uzegan: Anak
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Morning Vibes

07:35 6
Morning Vibes



Hallo temen-temen, apa kabarnya ? 😊 (kalo ada yang baca sih) πŸ˜‚

Udah lama banget saya gak posting di blog ini yah. Terakhir pas saya cek di postingan sebelumnya, tulisan di blog ini udah mandeg sejak 23 April lalu dan sekarang sudah memasuki pertengahan November, udah tujuh bulanan ternyata. Kalo bayi, dua bulan lagi bakal lahiran ini mah 😁. Yah maklum, sejak dua orang anak di rumah udah mulai sekolah, mau gak mau saya jadi harus fokus ke banyak hal. Dan akhirnya lama-lama mengikis kegiatan ngeblog dan semua yang berhubungan dengan aktifitas online, jadi lebih baik ngalah dulu demi kemaslahatan bersama yakan. πŸ˜‚

Terus, sekarang kok bisa posting lagi? Apa udah gak sibuk lagi? Yah gak juga sih, ini kebetulan pas jadwalnya Si Kakak PTM di sekolah selama dua jam, dan lokasi sekolahnya itu dekat rumah mertua, jadi pas pulang sekolah dia langsung maen ke rumah neneknya, sore baru dijemput. Kalo Si Adek ceritanya lagi males sekolah, semalem abis berantem sama Si Bontot dan gak mau bikin PR. Orangnya masih tidur padahal sebentar lagi mau sekolah, baju seragamnya lupa saya setrika dan di luar masih hujan rintik-rintik. Saya juga lagi gak mood nganter Si Adek ke sekolah, kaki masih sakit kalo dipake jalan jauh. 

Hari ini Emaknya lagi pengen nyantai kayak dipantai, menikmati suara hujan yang berjatuhan di atap seng, sambil nyeruput teh anget dan nyemil gorengan di teras kecil belakang rumah. Ngeliatin air hujan yang jatuh ke kolam ikan kecil yang isinya tinggal dua ekor. Mengamati dedaunan yang menari karena tertimpa air hujan. Memandang jauh dan meresapi warna alam yang menyejukkan penglihatan. Pekat dan lembab sejak hujan semalam. (Momen yang kerapkali bertandang di beberapa kesempatan, dan juga kerapkali tumbang karena endingnya selalu berakhir ketiduran)πŸ˜‚.

Demikianlah morning vibes saya hari ini temen-temen. Saya mo tidur lagi hihihi... kalo masak untuk siang ini mah udah (sisa kemaren maksudnya πŸ˜‚)  jadi kalo anak-anak minta makan tinggal nganget aja😁, soalnya tadi pagi saya kebangun jam 02.30 eui, karena henpon saya tiba-tiba bunyi (setting silent nya di otak-atik sama anak-anak). Ada cewek yang nelpon dengan suara memelas katanya dia sekarang di kantor polisi, suara di sekitarnya itu rame dan berisik banget. Akhirnya saya matiin karena nomor dan suaranya gak dikenal. Sayangnya ngantuk saya ilang dan berakhir nyetrika baju 5 biji sampe jam lima pagi (satu baju nyetrikanya 15 menit) ckckck... πŸ˜‚


Terima Kasih

15:44 2
Terima Kasih

Saya gagal mengulas beberapa hadiah dan pemberian dari temen-temen blogger maupun temen-temen di Instagram, maafkan. Saya sadar betul, saya termasuk lamban dalam urusan seperti ini. Karena mengingat kamera handphone yang saya punya memiliki kualitas rendah (handphone lama khusus untuk belajar moto udah rusak) dan saya belum punya waktu untuk mendisain ilustrasinya di Canva untuk postingan blog.

Kalaupun ilustrasi postingannya hanya berupa sketsa yang digambar di SketchBook, ternyata hati kecil saya masih disentil oleh naluri keperfeksionisan, bahwa ternyata saya masih menjadi seorang pemula. Sehingga saya membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk belajar membuat illustrasi yang baik. Saya gak bisa multitasking. Jangankan melakukan tiga hal bersamaan, ngeblog dan ngurus keluarga pun sering banget keteteran. πŸ˜…

Karena itulah, dengan terpaksa saya harus memilah-milah urusan yang sekiranya tidak dapat ditinggalkan karena waktu yang telah terenggut untuk urusan anak-anak dan rumah tangga. Yap, waktu untuk bengong pun saya gak punya karena anak-anak gak pernah membiarkan saya memiliki waktu yang leluasa untuk diri sendiri. Mereka sudah mengambil alih, bahkan di malam hari dimana biasanya saya mulai ngetik postingan atau berkomentar ke blog temen-temen.

Saya sering ketiduran. Kalopun saya akhirnya bisa mengupdate postingan ataupun bewe, biasanya itu terjadi karena kebetulan anak-anak tidur siang berbarengan atau gadget sedang tidak dipake dan anak-anak sedang melakukan hal yang seru tanpa kehadiran saya disitu, misalnya nyelonong mandi ujan di halaman belakang, bikin rumah banjir, diem-diem maen ke rumah tetangga atau mengobrak-abrik perkakas Ayahnya. πŸ˜‚

Ditambah lagi beberapa bulan ini Si tengah dan Si Bontot yang sudah macam anak kembar harus mulai belajar toilet training dimana sebenarnya saya yang harus menguatkan pikiran agar tidak terlanjur stress karena entah berapa menit sekali saya harus standby dikamar mandi nemenin anak berganti-gantian karena mau pipis atau BAB bahkan buang angin pun minta dicebokin πŸ˜…padahal mereka sebenarnya cuma main air selama setengah jam atau malah berjam jam.

Yah begitulah, nasib emak-emak yang usia anaknya berdekatan, makan pun yang disuapin dua orang berbarengan. Padahal, Si Tengah yang seharusnya udah mulai belajar makan sendiri, ikut merengek minta disuapin karena gak mau kalah dengan Adiknya yang masih suka dikejar-kejar setiap kali dikasih makan.

Jadi, kali ini saya pengen ngucapin terima kasih yang banyak banget ke temen-temen semua yang sudah memberikan hadiah, bingkisan bahkan bantuan. Di usia saya yang sekarang, dimana lingkaran pertemanan saya sudah gak ada lagi, kiriman-kiriman dari kalian adalah salah satu hal luar biasa yang pernah saya terima. Terima Kasih banyak temen-temen, Selamat menyambut Ramadhan 1442 Hijriah, Mohon Maaf Lahir & Bathin buat semua.

Illustrasi ini saya bikin di Canva karena lagi kangen bulan Ramadhan, Oktober tahun lalu πŸ™‚

Orangtua atau Orang lain?

13:38 8
Orangtua atau Orang lain?

Apa yang terjadi ketika hati dan pikiran kita lebih dekat dengan orang lain ketimbang dengan Orangtua sendiri? 

Hmm...
Saya teringat kembali dengan seorang teman kuliah begitu membaca komentar Mba Roma tentang caption gambar ini di IG, yang menyarankan untuk ke kotanya, Lampung jika pandemi ini telah berakhir. 

Lampung adalah kota yang memiliki pantai terdekat dari kota tempat dimana saya tinggal sekarang. Dibutuhkan waktu setidaknya 10 jam untuk menempuh perjalanan ke sana. Tapi karena sudah dibangun jalan tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayu Agung sepanjang 189 km, maka jarak tempuhnya sekarang sudah bisa dipersingkat menjadi 4 jam perjalanan saja. Bahkan jarak dari tempat adik saya ke Palembang yang biasanya memakan waktu 1 jam  bisa dipersingkat menjadi 15 menit saja sejak diresmikannya Jalan tol Palembang - Pemulutan tahun 2017 lalu.

Meski sudah sangat dipermudahkan dalam urusan jarak, namun untuk bepergian seperti sekarang-sekarang ini saya juga butuh kenekatan yang berlimpah serta materi dan waktu yang cukup banyak untuk diri sendiri, agar impian melihat pantai ini dapat bisa segera terwujud.

Saya menargetkan Lampung sebagai destinasi wisata laut pertama sebenarnya bukan semata-mata karena ingin melihat langsung pantai dan laut saja. Tapi karena diharapkan bisa bersilahturahmi lagi dengan seorang teman dekat yang bekerja dan menikah di sana sejak 12 tahun lalu. Dan juga karena saya kehilangan kontak beberapa tahun setelah kepindahannya, Henpon saya hilang bersama uang, KTP, SIM dan juga henpon adik saya yang akan diservis, di dalam pouch yang dulu pernah jatuh di jalan. 

Saya sempat mencari-cari nomer henpon barunya ke temen-temen tapi gak ada yang punya, dan sayangnya dulu dia memang pernah bilang tidak berminat sama sekali untuk memiliki akun social media. Alhasil, sampe sekarang saya belum bisa menemukan kontaknya. 

