Perempuan dalam Diam

"Love Letter"

*Backsound :
10 : 54 PM

Sudah lama saya tidak melihat Bu Dahlan. Biasanya setiap saya pulang dari warung atau pulang dari bepergian, Beliau sering duduk di teras pelataran depan pintu rumahnya. Kadang hanya ngaso, bermain dengan cucunya atau sedang menunggu anak-anaknya pulang kerja dan pulang sekolah.

Bu Dahlan selalu tersenyum dan selalu menyapa duluan setiap kali saya tak sengaja bertatap muka dengan beliau. Wajar bagi kami untuk saling bertegur sapa ketika pertama kali bertemu pandang, bukan. 

Tapi satu hal menjadi berbeda ketika sebagian warga kampung yang sudah berumur, menjunjung tinggi prinsip bahwa yang muda yang harus menyapa, dan harus memperlakukan mereka selayaknya orang yang paling dihormati dan dituakan.

Namun tidak demikian dengan Bu Dahlan, tidak peduli siapapun, tua, muda, anak-anak, Beliau selalu menyapa duluan dan selalu memberikan senyum terbaiknya.

Bu Dahlan tidak pernah ngumpul-ngumpul. Beliau lebih suka di rumah daripada ngalor ngidul yang tidak penting dengan tetangga sekitar. Ngobrol dengan saya pun sangat jarang sekali dan tidak pernah lama. Hanya sesekali saat saya memerlukan ijin ketika hendak memasuki pekarangan belakang rumahnya untuk memperbaiki pagar dan hal-hal semacam itu.

Saya lebih banyak mengenal Bu Dahlan ketika mendengarnya sedang berbincang-bincang dengan anggota keluarga atau mendengar suaranya saat berinteraksi dengan anak atau cucunya yang baru lahir. Dialog-dialog penuh kehangatan yang selalu hadir menyentuh lembut gendang telinga, ketika mereka sedang berkegiatan di dapur atau di halaman belakang rumah. 

Setiap kata yang di ucapkannya terkadang membuat saya berangan-angan. Seandainya beliau adalah Ibu saya atau saya bisa seperti beliau yang selalu bertutur halus dan lembut, penuh perhatian dan memiliki banyak rasa sabar menghadapi tingkah pola setiap anak, meskipun hidup bersama seorang suami pengangguran yang tak mau lagi bekerja berat, karena usia yang tak lagi muda.

Bu Dahlan dan suami hidup satu atap bersama anak-anak dan menantunya, di rumah yang tidak begitu besar dan masih setengah jadi karena sebagian dinding hanya ditambal dengan papan atau ditutup dengan triplek, dikarenakan tidak ada biaya lagi untuk memperbaiki rumah.

Sebagai tetangga terdekat, saya bisa ikut merasakan kedamaian dan ketenangan dari dalam rumahnya sejak saya pindah ke kampung ini sepuluh tahun yang lalu, sekalipun kesan tentang suaminya kurang begitu baik di mata saya karena tidak mau berusaha mencari nafkah dan lebih memilih hidup dari penghasilan anak-anaknya. Tapi itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa saya salut dengan sikap seorang perempuan bernama Bu Dahlan. 

Tubuhnya yang langsing memberi kesan, bahwa dia bahagia dengan apa yang dia jalani. Di mata saya, beliau orang yang ceria, tidak pernah mengeluh. Selalu bersyukur meskipun hidup dengan begitu banyak kekurangan. Hingga pada akhirnya saya mencoba untuk lebih menghormati suami dari seorang perempuan yang diam-diam saya kagumi itu. Karena sesungguhnya tidak mudah juga bagi seorang suami untuk bisa membuat istrinya bisa bersikap seperti itu di tengah kesulitan hidup yang morat marit dari awal menikah hingga beranak cucu.

***

Kemarin, saya mencoba mengetuk pintu rumah Bu Dahlan, ingin bertanya apakah mau menerima sekantung Belimbing Wuluh yang baru saja saya panen dari pekarangan belakang rumah. Tapi ternyata beliau sedang tidak ada, hanya ada anak lelakinya yang terlihat dibalik jendela, sayapun undur diri. Saya rasa lebih elok kalo nanti saja saya berikan, agar bisa sekalian ngobrol-ngobrol dengan Beliau. 

Namun tidak disangka, sore tadi saya mengetahui bahwa Bu Dahlan telah menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Menurut cerita anaknya, beliau ternyata mengidap penyakit paru-paru, Itulah sebabnya mengapa saya sering mendengarnya batuk-batuk menahun di beberapa pagi sebelumnya dan kenapa berat tubuhnya tidak bisa terus terusan bertambah seperti halnya ibu-ibu disini. Ibu-ibu yang kebanyakan lebih suka mengalihkan stress dengan makan, sering mengadakan acara ngumpul-ngumpul, jalan-jalan bareng atau bercengkerama dalam kegiatan-kegiatan arisan dan pengajian yang tidak lepas dari acara bersantap ria.

Satu hal tentang budaya Ibu-ibu yang kadang sering membuat saya cuma bisa menghela nafas. Yakni kebiasaan memendam. Kurang terbuka kepada pasangan untuk mencari pemecahan masalah. Lebih suka di simpan sendiri, dan menganggap bahwa jarang berkomunikasi dengan suami itu merupakan hal yang lumrah, karena seringnya tidak menemukan titik temu setiap kali hendak bertukar pikiran.

