Pada Sebuah Kepenatan - uzegan

Pada Sebuah Kepenatan

Time Travel
*Backsound :
Ost. 5 Centimeters Per Second


Tampaknya orang-orang sudah teramat sangat penat dengan semua keadaan ini, tak terkecuali saya.

Dari mereka yang sekedar memposting foto bandara, cafe, gunung, pantai, sekolah, kampung halaman dan sejenisnya. Adalah rindu yang terus tertahan karena pandemi yang masih saja tak berkesudahan.

Kegemukan yang belakangan menjadi trend bukanlah wujud keinginan, melainkan hasil pe-luapan, bentuk dari sebuah kepenatan. Pun Si pemilih (picky eater) yang tak lagi bergaji, turut menanggalkan keegosentrisan demi hadirnya sesuap nasi.

Siapa sangka, gawai yang pernah digaungkan bisa berdampak buruk pada anak namun paling disenangi, ternyata menjadi bagian paling erat dalam hidupnya. Yakni bagian yang pada akhirnya tetap tidak luput dari rengkuhan rasa penat.

Hingga cinta yang biasanya jauh, lalu mendekat dan melahirkan bayi-bayi pandemi. Atau yang biasanya dekat lalu menjauh karena pertikaian atau kehilangan, entah itu pada pasangan, pekerjaan, harta benda, hingga kepada Tuhan.

Sesuatu yang jauh mendekat dan yang dekat akhirnya menjauh.

Sesuatu yang dulu tak diacuhkan, kini menjadi yang paling dicari.

Sesuatu yang dulu terasa berharga, sekarang tidak lagi berarti.

Ketika semua hal dilakukan secara daring, ketika semua tlah terbiasa, maka tibalah kita di titik jenuh. Titik dimana sebuah kepenatan menjadi terasa luar biasa. Kita terjebak, terhimpit dan tersudut tepat di depan tabir dunia nyata yang belum juga kunjung meluruh. Kita menjadi emosi, stress, depresi, bahkan melakukan kekerasan hingga berujung pada kematian.

Bukan main.

Semuanya tidak serta merta terjadi begitu saja. Kekecewaan-kekecewaan yang bersumber dari masalah yang belum dianggap pantas memenuhi pikiran, membuat abai Si Empunya jiwa. Kekecewaan itu tertanam di alam bawah sadar lalu kemudian menjelma menjadi bibit-bibit kepenatan. Bibit yang telah tumbuh jauh sebelum datangnya wabah. Bibit yang akhirnya bertunas menjadi lecutan emosi dan juga percikan amarah.

Kini bibit itu semakin membesar, dan dengan mudahnya menyala karena tersulut api pandemi yang tengah membara. Hingga begitu cepatnya membumihanguskan sekerat kesabaran.

Maka berbahagialah jika dianugerahi banyak pilihan, bisa menikmati hal-hal yang baik dan memiliki kemudahan untuk menjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun jika kita tidak memiliki keistimewaan itu, apa boleh buat. Kepenatan kali ini benar-benar terasa amat sangat berat dan teramat sulit untuk ditempuh. Dan semoga, kita diberi kekuatan dan kemudahan agar rasa penat ini bisa segera berlalu.

20 komentar:

  1. Wah tema penat dari 1m1c kak Rini udah jadi, keren2.punya saya baru 1/2 jadi, padahal hari ini harus jadi, soalnya besok mempersiapkan post event di blog saya. Pas baca paragraf terakhir yang benar-benar terasa amat sangat berat mengingatkan saya saat masih dibangku SMP dulu pas belajar BI kata-kata atau kalimat seperti itu merupakan suatu penekanan dari sebuah kejadian atau peristiwa. Sangat suka sama diksi2 nya kak Rini, baru belajar nulis di blog nih, mohon bimbingannya yaa kak. Sama intip pula artikel tema penat dari 1m1c di blog saya lw udah jadi ntar wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih 😁

      Bukan hanya penekanan pada kalimat saja itu Tomo, tapi emang yang nulisnya juga kebetulan lagi sama-sama tertekan hahaha...

      Ok, kalo tulisannya udah jadi ntar saya meluncur kesana 😁

      Hapus
  2. Tertekan karena keadaan kak? Itu mah dipukul rata kak. Semuanya uga ikut merasakan. Hehehe Sepertinya setelah event di blog saya kak tema itu. Soalnya acara tinggal besok. Kakak ikut yak! Aku maksa loh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😁 Insyaallah Tomo, semoga nanti saya punya waktunya yah 😉😊

      Hapus
    2. Mudah2an punya. Aamiin. Udah mulai loh mbak, dari kemarin.

      Hapus
  3. Penat sama capek sama apa beda mbak?