Sikapnya yang ramah dan sering menyapa duluan membuat kami lebih akrab hingga kemudian menjadi lebih dekat lagi karena ternyata saya suka dengan Ibunya. Kalo Ibunya baik biasanya nurun ke anak-anaknya, begitu prinsip yang dulu saya pegang. Ibunya enak diajak ngobrol dan selalu nyambung kalo diajakin ngomong apa aja. Bisa tuker pikiran, kadang bisa jadi sahabat bagi anak-anaknya dari yang abege hingga yang udah dewasa. 

Teman saya termasuk orang yang tidak berkecukupan karena tempat tinggalnya masih menumpang  serta tidak lagi memiliki penopang utama dalam keluarga. Ayahnya meninggal waktu temen saya masih SMA dan meninggalkan 4 orang anak, yakni temen saya yang adalah anak pertama dan adik-adiknya yang waktu itu juga masih kecil-kecil. 

Dulu saya sering banget main ke rumahnya. Walo sebenernya yang terjadi temen saya yang sibuk di dapur, dan saya malah duet sama ibunya di ruang tamu. Saya nyanyi, dan ibunya main gitar.  πŸ˜‚ 

Kalo kamu seorang penggemar drakor, tau dengan Kim Yoo Jung? yang jadi First Lead Female di serial drama Backstreet Rookie. Nah begitulah sedikit banyak gambaran raut wajah temen saya, hanya saja sekarang pasti udah agak beda karena selisih usia. Pas dulu waktu pertama kali ngeliatnya sebagai First Lead Female remaja di drama saeguk The Moon That Embraces The Sun tahun 2012 lalu. Saya sampe pangling. Apa temen saya sekarang udah alih profesi yak, hahaha.. sampe-sampe gak bisa dihubungin lagi. Dulu banyak banget cowok-cowok yang ngejer temen saya inih (beberapa temen cowok saya juga) dan jadi murid kesayangan dosen karena gak hanya cantik tapi juga ramah, pintar dan rajin belajar termasuk juga pintar masak dan pintar menjahit. Sangat menginpirasi dan patut dijadikan panutan bukan. 

Dulu saya sempat menentukan seseorang bisa jadi temen deket itu salah satu alasannya adalah karena saya kagum dengan Ibunya, ayahnya atau neneknya, dan itu juga salah satu alasan terpenting kenapa akhirnya saya bisa menikah dengan pak suami. πŸ˜‚πŸ˜

Meski tidak dipungkiri saya juga dengan senang hati berteman dekat dengan beberapa teman lain, walo tetap saja kebanyakan ortunya ternyata single parent. Ada yang ikut ibunya, ada yang ikut ayahnya, juga ada yang ikut nenek-kakeknya atau memang karena salah satunya telah tiada. Pernah terbersit harapan untuk memiliki single parent saja, biar sama seperti mereka, barangkali hidup kami akan terasa lebih baik. Siapa tau hidup akan jadi lebih aman, nyaman, damai, dan tidak perlu was-was setiap kali akan pulang ke rumah. Dengan begitu, setidaknya kami juga bisa ikut merasakan bagaimana memiliki rumah seperti mereka yang sering menggaungkan baiti jannati, home sweet home, atau rumahku adalah syurgaku.

Tapi seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya usia dan semakin beratnya perjalanan hidup. Akhirnya kami mulai memahami atau sebenarnya "harus" memahami kenapa ayah begini kenapa ibu begitu, agar suatu hari nanti bisa jauh lebih mengerti dan memaklumi pasangan dalam mengarungi kehidupan pernikahan. Kami merasa harus segera bertindak dengan mencoba menciptakan situasi (meski secara bergerilya) agar tidak terjadi perang urat syaraf setiap kali mereka memulai komunikasi.

Meskipun pada akhirnya kami hanya dianggap sebagai bocah tak berpengalaman, dan minim ilmu. Pengertian yang kami sampaikan terasa janggal untuk diterima karena berasal dari ucapan seorang anak yang baru belajar seumur jagung, ke Orangtua yang merasa jauh lebih lama dan lebih paham menghadapi pahit getirnya hidup. 

Dulu kami berharap mereka mau belajar menempatkan komunikasi di waktu dan kondisi yang tepat. Itu saja sudah cukup. Bukan karena sudah merasa pintar, sudah jadi anak sekolahan atau karena berpendidikan lebih tinggi.

Kalo dihitung-hitung, beberapa keputusan penting dalam hidup saya sebenarnya lebih banyak saya bicarakan ke Ibu teman ketimbang dengan Ibu sendiri. Bukan karena saya tidak percaya dengan Orangtua. Tapi sepertinya memang karena cara pandang dan cara berpikir saya saat itu masih polos dan terbatas. Dulu saya menganggap untuk apa curhat ke Ibu, beliau sendiri sudah terlalu berat menanggung masalah di rumah dan jika harus ditambah lagi dengan masalah yang saya hadapi, rasanya gak tega untuk menambahkan beban lagi dipundaknya. Lagipula karena sejak kecil saya memang sudah terbiasa menyediakan telinga untuk semua keluh kesah Ibu, hingga membuat saya berpikir tidak ada lagi kesempatan dan ruang yang cukup di benaknya untuk saya berbagi keluh kesah.

Jadi setiap kali ada masalah, dan Ibu akhirnya tau, beliau akan bilang. "Makanya kalo ada apa-apa tuh dibicarakan dulu ke Orangtua, biar jadinya gak kayak gini." Padahal, saya sebenarnya sudah mempertimbangkan dengan matang hanya saja saya mendiskusikannya dengan Ibu yang lain. Dan itu adalah sebuah jawaban yang tidak mungkin saya lontarkan, karena saya tau pasti hanya akan menyakiti hatinya.

Hingga saya menikah dan punya anak, barulah saya bisa memandang lebih dalam dari dua sisi. Meskipun saya meyakinkan diri bahwa apa yang dulu pernah saya jalani adalah pilihan terbaik yang bisa saya lakukan, alih-alih merasa sedih karena menyadari betapa menyakitkan kalo anak sendiri malah lebih mempercayakan isi hatinya ke orang lain ketimbang dengan Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan segala pengorbanan,  segenap jiwa dan raga.

Segarang-garangnya saya sebagai Ibu, yang kadang sering naik darah kalo ngeliat ada yang salah dengan kelakuan anak (bertolak belakang dengan watak Ibu saya yang jauh lebih sabar menghadapi delapan orang anak), saya masih sangat berharap anak saya punya seorang Ibu yang bisa berinteraksi dengan baik dalam berkomunikasi dua arah dengan anak-anaknya, walau saya tau itu sangat sulit apalagi dengan kondisi punya banyak anak. Tidak apa-apa jika anak mempercayakan masalahnya untuk diselesaikan bersama orang lain. Siapa tau dengan begitu bisa menemukan solusi yang lebih baik. 

Meskipun saat ini saya harus melewati masa-masa sulit membesarkan anak. tapi beginilah hidup, waktu berjalan terus. Tidak akan ada yang sama. Semua tumbuh mengikuti waktu. Suatu hari gak akan ada lagi suara tawa bayi, suara anak-anak yang baru belajar bicara, anak-anak yang gelendotan karena ingin diperhatikan lebih atau anak-anak yang rewel minta ini dan itu. Suatu hari kita akan merindukan wajah-wajah lucu nan menggemaskan dan tangan-tangan mungil yang tidak akan pernah bisa kita peluk dan sentuh lagi. Suatu kerinduan yang dipastikan tak akan pernah kita dapati lagi kecuali hanya melalui sebatas foto, kenangan di waktu kecil.

Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

14:13 37
Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Drama Wali Murid SD di masa Pandemi

Belakangan ini saya merasa seperti diteror terus-terusan, dirongrong hingga membuat kepala saya seringkali migrain karena kurang tidur dan stress yang berkepanjangan akibat kekecewaan dari rumah dan tekanan dari sekolah Si Kakak. Ibarat sepotong dendeng yang ditekan dari atas, tapi yang ini alasnya malah memberikan perlawanan (bergerak keatas) karena menolak ditekan dengan mendorong balik agar tidak ikut tehenyak ke bawah bersama si dendeng. Dari situ jelas sekali, pada akhirnya si dendeng lah yang akan menjadi hancur atau gepeng karena ditekan dari dua sisi. Yang setiap saat bisa saja menjadi dendeng balado jika terus-terusan dicampur dengan berkilo-kilo ulekan cabe keriting. (Ngenes banget analoginya yah) πŸ˜‚

Sejak tahun ajaran baru dimulai dan diberlakukannya pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Saya akhirnya menjadi bagian dari golongan Orangtua murid yang gagal membuat anaknya mau belajar dengan baik dan efektif selama di rumah.