Meminta perhatian dari seorang suami yang tidak tau bagaimana caranya memberi kasih sayang yang semestinya kepada Istri, seolah menjadi hal tabuh dan membuat sungkan karena masih menganut budaya lama, tak ingin dianggap sebagai perempuan agresif. Mereka meratapi kemalangan diri, menelan sakit hati atau lebih memilih menyimpan masalah dalam diam, tanpa tau hal itu hanya akan merusak diri. 

Meremehkan, bahwa umur yang kian menua tidak lagi penting untuk di romantisasi. Padahal itu adalah salah satu kebutuhan dasar yang diharapkan bisa didapat dari pasangan, ketika nilai-nilai kehidupan dunia sudah mulai perlahan memudar.

Sekalipun tanda-tanda kematian mulai mendekat, mereka masih saja terus mengusap luka dan menelan rasa pahit itu dengan seulas senyum, lalu kemudian membalutnya dalam wujud kesabaran. Kesabaran yang menjadi sebuah dalih karena tidak mau ambil pusing, akibat terlalu banyak menelan kekecewaan yang tidak pernah ditanggapi. Dan karena hanya suamilah, yang menjadi satu-satunya tempat dimana mereka bisa menggantungkan hidupnya selama ini.

Saya tidak tau apakah dibalik keceriaan dan kehangatan yang biasanya terdengar, Bu Dahlan sebenarnya memilih diam, ataukah karena diamnyalah yang menggerogoti hingga akhirnya berada di penghujung nyawa.

Namun bagaimanapun juga, apapun yang telah dilakukannya, telah membuat dirinya menjadi seorang Perempuan luar biasa, Perempuan yang semestinya layak mendapatkan penghargaan dan perlakuan lebih dari pasangan hidupnya.

Posting Komentar

9 Komentar

  1. Hmmm kenapa tulisan ini berasa deep banget. 😭

    Tapi kenyataannya memang seperti itu ya Mba Rini. Soalnya Seringkali aku baca dan mendengar cerita ttg kebiasaan memendam atau menyembunyikan sesuatu dari pasangannya.. padahal untuk apa sih menikah kalau akhirnya masalah di emban sendiri2. Rasanya nggak elok aja kalau saling rahasia2an..

    Tapi ya aku cuma bisa sebatas berpendapat. Karena belum pernah berada di titik sebuah hubungan.

    Tapi seharusnya jika sudah berpasangan, semisal ada masalah atau unek2. Bukankah lebih bijak kalau di tanggung bersama?

    BalasHapus
  2. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, mbak... 😢😢
    Membaca tulisan ini, aku seolah benar-benar merasakan kehangatan dari bu Dahlan. Sesosok orang tua yang ramah dan bersahaja.
    Semoga Allah mengampuni dosa beliau, dan menerima amal ibadahnya..

    BalasHapus
  3. :'

    Ini, aslik, dalem banget :(

    BalasHapus
  4. begitulah kadang perempuan memang, apalagi kalau sudah menjadi seorang ibu seperti bu dahlan, Hingga akhir hayatnya sepertinya Bu dahlan mencintai anaknya dan suaminya meskipun suaminya mungkin kurang baik di mata kita,

    hanya kadang memang perempuan itu sulit dimengerti, dan kadang mereka maunya dimengerti meskipun mereka tahu mengerti perempuan itu sulit, hehehe

    BalasHapus
  5. kisah yang relate dan mungkin memang bisa terjadi di lingkunganku juga.
    kalau melihat sepasang suami istri yang setia sampe kakek nenek dan hidup nggak neko neko kayak gini, seneng liatnya

    BalasHapus
  6. Kisahnya related banget mbak, ada tetangga ku yang mirip Bu Dahlan, ia orangnya ramah tapi juga pendiam, lebih suka memendam masalah dari pada menceritakan pada orang lain.😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti nama suaminya Dahlan Satria ya Mas Agus hihihi...

      Hapus
  7. Mba Riniii, apa kabar? Kangen main di sini.😊

    Postingannya bagus banget, mba. Banyak ya mba pasangan yang kurang peka satu sama lain.

    Saya pun mengalami kurang romantis ini setelah ada anak, hahaha. Tapi mau pacaran berdua nggak bisa karena nggak ada saudara yang bisa dititipi karena kami nggak ada saudara di Depok. Jadi pas anak2 tidur biasanya kami ngobrol sambil makan Indomie. Tapi kadang ya ngobrol sambil main hape. Hadeeehh.😂

    BalasHapus
  8. Bu Dahlan ini mengingatkanku dengan ibu yang tinggal disebelah rumah kost yang biasa aku tempati, setiap pagi dan sore Ia duduk di halaman depan sambil bermain bersama cucunya.. Ya begitu setiap ada orang lewat, sering kali Ia menyapa.. "Pagi mas, pagi mba mau kemana?", "Semangat kuliah dan sekolahnya mas mba.. " dan saat pindah rumah kost rasanya kangen banget dengan sapaan setiap mau pergi sekolah dan pulang sekolah, tapi sayangnya tidak bisa bertemu lagi karena saya tidak lagi bersebalahan. Semoga suatu saat sebelum lulus, saya bisa menyapa sang ibu dan mengucapkan kepadanya bahwa saya akan lulus dan ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tapi ia ternyata sudah pergi lebih dulu diatas sana..

    BalasHapus