Ketek dan Wisata Air Sungai Musi - uzegan

Ketek dan Wisata Air Sungai Musi

Jalur LRT di atas Jembatan Ampera

Setelah menahan diri untuk tidak jalan-jalan selama beberapa tahun (bukan hanya karena Covid tapi juga riweuh karena anak-anak masih bayi). Akhirnya pada sebuah kesempatan di bulan lalu, kami memutuskan untuk berwisata bersama semua anggota keluarga termasuk juga dengan para bocah-bocah di rumah. Karena lokasi tempat kami akan memulai touring, tentu saja jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah Mertua. πŸ˜‚

Berhubung rumah kediaman Mertua dekat dengan beberapa tempat objek wisata penting di kota saya. Maka wisata pertama yang kami lakukan adalah Touring atau Wisata Air mengitari keindahan Sungai Musi dari bawah Jembatan Ampera kemudian menuju bawah Jembatan Musi VI yang baru diresmikan tepat di awal tahun ini. Hingga ke Dermaga yang ada di Tanggo Buntung dengan menyewa perahu motor kecil atau Ketek. Kenapa disebut ketek? Karena ketika mesinnya dihidupkan, maka motornya akan berbunyi, ketek ketek ketek.. πŸ˜‚

Tarif yang ditawarkan untuk sewa perahu dan tukang kemudi per sekali perjalanan sebesar 65.000 rupiah saja. Boleh ditawar, tapi kasian. Karena sejak bertambahnya dua jembatan di Palembang yakni Jembatan Musi IV dan Jembatan Musi VI, pendapatan mereka menurun drastis dan hampir kehilangan mata pencaharian karena sudah jarang yang menyewa kecuali di hari-hari tertentu saja.


Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya πŸ˜‚
Entah sudah berapa puluh kali saya mendapati objek yang ngeblur di henpon karena perahunya seringkali oleng. Belum lagi karena tukang kemudinya gak pake setop apalagi mampir-mampir dulu ke warung kopi, alhasil jepret-jepretnya dilakukan dalam keadaan ngebut tingkat tinggi. Udahlah diterpa angin kencang, kena percikan air pula πŸ˜‚Dan untungnya, henpon yang terkena cipratan macam kesiram air bah saat itu bukan milik saya, tapi punya suami. πŸ˜‚πŸ˜…


4 komentar:

  1. Lucu banget bunyinya mbaaa, hahahaha, ketek ketek ketek πŸ˜‚

    Saya selalu penasaran bagaimana rasanya naik kapal itu, seingat saya, cuma 1x dalam hidup saya coba jaman masih bocah jadi sudah nggak hapal rasanya. While ketika besar seperti sekarang, saya nggak berani coba sebab takut jatuh ke perairan 🀣

    Pasti seru yaaaa, huhuhu, wish one day saya bisa coba, padahal di Bali ada banyak kapal seperti itu, yang di Lovina untuk lihat lumba-lumba pun ada. Namun membayangkan saya kecebur, langsung saya urungkan niat saya ke sana πŸ™ˆ Wk.

    Semoga pendapatan para pengemudi ketek bisa kembali meningkat ya, mba. Atau mungkin instead of jadi transportasi publik, bisa dijadikan transportasi wisata (?) πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu waktu pertama kali denger saya juga ngakak mba πŸ˜‚ tak kirain kenapa jugaa ketek bisa jadi nama perahu hahaha...

      Walo ini udah yang kelima kali, tetep aja saya masih terhenyak begitu melangkah masuk perahu Mba, apalagi perahunya selalu goyang-goyang heboh begitu diinjak pertama kali hahaha... Tapi emang rasa penasaran dan keinginan kuat untuk jalan-jalan mengalahkan segalanya yah, walo ditempat berbahaya sekalipun hihihi...

      Seru banget Mba, serumah heboh macam anak ayam keluar kandang saking lamanya gak pernah jalan-jalan lagi πŸ˜‚πŸ˜…

      Lah, yang di Bali seru banget itu Mba. Bisa ngeliat lumba-lumba juga. Kalo disini mau gak mau yang diliatin yah orang mandi Mba hihihi..

      Emang lebih baik kita yang ngeliatin lumba-lumba yah Mba daripada kita yang diliatin karena kecebur. πŸ˜‚πŸ˜…

      Iya Mba semoga aja, perahunya memang digunakan untuk transportasi wisata mba, malah untuk umum yang udah jarang banget yang menyewa, kalo dulu kan banyak orang yang nyebrang dari seberang ulu ke seberang hilir pake perahu, kalo sekarang kan gampang, jembatan udah banyak. Paling perahunya disewa untuk kegiatan bapak-bapak yang mau mancing sampe ke pedalaman selama beberapa hari atau untuk acara wisata seperti cap gomeh, lebaran atau 17 an pas ada acara bidar dan momen-momen sejenisnya dan itu gak tiap hari.

      Hapus
  2. Saya belum pernah naik ketek tapi pernah sekali naik perahu kecil buat nyebrang sungai kecil, sebenarnya ada jembatan tapi jauh 1 km, daripada jauh memutar mending naik perahu bayar cuma 2 ribu, soalnya cuma nyebrang sungai kecil.

    Kasihan ya, sejak ada jembatan memang perahu ketek jadi berkurang penumpang nya, hampir sama dengan kapal di Surabaya Madura sejak ada jembatan Suramadu.

    BalasHapus
  3. Waah 65rb naik ketek itu kemana saja mbak. Kalo keliling keliling sungai Musi, nampaknya murah meriah yaak πŸ˜…

    BalasHapus