Sebelumnya saya memang merasa lega. Karena tidak perlu lagi harus tiap hari menyiapkan seragam sekolah, uang jajan dan ongkos ojek serta tidak perlu kocar kacir karena selalu berkejaran dengan waktu demi menyiapkan makan siang sebelum Si Kakak berangkat ke sekolah. 

Dulu, saya heran kenapa Ortu teman-teman Si Kakak banyak yang mengajukan keluhan melalui WAG sekolah, anaknya tidak mau menurutlah, jadi malas belajar, kerjanya main game dan nonton aja di rumah. Namun setelah dimulainya tahun ajaran baru, kegiatan Si Kakak yang tidak ada belajarnya saat libur lebaran dan kenaikan kelas telah menjadi kebiasaan baru yang membuat saya makin uring-uringan. Segala cara sudah saya lakukan agar Si Kakak mau belajar dan mengerjakan tugas serta hapalan-hapalan seabrek dari sekolah, baik itu latihan di buku, maupun materi melalui video. Yang awalnya saya lakukan dengan cara lembut dan mengayomi, tapi ternyata Si Kakak malah nyantai dan seringkali pura-pura gak denger. Mentang-mentang gak berangkat ke sekolah, dikiranya sekarang emang masih libur jadi ngapain juga musti belajar.

Saya pikir karena Si Kakak memang butuh diawasi, maka dengan konsekuensi dua orang adiknya juga ikut nimbrung dan menganggu, saya tetap menemaninya belajar dan tetep disambi beres-beres kerjaan rumah. Begitu saya bantuin bikin tugas, eh Si Kakak malah ketagihan. Dikit-dikit nanya, dikit-dikit ngomong gak tau, karena malas membaca materi dan ngerasa bisa langsung dapet jawaban dari emaknya. Jadi kalo ada yang praktis ngapain lagi harus baca-baca, mungkin begitu pikirnya. Meski ujung-ujungnya Si Kakak bukannya belajar, tapi konsentrasinya malah terpecah, ngalor ngidul lalu tiba-tiba main atau nonton seperti adik-adiknya.

Karena kesel, akhirnya saya mengingatkan Si Kakak dengan nada mengancam, dan ternyata masih juga gak mempan. Dari hari ke hari keadaan semakin rumit, tugasnya terus menerus bertumpuk karena tidak pernah dikerjakan. Sementara saya harus terus berusaha memantau dan mencatat soal serta mencatat materi yang tidak ada di buku pelajaran. Sekaligus menonton video agar tidak ada yang terlewat dan nantinya bisa saya berikan penjelasan ulang ke Si Kakak. Kenapa Si Kakak gak langsung ngeliat dari henpon? Karena Si Kakak bukannya ngeliat tugas di WA tapi malah bongkar-bongkar isi henpon emaknya dan lagi henpon biasanya langsung dikasih ke adeknya biar gak menganggu Kakaknya belajar. Dan bersama keriweuhan itu saya masih harus berkubang dengan segala urusan rumah yang tak pernah ada habisnya. Kalo tidak, tau sendirilah semua kerjaan rumah bisa keteteran dan tertunda lagi sampai besok dan besoknya lagi. Menumpuk dan berakhir dengan menyengsarakan diri sendiri jika tidak ada yang membantu.

Ditambah lagi dengan ramenya Ortu yang ngejawab di WAG sekolah yang bikin saya jadi semakin kewalahan. Karena begitu satu tugas diberikan, Ortu yang ngucapin terima kasih itu bisa nyampe berapa gerbong kereta panjangnya, seharian notif WA isinya ucapan terimakasiiiiiih melulu atau kalo ada yang lagi diselametin atau ada yang lagi sakit, jadinya panjaaaaang banget list anggota WAG yang ngucapin atau ngedoain. Bikin saya jadi senewen sendiri.

Apalagi daftar panjang update-an murid yang sudah mengumpulkan tugas serta jawaban-jawaban murid saat ngelist absensi dan daftar hadir di WAG. Udah macam ular naga panjangnya, bukan kepalang. Bayangkan kalo gak buka WAG Sekolah sehari saja karena gak punya kuota, semoga henponnya gak ngehang pas lagi buka notif, yak. Atau mungkin malah seperti saya yang sering gagal bikin video hapalan Si Kakak untuk dikirim ke sekolah karena memory henpon yang selalu tiba-tiba kepenuhan.

Begitu juga ketika saya ngecek tugas mana saja yang sudah dikerjakan Si Kakak, ternyata hasilnya mengecewakan sodara-sodara. Paling hanya satu soal yang selesai. Sisanya? Zonk, gak ada yang dikerjakan sama sekali, karena saya juga yang memang tidak selalu bisa menemaninya belajar. 

Akhirnya setiap kali melihat WAG, stress saya makin ngepull, karena selalu mendapat pemberitahuan daftar nama-nama murid yang sudah mengumpulkan tugas, dan cuman Si Kakak yang namanya tidak pernah terconteng. 

Mengingat kelas Si Kakak adalah kelas unggulan dimana rata-rata muridnya rajin belajar. Si Kakak bisa bergabung di kelas itu karena usianya paling tua dari teman-teman seangkatannya. Si Kakak masuk SD pas di usia 7 tahun kurang tiga bulan, yang mana teman-temannya banyak yang lebih muda satu tahun tapi rajin dan pintar-pintar. 

Alasan itu makin membuat saya ngedrop di titik terendah, dan bikin otak saya jadi kacau balau. Hingga berapa kali saya akting nangis biar Si Kakak nurut dan hasilnya ternyata gagal juga, sampai ketika emosi sudah meninggi barulah Si Kakak patuh, tapi sayangnya cuma satu hari. Besoknya ketika emosi saya meledak lagi. Si Kakak mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu menangis. Dan itu yang sebenernya bikin saya kesel, karena yang seharusnya nangis itu saya bukan dia.

Hingga suatu hari saya mencari-cari kesempatan bagaimana caranya agar keluar dari WAG sekolah, saya sudah tidak sanggup lagi membaca kiriman-kiriman tugas dan segala macam pemberitahuan yang mengakibatkan saya menderita kecemasan yang lumayan akut. Saya dan suami sudah pasrah, biarlah Si Kakak tahun ini berhenti sekolah dulu, mengulang kelas tahun depan tidak masalah, dan jika pandemi ini belum berakhir, setidaknya adik-adiknya sudah lebih mengerti untuk tidak mengganggu kakaknya belajar (harapannya). 

Saya sadar kalo metode belajar seperti sekarang sangat tidak efektif untuk Si Kakak dan mungkin untuk sebagian besar anak-anak lain juga. Walau faktor yang mendominasi kelakuannya Si Kakak emang karena menurun dari emaknya. Yang waktu kecil dulu, memang malas belajar teori atau hapalan tapi lebih nangkep dan lebih tertarik kalo belajarnya dengan cara praktek bersama teman-teman sekelas. Dan juga karena atmosfer rumah yang memang sangat tidak kondusif untuk bisa belajar dengan tenang seperti di sekolah.

Pada suatu kesempatan, akhirnya saya keluar juga dari WAG sekolah dengan memanfaatkan situasi percakapan yang sedang memanas di grup. Namun tak dinyana, para Ortu siswa/i malah balik bersimpati dan meminta saya jangan keluar dari grup agar tidak ketinggalan informasi, sampe di telpon berkali-kali dan tidak saya angkat. Hingga akhirnya rencana keluar dari sana gagal total karena admin memasukkan saya kembali ke dalam grup. Dan suami saja yang berhasil keluar dengan mulus dari WAG sekolah Si Kakak.

Sejak saat itu saya mulai sering keluar rumah untuk menenangkan pikiran dan menjauhkan diri dari gadget. Selama berkeliling di lingkungan sekitar rumah, saya melihat beberapa anak tetangga yang sedang belajar di teras rumah di temani Ibu, Kakak atau Neneknya setiap pagi. Mereka nurut, semuanya belajar dengan khusyuk karena tidak ada yang menganggu, kalopun bersama adiknya tapi adiknya yah kalem aja.

Saya nyadar kalo ngeliat rumput (anak) tetangga lebih hijau (rajin) justru malah bikin stress karena secara otomatis saya langsung membandingkan dengan anak sendiri. Karena itu, akhirnya saya bertanya ke para Ortunya, bagaimana cara agar anaknya mau belajar tanpa harus diawali drama bak cerita ibu tiri. 

Tapi jawaban yang saya dapatkan ternyata yah gak jauh beda seperti saya, sesekali mereka juga menampakkan taringnya ke anak kalo udah kelewatan. Tapi bedanya, si anak masih punya keinginan untuk belajar, tidak ada yang mengganggu atau ada yang bantu menemani selain Ibunya. Dan hal itu semakin membuat saya merasa, bahwa kondisi mereka jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang saya alami.

