereka”.

 Note : 168 kata


Berani Cerita # 04 Flying without Wings

18:25 0
Berani Cerita # 04 Flying without Wings
“Yoto!! Kamu sudah bapak peringatkan berkali-kali yah! Ke ruang BP, sekarang!”

“Eh! Ya Pak.”

Di luar kelas, Suyoto berpas-pasan dengan Ibu Yeli. “Ketiduran lagi To?!”

“Iya. Kok tau Bu?”

“Itu, bekas ilermu masih ada. Kamu ini, gak malu apa sama temen-temenmu? Tampangmu kayak orang nggak pernah mandi, seperti nggak punya semangat hidup saja. Makanya, gak ada yang mau bergaul sama kamu.. Sekolah itu pake uang To. Jangan mentang-mentang pinter, lalu bisa seenaknya...”

Suyoto yang pendiam hanya bisa mengangguk mendengar omelan wali kelasnya.

***

Prak!!

Ratusan batu bata melungsur dari atas gedung.

“Masya Allah!” Suyoto terperangah. “Untung nggak ada orang dibawah.”

“Gimana sih lu To!” “Ngomong dong kalo nggak mau kerja lagi!”

“Maaf Bang, tali pengamannya lepas!” Yoto terpaku. “Ntar potong dari upah ku aja Bang?!”

Ucapan Wali Kelasnya tadi pagi, membuyarkan konsentrasi Suyoto malam ini.

***

“Mas, Yati nggak mau sendirian...Yati gak punya siapa-siapa lagi kalo mas pergi.”

“Sudahlah Yati, kamu ikut Ibu aja yah?” Pinta Bu Ratmi, tetangganya. “Kamu kan udah mau masuk SMA, kok masih kayak anak kecil begitu.”

 “Tapi Yati juga pengen, ikut kesana.”

“Ikhlaskan saja. Nanti kamu belajarnya yang rajin, biar kayak Mas mu” Ucap Bu Ratmi.

“Mas mu ini kan disana kuliah Ti. Walaupun di biayain, tapi hanya cukup buat satu orang.” Ujar Suyoto sambil memasukkan barang-barang ke dalam ransel bututnya. 4 tahun itu nggak lama, setelah itu kan mas langsung kerja. Nah kalo sudah gitu, Yati baru bisa tinggal sama mas disana.”

“Iya toh mas.. Janji ya! Waaah.. Yati udah nggak sabar, pengen liat Bunga Sakura berguguran.”





Note :
# 252 Kata
# Tema : Lagu Natasha Bedingfield - Unwritten
# Lampu Bohlam #4 - Terbang

Prompt # 6 : Good Bye

00:03 0
Prompt # 6 : Good Bye
Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Tapi suara Noura hilang, di tengah riuhnya mesin-mesin yang menderu dari dalam pabrik itu.

Esoknya, Noura mengendap-ngendap disamping rumah Tuan Black.

“Hei, siapa disitu!”

Noura keluar dari persembunyiannya.

“Marry, kaukah itu!”

“Ah, tidak mungkin,” Tuan Black bergegas mendekati Noura. “Siapa kau? Kenapa masuk kesini tanpa ijin!”

“Saya Noura, apakah Anda mengenali wajah saya?!”


***


“Apa kamu sudah menemukannya?”

“Sudah Bu,” tegas Noura.

Sudah berpuluh tahun yang lalu, masihkah dia ingat padaku?

Mata Marry menerawang jauh. Tubuhnya terbaring lemah, setelah 3 hari tersadar dari koma karena penyakitnya.

Sejak kejadian itu, Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini... Perlahan air matanya bergulir membasahi pipi nya yang tirus.

***
“Marry!”

“Morgan.. aku tidak bermimpi kan?”

“Tidak Marry.. sudah sekian lama aku mencarimu, maafkan aku.” Tuan Black menangis sesunggukkan.

“Aku di bius, ketika tragedi pembantaian keluarga kita itu terjadi... Waktu siuman ternyata aku sudah berada di Belanda. Mereka menjualku Morgan...”

“Maafkan aku tidak mampu menjagamu... saat itu kita terlalu muda...” Morgan memeluk Marry dan menangis bersama.

Marry tersenyum melihat Noura. “Kesini nak.”

Noura mendekati Ibunya.

“Ini Noura, jagalah dia baik-baik...” 

kemudian Marry tak bergerak lagi, terbujur kaku di ranjang ICU.

“Dari lahir kita bersama, seharusnya di alam sana pun kita bersama...” Tangis Tuan Black pecah, menyesali kepergian saudara kembarnya sekali lagi.