    Kalo aku bukan penat karena pengin liburan misalnya ke pantai atau kemana gitu, cuma penat sudah lama nganggur tidak ada pekerjaan, padahal dulu waktu kerja capek, tapi giliran nganggur malah penat.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaaaa Mas Agus, tapi kalo disini penatnya yah lebih ke pikiran, bukan hanya fisiknya doang 😂 Karena kerjanya extreme ya Mas, giliran nganggur eh ternyata extreme juga, gak ada yang sedeng-sedeng aja 😂, kalo kayak gini terus semoga nanti pas dapet rejeki, penghasilannya juga dapet yang extreme, biar penatnya terbayarkan semua ya Mas 😁

      Hapus
    2. Mas Agus,pola kalimat seperti yang mas Agus pake apa yaa namanya? Memakai kata yang berbeda tapi berarti sama, dan dibuat kalimat. Seperti itu membolak-balikan kata. Hmm jago kata nih dah tau rumusnya mas Agus

      Hapus
    3. Sebenarnya dulu kerjanya ngga extreme kok seperti mandiin harimau Sumatera atau nyikat gigi buaya, cuma kerja di pabrik doang.😄

      Sebenarnya rejeki ngga perlu extreme mbak, yang penting cukup saja. Cukup buat makan, cukup buat beli rumah, cukup buat beli mobil tiga, cukup buat keliling dunia. Cukup buat bini tiga, eh ini mah jangan ya.😁

      Wah, aku kurang tahu apa namanya mas Joko, asal nulis saja. Mungkin persamaan kata kali.😄

      Hapus
  4. Doaku satu semoga pandemi ini cepat kelar. Banyak yang hilang sejak pandemi datang ke Dunia ini. Siapa sangka yg awalnya 1 jadi ratusan juta kasus. Ekonomi dunia makin ancur-ancuran. Berharap semuanya bisa kembali normal entah kapan. Hanya ikhtiar yg bisa kita lakukan.

    BalasHapus
  5. Halo Mba Rini apa kabar? Semoga walaupun penat, selalu dlm kondisi sehat sekeluarga yaa mbaa 💖💖
    Aku baru ngeh mba rini ganti domain. Pantesan ga muncul di reading list aku update post terbarunya. Hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik Mba, Mba Thessa apa kabarnya?

      Makasih do'anya Mba 🥰

      Iya, blognya udah tak pindahin ke domain yang tagihannya terjangkau Mba 😂.

      Iya, saya belom sempet ngabarin ke temen2 kalo alamat blog saya berubah (berharap ada yang nyariin) 😂😅 nanti saya mampir blognya ya Mba 😁

      Hapus
    2. Btw, lw saya nyantumin link aku kasih yang bawaan blogger (blogspot) kak Rin. Alasannya jelas, lw kita kasih link ke tempat lain link bawaan, maka akan otomatis berubah sendiri custom domainnya, tapi sebaliknya, jika kita naruh link di tempat lain pake link custom dari domainnya, maka masa aktifnya hanya 1 tahun. Lw ga diperpanjang maka akan jadi link mati (buntu) lw kita tidak perpanjang atau ganti langganan domain baru.

      Sama seperti kita naruh link seperti baca juga di artikel kita kak, jadi berpengaruh dengan blog kita. Lw saya gitu sih kak.

      Hapus
    3. Ooh... I see.. 😃 Terima kasih infonya Tomo 😁

      Hapus
    4. Wkwk singkat, padat, jelas. Pengumuman.

      Seperti komennya mas Dindin di event saya. Wkwk

      Lw saya kok ga bisa yaa? Hmm

      Hapus
  6. Kak Rini, hai haloooo! Pantas udah lama nggak lihat update dari Kakak, ternyata domainnya ganti ya 😁
    Kak Rini sehat-sehat kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Lia 😁

      Iya Lia, alhamdulillah sehat 😊, semoga Lia juga sama yah 😊

      Saya blom sempet bewe, baru sedapetnya aja Lia, jadi kayaknya banyak yang gak tau kalo saya ganti alamat hehehe

      Hapus
  7. doaku sama kayak kak Bayu, semoga pandemi segera berlalu, biar orang-orang pada nggak stress pikirannya yang ujung-ujungnya pikiran jadi sumpek bin penat kayak gini

    BalasHapus
  8. Sudah setahun lebih pandemi berlangsung ya kak. Aku juga sudah belajar berdamai dengan rasa jenuh. Mencoba mencari hal diluar rutinitas kalau memang lagi jenuh banget. Semoga pandemi bisa segera berlalu dan bisa bebas beraktivitas lagi seperti biasanya.

    BalasHapus