Mendapati kenyataan seperti itu, saya semakin down karena merasa gagal menjadi Orangtua. Karena mau gak mau saya juga harus mengurus adik-adiknya disaat Si Kakak paling membutuhkan perhatian dan bantuan saya.

Hingga di suatu sore, saya ke warung sendirian di dekat lapangan gang sebelah, anak-anak saya titip ke Pak Suami (siapa tau pikiran saya kembali jernih dengan me time sambilan seperti itu). Disana saya ngeliat dua orang kakak beradik, satu kelas 2 SD dan kakaknya kelas 1 SMP. Mereka sedang mengasuh adiknya yang masih bayi. Dua bersaudara ini saya kenal sebagai anak yang rajin dan selalu nurut sama Orangtua karena sering ngeliat mereka membantu ibunya berjualan makanan di depan rumah.

Saat itu ibunya lagi membersihkan selokan disamping rumah. Saya langsung mendekat dan tanpa babibu, saya langsung tanya, cara apa yang bisa bikin anaknya mau nurut khususnya waktu ngerjain tugas dari sekolah. 

Dari perbincangan sore itu, sarannya saya simpan dan ingat baik-baik agar sepulang dari sana bisa langsung diterapkan di rumah. 

Tips dari tetangga ini langsung saya praktekkan dan alhamdulillah, Si Kakak akhirnya bikin tugas juga. Caranya gimana? Dengan menyita semua barang kesukaannya dan kemudian membujuknya. Kalo semua tugas sudah selesai saya akan kabulkan keinginannya nonton youtube di henpon dan beberapa keinginannya yang lain.

Sayangnya (masih harus disayangkan) tugas dari sekolah seolah tak ada hentinya, pagi siang malam, ada saja pemberitahuan, tak mengenal waktu. Barulah ingin bernafas sudah datang tugas baru, hapalan baru. Dan saya sudah kehabisan cara ngebujuk Si Kakak agar mau mengerjakan semua tugas dari sekolah. Karena Dia sekalipun gak mau berinisiatif untuk mengerjakan tugas sekolahnya kalo gak saya ingatkan terus-terusan.

Yang pada akhirnya, tetep aja balik ke selera asal, Si Kakak kembali malas malasan lagi dan dengan nyantainya bilang iya setiap kali saya minta mengerjakan tugas, tapi gak pernah dikerjakan. Dia hanya menangis karena katanya capek terlalu banyak tugas dan hapalan yang harus diselesaikan. Dan saya juga sudah kelelahan.

Puncaknya, ketika waktu me time saya yang cuma sedikit itu telah habis dan terenggut secara paksa demi kelancaran proses belajar mengajar jarak jauh ini. Saya rasanya ingin memberontak dan keluar dari tekanan yang datang terus menerus serta rongrongan yang telah menelan kebebasan saya untuk merawat otak dan hati, agar kewarasan saya tidak terlanjur menyimpang kesana kemari.  

Ditengah kekalutan itu, saya teringat dengan adik saya. Dia adalah seorang guru SD tapi sayangnya dia tinggal di kota lain. Meskipun ketiga adik saya kesemuanya adalah tenaga pengajar tapi saya merasa sungkan untuk curhat ke adik-adik yang lain. Kenapa? Karena mereka juga memiliki kendala dan kesulitan serta merasakan beratnya ketika harus mengajar secara daring sedangkan gaji yang didapat tidak seberapa, dan kebetulan Adik saya yang mengajar anak SD hanya yang tinggal di luar kota.

Setelah saya menelpon dan mencurahkan semua unek-unek seorang wali murid ke Adik saya dan mendengarkan wejangannya, dari situ saya baru bisa memahami kenapa guru-guru seolah tega sekali memberikan tugas secara bertubi-tubi ke siswa/i nya. 

Alasannya? Karena mereka juga mendapat tekanan dari atas dan beberapa alasan lain yang tidak bisa disebutkan. Tapi walau begitu, tetap ada toleransi serta kebijakan untuk murid-murid yang tidak bisa menyesuaikan diri untuk belajar jarak jauh seperti sekarang serta murid yang tidak mampu dan terkendala kuota atau yang tidak memiliki gadget. Sayangnyaaa, sayangnya lagi itu untuk sekolah negeri. Beda dengan sekolah Si Kakak, meskipun sekolah gratis dan hanya diwajibkan membayar infaq tapi dia belajar di sekolah swasta yang notabene semua kebijakannya tergantung dari yayasan atau sekolah masing-masing.

Lalu sekarang Si Kakak gimana? tetep aja masih susah kalo disuruh belajar. Dan karena itu saya memutuskan sharing dengan Wali kelas Si Kakak (meskipun keliatannya susah sekali diganggu setiap kali saya datang untuk menyetor tugas Si Kakak ke sekolah). Kata Wali kelasnya, Gak papa, tunggu sampai Si Kakak mau. Wali kelasnya meminta dengan sangat agar Si Kakak tidak dimarahi. Tapi sayangnya saya udah terlanjur marah-marah duluan dan sebagai Orangtua yang baru belajar hal itu sangat saya sesalkan. 

Besoknya, Wali kelasnya langsung ngomong ke Kakak di WA, agar mau mengerjakan tugas-tugas dengan ngasih kata-kata semangat, yang bikin Si Kakak akhirnya mau mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Meskipun masih sering pake sistem kebut semalem (SKS), semua tugas dikerjakan sehari sebelum menyetor tugas ke sekolah, yang dilakukan seminggu sekali. Setidaknya Si Kakak sudah mau ngerjain tugas sekolahnya, sudah ada nilai yang diberikan karena sudah mau belajar. Dan saya juga tidak perlu berharap yang muluk-muluk karena membandingkan Si Kakak dengan anak-anak yang lain, karena kesabaran saya sebagai Orangtua benar-benar sangat di uji di masa-masa ini.

Saya semakin menyadari bahwa anak lebih suka ngedengerin dan nurut apa kata orang lain ketimbang emaknya sendiri. Karena emang emaknya yang suka ngomel-ngomel, sometimes mengaum kayak singa karena suka khilaf dan hilang kesabaran saking kewalahan dengan semua kerjaan yang ada di rumah. 

Sebagai anak yang hobinya nonton dan bermain. Si Kakak ternyata lama-lama jenuh juga dengan semua aktifitasnya di rumah. Karena itu, sekarang Dia menggantinya dengan hobi baru, yakni sering menawarkan diri untuk ngebantuin emaknya di dapur Ketimbang BIKIN TUGAS dari sekolah. 

Antara pengen seneng tapi kok yah miris. 

Sejak Si Kakak mulai mau bikin tugas, televisi, henpon dan komputer butut emaknya memang telah di berdayakan dan diprioritaskan semua untuk hiburan adek-adeknya dan tugas sekolah Si Kakak.

Hingga membuat Si Kakak berinisiatif untuk mandiin adek-adeknya setiap pagi. Si Kakak bilang, biar ibu bisa ngetik pake komputer, biar gak stress dan gak marah-marah terus. Biar kerjaan Ibunya di rumah tidak penuh drama dan suara tangisan adik-adiknya. Karena setiap menit setiap detik ada aja yang rewel, mo minta dicebokin lah, yang mo minta makan lah, yang mo minta minum, yang mo minta ganti channel tv, yang mo minta gendong lah, yang mo minta bikinin susu, yang berantem lah, manjat-manjat lemari, yang berebut makanan, berebut mainan lah, sampe yang bikin rumah banjir, dan berbagai macem tingkah pola adek-adeknya. Yang kadang bikin Si Kakak kasian sama emaknya, karena selalu kerempongan nyelesain kerjaan dapur yang seabrek-abrek, blum lagi karena selalu gagal pengen ngeblog tengah malem karena adek-adeknya juga pada ikutan begadang. 

Walo saya tau sebenernya mereka sedang memanfaatkan kesempatan karena pengen maen aer di kamar mandi. Keliatan dari tagihan air yang terus membengkak beberapa bulan ini, saking seringnya maen air pake selang di kamar mandi. Dan kadang malah bikin was-was kalo denger adek-adeknya suka jejeritan di kamar mandi, diiringi suara tertawa jahil dari kakaknya. Tapi yah sudahlah, skali-skali inih. πŸ˜‚


Bagaimana dengan kabar kalian, temen-temen? Waktu saya baca-baca timeline di pesbuk, ternyata banyak juga emak-emak yang nasibnya seperti saya, yak. πŸ˜… 

Makanan & Kenangan Masa Kecil

19:08 37
Makanan & Kenangan Masa Kecil


Setiap kali, ketika saya kembali menjejakkan kaki ke rumah Orangtua, ingatan-ingatan tentang masa kecil serta merta kembali menyelusup, menyesaki ruang benak, lalu berakhir dengan sereguk kesedihan dalam dogma kehampaan. Menangis? Konon menangisi kematian itu hanyalah bentuk dari sebuah keegoisan, bahwa kita sebenarnya sedang menangisi diri karena tidak lagi bisa mendapati atau melihat apa yang pernah menjadi milik kita. Bahwa kita takut sendirian, takut kehilangan, takut untuk menerima siksaan rasa rindu yang tak akan pernah terobati. Yang pada akhirnya kita hanyalah seorang manusia yang takut untuk menghadapi rasa sepi. 

Kebersamaan saya dan almarhumah Kakak, adalah salah satu kenangan yang akan selalu menjadi pembelajaran bagi saya sebagai seorang adik yang telah menjadi Orangtua. Juga sebagai kenangan manis yang menjadi pengingat bahwa dia pernah menjadi rekan terbaik, ketika kami sama-sama berjuang menjalani kepahitan hidup saat bersama Orangtua.
~//~

Ketika kami masih anak-anak, solat taraweh telah menjadi satu hal paling menyenangkan, walau tidak seperti teman-teman lain yang kadang dibekali uang jajan oleh Orangtuanya. Setelah selesai solat biasanya anak-anak langsung berhamburan menuju kedai makanan terdekat yang masih buka di sekitar masjid. Berbeda dengan saya dan kakak, kami biasanya langsung pulang karena Ibu memang sudah membekali kami dengan sekantong makanan sisa berbuka. Makanan yang dibuat sendiri oleh Ibu atau saya. 

Godo-godo Labu

Salah satu makanan khas yang biasa dihidangkan saat berbuka di rumah adalah Godo-godo Labu. Makanan ini mirip Bakwan, tapi terbuat dari potongan-potongan kecil labu kuning seukuran korek api yang dicampur dengan terigu. Rasanya manis-manis gurih. Tekstur makanan ini terasa garing diluar namun lembut di dalam. Jika ingin menambah sensasi pedas, akan lebih cocok jika Godo-godo Labu disajikan dengan cuko pempek ketimbang dimakan dengan cabe rawit yang pedasnya cuma se-upil. πŸ˜‚

Godo-godo Labu adalah salah satu makanan kenangan masa kecil saya bersama Kakak di bulan Ramadhan. Kalo lagi bosen mendengarkan ceramah di masjid setelah solat atau mengaji, makanan ini selalu jadi penangkal rasa ngantuk dan jenuh. Walau bentuknya sering jadi gepeng karena disembunyikan di bawah sajadah (dulu para Ustadz rajin mendisiplinkan anak-anak yang makan dan ribut disaat orang-orang sedang solat) untungnya saat itu kami tidak pernah terciduk meski solatnya dipastikan keteteran. πŸ˜‚πŸ˜…

Selain beberapa masakan ibu, saya juga rindu dengan jajanan atau makanan yang dibeli bersama Kakak sewaktu kecil. Beberapa makanan ini dulu sempat saya idamkan setelah menikah, bukan saja karena rasanya yang enak tapi karena kenangannya. Suatu momen yang tidak bisa saya ciptakan lagi karena ada beberapa bagian dari kenangan itu yang memang sudah tidak ada lagi.

Dulu sewaktu masih SD, Ibu selalu kerepotan mengurus adik-adik yang masih kecil karena beliau juga harus ikut membantu bapak mencari nafkah. Karena itu, Ibu meminta saya dan kakak mengurus hal-hal yang berhubungan dengan perkulineran di rumah. Berbelanja keperluan dapur adalah salah satu misi yang kami emban setiap hari, meskipun kerap diwarnai dengan pertikaian khas anak-anak tapi tidak jarang juga kami terpaksa saling mengalah, agar perjalanan menuju pasar yang awalnya hanya berjarak beberapa ratus meter tapi berlanjut menjadi beberapa kilometer itu (sempat bertualang dulu di tengah perjalanan), bisa terasa lebih damai dan aman sentosa. πŸ˜‚

Sambal Telur Udang

Salah satu makanan atau lauk yang tidak bisa kami temui lagi bahannya adalah Telur Udang, mungkin telur dari satu ekor udang adalah bahan yang mudah didapat, tapi jika beratnya sudah mencapai 250-500 gram per bungkus, maka telur udang menjadi bahan masakan yang paling sulit dicari. Disini, tak perduli berapa kali saya dan kakak mencari, kumpulan telur udang siap olah itu sudah tidak bisa kami dapatkan lagi, karena harga jualnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan usaha ketika mengumpulkannya. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa tidak ada lagi yang (mau) menjualnya. 

Sambal Telur Udang ini biasanya kami nikmati dengan mencampurnya bersama nasi yang tidak hangat atau sudah dingin (lebih enak) dan tanpa lauk. Sambalnya sama sekali tidak pedas karena cabe yang dipakai hanya sedikit, khusus untuk anak-anak. Rasanya yang nikmat selalu membuat ketagihan hingga bisa dimakan kapan saja. Entah sarapan, makan siang atau makan malamnya yang jadi dobel-dobel, hayuk aja. caviar mah lewaat. πŸ˜‚

Ikan Kembung Panggang "Joko"

Ikan Kembung Panggang "Joko" merupakan salah satu lauk terfavorit semua anggota keluarga. Karena rasanya yang berbeda dibanding ikan kembung panggang yang dijual di tempat lain. Setiap Ibu malas masak, hal pertama yang kami inginkan adalah menyantap nasi putih hangat bersama ikan kembung panggang yang dibeli di warungnya Si Joko, alih-alih karena harganya paling terjangkau dan karena Bapak yang benci untuk makan ayam atau daging. Tapi meskipun begitu, tetap saja jatah satu ekor ikan dibagi empat bagian per empat orang anak.

Pemilik warung makan ini adalah orang jawa tapi yang mereka jual adalah masakan padang. Joko sebenarnya bukanlah nama warung makan, juga bukan diambil dari nama pemiliknya, melainkan nama anaknya yang paling kecil. Berhubung nama warungnya susah diingat, akhirnya nama Joko yang menjadi trademark di warung makan Ibunya. Dan kebetulan Joko adalah teman mengaji adik saya di Masjid dekat rumah. Anaknya ramah meskipun masih kecil dan satu dari sekian anak lelaki tambun nan gemulai yang kami kenal karena bisa menari jaipong.

Meski Joko dan Ibunya sudah pindah bertahun-tahun yang lalu, tetap saja pernah terbersit keinginan untuk mencari tau mengenai kabar mereka. Saya penasaran bagaimana dia sekarang, apakah masih seperti itu atau sudah berubah. Juga bagaimana kabar Ibunya yang dulunya sudah berstatus sebagai seorang nenek sekaligus si juru masak ikan kembung panggang favorit keluarga kami.


Beberapa bulan lalu, saya dan temen-temen bloger mendapat sebuah hampers hari raya dari Mba Eno, berupa satu ekor Ayam dan Ikan Panggang utuh. Yang rasa ayam panggangnya itu mengingatkan saya dengan Ikan Kembung Panggang masakan Ibunya Si Joko. Sudah berpuluh tahun. Tidak disangka, akhirnya saya bisa menemukan rasa itu lagi melalui seekor ayam panggang kiriman dari seorang teman blogger. 😊

Ayam Kecap Tahlilan

Ayam kecap ini sebenarnya ayam kecap biasa, tapi karena rasa enaknya belum pernah kami temui dari ayam-ayam kecap yang lain, walhasil setiap Uwak samping rumah mengadakan tahlilan, ayam kecap ini selalu jadi rebutan diantara saudara-saudara. Uwak samping rumah adalah keluarga sangat jauh dari sebelah Ibu karena hanya dihubungkan melalui status perkawinan, tapi karena sama-sama orang perantauan. Kami jadi merasa lebih dekat dibandingkan dengan keluarga sendiri dan berusaha saling membantu dalam banyak hal. 

Sayangnya, ayam kecap ini jarang sekali bisa kami nikmati, karena biasanya dimasak untuk para tetamu dan hantaran ke tetangga ketika Uwak mengadakan tahlilan saja (Uwak adalah seorang Janda ditinggal mati yang harus menghidupi 6 orang anak). Setelah saya menikah, ternyata beliau sudah pindah keluar kota mengikuti anak-anak perempuannya yang bekerja disana.

Pempek Dos Panggang Gerobak

Penjual Pempek Dos Panggang ini adalah seorang kakek-kakek. Beliau menjajakan Pempek Panggang menggunakan gerobak kayu yang diatasnya diisi dengan arang dan panggangan dari selembar kawat seukuran panjang gerobak. Cara berdagangnya termasuk unik, karena setau saya sampai sekarang tidak ada satupun pedagang keliling yang menjajakan pempek panggang seperti itu disini, biasanya hanya dijual ditempat.

Bagi penggemar pempek dos macam kami, rasa pempeknya tetep yang paling ajib meskipun tanpa ikan sama sekali. Bagian luarnya berwarna putih dengan warna sedikit gosong, garing, matang hingga kedalam dan berwarna bening, kenyal dan lembut ketika digigit. Beda dari pempek-pempek dos jaman sekarang yang rata-rata dibuat dari resep sejuta umat. Sampai sekarang saya belum nemu pempek dos panggang yang menyamai, baik dari segi rasa maupun dari teksturnya.

Kakek penjual pempek panggang ini dulu sering mangkal tidak jauh dari lapangan tempat anak-anak bermain. Biasanya saya dan kakak menunggu Si Kakek memanggang sambil nongkrong di sebelah abang-abang yang menyewakan gembot (gamewacth). Pernah juga beberapa kali kami menikmati pempek dos panggang si kakek di hari yang panas, sambil nonton lomba panjat pinang di hari kemerdekaan beberapa puluh tahun yang lalu.



Foto ini adalah hasil percobaan pertama waktu belajar membuat pempek panggang beberapa tahun lalu. Akhirnya saya bikin juga walau cuma di atas teflon. Jaman sekarang, masak dengan menggunakan arang sudah termasuk hal yang langkah, karena alat dan bahan untuk skala rumah tangga hampir tidak lagi dipakai disini. Trus, bagaimana rasa pempeknya setelah dimasak? Untunglah, ternyata masih bisa dimakan. πŸ˜‚πŸ˜

Kalo kalian gimana? Adakah makanan & kenangan masa kecil yang kalian rindukan? Cerita dong. 😊





Gadget & Generasi Millenial

17:09 41
Gadget & Generasi Millenial

Wali kelas Si Kk tiba-tiba nongol di balik pintu, matanya menatap tajam ke arah saya yang lagi nongkrong nyambi maen perosotan. (busyet, emak-emak maen perosotan) πŸ˜‚ 

Tapi kejadian ini udah beberapa tahun yang lalu kok (walo udah beberapa tahun, yah tetep aja kan udah emak-emak). πŸ˜… 

"Bu, kesini sebentar!" Saya kaget campur salting. "Aduh du ee.., bakal kena semprot karena ngerusak fasilitas sekolah, ini kayaknya". 

"Bisa bicara sebentar?" Bu guru menarik tangan saya dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam kelas. 

Disana saya langsung menghampiri Si Kk, yang setiap ngerumpi gak ada jedahnya lagi kalo udah mulai ngumpul sama temen sekelasnya. 

Berhubung posisi duduk Si Kk di kursi paling belakang (yang mana itu adalah posisi ter legend) πŸ˜‚ dekat dengan pintu keluar pula, saya pun jadi ikutan nimbrung. Dan Bu Guru pun, akhirnya ikut-ikutan. 

Okeh.. 

Saya jadi dag dig dug beneran (karena emang gak pernah ngobrol sama sekali dengan belio, yang dikenal sebage Guru paling garang tegas di TK Si Kk). πŸ˜…


Komunikasi antara Guru & Orangtua

"Begini Bu, Si Kk inih kalo latihan di buku nilainya selalu bagus tapi kalo ditanya soal-soal di papan tulis, selalu jawab gak tau dan menulisnya gak pernah selesai. (tuh kan, pasti karena kebanyakan ngerumpi)

"Setelah saya tanya-tanya lebih detail," lanjut Bu Guru. "Ternyata Si Kk matanya gak bisa melihat tulisan dari jarak jauh. Jadi kalo bisa tolong di periksakan ke dokter, karena kemungkinan ada masalah dengan matanya."

"Eugh! Sudah kuduga!" (ngomong pake bahasa kalbu kayak di Sinetron) kagak sopan juga kali, ngomong langsung kayak begitu di depan Bu Guru. πŸ˜‚

"Sebenernya, gejala-gejalanya udah lama keliatan, Bu. Soalnya kalo Si Kk menatap orang, jidatnya itu pasti jadi mengkerut, trus mukanya seolah kayak mau nempel ke muka orang di depannya. Orang yang diliatin kan pasti grogi dan langsung ngerasa jadi mahluk aneh, ya kan." (Emaknya curcol karena sering dibegituin sama Si Kk). πŸ˜‚

"Udah lama saya pengen ngajak Si Kk ke dokter, tapi blom ada biaya dan gak ada yang nganter. Maklum Bu Guru, susah kalo ada bayi, gak ada yang bisa bantu jaga. Si Kk juga gak ada keluhan sampe sekarang, jadi saya pikir itu belum diperlukan." 

Tapi karena yang ngeluh adalah Bu Guru (lagi-lagi ngomong dalam hati) yah mau gak mau dan juga sepertinya ini sudah darurat. 

"Nanti akan diusahakan, Bu." Jawaban itu akhirnya meluncur juga setelah Bu Guru meminta berulang-ulang. 

"Diperiksakan ya Bu jangan nggak, kasian Si Kk." 

(sebenernya saya kasian juga sama Bu Guru, pasti ngerasa riweuh juga ngurusin anak-anak yang kelakuannya kadang naujubillah. Dan karena usia mereka yang memang lagi lincah-lincahnya πŸ˜‚, apalagi harus ditambah dengan masalah seperti ini di kelas).

Sejak saat itu posisi duduk Si Kk dipindahkan ke deretan terdepan, pas banget di depan papan tulis (meskipun yang dibelakang pada protes karena ketutupan Si Kk yang memang bergelar sebage anak tertinggi di kelas), πŸ˜‚ tapi apa daya, untuk sementara itu dulu yang bisa dilakukan.


Check Up ke Dokter

Seminggu kemudian, setelah mendapat hasil dari pengajuan askes. Akhirnya Si Kk diajak ke dokter mata, di sebuah rumah sakit yang semua penghuninya saat ini di karantina akibat wabah covid 19. (Kemaren itu saya pengen ke sana untuk berobat tapi gak bisa.πŸ˜… )

Saat mata Si Kk diperiksa, Bu dokter jadi agak sedikit cemas. Karena setiap ditanya huruf apa, Si Kk cuma geleng-geleng karena banyak yang gak bisa dijawab. Padahal tulisan yang terpampang di depan, ukurannya lumayan besar.

Okeh, awalnya saya ikutan cemas, tapi tiba-tiba jadi teringat sesuatu. 

Dan kemudian langsung tertawa ngakak dengan airmata yang hampir keluar (bukan bermaksud kejam dan ilang simpati ke anak, ini yah, tapi emang udah refleknya begituw πŸ˜…), sampe diliatin bu dokter dan asistennya lagi. Gak ketinggalan juga, Pak Suami dan Si Adek yang tiba-tiba ikutan melongo, meski tangannya sibuk geratilan megang-megang peralatan bu dokter. 🀣

Setelah mengambil nafas panjang, "Bu dok, Si Kk gak bisa jawab, karena baru masuk sekolah TK dan emang belom diajarin di kelas, bukannya karena gak bisa liat." (emang salah emaknya juga sih, rempong sama bayik jadi gak sempet ngajarin, begini jadinya). πŸ˜…

Trus si Kk langsung nyaut, "Iya, belum diajarin bu guru kalo yang itu".  (lah, dikira bu dokter lagi ngasih soal ujian, apah). Kan yang ditanya itu keliatan ato gak, bukannya tau ato gak. πŸ˜‚

Selesai Si Kk diperiksa, Bu dokter pun berkomentar. "Matanya kayak orang Korea yah, tapi mata Ayahnya kayak orang Jepang."

(Walopun sipit ternyata mata orang-orang asia dari negeri 4 musim itu punya perbedaan sebenere yak, ini berdasarkan diagnosisnya Bu dok juga) Terus emaknya gimana? Gak perlu penjelasan dari bu dokter pun, sebenernya yang liat udah bakal langsung mikir kalo saya ini orang Cina πŸ˜‚ padahal mah, orang dusun. (nanya sendiri, jawab sendiri)πŸ˜‚

Trus Si Adek? Kami bertiga mungkinlah bisa dimaklumi sebagai mahluk bermata segaris, karena orang sini kan sebagian memang ada yang seperti itu. namun Si Adek (sekarang jadi Si Tengah) matanya agak mepet ke arap-arapan, lintas generasi mewarisi mata Ibu saya yang bermata coklat abu-abu (orang dusun ternyata spesies matanya bermacem-macem juga, yak).

Bulu matanya itu, panjang dan lentik, bola matanya besar, tapi warna matanya Si Adek yang berjenis kelamin laki-laki ini hanya coklat bening, gak ada campuran abu-abunya. 

Seharusnya, Si Emak dong yang bermata seperti itu, ye kan (doa yang tak terkabulkan). πŸ˜… dan yang nurun ke saya itu malah kekurangannya, menderita mata plus sejak muda. 


Disiplin dalam Menerapkan Batasan

Setelah di kasih resep, akhirnya Bu dok bilang. Si Kk gak boleh nonton tv sama maen gadget dulu selama pengobatan. Berhubung obatnya lagi kosong, jadi obat tetesnya sementara ini pake obat yang untuk mata tua, maksudnya obat khusus untuk manula yang matanya rabun jauh. Kalo nanti-nanti mau maen gadget lagi, maksimal satu jam dan nonton tv maksimal tiga jam. Kalo semakin parah, nanti akan dikasih surat rujukan ke Jakarta. (Dan emaknya pun cemas, teringat seseorang yang sudah dianggap seperti Kakak sendiri, harus menjadi buta saat muda (maniak komputer) setelah matanya minus delapan dikarenakan penyakit mata bawaan).

Sebenernya Si Kk bukan getol maen gadget (hampir gak pernah), dia mah orangnya ekstrovert, senengnya maen keluar, ngobrol sama temen-temen. Gak bisa diem dan aktif banget "dulu".  Tapi lagi lagi ini kesalahan saya sebage Orangtua dan karena nurun dari Si Ayah termasuk juga kelakuannya (matanya minus 9, dulu). Susah bergeser kalo sudah di depan layar monitor.

Sewaktu Si Kk masih kecil, kami hanya punya TV (tabung) tapi gak punya meja. Karena masih hidup seadanya, jadi yang dipake buat nampung ntuh TV adalah sebuah meja sudut kecil, limpahan dari mertua. Yang ukurannya, yaah setinggi anak umur setaonlah. Dimana kalo Si Kk mau nonton, mukanya langsung nempel ke layar televisi. Meskipun dikasih kursi yang agak jauh, tapi dia balik lagi balik lagi, ngendon di depan TV. Emaknya kemana? Sibuk mengais recehan demi menambal biaya hidup. πŸ˜ͺ

Menyesal itu datangnya selalu belakangan, kalo di awal namanya lamaran, 
katanya Bang Mochammad Rizal S, Gz

Setelah nebus kacamata Si Kk, yang diketahui minus nya sebanyak 3,75 - 4 dan ada silindernya juga (lupa detailnya karena kertas resepnya udah ilang). Kami akhirnya mewanti-wanti untuk membatasi penggunaan gadget semacam handphone, yang barangnya emang kagak ada, (ngenes πŸ˜…) mencegah, maksudnya.πŸ˜‚

Trus, gimana nasibnya setelah beberapa tahun kemudian ?


Mencegah Lebih baik daripada Mengobati

Nah ini, yang bikin emaknya suka galau. Se ekstrovert-nya tuh anak, pas dipinjemin gadget mah mendadak berubah aliran jadi introvert. Bukannya bosen malah makin nyandu, tambah betah ngendon di rumah gara-gara gak sekolah. Tugas sama PR nya pun dicuekin, apalagi temen-temennya. Tapi kalo gak di kasih gadget, bakalan rebutan tv terus sama adek-adeknya dan ujung-ujungnya pada berantem, nangis berjamaah. Kalo udah gitu, Emaknya pula yang bakal pusing.

Akhir-akhir ini, tiap emaknya ke warung selalu ditanyain sama tetangga. Si Kk kemana sih, gak keluar-keluar lagi, takut sama mba Corona yah? (Sebelum ada pandemi ini, Si Kk yang biasanya ke warung soale). 

Kemaren dulu, Emaknya emang lagi gak bisa kemana-mana, ntar adek-adeknya pada mo ikut semua. Harus gendong kiri kanan biar gak keliaran kayak anak ayam baru keluar kandang. Belom nanti kalo minta jajan. Ke warung niatnya beli indomie lima ribu perak biar irit, tapi jajannya dua puluh ribu. Besok-besoknya, makan nasi lauk es krim aja ituh, 2 hari.πŸ˜‚


Belajar dari Pengalaman

Hmm... hikmah dibalik cerita ini sebenernya apah? 

Seperti judul sebelumnya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Terutama pembatasan penggunaan gadget, apalagi untuk anak-anak, tak terkecuali orang dewasa (yang nyadar diri). Kerusakan mata seperti ini gak bisa disembuhkan, karena efeknya seumur hidup kecuali dengan operasi lasik (kalo mampu sih yah ga papa jugaaa, kalo mau). Apalagi anak-anak jaman sekarang itu rata-rata maennya gadget. Main mainan tradisional pun udah jarang terlihat, kecuali mungkin di daerah pinggiran atau di daerah yang masih belum melek teknologi. 

Mending kalo nambah cakep setelah pake kacamata, lah ini malah ngerusak penampilan, yah kagak enak jugaa. πŸ˜‚ (Seperti saya kalo pas make kacamata baca ato kalo lagi ngejait, sering banget diledekin kayak nenek-nenek) 🀣  tapi itu kan saya, yak. Orang laen mah beda. πŸ˜…


Demikianlah curcol hari ini, semoga bermanfaat yah.. πŸ˜…

3 Jenis Kecerdasan Anak yang harus dipahami

22:45 0
3 Jenis Kecerdasan Anak yang harus dipahami


Bongkar-bongkar lemari buku itu ternyata the most fun activity (buat saya), soalnya kalo internet lagi nggak konek, pulsa henpon kebobolan, nggak ada henpon lain (punya suami) yang bisa dibajak buat konsul sama mister gugel, maka buku is my very veeeery best friend! :D. 

Otre.. Saat ini saya sedang mencari tau dan memahami bagaimana agar seorang anak belajar dengan efektif dan bisa mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, meskipun memiliki jenis kecerdasan yang lamban atau sedang-sedang saja. 

Tadi pagi akhirnya saya kembali membuka halaman demi halaman buku "Children are from Heaven" yang pernah terbengkalai selama bertahun-tahun. Buku tersebut ditulis oleh John Gray, Ph.d. (Pasti udah pada tau yah beliau siapa. Nggak tau? beliau yang nulis Mars & Venus itu loh... :p) Nah, di buku itu saya menemukan 3 jenis kecerdasan anak. Walaupun kelihatan simpel tapi menurut saya hal itu penting untuk dipahami. Karena itu saya sharing disini biar nggak lupa lagi dan sebagai reminder yang praktis, terutama untuk di konsumsi sendiri (Efek dari males baca ulang buku-buku tebel). :D atau.., jika ada yang membutuhkan? Dipersilahkeen.... 

Tapi sebelumnya, saya pengen curcol dulu sedikit :p. Buku itu saya beli waktu saya masih kuliah (belum merit), karena saya punya banyak adik (6 orang dibawah) 2 diantaranya memiliki tingkah laku yang naujubillah dan butuh ekstra pemahaman untuk memakluminya. Lagipula saya juga pasti nyadar dong suatu saat bakal punya anak, jadi yah buku ini bisa dipake sampe kapanpun, dan bisa menjadi warisan tak ternilai buat cucu dan cicit kelak :D. 

Setelah mengintip ulang isi buku ini, saya menyadari bahwa sejak lahir hingga hari ini, saya memiliki kecerdasan seorang Pelompat, Pejalan bahkan Pelari untuk bidang yang berbeda-beda. Mau tau apa itu kecerdasan Pelari, Pejalan dan Pelompat? Saya kutip sedikit isinya yah, check this out... 

*** 

Macam-macam kecerdasan pada manusia itu berbeda-beda. Jika Orangtua bisa memahaminya maka itu akan sangat membantu, karena menghargai bagaimana anak belajar secara berbeda. Ada anak-anak yang berbakat dengan satu atau dua kecerdasan. Ada yang belajar secara bertahap dan ada pula yang lambat perkembangannya. 

Anak-anak yang menunjukkan ketiga cara belajar seperti diatas bisa diibaratkan sebagai Pelari, Pejalan dan Pelompat. Jika kita ingin mempelajarinya secara lebih detail, sebaiknya kita gunakan contoh "seperti orang yang sedang belajar naik sepeda". 

Pelari 

Adalah seorang anak yang begitu saja naik sepeda dan meluncur pergi setelah melihat anak lain main sepeda. Anak-anak seperti ini belajar cepat, tapi mereka perlu tantangan agar tetap tenang dan terlibat. Pada umumnya mereka berbakat pada bidang yang mereka pelajari. Kita sebagai Orangtua harus berhati-hati dan menjaga agar si Anak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan lain yang tidak mudah bagi mereka. 


Pejalan 

Adalah seorang anak yang memerlukan waktu beberapa minggu untuk belajar mengendarai sepeda. Anak-anak ini menanggapi petunjuk dengan baik dan pada setiap usaha mereka maju sedikit. Mungkin mereka mulai dengan sepeda roda tiga, tapi dalam beberapa minggu mereka sudah bisa naik sepeda roda dua. Bagi para Orangtua, anak-anak seperti ini disebut "anak impian." Mereka selalu belajar sedikit lebih, bertambah pintar, dan dengan jelas memperlihatkan hasil jerih payah Orangtua yang membantu anak-anaknya, karena semakin pandai. Anak-anak ini begitu mudah diatur sehingga mereka sering tidak mendapatkan perhatian dan dukungan yang penting bagi mereka sendiri. 


Pelompat 

Adalah seorang anak yang memerlukan waktu untuk belajar naik sepeda sebelum mereka bisa naik sepeda sendiri. Anak-anak seperti ini paling menentang dan paling sulit dihadapi bagi Orangtua. Mereka mendengarkan intruksi tapi tidak maju-maju. Mereka tidak bertambah baik dan tidak memperlihatkan tanda bahwa mereka sudah belajar, sehingga Orangtua tidak tahu apakah jerih payah yang mereka lakukan telah membantu si anak. Kalau Orangtua berkeras, dua tahun kemudian si anak tiba-tiba sudah bisa naik ke atas sadel dan meluncur dengan sepedanya. Semua intruksi Orangtua diterima, tetapi Orangtua tidak melihat petunjuk adanya kemajuan. Dan kemudian, entah bagaimana tiba-tiba si anak sudah bisa naik dan meluncur dengan sepedanya, seolah-olah mereka sudah biasa mengendarainya selama dua tahun. Anak seperti ini seringkali tidak mendapatkan perhatian dan waktu yang mereka butuhkan untuk melakukan lompatannya, karena tidak mendapatkan dorongan semangat dan Orangtua juga tidak berkeras mendukungnya, mereka berhenti di jalan dan tidak pernah mewujudkan potensi terpendam dalam dirinya. 

Tidak ada anak yang sempurna. Selain unik dan berbeda, setiap anak dilahirkan ke dunia ini dengan seberkas masalah dan persoalannya sendiri. Seorang anak mungkin lambat dalam belajar bersepeda, tapi belajar cepat bila menyangkut kemahiran sosial. Anak seperti ini adalah anak yang paling menyenangkan dan paling rajin membantu dalam hal bersosialisasi, tapi justru ketika naik sepeda seketika dia akan bersikap menentang dan tidak kooperatif. 

Hanya karena seorang anak adalah pelompat dan kelihatan lambat belajarnya di bidang tertentu, tidak berarti bahwa anak itu berada di tingkat rendah pada kecerdasan tersebut. Kadang-kadang justru dalam bidang dimana anak paling menentang itulah ia paling kuat. Hanya karena seorang anak adalah pelari atau pejalan dalam bidang kecerdasan tertentu tidaklah berarti bahwa anak itu akan menonjol atau mempunyai potensi sangat besar untuk tumbuh dalam bidang itu. 

"Bagi saya sendiri, saya tidak pernah pandai menulis atau berbicara di tempat umum, dan saya menolak untuk menulis dan berbicara dalam suatu kelompok. Keduanya adalah bakat yang baru muncul kemudian dalam hidup saya" <= curcolnya sang penulis buku, dan ternyata kita sama yah, Mister John (menyamaratakan saenak e dewe..) hehehe... 


Membanding-bandingkan Anak 

Kalau seorang anak adalah pejalan dikebanyakan bidang kecerdasan, segala sesuatu secara relatif akan lebih mudah dan lancar. Kalau seorang anak adalah pelompat di beberapa bidang dan lebih berkeras menentang, mungkin secara keliru Orangtua akan menganggap bahwa ada yang tidak beres dengan anak ini. 

Pelompat tidak pernah tampak belajar atau mendengarkan. Orangtua mengajarkan sopan santun dan mereka selalu lupa. Orangtua mengajar mereka berbicara dengan jelas dan mereka tidak berbicara. Diajarkan mengikat tali sepatu, mereka tidak bisa. Orangtua menjelaskan pekerjaan rumah dan mereka tidak menangkap maksudnya. 

Kalau Orangtua tidak menggunakan kemahiran mengasuh secara positif dan hanya membanding-bandingkan anak, maka anak seperti ini akan mendapat hukuman berulang-ulang dan itu membuat mereka semakin sulit mengembangkan kepercayaan diri. Mereka hanya akan berkembang, kalau mereka mendapatkan pesan yang konsisten bahwa mereka cukup baik dengan apa yang mereka lakukan sekarang. Kalau Orangtua mengerti bagaimana anak-anak yang sehat dan penuh kasih itu dapat berbeda, lebih mudah bagi Orangtua bersikap menerima dan memberi dukungan.

Prompt #9: Parfum Mahal

14:09 31
Prompt #9: Parfum Mahal
Parfum Mahal

Grafik data perusahaan itu diletakkannya di atas meja. “Kita bangkrut-sebangkrutnya, Mi,” Roland menghela nafas kemudian melonggarkan dasinya.

“Yang bener, Pi?!” Laras tercengang dan kelihatan sangat kecewa. Dahinya berkerut dan berkeringat dingin. “Gimana ini ya, Pi.. Mami kan pengen ikut arisan yang 20 juta perbulan bersama ibu-ibu pejabat itu.”

“Kan bisa dibatalin, Mi, Kondisi kita udah gak memungkinkan lagi untuk hal seperti itu!”

“Nggak ah, Pi! Tengsin dong, Mami!”

“Trus, mau nyari uang 20 juta perbulan itu ke mana? Rumah kita yang di BSD aja udah disita!”

“Mami buka bisnis parfum aja deh, Pi. Kalo sering bergaul sama istri pejabat, pangsa pasarnya kan lumayan.”

“Ya udah. Kalo Mami punya modal sendiri, Papi sih nurut aja.”

***

“Hei Jeng, kemana aja, udah lama nggak keliatan?”

“Eh Jeng Anna, nggak ke mana-mana kok cuma lagi ngurus bisnis baru aja.”

“Bisnis apa Jeng? Suami udah kaya kok istrinya masih kerja aja toh…”

“Alah Jeng, daripada shopping melulu ngabisin uang suami, mending uangnya dijadiin modal bisnis, kan hasilnya malah jadi berkali lipat,” Laras tersenyum miris, berharap teman-temannya yang hadir di acara arisan itu tidak ada yang tahu tentang kebangkrutan suaminya.

“Jeng-Jeng sekalian, ada barang limited edition dari luar negeri nih! Baru saya pake sekali, lho!” seru Laras.

“Barang apa, Jeng? Oh, parfum yah!”

“Iya nih Jeng, ada 3 buah, dari Paris. The Lalique, Clive Christian’s sama Caron’s Poivre dan semuanya bersertifikat. Saya ini kan orangnya bosenan, jadi kalo ada yang baru pasti yang lama terlupakan. Sayang kan, mending buat kalian-kalian aja.”

“Aduh Jeng, ada The Lalique yah! Ini kan parfum yang dipake Si Jelo itu. Waktu itu saya nyari tapi udah nggak ada lagi,” ucap Jeng Anna.

“Eh tau nggak Jeng, saya dengar harganya itu 25 juta loh,” ujar temannya menimpali.

“Nggak pa-pa lah Jeng, sekali-sekali ini. Kapan lagi bisa dapet parfum mewah dengan harga miring. Mas Adam dijamin bakalan lengket terus deh sama Jeng Anna. Kalo mau, ntar saya kasih diskon 15 persen khusus buat Jeng Anna,” bujuk Laras. “Gimana, mau yah? Ntar kalo yang lain berminat langsung tak lepas loh…”

Jeng Anna mengamati botol cantik yang terbuat dari kristal lalique itu dengan seksama, beberapa biji permata berwarna bening, tertanam di badan botol. Dia membuka tutupnya dan mengendus aroma yang melekat, lalu menyemprotkan sedikit ke pergelangan tangan.

“Unik, yah! Aromanya juga eksotis,” ujarnya. “Hmm.. Baiklah, ntar saya transfer uangnya setelah pulang dari sini yah.”

“Kalo punya suami konglomerat, uang segitu mah pasti nggak seberapa. Ya nggak, Jeng Anna?”

“Ah, Jeng Laras tau aja.”

Laras tersenyum puas.

“Besok aku harus meracik pengharum ruangan dan menambahkan pelicin pakaian lebih banyak lagi. Sepertinya, masih ada botol parfum kosong di rumah.”